MENANGGULANGI MAKAN MAKANAN YANG DIPERSEMBAHKAN KEPADA BERHALA (2)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 9:1-15
Kaum beriman Yunani yang filosofis di Korintus membuat segala hal menjadi rumit. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, Paulus menyederhanakan perkara-perkara. Ia mendorong orang-orang Korintus untuk menerima Tuhan, pengaturan-Nya, dan kedaulatan-Nya. Paulus juga menyadari bahwa jika kita memperhidupkan Kristus dengan menjadi satu roh dengan Tuhan dan jika kita taat kepada Tuhan dan takluk kepada-Nya, banyak situasi yang rumit akan disederhanakan. Kerumitan dalam kehidupan manusia timbul dari pikiran yang filosofis. Sebagai contoh, memfilsafatkan pernikahan dapat menimbulkan kerumitan dalam kehidupan pernikahan. Dalam masyarakat hari ini ada banyak kerumitan mengenai pernikahan. Dalam kehidupan gereja dalam pemulihan Tuhan, kita perlu mengikuti prinsip Perjanjian Baru untuk menyederhanakan situasi dan menyingkirkan kerumitan. Ketika kita menganalisis kehidupan pernikahan dan kehidupan keluarga kita, kita menjadi rumit. Tetapi ketika kita berpaling ke dalam roh, semuanya menjadi sederhana.
Saya mengapresiasi 1Korintus 7 karena pasal ini memperlihatkan kepada kita seseorang, Paulus, yang dijenuhi dengan Allah, bersatu dengan-Nya, dan sepenuhnya patuh kepada-Nya. Tidak ada pertentangan antara Paulus dengan Allah, dan tidak ada perselisihan antara dirinya dengan Allah. Ia bergembira dengan keadaan apa pun yang Allah atur baginya. Kita mengetahuinya bukan karena ia mengatakannya secara eksplisit; kita mengetahuinya melalui petunjuk-petunjuk yang ia berikan kepada orang-orang Korintus mengenai kehidupan pernikahan. Petunjuk-petunjuk ini menyingkapkan orang macam apakah Paulus. Tulisan Paulus dalam pasal ini memperlihatkan bahwa ia benar-benar manusia-Allah.
Dalam pasal 8 Paulus menanggulangi problem makan persembahan berhala. Problem ini tampaknya mempunyai jawaban ya atau tidak. Namun, dalam pasal 8 Paulus tidak menjawab ya atau tidak. Cara ia menangani pertanyaan ini memperlihatkan bahwa ia bukanlah orang yang hidup menurut pohon pengetahuan baik dan jahat, tetapi orang yang hidup menurut pohon hayat. Pada pohon hayat yang penting bukan ya atau tidak; melainkan sepenuhnya perkara hayat, hayat Allah, yang ilahi, hayat kekal yang diekspre-sikan melalui kasih yang membangun. Hayat ini selalu membawa kita kepada Allah.
Dalam 8:8 Paulus memperkenalkan pemikiran ”dibawa kepada” Allah. Ini adalah ungkapan yang sempurna, bahkan luar biasa. Saya ragu apakah ungkapan demikian dapat ditemukan di tempat lain dalam Alkitab. Jawaban Paulus dalam pasal 8 tentu saja bukan perkara ya atau tidak. Sebaliknya, berhubungan dengan melakukan hal-hal yang membawa kita kepada Allah. Menurut pemahaman Paulus, jika suatu hal tidak membawa kita kepada Allah, kita tidak perlu melakukannya.
Paulus bersatu dengan Allah dan dijenuhi dengan-Nya sehingga seluruh dirinya ada di dalam Allah. Karena itu, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang-orang Korintus bukan dengan ya atau tidak, tetapi menurut hakikinya dan menurut pelaksanaannya. Pelaksanaannya adalah menempuh hidup yang mutlak bersatu dengan Allah. Kita semua perlu melihat visi ini dan melaksanakannya, bahkan seperti yang Paulus lakukan.
Dalam pasal 8 Paulus membicarakan hal mengasihi Allah (ayat 3), dibawa kepada Allah (ayat 8), ”saudara seimanmu, yang untuknya Kristus telah mati” (ayat 11), dan tentang berdosa terhadap Kristus (ayat 12). Akhirnya, ia menyimpulkan pasal ini dengan mengatakan, ”Karena itu, apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudara seimanku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu san-dungan bagi saudara seimanku” (ayat 13). Ungkapan ”saudara seimanku” menunjukkan bahwa bagi Paulus setiap saudara patut dikasihi. Ia mengasihi semua saudara. Paulus bersatu dengan Allah dan bersatu dengan Tubuh Kristus. Karena alasan ini, ia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan ya atau tidak, menurut pohon pengetahuan. Jika setiap orang dalam gereja lokal mempunyai kehidupan dan pelaksanaan yang cocok dengan Paulus, tidak akan ada pertanyaan, problem, atau kerumitan. Pertanyaan-pertanyaan timbul dari pikiran yang filosofis. Tetapi ketika kita berpaling kepada Kristus yang berdiam dalam roh kita, situasinya menjadi sederhana.
