GEREJA, LADANG ALLAH DAN BANGUNAN ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 3:5-17
Dalam 1Korintus pasal 3 sampailah Paulus kepada gereja. Meskipun istilah gereja tidak ada dalam pasal ini, tetapi apa yang Paulus bahas di sini sangat erat hubungannya dengan gereja.
Paulus menyusun pasal ini dengan cara yang sangat bijaksana. Paulus tidak menggunakan ungkapan-ungkapan yang dangkal berkenaan dengan gereja; di sini ia menggunakan ungkapan-ungkapan yang dalam dan penuh makna. Dalam pasal ini Paulus menggunakan tiga istilah pokok untuk gereja: ladang, bangunan, dan bait.
Dalam ayat 9 Paulus berkata, ”Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Kata Yunani ladang dalam ayat ini secara harfiah berarti tanah pertanian. Kaum beriman yang telah dilahirkan kembali di dalam Kristus dan memiliki hayat Allah, adalah ladang Allah, tanah pertanian dalam ciptaan baru Allah, yang menumbuhkan Kristus, agar bahan-bahan yang berharga dapat diproduksi untuk pembangunan Allah. Karena itu, kita bukan hanya ladang Allah, tetapi juga bangunan Allah. Pada aspek korporat, kita adalah gereja Allah, ada Kristus tertanam ke dalam kita. Kristus harus bertumbuh di dalam kita, bahkan bertumbuh hingga menghasilkan sesuatu dari diri kita. Menurut arti pasal ini, kita tidak menghasilkan buah-buahan, melainkan menghasilkan emas, perak, dan batu permata untuk pembangunan tempat kediaman Allah di bumi. Jadi, bangunan Allah, rumah Allah, gereja, adalah perlipatgandaan Kristus, merupakan perkembangbiakan Kristus yang tak terbatas.
Dalam ayat 16 dan 17 dua kali Paulus menyinggung bait Allah: ”Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu sekalian.” Bait Allah dalam ayat 16 mengacu kepada kaum beriman secara korporat dalam lokal tertentu, seperti Korintus; sedangkan bait Allah dalam ayat 17 mengacu kepada semua orang beriman secara universal. Bait rohani Allah satu-satunya dalam alam semesta memiliki ekspresinya di banyak lokal di bumi; setiap ekspresi adalah bait Allah di lokal itu.
Bait Allah dalam ayat-ayat ini adalah penjelasan bangunan Allah dalam ayat 9. Bait adalah bangunan, dan bangunan dihasilkan oleh bahan-bahan yang tumbuh di ladang. Jadi, kita mempunyai ladang, bangunan, dan bait. Bangunan Allah bukan bangunan biasa; bangunan Allah adalah tempat kediaman Allah yang kudus, bait yang di dalamnya dihuni Roh Allah. Kita, para pembangun bait suci yang sedemikian kudus, harus menyadari hal ini, sehingga kita dapat berwaspada, tidak membangun dengan bahan-bahan yang tidak berharga seperti kayu, rumput, dan jerami, tetapi dengan bahan-bahan berharga seperti emas, perak, dan permata, yang sesuai dengan sifat dan ekonomi Allah.
Dalam Surat 1Korintus, Paulus menggunakan waktu lebih banyak untuk berbicara mengenai gereja daripada mengenai Kristus. Kita telah melihat bahwa dalam kedua pasal yang pertama Paulus telah banyak berbicara mengenai Kristus. Problem di antara kaum beriman di Korintus disebabkan oleh kekurangan mereka dalam mengalami Kristus. Karena alasan ini, Paulus memulai Surat Kiriman ini dengan Kristus dan kemudian melanjutkannya dengan gereja.
Di mana ada Kristus, di situ pula harus ada gereja. Apabila kita memberitakan Kristus, kita pun harus memberitakan gereja. Demikian pula, apabila kita memiliki Kristus, kita harus berada di dalam gereja. Kristus dan gereja tidak terpisahkan, sama seperti kepala seseorang tidak dapat dipisahkan dari tubuhnya. Memisahkan kepala dari tubuh berarti membawa maut kepada tubuh. Karena itu, jangan sekali-kali memisahkan Kristus dari gereja atau gereja dari Kristus.
