MENANGGULANGI SAUDARA YANG JAHAT
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 5:1-13
Dalam 5:1-13 Paulus beralih kepada masalah menanggulangi saudara yang jahat. Problem pertama, yang ditanggulangi dalam pasal 1 hingga 4, adalah masalah perpecahan, yang pada pokoknya berkaitan dengan hayat alamiah jiwa. Problem kedua, yang ditanggulangi dalam pasal 5 hingga bagian kedua dari kitab ini, adalah dosa perzinaan, yang berkaitan dengan nafsu daging. Masalah ini, perzinaan antara seorang saudara dengan istri ayahnya, secara moral lebih kotor daripada problem pertama, perpecahan. Problem pertama menyinggung perselisihan yang timbul dari kesombongan. Problem kedua adalah dosa kotor yang terbit dari nafsu.
Surat 1Korintus 5 mempunyai ciri tersendiri. Pertama, pasal ini menunjukkan bahwa seorang beriman yang sejati pun dapat melakukan dosa yang kotor. Banyak orang yang membaca Perjanjian Baru beranggapan bahwa karena kasih karunia Allah, kaum beriman tidak dapat berbuat hal-hal yang jahat, khususnya hal-hal jahat tertentu yang tercatat dalam Perjanjian Lama. Tetapi dalam pasal ini kita membaca tentang seorang saudara dalam gereja di Korintus yang melakukan dosa perzinaan dengan istri ayahnya. Tentunya, Paulus bermaksud membantu gereja untuk menanggulangi saudara yang jahat ini. Melalui membaca pasal ini kita nampak, bahwa tidak mustahil seorang yang telah benar-benar beroleh selamat, seorang saudara sejati dalam Tuhan, melakukan dosa semacam itu. Kalau ini tidak tercatat dalam Perjanjian Baru, mungkin kita sulit mempercayai bahwa seorang yang telah beroleh selamat dapat melakukan dosa semacam ini. Sebaliknya, boleh jadi kita berpendapat bahwa setelah beroleh selamat, seseorang tidak mungkin berdosa seperti itu.
Pasal ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa begitu gereja menyimpang dari visi inti ekonomi Allah dan masuk ke dalam jiwa, terbukalah pintu bagi nafsu daging. Ini tidak saja membuka jalan bagi cemburu dan perselisihan, bahkan juga bagi dosa-dosa kotor. Itulah sebabnya, bahaya sekali jika kita tinggal di dalam jiwa. Dalam Surat Kiriman ini, pertama-tama Paulus menanggulangi jiwa dan kemudian nafsu daging. Menanggulangi jiwa terutama adalah menanggulangi perpecahan. Keempat pasal pertama dari kitab ini menanggulangi problem perpecahan yang berasal dari jiwa, terutama masalah pikiran. Ini adalah hasil dari opini, dan opini berasal dari pikiran. Hal ini dengan jelas ditunjukkan dalam keempat pasal yang pertama. Melalui membaca pasal-pasal ini kita melihat adanya perpecahan di antara orang-orang Korintus disebabkan Dalam kehidupan gereja, jiwa tidak boleh menang. Kita semua harus belajar menyangkal jiwa dan menanggalkannya dan hidup di dalam roh. Kita harus tinggal di dalam roh dan memakai roh kita dalam setiap situasi. Dengan demikian kita akan menutup pintu bagi nafsu daging.
Dalam kehidupan gereja, jiwa tidak boleh menang. Kita semua harus belajar menyangkal jiwa dan menanggalkannya dan hidup di dalam roh. Kita harus tinggal di dalam roh dan memakai roh kita dalam setiap situasi. Dengan demikian kita akan menutup pintu bagi nafsu daging.
I. ORANG YANG JAHAT DIHAKIMI
Dalam 5:1 Paulus berkata, ”Memang orang mendengar bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang seperti itu, yang bahkan tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan istri ayahnya.” Di sini kita melihat seorang saudara yang melakukan percabulan dengan istri ayahnya, dengan ibu tirinya. Tidak ada dosa yang lebih buruk atau lebih merusak manusia daripada percabulan semacam ini. Seperti yang akan kita lihat, meskipun pasal ini membahas dosa yang begitu mengerikan, pasal ini juga berbicara tentang merayakan hari raya.
