MENANGGULANGI MAKAN MAKANAN YANG DIPERSEMBAHKAN KEPADA BERHALA (1)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 8:1-13
Kita telah melihat bahwa 6:12-20 dapat dianggap sebagai pendahuluan dari penanggulangan Paulus terhadap kehidupan pernikahan dan penanggulangannya terhadap makan persembahan berhala. Hal menikah dan makan ditetapkan oleh Allah. Karena itu, mengenai hal menikah dan makan kita mempunyai kebebasan. Namun, kita harus menggunakan hal-hal ini menurut cara Allah dan bagi tujuan Allah, bukan untuk nafsu kita. Selain itu, hal menikah dan makan berhubungan dengan tubuh jasmani kita. Paulus mengatakan dalam 6:13 bahwa tubuh adalah untuk Tuhan; dalam 6:15 bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus; dan dalam 6:19 bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus.
Sebagai manusia, kita adalah satuan lengkap yang tersusun dari roh, jiwa, dan tubuh. Agar tubuh kita menjadi bait Roh Kudus, seluruh diri kita roh, jiwa, dan tubuh harus terlibat. Karena kita adalah satuan yang lengkap, tidak satu pun bagian diri kita yang dapat dipisahkan dari bagian lainnya. Di satu pihak, tubuh kita adalah anggota Kristus dan bait Roh Kudus. Di pihak lain, roh kita juga terlibat. Karena alasan ini, di bagian di mana Paulus menekankan bahwa tubuh adalah anggota Kristus dan bait Roh Kudus, ia memberi tahu kita bahwa kita menjadi satu roh dengan Tuhan (6:17).
Dalam pasal 7 Paulus sampai pada perkara pernikahan. Kehidupan pernikahan pasti melibatkan seluruh diri kita. Berdasarkan apa yang dikatakan Paulus dalam pasal ini, kita perlu menjadi orang-orang yang untuk Tuhan, bersatu dengan-Nya, patuh kepada-Nya, berserah kepada-Nya, dan puas dalam diri-Nya atas lingkungan kita. Kita perlu menerima lingkungan kita sebagai pengaturan Tuhan dan bersama-Nya dalam segala macam situasi. Ini menuntut kita melatih roh kita untuk melaksanakan menjadi satu roh dengan Tuhan. Ini juga menempuh kehidupan di mana tubuh kita adalah anggota Kristus dan bait Roh Kudus. Jika kita menjamah kedalaman pasal 7, kita akan melihat bahwa jawaban atas pertanyaan mengenai pernikahan disimpulkan dalam gambaran seseorang yang bersatu dengan Tuhan dan yang hidup sedemikian rupa sehingga seluruh dirinya adalah tempat kediaman Tuhan. Karena tubuhnya adalah anggota Kristus dan bait Roh Kudus, ia tidak akan menggunakannya untuk tujuan lain selain yang ditetapkan Allah. Kemudian, ia akan patuh kepada Tuhan dan kepada pimpinan-Nya, selalu tinggal dalam keadaan yang diatur oleh Tuhan tanpa memprakarsai perubahan apa pun. Maka ia adalah orang yang bersatu dengan Tuhan untuk tujuan-Nya.
Dalam pasal 8 Paulus menanggulangi perkara makan kita, perkara yang lebih riil daripada perkara kehidupan pernikahan. Kita dapat hidup tanpa menikah, tetapi tidak dapat hidup tanpa makan. Makan adalah kebutuhan yang mutlak. Allah menciptakan kita sedemikian rupa sehingga kita harus makan agar dapat tetap hidup. Inilah pengaturan Allah.
Saat kita membaca dari pasal 1 sampai pasal 8, kita menemukan bahwa penanggulangan Paulus makin lama makin riil. Makan yang disebutkan dalam pasal 8 lebih riil daripada filsafat dalam pasal 1. Filsafat mencakup konsepsi yang abstrak, sedangkan makan sangat konkret dan riil.