II. PEMBELAAN RASUL
A. Kualifikasinya
Pasal 9 merupakan sisipan dalam bagian tentang makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. Dalam sisipan ini rasul menempatkan dirinya sendiri di hadapan kaum beriman Korintus sebagai suatu teladan, supaya mereka tidak menyandung orang lain, sebaliknya membangun orang lain dengan mempraktekkan prinsip kasih yang penuh tenggang rasa yang dinyatakan dalam 8:13.
Ayat 1 mengatakan, ”Bukankah aku orang merdeka? Bukankah aku rasul? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” Rasul Paulus merdeka dari semua orang, tidak diperhamba oleh siapa pun (9:19). Walaupun dia mempraktekkan prinsip kasih yang penuh tenggang rasa, tetapi dia tidak dikendalikan oleh cara makan tertentu, demikian juga seharusnya semua orang beriman dalam Kristus.
Ketika rasul menempatkan dirinya sendiri sebagai teladan kaum beriman, ia menyinggung tentang kerasulannya. Ini memberinya kuasa untuk menanggulangi semua masalah yang dibahas dalam surat ini, yakni masalah-masalah serius mengenai kehidupan gereja dan persekutuannya. Penanganan masalah-masalah itu tidak hanya didasarkan pada pengajarannya, juga pada kuasa dalam kerasulannya. Untuk menanggulangi situasi itu, dia perlu mengambil kedudukan ini dan membuat masalah ini jelas bagi kaum beriman Korintus. Mereka meragukan kerasulannya dan terjerumus (Kis. 14:14), tetapi tidak secara demikian melihat Tuhan. Namun, mengenal Tuhan di dalam roh melalui wahyu rohani sudah pasti diperlukan bagi seseorang untuk menjadi rasul.
Dalam ayat 1 Paulus juga menanyakan, ”Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” Hasil pekerjaan Paulus di dalam Tuhan adalah bukti kerasulannya, bukan syarat kerasulannya.
Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan mengatakan, ”Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai kerasulanku.” Karena Paulus telah melahirkan kaum beriman Korintus di dalam Tuhan melalui Injil (4:15), ia pastilah seorang rasul bagi mereka. Buah jerih lelahnya merupakan bukti dari kerasulannya. Hasil yang cukup dari pekerjaan rasul yang efektif bukan hanya merupakan suatu bukti, tetapi juga suatu meterai dari kerasulannya. Materai ini menempatkan tanda yang nyata pada jerih lelah kerasulannya, yang mengabsahkan dan menegaskan kerasulannya.
Dalam pasal 9 Paulus membicarakan mengenai dirinya sendiri secara langsung. Fakta bahwa ia berbicara mengenai kerasulannya menunjukkan bahwa kaum beriman Korintus juga mempunyai problem yang berhubungan dengan kerasulan Paulus. Beberapa orang dari mereka mungkin ragu-ragu apakah Paulus benar-benar seorang rasul. Mereka mungkin telah mendiskusikan perkara ini dan mempertanyakan kerasulan Paulus. Paulus pasti telah tahu keraguan mereka. Sekarang dalam pasal 9 ia berbicara mengenai hal ini secara keras, langsung, dan terus terang. Empat (Kis. 14:14), tetapi tidak secara demikian melihat Tuhan. Namun, mengenal Tuhan di dalam roh melalui wahyu rohani sudah pasti diperlukan bagi seseorang untuk menjadi rasul.
Dalam ayat 1 Paulus juga menanyakan, ”Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” Hasil pekerjaan Paulus di dalam Tuhan adalah bukti kerasulannya, bukan syarat kerasulannya.
Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan mengatakan, ”Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai kerasulanku.” Karena Paulus telah melahirkan kaum beriman Korintus di dalam Tuhan melalui Injil (4:15), ia pastilah seorang rasul bagi mereka. Buah jerih lelahnya merupakan bukti dari kerasulannya. Hasil yang cukup dari pekerjaan rasul yang efektif bukan hanya merupakan suatu bukti, tetapi juga suatu meterai dari kerasulannya. Materai ini menempatkan tanda yang nyata pada jerih lelah kerasulannya, yang mengabsahkan dan menegaskan kerasulannya.