Paulus adalah orang yang penuh dengan Kristus. Ia mengenal Kristus bukan hanya secara doktrinal, tetapi secara pengalaman. Bahkan ketika menanggulangi dosa yang kotor, ia masih memiliki kenikmatan atas Kristus.
Dalam ayat 2 Paulus berkata, ”Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita sehingga orang yang melakukan hal itu dijauhkan dari tengah-tengah kamu?” Orang-orang Korintus bukannya berdukacita karena ada dosa yang begitu kotor di tengah-tengah mereka, tetapi mereka malah menjadi sombong. Tidak diragukan, ayat 2 adalah perkataan teguran yang keras. Dalam ayat ini Paulus juga menunjukkan bahwa orang yang melakukan perbuatan dosa itu harus dijauhkan dari tengah-tengah mereka; dia harus dikucilkan dari persekutuan gereja.
Mengusir seseorang dari persekutuan gereja dapat dibandingkan dengan menyingkirkan sebatang kayu lapuk dan busuk dari sebuah bangunan. Andaikata sebatang kayu dalam sebuah gedung membusuk, bagian yang busuk ini harus disingkirkan. Demikian pula saudara yang jahat yang disebut dalam ayat 1 harus disingkirkan dari persekutuan gereja. Akan tetapi, orang-orang di Korintus tidak mempunyai kesadaran ini, karena mereka tetap sombong. Dengan alasan ini, Paulus memberi tahu mereka bahwa ia sungguh-sungguh prihatin dengan situasi di sana.
Dalam pasal yang membicarakan seorang saudara yang jahat ini terdapat dua perkara yang sangat positif dan indah. Yang pertama menyangkut Paulus menggunakan roh insaninya, dan yang kedua menyangkut hari raya. Dalam ayat 3-5 Paulus berkata, ”Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku sama seperti aku hadir telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. Bilamana kamu berkumpul dan aku hadir secara rohani, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus diserahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” Dalam ayat 3 Paulus berkata bahwa meskipun secara badani ia tidak hadir, tetapi ia hadir di dalam roh (secara rohani). Rasul adalah orang yang rohani, berperilaku dalam roh, berbeda dengan orang-orang Korintus, yang berperilaku di dalam jiwa atau di dalam daging. Walaupun tubuh jasmani rasul tidak hadir, tetapi dia hadir bersama mereka di dalam roh, dengan rohnya menghakimi orang yang jahat di antara mereka. Bahkan dalam ayat 4 Paulus berkata bahwa rohnya berkumpul dengan mereka. Roh rasul sedemikian kuat sehingga ia menghadiri sidang kaum beriman Korintus. Rohnya berkumpul dengan mereka untuk melaksanakan penghakiman atas orang jahat itu.
Dalam ayat 3 dan 4 Paulus seolah-olah berkata, ”Kamu tidak mengusir orang yang jahat itu dari tengah-tengah kamu. Tetapi dengan menggunakan rohku, aku telah menghakiminya. Walaupun di dalam tubuh aku tidak hadir di tengah-tengah kamu, namun di dalam rohku aku hadir bersama kamu. Bahkan aku hadir pada persidanganmu dalam rohku. Jadi dengan rohku aku telah menjatuhkan hukuman atas orang itu.”
Dalam ayat 4 Paulus dengan tegas berkata, ”Bilamana kamu berkumpul dan aku hadir secara rohani (berkumpul bersama rohku, Tl.).” Dari sini kita tahu bahwa roh Paulus hadir pada persidangan di Korintus. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa rohnya betul-betul menempuh perjalanan ke Korintus. Hal ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan ilmu sihir, yang menyatakan bahwa jiwa seseorang dapat meninggalkan tubuhnya dan mengunjungi orang lain. Menurut ayat ini, roh Paulus sedemikian kuat sehingga menghadiri sidang kaum beriman Korintus. Rohnya berkumpul bersama mereka dan menyerahkan orang jahat itu kepada Iblis. Hal ini benar-benar perkara rohani, sesuatu yang keseluruhannya ada di dalam roh.
