← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 14/25

PARA PELAYAN RAHASIA ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 4:10-21

Dalam 4:9 Paulus berkata, ”Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah (terakhir), sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.” Di sini perkataan Paulus ”menurut pendapatku” sungguh bermakna. Maksudnya Paulus tidak benar-benar yakin. Hal ini bukanlah masalah merendahkan diri; ini adalah masalah berbicara menurut prinsip inkarnasi. Paulus tidak mengatakan, ”Demikianlah firman Tuhan.” Ia juga tidak mengatakan, ”Saudara dan saudari, tidak tahukah kamu bahwa aku sedang berbicara di dalam roh?” Dalam aliran Pentakosta hari ini terdapat satu praktek mengumumkan, ”Demikianlah firman Tuhan.” Akan tetapi praktek semacam itu tidak menurut prinsip Perjanjian Baru.

Dalam pasal ini Paulus berbicara dengan terus terang, tetapi sangat akrab. Ia menegur, mengajar, mengoreksi, menyesuaikan, dan mendisiplin kaum beriman, tetapi dengan sikap yang sangat akrab. Kemudian pada butir tertentu ia menyisipkan kata-kata ”menurut pendapatku”. Saya yakin Paulus tahu bahwa pembicaraannya benar-benar dari Allah. Namun, ia mengatakan ”menurut pendapatku”, karena ia tahu bahwa prinsip Perjanjian Baru adalah prinsip inkarnasi. Menurut prinsip ini, Allah berbicara dalam pembicaraan kita. Allah dan manusia menjadi satu. Ketika manusia dan Allah berbaur dalam mengerjakan hal tertentu, itulah pekerjaan Allah dan pekerjaan manusia. Karena perkataan ”menurut pendapatku” mengilustrasikan prinsip ini, saya menganggap penyisipannya dalam ayat 9 sungguh mustika. Betapa bermaknanya: Allah berbicara dalam pembicaraan kita! Anak kalimat ”menurut pendapatku” menunjukkan bahwa Paulus sedang berbicara. Namun, menurut prinsip inkarnasi, pembicaraan Paulus adalah pembicaraan Allah. Karena Paulus dan Allah bersatu, ketika Paulus berbicara, Allah juga berbicara. Inilah makna perkataan ”menurut pendapatku” yang dipakai dalam ayat ini.

Dalam ayat 9 Paulus menggunakan frase ”yang terakhir” (paling rendah). Pengertian umum dari pernyataan ini pada zaman itu mengacu kepada bagian akhir dari suatu pertunjukan di gelanggang pertunjukan.

Menurut kebiasaan kuno, ketika para kriminal bertarung melawan binatang-binatang buas di gelanggang pertunjukan untuk menghibur khalayak ramai, para kriminal itu dipertunjukkan pada kesempatan terakhir. Akting ter-akhir, pertunjukan terakhir, adalah para kriminal terhukum bertarung melawan binatang buas untuk menghibur orang banyak. Frase ”yang terakhir” mengacu kepada ini. Dalam ayat 9 Paulus menggunakan ungkapan ini secara kiasan untuk membawakan pemikiran bahwa Allah telah memberi rasul tempat yang terakhir dari semua, seolaholah mereka adalah para kriminal terendah yang dihukum mati, untuk menghibur orang banyak.

Kata ”tontonan” di sini dalam bahasa aslinya mengacu kepada suatu pameran, pertunjukan yang dibuat dalam bentuk theater sebagai hiburan. Jadi, Paulus berkata kepada orang-orang Korintus, ”Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kamu. Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah (terakhir), sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati.”

