← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 17/25

MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN KEBEBASAN (1)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 6:12-18

Dalam 1 Korintus Paulus menanggulangi hal-hal dalam satu urutan yang khas. Pertama-tama, ia menanggulangi berbagai keinginan serta aspirasi jiwani; kedua, ia menanggulangi nafsu daging; dan ketiga, ia menanggulangi penuntutan hak-hak. Seperti yang telah kita tunjukkan, urutan ini sangat bermakna. Dalam berita ini sampailah kita pada penanggulangan Paulus terhadap penyalahgunaan kebebasan dalam hal makanan dan tubuh, yaitu perkara keempat yang dibahas dalam Surat Kiriman ini.

Makanan adalah untuk keberadaan manusia dan pernikahan adalah untuk perkembangbiakan manusia; keduanya perlu dan telah ditetapkan oleh Allah. Manusia berhak memanfaatkan keduanya. Akan tetapi, janganlah kita menyalahgunakannya, juga tidak seharusnya berada di bawah kuasa hal-hal itu, dikendalikan dan diperhamba oleh hal-hal itu. Sembarangan makan, seperti makan makanan persembahan berhala, menjadi sandungan bagi saudara-saudara yang lemah (8:9-13; 10:28-30, 32), dan makan berlebihan merusak tubuh kita. Makanan dan juga perut kita akan di binasakan; Allah akan membinasakan keduanya (6:13). Penyalahgunaan sex merupakan percabulan. Hal ini tidak saja dipersalahkan Allah, juga membinasakan tubuh kita (ayat 18) yang sebenarnya adalah bagi Tuhan.

Baik makanan maupun pernikahan telah ditetapkan oleh Allah, dan perlu untuk keberadaan manusia. Jika umat manusia mau hidup secara berkesinambungan di bumi bagi penggenapan kehendak Allah, maka manusia perlu makan dan menikah. Makanan tidak saja diciptakan oleh Allah, tetapi juga telah ditetapkan oleh-Nya untuk keberadaan kita. Pernikahan adalah untuk perkembangbiakan umat manusia. Karena hal makan dan pernikahan telah ditetapkan oleh Allah, maka keduanya sah. Dalam setiap kasus kita memiliki kebebasan, kebebasan untuk makan dan kebebasan untuk menikah. Akan tetapi, manusia yang telah jatuh menyalahgunakan kebebasannya dalam hal-hal ini. Karena alasan inilah, maka setelah menanggulangi berbagai keinginan jiwani, nafsu daging, dan penuntutan hak-hak, Paulus beralih kepada masalah penyalahgunaan kebebasan.

Beberapa guru Alkitab tidak menganggap 6:12-18 sebagai satu bagian yang terpisah, malah meletakkannya bersama dua bagian berikutnya, yakni tentang pernikahan dan problem makan persembahan berhala. Bagian ini dianggap sebagai kata pengantar dari dua bagian berikutnya, karena ayat-ayat ini membahas perihal makan dan pernikahan. Bertahun-tahun yang silam saya tidak menganggap bahwa 6:12-18 adalah satu bagian yang tersendiri. Tetapi setelah membaca kitab ini berulang-ulang selama bertahun-tahun, kini saya yakin bahwa ayat-ayat ini merupakan satu bagian tersendiri yang menanggulangi penyalahgunaan kebebasan manusia.

Kita telah melihat bahwa orang-orang jiwani membuka pintu untuk berbagai nafsu daging, dan manusia karnal akan menuntut hak-hak mereka. Setelah itu sampailah kita kepada penyalahgunaan kebebasan. Dalam gereja, jiwa harus disangkal. Inilah dasar kehidupan gereja pada sisi negatifnya. Pada sisi positifnya, dasar kehidupan gereja adalah kebenaran mengenai Kristus dan salib-Nya. Dalam kehidupan gereja kita semua harus belajar menyangkal jiwa; yakni tidak memberikan tumpuan atau kesempatan sedikit pun, tidak membuka pintu bagi jiwa untuk melakukan sesuatu. Begitu kaum beriman di suatu gereja menjadi jiwani, maka kehidupan gereja segera berakhir, sebab pintu bagi nafsu daging akan terbuka, dan nafsu-nafsu itu akan membangkitkan penuntutan hak-hak. Bahkan keadaan itu akan menjadi dasar timbulnya penuntutan hak-hak dan juga penyalahgunaan kebebasan manusia. Sewaktu membahas hal-hal ini, kita menyadari bahwa urutan-urutan Paulus menanggulangi problem-problem di Korintus sungguh mengagumkan.