LADANG ALLAH
Judul berita ini adalah ”Gereja, Ladang Allah dan Bangunan Allah.” Judul ini menunjukkan bahwa gereja adalah ladang Allah dan bangunan Allah. Kita semua tahu bahwa ladang menghasilkan makanan untuk kita makan; bangunan adalah suatu susunan yang terbuat dari bahanbahan tertentu. Kelihatannya, ladang tidak berkaitan dengan bangunan, karena ladang menghasilkan makanan untuk dimakan, bukan bahan untuk bangunan. Tidak seorang pun membangun rumah dengan hasil yang tumbuh dari ladang. Produksi ladang kelihatannya tidak ada gunanya bagi bangunan. Namun, ladang dalam ayat 9 adalah untuk bangunan. Apa pun yang dihasilkan di ladang adalah untuk bangunan.
Dalam ayat 9 Paulus pertama-tama membicarakan ladang Allah, lalu bangunan Allah. Alasan urutan yang demikian adalah bangunan tergantung pada ladang. Kalau tidak ada ladang, tidak mungkin ada bangunan, karena ladang menghasilkan bahan-bahan untuk bangunan.
TANAMAN DI LADANG ALLAH
Semua anggota gereja adalah tanaman di ladang Allah. Mereka telah ditanam melalui minister Kristus, kawan sekerja Allah, mereka telah disirami oleh minister-minister lain, yang juga kawan sekerja Allah, dan mereka ditumbuhkan dalam hayat oleh Allah sendiri. Kita menjadi anggota gereja bukan dengan cara bergabung dengan sebuah organisasi sosial, melainkan melalui ditanamkan. Dalam ayat 6 Paulus berkata, ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan.” Paulus menanam kaum beriman di Korintus ke dalam gereja, ladang Allah, supaya mereka boleh mempertumbuhkan Kristus.
Menjadi tanaman di ladang Allah adalah perkara yang sangat bermakna. Di ladang tidak diperlukan seorang guru untuk mengajar tanaman. Sebatang tanaman tidak memerlukan siapa pun untuk memberi tahu dia bagaimana bertumbuh dan apa yang harus dilakukan supaya bertumbuh. Namun, banyak orang Kristen hari ini menyajikan banyak ajaran kepada tanaman-tanaman. Sebenarnya, kaum beriman tidak dianggap sebagai tumbuh-tumbuhan, melainkan sebagai siswa atau pelajar. Sebelum saya masuk ke dalam kehidupan gereja, saya adalah seorang ”murid” di perhimpunan Kaum Saudara. Sungguhpun saya belajar banyak tentang Alkitab, saya sekarat karena kekurangan hayat. Saya tidak hidup seperti tanaman, malahan hidup seperti seorang murid. Saya bahkan sangat prihatin bahwa di beberapa gereja lokal, yang ada hanya sekolah, bukan ladang. Ada ajaran, tetapi sangat sedikit penyiraman untuk tanaman. Kita semua harus mempraktekkan kehidupan gereja dengan cara berladang, dengan cara menanam, menyiram, menggarap, dan memangkas. Kita harus belajar kapan kita menyirami orang kudus, kapan memberi makan mereka, dan kapan kita memangkas mereka.
MEMPERTUMBUHKAN BAHAN-BAHAN BAGI BANGUNAN ALLAH
Menanam, menyiram, dan menumbuhkan (ayat 6) semuanya berkaitan dengan perihal hayat. Hal ini menunjukkan bahwa kaum beriman adalah ladang Allah untuk menumbuhkan Kristus. Sebagai tumbuh-tumbuhan yang ditanam di ladang Allah, yaitu gereja, kita perlu bertumbuh. Tanpa pertumbuhan, kita tidak berguna. Beberapa tanaman di kebun saya memang hidup, namun tidak bertumbuh. Demikian pula hari ini, banyak orang beriman yang hidup secara rohani, namun mereka tidak bertumbuh. Tentu saja daripada mati lebih baik hidup. Asalkan kita hidup, kita berkesempatan untuk bertumbuh. Saya harap tidak satu pun saudara dalam pemulihan Tuhan yang merasa puas dengan hidup tanpa pertumbuhan. Kita semua harus bertumbuh guna menghasilkan Kristus. Semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan harus damba bertumbuh. Kita harus berdoa, ”Tuhan, buatlah aku bertumbuh.”