Kita telah melihat bahwa dalam empat pasal pertama dari 1 Korintus sejumlah hal-hal rohani disingkapkan. Prinsipnya sama dengan menanggulangi makan persembahan berhala. Tiga pasal dipenuhi dengan hal ini. Dalam pasal-pasal ini ada sejumlah butir rohani yang penting.
Dalam pasal 8 Paulus berbicara mengenai makan yang tidak seharusnya, ditunjukkan dalam ayat 1-3 bahwa makan yang semacam itu bukan menurut kasih yang membangun. Ayat 4-7 menunjukkan bahwa berhala tidak terhitung apa-apa, dan ayat 8 mengatakan bahwa makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Akhirnya, dalam ayat 9-13, Paulus berbicara mengenai menyandung saudara-saudara yang lemah.
I. MAKAN YANG TIDAK SEHARUSNYA
A. Bukan Menurut Kasih yang Membangun
Dalam 8:1 Paulus berkata, ”Tentang daging yang dipersembahkan kepada berhala, kita tahu: ’kita semua mempunyai pengetahuan.’ Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.” Dalam pasal ini ada dua kata Yunani yang diterjemahkan tahu atau pengetahuan. Pertama adalah oida (ayat 1, 4), mengacu kepada, kesadaran subyektif yang di dalam, pengetahuan intuitif, seperti yang digunakan dalam Yohanes 8:55 (yang kedua); 1Korintus 12:2; 2Timotius 1:12; 3:14-15. Yang berikutnya adalah ginosko (ayat 2-3) mengacu kepada pengetahuan obyektif yang di luar. Kata pengetahuan dalam ayat 1 dan dalam ayat 7 dan 10 adalah bentuk kata benda dari ginosko, mengacu kepada pengetahuan obyektif yang di luar, yang umum dan biasa untuk semua orang.
Pengetahuan obyektif yang di luar yang membuat orang menjadi sombong berasal dari pohon pengetahuan baik dan jahat, sumber kematian. Kasih rohani (bukan daging), yang dijelaskan dalam pasal 13 adalah ekspresi hayat, bisa membangun, berasal dari pohon hayat, sumber hayat. Inilah kasih Allah (1 Yoh. 4:16) yang diinfuskan ke dalam kita oleh iman yang telah membawa kita ke dalam kesatuan yang organik dengan Allah. Dengan kasih ini kita mengasihi Allah (1Kor. 8:3) dan saudara-saudara (1Yoh. 4:21), dan menurut kasih ini kita seharusnya hidup (Rm. 14:15). Demikian tingkah laku kita akan membangun orang lain (1Kor. 10:23). Istilah ”membangun” dalam ayat ini bukan hanya mengacu kepada pembinaan kaum beriman perorangan, tetapi juga pembangunan Tubuh Kristus yang korporat (14:4-5, 12; Ef. 4:16). Kitab ini menekankan pembangunan (3:9-10, 12; 10:23).
Kita telah menunjukkan bahwa pengetahuan yang membuat orang menjadi sombong dan kasih yang membangun berkaitan dengan kedua pohon yang ada di Taman Eden. Pengetahuan di sini mengacu kepada pohon pengetahuan, dan kasih mengacu kepada pohon hayat. Ketika Paulus menulis surat ini, ia mungkin mempunyai pemahaman sedemikian terhadap kedua pohon itu. Kemudian, dalam kitab ini kedua pohon itu diilustrasikan, walaupun kedua pohon itu tidak disebutkan secara langsung. Sebenarnya 1Korintus membahas pohon hayat yang menyuplaikan hayat dan pohon pengetahuan yang membunuh. Jadi, dalam kitab ini ada dua jalur, jalur hayat dan jalur pengetahuan. Pengetahuan membuat orang sombong dan bahkan membunuh, tetapi kasih menyuplaikan hayat dan membangun orang lain dengan hayat. Hayat adalah untuk pembangunan, dan pembangunan dirampungkan melalui hayat.
