MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN KEBEBASAN (2)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 6:13-20
Dalam 6:15, 17, dan 19 terdapat tiga hal yang penting: pertama, tubuh kita adalah anggota Kristus; kedua, kita menjadi satu roh dengan Tuhan; dan ketiga, tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Dalam konteks penanggulangan terhadap penyalahgunaan kebebasan dalam hal makanan dan tubuh, Paulus membeberkan hal-hal tersebut dengan cara yang sangat menakjubkan.
ANGGOTA KRISTUS
Ayat 15 mengatakan, ”Tidak tahukah kamu bahwa tubuh kamu semua adalah anggota Kristus?” Karena kita secara organik bersatu dengan Kristus (ayat 17), karena Kristus berhuni di dalam roh kita (2Tim. 4:22), dan berumah di dalam hati kita (Ef. 3:17), maka seluruh diri kita, termasuk tubuh kita yang telah disucikan, menjadilah anggota-Nya. Karena itu, agar dengan riil menjadi anggota yang demikian, kita perlu mempersembahkan tubuh kita kepada-Nya (Rm. 12:1, 4-5).
MENJADI SATU ROH DENGAN TUHAN
Dalam ayat 17 Paulus berkata, ”Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Kata mengikatkan dalam ayat ini mengacu kepada kesatuan yang organik antara kaum beriman dengan Tuhan melalui percaya ke dalam-Nya (Yoh. 3:15-16). Kesatuan ini diilustrasikan oleh kesatuan ranting-ranting dengan pokok anggur (Yoh. 15:4-5). Ini bukan hanya masalah hayat, tetapi juga dalam hayat (hayat Allah). Kesatuan yang demikian dengan Tuhan yang bangkit hanya dapat terjadi di dalam roh kita.
Ungkapan ”satu roh” menunjukkan pembauran Tuhan sebagai Roh itu dengan roh kita. Roh kita telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6), yang sekarang ada di dalam kita (1Kor. 6:19) dan bersatu dengan roh kita (Rm. 8:16). Inilah perwujudan Tuhan, yang menjadi Roh pemberi hayat melalui kebangkitan (1Kor. 15:45; 2Kor. 3:17), dan yang sekarang bersama-sama dengan roh kita (2Tim. 4:22). Roh pembauran ini sering disebut dalam surat-surat Paulus, seperti dalam Roma 8:4-6.
BAIT ROH KUDUS
Dalam ayat 19 Paulus berkata, ”Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuh kamu semua adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” Roh Kudus ada di dalam roh kita (Rm. 8:16) dan roh kita ada di dalam tubuh kita. Karena itu, tubuh kita menjadi bait, tempat kediaman Roh Kudus.
Dalam ayat 20 Paulus menarik kesimpulan, ”Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Harga yang dikatakan di sini mengacu kepada darah adi Kristus (Kis. 20:28; 1 Ptr. 1:18-19; Why. 5:9). Memuliakan Allah dengan tubuh kita berarti membiarkan Allah yang tinggal di dalam kita (1Yoh. 4:13), memenuhi dan menjenuhi tubuh kita, dan mengekspresikan diri-Nya sendiri melalui tubuh kita sebagai bait-Nya, terutama dalam hal-hal tentang makan, minum, dan pernikahan, sesuai dengan konteks dari 6:13 hingga 11:1. Untuk ini kita perlu dengan serius dan ketat mengendalikan tubuh kita, membuatnya takluk (9:27), dan mempersembahkannya kepada Allah sebagai persembahan yang hidup (Rm. 12:1).
