← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 25/25

MENANGGULANGI MAKAN MAKANAN YANG DIPERSEMBAHKAN KEPADA BERHALA (3)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 9:16-27

Dalam 9:1-15 diperlihatkan kepada kita betapa murninya Paulus. Ketika kita di sini menggunakan kata murni bersih, kita menggunakannya secara alkitabiah. Misalnya, Tuhan Yesus berkata, ”Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8). Dalam ayat ini suci (murni) berarti memiliki motivasi tulus dalam mencari Tuhan. Jika motivasi kita hanya satu, kita murni. Jika tidak, kita tidak murni. Ketika kita berkata bahwa Paulus murni dan orang-orang Korintus tidak murni, berarti Paulus hanya memiliki motivasi tulus dalam mencari Tuhan, tetapi orang-orang Korintus memiliki motivasi yang campur aduk. Karena mereka tidak murni, mereka bahkan meragukan kerasulan Paulus dan ingin memeriksa dia. Dua Korintus 12:16 menunjukkan bahwa beberapa orang beriman di Korintus berpikir bahwa Paulus mendapatkan keuntungan material dari mereka melalui kelicikan. Mereka bisa berpikir seperti ini karena motivasi mereka tidak murni.

Murni atau tidaknya kita tergantung pada motivasi kita. Motivasi kita mungkin berhubungan dengan keuntungan pribadi kita, berhubungan dengan suatu hal yang mungkin bisa membawa faedah bagi kita. Problem di dalam gereja-gereja sering berhubungan dengan mencari sedikit keuntungan pribadi. Jika salah satu aspek khusus dari kehidupan gereja merupakan keuntungan bagi Anda, Anda bisa gembira dan sangat mengasihi gereja. Namun, bila tidak ada keuntungan pribadi bagi Anda dalam gereja, Anda mungkin tidak gembira dan menyalahkan gereja. Ketika kita tidak menerima apa yang kita harapkan, kita mungkin tidak senang terhadap gereja, para penatua, atau orang kudus. Ini menunjukkan bahwa kita tidak murni, bahwa motivasi kita adalah untuk keuntungan pribadi kita.

Kita semua mengasihi Tuhan dan pemulihan. Bahkan kita mungkin berdiri dalam sidang dan menyatakan bahwa kita mempersembahkan diri kita bagi Kristus dan gereja. Kita mungkin berkata bahwa Kristus itu menakjubkan dan gereja itu istimewa. Tetapi jika motivasi kita tidak murni, kita mungkin mulai memiliki problem dengan gereja setelah pernyataan dan konsekrasi tersebut. Mengenai motivasi kita, kita perlu disalibkan dengan Kristus. Salib perlu menjamah motivasi kita.

Paulus murni karena dia mengetahui melalui pengalaman, apa maksudnya disalibkan dengan Kristus dan menjadi satu roh dengan Tuhan. Dia menempuh kehidupan tersalib, dan dia mempraktekkan menjadi satu roh dengan Tuhan. Karena itu, dia tidak memiliki motivasi yang berhubungan dengan keuntungan pribadi. Motivasinya seluruhnya di dalam Kristus dan untuk Kristus. Ini merupakan alasan Paulus dapat menjadi begitu murni. Karena dia begitu murni, dia dapat berbicara dalam 9:1-15 dengan berani, terus terang, kuat, dan langsung. Seperti seorang ahli bedah yang telah dibersihkan dari semua bakteri, dia dapat mengoperasi orang Korintus. Jika Paulus tidak murni, ketidakmurniannya akan tertular ke dalam orang-orang Korintus. Tetapi karena dia murni, dia dapat melakukan operasi rohani pada kaum beriman di Korintus tanpa membuat mereka tercemar.