Dalam pasal 9 Paulus membicarakan mengenai dirinya sendiri secara langsung. Fakta bahwa ia berbicara mengenai kerasulannya menunjukkan bahwa kaum beriman Korintus juga mempunyai problem yang berhubungan dengan kerasulan Paulus. Beberapa orang dari mereka mungkin ragu-ragu apakah Paulus benar-benar seorang rasul. Mereka mungkin telah mendiskusikan perkara ini dan mempertanyakan kerasulan Paulus. Paulus pasti telah tahu keraguan mereka. Sekarang dalam pasal 9 ia berbicara mengenai hal ini secara keras, langsung, dan terus terang. Empat buah pertanyaan yang ia ajukan dalam ayat 1 mengilustrasikan keterusterangan Paulus. Roh Paulus di sini sangat bersih. Ia sama sekali tidak berpolitik. Berpolitik adalah tidak murni. Tatkala kita mencoba berbicara secara halus, sebenarnya kita mungkin berpolitik. Pertanyaan Paulus dalam ayat 1 pasti tidak halus. Maukah Anda menulis surat yang di dalamnya Anda mengajukan pertanyaan sedemikian? Di sini Paulus tidaklah halus atau berpolitik, tetapi ia murni, asli, dan jujur. Namun kita, mungkin halus atau berpolitik, karena kita tidak murni dalam motivasi atau hasrat kita.
Paulus juga berterus terang dan langsung dalam ayat 2. Di sini ia memberi tahu orang kudus bahwa jika ia bukan rasul bagi orang lain, ia pasti rasul bagi mereka. Ia telah melahirkan mereka di dalam Tuhan, dan mereka adalah meterai kerasulannya dalam Tuhan. Di sini Paulus tampaknya mengatakan, ”Untuk orang lain aku mungkin bukanlah bapa yang melahirkan, tetapi tentu saja aku adalah bapa yang sedemikian bagi kalian. Aku telah melahirkan kalian melalui Injil, dan keberadaan kalian adalah me-terai kerasulanku. Aku memiliki kerasulan, dan kalianlah meterainya.”
Dalam ayat 3 Paulus berkata, ”Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengkritik aku.” Kita perlu memperhatikan perkataan mengkritik dan pembelaan. Orang-orang Korintus sebenarnya mengkritik Paulus; mereka memerik-sanya untuk menentukan apakah ia seorang rasul atau bukan. Betapa memalukannya mereka! Ini seperti anak-anak memeriksa ayah mereka untuk melihat apakah ayah-nya adalah ayah yang sebenarnya.
Pembelaan di sini mengacu kepada pembelaan dalam ayat 1 dan 2. Beberapa orang yang disebut orang-orang rohani mengira bahwa seorang beriman tidak boleh membela dirinya sendiri. Mereka menyatakan bahwa orang-orang Kristen harus selalu menderita, memikul salib, dan menahan diri untuk membela diri mereka. Namun, kadang-kadang Tuhan Yesus membela diri, dan di sini Paulus menyampaikan pembelaannya di hadapan orang-orang Korintus.
B. Hak-haknya
Dalam ayat 4 Paulus menanyakan, ”Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum?” Dalam bahasa aslinya kata hak adalah kemerdekaan. Hak di sini adalah tentang makan dan minum bagi Injil (ayat 14) dengan menggunakan suplai dari kaum saleh dan gereja-gereja.
Dalam ayat 5 Paulus melanjutkan, ”Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang istri yang seiman, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?” Sekali lagi, perkataan Paulus sangatlah keras. Kaum beriman filosofis yang rumit di Korintus membuatnya perlu berbicara sedemikian keras dan langsung.
Ayat 6 mengatakan, ”Atau hanya aku dan Barnabas sajakah yang tidak mempunyai hak untuk tidak bekerja?” Tidak bekerja di sini berarti tidak menyandang pekerjaan (duniawi; red.). Beberapa orang rasul tidak menyandang pekerjaan, tetapi ditunjang oleh gereja atau kaum beriman. Paulus dan Barnabas mempunyai hak untuk tidak bekerja. Tetapi mereka bekerja dengan tangan mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dalam ayat 7 Paulus bertanya, ”Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur tanpa memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba tanpa minum susu domba itu?” Paulus menyebut ”turut dalam peperangan” menyiratkan bahwa dahulu orang-orang Korintus adalah tawanan dan bahwa Paulus telah berperang bagi mereka sehingga mereka dapat dilepaskan dari Iblis dan merdeka. Di sini Paulus seolah-olah mengatakan, ”Kami telah berjuang dalam peperangan untuk melepaskan kalian dari tawanan. Haruskah kami melaksanakan peperangan sedemikian atas biaya kami sendiri? Adilkah bila kami harus berbuat demikian?” Kemudian, perkataan Paulus mengenai kebun anggur dan kawanan domba menunjukkan bahwa kaum beriman di Korintus adalah kebun anggur untuk menghasilkan buah dan juga kawanan domba yang digembalakan oleh para rasul.