I. PRINSIP DASAR

A. Segala Sesuatu Halal,

Tetapi Tidak Semua Berguna

Paulus mengawali bagian ini dengan kata-kata ini: ”Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh apa pun.” Kata ”halal” secara harfiah berarti ”di bawah kekuasaanku (sesuai dengan pilihanku untuk melakukan)”. Karena itu, berarti di izinkan, diperbolehkan, sah. Kata ”berguna” berarti bermanfaat (tidak sekadar mudah atau sederhana), indah dan baik, berharga. Kata Yunani ini berarti menguntungkan, ekonomis, tepat sekali, sangat membantu untuk mencapai sasaran dengan cepat. Hal ini juga mengacu kepada perkara-perkara yang baik. Di sini pemikiran Paulus boleh jadi demikian: segala sesuatu halal, tetapi tidak semua hal itu membantu kita dalam memikul salib atau menguntungkan kita dalam mengalami Kristus.

Jika kita ingin memahami penggunaan kata ”berguna” yang dipakai oleh Paulus di sini, kita perlu memiliki pemahaman yang tepat mengenai kitab Korintus ini secara keseluruhan. Semua perkara halal, tetapi tidak semua perkara membantu kita memperoleh keuntungan yang terwahyu dalam Surat Kiriman ini. Tidak semua hal membantu kita menempuh kehidupan Tubuh. Ya, Anda bebas melakukan berbagai hal, tetapi hal-hal itu tidak akan membantu Anda dalam kehidupan gereja, dan tidak akan memperkuat kehidupan doa Anda. Jika kita menerapkan apa yang dikatakan Paulus dalam 6:12 menurut konteks keseluruhan Surat 1Korintus, kita akan melihat bahwa perkataan Paulus di sini bersifat almuhit. Dalam 6:12 Paulus seolah-olah berkata, ”Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya baik, menguntungkan, sesuai, atau ekonomis bagiku untuk menempuh kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, dan kehidupan Tubuh. Tidak semua bisa membantuku menikmati Kristus atau memelihara hari raya Roti Tidak Beragi.”

B. Tidak Membiarkan Diri Diperhamba oleh Suatu Apa pun

Dalam ayat 12, dua kali Paulus berkata, ”Segala sesuatu halal bagiku.” Pemakaian yang pertama dari kata-kata ini agak bersifat obyektif; sedang pemakaian yang kedua sangat subyektif. Paulus berkata, ”Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh apa pun.” Secara harfiah, perkataan ”diperhamba” berarti diletakkan di bawah kekuasaan. Segala sesuatu berada di bawah kekuasaan Paulus, tetapi ia tidak berada di bawah kuasa perkara apa pun. Dan segala sesuatu diperbolehkan, dan sah baginya; tetapi ia tidak dikendalikan (di perhamba) atau diletakkan di bawah kekuasaan apa pun. Ayat 12 dapat dianggap sebagai suatu pepatah yang mengendalikan penanggulangan rasul terhadap masalah-masalah yang disinggung dalam bagian berikutnya, dari 6:13-11:1.

Ketika Anda mempertimbangkan apakah Anda akan melakukan suatu perkara atau tidak, Anda perlu bertanya apakah Anda di bawah kuasa atau kendali perkara tersebut atau tidak. Jika suatu perkara mengendalikan atau menguasai Anda, janganlah Anda melakukannya. Sebagai contoh, Anda mungkin ingin tahu apakah boleh makan makanan-makanan tertentu. Makanan-makanan tersebut boleh saja dimakan, asal mereka jangan menguasai Anda sedikit pun. Kita harus menanggulangi sampai tuntas segala sesuatu yang menguasai kita.

II. KEGUNAAN TUBUH

A. Makanan adalah untuk Perut, dan Perut untuk Makanan

Dalam ayat 13 Paulus meneruskan ucapannya, ”Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.” Makanan dan perut adalah untuk keberadaan tubuh. Keduanya tidak berarti apa-apa; Allah akan membinasakan keduanya.

Susunan kata Paulus dalam ayat ini kelihatannya agak janggal. Dalam bahasa aslinya tertulis, ”...tetapi ini dan semua ini, akan dibinasakan Allah.” Jika kita yang menulis ayat ini, kita mungkin menulis, ”Allah akan membinasakan kedua-duanya.” Akan tetapi, jika ayat ini ditulis demikian, maka arti dan maknanya akan hilang. Paulus memakai kata-kata ”ini dan semua ini” adalah mengacu kepada ”perut dan makanan”, Paulus menyebutkan perut yang pertama, karena Allah akan membinasakan perut sebelum Ia membuat makanan itu tidak berarti apa-apa. Alasannya: karena penyalahgunaan kebebasan dalam hal makan minum bukan disebabkan oleh makanan; tetapi oleh perut. Masalahnya bukan berasal dari makanan itu sendiri, melainkan dari perut. Bila perut seseorang tidak berarti apa-apa, maka makanan tidak lagi menjadi problem. Makanan adalah untuk perut, dan perut untuk makanan. Allah menggunakan keduanya sehingga kita bisa hidup untuk menggenapkan kehendak-Nya. Tetapi pada suatu hari Allah akan menjadikan kedua-duanya, perut dan makanan, tidak berarti apa-apa.

