PERTUMBUHAN HAYAT YANG DIPERLUKAN (1)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 3:1-9
Pokok pikiran Paulus dalam pasal 1 dan 2 ialah: Kristus adalah inti unik Allah dan juga bagian orang kudus. Mulai pasal 3, Paulus berbicara mengenai gereja. Ketika sampai pada gereja, ia menulis dengan cara yang penuh makna, berfaedah, dan memberi hayat, dengan cara memberi makan, menanam, dan menyiram bagi pertumbuhan. Dalam 3:9 ia berkata bahwa gereja adalah ladang Allah dan bangunan Allah. Walaupun kata gereja tidak digunakan dalam pasal ini, namun Paulus berbicara tentang gereja dengan cara yang sungguh indah. Tentang gereja, Paulus tidak menuliskannya dengan cara doktrinal, doktrin hayat pun tidak, tetapi dengan cara pengalaman hayat.
ROHANI, JIWANI, DAN KARNAL (MILIK DAGING)
Dalam 3:1 Paulus berkata, ”Dan aku, Saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia karnal, yang masih bayi dalam Kristus” (Tl.). Dengan terus terang Paulus berkata kepada orang-orang Korintus, bahwa ia tidak dapat berbicara kepada mereka seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia karnal. Manusia rohani adalah manusia yang tidak berperilaku menurut daging atau bertindak menurut jiwa, tetapi hidup menurut roh; roh ini adalah rohnya yang berbaur dengan Roh Allah. Manusia ini dikendalikan, diatur, dibimbing, digerakkan, dan dipimpin oleh roh pembauran semacam itu.
Manusia karnal (LAI: duniawi) adalah satu ungkapan yang lebih tegas dan lebih berat daripada bersifat tubuh daging dalam ayat 3. Milik daging (fleshy) mengacu kepada tersusun dari daging; bersifat tubuh daging (fleshly) mengacu kepada terpengaruh oleh sifat daging dan berbagian dalam karakter daging. Dalam ayat 1 rasul memandang kaum beriman di Korintus mutlak milik daging, terdiri atas daging, dan benar-benar adalah daging. Betapa beratnya perkataan ini! Kemudian dalam ayat 3 rasul menghakimi perbuatan iri hati dan perselisihan mereka sebagai bersifat tubuh daging, berada di bawah pengaruh sifat daging mereka, dan berbagian dalam karakter daging.
Surat ini dengan jelas mewahyukan bahwa seorang beriman mungkin merupakan salah satu dari tiga jenis manusia: (1) manusia rohani, hidup di dalam roh, di bawah urapan Roh Kudus (Rm. 8:4; Gal. 5:25); (2) manusia jiwani, hidup di dalam jiwa, dikendalikan oleh jiwa, hayat alamiah (2:14); (3) manusia milik daging dan bersifat tubuh daging, berada dalam daging dan hidup di dalam daging, di bawah pengaruh sifat tubuh daging. Tuhan mengharapkan semua orang beriman bisa menggunakan kasih karunia-Nya (anugerah-Nya) untuk menjadi manusia jenis pertama manusia rohani. Inilah tujuan penulisan surat ini: memotivasi kaum beriman di Korintus yang jiwani, milik daging, dan bersifat tubuh daging, agar mendambakan pertumbuhan hayat sehingga menjadi rohani (2:15; 3:1; 14:37). Kita telah dipanggil Allah, berbagian dalam persekutuan Kristus (1:9), yang kini adalah Roh pemberi hayat (15:45), dan kita telah menjadi satu roh dengan-Nya (6:17), demikianlah kita bisa mengalami dan menikmati-Nya ketika kita hidup di dalam roh kita dan di bawah bimbingan Roh Kudus. Jika kita hidup dalam jiwa atau hidup di dalam daging, kita tidak dapat berbagian dalam-Nya atau menikmati-Nya.