Ketika Paulus berkata, ”Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian bahwa kamu telah menjadi raja,” ia menunjukkan bahwa orang-orang Korintus sebenarnya tidak memerintah seperti raja. Sebaliknya, mereka dalam khayalan. Fakta bahwa mereka belum menjadi raja dibuktikan oleh perkataan Paulus tentang para rasul yang diberi tempat yang terakhir. Seolah-olah Paulus berkata, ”Allah belum menjadikan kami raja pada zaman ini. Sebaliknya, Dia telah memperlakukan kami seperti kriminal-kriminal yang dijatuhi hukuman mati, untuk bertarung dengan binatang buas.” Kiasan ini menyajikan satu lukisan yang hidup dari situasi para rasul. Jauh dari memerintah sebagai raja, mereka seperti kriminal-kriminal yang dijatuhi hukuman untuk bertarung dengan binatang buas untuk menghibur orang banyak. Ini adalah nasib kita hari ini dalam pandangan manusia. Akan tetapi, dalam pandangan Allah, nasib kita ialah menikmati Kristus. Kita yang menikmati Kristus telah menjadi kriminal dalam pandangan manusia untuk kenikmatan mereka. Tetapi dalam pandangan Allah, Kristuslah nasib kita bagi kenikmatan kita. Banyak yang mengejek dan mencemooh kita. Tetapi sementara mereka mencemooh kita untuk hiburan mereka, kita menikmati Kristus. Hal ini memperlihatkan bahwa kita memiliki dua nasib. Nasib kita dalam pandangan Allah adalah memiliki Kristus untuk kita nikmati. Nasib kita dalam pandangan manusia adalah dianggap sebagai kriminal yang dijatuhi hukuman mati untuk hiburan orang lain. Jika kita setia seperti Paulus, ini akan menjadi nasib kita di hadapan manusia. Kita akan diberi tempat yang terakhir, dan kita akan menjadi tontonan para malaikat dan manusia.

III. SAMPAH DUNIA DAN KOTORAN

DARI SEGALA SESUATU

Satu Korintus 4 sangat akrab. Di sini kita melihat seorang bapa yang menegur, mengajar, mengoreksi, dan bahkan mendisiplin dengan akrab terhadap anak-anaknya yang bersalah. Ketika membaca pasal ini, kita dapat merasakan keakraban antara penulis dan kaum beriman di Korintus.

Setelah menunjukkan bahwa para rasul telah menjadi satu tontonan bagi dunia, Paulus melanjutkan berkata dalam ayat 10, ”Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.” Para rasul rela menjadi bodoh karena Kristus dengan meninggalkan hikmat manusia mereka. Tetapi kaum beriman Korintus yang bersifat daging (karnal) menjadi manusia arif di dalam hikmat alamiah, meskipun mereka mengatakan bahwa mereka berada di dalam Kristus. Paulus tidak mengatakan bahwa mereka adalah filsuf-filsuf karena Kristus; ia menyatakan bahwa mereka bodoh karena Kristus. Di satu pihak, setiap orang beriman dalam Kristus harus menjadi orang bodoh. Banyak orang yang berhikmat di dunia ini menjadi bodoh karena Kristus. Meskipun para rasul telah menjadi bodoh karena Kristus, orang Korintus tetap mengejar kebijaksanaan.

Dalam ayat 10 Paulus juga berkata, ”Kami lemah, tetapi kamu kuat.” Ketika para rasul menyuplaikan Kristus, mereka seolah-olah lemah, karena mereka tidak menggunakan kekuatan atau kemampuan alamiah mereka (1Kor. 2:3). Tetapi kaum beriman Korintus yang karnal kelihatannya kuat, menuntut diakui sebagai orang-orang yang hebat di antara kaum beriman dengan menggunakan kemampuan alamiah mereka.

Dalam ayat 10 Paulus juga memberitahu orang-orang Korintus, ”Kamu mulia, tetapi kami hina.” Kaum beriman Korintus mulia, terhormat, terlihat penuh semarak. Tetapi para rasul dihina dan dipandang rendah oleh orang-orang Korintus yang mencari kemuliaan. Dari sini kita dapat melihat bahwa orang-orang Korintus sama sekali tidak benar dalam menempuh perlombaan kekristenan mereka.

Dalam ayat 11-13 Paulus melanjutkan, ”Sampai saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah.” ”Difitnah” berarti ”dihina, dibicarakan dengan maksud untuk melukai”. ”Menjawab dengan ramah” di sini berarti memohon dengan nasihat, penghiburan, dan dorongan untuk menenangkan/meneduhkan.

Dalam ayat 13 Paulus berkata, ”Kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” ”Sampah dunia” dan ”kotoran” adalah sinonim. Sampah mengacu kepada apa yang dibuang ketika diadakan pembersihan; karena itu berarti barang tak berguna, kotoran. ”Kotoran” mengacu kepada apa yang dihapuskan; karena itu berarti sampah, barang yang tak berguna. Kedua istilah ini digunakan secara kiasan, khususnya ditujukan kepada para kriminal kelas terendah yang telah dihakimi, yang dilemparkan ke dalam laut atau kepada binatang-binatang buas yang liar di gelanggang pertunjukan. Di sini Paulus menyamakan dirinya sendiri seperti para kriminal yang terendah, sampah, kotoran, limbah, barang yang dibuang.

