PERTUMBUHAN HAYAT YANG DIPERLUKAN (2)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 3:1-9
Dalam 3:1 Paulus memberitahu kaum beriman di Korintus, ”Dan aku, Saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia karnal, yang masih bayi dalam Kristus” (Tl.). Fakta bahwa Paulus menyebut mereka sebagai bayi-bayi menunjukkan bahwa setelah menerima karunia-karunia awal berupa hayat ilahi dan Roh Kudus, mereka belum bertumbuh dalam hayat.
Jika orang kudus di satu lokal kekurangan pertumbuhan hayat, mereka tidak dapat memiliki kehidupan gereja yang wajar. Sebenarnya realitas gereja tidak ada di antara mereka. Tidak salah, mereka disebut gereja lokal, tetapi realitas gereja tidak mereka miliki. Gereja itu ada sebagai perhimpunan dari orang-orang yang beroleh selamat, namun hal ini masih belum bisa dipandang sebagai suatu realitas dalam pertumbuhan hayat serta pengalaman dan kenikmatan atas Kristus. Lagi pula, di mana hayat kurang bertumbuh, kehidupan kristiani kaum beriman akan menjadi kacau, kehidupan gereja akan rusak, dan kehidupan Tubuh akan hancur. Inilah situasi di Korintus yang sesungguhnya. Walaupun kaum beriman Korintus telah menerima karunia-karunia awal, mereka belum bertumbuh dalam hayat. Mereka hanya mempunyai hayat ilahi dan Roh Kudus yang ditabur ke dalam mereka sebagai benih. Karena mereka tidak memiliki pertumbuhan hayat yang normal, mereka tidak memiliki kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh yang tepat.
Karena menyadari situasi di antara orang-orang Korintus, Paulus tidak membicarakan gereja secara doktrinal, tetapi secara hayat, dengan cara memberi makan, menyiram, dan bertumbuh. Apabila orang-orang Korintus bertumbuh dalam hayat, barulah realitas gereja ada di antara mereka melalui pengalaman atas Kristus, dan dengan demikian barulah kehidupan Tubuh terbangun.
TIGA JENIS KARUNIA
Dalam 1Korintus terdapat tiga jenis karunia: karunia-karunia awal dalam pasal 1, karunia-karunia mujizat dan karunia-karunia kematangan dalam pasal 12 dan 14. Berkali-kali telah kita utarakan bahwa karunia-karunia awal, yaitu karunia yang diterima kaum beriman pada saat mereka beroleh selamat, mencakup hayat ilahi dan Roh Kudus. Karunia-karunia mujizat, mencakup perkara-perkara seperti kesembuhan dan berbahasa lidah. Ketika keledai Bileam berbicara dengan bahasa manusia, ini benar-benar suatu keajaiban, contoh karunia bahasa lidah yang sejati. Satu makhluk yang tidak mempunyai hayat manusia benar-benar berbicara dalam bahasa manusia. Karunia bahasa lidah dalam pasal 12 dan 14 mengacu kepada berbicara dalam satu bahasa yang sebenarnya belum pernah dipelajari oleh seseorang. Tiba-tiba, di bawah kuasa ilahi, seorang beriman secara ajaib berbicara dalam bahasa lain. Inilah karunia bahasa lidah yang sejati. Karunia ajaib semacam ini tidak memerlukan pertumbuhan hayat seperti yang dibutuhkan oleh karunia-karunia kematangan.
Bahasa lidah yang sejati berbeda dengan apa yang disebut bahasa lidah yang dipraktekkan hari ini, di mana orang-orang hanya mengeluarkan suara-suara dan kata-kata yang tidak ada sangkut pautnya dengan bahasa yang sesungguhnya. Apabila suara-suara itu direkam dan dianalisis oleh seorang ahli bahasa, akan terbukti bahwa itu bukan bagian dari bahasa atau dialek apa pun.