Ayat 2-3 mengatakan, ”Jika ada orang yang menyangka bahwa ia mempunyai suatu ’pengetahuan’, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” Dalam ayat-ayat ini kata Yunani untuk pengetahuan adalah ginosko. Kasih yang dibicarakan dalam ayat 3 adalah kasih yang tertinggi dan teragung. Walaupun ini menuntut penggunaan seluruh diri seseorang (Mrk. 12:30), tetapi kasih ini rohani, tidak bersifat daging.
Dalam ayat 3 Paulus seolah-olah memberi tahu orang-orang Korintus bahwa mereka tidak perlu pengetahuan yang begitu banyak; sebaliknya, mereka perlu mengasihi Allah. Mengasihi Allah adalah dasar dari kehidupan orang Kristen. Jika kita tidak mempunyai kasih yang demikian, kita tidak mempunyai tumpuan, dasar kehidupan orang Kristen. Berkaitan dengan kehidupan orang Kristen, pengetahuan seperti kabut; dapat hilang dengan cepat. Namun, mengasihi Allah, padat dan kuat. Karena itu, kasih adalah dasar kehidupan orang Kristen.
Dalam ayat 3 Paulus mengatakan bahwa jika kita mengasihi Allah, kita dikenal oleh Allah. Kita lebih perlu dikenal oleh Allah daripada mengenal Allah. Ungkapan ”dikenal oleh Allah” sangat bermakna. Dikenal oleh Allah berarti dipunyai dan dimiliki oleh Allah. Orang yang dikenal oleh Allah menjadi milik, sukacita, hiburan, dan kesenang-an Allah. Pengetahuan kita tidak menyenangkan Allah. Tetapi jika kita mengasihi Allah, kita akan membuat-Nya bahagia. Ia akan mengenal kita, menikmati kita, dan bahagia bersama kita. Ia bahkan akan menemukan hiburan-Nya di dalam kita. Semua ini terkandung dalam perkataan ”dikenal oleh Allah”.
Dalam ayat 3 Paulus seolah-olah memberi tahu orang-orang Korintus, ”Kalian orang beriman di Korintus perlu menyadari bahwa Allah tidak mengenal kalian, Ia tidak berkenan kepada kalian. Mengatakan bahwa Allah tidak mengenal kalian berarti Ia tidak menyetujui cara kalian.” Berdasarkan Matius 7:22, banyak orang akan berkata kepada Tuhan Yesus pada saat kedatangan-Nya kembali, ”Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Tuhan akan menjawab, ”Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (ayat 23). Bagaimana bisa Tuhan yang mahakuasa dan mahaada mengatakan bahwa Ia tidak mengenal seseorang, sedangkan Ia mengetahui segala hal tentang diri kita? Alasan Tuhan dapat berkata demikian adalah pernyataan, ”Aku tidak pernah mengenal kamu” dalam Matius 7:23 berarti, ”Aku tidak pernah menyetujui apa yang kalian lakukan. Aku tidak pernah bersukacita karena kalian, atau menganggap kalian sebagai sukacita dan mustika-Ku.” Dikenal oleh Allah berarti Ia menyetujui kita, menikmati kita, dan memiliki kita sebagai mustika.
B. Berhala Tidak Terhitung Apa-apa
Dalam ayat 4 Paulus melanjutkan berkata, ”Tentang hal makan daging yang dipersembahkan kepada berhala, kita tahu: ’Tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain selain Allah yang esa.’” Kata Yunani untuk tahu di sini adalah oida. Untuk menyadari bahwa berhala itu tidak terhitung apa-apa dan bahwa tidak ada Allah lain selain Allah yang esa, kita perlu memiliki kesadaran subyektif yang di dalam. Kesadaran ini berasal dari roh kita dan melalui pikiran kita. Kesadaran ini jauh lebih dalam daripada pengetahuan obyektif yang di luar, yang hanya ada di dalam pikiran kita.