PERLU KAPASITAS YANG CUKUP
Ayat-ayat dalam 1Korintus 6 merupakan satu-satunya ayat-ayat dalam Perjanjian Baru yang memberi tahu kita bahwa tubuh kita adalah anggota-anggota Kristus, kita dengan Tuhan adalah satu roh, dan tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Namun, ketika kita membaca ayat-ayat tersebut, kita menganggapnya biasa-biasa saja, tidak mengeluarkan waktu yang cukup untuk mempelajari perkara-perkara penting yang diwahyukan di dalamnya. Berapa banyak waktukah yang telah Anda keluarkan untuk ayat 15, ayat yang mengatakan bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus? Jarang sekali orang beriman yang mau menaruh perhatian yang cukup terhadap ayat ini. Memang ayat 19 telah sering diberitakan, yakni tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Tetapi sebelum Anda masuk ke dalam pemulihan Tuhan, pernahkah Anda mendengarkan berita tentang menjadi satunya roh kita dengan Tuhan? Pernahkah Anda mendengar berita tentang orang yang mengikatkan dirinya dengan Tuhan menjadi satu roh dengan Dia? Ketiga masalah tersebut perlu dipelajari dengan tuntas. Saya tidak bermaksud hanya mempelajarinya secara harfiah, hitam di atas putih, melainkan mempelajarinya dalam terang dari pengalaman.
Orang-orang Kristen hari ini jarang sekali melatih diri untuk menjadi satu roh dengan Tuhan. Pernahkah Anda melihat sebuah buku atau sebuah berita yang berjudul ”Satu Roh dengan Tuhan”? Karena pengaruh teologi dan praktek tradisional, maka banyak orang Kristen tidak mampu mencerna satu ayat seperti 6:17 ini. Seolah-olah tidak ada ruang di dalam mereka untuk menampung perkara penting seperti menjadi satu roh dengan Tuhan ini. Akan tetapi untuk perkara-perkara seperti kekudusan, kemenangan, kuasa, mujizat, dan bahasa lidah, tersedia banyak tempat. Orang-orang Kristen tertentu dalam kalangan Pentakosta sangat mementingkan bahasa lidah. Dalam perkara-perkara tertentu mereka tidak peduli bahasa lidah yang dipraktekkan itu tulen atau palsu. Karena begitu gandrungnya kepada bahasa lidah, mereka tidak memperhatikan doa-doa yang tepat dan sama sekali tidak memperhatikan visi sentral dari ministri pelengkap Paulus. Kaum beriman itu mudah sekali merasa gembira kalau ada seorang yang berbahasa lidah. Tetapi jika ada orang yang berdoa, ”Syukur kepada-Mu, ya Tuhan atas rahmat dan kasih karunia-Mu,” mereka segera merasa tidak tertarik. Mereka tidak berminat terhadap doa serupa ini. Lagi pula, jika Anda berbicara kepada mereka tentang visi ekonomi Allah, mereka tidak dapat mengerti apa yang Anda katakan. Menurut Anda, mungkinkah orang-orang itu mengenal Firman Allah? Tidak, mereka tidak bisa mengenal Firman Allah, sebab di dalam mereka tidak ada tempat untuk menampung perkara-perkara penting dari wahyu Allah itu.
Situasi kebanyakan orang Kristen hari ini mirip dengan situasi murid-murid Tuhan Yesus yang tidak mempunyai kapasitas untuk menerima perkataan Tuhan mengenai roti hayat. Tuhan berkata, bahwa Dialah roti hayat, dan Ia turun dari surga untuk memberikan hayat, bahwa daging-Nya boleh dimakan, darah-Nya boleh diminum; dan siapa saja yang makan Dia akan hidup oleh Dia (Yoh. 6:33, 35, 55, 57). Orang-orang yang tidak bisa menerima perkataan Tuhan itu bersungut-sungut, ”Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh. 6:60).