Dalam pasal 12 dan 14, Paulus menyebut bahasa lidah dan menafsirkan bahasa lidah. Di antara kelompok-kelompok Pentakosta dan Kharismatik, ada banyak bahasa lidah dengan tafsirannya. Akan tetapi, dalam banyak kasus, semua itu tidak sejati. Misalnya, dalam satu sidang seseorang mengucapkan suara-suara tertentu atau kata-kata tertentu yang kemudian ditafsirkan dengan cara khusus. Dalam sidang lainnya orang yang sama mengucapkan kata-kata yang sama; akan tetapi mereka memberikan tafsiran yang berbeda. Jadi suara-suara yang sama itu mempunyai dua tafsiran. Yang demikian itu bukanlah karunia mujizat yang sejati. Sebaliknya, itu bersifat alamiah dan merupakan penemuan manusia.
Tidak diragukan bahwa kesembuhan adalah karunia mujizat. Karunia kesembuhan yang disebut Paulus benarbenar bersifat mujizat. Tetapi dalam kampanye-kampanye kesembuhan yang diadakan oleh orang-orang Kristen hari ini terdapat banyak kesembuhan palsu. Pada banyak kampanye semacam itu, tidak ada satu pun kasus kesembuhan ajaib yang sejati.
Dalam pasal 12 dan 14 kita juga mempunyai satu kategori karunia-karunia yang lain, karunia-karunia kematangan. Bernubuat (bertutur sabda) adalah salah satu dari karunia-karunia kematangan ini. Bertutur sabda lebih baik daripada berbahasa lidah, karena berbahasa lidah tidak dapat membangun gereja, tetapi bertutur-sabda membangun gereja (14:4). Kita semua harus mengejar karunia-karunia itu, terutama bertutur sabda, yang membangun gereja.
Bila kita mau bernubuat untuk pembangunan gereja, kita harus memiliki pengalaman hayat. Kemampuan kita bernubuat tergantung pada pengalaman kita. Jikalau kita tidak mempunyai pengalaman hayat yang memadai, kita tidak akan dapat bernubuat untuk membangun gereja.
Karunia bertutur-sabda dalam 1Korintus berbeda dengan apa yang biasa dipraktekkan dalam kelompok-kelompok Kharismatik hari ini. Misalnya, beberapa tahun yang lalu ada orang yang menubuatkan bahwa suatu gempa bumi besar akan memusnahkan kota Los Angeles. Biasanya, nubuat-nubuat seperti ini diakhiri dengan gaya Perjanjian Lama, yakni dengan kata, ”Demikianlah firman Tuhan”. Tetapi dalam 1Korintus bertutur sabda berarti berbicara bagi Kristus dan bahkan menyampaikan Kristus. Jika kita mau menyampaikan Kristus, pertama-tama kita harus mengalami Kristus. Bila kita memiliki pengalaman atas Kristus yang sejati, barulah kita dapat meministrikan Dia kepada gereja. Jadi, bertutur sabda dengan menyampaikan Kristus memerlukan pengalaman. Di antara orang-orang Korintus mungkin ada sejumlah karunia yang ajaib, tetapi mereka kekurangan karunia-karunia kematangan, seperti karunia bertutur sabda bagi pembangunan gereja.
Dalam 1Korintus kita juga memiliki karunia mengatur, atau memimpin. Karunia semacam ini berdasar pada kematangan. Kita tidak dapat mengharap orang kudus yang masih hijau menjadi pemimpin. Memegang tampuk pimpinan memerlukan sejumlah kematangan. Sebenarnya, karunia ini berhubungan dengan kepenatuaan. Seorang penatua bukanlah seorang yang masih kanak-kanak. Sebaliknya, ia harus seorang yang agak matang.
Kaum beriman di Korintus kekurangan karunia-karunia kematangan. Khususnya mereka kekurangan karunia menyampaikan Kristus sehingga gereja bisa tersuplai dan terbangun, dan kekurangan karunia kepemimpinan yang tepat. Mereka telah menerima karunia-karunia awal, tetapi tidak banyak dari mereka yang bertumbuh dalam hayat. Akibatnya, tidak ada karunia tutur sabda yang wajar, juga tidak ada karunia kepemimpinan yang dapat membangun gereja.
BEBAN PAULUS
Kita tahu dari kata-kata Paulus dalam 3:1 bahwa kaum beriman Korintus belum bertumbuh dalam hayat, tetapi masih dalam taraf bayi. Karena berbeban untuk menunjukkan perlunya pertumbuhan, maka Paulus berkata, ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan; karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan” (ayat 6-7). Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa kaum beriman membutuhkan penanaman dan penyiraman agar bertumbuh dalam hayat.