Dalam ayat 5-6 Paulus melanjutkan, ”Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ’ilah’, baik di surga, maupun di bumi dan memang benar ada banyak ‘ilah’ dan banyak ’tuhan’ yang demikian namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari Dia berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup.” Dalam ayat 6 perkataan ”bagi kita” mengacu kepada kaum beriman dalam Kristus, orang-orang Kristen. Satu Allah dalam ayat 6 berlawanan dengan banyak ilah dalam ayat 5. Allah kita adalah satu. Dalam ayat ini Bapa adalah salah satu sebutan bagi Allah kita, yang adalah sumber segala sesuatu. Sebutan ini membuat Allah kita sama sekali berbeda dengan banyak allah palsu. Di sini Bapa tidak mengacu kepada Allah sebagai Bapa dari orang-orang yang dilahirkan kembali, tetapi kepada Allah sebagai sumber segala sesuatu. Ini dibuktikan oleh perkataan ”yang dari Dia berasal segala sesuatu.” Segala sesuatu berasal dari Allah sebagai sumber. Karena itu, Allah disebut Bapa. Tidak hanya Ia adalah Bapa kita dalam kelahiran kembali, Ia juga adalah Bapa segala benda-benda ciptaan, karena segala sesuatu berasal dari-Nya.
Segala sesuatu tidak hanya berasal dari Bapa, tetapi juga ”untuk Dia kita hidup.” Di antara semua ciptaan Allah, hanya kita, kaum beriman yang hidup untuk-Nya. Ini berarti walaupun semua berasal dari Allah, hanya kita yang akan kembali kepada-Nya untuk hidup bagi-Nya. Hidup bagi Allah menunjukkan bersatu dengan-Nya. Kata depan ”dari” menunjukkan sumber, tetapi kata depan ”untuk” menunjukkan keesaan. Sebagai orang Kristen, kita adalah dari Allah dan untuk Dia.
Dalam ayat 6 Paulus juga mengatakan bahwa bagi kita ada ”satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui Dia segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Satu Tuhan di sini berlawanan dengan banyak tuhan dalam ayat 5. Tuhan kita juga hanya satu. Yesus Kristus adalah gelar ilahi dan insani dari Tuhan kita yang membedakan Dia dari banyak ilah. Allah kita, Bapa, adalah sumber satu-satunya dari segala sesuatu; Tuhan kita, Yesus Kristus, adalah satu-satunya sarana unik yang melalui-Nya segala sesuatu menjadi ada. Yesus Kristus bukanlah sumber; Ia adalah sarana. Karena alasan ini Paulus menggunakan kata depan ”melalui” dan mengatakan ”melalui Dia segala sesuatu telah dijadikan.” Menurut Yohanes 1:3, segala sesuatu ada melalui Dia. Jadi, Tuhan sebenarnya bukan Pencipta; Ia adalah sarana yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan.
Sangatlah berarti bahwa mengenai Bapa, Paulus menggunakan kata depan ”dari” dan ”untuk”, tetapi mengenai Tuhan ia dua kali menggunakan kata depan ”melalui”. Bapa adalah sumber, dan kita berasal dari Dia dan untuk Dia. Segala sesuatu berasal dari sumber, Bapa, dan melalui sarana, Tuhan. Kemudian melalui kelahiran kembali, kita kembali kepada Bapa dan untuk Dia. Di satu pihak, segala sesuatu berasal dari Bapa dan melalui Tuhan; di pihak lain, kita, orang-orang yang dilahirkan kembali, akan kembali kepada Bapa melalui Tuhan. Seperti yang Tuhan katakan dalam Yohanes 14:6, Ia adalah jalan, dan tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa kecuali melalui Dia. Untuk sumber ada kebutuhan kata depan ”dari” dan ”untuk”. Jadi, Paulus mengatakan bahwa kita berasal dari Dia dan untuk Dia. Tetapi mengenai Tuhan, segala sesuatu melalui Dia dalam ciptaan, dan kita melalui Dia kembali untuk Bapa. Karena itu, segala sesuatu berasal dari Bapa dan melalui Tuhan, tetapi kita juga untuk Bapa melalui Tuhan. Kita ada melalui Tuhan, dan kita kembali kepada Bapa juga melalui Tuhan. Inilah sebabnya mengenai Bapa Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari Dia dan bahwa kita untuk Dia, tetapi mengenai Tuhan ia mengatakan bahwa segala sesuatu melalui Dia dan bahwa kita, dalam hal kembali kepada Bapa sebagai sumber, melalui Dia.