Ayat 8-10 mengatakan, ”Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian? Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: ’Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!’ Lembukah yang Allah perhatikan? Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu orang yang membajak tanah harus membajak dalam pengharapan dan orang yang mengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.” Di sini Paulus mengutip Perjanjian Lama dengan cara yang indah dan menerapkannya pada situasi saat itu. Ia juga mengatakan bahwa orang yang membajak harus membajak dalam pengharapan dan orang yang mengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya. Di sini sekali lagi ia menyamakan gereja di Korin-tus dengan sebuah ladang. Dalam 3:9 ia telah memberi tahu mereka bahwa mereka adalah ladang Allah. Paulus membajak dan mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.
Dalam ayat 11 Paulus berkata, ”Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari kamu?” Sekali lagi Paulus agak keras. Orang-orang Korintus tidak mempunyai alasan untuk menentangnya.
Dalam ayat 12 Paulus melanjutkan, ”Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami menimbulkan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.” Kata ”menanggung” secara harfiah berarti ”menampung” (seperti bejana), tersembunyi; karena itu, mengacu kepada penutup (seperti atap). Paulus seperti sebuah bejana yang menampung segala hal yang telah dilakukan orang-orang Korintus baginya dan juga seperti atap yang menutupi mereka. Tetapi mereka memaksanya untuk menyingkirkan penutup itu dan membuang isi bejana itu. Dalam seluruh hal ini Paulus berusaha untuk tidak menimbulkan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.
Dalam ayat 13 Paulus sekali lagi mengacu kepada Perjanjian Lama tatkala ia bertanya, ”Tidak tahukah kamu bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bagian mereka dari mezbah itu?” Dalam ayat 14 ia menerapkan prinsip ini kepada mereka yang memberitakan Injil: ”Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”
Dalam ayat 15 Paulus mengumumkan, ”Tetapi aku tidak pernah menggunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab lebih baik aku mati daripada berbuat seperti itu. Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!” Di sini kita melihat bahwa rasul sangat mutlak bagi kepentingan Tuhan. Dia tidak hanya rela me-ngorbankan segala haknya (ayat 12, 15a, 18), bahkan rela membayar harga dengan hidupnya. Tentu saja Paulus tidak menulis hal-hal ini agar dia diberi tunjangan atau hadiah-hadiah dari kaum beriman di Korintus. Sebaliknya, ia bahkan bersedia mati untuk Kristus dan gereja.
Jika kita melihat kedalaman 1 Korintus 9, kita akan melihat bahwa Paulus bukan hanya orang yang bersatu dengan Allah, tetapi juga orang yang memiliki hati dan roh yang murni. Tidak ada bagian Alkitab lain yang menyajikan gambaran sedemikian dari seorang yang bersih dan murni. Jika Paulus tidak murni, ia tidak akan mampu menulis ayat-ayat ini.
Problem-problem di antara orang Kristen timbul tidak hanya karena kerumitan mereka, tetapi terlebih lagi, karena kekurangmurnian mereka. Dalam sebagian besar problem, kerumitan terletak di permukaan. Di bawah permukaan terletak ketidakmurnian. Para penatua, para sekerja, dan orang kudus mungkin tidak murni dalam motivasi atau keinginan mereka. Menjadi murni adalah menjadi sejati, tulus, dan mutlak tidak berpolitik.
Dalam pasal ini kita harus terkesan secara mendalam atas fakta bahwa Paulus murni dan tulus. Sebaliknya, orang-orang Korintus tidak murni. Mereka mengkritik Paulus dan meragukan kerasulannya. Dalam motivasi, pikiran, dan perasaan mereka, mereka tidak murni. Beberapa orang Korintus bahkan mengira bahwa Paulus menipu mereka, bahwa ia berlaku curang kepada mereka secara licik. Jika mereka murni seperti Paulus, mereka tidak akan meragukan Paulus atau kerasulannya.
