← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 21/25

MENANGGULANGI KEHIDUPAN PERNIKAHAN (2)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 7:1-40

Dalam kehidupan pernikahan ada banyak berkat. Akan tetapi, dalam 1Korintus 7 Paulus tidak bermaksud menekankan sisi berkat pernikahan. Sebaliknya, penekanannya terutama pada kesulitan-kesulitan dan berbagai gangguan yang bertalian dengan kehidupan pernikahan. Ia menekankan hal tersebut karena di sini ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Korintus. Seperti yang telah kita tunjukkan, para pemikir dan orang-orang filosofis mempunyai banyak pertanyaan tentang pernikahan. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kaum beriman Korintus itu, Paulus mengajukan sejumlah prinsip dasar mengenai kehidupan pernikahan. Memperhatikan prinsip-prinsip ini akan mendatangkan manfaat bagi kita, karena hal-hal tersebut bisa membantu kita untuk menjawab berbagai pertanyaan kita dan juga membawa kita masuk ke dalam kenikmatan atas berkat dalam kehidupan pernikahan kita.

Dalam berita yang lalu telah kita jelaskan bahwa prinsip-prinsip dasar tersebut meliputi: Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak menikah (ayat 1); mengabdikan diri kita untuk berdoa (ayat 5a); tidak memberi kesempatan kepada Iblis (ayat 5b); karunia yang kita terima dari Allah (ayat 7); tetap tidak menikah (ayat 8, 26-27, 40); lebih baik menikah jika kita tidak dapat menahan hawa nafsu (ayat 9); tetap tinggal dalam pernikahan supaya pihak yang tidak beriman bisa beroleh selamat (ayat 13-14, 16); membiarkan pihak yang tidak beriman meninggalkan, supaya pihak yang beriman bisa hidup dalam damai sejahtera (ayat 15); tinggal tetap dalam keadaan seperti waktu kita dipanggil (ayat 20, 24); memusatkan perhatian pada perkara-perkara Tuhan tanpa mengkhawatirkan yang lain (ayat 32, 34); melayani Tuhan tanpa gangguan (ayat 35); seorang bujangan menikah adalah baik, namun memutuskan tidak menikah berbuat lebih baik (ayat 36-38); setelah kematian suaminya, seorang istri bebas untuk menikah lagi dengan saudara lain di dalam Tuhan (ayat 39).

Sewaktu kita membaca pasal ini dan memperhatikan prinsip-prinsip ini, kita juga perlu menjamah roh penulisnya. Roh Paulus diekspresikan di dalam apa yang ditulisnya. Karena alasan inilah, kita tidak seharusnya hanya akrab dengan prinsip-prinsip ini, melainkan juga menjamah roh rasul. Jika kita tidak mengenal roh penulis dalam pasal ini, maka hal ini menyatakan kita masih belum cukup memberikan perhatian kepada semua prinsip yang ada.

Telah kita ungkapkan bahwa 1Korintus 7 merupakan jawaban yang ditulis oleh Paulus, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kaum beriman filosofis di Korintus. Dalam pasal ini dibahas banyak butir, dan setiap butir merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Korintus. Jadi, banyaknya butir dalam pasal ini menunjukkan bahwa kaum beriman di Korintus pastilah mempunyai banyak pertanyaan mengenai kehidupan pernikahan mereka.

