GEREJA, LADANG ALLAH DAN BANGUNAN ALLAH (2)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 3:5-17
DUA ASPEK PENANAMAN
Dalam 3:6 dan 7 Paulus berbicara mengenai menanam dan menyiram, ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan.” Menanam berarti menyuplaikan dan menyalurkan hayat kepada orang yang mati rohani, supaya ia boleh dihidupkan. Ketika orang yang telah mati dalam dosa menerima penyaluran hayat, maka ia akan menjadi tanaman yang hidup. Karena Paulus menyalurkan hayat kepada orang-orang Korintus, maka ia adalah bapak mereka di dalam Kristus. Dalam 4:15 ia berkata, ”Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapak. Akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapakmu karena Injil.” Sebelum Paulus datang ke Korintus, orang-orang Korintus bukanlah tanaman. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang dosa yang mati. Namun, ketika Paulus mengunjungi mereka, ia menyalurkan hayat kepada mereka, dan mereka menjadi tanaman yang hidup. Inilah aspek pertama dari penanaman.
Aspek penanaman yang kedua ialah membawa tanaman yang hidup itu berkontak dengan tanah yang baik dan menanamkan mereka ke dalam tanah itu. Tanah yang baik, tempat tanaman itu dapat bertumbuh, tidak diragukan lagi adalah kehidupan gereja. Di satu pihak, kita perlu belajar bagaimana menyalurkan Kristus ke dalam orang-orang dosa melalui memberitakan Injil dalam hayat. Pada saat Kristus tersalur ke dalam orang lain, mereka akan menjadi tanaman yang hidup. Di pihak lain, kita perlu meletakkan tanaman-tanaman ini ke dalam tanah yang baik, kehidupan gereja. Kedua hal ini merupakan penanaman.
MASALAH HAYAT
Menanam, menyiram, menumbuhkan, semua ini berhubungan dengan perkara hayat. Ini membuktikan bahwa kaum beriman adalah ladang Allah untuk menumbuhkan Kristus. Para minister Kristus hanya bisa menanam dan menyiram, hanya Allah yang bisa menumbuhkan. Kaum beriman di Korintus menjunjung tinggi orang-orang yang menanam dan yang menyiram, tetapi mengabaikan Allah yang menumbuhkan. Itulah sebabnya mereka tidak bertumbuh di dalam Kristus yang adalah hayat mereka.
Kaum beriman di Korintus telah terpengaruh arus hikmat filsafat Yunani, sehingga mengabaikan hayat, dan terlalu memperhatikan pengetahuan. Maksud Paulus dalam pasal ini ialah mengalihkan perhatian mereka dari pengetahuan kepada hayat, menunjukkan bahwa ia hanyalah orang yang merawat, yang menanam; Apolos adalah orang yang menyiram; namun Allahlah yang menumbuhkan. Bahkan, dalam 4:15 Paulus memberi tahu mereka bahwa dirinya adalah bapak rohani mereka, yang telah melahirkan mereka di dalam Kristus melalui Injil. Dari sudut pandang hayat, dari sudut pandang ilahi, mereka adalah ladang Allah untuk menumbuhkan Kristus. Ini mutlak adalah perkara hayat, tetapi justru sangat diabaikan oleh kaum beriman yang dikendalikan dan diatur oleh hayat jiwa, hayat alamiah, dan yang berada di bawah pengaruh hikmat alamiah.
Dalam ayat 7 Paulus berkata, ”Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan.” Dikatakan dari segi pertumbuhan dalam hayat, para minister Kristus, baik yang menanam maupun yang menyiram, tidak terhitung apa-apa, hanya Allah adalah segala sesuatu. Pandangan mata kita harus beralih dari mereka kepada diri Allah. Ini akan menyelamatkan kita terhindar dari perpecahan yang timbul karena menghargai seorang minister lebih baik daripada yang lain.