Dibandingkan dengan teman-teman saya dahulu, saya juga adalah kotoran dan sampah. Mereka telah sangat sukses dan memperoleh banyak kekayaan. Mereka menganggap saya orang bodoh dan heran terhadap apa yang saya kerjakan dalam hidup ini. Kadang-kadang saya berjumpa dengan teman-teman lama. Ketika mereka menanyakan pekerjaan saya, saya ragu-ragu menjawabnya. Mereka telah menjadi sangat sukses, tetapi kita telah menjadi sampah dunia dan kotoran dari segala sesuatu. Kita hanya layak dibuang sebagai sampah. Inilah perkiraan Paulus tentang penilaian orang Yahudi dan orang kafir terhadap dirinya.

IV. BAPA YANG MELAHIRKAN

Ayat 14-21 adalah bagian yang paling akrab dari pasal ini. Di sini kita nampak bahwa Paulus adalah seorang bapa yang melahirkan. Seolah-olah ia berkata kepada orang-orang Korintus, ”Memang, aku adalah sampah dan kotoran. Tetapi aku adalah seorang bapa yang telah melahirkan banyak anak. Dalam Kristus Yesus aku telah melahirkan kalian melalui Injil.”

Dalam ayat 14 Paulus berkata, ”Hal ini kutuliskan bukan untuk mempermalukan kamu, tetapi untuk menegur kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.” Jika saya adalah orang beriman yang menerima surat ini di Korintus, saya akan menjadi malu sekali setelah membaca ketiga belas ayat yang pertama dari pasal ini. Saya akan berkata sendiri, ”Bapa rohaniku berkata bahwa aku menyanjung diri sendiri, tetapi ia menganggap diri sendiri adalah sampah dan kotoran. Hal ini memalukan aku.” Akan tetapi, Paulus berkata bahwa ia menulis hal ini bukan untuk mempermalukan mereka, namun untuk menegur mereka sebagai anak-anak yang dikasihi.

Dalam ayat 15 Paulus melanjutkan berkata, ”Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapak. Akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapakmu karena Injil.” Kata ”pendidik” dalam bahasa aslinya berarti para pengajar kanak-kanak; sebagaimana dalam Galatia 3:24-25. Para pengajar kanak-kanak memberikan pengajaran dan pengarahan kepada anak-anak di bawah asuhan mereka, para bapa membagikan hayat kepada anak-anak yang mereka lahirkan. Rasul adalah bapa yang sedemikian. Dia telah melahirkan kaum beriman Korintus di dalam Kristus melalui Injil, menyalurkan hayat Allah ke dalam mereka, agar mereka menjadi anak-anak Allah dan anggota-anggota Kristus.

Ayat 16 melanjutkan, ”Sebab itu aku menasihatkan kamu: Turutilah teladanku!” Kata ”menasihatkan” dalam bahasa aslinya sama dengan yang digunakan dalam ayat 13. Dalam menasihati orang-orang Korintus untuk menuruti teladannya, Paulus seolah-olah berkata, ”Anak-anakku, janganlah menjadi raja, tetapi relakanlah dirimu direndahkan sebagai para kriminal dalam pemandangan manusia. Janganlah menjadi filsuf-filsuf, tetapi jadilah sampah dan kotoran. Berpalinglah dari hakikimu pada masa lampau dan ikutilah teladanku. Hari ini kami, para rasul, direndahkan di hadapan manusia demi Kristus. Kami telah menjadi bodoh karena Kristus. Kami telah dijadikan tontonan malaikat-malaikat dan manusia, kami adalah para kriminal yang divonis hukuman mati, dan kamilah sampah dan kotoran. Tetapi bagi kamu, aku adalah bapa yang melahirkan kamu.”

