← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 22/25

MENANGGULANGI KEHIDUPAN PERNIKAHAN (3)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 7:6, 10, 12, 29, 35, 25, 40

Dalam berita-berita sebelumnya kita telah membicarakan prinsip-prinsip dasar dalam pasal 7 mengenai kehidupan pernikahan. Dalam berita ini kita akan memperhatikan perkara yang sangat penting dari pengajaran rasul

II. PENGAJARAN RASUL

A. Dalam Prinsip Inkarnasi

Pengajaran rasul Paulus sama sekali berbeda dengan pengajaran para nabi dalam Perjanjian Lama. Kita tahu bahwa ketika nabi-nabi berbicara bagi Allah pada masa Perjanjian Lama, firman Tuhan datang kepada mereka dan membuat mereka mampu berbicara bagi kepentingan Allah. Sering kali nabi-nabi berkata, ”Demikianlah firman Tuhan.” Banyak orang dari aliran Pentakosta hari ini mengikuti praktek Perjanjian Lama ini. Aliran Katholik membawa orang-orang kembali kepada Perjanjian Lama secara ritual, tetapi aliran Pentakosta membawa kaum beriman kembali kepada Perjanjian Lama dalam hal bernubuat. Kemudian, berdasarkan pengalaman saya, kaum beriman Pentakosta lebih sering menyanyikan bagian-bagian dari Perjanjian Lama daripada bagian-bagian dalam Perjanjian Baru. Secara khusus, mereka menyanyikan ayat-ayat dari Mazmur atau Yesaya. Walaupun mereka adalah kaum beriman Perjanjian Baru, beberapa praktek mereka berdasar pada Perjanjian Lama. Mengatakan, ”Demikianlah firman Tuhan,” dalam cara Perjanjian Lama adalah hal yang dangkal, permukaan. Cara pembicaraan bagi Tuhan dalam Perjanjian Baru sangatlah berbeda.

Perjanjian Baru mempunyai dua ciri yang luar biasa rahasia dan dalam. Perjanjian Baru adalah kitab yang rahasia dan dalam. Sangatlah dangkal untuk bernubuat berdasarkan cara Perjanjian Lama. Tetapi bertutur sabda dalam cara pembangunan gereja sangatlah dalam. Demikian pula, menyanyikan bagian kitab Mazmur atau Yesaya mungkin sangat dangkal, tetapi menyanyikan pasal 3 dari Surat Efesus, terutama ayat-ayat mengenai Kristus berhuni di dalam hati kita, sehingga kita dapat dipenuhi menjadi seluruh kepenuhan Allah, adalah bernyanyi mengenai hal-hal yang dalam, menyeluruh, dan rahasia. Menurut Anda, adakah orang Kristen hari ini yang menyanyikan mengenai hal menjadi satu roh dengan Tuhan, atau mengenai tubuh mereka menjadi anggota Kristus? Seperti yang telah kita lihat, Paulus membicarakan hal-hal demikian dalam 1Korintus 6. Walaupun demikian, bagi banyak orang beriman, perkataan Paulus seperti bahasa asing. Orang-orang beriman ini hidup di atas permukaan; mereka tidak pernah menyentuh kedalaman wahyu ilahi dalam Perjanjian Baru.

Satu Korintus 7 merupakan pasal yang rahasia dan dalam. Dalam pasal ini Paulus tidak pernah mengucapkan perkataan, ”Demikianlah firman Tuhan.” Alasan Paulus tidak menggunakan ungkapan demikian adalah pengajaran para rasul dalam Perjanjian Baru mutlak berdasar pada prinsip inkarnasi. Menurut prinsip ini, Allah berbicara dalam perkataan manusia. Ketika Tuhan Yesus berbicara, sukar dibedakan siapa yang berbicara. Sudah pasti, manusialah yang berbicara. Namun, manusia ini tidak mengatakan, ”Akulah nabi dari Nazaret. Kemarin malam, firman Allah datang kepadaku, dan sekarang aku ingin mengatakan firman ini kepada kalian. Demikianlah firman Tuhan.” Ketika Tuhan Yesus berbicara kepada orang-orang Farisi, tampaknya Ia adalah orang awam dari Nazaret. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ia berbeda, dan orang-orang Farisi menganggap-Nya sebagai orang yang tidak terpelajar. Tetapi Tuhan Yesus adalah Allah yang berinkarnasi. Pada-Nya terdapat realitas inkarnasi. Jadi, sementara Ia berbicara, Allah juga berbicara. Sebenarnya, perkataan-Nya adalah perkataan Allah. Allah berbicara bersama-Nya. Ini berarti di dalam Tuhan Yesus, Allah dan manusia bersama-sama berbicara. Inilah prinsip inkarnasi.