Telah kita tunjukkan bahwa walaupun kaum beriman di Korintus telah menerima hayat ilahi dan Roh Kudus sebagai benih yang ditaburkan ke dalam mereka, mereka tetap bayi dan tidak bertumbuh dalam hayat. Sebenarnya, mereka masih tetap hidup dalam kebudayaan, filsafat, dan hikmat Yunani mereka. Hal ini mengacaukan kehidupan orang Kristen, merusak kehidupan gereja, dan meruntuhkan kehidupan Tubuh mereka. Karena itu, dalam Surat Kirimannya, Paulus berbeban untuk memberi tahu mereka agar tidak lagi memperhidupkan kebudayaan, hikmat, dan filsafat Yunani mereka.
Paulus menggunakan istilah hikmat dalam pasal 1, secara khusus ia mengacu kepada hikmat kebudayaan Yunani. Saya yakin ketika orang-orang Korintus membaca Surat Kiriman ini, mereka sadar bahwa hikmat setara dengan kebudayaan. Mereka tetap tinggal dalam kebudayaan leluhur mereka dan hidup di dalamnya. Tetapi Paulus seolah-olah berkata, ”Saudara-saudara, Allah telah memanggil kalian ke dalam persekutuan Anak-Nya, bukan ke dalam kebudayaan kalian. Kristus yang unik yang menjadi bagian kalian, yang ke dalam persekutuan-Nya kalian telah dipanggil, telah menjadi hikmat Allah bagi kalian. Dialah kebenaran, pengudusan, dan penebusan kalian sehari-hari. Janganlah kalian memperhidupkan kebudayaan kalian lagi, tetapi kalian harus memperhidupkan Kristus. Sebagai hikmat Allah, Kristus adalah hal-hal yang dalam dari Allah. Apa yang belum pernah dilihat oleh mata manusia, dan belum pernah didengar oleh telinga manusia, dan apa yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia telah diwahyukan kepada kita melalui Roh Allah. Hal-hal ini, hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, berhubungan dengan Kristus sebagai hikmat Allah yang rahasia bagi nasib kita.”
Paulus berbeban supaya kaum beriman Korintus bertumbuh dalam hayat. Ia tahu bahwa apabila mereka bertumbuh dalam hayat, dengan spontan mereka akan memiliki kehidupan orang Kristen yang tepat. Kemudian realitas kehidupan gereja akan ada di antara mereka, dan kehidupan Tubuh yang sejati akan terbangun. Mereka akan menjadi gereja bukan hanya dalam sebutan, tetapi dalam realitas, dalam hayat, dan dalam pengalaman atas Kristus. Kemudian mereka akan menjadi ladang Allah dan bait Allah yang sesungguhnya dan yang riil.
TANDA-TANDA KEKANAK-KANAKAN
Dalam 1Korintus 3 kita melihat bahwa kaum beriman Korintus memperlihatkan tanda-tanda kekanak-kanakan. Ayat 2 mengatakan, ”Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Sekarang pun kamu belum dapat menerimanya.” Satu tanda kekanak-kanakan di antara kaum beriman ialah: mereka hanya dapat menerima susu, bukan makanan keras. Selama seorang beriman tinggal pada taraf kekanak-kanakan, ia tidak dapat menerima apa-apa yang keras, tidak peduli berapa banyak berita yang didengarnya yang mengandung makanan keras.
Paling sedikit sampai taraf tertentu, tanda kekanakkanakan ini ada di antara kita. Tahun demi tahun makanan keras diministrikan kepada orang-orang kudus. Tetapi, dari banyak kasus orang beriman, dari reaksinya terhadap apa yang diministrikan, ternyata mereka belum dapat mencapai taraf ini. Hal ini menunjukkan bahwa banyak yang belum dapat menerima makanan keras. Mereka hanya dapat minum susu. Ini adalah satu tanda kekanak-kanakan.