Saudara Watchman Nee pernah berkata bahwa mereka yang sebagai pencuri sering kali khawatir orang lain akan mencuri barang-barang milik mereka. Jika seseorang mencurigai bahwa orang lain yang duduk di dekatnya akan mencuri barang miliknya, ini mungkin menunjukkan bahwa ia sendiri adalah seorang pencuri. Jika ia tidak mencuri milik orang lain, ia tidak akan takut bahwa orang lain mungkin mencuri sesuatu miliknya. Dalam prinsip yang sama, karena orang-orang Korintus tidak murni, mereka curiga bahwa Paulus tidak murni dan bahwa ia mengambil keuntungan dari mereka. Fakta bahwa mereka mempunyai pemikiran sedemikian mengenai Paulus membuktikan bahwa mereka tidak murni. kejahatan ketidakmurnian itu bersembunyi di dalam diri kita semua. Karena sifat alamiah kita yang jatuh, kita semua tidak murni.
Andaikan seorang saudara datang kepada saya dengan membawa sebuah hadiah, dan saya mencurigai bahwa hadiah ini diberikan dengan maksud agar saya melakukan sesuatu untuk saudara itu. Pemikiran ini tidak berdosa, tetapi tidak murni. Mengenai menerima hadiah-hadiah, saya telah mempelajari suatu prinsip penting dari Tuhan. Prinsip ini adalah menerima semua hadiah dengan tulus, tidak mempunyai pemikiran bahwa itu mungkin diberikan dengan sebuah motivasi, dan kemudian tidak melakukan apa-apa untuk orang yang memberikan hadiah. Melakukan sesuatu bagi orang yang memberi kita hadiah menunjukkan bahwa kita telah disuap. Beberapa kali orang-orang telah memberi saya barang-barang dengan motivasi yang tidak murni. Pada saat itu saya tidak mempunyai pemikiran bahwa orang-orang itu tidak murni; hanya kemudian saya beri tahu bahwa motivasinya tidak murni. Saya ulangi, berpikir bahwa suatu hadiah diberikan dari motivasi yang tidak murni menunjukkan bahwa kita sendiri tidak murni. Jika kita murni, kita tidak akan berpikir seperti ini.
Saya mengapresiasi perkataan Paulus dalam ayat 15: ”Tetapi aku tidak pernah menggunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian.” Perkataan sedemikian menyingkapkan orang-orang Korintus itu yang mengira bahwa Paulus menulis secara demikian agar ia diberi tunjangan atau suplai. Paulus menutup pintu pikiran yang tidak murni sedemikian dengan mengatakan secara jelas bahwa ia tidak menulis dengan maksud menerima apa-apa dari orang-orang Korintus. Sekali lagi kita melihat bahwa Paulus sungguh-sungguh satu roh dengan Tuhan dan bahwa ia mutlak murni. Karena kemurniannya, ia dapat terus terang, langsung, dan jujur. Jika tujuan Paulus dalam menulis pasal 9 adalah agar ditunjang oleh orang-orang Korintus, Paulus tidaklah murni. Namun, dalam menulis surat ini, Paulus murni.
Dalam kehidupan gereja hari ini banyak problem tampaknya berasal dari kerumitan; sebenarnya, problem-problem tersebut ditimbulkan karena ketidakmurnian. Tidaklah murni mengatakan atau melakukan sesuatu dengan tujuan agar orang lain akan melakukan sesuatu bagi kita. Juga tidaklah murni berpikiran bahwa orang lain mencoba memanfaatkan diri kita. Dalam kehidupan gereja kita harus menutup pintu pemikiran yang tidak murni. Jika kita tidak murni, kita tidak akan mampu untuk berani, terus terang, atau langsung. Sebaliknya, kita akan seperti tokoh politik, terlihat bersopan santun.
Dalam 1Korintus 9 kita melihat bahwa motivasi dan keinginan satu-satunya Paulus berhubungan dengan Kristus dan Tubuh-Nya. Paulus sangat murni. Jika kita murni dalam kehidupan gereja, tidak akan ada problem. Sebab utama dari problem-problem dalam kehidupan gereja adalah ketidakmurnian. Di satu pihak, orang-orang Korintus mengajukan pertanyaan kepada Paulus; di pihak lain, mereka mengkritiknya. Mereka menyambutnya, tetapi mereka juga meragukannya. Ini menyingkapkan ketidakmurnian mereka. Tetapi meskipun orang-orang Korintus tidak murni, Paulus bertingkah laku secara murni seperti bapa yang melahirkan. Dalam menulis kepada kaum beriman di Korintus ia mewahyukan dirinya sebagai orang yang bersatu dengan Allah dan mutlak murni. Dalam pekerjaan Tuhan, ia tidak mempunyai motivasi yang lain selain Kristus dan Tubuh.