Dalam ayat 7 Paulus melanjutkan berkata, ”Tetapi tidak semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging yang dipersembahkan kepada berhala. Oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya.” Hati nurani yang lemah disebabkan kurangnya pengetahuan yang tepat dan memadai. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan kita erat hubungannya dengan hati nurani kita. Bekas penyembah-penyembah berhala yang sekarang adalah kaum beriman dalam Kristus, terbiasa dengan berhala-berhala sampai sekarang, kurang pengetahuan bahwa berhala itu tidak terhitung apa-apa (ayat 4). Karena itu, hati nurani mereka lemah terhadap masalah-masalah berhala. Ketika hati nurani yang lemah menjamah suatu masalah yang kurang diketahui olehnya, ia segera ternoda olehnya.
C. Makanan Tidak Membawa Kita
Lebih Dekat kepada Allah
Ayat 8 mengatakan, ”Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.” Orang-orang yang makan persembahan berhala tanpa mempunyai pengetahuan yang tepat, bisa menodai hati nurani mereka. Setelah menjelaskan hal ini, Paulus melanjutkan berkata bahwa makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Sekali lagi Paulus menyingkapkan rohnya. Jauh di dalam rohnya Paulus menyadari bahwa hal-hal yang kita lakukan harus membawa kita lebih dekat kepada Allah. Apa saja yang tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah tidak diperlukan. Ya, kita mungkin bebas melakukan hal-hal tertentu, tetapi hal-hal itu tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Di sini ma-salahnya bukan perkara benar atau salah, tetapi apakah hal tertentu membawa kita kepada Allah atau tidak. Sebagai contoh, mungkin tidaklah salah bagi seorang saudara untuk memanjangkan rambutnya. Tetapi menurut prinsip dalam ayat 8, rambut panjang tidak membawanya lebih dekat kepada Allah. Mengenai model rambut, kita tidak mempunyai peraturan apa-apa. Tetapi kita semua harus menata rambut kita dalam gaya yang membawa kita lebih dekat kepada Allah. Pikiran Paulus di sini adalah makan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita mungkin mempunyai kebebasan untuk makan persembahan berhala, karena mengetahui bahwa berhala tidak terhitung apa-apa. Namun, makan ini tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita harus belajar untuk berbuat apa yang membawa kita lebih dekat kepada Allah. Menurut Paulus, ”Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.” Kalaupun demikian, buat apa kita makan persembahan berhala?
D. Menyandung Saudara-saudara yang Lemah
Dalam ayat 9-13 Paulus berbicara mengenai menyandung saudara-saudara yang lemah. Dalam ayat 9 ia berkata, ”Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.” Mereka yang lemah adalah mereka yang hati nuraninya lemah karena kurangnya pengetahuan. Dalam ayat 10 Paulus melanjutkan, ”Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai ’pengetahuan’, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu terdorong untuk makan daging yang dipersembahkan kepada berhala?” Kata ”terdorong” secara harfiah berarti dibangunkan. Hati nurani kaum beriman yang lemah akan dibangunkan sehingga berani melakukan apa yang tadinya tidak berani dilakukan. Ini adalah pembangunan yang tiba-tiba, tanpa dasar yang logis dan kukuh, karenanya adalah pembangunan yang tidak wajar, yang sebenarnya malah merusak. Walaupun hati nurani kaum beriman yang lemah dikuatkan untuk makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala, namun perbuatan itu akhirnya malah merusak mereka, karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menunjang hati nurani mereka yang dikuatkan tetapi masih lemah.