BAYI-BAYI DALAM KRISTUS
Dalam 3:1 Paulus menyebut kaum beriman di Korintus sebagai bayi-bayi (belum dewasa, LAI) dalam Kristus. Meskipun kaum beriman di Korintus telah menerima semua karunia awal dalam hayat dan tidak kekurangan satu pun (1:7), tetapi setelah itu mereka tidak bertumbuh dalam hayat, mereka tetap sebagai bayi dalam Kristus, tidak rohani, malah milik daging. Di sini rasul menunjukkan kekurangan dan keperluan mereka, yaitu bertumbuh besar dalam hayat dan mencapai kedewasaan penuh (2:6; Kol. 1:28).
Dalam ayat 2 Paulus berkata selanjutnya, ”Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Sekarang pun kamu belum dapat menerimanya.” Memberi orang minum susu atau makanan untuk dimakan berarti merawat orang. Merawat berbeda dengan mengajar, merawat adalah perkara hayat, mengajar adalah perkara pengetahuan. Yang rasul berikan kepada kaum beriman di Korintus kelihatannya adalah pengetahuan, tetapi sebenarnya adalah susu (masih belum makanan keras), dan ini tentunya telah memupuk dan merawat mereka. Susu terutama untuk bayi; makanan keras untuk orang dewasa (Ibr. 5:12). Fakta bahwa kaum beriman di Korintus belum dapat menerima makanan keras menunjukkan mereka belum bertumbuh dalam hayat.
Dalam ayat 3 Paulus melanjutkan, ”Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan hidup secara manusiawi?” Kata ”duniawi” dalam ayat ini dalam bahasa aslinya berarti ”bersifat tubuh daging”. Iri hati dan perselisihan adalah ekspresi dan karakteristik dari sifat daging. Karena itu, iri hati dan perselisihan menyatakan bahwa mereka yang berada di dalam daging adalah bersifat tubuh daging, mereka hidup menurut perilaku manusia. Setiap orang yang jatuh adalah daging (Rm. 3:20; Gal. 2:16). Karena itu, menurut tingkah laku manusia berarti menurut daging.
Ayat 4 mengatakan, ”Karena jika yang seorang berkata, ’Aku dari golongan Paulus,’ dan yang lain berkata, ’Aku dari golongan Apolos,’ bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia karnal?” (Tl.). Manusia di sini mengacu kepada manusia karnal, manusia alamiah yang telah jatuh, manusia duniawi. Kita tidak seharusnya berjalan menurut manusia alamiah, melainkan harus berjalan menurut roh perbauran. Akan tetapi, dengan berkata mereka dari golongan Paulus, atau Apolos, orang-orang Korintus telah berjalan menurut manusia alamiah yang telah jatuh. Mereka tidak hidup dan berperilaku menurut Roh di dalam roh manusia mereka yang dilahirkan kembali.
Dalam ayat 8 Paulus menyatakan, ”Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama.” Di sini seolah-olah Paulus berkata, ”Aku dan Apolos adalah satu. Aku satu dengan Apolos, dan Apolos satu denganku. Mengapa kalian berusaha memecah belah kami? Mengapa beberapa orang di antara kalian berkata bahwa mereka dari golongan Apolos dan yang lain berkata bahwa mereka dari golongan Paulus? Berkata demikian berarti memecah belah. Apolos dan aku adalah satu dalam ministri yang Allah berikan. Aku yang menanam dan dia yang menyiram, tetapi kami berdua berbagian dalam satu ministri. Lagi pula, tiap-tiap orang akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Kami adalah kawan sekerja untuk Allah, dan kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”
TANAMAN MEMERLUKAN PERTUMBUHAN
Dalam 3:1-9 kita melihat Paulus menganggap semua orang beriman di dalam Kristus sebagai tanaman yang memerlukan pertumbuhan. Hal yang terpenting bagi sebatang tanaman ialah pertumbuhan. Kaum beriman Korintus tidak kekurangan dalam karunia-karunia awal dalam hayat hayat yang kekal dan Roh Kudus tetapi mereka sangat kurang dalam pertumbuhan hayat. Karunia-karunia awal diberikan dengan maksud supaya dipertumbuhkan dan dikembangkan.