Baru-baru ini dalam suatu sidang, kaum saleh mengulang kembali salah satu berita Pelajaran Hayat 1Korintus. Saya mengharapkan agar respon kaum saleh menunjukkan bahwa mereka telah mencerna beberapa makanan keras. Akan tetapi, dari apa yang dipersekutukan dalam sidang itu, nyatalah bahwa banyak yang hanya dapat menerima susu saja. Saya berharap beberapa orang akan bersaksi bagaimana dengan belas kasihan Tuhan mereka mengalami Kristus sebagai kebenaran, pengudusan, dan penebusan sehari-hari. Tetapi kesaksian semacam ini tidak ada. Lagi pula, mereka bukan memperhatikan ”berlian” yang terdapat dalam berita-berita itu, kebanyakan malah lebih menaruh perhatian pada ”pembungkus” dan ”kotaknya”. Mereka berbicara tentang pembungkus dan kotak, tetapi mengabaikan berliannya. Orang-orang yang telah bertumbuh dalam hayat tidak diduduki oleh pembungkus atau kotak, tetapi berkonsentrasi pada berliannya. Dalam kesaksian mereka, mereka menghargai berlian dan berbicara tentang berlian-berlian itu.
Ada banyak berlian dalam 1Korintus 1 dan 2. Akan tetapi, generasi demi generasi, kebanyakan pembaca Surat Kiriman ini hanya menjamah bungkusnya atau kotaknya, bukan berliannya, hal-hal yang dalam dari Allah. Sebagai contoh, ketika kita bersaksi mengenai 1:30, kita harus dapat mengatakan bagaimana Kristus menjadi hikmat kita dari Allah dalam hidup sehari-hari kita. Seorang saudara mungkin bersaksi bahwa dalam kehidupan pernikahannya dia menikmati Kristus sebagai kebenaran, pengudusan, dan penebusan yang sekarang, hidup, dan siap pakai. Berbicara demikian berarti memperlihatkan bahwa kita telah melihat berlian-berlian dan bukan hanya pembungkusnya.
Saya sangat prihatin, beberapa saudara yang melayani Firman di lokal mereka mungkin mengulangi berita-berita yang disampaikan oleh ministri tanpa mereka sendiri nampak berlian-berlian. Mungkin mereka mendorong kaum saleh dan menasihatkan mereka supaya bertumbuh dalam hayat, dan mungkin mereka mengajarkan cara membungkus berlian-berlian, cara meletakkan berlian-berlian dalam kotak yang indah, dan cara memustikakannya serta menyayanginya. Mungkin mereka berbicara banyak tentang ”cara” tanpa nampak visi sejati tentang berlian-berlian itu. Namun demikian, saya harap makin banyak pemimpin dan semua orang kudus dapat bersaksi tentang apa yang telah mereka lihat dan alami tentang berlian-berlian dalam 1 Korintus.
Perkataan Paulus tentang persekutuan Anak Allah dalam 1:9 benar-benar sebutir berlian. Kita perlu bersaksi tentang persekutuan ini, kenikmatan timbal balik ini, bukan dengan cara yang doktrinal, tetapi dalam pengalaman. Belajar doktrin berarti hanya menerima susu, sedangkan mengambil berlian dalam pengalaman berarti menerima makanan keras. Tanda pertama kekanak-kanakan ialah tidak mampu menerima makanan keras.
Dalam ayat 3 Paulus menyingkapkan tanda kekanak-kanakan yang kedua: ”Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi (bersifat tubuh daging) dan hidup secara manusiawi?” Mereka yang masih bayi penuh dengan iri hati dan perselisihan dan hidup secara manusiawi, yaitu menurut manusia yang telah jatuh dalam daging. Mereka yang masih bayi, yaitu yang masih dangkal dan hijau mengenai hal-hal rohani, masih mempunyai iri hati dan perselisihan. Semua perselisihan dan iri hati di antara kita menunjukkan kekanak-kanakan.
Misalnya, seorang saudara memberikan satu kesaksian yang sangat indah dalam sebuah sidang. Kemudian seorang saudara lain, setelah mendengar kesaksian ini, memutuskan untuk memberi kesaksian yang lebih indah. Inilah perselisihan, satu tanda bahwa saudara ini kekanak-kanakan.
Misalnya, hanya beberapa orang kudus yang mengatakan amin atas kesaksian Anda, tetapi banyak yang mengatakan amin atas kesaksian yang diberikan oleh orang lain. Bila hal itu mengganggu Anda, itu menyingkapkan fakta bahwa pada diri Anda masih ada perselisihan dan iri hati. Kita harus bersukacita apabila ada respon amin yang keras untuk kesaksian seorang saudara. Kita harus memuji Tuhan karena ada berlian semacam itu di antara kita.