Dalam ayat 17 Paulus berkata, ”Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang terkasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan mengingatkan kamu akan cara hidupku dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.” ”Cara hidupku” mengacu kepada cara hidup dan perilaku rasul ketika ia mengajar kaum saleh di setiap gereja. Pernyataan ”dalam setiap jemaat” menunjukkan dua hal: (1) pengajaran para rasul sama secara universal, tidak berbeda-beda karena tempat; dan (2) di mana-mana sama dengan setiap gereja, setiap gereja sama dengan di mana-mana.

Surat ini dibawa ke Korintus oleh Timotius. Jadi Paulus tidak hanya menulis Surat Kiriman ini; ia juga mengirim rekan sekerjanya untuk mengunjungi orang-orang Korintus dengan membawa Surat Kiriman ini. Dengan ini kita nampak bahwa Paulus memiliki hubungan yang intim dan pribadi dengan kaum beriman di Korintus.

Dalam ayat 18 dan 19 Paulus memberi tahu orang-orang Korintus, ”Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu. Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya.” Inilah jawaban Paulus kepada orang-orang di Korintus yang menanyakan mengapa Paulus sendiri tidak datang kepada mereka. Beberapa orang dari mereka menjadi sombong, karena menyangka ia tidak akan mengunjungi mereka. Tetapi Paulus berkata bahwa jika Tuhan menghendaki, tidak lama lagi ia akan berkunjung ke Korintus. Jika menurut kemauannya sendiri, ia pasti datang. Tetapi menurut cara pembicaraan Perjanjian Baru, Paulus menyisipkan perkataan ”kalau Tuhan menghendaki” untuk menunjukkan bahwa mungkin Tuhan tidak mengirim ia ke sana. Jadi jika Tuhan menghendaki, ia akan datang. Tetapi jika Tuhan tidak menghendakinya mengunjungi Korintus, Paulus tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam ayat 19 dan 20 Paulus berkata, ”Dan aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka. Sebab Kerajaan Allah tidak terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.” Perkataan Paulus tentang Kerajaan Allah mengacu kepada hidup gereja. Hal ini menyiratkan dalam hal kuasa, gereja hari ini adalah Kerajaan Allah. Paulus tahu bahwa Kerajaan Allah bukanlah dalam perkataan, tetapi dalam kuasa. Karena alasan ini, ia ingin mengetahui kuasa mereka yang menjadi sombong.

Ayat 21 adalah kesimpulan dari pasal ini: ”Apa yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan (roh yang) lemah lembut?” Perkataan ini dikatakan kepada kaum beriman Korintus berdasarkan bahwa rasul adalah bapa rohani me-reka. Dengan demikian, Paulus memiliki kedudukan dan tanggung jawab untuk mendisiplin anak-anaknya.

Di sini, satu roh yang lemah lembut mengacu kepada roh rasul yang dilahirkan kembali yang dihuni dan berbaur dengan Roh Kudus. Roh yang lemah lembut adalah roh yang dijenuhi dengan kelemahlembutan Kristus (2 Kor. 10:1), yang menyatakan kebajikan Kristus.

Menurut perkataan Paulus dalam ayat 21, ia gembira atau tidak, marah atau lemah lembut? Saya katakan dalam pasal ini ia bergembira juga tidak bergembira, marah dan juga lemah lembut. Namun, hal ini bukan berarti Paulus bermuka dua. Sebaliknya, ini mewahyukan bahwa manusia rohani yang sejati itu dapat lemah lembut kemudian seketika itu juga ia bisa menjadi marah. Sebenarnya, seorang manusia rohani dapat lemah lembut sementara ia sedang marah.

Jika Anda tidak rohani, mungkin Anda memerlukan berhari-hari untuk meredakan amarah Anda. Tetapi kemarahan seorang manusia rohani dapat mereda seketika. Andaikan seorang saudara menyinggung Anda, dan Anda menjadi marah, jikalau Anda harus menunggu sejangka waktu yang panjang untuk meredakan amarah, itu membuktikan bahwa Anda bukanlah manusia rohani. Semakin cepat amarah Anda mereda, semakin rohanilah Anda. Para saudari, jika Anda tidak dapat marah kepada suami Anda dan semenit kemudian menjadi lemah lembut, kerohanian Anda tidak asli. Jikalau Anda memerlukan berjam-jam untuk berpaling dari kemarahan Anda dan gembira dengan suami Anda, Anda hanyalah memiliki kerohanian buatan manusia.