C. KESETIAANNYA

1. Adalah Keharusan

Setelah melihat kemurnian Paulus dalam 9:1-15, kita akan melihat kesetiaannya dalam 9:16-23. Dalam ayat 16 Paulus berkata, ”Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” Keharusan di sini menurut Paulus berarti ada beban yang tak terhindar menekan dirinya. Keharusan seperti ini, beban yang menekan, untuk memberitakan Injil ini, telah menekan dirinya. Maka, dia dapat berkata, ”Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Paulus tidak peduli bagaimana orang-orang Korintus memperlakukan dia atau bagaimana mereka menanggapi dia. Dia memiliki beban yang menekan dirinya untuk melaksanakan pekerjaan ministrinya. Ministrinya untuk memberitakan Injil adalah keharusan. Paulus mengetahui bahwa jika dia tidak memberitakan, dia akan menderita kerugian. Ini menunjukkan kesetiaan Paulus.

Seperti kasih, kesetiaan juga dapat membuat kita buta. Jika kita ingin sekali mengetahui sikap dan reaksi orang lain terhadap kita, mungkin kita tidak setia. Bukanlah suatu sikap yang setia memberitakan Injil hanya jika orang lain memberikan reaksi yang baik. Jika kita setia memberitakan Injil, kita tidak akan mempedulikan bagaimana reaksi orang atau cara mereka memperlakukan kita, karena kita memiliki beban, keperluan, untuk menggenapkan ministri kita. Kesetiaan ini membutakan orang yang setia terhadap reaksi orang lain.

2. Diberi Amanat

Sebagai Pengurus Rumah Tangga

Dalam ayat 17 Paulus melanjutkan, ”Andai kata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang dipercayakan kepadaku.” Ayat ini tidak mudah dimengerti. Bahkan jika Paulus tidak ingin memberitakan Injil, dia tidak memiliki jalan keluar untuk meninggalkan beban Tuhan, karena dia telah diberi amanat sebagai pengurus rumah tangga. Ini menunjukkan bahwa bagi Paulus, memberitakan Injil bukanlah pilihan. Paulus telah ditangkap oleh Tuhan, ditunjuk oleh-Nya, dan diberi amanat sebagai pengurus rumah tangga. Entah dia mau atau tidak, dia harus memenuhi beban yang diberikan kepadanya. Dia tidak memiliki pilihan tentang hal ini. Dia tidak dapat melarikan diri dari amanat untuk memberitakan Injil.

Dalam ayat ini Paulus menyinggung amanat dari Allah dan bebannya sendiri. Karena Allah telah menugaskan dia, dia memiliki beban. Dia tidak memiliki pilihan kecuali melaksanakan pekerjaan ministri. Karena itu, dia dapat berkata kepada orang-orang Korintus, ”Aku tidak peduli bagaimana kalian memperlakukanku, atau bagaimana kalian meragukan aku atau memeriksaku. Aku memberitakan Injil kepada kalian karena beban, karena keperluan. Aku tidak memiliki pilihan lain dalam hal ini.”

3. Menerima Upah

Dalam ayat 17 Paulus berbicara tentang upah. Surat 1 Korintus ditulis bukan untuk menolong orang berdosa yang hilang agar diselamatkan, tetapi untuk menolong kaum beriman yang sudah beroleh selamat agar bertumbuh (3:6-7), membangun dengan bahan-bahan berharga (3:10, 12-14), memperhatikan anggota-anggota Tubuh Tuhan (8:9-13), dan berlari dalam perlombaan (9:24). Karena itu, upah (pahala) disinggung secara berulang-ulang sebagai perangsang bagi kaum beriman untuk kemajuan mereka (3:14; 9:18, 24-25).

Kata ”tugas penyelenggaraan” dalam bahasa aslinya berarti tata rumah tangga, pengaturan rumah tangga. Rasul bukan hanya seorang pemberita, tetapi juga seorang pengurus rumah dalam rumah Allah, penata rumah tangga, yang membagi-bagikan keselamatan, hayat, dan kelim-pahan Kristus kepada kaum beriman-Nya. Ministri yang sedemikian adalah tugas tata rumah tangga yang dipercayakan dan diamanatkan kepadanya (Ef. 3:2; 2 Kor. 4:1).