Kapasitas kita pun mungkin sangat terbatas untuk menerima wahyu Allah. Karena pengaruh agama dan tradisi beracun itu, kita mungkin tidak mampu menerima perkataan Paulus tentang menjadi satu roh dengan Tuhan, atau perkataannya tentang tubuh kita sebagai anggota Kristus. Kita mungkin seperti orang yang makan bawang putih atau tinggal di sebuah kamar yang penuh bau bawang putih, sehingga menjadi mati rasa terhadap bau dan rasa bawang putih itu. Indra pencium orang semacam itu sudah terlalu biasa terhadap bau dan rasa bawang putih sehingga menganggap bau itu biasa-biasa saja. Seprinsip dengan itu, indra pengecap dan indra pencium rohani kita, dalam kenyataannya, seluruh manusia batin kita mungkin terbiasa berada di bawah pengaruh kekristenan tradisional sehingga kita tidak lagi memiliki kemampuan untuk mencerap hal-hal penting dari ekonomi Allah. Jika keadaan kita demikian, walaupun 1Korintus 6 telah kita baca berulang-ulang, namun terhadap ayat 15 dan 17 kita tetap tidak mempunyai kesan apa-apa.
Dahulu, selama bertahun-tahun, saya membaca 1Korintus 6 juga tanpa nampak makna penting dari ayat 17. Namun pada suatu hari ayat tersebut mulai terbuka kepada saya. Saya seolah-olah belum pernah membaca ayat ini sebelumnya, sampai-sampai saya bertanya kepada diri sendiri apakah ayat seperti ini benar-benar ada di dalam Alkitab. Dalam ayat 17 Paulus dengan jelas berkata, ”Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Sejak saat itu, saya mulai menaruh perhatian yang besar terhadap ayat tersebut dan melatih diri saya untuk mengalaminya.
Pada tahun 1947 dan 1948 saudara Watchman Nee sering menekankan perlunya kita melatih roh dan membebaskan roh. Ia sering berkata bahwa dalam segala perbuatan kita, baik dalam memberitakan Injil, berkontak dengan orang kudus, atau meministrikan firman, kita harus melatih roh kita dan membebaskan roh kita. Ia pun menunjukkan bahwa bagian diri kita yang paling banyak kita gunakan adalah bagian yang kita tekankan. Sebagai contoh, jika seseorang hidup di dalam pikiran, maka pikirannya itu akan menonjol setiap kali ia berbicara. Demikian pula, seorang yang hidup dalam emosi, maka emosinyalah yang ia ekspresikan. Saya menerima bantuan besar dari persekutuan ini, dan sejak saat itu, saya berusaha melatih roh dan membebaskan roh saya. Namun terhadap 1 Korintus 6:17 ini, saya masih belum mempunyai kesan yang dalam.
Pada tahun 1958 Tuhan mulai menyingkapkan masalah makan Tuhan, minum Tuhan, dan menikmati Tuhan. Saat itu saya mulai nampak Yohanes 6:57, di mana Tuhan berkata, ”Siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Saya pun mengetahui bila kita ingin makan Tuhan, minum Tuhan, dan menikmati Tuhan, kita harus mengenal roh kita. Jika tidak, kita tidak mungkin berkontak dengan Tuhan. Saya pernah menandaskan dalam sebuah berita, hanya dengan mengenal sifat dari makanan tertentu, barulah kita mengetahui bagaimana memakannya. Begitu pula, jika kita ingin memakan Tuhan, haruslah kita mengenal sifat Tuhan. Hari ini Tuhan adalah Roh pemberi hayat. Ini berarti sifat makanan rohani adalah roh. Jadi kita dapat berkontak dengan Roh itu hanya melalui roh kita. Yohanes 4:24 mewahyukan, ”Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Berdasarkan ayat ini, hanya rohlah yang dapat menjamah Roh itu, dan hanya rohlah yang dapat menyembah Roh itu.
Pada tahun 1960, beban, terang, dan penuturan tentang roh menjadi semakin kuat. Akibatnya, berita demi berita yang kita berikan membahas tentang roh. Ketika saya memulai ministri saya di negeri Amerika Serikat, saya pun menekankan roh. Jika Anda membaca majalah The Stream terbitan pertama, akan Anda temukan banyak berita yang berinti pada masalah roh. Saya dapat bersaksi bahwa nampak 1 Korintus 6:17 besar sekali pengaruhnya atas ministri yang Tuhan berikan kepada saya.