MUTLAK BAGI TUHAN

Tidak ada hal yang lebih mewakili kehidupan manusia daripada kehidupan pernikahan. Di satu aspek, kehidupan manusia tidak lain adalah kehidupan pernikahan. Hal-hal yang ada sangkut-pautnya dengan pekerjaan kita dan hidup sehari-hari kita bertalian dengan kehidupan pernikahan. Karena alasan inilah, kita bisa mengatakan bahwa kehidupan pernikahan mewakili kehidupan manusia.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Korintus berkenaan dengan kehidupan pernikahan, Paulus bersifat sederhana, langsung, terus terang, dan murni. Perkataannya tidak bersifat mendua arti yang menyebabkan orang merasa ragu-ragu, juga tidak politis. Ia menjawab semua pertanyaan menurut pengalaman kekristenannya. Itulah sebabnya dalam ayat 7 ia berkata, ”Meskipun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku.” Dalam ayat 8 ia mengatakan, ”Baiklah mereka tetap dalam keadaan seperti aku.” Hal ini menunjukkan bahwa Paulus menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan pernikahan menurut hakikinya dan kehidupannya. Jadi, jika kita ingin memperoleh pengertian yang lengkap mengenai pasal ini, kita perlu bertanya, untuk apakah Paulus hidup. Paulus adalah seorang yang mutlak. Rohnya mutlak bagi Tuhan dan ekonomi-Nya. Ketika membaca pasal ini, kita menyadari bahwa harapan Paulus ialah agar kaum beriman meneladani dan mengikutinya, yaitu hidup bagi Tuhan. Seolah-olah di sini Paulus berkata, ”Aku mutlak bagi Tuhan, dan aku berharap kalian semua juga demikian. Dalam hal ini aku ingin kalian semua mengikutiku.”

TIDAK MEMPRAKARSAI APA PUN

Paulus tidak saja mutlak bagi Tuhan, tetapi juga mutlak bersatu dengan Allah. Karena bersatu dengan Allah, Paulus menjawab pertanyaan-pertanyaan sedemikian rupa agar orang-orang Korintus mendapat bantuan untuk menjadi satu dengan Allah dalam setiap lingkungan, kondisi, dan situasi. Hal ini kita ketahui dari fakta bahwa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu, Paulus menuruti prinsip ini: sama sekali tidak memprakarsai sesuatu atau mengubah sesuatu. Ia menjelaskan sejelas-jelasnya kepada orang-orang Korintus bahwa mereka tidak seharusnya memprakarsai aksi apa pun atau mengubah status mereka dengan cara apa pun.

Jika kita mengubah status kita atau memprakarsai suatu tindakan, ini menunjukkan bahwa kita tidak bersatu dengan Allah dan kita tidak mau bersatu dengan-Nya. Jika kita mau bersatu dengan Allah dan benar-benar bersatu dengan-Nya, kita tidak akan memprakarsai perubahan apa pun; khususnya perubahan yang berhubungan dengan kehidupan pernikahan. Sebaliknya, kita akan bersikap, ”Jika Allah menghendaki aku menikah, biarlah Dia yang memprakarsainya dan mengerjakannya. Jika Allah tidak menghendaki aku menikah, tentulah Dia akan memberiku karunia yang kubutuhkan untuk tetap tinggal sebagai bujangan.” Karunia ini akan menghasilkan suatu kerelaan, bahkan satu kedambaan untuk tetap tinggal membujang. Akan tetapi, tidak seharusnya orang membuat keputusan seperti ini berdasarkan dirinya sendiri. Seharusnya Allah yang memprakarsai dan yang mengaruniai kita baik keinginan maupun karunia untuk tetap membujang. Paulus tidak menikah. Namun, hal ini ia lakukan bukan atas keputusannya sendiri, melainkan diprakarsai oleh Allah, dan Allah memberi Paulus keinginan dan kemampuan yang dibutuhkannya. Itulah karunia yang diterimanya dari Tuhan. Sekali lagi, apakah kita akan menikah atau tidak, janganlah kita memprakarsai apa pun. Kita harus menyerahkan masalah ini kepada Tuhan.

Dalam 1 Korintus 7 Paulus menjelaskan hal ini kepada orang-orang Korintus, yaitu agar mereka tidak mengubah status mereka atau memprakarsai apa pun. Dalam ayat 12 ia berkata, ”Kalau ada seorang saudara seiman beristrikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.” Dalam ayat 13 Paulus mengatakan hal yang sama kepada seorang istri yang beriman: ”Kalau ada seorang istri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.” Dalam ayat 17 hingga 24 kita nampak bahwa kita harus tinggal dalam status ketika dipanggil. Dalam ayat 17 dengan tegas Paulus menyuruh kita untuk tetap tinggal dalam status pernikahan seperti waktu kita dipanggil: ”Hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah.” Selanjutnya dalam ayat 20 Paulus berkata, ”Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.” Kemudian dalam ayat 24 ia menyimpulkan, ”Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.” Ini menunjukkan bahwa kaum beriman harus bersatu dengan Allah dan memiliki penyertaan Allah dalam segala situasi mereka. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa Paulus mutlak bersatu dengan Allah dan menginginkan kaum beriman Korintus bersatu dengan Allah serta tidak memprakarsai perubahan atau tindakan apa pun.