Ayat 18 mengatakan, ”Jika demikian, apakah upahku? Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil.” Di sini kita melihat bahwa Paulus tidak menggunakan haknya berkenaan dengan orang-orang Korintus. Hal ini memberi dia dasar untuk bangga, seperti yang disebutkan dalam ayat 16. Walaupun Paulus tidak menggunakan haknya atas orang-orang Korintus, dia menggunakannya atas jemaat-jemaat lain. Dalam 2Korintus 11:8 Paulus bahkan berkata bahwa dia merampok jemaatjemaat lain untuk melayani orang-orang Korintus. Jemaatjemaat lain menyuplai dia, tetapi jemaat di Korintus tidak. Menurut 1Korintus 9:18, Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang Korintus tanpa upah.

4. Hamba dari Semua Orang

Dalam ayat 19 Paulus melanjutkan, ”Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” Dia bebas dari semua orang dalam arti dia tidak berhutang apa pun kepada orang lain. Ini berarti dia bebas dari orang-orang Korintus, tidak berhutang apa pun kepada mereka. Namun, walaupun dia bebas dari semua, Paulus menjadikan dirinya hamba dari semua orang untuk mendapatkan lebih banyak orang lagi bagi Tuhan.

Dalam ayat 20-21 Paulus berkata, ”Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.” Di sini seolah-olah Paulus bukan orang Yahudi. Sebenarnya, dia adalah orang Yahudi, tetapi dia tidak lagi menempuh hidup sebagai orang Yahudi. Sebaliknya, dia menempuh hidup sebagai orang Kristen. Dia menjadi orang Yahudi untuk mendapatkan orang-orang Yahudi. Terhadap mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, dia menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat untuk mendapatkan mereka. Dalam ayat 20 Paulus menyisipkan pernyataan yang menerangkan ”sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat” untuk menun-jukkan bahwa dia tidak berada di bawah hukum Taurat. Dia tidak ingin orang-orang Korintus berpikir bahwa dia hidup bagi hukum Taurat. Walaupun dia tidak hidup di bawah hukum Taurat, dia menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat.

Menurut ayat 21, kepada mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, Paulus menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya dia mendapatkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Sekali lagi dia menekankan (dengan menerangkan) bahwa dia tidak hidup di luar hukum Allah tetapi hidup dalam hukum Kristus. Dalam bahasa Yunani ungkapan ”dalam hukum” adalah ennomos, yaitu di dalam ruang lingkup, batas hukum Taurat; karena itu berarti tunduk kepada hukum Taurat. Itu merupakan lawan dari anomos, di luar hukum Taurat, yaitu di luar ruang lingkup, batasan, dari hukum Taurat; karena itu, tanpa hukum Taurat. Paulus mengambil Kristus sebagai hayatnya dan hidup berdasarkan Kristus. Kristus yang hidup di dalamnya sebagai hayat, memiliki hukum hayat, dan justru adalah hukum hayat itu (Rm. 8:2), memerintah dan mengatur dia supaya dia dengan tepat, sah, lurus, serasi, tunduk terhadap Kristus. Karena itu, Paulus berada di dalam hukum yang lebih tinggi dan lebih baik, tunduk kepada hukum hayat ini. Jadi, dia bukanlah di luar hukum dan tanpa hukum terhadap Allah. Paulus tidak lagi berada di bawah hukum Musa, tetapi dia berada di bawah hukum Kristus. Bagi orang-orang kafir yang tidak memiliki hukum Musa, Paulus menjadi seperti orang yang tanpa hukum, sekalipun ia tidak hidup di luar hukum Allah, sebab ia hidup di dalam hukum Kristus.

Dalam ayat 22 Paulus menyatakan, ”Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka.” Menjadi segala-galanya bagi semua orang berarti demi orang banyak, rasul menyetel dirinya sedemikian rupa sehingga sesuai dengan setiap hal, juga termasuk sesuai dengan cara dan pelaksanaan makan minum yang berbeda (ayat 23). Dia ingin hidup dengan cara yang diikuti orang lain. Contohnya, ketika dia bersama-sama dengan orang vegetarian, dia tidak makan daging. Dengan orang-orang Yahudi, dia tidak makan daging babi. Dengan cara ini dia menjadi segala-galanya bagi semua orang untuk menyelamatkan beberapa dari mereka.