Janganlah beranggapan bahwa roh Paulus benar-benar pergi ke Korintus dan menghadiri sidang. Namun, ketika kaum beriman Korintus berkumpul bersidang bersama, Paulus memakai rohnya beserta dengan mereka dan menjatuhkan hukuman kepada orang jahat itu, dan mengusir-nya. Kita juga boleh belajar mengunjungi seorang saudara dengan roh kita. Sementara kita berada di rumah, roh kita tidak mustahil mengunjungi seorang saudara. Inilah yang diperbuat roh Paulus berkenaan dengan situasi di Korintus.
Dalam ayat 4 Paulus menyebut nama Tuhan Yesus dan kuasa Tuhan Yesus. Baik ”dalam nama Tuhan Yesus” maupun dengan kuasa Yesus keduanya menerangkan ”diserahkan” dalam ayat 5. Di dalam rohnya, rasul menggunakan nama Tuhan yang berkuasa, dengan kuat kuasa-Nya menyerahkan orang jahat itu kepada Iblis untuk dibinasakan dagingnya. Saya benar-benar percaya bahwa hal ini sungguh-sungguh terjadi dan orang yang jahat itu diserahkan kepada Iblis.
Menyerahkan seorang berdosa kepada Iblis adalah untuk mendisiplinnya. Pembinasaan yang disebut dalam ayat 5 pada pokoknya mengacu kepada penderitaan penyakit tertentu (2 Kor. 12:7; Luk. 13:11-16). Daging mengacu kepada tubuh nafsani, yang seharusnya dihancurkan. Penyakit-penyakit tertentu datang dari Iblis. Penyakit semacam itu dapat membinasakan daging supaya rohnya dapat diselamatkan pada hari Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang berdosa di antara kaum beriman Korintus itu adalah seorang saudara; ia telah beroleh selamat sekali untuk selamanya (Yoh. 10:28-29), ia tidak akan binasa karena dosa apa pun. Namun, karena dosanya, ia perlu di disiplinkan dengan penghancuran daging dosanya, supaya ia dapat terjaga di dalam suatu keadaan sehingga rohnya dapat diselamatkan pada hari Tuhan. Maka pembinasaan daging adalah satu persiapan yang diperlukan untuk keselamatan roh.
Ketika kita merenungkan ayat-ayat ini, kita melihat bahwa Paulus menanggulangi gereja bukan hanya dengan menulis surat dan mengirim Timotius kepada mereka, tetapi juga dengan memakai rohnya. Ini membuktikan bahwa ia adalah orang yang hidup di dalam roh. Ini juga mengungkapkan betapa kuat rohnya. Roh Paulus demikian kuat sehingga dapat menghadiri sidang gereja yang jauh. Ia menggunakan rohnya untuk menghukum orang jahat itu dan menyerahkannya kepada Iblis. Penyerahan ini adalah penyingkiran orang itu dari bait Allah yang kudus.
Kita semua harus belajar dari Paulus untuk mengerjakan segala sesuatu dengan roh kita. Banyak hal yang tidak kita kerjakan dengan roh. Akan tetapi, Paulus menanggulangi situasi yang dilukiskan dalam pasal 5 sepenuhnya dengan rohnya. Dengan rohnya ia menghukum dan dengan rohnya ia menyerahkan orang jahat itu kepada Iblis.
II. MEMELIHARA
HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI
Dalam ayat 6 Paulus melanjutkan berkata, ”Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi membuat seluruh adonan mengembang?” Walaupun di antara kaum beriman Korintus terdapat kekacauan dan dosa percabulan yang kasar, mereka masih saja bermegah dan membanggakan diri. Surat rasul menunjukkan bahwa adanya dosa di antara mereka seharusnya membuat mereka merendahkan diri dan menyadari bahwa kemegahan mereka tidaklah baik.
Berbicara masalah ragi, boleh jadi pemikiran Paulus mungkin adalah: jangankan ada dosa kasar seperti yang ada di antara mereka, sedikit ragi saja, sedikit dosa, bisa mengkhamirkan dan mencemarkan seluruh adonan, seluruh gereja.
Dalam ayat 7 Paulus melanjutkan, ”Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebagaimana kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih.” Perkataan ”baru” dalam ayat ini secara harfiah berarti baru ada, baru dalam waktu. Adonan yang baru mengacu kepada gereja, yang terdiri atas kaum beriman dalam sifat mereka yang baru.