Hari ini banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa mereka telah menerima karunia awal dalam hayat dan mereka sangat perlu pertumbuhan hayat. Perkara yang paling diabaikan kaum beriman ialah karunia awal bagi pertumbuhan hayat. Saya harap banyak di antara kita, khususnya kaum muda, sadar bahwa mereka memiliki hayat ilahi dan Roh Kudus sebagai karunia awal dan karuniakarunia ini perlu bertumbuh dan berkembang.
Kaum beriman Korintus telah menerima karunia-karunia awal hayat sebagai benih. Ini berarti benih itu telah ditaburkan ke dalam diri mereka, dan mereka adalah tanah tempat benih itu bertumbuh. Tetapi walaupun mereka telah menerima benih, mereka masih membutuhkan pertumbuhan hayat untuk perkembangan karunia-karunia yang telah mereka terima.
KARUNIA-KARUNIA AWAL
DAN KARUNIA-KARUNIA MUJIZAT
Banyak orang Kristen berbicara tentang karunia-karunia, tetapi mereka tidak memperhatikan karunia-karunia awal. Karunia-karunia dalam 1:7 berbeda dengan yang terdapat dalam pasal 12 dan 14. Karunia-karunia dalam pasal-pasal ini bukanlah karunia-karunia awal. Dalam pasal 12 dan 14 terdapat karunia-karunia mujizat dan karunia-karunia kematangan. Karunia bahasa lidah yang sejati adalah karunia mujizat. Misalnya, keledai Bileam yang berbicara dengan bahasa manusia benar-benar adalah suatu mujizat. Walupun bisa disebut karunia, tetapi ini pasti bukanlah karunia hayat yang awal. Kaum beriman mungkin tercengang dengan penyataan karunia mujizat yang ajaib, tetapi mungkin mereka menganggap karunia-karunia awal yang berupa hayat kekal dan Roh Kudus sangat umum dan tidak perlu mendapat banyak perhatian. Akan tetapi, walaupun karunia-karunia mujizat itu bersumber dari Allah, sebenarnya karunia-karunia itu tidak lebih penting daripada karuniakarunia awal. Tidak perlu diragukan, keledai Bileam bisa berbahasa lidah karena Allah, tetapi keajaiban itu tidak seberapa membantu Bileam maupun keledainya dalam hayat.
Hari ini banyak orang Kristen yang menghargai karunia-karunia mujizat melebihi karunia-karunia awal. Ada sebagian orang yang senang apabila setiap orang beriman berbahasa lidah, walaupun apa yang mereka sebut bahasa lidah itu tidak sejati. Saya dapat bersaksi demikian dari pengalaman. Pada tahun 1963 saya diundang oleh kelompok Pentakosta tertentu. Setelah usai suatu sidang, pemimpin kelompok ini bersama istrinya berusaha mendorong seorang saudara (dari China) untuk berbahasa lidah. Si istri memberitahu dia agar tidak berbahasa Inggris atau Mandarin, tetapi mengatakan suara-suara yang lain. Saudara ini sadar, untuk keluar dari situasi ini, ia harus mengatakan sesuatu. Karena ingat beberapa kata dalam bahasa Melayu, maka saudara ini mengucapkan beberapa patah kata yang ia ingat dalam bahasa itu. Pemimpin kelompok Pentakosta ini bersama istrinya segera bertepuk tangan dan merasa senang karena saudara ini telah berbahasa lidah. Hari berikutnya saya menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi kepada suami istri tersebut dan bertanya tentang praktek ini.
Lagi pula, dalam salah satu sidang kelompok Pentakosta yang sama, seorang wanita mengatakan sebuah kata pendek dalam bahasa lidahnya. Kemudian seorang laki-laki muda memberikan tafsiran yang panjang dari kata itu. Pemimpin kelompok itu kemudian mengakui bahwa tafsiran yang diberikan oleh saudara muda itu tidak benar. Lalu saya bertanya kepadanya, mengapa dia melakukan praktek-praktek semacam itu, sementara kita memiliki Kristus yang demikian limpah untuk diministrikan kepada orang lain. Ia tidak dapat berkata apa-apa untuk menjawab pertanyaan saya.