B. Tubuh Bukan untuk Percabulan, Melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk Tubuh

Dalam ayat 13 Paulus juga berkata, ”Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.” Tubuh kita diciptakan bagi Tuhan, dan Tuhan di dalam kita adalah untuk tubuh kita. Dia merawat tubuh kita dengan makanan jasmani (Mzm. 103:5), dan memberinya hayat kebangkitan (Rm. 8:11), yang menelan unsur kematian dalam tubuh beserta kelemahan dan penyakitnya. Akhirnya, Dia akan mengubah tubuh kita serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Kita tidak seharusnya menyalahgunakannya dengan melakukan percabulan.

Di satu pihak, Paulus berkata bahwa perut adalah untuk makanan; di pihak lain, ia memberi tahu kita bahwa tubuh bukanlah untuk percabulan. Kita boleh bebas memilih makanan untuk kita makan, tetapi kita tidak boleh melakukan percabulan. Akan tetapi, kalau kita makan berlebihan, hal itu dapat merusak tubuh kita. Jadi, meskipun kita mempunyai kebebasan untuk makan, kita harus makan dengan hati-hati, agar kesehatan kita terjaga dengan baik. Nafsu makan kita mudah menjadi liar, maka kita perlu mengekang dan membatasinya.

Walaupun Paulus mengatakan bahwa tubuh untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh, namun ia tidak mengatakan bahwa Allah itu untuk perut atau makanan. Allah akan membinasakan perut dan makanan, tetapi tidak demikian dengan tubuh kita. Tubuh kita adalah untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh kita.

C. Tubuh Kita akan Dibangkitkan oleh Allah Melalui Kuasa-Nya

Dalam ayat 14 Paulus berkata, ”Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.” Allah telah membangkitkan tubuh Tuhan, dan telah menetapkan bahwa tubuh kita akan berbagian dalam tubuh Tuhan yang mulia di dalam kebangkitan (Flp. 3:21), dan akan dibangkitkan, menjadi yang tidak dapat binasa (1 Kor. 15:52). Inilah penebusan tubuh kita (Rm. 8:23). Bahkan sekarang Roh Kristus yang bangkit, yang berhuni di dalam kita, juga menyalurkan hayat kepada tubuh kita (Rm. 8:11), menjadikannya anggota Kristus (1 Kor. 6:15), menjadi bait Allah yang dihuni oleh Roh Kudus-Nya (ayat 19).

Saya bersyukur tidak saja karena Tuhan adalah untuk tubuh kita, tetapi juga karena Allah akan membangkitkan tubuh kita, sama seperti Ia membangkitkan tubuh Tuhan Yesus. Kita semua memiliki beberapa kekurangan jasmani, dan tidak seorang pun yang mutlak sehat. Kita bisa letih dan kadang-kadang sakit. Kelemahan-kelemahan ini membantu kita menghargai janji-janji Tuhan atas tubuh kita.

Dalam ayat 13 dan 14 kita memiliki janji ganda: pertama, Tuhan adalah untuk tubuh; kedua, Allah akan membangkitkan tubuh. Dari Roma 8:11 kita mengetahui bahwa pada hari ini pun tubuh kita yang fana bisa menerima suplai dari hayat kebangkitan dan ditopang olehnya. Kadang-kadang Ia menyembuhkan kita. Aspek pertama dari janji ganda atas tubuh kita ialah Tuhan adalah untuk tubuh kita dan menopang tubuh kita.

Dari pengalaman saya tahu bahwa Tuhan adalah untuk tubuh kita. Pada tahun 1943 saya menderita sakit TBC yang sangat parah, hingga saya diharuskan istirahat total. Saya harus berbaring di ranjang dalam jangka waktu yang panjang. Suatu hari putra sulung saya, yang berumur tiga belas tahun, datang menjenguk saya. Ketika memandangnya, saya hampir menangis. Saya berdoa, ”Tuhan, maukah Engkau memberiku lima belas tahun lagi? Tuhan, lihatlah anakku, anak sulungku. Lima belas tahun lagi ia akan berusia dua puluh delapan. Jika Engkau rela menambah umurku lima belas tahun, aku sudah puas dan rela mati setelah tahun-tahun itu berlalu.” Saya memuji Tuhan sebab lima puluh tahun lebih telah saya lalui sejak saya berdoa demikian. Tubuh saya telah pulih sepenuhnya dari penyakit itu dan selama tahun-tahun ini saya bahkan mampu bekerja keras. Tuhan sungguh-sungguh adalah untuk tubuh saya.