Pada hari Pentakosta, para rasul dan para murid juga mulai berbicara menurut prinsip inkarnasi. Inilah sebabnya tulisan Petrus, Yohanes, dan Paulus yang tercatat dalam Alkitab dapat menjadi firman Allah, bahkan menjadi isi Perjanjian Baru. Walaupun dalam 1Korintus 7 Paulus menulis bahwa hal-hal tertentu yang ia bicarakan bukanlah perkataan Tuhan atau perintah Tuhan, semua yang dibicarakan Paulus dalam pasal ini menjadi bagian wahyu ilahi dalam Perjanjian Baru. Ini karena Paulus adalah orang yang mutlak bersatu dengan Allah. Bahkan ketika ia mengatakan bahwa ia tidak mempunyai perkataan dari Tuhan, Tuhan berbicara dalam perkataannya. Karena Paulus bersatu dengan Tuhan, maka ketika ia berbicara, Tuhan berbicara bersamanya. Jadi, pada diri Paulus dalam 1Korintus 7 kita mempunyai sebuah contoh dari prinsip inkarnasi. Sangatlah penting bahwa kita melihat prinsip ini dan memahaminya.

B. Ada Pengajaran sebagai Kelonggaran, Bukan sebagai Perintah

Dalam 7:6 Paulus mengatakan, ”Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.” Kata perintah di sini menyiratkan bahwa di dalam pengajarannya rasul memiliki kuasa untuk memberi perintah kepada kaum beriman. Namun, apa yang Paulus katakan dalam 7:1-5 disampaikan sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.

C. Dalam Beberapa Hal Paulus Memerintahkan, Sebenarnya Bukan Dia, tetapi Tuhan

Ayat 10 mengatakan, ”Kepada orang-orang yang telah kawin aku tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan, supaya seorang istri jangan bercerai dari suaminya.” Kita telah melihat bahwa prinsip Perjanjian Lama tentang berbicara bagi Tuhan (bernubuat) adalah, ”Demikianlah firman Tuhan” (Yes. 10:24; 50:1; Yer. 2:2; Yeh. 2:4). Tetapi prinsip Perjanjian Baru tentang inkarnasi adalah ”Aku (pembicara) mengatakan.” Orang yang berbicara bersatu dengan Tuhan. Karena itu, Paulus juga berkata, ”Bukan aku, tetapi Tuhan.” Kata Yunani untuk ”perintahkan” dapat diterjemahkan instruksikan atau komandokan.

Perkataan ”Aku tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan,” menunjukkan dua hal: (1) rasul bersatu dengan Tuhan; maka, dia memerintahkan apa yang Tuhan perintahkan; (2) perintahnya adalah perintah Tuhan. Tuhan telah berfirman dalam Matius 5:31-32 dan 19:3-9 tentang apa yang diperintahkan rasul di sini. Perceraian sama sekali tidak diizinkan oleh Tuhan.

Prinsip dalam 7:10 sama dengan dalam Galatia 2:20, di mana Paulus mengatakan, ”Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Dalam kedua ayat itu kita melihat prinsip inkarnasi; dua orang hidup seperti satu orang. Dalam 7:10 kita melihat dua orang, Tuhan dan Paulus, berbicara seperti satu orang. Inilah sebabnya Paulus mengatakan, ”Aku tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan.” Mengapa Paulus tidak mengatakan dalam ayat ini, ”Kepada orang-orang yang telah menikah, Tuhan perintahkan”? Mengapa ia mengatakan bahwa ia memerintahkan; sebenarnya bukan dia, tetapi Tuhan? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini adalah Paulus menyadari bahwa ia bersatu dengan Tuhan dan apa yang ia bicarakan adalah perkataan Tuhan. Bahkan ketika ia tidak menyatakan mempunyai perkataan dari Tuhan, karena ia bersatu dengan Tuhan, apa pun yang ia katakan adalah perkataan Tuhan.

D. Dalam Beberapa Hal Menyatakan dengan Jelas bahwa Ia yang Mengatakan, Bukan Tuhan

Dalam beberapa hal Paulus menyatakan dengan jelas bahwa dialah yang mengatakan, bukan Tuhan. Sebagai contoh, dalam ayat 12 ia berkata, ”Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: Kalau ada seorang saudara seiman beristrikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.” Perkataan ini juga berdasarkan prinsip inkarnasi dalam Perjanjian Baru. Walaupun selanjutnya ia berkata, ”Aku, bukan Tuhan,” tetapi apa yang dikatakannya dalam ayat berikutnya merupakan bagian dari wahyu ilahi Perjanjian Baru. Ini adalah pendapatnya di dalam Tuhan, bukan perintah Tuhan, tetapi tetap menyatakan pikiran Tuhan.