SATU RAHASIA BESAR
Kita, kaum beriman bisa mengikatkan diri pada Tuhan menjadi satu roh dengan-Nya, hal ini merupakan satu rahasia besar, dan boleh jadi merupakan perkara paling rahasia yang diwahyukan dalam Alkitab. Siapakah yang mampu menjelaskan rahasia seperti ini? Dapatkah Anda menjelaskan bagaimana kita bisa menjadi satu roh dengan Tuhan? Walaupun kita tidak dapat menjelaskannya, namun kita dapat dengan sungguh-sungguh mengalaminya. Pada pagi hari saya sering berdoa, ”Tuhan, terima kasih atas hari baru yang Kauberikan kepadaku, sehingga aku bisa berlatih menjadi satu roh dengan-Mu.” Sungguh ajaib orang-orang dosa seperti kita bisa menjadi satu roh dengan Tuhan! Semakin kita merenungkan hal ini, kita akan semakin merasa betapa ajaibnya hal ini.
Dalam 6:17 Paulus dengan jelas menyatakan fakta menjadi satunya roh kita dengan Tuhan. Namun tidak banyak yang menaruh perhatian yang cukup atas masalah ini. Kita perlu banyak waktu untuk mempelajari ayat ini dan mengkajinya dari segi pengalaman. Kita harus melatih diri dan belajar menjadi satu roh dengan Tuhan, baik dalam tutur kata maupun perbuatan kita. Sewaktu kita melakukan berbagai perkara, kita perlu memperhatikan apakah kita satu roh dengan Tuhan atau tidak.
Karena saya telah nampak visi tentang menjadi satu roh dengan Tuhan dari 6:17 ini, maka saya mulai menyadari bahwa apa yang dipraktekkan saudara Lawrence seluruhnya adalah perkara Perjanjian Lama. Ia berlatih hidup di hadirat Allah, tetapi tidak berlatih menjadi satu roh dengan Tuhan. Ada perbedaan yang sangat besar antara hidup di hadirat Allah dengan menjadi satu roh dengan Tuhan.
Kita telah mengetahui, dalam pasal 6 Paulus mengungkapkan tiga hal yang sangat penting. Begitu pentingnya hal-hal ini sehingga kita perlu banyak-banyak melatih roh kita, untuk dapat mencerna hal-hal ini dengan memadai. Betapa menakjubkan, tubuh kita adalah anggota-anggota Kristus, kita menjadi satu roh dengan Tuhan, dan tubuh kita juga adalah bait Roh Kudus! Visi tentang hal ini menjadi demikian jelas sehingga ada kalanya saya sukar menahan diri. Beban terhadap visi ini demikian beratnya sehingga saya hampir-hampir tidak kuat memikulnya. Saya tidak tahan memikirkan bahwa beberapa gereja dan orang kudus yang terus saja mengikuti pola yang usang, melakukan pekerjaan kekristenan, tetapi mengabaikan visi sentral dari ministri perampungan Paulus. Melihat visi tentang tubuh kita adalah anggota Kristus, kita menjadi satu roh dengan Tuhan, dan tentang tubuh kita adalah bait dari Roh Kudus merupakan keperluan kita yang amat mendesak.