Banyak orang beriman Pentakosta mengabaikan karunia-karunia awal karena menyukai karunia-karunia mujizat, dan banyak orang Kristen fundamental tidak memperhatikan karunia-karunia, melainkan doktrin. Jadi, di antara orang-orang Pentakosta dan orang-orang fundamentalis terdapat satu pengabaian yang serius atas karunia-karunia awal, karunia-karunia hayat ilahi dan Roh Kudus. Betapa kasihan situasi kebanyakan orang Kristen hari ini! Inilah yang membuat saya berbeban untuk menekankan pentingnya karunia-karunia awal. Kita semua perlu nampak bahwa karunia-karunia ini adalah benih yang ditabur ke dalam kita dan karunia-karunia ini perlu dikembangkan dan dipelihara. Dalam Surat Kiriman ini Paulus berusaha mengembangkan dan memelihara karunia-karunia awal yang diterima oleh kaum beriman Korintus. Ia benar-benar sadar bahwa kaum beriman Korintus adalah bayi dan sangat memerlukan pertumbuhan. Ia hanya dapat memberi mereka susu, tetapi kedambaannya adalah menyuplai mereka dengan makanan keras.
BERTUMBUH MELALUI SUPLAI HAYAT
Sekali lagi saya ingin menunjukkan, ketika kita membaca atau mempelajari Alkitab, kita perlu masuk ke dalam roh penulisnya. Beban roh Paulus dalam 1Korintus 3 ialah membantu menyadarkan kaum beriman Korintus tentang apa yang mereka miliki dan apa yang mereka butuhkan. Mereka memiliki hayat ilahi dan Roh Kudus, dan mereka perlu pertumbuhan, pertumbuhan dalam hayat dan pertumbuhan dalam Roh Kudus. Tetapi bagaimana kaum beriman ini dapat bertumbuh? Jika mereka ingin bertumbuh, mereka perlu beroleh penyiraman.
Walaupun orang kudus bisa menyiram orang lain, namun pertumbuhan hanya datang dari Allah sendiri. Seperti perkataan Paulus, ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan.” Karena pertumbuhan hanya datang dari Allah, maka mereka yang menyiram orang lain harus membantu mereka berkontak dengan Allah. Sesungguhnya berkontak dengan Allah itu sendiri adalah penyiraman. Jadi cara terbaik untuk disirami ialah berkontak dengan Allah. Jika Anda dapat membantu seorang yang lemah atau seorang yang masih hijau rohaninya untuk berkontak dengan Allah, hal itu akan mendatangkan penyiraman yang sejati. Kemudian penyiraman itu akan menyuplaikan unsur-unsur hayat kepada mereka yang telah memiliki hayat ilahi. Sementara unsur-unsur ini ditambahkan kepada mereka, mereka akan memperoleh lebih banyak suplai hayat. Kemudian dengan spontan mereka akan bertumbuh. Seperti pupuk membantu tanaman bertumbuh secara spontan, demikian pula kaum beriman di dalam Kristus juga akan bertumbuh secara spontan dengan menerima lebih banyak suplai hayat.