PENANAMAN, PENYIRAMAN, DAN PERTUMBUHAN
Dalam kehidupan gereja kita harus belajar bukan hanya menanam, tetapi juga menyiram. Sebenarnya, menyiram orang lain itu mudah sekali. Misalkan seorang kudus datang kepada Anda membawa sebuah problem. Jangan mencoba memecahkan problemnya. Pada hakikatnya, kita tidak mampu memecahkan problem orang lain. Bukankah Anda sendiri memiliki banyak problem yang belum terpecahkan? Kalau Anda belum memecahkan problem Anda sendiri, bagaimana Anda dapat membantu orang lain untuk memecahkan problem mereka? Jadi, dalam menyiram orang kudus, lupakanlah usaha untuk memecahkan problem mereka. Menurut pengalaman saya, cara terbaik untuk menyiram orang lain ialah memdoabacakan beberapa ayat bersamanya. Sebagai contoh seorang saudara mungkin mengajukan problem tentang pekerjaannya atau kehidupan keluarganya. Daripada menjamah problemnya, doa bacakanlah Firman dengannya. Jika Anda berbuat demikian, Anda berdua akan tersirami. Anda akan mengetahui bahwa orang yang datang kepada Anda telah tersirami melalui fakta Anda sendiri sudah tersirami. Perasaan Anda yang menyatakan bahwa Anda telah tersirami, membuktikan bahwa Anda telah menyirami dia.
Dalam hubungan kita dengan orang lain banyak sekali waktu yang diboroskan untuk percakapan yang sia-sia. Problem tidak akan dapat diselesaikan dengan percakapan. Bahkan sekalipun Anda dapat menyelesaikan problem orang lain, hal itu tidak akan menyuplainya dengan hayat atau menyirami dia; sebaliknya hal itu akan mematikannya. Saya ulangi, jangan berusaha untuk memecahkan problem orang lain. Semakin berusaha untuk menyelesaikan problem, semakin banyaklah problem yang timbul, dan semakin banyaklah orang yang terbunuh oleh usaha kita.
Daripada terlibat dalam problem, sebaiknya kita bersikap sederhana dalam hubungan kita dengan mereka yang datang bersekutu dengan kita. Allah adalah Bapa kita, akhirnya Ia akan menangani semua problem. Hal yang penting ialah menyiram. Telah kita tunjukkan bahwa dengan berdoa baca bersama orang kudus, kita dapat menyiraminya. Adakalanya cukup dengan berdoa bersama orang itu. Dengan berdoa, orang itu akan dibawa kepada Tuhan, dan kita dibawa kepada Tuhan dengan lebih mendalam. Hasilnya, keduanya tersirami. Inilah cara yang sangat riil untuk menyiram orang kudus dalam kehidupan gereja.
Dalam ayat 6 dan 7 tidak hanya dibicarakan tentang menanam dan menyiram, tetapi juga pertumbuhan. Paulus menekankan fakta bahwa hanya Allahlah yang menumbuhkan. Pertumbuhan dalam ladang Allah menghasilkan bahan-bahan bagi pembangunan Allah.
Kalau Allah yang menumbuhkan, serahkanlah masalah pertumbuhan kepada-Nya. Tanggung jawab kita hanya menanam dan menyiram, bukan membantu orang lain bertumbuh. Jikalau kita mencoba membantu pertumbuhan orang lain, kita telah melampaui tanggung jawab kita. Membuat orang kudus bertumbuh itu di luar kemampuan kita. Tidak seorang pun dari kita dapat menghasilkan pertumbuhan dalam orang beriman yang lain. Paulus pun tidak mampu membuat orang kudus bertumbuh. Ia tahu jelas bahwa kita dapat menanam dan menyiram, tetapi hanya Allah yang menumbuhkan.
Sementara menanam dan menyiram, kita perlu memiliki keyakinan dengan iman bahwa Allah akan menumbuhkan. Kita harus percaya bahwa Allah ada di sini dan Ia akan menumbuhkan apa pun yang kita tanam dan siram. Jika kita memiliki keyakinan ini, kita tidak akan berusaha membantu pertumbuhan orang lain.
Jika kita berusaha membantu pertumbuhan tanaman lain, mungkin kita akan merusaknya dan mencabutnya.