Tanda kekanak-kanakan yang ketiga ialah mengagungkan tokoh-tokoh rohani sehingga menyebabkan perpecahan. Dalam 3:4-5 Paulus mengatakan, ”Karena jika yang seorang berkata, ’Aku dari golongan Paulus,’ dan yang lain berkata, ’Aku dari golongan Apolos,’ bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi (karnal)? Jadi, siapakah Apolos? Siapakah Paulus? Pelayan-pelayan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut tugas yang diberikan Tuhan kepadanya.” Fakta bahwa orang-orang Korintus mengagungkan orang-orang tertentu merupakan petunjuk lebih lanjut dari ketidakmatangan mereka. Dalam ayat 7 Paulus menunjukkan bahwa baik yang menanam maupun yang menyiram tidaklah penting, tetapi Allah yang menumbuhkan, itulah yang terpenting. Jika kita berpaling kepada Allah saja, kita akan diselamatkan dari perpecahan yang diakibatkan oleh pengagungan atas seorang hamba Kristus melebihi hamba Kristus yang lain.
Mungkin saja, kita seperti orang-orang Korintus dalam mengagungkan tokoh-tokoh rohani tertentu, yang akan menyebabkan perpecahan. Mungkin beberapa orang menyatakan, ”Aku sangat menyukai saudara ini, dan aku kira khotbahnya pun sangat bagus.” Dalam kehidupan gereja, kita tidak boleh memiliki kesukaan atas pembicara-pembicara, penatua-penatua, saudara-saudara, atau saudari-saudari. Mempunyai kesukaan adalah tanda kekanak-kanakan.
Ketiga tanda kekanak-kanakan yang ditunjukkan Paulus dalam pasal ini adalah tanda-tanda yang terdapat di antara orang-orang Kristen hari ini. Sedikit sekali orang beriman yang dapat menerima makanan keras. Iri hati, perselisihan, dan pengagungan atas orang-orang tertentu merupakan gejala yang biasa. Saya harap, di antara kita dalam pemulihan Tuhan, gejala-gejala kekanak-kanakan ini akan lenyap. Ketika kita mendengar suatu berita, hendaknya kita masuk ke dalam berita itu dan tidak diselewengkan oleh pembungkus atau kotaknya. Lagi pula, di antara kita tidak boleh ada iri hati atau perselisihan, dan kita tidak boleh memiliki pilihan pribadi, atau kesukaan pribadi. Inilah yang akan membuktikan bahwa kita telah bertumbuh, bahkan matang dalam hayat.
LADANG DAN BANGUNAN
Pada butir ini saya ingin membicarakan lebih lanjut tentang gereja sebagai ladang Allah dan bangunan Allah. Ungkapan ”ladang Allah” terutama mengacu kepada pertumbuhan hayat. Bangunan, bait, mengacu kepada sasaran kehendak kekal Allah. Jadi, gereja adalah ladang yang menghasilkan bahan-bahan sehingga Allah bisa mencapai sasaran-Nya untuk memiliki sebuah bangunan. Pertama-tama kita memiliki ladang untuk pertumbuhan hayat, kemudian bangunan bagi penggenapan tujuan kekal Allah. Mampu memahami perkara yang penting ini berarti kita telah makan makanan keras dalam 3:9. Puji Tuhan, ladang bagi pertumbuhan hayat dan bangunan bagi penggenapan sasaran Allah!