Tujuan pertumbuhan kita di ladang Allah ialah untuk menghasilkan Kristus. Seperti tujuan kebun angggur untuk menghasilkan buah anggur, demikian juga tujuan ladang Allah ialah menghasilkan Kristus. Butir inti dari berita tentang 1Korintus 3 ialah bertumbuh demi menghasilkan Kristus.
Agar membantu kita mempertumbuhkan Kristus, kita perlu berulang-ulang merenungkan pasal 1 dan 2. Jika Anda membaca dan mendoabacakan pasal-pasal ini, Anda akan tersirami dan dikenyangkan. Unsur dan substansi Kristus akan disalurkan ke dalam diri Anda. Kemudian dengan spontan Anda akan menumbuhkan dan menghasilkan Kristus. Hasil dari pertumbuhan Anda adalah Kristus.
Maksud Paulus dalam 1Korintus 1 dan 2 ialah menyajikan Kristus sebagai bagian, kenikmatan, hayat, kehidupan, isi, dan segala sesuatu kita. Kristus harus menjadi satu-satunya pilihan, kesukaan, selera, dan kenikmatan kita. Kita harus menikmati Kristus sedemikian rupa sehingga kita melupakan kebudayaan apa pun. Kita tidak memperhidupkan kebudayaan, tetapi memperhidupkan Kristus. Kristus menjadi segala sesuatu bagi kita dalam kehidupan sehari-hari kita kebudayaan, etika, dan moralitas kita.
Ketika kita bertumbuh dengan wajar, Kristus akan dihasilkan dari dalam kita. Kemudian apa pun yang kita tumbuhkan dari Kristus akan menjadi bahan-bahan bagi bangunan Allah. Gereja hanya terbangun dengan Kristus. Akan tetapi, gereja tidak dibangun dengan Kristus yang obyektif, Kristus yang ada di surga atau yang tiba-tiba turun dari surga. Sebaliknya, gereja terbangun dengan Kristus yang kita alami dan yang kita pertumbuhkan itu. Jadi, untuk pembangunan gereja, kita harus memiliki Kristus yang dihasilkan melalui pertumbuhan hayat kita.
Dalam Pelajaran Hayat Kitab Keluaran kita telah menunjukkan bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk membangun tabernakel disebut persembahan unjukan. Ini berarti bahan-bahan yang diciptakan oleh Allah harus diperoleh, dimiliki, dinikmati, dan dimustikakan oleh umat tebusan Allah. Kemudian umat itu harus membawa bahan-bahan itu dan mempersembahkannya kepada Allah sebagai persembahan unjukan. Hanya bahan-bahan yang diperoleh, dimiliki, dan dipersembahkan dengan cara demikian baru dapat menjadi bahan yang tepat bagi pembangunan tabernakel. Hal ini menandakan bahwa kita perlu memperoleh, memiliki, dan menikmati kekayaan Kristus sehingga kekayaan-Nya menjadi harta kekayaan kita. Kemudian, kita perlu membawa apa yang telah kita alami dari Kristus ke dalam sidang-sidang gereja dan mempersembahkan Kristus ini kepada Tuhan sebagai persembahan unjukan. Demikian Kristus ini akan menjadi bahan yang digunakan untuk pembangunan gereja.
Karena orang Kristen hari ini tidak mengalami Kristus dan tidak menghasilkan Kristus, maka di antara mereka tidak ada pembangunan. Membangun gereja bukan hanya masalah memberitakan Injil, menyelamatkan orang berdosa, dan membawa orang-orang yang beroleh selamat ini ke dalam gereja. Ini bukanlah pembangunan gereja; ini hanya menimbun bahan-bahan bangunan. Di antara kebanyakan orang beriman hari ini, yang terbaik yang dapat dilihat adalah tumpukan bahan-bahan bangunan. Tetapi di manakah pembangunan yang sejati? Tidak ada pembangunan karena tidak ada pengalaman atas Kristus, tidak ada pertumbuhan Kristus sebagai bahan untuk bangunan Allah. Kini setelah kita nampak bahwa kita adalah ladang Allah, kita harus bertumbuh dalam hayat ilahi untuk menghasilkan Kristus.