Banyak di antara mereka yang dalam gerakan Kharismatik atau gerakan Pentakosta tidak mempedulikan hayat atau pertumbuhan hayat. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak mengenal hayat. Mereka tidak berkonsentrasi pada pertumbuhan hayat ilahi di dalam kaum beriman, tetapi malah memperhatikan penuntutan atas karunia-karunia mujizat. Akibatnya, mereka yang menekankan perkara-perkara seperti bahasa lidah, sangat mentah dalam hayat. Penekanan Paulus dalam 1Korintus sangat berbeda. Surat ini mewahyukan bahwa Kristus adalah satu-satunya inti ekonomi Allah dan juga bagian kita untuk kenikmatan kita. Dia yang ajaib ini kini adalah Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam roh kita. Kita perlu melatih roh kita secara terus-menerus untuk menjadi satu roh dengan-Nya. Semakin berkontak dengan Allah secara demikian, kita akan semakin disiram, disuplai, dan dirawat. Kemudian dengan spontan kita akan bertumbuh. Saya bersyukur kepada Tuhan karena banyak orang kudus di gereja-gereja di seluruh dunia mengalami pertumbuhan hayat yang sejati. Apa yang kita butuhkan dalam pemulihan Tuhan, dan apa yang Tuhan tuntut dari kita ialah makin banyaknya pertumbuhan hayat, makin banyaknya perkembangan karunia-karunia awal.
Dalam 3:1 kita telah melihat Paulus menunjukkan bahwa kaum beriman di Korintus adalah bayi-bayi dalam Kristus. Sudah tentu mereka benar-benar telah beroleh selamat, tetapi mereka bersifat daging dan bahkan milik daging, tidak rohani. Mereka menampilkan tanda-tanda kekanak-kanakan: tidak dapat menerima makanan keras, hanya dapat menerima susu; penuh dengan iri hati dan perselisihan dan hidup menurut manusia; mengagungkan tokoh-tokoh rohani dan mengakibatkan perpecahan.
Situasi di Korintus sama dengan apa yang kita jumpai di antara kebanyakan kaum beriman hari ini. Dalam hampir setiap kelompok kekristenan, pemimpin-pemimpin tertentu diagungkan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan perpecahan. Lagi pula, banyak orang Kristen tidak dapat menerima makanan keras, hanya dapat meminum susu.
Paulus tahu bahwa kaum beriman Korintus perlu diberi makan, disirami, dan lebih banyak suplai hayat. Mereka perlu diberi makan dengan makanan keras (ayat 2), mereka perlu disirami terus-menerus (ayat 6-7), dan mereka perlu lebih banyak suplai hayat dari Allah sehingga mereka dapat bertumbuh dalam hayat. Inilah perkara-perkara yang kita butuhkan dalam kehidupan gereja hari ini. Kita perlu diberi makan dengan makanan keras. Kita perlu menyirami orang lain dan juga disirami. Kita telah nampak, bahkan yang termuda dan yang terlemah di antara kita dapat menyirami orang kudus. Tetapi dalam menyirami orang lain jangan mencoba memecahkan problem mereka atau menyangka melakukan pekerjaan Allah dengan menolong orang lain bertumbuh. Sebaliknya, kita harus bersama-sama menggunakan waktu untuk berkontak dengan Allah. Demikian-lah kita menyirami orang lain, dan Allah akan memberi pertumbuhan kepada mereka melalui lebih banyak suplai hayat. Semoga kita semua nampak, bahwa kebutuhan kita yang mendesak ialah pertumbuhan hayat, dan semoga kita menempuh kehidupan yang menghasilkan pertumbuhan dalam hayat, dan semoga kita berfungsi dengan menanam, memberi makan, menyiram, dan juga menyerahkan pertumbuhan sejati ke tangan Allah.
KAWAN-KAWAN SEKERJA ALLAH
Dalam ayat 8 Paulus berkata bahwa yang menanam dan yang menyiram adalah sama. Dalam ayat ini pula ia berkata, ”Masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.” Upah atau pahala adalah suatu pendorong bagi para minister Kristus dalam berjerih lelah menanam, menyiram di ladang Allah.
Dalam 3:9 Paulus berkata, ”Karena kami adalah kawan sekerja untuk Allah.” Hal ini menunjukkan bahwa Allah juga adalah Pekerja. Ketika para minister Kristus, yaitu kawan-kawan sekerja Allah bekerja di ladang Allah, Allah juga bekerja. Betapa istimewa dan mulianya bahwa manusia bisa menjadi kawan sekerja Allah, yang bekerja bersama Allah di ladang-Nya untuk menumbuhkan Kristus!