NAMPAK VISI INTI
Saya merasa resah dengan situasi di antara orang-orang Kristen hari ini dan juga oleh situasi di antara kita. Di mana-mana orang-orang Kristen mendengarkan khotbah yang berlapis gula, khotbah-khotbah yang menyesatkan dan bahkan meracuni mereka. Malahan sebagian orang di antara kita telah diselewengkan oleh berita-berita yang alkitabiah. Beberapa saudara boleh jadi menggunakan bagian-bagian dari Berita Pelajaran Hayat sebagai bahan khotbah mereka, namun mereka tetap tidak nampak visi inti ini. Akibatnya, baik pengkhotbah maupun pendengar kedua-duanya menyeleweng dari sasaran. Sidang-sidang nampaknya sangat bagus dan sangat membantu, tetapi apakah orang kudus terbantu oleh visi inti dari ministri perampungan Paulus atau ministri penambalan Yohanes? Kadang-kadang hal ini patut dipertanyakan. Kita bisa saja menyeleweng dari sasaran di dalam ministri, pekerjaan, dan usaha kita untuk membantu gereja-gereja. Jika kita menaruh perhatian pada hal-hal di luar ekonomi Allah, ini membahayakan, karena kita sebenarnya malah membuat orang-orang kudus menyimpang. Yang Tuhan inginkan hari ini adalah sekelompok orang yang nampak visi yang telah diwahyukan-Nya kepada pelayan-Nya yang setia, rasul Paulus, dan yang melaksanakan ministri perampungan, mengenai Kristus sebagai rahasia Allah dan gereja sebagai rahasia Kristus. Akan tetapi, hal-hal ini tidak seharusnya disajikan kepada orang-orang kudus hanya sebagai doktrin, melainkan harus diministrikan sebagai suatu realitas. Jika kita ingin melayankan realitas hal-hal ini kepada orang lain, pertama-tama kita sendiri harus menjamah realitas itu dulu.
Karena visi dan beban, maka saya tidak berminat pada berita-berita yang hanya berisi doktrin. Ketiga hal penting yang diungkapkan dalam berita ini tidak seharusnya dijadikan doktrin semata. Saya prihatin karena di antara kita ada yang masih belum menjamah realitas hal-hal ini, karena itu tidak mempunyai realisasi pengalaman mengenai tubuh kita sebagai anggota-anggota Kristus dan bait Roh Kudus dan perihal menjadi satu roh dengan Tuhan. Jika saudara-saudara yang melayani gereja-gereja nampak visi ini, maka pembicaraan mereka akan berubah secara radikal. Mereka tidak lagi berbicara secara doktrinal kepada orang lain. Dengan spontan mereka akan memutuskan untuk tidak mengetahui yang lain kecuali Kristus dan Tubuh-Nya.
Beban saya dalam berita-berita ini bukanlah untuk mengajarkan doktrin. Empat puluh tahun yang lampau berita-berita saya kebanyakan membahas soal pahala, menderita kerugian, diselamatkan melalui api, dan berbagai kategori orang yang harus dikucilkan dari gereja. Namun beban saya sekarang bukan pada hal-hal itu lagi; melainkan agar orang-orang kudus menikmati Kristus sebagai hari raya Roti Tidak Beragi mereka. Beban saya terutama untuk mereka yang telah bertahun-tahun di dalam pemulihan, namun masih belum nampak visi inti. Yang mereka miliki bukannya gandum, melainkan sekam, dan sekam itulah yang mereka layankan. Orang-orang yang mereka latih tidak menerima rawatan dan suplai hayat apa pun; karena itu tidak ada pertumbuhan. Jika kita semua nampak visi ini, situasi kita akan mutlak berbeda. Kita akan bersaksi bahwa kita satu roh dengan Tuhan dan tubuh kita adalah anggota-anggota Kristus serta bait Roh Kudus. Namun, kita masih kekurangan pengalaman, masih sangat terbatas dalam kapasitas untuk menerima hal-hal ini dan memahaminya. Jadi, kita semua perlu merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berkata, ”Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu bagaimana harus bertobat, aku tidak tahu bagaimana mengaku dosa, dan aku tidak tahu bagaimana harus berdoa. Tuhan, aku hanya berada di hadapan-Mu. Belas kasihanilah aku. Aku perlu nampak visi yang jelas akan ekonomi-Mu. Tuhan, rahmatilah aku, biar aku bisa menjamah realitas visi ini dan bisa membantu orang lain untuk melakukan hal yang serupa.” Marilah kita semua menengadah kepada Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya, agar kita bisa nampak visi yang ditunjukkan kepada Paulus. Dengan melihat visi inilah kita baru dapat terhindar dari penyalahgunaan kebebasan dalam hal makan dan tubuh.