Ayat 23 mengatakan, ”Semuanya ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya.” Kata ”mendapat bagian” dalam bahasa aslinya memiliki banyak arti; itu juga berarti pengambil bagian bersama, orang yang bekerja sama, kawan sekerja. Rasul bukan hanya peserta, pengambil bagian bersama yang menikmati Injil, tetapi juga orang yang bekerja sama, kawan sekerja yang berjerih lelah bagi Injil. Namun, di sini dia mengacu kepada kenikmatan terhadap Injil. Karena itu, dalam ayat ini kita menerjemahkannya sebagai ”bersama-sama mengambil bagian dalam Injil.”

Memberitakan Injil adalah berjerih lelah. Tetapi ketika kita berjerih lelah dalam memberitakan Injil, ada bagian untuk kita nikmati. Paulus berjaga-jaga agar dalam memberitakan Injil kepada orang lain, dia bisa berbagian dalam kenikmatan atas Injil. Dia berhati-hati untuk tidak kehilangan bagian atas kenikmatan ini.

D. USAHANYA

1. Berlari

Dalam ayat 24 Paulus meneruskan berkata, ”Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu, larilah sedemikian rupa, sehingga kamu memperolehnya!” Ini mewahyukan bahwa hidup kristiani merupakan suatu perlombaan lari, kita harus berlari sedemikian rupa hingga sukses. Hadiahnya adalah pahala sebagai perangsang. Memperoleh berarti mendapatkan hadiah.

Sebenarnya ayat 24 tidak seharusnya dipisahkan dari ayat 23, sebab ayat 24 merupakan penjelasan dari ungkapan mendapat bagian atas Injil, seperti yang disebutkan ayat 23. Berlari dalam gelanggang pertandingan adalah berjerih lelah, tetapi menerima hadiah adalah memiliki kenikmatan. Sewaktu kita memberitakan Injil hari ini, kita berlari dalam gelanggang. Tetapi menerima upah, hadiah, pada kedatangan Tuhan adalah memiliki kenikmatan yang khusus.

Kita telah melihat bahwa dalam 9:17 Paulus berbicara tentang upah. Dalam Kisah Para Rasul 20:24 dia menyinggung gelanggang: ”Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah.” Paulus menganggap pemberitaan Injilnya sebagai berlari dalam gelanggang pertandingan orang Kristen. Ayat 24 menunjukkan bahwa semua orang beriman sedang berlari dalam gelanggang pertandingan. Di sini Paulus menasihati kita untuk berlari sedemikian rupa supaya kita dapat memperoleh hadiah.

Kita telah melihat bahwa gelanggang pertandingan kristiani termasuk memberitakan Injil. Memberitakan Injil adalah menyalurkan Kristus ke dalam orang-orang pilihan Allah. Karena orang-orang pilihan Allah terdapat juga di antara orang-orang kafir, Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang kafir. Jika seseorang menerima pemberitaan kita, ini membuktikan bahwa dia telah dipilih oleh Allah. Kita harus menyalurkan Kristus ke dalam orang-orang yang sudah menerima. Dengan jalan ini kita berlari dalam gelanggang pertandingan orang Kristen. Namun, karena banyak orang beriman hari ini tidak berlari dalam jalur, kita membutuhkan perkataan Paulus, ”Karena itu, larilah sedemikian rupa, sehingga kamu memperolehnya.”

2. Menguasai Diri

Dalam ayat 25 Paulus melanjutkan, ”Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh mahkota yang abadi.” Paulus berkata bahwa setiap orang yang ada dalam pertandingan, menguasai diri secara ketat. Contohnya, mereka memperhatikan makanan mereka dengan cermat. Jika para atlit menguasai diri untuk menerima mahkota yang fana, kita harus lebih lagi berlatih menguasai diri untuk mendapatkan mahkota yang tidak dapat binasa.