Dapatkan Anda merasakan roh Paulus dalam ayat-ayat ini? Di sini Paulus seolah-olah mengatakan, ”Meskipun aku menyadari bahwa ini adalah perkataanku, bukan perkataan Tuhan, aku tetap percaya bahwa ini menyenangkan Tuhan. Tuhan disenangkan dengan memelihara kedamaian. Meskipun Tuhan tidak mengatakan perkataan demikian, aku mempunyai jaminan bahwa hal ini menyenangkan-Nya. Karena itu, aku mengatakan bahwa seorang saudara tidak boleh meninggalkan istri yang tidak beriman jika si istri mau hidup bersama dia. Begitu juga, seorang saudari tidak boleh meninggalkan suami yang tidak beriman jika si suami mau hidup bersama dia. Namun, jika suami yang tidak beriman ingin meninggalkan saudari itu, atau jika istri yang tidak beriman ingin meninggalkan saudara itu, baik saudari atau saudara itu jangan melawan. Sebaliknya, ia harus membiarkan pihak lain itu pergi, karena Allah telah memanggil kita dalam damai. Akulah yang mengatakan ini, bukan Tuhan. Tetapi aku percaya bahwa perkataan demikian menyenangkan Tuhan.”

Di sini kita melihat seorang yang bersatu dengan Tuhan. Karena ia bersatu dengan Tuhan, ia mengetahui hati, pikiran, dan kesenangan Tuhan. Karena alasan ini, ia mempunyai keberanian untuk mengutarakan sesuatu yang tidak Tuhan katakan.

Dalam ayat 29 dan 35 Paulus juga menyatakan dengan jelas bahwa dialah yang berbicara, bukan Tuhan. Dalam ayat 29 ia berkata, ”Saudara-saudara, inilah yang ku maksudkan, yaitu: Waktunya telah singkat! Karena itu, dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri.” Dalam ayat 35 Paulus menulis, ”Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu, sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang patut, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.” Dalam kedua ayat ini, jelaslah bahwa Paulus yang berbicara. Sekalipun demikian, Tuhan berbicara dalam perkataan Paulus.

E. Mengenai Hal-hal Tertentu, Dia Tidak

Memiliki Perintah Tuhan, tetapi Dia

Memberikan Pendapatnya

Ayat 25 mengatakan, ”Sekarang tentang orang-orang yang belum kawin. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah.” Seorang istri tidak boleh meninggalkan suaminya, rasul berkata bahwa ini adalah perintah Tuhan (ayat 10). Mengenai orang-orang yang belum menikah, rasul berkata bahwa dia tidak mendapat perintah dari Tuhan, tetapi dia memberikan pendapatnya dalam ayat-ayat berikutnya. Dia berani melakukan ini karena dia telah diberi rahmat oleh Tuhan untuk setia dalam kepentingan Tuhan, dan secara riil bersatu dengan Tuhan. Pendapatnya menyatakan keinginan Tuhan. Ini sekali lagi didasarkan pada prinsip inkarnasi dalam Perjanjian Baru.

Beberapa pembaca 1Korintus mungkin mengira bahwa Paulus terlalu keras dalam memberi pendapatnya ketika ia tidak mempunyai perintah dari Tuhan. Siapakah dari kita yang berani mengatakan bahwa kita tidak mempunyai perintah dari Tuhan mengenai hal tertentu, tetapi memberi pendapat kita? Tetapi inilah yang Paulus katakan dalam ayat 25. Di sini kita melihat kerohanian tertinggi, kerohanian seseorang yang bersatu dengan Tuhan sehingga bahkan pendapatnya sendiri mengekspresikan pikiran Tuhan. Paulus mutlak bersatu dengan Tuhan dan dijenuhi seluruhnya dengan Dia. Karena seluruh dirinya diresapi dengan Tuhan, bahkan pendapatnya pun mengekspresikan pikiran Tuhan. Karena alasan ini, kita mengatakan bahwa ayat 25 mengekspresikan kerohanian tertinggi.