Paulus adalah seorang yang dapat marah dalam sekejap kemudian bergembira. Hal ini menunjukkan bahwa ia benar-benar seorang manusia rohani. Jadi, benarlah mengatakan bahwa dalam pasal ini Paulus marah kepada orang Korintus, juga lemah lembut terhadap mereka.

Saudari-saudari, jika Anda marah terhadap suami Anda, berapa lama amarah Anda baru reda? Apakah Anda memerlukan berhari-hari baru dapat bercakap-cakap serta bergembira kembali dengannya? Para penatua, jika Anda tersinggung oleh penatua lainnya, berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk mengatasi kejengkelan itu? Apakah Anda memerlukan waktu satu minggu baru dapat bersekutu kembali dengan nyaman bersama orang yang menjengkelkan Anda? Para penatua mungkin menyajikan berita-berita tentang kerohanian, tetapi mereka mungkin tidak tahu bagaimana menjadi rohani yang sejati dengan sesama orang beriman. Tentunya bila seorang saudara setelah lewat beberapa hari baru dapat mengatasi kejengkelannya, itu bukanlah kerohanian yang sejati.

Dalam 1Korintus 4 kita melihat bahwa Paulus sungguhsungguh tidak gembira terhadap kaum beriman Yunani di Korintus. Akan tetapi, perasaan tidak gembira itu dapat seketika lenyap. Ia dapat bertanya dalam ayat 21, apakah mereka menginginkan ia datang dengan cambuk, atau dalam kasih dan roh yang lemah lembut. Apakah ini perkataan marah atau lemah lembut? Sulit dikatakan, se-bab Paulus sebenarnya marah dan lemah lembut pada saat yang bersamaan.

Jika kita tidak mengetahui bagaimana marah dengan pantas, kita tidak dapat menjadi rohani, juga tidak dapat benar-benar menjadi manusiawi. Sebaliknya, kita akan menjadi seperti patung, kekurangan perasaan manusiawi. Semakin rohani, kita semakin mudah marah. Jika Anda tidak cepat marah, ini menunjukkan bahwa Anda tidak benar-benar rohani.

Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa pemikiran tentang kerohanian yang demikian sangat keliru. Akan tetapi, dari pengalaman saya tahu bahwa faktanya memang demikian. Semakin kita menjadi rohani, kita makin mudah marah. Karena kalau kita benar-benar rohani, kita menjadi sejati. Kita tidak bersembunyi atau pura-pura. Jika Anda tinggal bersama saya sejangka waktu, dan tidak pernah memarahi saya, saya tidak akan mempercayai Anda. Kemungkinan Anda adalah seorang politisi yang pintar. Saya tidak dapat percaya bahwa Anda dapat tinggal bersama saya selama berbulan-bulan tanpa dijengkelkan oleh saya. Saya menyadari sepenuhnya bahwa hal-hal tertentu yang saya lakukan menimbulkan kejengkelan pada orang lain. Jika seseorang dapat tinggal bersama saya tanpa jengkel sedikit pun, kerohaniannya pasti tidak murni. Dia pastilah seorang persona tanpa darah dan daging. Tetapi karena kita semua manusia berdarah daging, kita semua tahu apa itu marah-marah. Namun, jika kita main politik seorang terhadap yang lain, kita akan menutupi amarah kita. Seorang manusia rohani yang sejati, tidak menyembunyikan amarahnya. Di satu pihak, ia mudah marah; di pihak lain, ia mudah berpaling dari kemarahannya.

Renungkan lagi apa yang dikatakan Paulus dalam ayat 21. Ia bertanya, ”Apa yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan (roh yang) lemah lembut?” Apakah ayat ini bersifat Alkitabiah? Jika perkataan ini tidak terdapat di Alkitab, tidak seorang pun dari kita menganggapnya Alkitabiah. Mungkin perkataan berikut ini kedengaran lebih Alkitabiah, ”Waktunya sudah dekat, hai umat-Ku. Aku akan segera datang. Aku mengasihimu, dan hendaklah kamu pun mengasihi Aku. Demikianlah firman Tuhan.” Tetapi jika kita bertanya, apakah kita harus datang dengan cambuk atau dalam kasih dan roh yang lemah lembut, apakah ini kedengarannya Alkitabiah? Ayat 21 kedengarannya seperti tulisan seseorang yang sedang marah-marah. Tetapi, kata-kata ini tercatat dalam Alkitab. Sekali lagi kita melihat bahwa Alkitab berbeda dengan buku-buku lainnya.