Mahkota yang tidak dapat binasa, yang akan Tuhan hadiahkan kepada kaum saleh pemenang yang menang dalam perlombaan adalah pahala tambahan kepada keselamatan. Kita, kaum beriman-Nya telah menerima keselamatan-Nya melalui iman dalam Dia, ini telah ditetapkan sekali untuk selamanya. Tetapi apakah kelak kita akan diberi pahala oleh-Nya ini tergantung kepada bagaimana kita berlari di atas jalur perlombaan. Dalam pasal ini, rasul Paulus sedang berlari di atas jalur perlombaan. Dalam Filipi, salah satu dari surat-suratnya pada hari-hari terakhirnya, ia masih tetap berlari (Flp. 3:14). Sampai saat terakhir berlarinya, dalam 2Timotius 4:6-8, Paulus baru memiliki keyakinan bahwa dirinya akan diberi pahala oleh Tuhan pada saat Tuhan menampakkan diri. Dalam terang pahala inilah rasul menyuruh kaum beriman Korintus untuk berlari dalam perlombaan ini, supaya mereka bisa mendapatkan pahala.

3. Melatih dan Menguasai Tubuh Sebagai Seorang Budak

Dalam ayat 26-27 Paulus berkata tentang dirinya, ”Sebab itu, aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Kata Yunani yang diterjemahkan melatih berarti memukul bagian wajah di bawah mata sampai babak belur. Ini bukan menyiksa tubuh sebagaimana dalam pertapaan, juga bukan menganggap tubuh itu jahat sebagaimana dalam aliran Gnostik. Ini adalah menaklukkan tubuh dan menjadikannya tawanan untuk melayani kita sebagai hamba, bagi penggenapan maksud kudus kita. Ini sama dengan mematikan anggota kita yang duniawi (Kol. 3:5) dan mematikan perbuatan-perbuatan tubuh (Rm. 8:13), tidak mengizinkan tubuh kita digunakan untuk pengumbaran hawa nafsu atau melakukan apa pun berdasarkan diri kita kecuali apa yang kudus bagi Allah. Orang-orang Korintus menyalahgunakan tubuh mereka dalam percabulan, tidak mempedulikan bait Allah (1Kor. 6:19), dan dalam hal makan makanan persembahan berhala tidak terkendalikan, tidak peduli terhadap kaum beriman yang lemah (8:9-13).

Paulus juga memberi tahu kita bahwa dia menguasai tubuhnya sebagai budaknya. Ini merupakan kiasan yang berarti memimpin orang yang ditaklukkan sebagai tawanan dan budak, untuk membawa tawanan ke dalam perbudakan dan menjadikannya budak untuk melayani maksud si penakluk. Tubuh kita seharusnya menjadi tawanan tersebut, sesuatu yang ditaklukkan menjadi budak untuk melayani tujuan penguasa. Ini menunjukkan bahwa kita perlu menguasai tubuh kita dan mengalahkannya. Tubuh kita telah ditangkap oleh nafsu. Sekarang kita harus membawanya ke dalam penjara, ke dalam perbudakan yang sangat positif di mana tubuh kita menjadi bait Roh Kudus dan anggota Kristus.

Kita harus belajar melatih tubuh kita dan menguasainya seperti budak, tepat seperti yang Paulus lakukan. Contohnya, ketika mata Anda tidak ingin membaca Alkitab, Anda perlu melatihnya dan mengalahkannya sehingga tubuh Anda akan melayani tujuan Anda dalam membaca Alkitab.

Menurut ayat 27, Paulus khawatir kalau-kalau setelah memberitakan kepada orang lain, dia sendiri menjadi tidak diakui. Konteks ini menunjukkan bahwa pemberitaan di sini berarti pemberitaan tentang pahala sebagai perangsang bagi pelari-pelari Kristen. Pahala berhubungan dengan Ke-rajaan, penyataan Kerajaan akan menjadi pahala bagi kaum saleh pemenang yang telah memenangkan perlombaan kristiani.

Kata Yunani yang diterjemahkan ”ditolak” juga berarti tidak layak, tidak diperkenan, yaitu tidak layak menerima pahala. Rasul dengan pasti telah diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman dalam Kristus. Tidak hanya demikian, dia juga dipanggil menjadi rasul untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Walaupun demikian, dalam ayat 27 dia berjaga-jaga dan berlari menempuh jalurnya (Kis. 20:24), menaklukkan tubuhnya untuk melayani tujuan kudusnya, supaya dia tidak menjadi orang yang tidak diperkenan, ditolak pada takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:10) dan tidak layak menerima pahala dari Kerajaan yang akan datang.