Dalam ayat 26 Paulus memberikan pendapatnya: ”Aku berpendapat bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, baiklah bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.” Kita telah menunjukkan bahwa kata bahasa Yunani untuk ”sekarang” juga dapat berarti suatu perkara pada masa kini, menyingkapkan dan memperkenalkan sesuatu yang akan datang. ”Waktu darurat sekarang” mengacu kepada keperluan-keperluan hidup zaman ini, yang mendesak dan menekan manusia dan menjadi kesulitan dan penderitaan manusia. Paulus menyadari bahwa zaman sekarang adalah zaman yang menekan, waktu yang penuh dengan keperluan. Orang-orang yang menikah dan mempunyai anak ditekan oleh keperluan hidup lebih berat daripada mereka yang tidak menikah. Memang, ada banyak berkat dalam kehidupan pernikahan. Tetapi jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa dalam kehidupan pernikahan, kita berulang-ulang ditekan. Orang-orang yang mempunyai anak dan cucu dapat bersaksi atas hal ini. Di satu pihak, anak-anak kita membuat kita bahagia; di pihak lain, mereka membuat kita menderita.

Mengingat waktu darurat sekarang, Paulus berpikir adalah baik bagi orang lain untuk tetap dalam keadaannya. Ia menyadari bahwa jika seorang saudara atau saudari tetap tidak menikah, saudara atau saudari itu akan diringankan dari tekanan akibat kebutuhan zaman ini.

F. Bahkan atas Beberapa Pengajaran yang

Sesuai dengan Pendapatnya, Ia Berpendapat bahwa Ia Juga Mempunyai Roh Allah

Dalam ayat 40 Paulus mengatakan, ”Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah.” Dalam ayat 10 rasul mengatakan, ”Aku tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan.” Dalam ayat 12 ia mengatakan, ”Aku, bukan Tuhan, katakan.” Dalam ayat 25 ia mengatakan, ”Aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku.” Di sini ia mengatakan, ”Aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah.” Semua perkataan ini menunjukkan prinsip inkarnasi dalam Perjanjian Baru (yaitu Allah dan manusia, manusia dan Allah, menjadi satu). Ini mutlak berbeda dengan prinsip bernubuat (yaitu manusia berbicara bagi Allah) dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, perkataan Tuhan datang ke atas seorang nabi (Yer. 1:2; Yeh. 1:3), nabi hanyalah jurubicara Allah. Tetapi dalam Perjanjian Baru, Tuhan menjadi satu dengan para rasul-Nya, mereka menjadi satu dengan-Nya, demikianlah keduanya berbicara bersama-sama. Perkataan-Nya menjadi perkataan mereka, dan apa saja yang mereka katakan menjadilah perkataan-Nya. Karena itu, perintah rasul adalah perintah Tuhan (ayat 10). Meskipun apa yang dia katakan tidak dikatakan oleh Tuhan, tetapi tetap menjadi bagian dari wahyu ilahi Perjanjian Baru (ayat 12). Dia bersatu dengan Tuhan sedemikian rupa sehingga ketika dia memberikan pendapatnya sendiri, bukan perintah dari Tuhan (ayat 25), dia berpikir bahwa dia juga mempunyai Roh Allah. Dia tidak mengaku secara pasti memiliki Roh Allah, tetapi dia berpendapat bahwa dia juga mempunyai Roh Allah. Inilah kerohanian yang tertinggi; ini didasarkan pada prinsip inkarnasi.

Kita perlu melihat prinsip inkarnasi yang diilustrasikan di sini, dan menerima rahmat dan anugerah dari Tuhan untuk berbicara dalam sikap yang murni dan terus terang tanpa kepura-puraan. Agar dapat berbicara demikian kita perlu dijenuhi dengan Roh. Kemudian apa yang kita utarakan atau ekspresikan akan menjadi pikiran kita, pendapat kita, tetapi juga akan menjadi sesuatu dari Tuhan, karena kita bersatu dengan-Nya.

G. Pengajaran Rasul Menjadi Firman Allah dalam Perjanjian Baru

Apa saja yang diajarkan rasul, bagaimanapun caranya, telah menjadi firman Allah dalam Perjanjian Baru. Sekali lagi saya ingin menekankan pentingnya menjamah roh Paulus dalam 1Korintus 7. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kaum beriman Korintus, Paulus menyatakan rohnya. Ini memungkinkan kita untuk merasakan rohnya. Sudah tentu Paulus mutlak bagi Tuhan dan bersatu dengan-Nya. Bahkan dalam menyatakan pendapatnya, ia mempunyai perasaan bahwa ia juga mempunyai Roh Allah. Ini adalah pengajaran Perjanjian Baru, dan jalan yang harus kita ikuti hari ini. Jangan mengikuti jalan aliran kekristenan tertentu yang rendah dengan meniru sikap bernubuat Perjanjian Lama. Sebaliknya, ikutilah jalan Paulus menjamah kedalaman rahasia Perjanjian Baru. Rahasia ini adalah Tuhan dan kita, kita dan Tuhan, telah menjadi satu roh.