Akan tetapi, kaum beriman Korintus sangat berbeda dengan Paulus. Mereka bukannya mutlak bersatu dengan Tuhan, malahan menggunakan hikmat dan filsafat mereka. Mereka memfilsafatkan segalanya, termasuk pernikahan. Beberapa orang berpendapat lebih baik tidak menikah, sedangkan yang lain dengan tegas memilih kehidupan pernikahan. Pola berpikir dan berbicara orang-orang Korintus tentang pernikahan menunjukkan bahwa di antara mereka banyak terdapat prakarsa manusia. Karena itu, dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, Paulus dengan tegas menyatakan bahwa dalam masalah pernikahan kita seharusnya tidak memprakarsai apa pun.

Dalam pasal ini kita melihat bahwa roh Paulus mutlak bersatu dengan Allah. Paulus tidak ingin mengubah atau memprakarsai apa pun. Inilah sebabnya ia dapat memberi tahu orang-orang Korintus agar mereka tidak mengubah status dalam pernikahan mereka. Mereka yang sudah menikah ketika dipanggil Allah, haruslah tetap tinggal dalam pernikahan. Prinsip ini juga berlaku terhadap pernikahan dengan orang yang tidak percaya. Kaum beriman yang sudah menikah tidak boleh memprakarsai perubahan apa pun. Sebaliknya seluruh masalahnya haruslah diserahkan kepada Tuhan. Apakah orang yang tidak beriman itu akan tetap tinggal atau pergi, orang yang beriman itu haruslah menerima situasinya sebagai pengaturan Tuhan. Segala sesuatu tergantung pada Tuhan dan situasi, lingkungan, serta kondisi yang diatur oleh-Nya.

Seorang beriman yang mutlak seperti Paulus bisa berkata, ”Aku tidak mempunyai masalah dengan situasi atau lingkungan yang berhubungan dengan kehidupan pernikahanku. Bila pasangan hidupku yang belum beriman itu mau tetap tinggal bersamaku, aku memuji Tuhan. Jika pasanganku itu memilih pergi meninggalkanku, aku pun menyerahkan ini kepada Tuhan. Dalam kasus yang mana pun, tidak ada masalah bagiku, aku tidak akan meronta-ronta atau berusaha melawan Dia. Aku sadar, segala sesuatu tergantung pada Tuhan. Aku tidak ingin memprakarsai apa-apa.” Inilah sikap orang yang mutlak bagi Allah dan bersatu dengan-Nya. Inilah seorang yang tidak memprakarsai atau berusaha mengubah apa-apa.

Paulus juga menerapkan prinsip ini kepada orang yang berstatus budak ketika mereka dipanggil Allah. ”Apakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu” (ayat 21). Perkataan ini menunjukkan bahwa seorang hamba yang telah dipanggil oleh Tuhan seharusnya tidak berusaha mengubah statusnya, tetapi tetap menggunakan statusnya, yaitu bersama-sama dengan Allah tinggal di dalam status ini bagi kemuliaan Allah. Bahkan jika dia dapat dimerdekakan, dia seharusnya tinggal di dalam statusnya sebagai seorang hamba. Janganlah mencoba mengubah apa-apa. Akan tetapi, jikalau Allah membebaskan dia dari kondisi perbudakan, janganlah dia menentang perubahan itu dan menuntut untuk tinggal sebagai seorang hamba. Karena Allah telah mengatur suatu perubahan, dia harus menerimanya. Dalam kasus yang mana pun sikapnya haruslah bersatu dengan Allah.

Penting sekali nampak prinsip bersatu dengan Allah secara mutlak dalam setiap lingkungan, situasi, dan kondisi. Jika kita merenungkan prinsip ini sewaktu kita membaca 1Korintus 7, kita akan nampak bahwa Paulus benar-benar bersatu dengan Tuhan, dalam semua ajaran dan jawabannya dengan spontan dan tanpa sadar ia mengekspresikan roh yang sedemikian mutlak. Karena Paulus memiliki roh yang demikian, maka ia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang Korintus dengan cara yang mutlak dan jelas, dan dengan cara yang sama juga membantu mereka untuk bersatu dengan Allah dalam situasi mereka.