Penghakiman yang akan berlangsung pada takhta pengadilan Kristus akan menentukan apakah kita diakui oleh Tuhan atau tidak diakui, apakah kita akan dikenali oleh Tuhan atau ditolak oleh-Nya. Dalam Matius 7:22 Tuhan Yesus berkata bahwa pada hari itu banyak orang akan memberi tahu Tuhan bahwa mereka bernubuat demi nama-Nya, mengusir setan demi nama-Nya, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Nya. Namun, Tuhan akan berkata bahwa Dia tidak pernah mengenal mereka (ayat 23). Ini berarti Dia tidak mengakui apa yang telah mereka lakukan. Kehidupan kristiani mereka bukanlah perkenan atau sukacita bagi Dia. Sebaliknya, pekerjaan mereka dilakukan menurut kehendak dan pilihan mereka sendiri. Karena itu, Tuhan tidak mengakui mereka, malah menolak mereka berkaitan dengan upah dalam Kerajaan yang akan datang. Paulus takut kalau-kalau setelah memberitakan Injil mengenai upah kepada orang lain, dia sendiri tidak diakui oleh Tuhan.

Satu Korintus 9 menunjukkan kesetiaan Paulus. Dalam rohnya dia benar-benar setia kepada perintah dan amanat Tuhan. Tuhan telah menyuruhnya berlari dalam gelanggang pertandingan, dan dia berjerih lelah menjalaninya. Kita juga perlu berlari dalam gelanggang pertandingan Kristen sedemikian rupa sehingga kita tidak ditolak, tidak didiskualifikasi, dari kenikmatan dalam Kerajaan yang akan datang sebagai upah.

Kebenaran tentang upah ini telah diabaikan oleh mayoritas orang Kristen hari ini. Beberapa orang bahkan menuduh kita bidah karena mengajarkan hal tersebut. Saudara Watchman Nee dan yang lainnya sebelum dia juga berbicara tentang upah yang diberikan kepada kaum beriman pemenang. Dalam Perjanjian Baru kita diberi tahu dengan pasti bahwa Allah telah menyediakan bukan hanya keselamatan bagi kita, tetapi juga upah bagi orang-orang yang setia. Dalam 3:14 Paulus berkata, ”Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.” Upah di sini berbeda dengan keselamatan. Dalam ayat berikutnya Paulus menjelaskan, ”Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian; ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Ini menunjukkan dengan jelas bahwa menerima upah berbeda dengan diselamatkan. Kita mungkin menderita kerugian dan tidak menerima upah, tetapi kita tidak mungkin kehilangan keselamatan kita.

Api dalam 3:15 mengacu pada beberapa jenis penderitaan atau hukuman. Namun, ini jelas bukan purgatori bidah yang diajarkan oleh aliran tertentu. Prinsip dari pengajaran itu adalah mencampurkan kebenaran dengan kesalahan atau bidah. Karena itu, doktrin-doktrin itu sering mencampurkan kebenaran dengan bidah. Tuhan mewahyukan hal ini dalam Matius 13 ketika dia berbicara tentang perempuan yang menambahkan ragi ke dalam adonan. Kita mutlak tidak mengajarkan doktrin tentang purgatori. Kita hanya mengajarkan apa yang dikatakan dalam Alkitab. Alkitab memberi tahu kita bahwa jika kita setia, kita akan menerima upah sebagai tambahan dari keselamatan kita. Jika kita tidak setia, kita akan kehilangan upah dan menderita hukuman, tetapi kita tidak akan kehilangan keselamatan kita, karena keselamatan bersifat kekal dan ditetapkan sekali untuk selamanya.

Dalam 1Korintus 9 Paulus waspada, khawatir kalaukalau setelah dia memberitakan kepada orang lain, ia sendiri ditolak. Paulus pasti setia. Dalam ayat-ayat ini kita melihat seorang saudara yang benar-benar setia kepada amanat yang Tuhan berikan dan setia berlari dalam gelanggang pertandingan orang-orang Kristen.

?