MENANAM DAN MENYIRAM
Dalam ayat 6 Paulus berkata, ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan.” Jika kita mau mempertumbuhkan Kristus di ladang Allah, kita perlu penanaman dan penyiraman. Namun janganlah mengira hanya orang-orang seperti Paulus dan Apolos yang bertanggung jawab untuk penanaman dan penyiraman. Semua saudara dan saudari dalam gereja harus melakukan pekerjaan ini. Akan tetapi, kita tidak memiliki konsepsi ini. Sebaliknya, kalau ada satu orang kudus yang kita temui dalam kelemahan atas masalah tertentu, kita membawa orang itu kepada penatua. Jika seorang saudara datang kepada Anda dan Anda mengetahui ia lemah, Anda harus menyiraminya. Jangan memanggil penatua, tetapi Anda harus memberinya makan dan merawatnya. Hal ini sungguh penting untuk kita pelajari.
Mungkin Anda merasa lemah dan dangkal dalam hayat. Akan tetapi orang kudus lainnya bahkan lebih lemah dan lebih dangkal daripada Anda. Jika seorang dari yang lemah ini datang kepada Anda, Anda harus menyiraminya. Kemudian Anda sendiri akan tersiram juga. Akan tetapi ini tidak berarti kita harus dengan sengaja menyirami orang lain. Penyiraman harus dikerjakan dengan spontan dan bahkan dengan tidak terasa. Ketika seorang yang lebih lemah datang kepada Anda, janganlah Anda bermaksud menyiraminya. Ini hanya suatu sandiwara, bukan penyiraman yang sejati. Jika Anda menyirami orang kudus yang lain dengan spontan dan tidak sengaja, Tuhan akan dengan kedaulatan-Nya mengirim orang lain kepada Anda untuk Anda sirami. Akhirnya Anda akan menemukan bahwa dengan menyirami orang lain, Anda sendiri pun mendapat siraman. Ini adalah kebangunan yang sejati. Dalam kehidupan gereja, kita harus saling menyirami. Dengan demikian kita akan bertumbuh untuk menghasilkan Kristus.
Alasan kekurangan kita dalam praktek menyirami orang lain adalah karena kita masih berada di bawah pengaruh kekristenan. Memang kita tidak memiliki istilah paderiawam, namun kita mungkin masih mempraktekkan hal ini. Walaupun kita telah meninggalkan latar belakang keagamaan kita, namun pengaruh latar belakang itu masih mengikuti kita dan mencegah kita untuk menyirami orang lain. Sebagai contoh, mungkin seorang saudara berkata kepada diri sendiri, ”Siapakah aku? Aku bukan apa-apa. Biarlah para penatua dan orang-orang yang lebih berpengalaman saja yang merawat orang lain. Aku hanya seorang saudara kecil dalam gereja. Bagaimana mungkin aku membantu orang lain?” Pola pemikiran semacam ini harus dicabut dari kita. Seorang saudara atau saudari tidak boleh memiliki konsepsi bahwa mereka terlalu lemah dan dangkal dalam hayat untuk menyirami orang lain. Boleh jadi Anda lemah, namun Anda tidak mati. Sekalipun Anda merasa mati, fakta bahwa Anda masih berada dalam kehidupan gereja membuktikan bahwa Anda tidak mati sama sekali. Karena Anda masih hidup, Anda dapat menyirami orang lain. Janganlah menganggap diri Anda sendiri tidak ada gunanya. Sama seperti setiap anggota tubuh jasmani kita berguna, demikian pula tidak satu pun anggota gereja yang tidak ada gunanya dan tidak dapat memperhatikan orang lain dengan menyirami orang lain.