Ayat 11 mengatakan, ”Dengan demikian, orang yang lemah, yaitu saudara seimanmu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena ’pengetahuan’mu.” Perkataan ”menjadi binasa” bukan mengacu kepada kebinasaan kekal, tetapi kebinasaan di dalam hidup kristianinya. Orang beriman yang lemah dihancurkan oleh kecerobohan orang yang lebih kuat yang memiliki pengetahuan. Seorang saudara yang untuknya Kristus telah mati mungkin binasa dalam kehidupan kristiani karena makan kita yang tidak tepat.
Dalam ayat 12 Paulus menyatakan, ”Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudara seimanmu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakikatnya berdosa terhadap Kristus.” Kata ”melukai” secara harfiah berarti memukul, menghantam sampai luka. Karena Kristus mati untuk saudara-saudara seiman, kita berdosa terhadap Kristus jika kita melukai mereka dan menyandung mereka.
Dalam ayat 13 Paulus menyimpulkan, ”Karena itu, apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudara seimanku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudara seimanku.” Kata ”menjadi batu sandungan” dalam bahasa Yunani adalah skandalizo, berarti menjerat, memerangkap. Karena itu, menjadi batu sandungan bagi saudara seiman adalah menjeratnya, memerangkap dalam jalannya. Agar tidak menjadi batu sandungan bagi saudara seiman, Paulus mengatakan bahwa ia ”tidak akan mau makan daging lagi.” Kata daging mengacu kepada daging binatang, mengacu kepada daging yang dipersembahkan kepada berhala. Daging lebih menggoda daripada makanan lainnya, karena itu rasul menyinggungnya secara khusus.
Sangatlah penting menjamah roh Paulus seperti yang disingkapkan dalam pasal ini. Di sini beban dalam roh Paulus mutlak untuk Kristus dan Tubuh-Nya. Karena Paulus adalah untuk Kristus dan seluruh anggota Tubuh, maka ketika ia memberi perintah mengenai makan persembahan berhala, ia tidak mengatakan apakah praktek ini benar atau salah, baik atau buruk. Paulus mempunyai pandangan yang sama sekali berbeda atas situasi. Pandangannya terfokus pada Kristus dan Tubuh. Mengenai perkara makan persembahan berhala, Paulus mempertimbangkan bagaimana perkara ini akan mempengaruhi anggota-anggota Kristus, apakah perkara itu membangun mereka atau menyandung mereka. Melalui ini kita melihat bahwa hati dan roh Paulus memperhatikan Kristus dan anggota-anggota-Nya. Ia tidak peduli tentang berhala atau persembahan berhala. Ia benar-benar menyadari bahwa berhala tidak terhitung apa-apa dan persembahan berhala juga tidak terhitung apa-apa. Walaupun demikian, cara Paulus menangani perkara makan persembahan berhala menunjukkan bahwa pandangannya terhadap perkara ini berhubungan dengan Kristus dan Tubuh. Ia ingin orang-orang kudus menyadari bahwa mereka harus memperhatikan apakah makanan mereka menyandung anggota-anggota Kristus atau membangun mereka. Paulus menginginkan mereka menghormati Kristus dan anggota-anggota Kristus. Karena itu, Paulus menjawab pertanyaan-pertanyaan dan memberi ajaran-ajaran dari sudut pandang Kristus dan Tubuh.
Kita semua perlu belajar dari Paulus untuk menyertakan Kristus dan Tubuh ketika kita mempertimbangkan berbagai hal. Namun, kita sering berbicara kepada orang lain mengenai sesuatu tanpa menyertakan Kristus dan Tubuh. Sebaliknya, kita berfokus pada keuntungan, faedah, atau kerugian kita sendiri. Jika pandangan kita seperti itu, kita sangat jauh dari visi sentral ekonomi Allah. Dalam pasal 8 kita melihat sekali lagi bahwa Paulus tidak menyimpang dari jalur sentral ekonomi Allah. Bahkan dalam memberi instruksi-instruksi mengenai makan persembahan berhala, ia berusaha keras membawa kaum beriman kembali kepada jalur sentral, yaitu, kembali kepada Kristus dan Tubuh.