Dalam 3:17 Paulus berkata bahwa bait Allah itu kudus. Menurut konteksnya, kudus di sini berarti dipisahkan bagi Allah: menjadi kudus berarti tidak menjadi Yunani. Jika kita menyangka bahwa kata kudus hanya berarti dipisahkan, pengertian kita tentang ayat ini terlalu dangkal dan doktrinal. Bagi orang-orang Korintus dipisahkan bagi Allah berarti mereka tidak lagi Yunani. Seprinsip dengan itu, kita menjadi kudus, dipisahkan bagi Allah, berarti kita bukan lagi orang Amerika, China, Jepang, atau Jerman. Jika kita nampak hal ini, itulah tandanya kita telah menerima makanan keras dari ayat 17. Ini membuktikan bahwa kita telah memahami sesuatu secara pengalaman, riil dan dalam. Menjadi bangunan Allah berarti kita tidak lagi terpecahbelah atau berserakan. Menurut konteks pasal-pasal ini, bangunan berlawanan dengan perpecahan. Paulus mengetahui bahwa kaum beriman Yunani di Korintus telah terpecah-belah oleh karena kesukaan-kesukaan mereka. Dalam 1:12 ia berkata, ”Yang aku maksudkan ialah bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Hal ini menunjukkan bahwa kaum beriman telah berserakan; tertimbun saja tidak, apa lagi terbangun bersama menjadi bait Allah. Saya ulangi, Allah menghendaki sebuah bangunan. Sasaran Allah adalah bangunan. Pertama, Ia menghendaki sebidang ladang untuk mempertumbuhkan Kristus, dan kemudian, Ia ingin sebuah bangunan.
Orang-orang Korintus tidak memiliki sebuah bangunan yang kudus, sebuah bangunan yang tidak bersangkutpaut dengan kebudayaan Yunani. Ini berarti mereka tidak memiliki bangunan yang kudus dan dihuni oleh Roh Allah, sebuah bangunan yang tidak diisi oleh hikmat, filsafat, dan kebudayaan mereka. Namun demikian, sasaran Allah ialah memiliki sebuah bangunan yang dipenuhi dengan Roh Allah, sebuah bangunan yang terbuat dari bahan-bahan yang tumbuh di ladang-Nya. Sebagai kaum beriman kita semua harus bagi bangunan Allah.
MENERIMA BELAS KASIHAN
UNTUK NAMPAK VISI
Ketika kita menyadari kekurangan kita dalam pertumbuhan hayat dan bangunan, mungkin kita akan bereaksi sedemikian rupa sehingga membuat kita semakin terselubung. Beberapa orang mungkin bergembira, yang lain meratap, dan yang lain lagi mungkin berdoa atau berusaha untuk bertobat. Tetapi tidak mustahil kegembiraan, ratapan, doa, dan pertobatan malah menjadi selubung. Aktivitas ini mungkin menghalangi kita untuk nampak visi tentang ekonomi Allah.
Untuk nampak visi ini kita perlu belas kasihan Allah. Dalam Roma 9 tercantum sebuah kata tentang belas kasihan Allah, dan dalam Kisah Para Rasul 9 tercantum ilustrasi tentang belas kasihan Allah. Roma 9:16 mengatakan, ”Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah.” Menurut Kisah Para Rasul 9, Allah menunjukkan belas kasihan-Nya kepada Saulus dari Tarsus. Tidak diragukan, Saulus banyak berdoa sebelum ia beroleh selamat. Akan tetapi apakah Tuhan pernah menjawab doa-doanya, itu masih disangsikan. Tetapi pada suatu hari, suatu kejutan besar terjadi. Tuhan menampakkan diri-Nya kepada Saulus. Inilah belas kasihan.
Kita tidak perlu meratap, berdoa, atau bertobat secara agamawi, tetapi kita perlu belas kasihan Tuhan untuk nampak visi yang diperlihatkan kepada Paulus. Kita perlu nampak berapa banyak kita masih hidup di dalam kebudayaan, tradisi dan agama kita. Kita perlu nampak bahwa kita masih hidup dalam banyak perkara selain Kristus dan kita tidak benar-benar memperhidupkan Kristus dari hari ke hari. Ya, banyak berita telah kita dengar, tetapi kita belum nampak visinya. O, kita perlu belas kasihan Tuhan agar nampak visi surgawi! Ratapan dan kegembiraan kita tidak berarti apa-apa. Sekali lagi saya katakan, kita perlu belas kasihan Allah. Walaupun kita tidak boleh berdoa secara emosional atau berdoa secara agamawi, namun kita perlu berdoa dengan tulus untuk mendapat belas kasihan Tuhan. Marilah kita semua berdoa, ”Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku perlu nampak visi yang dilihat Paulus. Tuhan berikanlah aku langit yang cerah agar aku boleh nampak wahyu tentang ekonomi-Mu.”