Saya pernah membaca cerita tentang seorang anak yang merasa risau karena rumput dekat rumahnya tidak bertumbuh dengan baik. Karena ingin membantu rumput itu bertumbuh, ia menarik daun rumput itu ke atas. Akibat-nya, bukannya bertumbuh, rumput itu malah mati. Apa yang diperbuat oleh anak kecil ini melukiskan perbuatan beberapa orang kudus dalam kehidupan gereja hari ini. Para penatua di beberapa gereja tidak menanam dan menyiram; melainkan berusaha membantu orang kudus bertumbuh dengan menarik-narik mereka ke atas. Tetapi semakin para penatua membantu secara demikian, semakin berkuranglah pertumbuhan tanaman itu.
Kita benar-benar perlu memiliki keyakinan penuh bahwa ketika kita menanam dan menyiram, Allah akan menumbuhkan. Jadi setelah menanam dan menyiram, kita harus merasa lega dan tidak berusaha membantu orang lain bertumbuh. Pertumbuhan bukan dari kita, itu sama sekali dari Allah. Melalui kehidupan gereja dan penyiraman kita, Allah akan menyuplai tanaman-tanaman itu dan menumbuhkan mereka. Asalkan orang kudus tetap tinggal dalam kehidupan gereja dan tersiram, pasti Allah akan menumbuhkan mereka.
BANGUNAN ALLAH
ADALAH SASARAN KEKAL ALLAH
Gereja bukan hanya ladang Allah, tetapi juga bangunan Allah. Ketika kita bertumbuh di ladang, kita akan menghasilkan bahan-bahan mustika bagi pembangunan tempat kediaman Allah di bumi. Sasaran kekal Allah adalah bangunan, bait yang dibangun dengan bahan-bahan mustika di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar. Pekerjaan pembangunan dirampungkan bukan hanya melalui orang-orang seperti Paulus, Apolos, dan Kefas saja, tetapi juga melalui setiap anggota Tubuh, seperti yang diwahyukan dalam Efesus 4:16.
Mengenai bangunan, Paulus berkata dalam 3:11-12. ”Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami.” Dasar itu unik, tetapi bisa menghasilkan bangunan yang berbeda dikarenakan pekerja yang berbeda menggunakan bahan yang berbeda. Semua orang beriman di Korintus telah menerima Kristus sebagai dasar. Tetapi, beberapa orang beriman Yahudi di tengah-tengah mereka ingin memakai hasil karya agama Yahudi untuk membangun gereja; orang-orang beriman Yunani ingin membangun gereja dengan hikmat filsafat mereka. Mereka semua tidak seperti rasul, yang membangun gereja dengan pengetahuan yang unggul dan pengalaman yang limpah akan Kristus. Maksud rasul menulis surat ini adalah memperingatkan mereka agar tidak membangun dengan barang-barang hasil latar belakang alamiah mereka. Mereka harus belajar seperti Paulus, membangun dengan Kristus yang dikenal secara obyektif dan yang dialami secara subyektif.
Telah kita jelaskan bahwa dalam ayat 16 sebuah bait mengacu kepada kaum beriman secara korporat dalam lokal tertentu, tetapi bait dalam ayat 17 mengacu kepada semua orang beriman secara universal. Bait rohani Allah satu-satunya dalam alam semesta memiliki ekspresinya di banyak lokal di bumi; setiap ekspresi adalah bait Allah dalam lokal itu. Lagi pula, bait dalam ayat 16 adalah penjelasan bangunan Allah dalam ayat 9. Bangunan Allah adalah tempat kediaman Allah yang kudus, bait yang di dalamnya Roh Allah berdiam.
Kaum beriman Yunani yang filosofis di Korintus tidak memiliki pemahaman yang tepat bahwa sasaran kekal Allah adalah memiliki sebuah bait. Mereka tidak mempedulikan sasaran ini, malah mempedulikan filsafat, kebudayaan, dan hikmat mereka. Mereka juga sangat mempedulikan minat, pilihan, kesukaan, dan selera pribadi mereka. Ini terbukti dalam 1:12, Paulus menunjukkan bahwa, ”Kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Hal ini menunjukkan bahwa bagi beberapa orang, Paulus adalah kesukaan mereka; bagi orang lain, Apoloslah pilihan mereka; bagi yang lain lagi, Kefaslah yang cocok dengan selera mereka. Kaum beriman di Korintus mempedulikan berbagai perkara pribadi, tetapi mengabaikan bangunan Allah sebagai sasaran kekal-Nya.