Kata-kata ”anak domba Paskah” dalam bahasa aslinya adalah ”Paskah” (tanpa kata-kata anak domba). Mengatakan Kristus adalah Paskah kita, menunjukkan bahwa Paulus menganggap kaum beriman adalah umat pilihan Allah, yang telah melewati mereka, sebagaimana dilambangkan oleh Paskah dalam Keluaran 12. Dalam Paskah ini, Kristus tidak hanya Domba Paskah, lebih-lebih adalah seluruh Paskah. Untuk menjadi Paskah kita, Dia disembelih dan dipersembahkan di atas salib, menebus kita, agar kita didamaikan dengan Allah. Itulah sebabnya, kita dapat menikmati Dia sebagai perayaan di hadapan Allah. Dalam perayaan ini tidak boleh ada ragi, karena dosa dan Kristus Sang Penebus tidak dapat tinggal berdampingan.
Dalam ayat 7 Paulus berkata bahwa kaum beriman Korintus tidak beragi. Tidakkah ini sulit dipercaya? Bagaimana kaum beriman di Korintus dapat tidak beragi? Pada keempat pasal yang pertama dari Surat Kiriman ini, mereka ditegur oleh Paulus karena perpecahan. Apakah perpecahan bukan ragi? Apakah iri hati, cemburu, perselisihan, dan kesombongan bukan perkara-perkara yang berdosa? Lalu, bagimana Paulus dapat mengatakan bahwa kaum beriman di sana tidak beragi? Kelihatannya ini adalah suatu kontradiksi. Sebenarnya, di sini sama sekali tidak ada kontradiksi. Alkitab selalu menyajikan satu pemandangan yang lengkap dari suatu masalah, khususnya dari sejarah kita sebagai kaum beriman. Maksudnya, Alkitab mewahyukan dua sisi dari suatu masalah. Pada satu sisi, kita memiliki Kristus; pada sisi lain, kita memiliki hakiki kita dalam sifat kita yang telah jatuh. Menurut sisi yang satu, sisi Kristus, kita adalah kudus. Kita adalah orang kudus dalam Kristus. Dalam 1:2 Paulus menunjukkan bahwa kita ”dikuduskan dalam Kristus Yesus, orang-orang ku-dus yang terpanggil.” Jadi, dalam Kristus kita tidak beragi. Tetapi dari sisi lain, sisi alamiah kita, kita penuh dengan ragi. Masalahnya, apakah kita makan roti yang tidak beragi atau yang beragi. Dengan kata lain, kita memperhidupkan Kristus atau diri kita sendiri? Jika kita memperhidupkan Kristus, kita makan roti yang tidak beragi. Tetapi bila kita memperhidupkan diri kita sendiri, kita makan roti yang beragi.
Dalam ayat 7 Paulus menyuruh kita membuang ragi yang lama supaya kita bisa menjadi adonan yang baru, sama sekali tidak beragi. Kita perlu menjadi adonan yang baru menurut Kristus. Kita tidak beragi dalam Kristus, dan seharusnya hidup menurut Dia, tidak menurut diri sendiri.
Dalam ayat 8 Paulus berkata, ”Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” Pesta di sini mengacu kepada Hari Raya Roti Tidak Beragi sebagai kelanjutan Paskah (Kel. 12:15-20). Hari Raya ini berlangsung selama tujuh hari, jangka waktu yang lengkap, menandakan seluruh waktu hidup kristiani kita, dari hari pertobatan kita sampai pada hari keterangkatan kita. Ini adalah masa perayaan yang panjang. Kita tidak boleh merayakannya dengan ragi yang lama, yaitu dosa dari sifat kita yang usang, tetapi dengan roti tidak beragi, yaitu Kristus dari sifat kita yang baru sebagai rawatan dan kenikmatan kita. Hanya Dialah suplai hayat yang sejati dan riil, mutlak murni, tanpa campuran, bahkan penuh realitas. Perayaan adalah waktu untuk menikmati pesta. Seluruh kehidupan orang Kristen seharusnya merupakan pesta yang demikian, menikmati Kristus sebagai pesta kita, sebagai suplai hayat yang limpah bagi kita.