Andaikan saya marah kepada seorang saudara selama satu menit, kemudian segera berbaikan dengannya. Dia mungkin jengkel dan mengkritik saya tidak rohani. Akan tetapi, kerohaniannya mungkin tidak asli, sebaliknya kerohanian saya mungkin malah yang sejati. Saya ulangi, seorang manusia yang benar-benar rohani dapat dengan cepat beralih dari kelemahlembutan kepada amarah atau dari amarah kepada kelemahlembutan.

Saya sangat mengapresiasi 1Korintus 4. Dalam pasal ini kita dapat melihat satu keinsanian yang sangat sejati, keinsanian tanpa kepura-puraan. Tetapi, keinsanian ini penuh dengan hayat. Jika kita membaca perkataan Paulus berulang-ulang, khususnya jika kita mendoabacakannya, kita akan menjamah hayat. Meskipun ayat 21 mungkin kedengarannya tidak terlalu Alkitabiah, tetapi ayat itu adalah ayat yang penuh dengan bobot hayat. Sebaliknya pengucapan kata-kata tertentu yang diakhiri dengan, ”Demikianlah firman Tuhan,” boleh jadi kekurangan hayat sama sekali. Perkataan Paulus dalam 1Korintus 4 penuh dengan bobot hayat.

Kita semua perlu belajar dari Paulus untuk memiliki kerohanian yang sejati. Jika kita benar-benar rohani, kita tidak akan menyembunyikan amarah, tidak berpura-pura, dan tidak akan berpolitik. Sebaliknya, kita akan mempunyai keinsanian yang sejati dan hanya mempertahankan hakiki kita di dalam Kristus. Inilah jenis hayat yang dapat menyalurkan kekayaan Kristus yang tidak terduga ke dalam kaum beriman. Orang yang mempunyai keinsanian semacam ini memenuhi syarat untuk menjadi pengurus rumah tangga dalam keluarga Allah.

Semua penatua perlu mempunyai keinsanian yang dilukiskan dalam pasal ini. Hanya penatua yang mempunyai keinsanian yang sejati baru dapat membangun gereja. Mereka yang pintar, politis, yang tidak pernah menjengkelkan orang lain dan tidak pernah membuat kesalahan, tidak dapat membangun gereja. Akan tetapi, saya tidak mengatakan mereka yang ceroboh dapat berguna dalam pembangunan gereja. Titik berat saya di sini ialah penatua dengan keinsanian yang benar, keinsanian yang tanpa kepura-puraan, dapat membangun gereja. Semua orang kudus perlu mempunyai keinsanian semacam ini. Dalam kehidupan gereja dan kehidupan pernikahan, kita perlu sejati. Janganlah bersembunyi atau pura-pura, sebaliknya kita harus seperti Paulus, memiliki keinsanian yang sejati dan kerohanian yang benar.

Di satu pihak, kita perlu menjadi seperti sampah dan kotoran; di pihak lain kita perlu menjadi bapa yang melahirkan. Jika kita bukan sampah, kotoran, dan juga bukan bapa yang melahirkan, pekerjaan kita hanya mempunyai sedikit pengaruh. Boleh jadi kita memberitakan hal-hal yang benar secara doktrinal, tetapi hasilnya sedikit. Seorang bapa yang melahirkan, seorang yang membagikan hayat kepada orang lain, harus menjadi seperti kriminal yang dijatuhi hukuman mati di hadapan manusia. Dia harus dianggap tidak berguna, sebagai orang bodoh, sebagai sampah dan kotoran. Jika kita menempuh kehidupan semacam ini di hadapan manusia, kita akan menjadi bapa-bapa yang mampu melahirkan banyak anak. Artinya, jika kita mau membagikan hayat kepada orang lain, kita harus direndahkan dalam pandangan manusia. Dalam pemulihan Tuhan hari ini lebih-lebih demikian. Untuk menjadi penyalur hayat, Anda harus dihina oleh agama. Orang Kristen duniawi akan berkata bahwa Anda adalah sampah, kotoran. Maka Anda akan menjadi penyalur hayat dan bapa yang melahirkan.