Dalam pasal 3 Paulus berusaha menunjukkan kepada orang-orang Korintus, bahwa sasaran kekal Allah adalah bangunan. Ini berarti Allah tidak ingin kaum beriman menjadi individualistis. Ia benar-benar tidak menginginkan orang kudus memiliki pilihan pribadi terhadap Paulus, Apolos, Kefas, atau bahkan Kristus yang terbatas. Allah memperhatikan bangunan, dan Dia damba agar semua orang beriman di sebuah lokal terbangun bersama sebagai bait-Nya. Lagi pula, apabila kita ingin terbangun bersama untuk menjadi tempat kediaman Allah, kita perlu bertumbuh, dan supaya bertumbuh, kita perlu penyiraman. Jadi, penanaman, penyiraman, dan pertumbuhan semuanya adalah untuk sasaran Allah, yaitu bangunan.
Paulus memiliki pemahaman yang jelas terhadap sasaran Allah. Ia juga dengan jelas menyadari bahwa kaum beriman Yunani di Korintus terlalu individualistis dalam konsepsi dan praktek mereka. Allah tidak hanya ingin memiliki banyak orang beriman yang individual. Sasaran-Nya ialah memiliki ladang yang akan menumbuhkan bahan-bahan untuk membangun bait suci sebagai tempat kediaman-Nya.
MEMPERHATIKAN KEHIDUPAN GEREJA
YANG KORPORAT
Kita perlu membahas latar belakang Surat Kiriman ini untuk memahami pemakaian ungkapan-ungkapan ladang Allah dan bangunan Allah oleh Paulus. Kaum beriman Yunani di Korintus tidak mempedulikan kehidupan gereja yang korporat, tetapi malah mempedulikan minat pribadi mereka yang individualistis. Hal ini mengakibatkan perpecahan. Di mana ada perpecahan, di situ tidak akan ada bait Allah. Karena itu, setelah menyinggung perkara-perkara penting tertentu dalam pasal 1 dan 2, Paulus menunjukkan dalam pasal 3 bahwa orang-orang Korintus sudah salah sama sekali, karena mempedulikan minat pribadi mereka dan bukan bait Allah, yakni bangunan Allah yang korporat.
Dalam 3:17, secara khusus Paulus menjelaskan bahwa bangunan Allah, bait itu, adalah kudus, tidak awam, tidak duniawi, atau bercorak Yunani. Sesungguhnya kata "kudus" di sini mempunyai makna yang berlawanan dengan segala sesuatu yang berbau Yunani.
Jika kita merenungkan konteks dari ketiga pasal yang pertama dari Surat Kiriman ini, kita akan memahami bahwa maksud Paulus ialah memberi kesan kepada kaum beriman di Korintus bahwa bangunan Allah itu terpisah dari segala sesuatu yang berbau Yunani. Kaum beriman Yunani masih menghargai hikmat, filsafat, kebudayaan, dan cara hidup mereka. Mereka menganggap kebudayaan Yunanilah yang terbaik. Tetapi Paulus berkata bahwa bait Allah itu kudus, terpisah dari segala sesuatu yang duniawi dan khususnya dari segala sesuatu yang berbau Yunani.
Dalam ayat 16 Paulus menekankan fakta bahwa Roh Allah berhuni di dalam kaum beriman sebagai bait-Nya yang korporat. Tetapi selama kaum beriman di Korintus bersifat individualistis dan mempedulikan minat pribadi mereka, khususnya terhadap filsafat Yunani dan cara hidup mereka, mereka tidak akan kudus, juga tidak akan korporat. Dengan demikian mereka tidak dapat mengalami banyak-banyak berhuninya Roh itu, atau menikmati berhuninya Roh itu. Jika kita tidak memiliki kehidupan gereja di sini mempunyai makna yang berlawanan dengan segala sesuatu yang berbau Yunani.
Jika kita merenungkan konteks dari ketiga pasal yang pertama dari Surat Kiriman ini, kita akan memahami bahwa maksud Paulus ialah memberi kesan kepada kaum beriman di Korintus bahwa bangunan Allah itu terpisah dari segala sesuatu yang berbau Yunani. Kaum beriman Yunani masih menghargai hikmat, filsafat, kebudayaan, dan cara hidup mereka. Mereka menganggap kebudayaan Yunanilah yang terbaik. Tetapi Paulus berkata bahwa bait Allah itu kudus, terpisah dari segala sesuatu yang duniawi dan khususnya dari segala sesuatu yang berbau Yunani.