Jawaban-jawaban Paulus sangat berbeda dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh penasihat-penasihat pernikahan. Nasihat yang diberikan oleh penasihat pernikahan menunjukkan bahwa mereka tidak bersandar kepada Allah dan bahkan memberontak melawan Dia. Dalam ajaran, nasihat, dan jawaban mereka, mereka sama sekali terpisah dari Allah. Sebaliknya, Paulus mutlak tunduk kepada Allah, dan bersatu dengan-Nya.

MENERIMA SITUASI LINGKUNGAN KITA

Butir lain yang sangat penting yang diwahyukan dalam pasal ini adalah orang yang mengasihi Tuhan, yang bagi Dia, yang bersatu dengan Dia, seharusnya rela menerima keadaan sekitar yang bagaimanapun atau situasi yang bagaimanapun. Sebagai contoh: jika seorang istri dari seorang saudara belum beriman, dan istri yang belum beriman ini ingin tinggal bersama dia, maka dia harus menerima situasi ini. Tetapi bila istri itu memutuskan untuk meninggalkan dia, maka dia (saudara ini) juga harus menerima keadaan seperti itu.

Penting sekali kita nampak bahwa Allah selalu ada dalam lingkungan kita. Kita boleh mengatakan bahwa sesungguhnya lingkungan kita adalah Allah menghampiri kita secara tersembunyi. Tampaknya kita berada dalam suatu keadaan; sebenarnya keadaan itu adalah Allah datang kepada kita dan Allah beserta kita. Dalam ayat 24 Paulus berkata, ”Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.” Perhatikan perkataan ”di hadapan Allah”. Perkataan ini menunjukkan, jika kita menerima situasi lingkungan kita, kita menerima Allah. Allah ada, baik di dalam maupun di balik lingkungan kita.

Sekali lagi kita nampak bahwa Paulus mempunyai roh yang unggul, roh yang patuh, lega, dan puas dikenyangkan. Paulus tidak mempunyai keluhan sedikit pun. Di dalam rohnya ia sangat patuh dan puas dengan situasinya. Tidak peduli bagaimana ia diperlakukan, ia tidak mengeluh. Baginya setiap situasi berasal dari Tuhan, dan ia tidak mau memprakarsai apa pun untuk mengubahnya. Paulus dapat berkata, ”Bagiku, segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan. Inilah sebabnya aku tidak mau mengubah apa pun. Aku tahu, ketika aku menerima lingkunganku, aku menerima Allah. Allah ada dalam setiap situasi, Allah yang kukasihi dan yang mutlak memilikiku.” Alangkah hebat roh yang ditampilkannya dalam sikap ini!

Dalam 1Korintus 7 roh Paulus diekspresikan dalam caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kaum beriman Korintus. Ketika membaca pasal ini, kita perlu merasakan roh Paulus dan bahkan menjamah rohnya.

Cara kita memberikan jawaban kepada orang lain atau memberi tanggapan terhadap situasi tertentu selalu menunjukkan macam roh yang kita miliki. Misalkan seorang saudara sangat gembira pada pagi hari. Ketika istrinya mengajaknya untuk makan pagi, dia akan berkata, ”Puji Tuhan!” Tanggapannya mencerminkan rohnya. Tetapi andai kata rohnya sangat berat ketika istrinya memanggilnya; dia akan menjawab dengan cara yang sangat berbeda, yang menunjukkan bahwa ia tidak gembira. Reaksinya mungkin menunjukkan bahwa ia tidak senang dengan istrinya dan bahwa dia mempunyai masalah dengan Tuhan. Di sini ada satu prinsip, yaitu jawaban dan reaksi kita selalu menunjukkan keadaan roh kita.

Saya mengagumi 1Korintus 7 bukan karena jawaban yang disajikannya, tetapi karena pasal ini menyajikan roh seorang yang mengasihi Tuhan, yang memperhatikan kepentingan Tuhan di bumi, yang mutlak bagi Tuhan dan bersatu dengan Tuhan, dan dalam segala hal patuh, taat, dan puas dengan Allah serta lingkungan yang diatur oleh-Nya.