Dari ayat 7 dan 8 kita mengetahui bahwa di sini kita memiliki dua pesta. Ketika beroleh selamat, kita menikmati hari raya Paskah. Tetapi kini, sepanjang hidup kristiani kita, kita harus menikmati hari raya roti tidak beragi. Dalam perlambangan, tujuh hari dari hari raya roti tidak beragi menandakan seluruh hidup kristiani kita. Tanpa 1Korintus 5, kita tidak akan mengira hidup kristiani kita merupakan satu hari raya sedemikian. Tetapi menurut ayat 8, kita nampak bahwa kehidupan kristiani adalah suatu hari raya roti tidak beragi, yaitu suatu pesta untuk menikmati Kristus sebagai suplai hayat tanpa ragi.
Dalam Surat 1 Korintus Paulus membandingkan kaum beriman di Korintus, dan juga dirinya sendiri, dengan bani Israel. Ia mengambil sejarah bani Israel sebagai latar belakang Surat Kiriman ini. Hal ini memberikan satu tumpuan kepada kita untuk mengatakan bahwa sejarah bani Israel merupakan suatu lambang yang lengkap dari hidup kristiani kita dalam gereja. Dalam ayat 7 Paulus berbicara tentang ”Paskah kita, yaitu Kristus.” Jika Kristus adalah Paskah Paulus, sudah tentu Dia juga menjadi Paskah setiap orang beriman. Bani Israel tidak hidup secara individualistis; sebaliknya, mereka hidup, berkemah, berjalan, dan berperang bersama-sama. Kehidupan korporat mereka melambangkan kehidupan kita di dalam gereja. Karena itu, ketika membaca sejarah bani Israel, kita harus menyadari bahwa kita sedang membaca sejarah kita sendiri. Apa yang menimpa mereka merupakan lambang dari pengalaman kita hari ini. Mereka makan manna di padang gurun; kita juga makan manna. Mereka minum air hidup; kita juga minum air hidup. Mereka mempunyai batu karang yang mengikuti mereka; kita juga mempunyai batu karang. Mereka mengalami Paskah; kita juga mempunyai Paskah, Paskah yang adalah Kristus itu sendiri. Selain itu, setelah Paskah, mereka mengadakan hari raya roti tidak beragi. Ini menunjukkan bahwa kita juga harus merayakan hari raya ini. Kehidupan gereja adalah hari raya roti tidak beragi. Karena alasan inilah, setiap ragi yang ada harus dibersihkan dari gereja.
Roti tidak beragi menunjukkan hidup yang tanpa dosa, tanpa ragi. Di dalam diri sendiri, kita tidak dapat memiliki kehidupan semacam ini. Akan tetapi, dalam Kristus, kita dapat menempuh satu kehidupan yang tanpa dosa. Kita telah diletakkan ke dalam Kristus, dan kini kita harus belajar hidup di dalam Kristus dan oleh Kristus. Kemudian Dia akan menjadi suplai hayat yang tidak beragi bagi kita. Dia akan menjadi sumber, pancaran dari hayat dan kehidupan yang tanpa dosa. Karena kita memiliki sumber dan suplai yang sedemikian ini, tidaklah mustahil bagi kita untuk menempuh satu kehidupan tanpa dosa.
Jika kita mau menempuh satu kehidupan tanpa dosa, maka setiap hari kita harus makan Kristus sebagai roti yang tidak beragi. Para ahli gizi mengatakan bahwa kita akan menjadi seperti apa yang kita makan. Jika kita makan roti tidak beragi, akhirnya kita akan tersusun dari roti yang tidak beragi. Kemudian kita akan menempuh satu kehidupan yang tanpa ragi. Meskipun di dalam diri sendiri kita tidak mungkin tidak berdosa, namun di dalam Kristus kita dapat menjadi tanpa dosa melalui makan Dia sebagai sumber dan suplai dari hayat yang tanpa dosa. Karena Kristus, sumber kita, tidak beragi, maka jika kita berpesta dengan Dia setiap hari, kita dapat memiliki satu kehidupan gereja yang tanpa ragi.
Dalam menulis Surat Kiriman ini, Paulus damba membawa orang-orang Korintus yang menyeleweng, kembali kepada visi inti ekonomi Allah. Ia tahu, begitu mereka dipulihkan, bereslah sudah. Tetapi jika mereka tetap jauh dari visi ini, mereka akan tetap berdosa dalam kehidupan mereka. Prinsip ini berlaku bagi gereja secara korporat maupun bagi kaum beriman secara individual.