Dalam ayat 16 Paulus menekankan fakta bahwa Roh Allah berhuni di dalam kaum beriman sebagai bait-Nya yang korporat. Tetapi selama kaum beriman di Korintus bersifat individualistis dan mempedulikan minat pribadi mereka, khususnya terhadap filsafat Yunani dan cara hidup mereka, mereka tidak akan kudus, juga tidak akan korporat. Dengan demikian mereka tidak dapat mengalami banyak-banyak berhuninya Roh itu, atau menikmati berhuninya Roh itu. Jika kita tidak memiliki kehidupan gereja yang korporat dan tepat, kita tidak dapat menikmati banyak-banyak berhuninya Roh itu. Ya, Roh itu memang berhuni di dalam roh kita. Tetapi berhuninya Roh itu dalam kehidupan gereja jauh lebih limpah dan lebih berkhasiat daripada berhuninya Roh itu di dalam kaum beriman secara individual.
Kalau kita membahas semua perkara ini, kita akan memahami bahwa konsepsi Paulus itu dalam. Ia ingin meyakinkan semua orang beriman Yunani yang individualistis bahwa mereka harus memperhatikan kehidupan gereja yang korporat, bukan minat, kesukaan, dan pilihan individualistis mereka.
SATU-SATUNYA DASAR
Dari 3:11 kita tahu bahwa Kristuslah satu-satunya dasar bagi gereja sebagai bangunan Allah. Tidak seorang pun dapat meletakkan dasar yang lain. Namun demikian, ada orang beriman di Korintus yang menjadikan Paulus, Apolos, atau Kefas sebagai dasar mereka. Ketika mereka meng-umumkan bahwa mereka dari golongan Paulus, Apolos, atau Kefas, itu berarti mereka mengatakan bahwa orang-orang itulah dasar dan tumpuan mereka. Dalam 1:13 Paulus bertanya kepada mereka, ”Apakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau apakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” Dengan pertanyaan-pertanyaan itu Paulus menunjukkan bahwa ia bukanlah satu-satunya dasar itu. Sebaliknya, dalam 3:10 Paulus berkata, ”Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar.” Satu-satunya dasar bukanlah Paulus, Apolos, Kefas, atau siapa pun kecuali Yesus Kristus, Putra Allah.
Problem di antara orang-orang Korintus ialah bahwa mereka berusaha meletakkan banyak dasar yang lain. Dalam pasal 14 kita melihat, bagi beberapa orang, karunia berbahasa lidah adalah suatu dasar. Ini menunjukkan bahwa praktek tertentu mungkin saja dijadikan dasar. Karena itu, Paulus menghendaki kaum beriman di Korintus menyadari bahwa ia telah meletakkan satu-satunya dasar, yaitu Yesus Kristus. Satu Korintus 3:10 mengatakan, ”Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.” Ayat ini menunjukkan bahwa gereja dibangun bukan hanya oleh minister-minister Kristus seperti Paulus, Apolos, dan Kefas, tetapi juga oleh setiap anggota Tubuh. Kita masing-masing harus menjadi seorang tukang bangunan.
Kita harus menyadari bahwa kita bukan hanya tukang bangunan, tetapi kita juga harus memperhatikan bagaimana kita membangun di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar. Seperti yang akan kita lihat, gereja, rumah Allah, harus dibangun dengan emas, perak, dan batu-batu permata, bahan-bahan yang diproduksi dari pertumbuhan Kristus di dalam kita. Tetapi, seperti yang ditunjukkan dalam ayat 12, ada kemungkinan kita membangun dengan kayu, rumput, dan jerami, bahan-bahan yang diproduksi oleh kita dalam daging dan dalam hayat alamiah. Karena itu, kita masing-masing, setiap anggota Tubuh, harus berhati-hati dengan bahan yang kita gunakan untuk membangun. Kita harus membangun dengan emas, perak, dan batu-batu permata, bukan dengan kayu, rumput, dan jerami.