Walaupun aspek pertama dari janji ganda itu adalah untuk masa kini, namun aspek kedua adalah untuk masa mendatang. Tuhan adalah untuk tubuh kita hari ini, tetapi Allah akan membangkitkan tubuh kita di masa mendatang. Kebangkitan tubuh ini ditujukan kepada transfigurasi. Ketika tubuh kita dibangkitkan, tubuh kita akan ditransfigurasikan.

Dalam ayat 15 Paulus meneruskan ucapannya, ”Tidak tahukah kamu bahwa tubuh kamu semua adalah anggota Kristus? Jadi, akan kuambilkah anggota Kristus dan menjadikannya anggota tubuh pelacur? Sekali-kali tidak!” Di sini Paulus dengan jelas berkata bahwa tubuh kita adalah anggota-anggota Kristus. Hal ini bukanlah suatu ilustrasi, kiasan, atau sebuah perumpamaan, melainkan suatu pernyataan dari suatu fakta. Tubuh kita benar-benar anggota Kristus. Betapa menakjubkan!

Dalam ayat 15 Paulus berkata bahwa tubuh kita adalah anggota-anggota Kristus, dan dalam ayat 17 ia berkata bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Bagaimana kita bisa mengaitkan kedua perkara ini? Apakah kesatuan kita dengan Tuhan itu secara jasmani atau rohani? Jika kita mengatakan kesatuan kita dengan Tuhan bukan secara jasmani, lalu bagaimana tubuh kita bisa menjadi anggota-anggota-Nya? Tetapi jika kita berkata bahwa kesatuan kita dengan Tuhan adalah secara jasmani, bukan secara rohani, kita melakukan kesalahan serius, bahkan bidah. Kesatuan kita dengan Tuhan adalah secara rohani dan secara jasmani. Walaupun hari ini kita tidak bisa memahaminya sebanyak itu, tetapi suatu hari hal ini akan dinyatakan sepenuhnya, bahwa kita benar-benar bersatu dengan Tuhan di dalam tubuh, jiwa, dan roh. Kemudian menurut 1 Yohanes 3:2, kita akan benar-benar menjadi serupa dengan-Nya tidak saja di dalam roh, tetapi juga di dalam tubuh kita. Satu Yohanes 3:2, adalah sebuah ayat yang menekankan kemiripan kita dengan Tuhan di dalam tubuh. Filipi 3:21 menekankan hal yang sama. Ayat ini mengatakan bahwa tubuh kita yang hina akan menjadi sama seperti tubuh Tuhan yang mulia. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kita bersatu dengan Tuhan baik secara jasmani maupun secara rohani. Suatu hari tubuh kita akan mutlak serupa dengan tubuh Tuhan yang mulia di dalam kebangkitan.

Tubuh jasmani kita bisa disamakan dengan sebutir benih yang ditaburkan ke tanah. Menurut 1 Korintus 15, kebangkitan sebenarnya adalah bertumbuhnya benih yang telah ditaburkan ke tanah itu. Ketika sebutir benih ditaburkan, ia hanyalah sebutir benih. Tetapi ketika benih itu bertumbuh dan berbunga, maka terjadilah suatu penampilan yang lain sama sekali. Hari ini tubuh kita adalah benih yang ditabur ke dalam Kristus. Tetapi pada suatu hari benih ini akan tumbuh melalui kebangkitan. Bila ia bertumbuh, maka akan timbul perubahan bentuk, sekali pun ia masih tetap tubuh kita. Ketika sebutir gandum ditaburkan ke tanah, ia tetap adalah gandum. Sewaktu benih ini bertumbuh, maka ia tetap adalah gandum sekalipun bentuknya berbeda sama sekali. Saat ini, tubuh jasmani kita belum mempunyai penampilan yang indah. Karena alasan inilah, kita tidak begitu menghargai tubuh kita. Akan tetapi, karena tubuh kita adalah anggota Kristus, maka tubuh kita berharga dan patut disayangi. Terakhir, dalam kebangkitan, tubuh ini akan menjadi persis sama seperti tubuh Kristus yang mulia, yang telah dibangkitkan.

Dalam ayat 18 Paulus berkata, ”Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” Percabulan adalah dosa terhadap tubuh kita sendiri, yang adalah anggota Kristus. Hal ini merupakan suatu peringatan yang serius, yakni jangan menyalahgunakan tubuh kita.