Karena latar belakang keagamaan kita, mudah sekali kita menerapkan perkataan Paulus hanya pada orang-orang seperti Paulus dan Apolos. Kita mungkin beranggapan hanya orang-orang tertentulah yang dapat menanam dan menyiram, tetapi kita sendiri tidak mampu melaksanakan pekerjaan ini. Beberapa orang kudus mungkin mengira para penatua dan para pemimpin di lokal merekalah yang harus melakukan seluruh pekerjaan penyiraman. Yang lain boleh memusatkan perhatian pada keperluan mereka sendiri untuk disirami oleh orang lain, bukan memperhatikan pentingnya menyirami orang lain. Sekali lagi saya katakan, konsepsi semacam ini harus dicabut. Kita semua mampu menyirami orang lain. Janganlah kita menjalankan praktek kekristenan hari ini. Gereja adalah Tubuh Kristus. Dalam Tubuh semua anggota berguna dan dapat berfungsi. Semoga racun dari praktek paderiawam dilenyapkan dengan tuntas.
Saya mengharapkan semua orang kudus nampak bahwa mereka dapat menanam dan menyiram. Mulai sekarang, kita tidak boleh beranggapan bahwa hanya para penatua dan mereka yang lebih berpengalaman saja yang dapat membantu orang lain. Sebaliknya, kita semua harus menyadari bahwa kita harus menjadi orang-orang yang membantu orang lain. Saya mendorong Anda untuk berdoa, ”Tuhan, belas kasihanilah aku, dan berilah aku anugerah agar aku dapat memperhidupkan Engkau, sehingga aku dapat menyirami orang lain. Kapan saja seorang kudus datang kepadaku dengan membawa problem, ingatkanlah aku untuk memikul beban, membantu orang itu dan menyiraminya.”
Ada beberapa orang mungkin takut berbuat kesalahan jika mereka mencoba menanam dan menyiram. Mungkin Anda akan melakukan kesalahan, tetapi jangan takut, belajar yang sejati datang dari bekerja, dari praktek. Mungkin Anda melakukan kesalahan-kesalahan tertentu, namun akhirnya Anda akan belajar dari kesalahan itu dan menjadi terampil dalam menanam dan menyiram. Dalam hal-hal tertentu mungkin Anda akan lebih banyak membantu daripada para penatua. Para penatua di sebuah gereja lokal hanya sedikit. Bagaimana mereka dapat memperhatikan begitu banyak saudara dan saudari? Daripada mencari para penatua untuk melakukan sesuatu, pikullah beban untuk merawat orang lain, yakni menyirami mereka. Dalam pemulihan Tuhan, kita adalah untuk mempraktekkan hidup gereja. Untuk mempraktekkan kehidupan gereja yang wajar, kita semua harus menanam dan menyiram.
Karena Paulus berkata bahwa ia menanam dan Apolos menyiram, jangan menyangka Paulus hanya dapat menanam dan Apolos hanya dapat menyiram. Tidak, mereka yang bekerja di ladang tidak hanya menanam atau menyiram; mereka mengerjakan apa saja yang diperlukan menanam, menyiram, memupuk, dan bahkan memotong serta memangkas tanam-tanaman. Melalui praktek, kita akan belajar mengerjakan semua perkara ini dalam kehidupan gereja. Tidak benar kalau Anda hanya menanam dan menyiram dan tidak terlibat dalam perkara-perkara lain. Sebaliknya, kita semua harus belajar mengerjakan apa saja yang diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan Kristus di ladang Allah. Hal ini juga termasuk belajar membunuh ”hama-hama” yang mengganggu tanaman yang sedang tumbuh. Orang kudus yang lebih lemah mungkin berkontak dengan Anda, dan mungkin Anda mengetahui bahwa ia sedang diganggu oleh hama tertentu. Dengan spontan Anda akan menyadari bahwa Anda pun pernah diserang oleh hama itu dan Anda berdua membutuhkan obat yang sama.
Saya harap semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan dapat menjamah beban dalam berita ini dan memasuki roh berita ini. Kemudian kita akan beroleh bantuan untuk bertumbuh di ladang Allah guna menghasilkan Kris-tus, dan kita juga akan belajar merawat orang lain.