Kita perlu belajar memulihkan orang lain kepada visi inti, bukan hanya menanggulangi kegagalan dan dosa-dosa mereka. Dalam kedua pasal pertama dari surat ini, Paulus meletakkan satu dasar yang kuat bagi segala masalah yang dibahasnya kemudian. Segala sesuatu yang Paulus tanggulangi dalam Surat Kiriman ini didasarkan pada dua pasal yang pertama. Hal ini menunjukkan bahwa semua hubungan kita dengan gereja dan orang kudus harus berdasar pada kebutuhan untuk kembali kepada Kristus dan kepada visi inti. Kita harus membantu orang lain melihat bahwa alasan penyimpangan mereka adalah karena mereka berpaling dari visi inti kepada yang lain. Jika mereka kembali kepada Kristus, mereka akan kembali kepada hari raya roti tidak beragi.
III. MENGUCILKAN YANG JAHAT DARI GEREJA
Dalam ayat 9-13 kita melihat bahwa yang jahat harus dikucilkan dari gereja. Dalam ayat 13 Paulus berkata, ”Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.” Maksudnya adalah memutuskannya dari persekutuan gereja, sebagaimana dilambangkan oleh pemisahan penderita kusta dari umat Allah (Im. 13:45-46). Hal ini sangat serius. Paulus telah menjatuhkan hukuman atas orang yang melakukan kejahatan itu, dan ia berharap kaum beriman di Korintus berbuat demikian pula, serta menyingkirkan orang yang demikian dari tengah-tengah mereka.
Ayat 11 mengatakan, ”Tetapi yang kutuliskan kepada kamu sekarang ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara seiman, adalah orang cabul, tamak, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk, atau penipu; dengan orang yang demikian jangan-lah kamu sekali-kali makan bersama-sama.” Di sini Paulus tidak hanya menyebut satu macam orang jahat, tetapi beberapa macam. Selain itu, Paulus tidak hanya menanggulangi dosa tertentu, tetapi menanggulangi orang-orang yang melakukan dosa tertentu; ia juga menanggulangi orang-orang yang hidup di dalam dosa itu. Ada satu perbedaan yang penting di sini. Misalnya, berbuat zina berbeda dengan menjadi pezina, orang yang hidup dalam dosa itu dan tinggal di dalamnya. Seorang pezina bukan hanya orang yang berbuat zina seperti yang dilakukan Daud dalam Perjanjian Lama; dia adalah orang yang hidup di dalam dosa itu. Dosa itu menjadi kehidupannya. Jadi, orang semacam itu menjadi seorang pezina. Dalam pasal ini Paulus menanggulangi orangnya, tidak hanya dosanya. Berarti, ia tidak saja menyingkirkan dosa dari gereja; ia juga menghukum dan menyingkirkan orang yang berdosa. Andaikata, karena kelemahannya, seorang saudara melakukan satu dosa yang khusus, kita harus membantunya bertobat, meninggalkan dosa itu, dan kembali kepada Tuhan. Jika dia mau berbuat demikian dan jika dia menghasilkan buah pertobatan, gereja tentu akan mengampuninya. Akan tetapi, jika dia tinggal dalam dosa yang khusus itu dan hidup di dalamnya, dia harus diusir dari persekutuan gereja. Kalau tidak demikian, seluruh gereja akan menjadi khamir.
Dalam pasal ini kita mempunyai beberapa butir yang penting. Pertama, gereja harus murni, tidak beragi, dan tidak boleh mentolerir orang yang berdosa. Kedua, kita harus belajar melatih roh kita dan menggunakan roh kita dalam setiap situasi. Ketiga, kita perlu nampak bahwa sebagai orang yang telah mengalami Paskah, kini kita harus menikmati hari raya roti tidak beragi terus-menerus. Akhirnya, jika seseorang benar-benar menjadi jahat dan menolak bertobat, dia harus disingkirkan dari kehidupan gereja. Akan tetapi, jika orang semacam ini akhirnya bertobat dan menghasilkan buah-buah pertobatan, gereja akan mengampuni dia serta menerimanya kembali ke dalam persekutuan. Jika kita merenungkan semua hal ini, kita akan mendapatkan satu pemahaman yang jelas tentang bagaimana menanggulangi orang yang jahat dalam kehidupan gereja.