PARA PELAYAN RAHASIA ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 4:1-9
Pokok pembicaraan 1Korintus 4 adalah para pelayan (pengurus rumah tangga) rahasia Allah (4:1-21). Fokus pasal ini bukanlah Kristus, dan bukan pula gereja; melainkan para pelayan rahasia Allah. Dalam pasal 4:1 Paulus berkata, ”Demikianlah hendaknya orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba Kristus, (dan pelayan) yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.” Kata Yunani yang diterjemahkan ”para pelayan” dalam ayat ini berasal dari akar kata yang sama seperti “ekonomi” dalam 1Timotius 1:4 dan Efesus 1:10, yang berarti pengurus rumah tangga yang membagi-bagikan, pengatur rumah tangga, yang membagi-bagikan suplaian keluarga kepada anggota-anggota keluarganya. Para rasul diangkat oleh Tuhan menjadi para pelayan yang demikian, membagi-bagikan dan menyalurkan rahasia Allah Kristus adalah rahasia Allah dan gereja adalah rahasia Kristus (Kol. 2:2; Ef. 3:4), kepada kaum beriman. Pelayanan membagi-bagikan ini, tugas pengurus rumah tangga, adalah ministri para rasul.
Dalam ekonomi Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru, terutama ada dua rahasia. Rahasia pertama adalah Kristus sebagai rahasia Allah yang diwahyukan dalam Surat Kolose. Dalam Kolose 2:2 Paulus berbicara mengenai ”pengenalan yang penuh akan rahasia Allah, yaitu Kristus” (Tl.). Kristus adalah rahasia Allah. Dalam diri-Nya sendiri Allah adalah rahasia. Dia itu benar, hidup, dan mahakuasa, akan tetapi Dia tidak tertampak. Karena tidak seorang pun pernah melihat Allah, Dia adalah rahasia. Allah yang rahasia ini diwujudkan di dalam Kristus. Sebab itu, Kristus adalah rahasia Allah. Kristus bukan saja Allah, tetapi Dialah Allah yang terwujud, Allah yang didefinisikan, Allah yang dijelaskan, dan Allah yang ditampilkan. Karena itu, Kristus adalah Allah yang diperlihatkan. Tuhan Yesus berkata, ”Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Rahasia pertama dalam ekonomi Allah adalah Kristus, Allah yang terekspresi, sebagai rahasia Allah.
Rahasia kedua adalah rahasia Kristus, yang diwahyukan dan dijelaskan dalam Surat Efesus, khususnya dalam pasal 3. Kristus juga suatu rahasia. Dalam Efesus 3:4 Paulus menggunakan ungkapan ”rahasia Kristus”. Lagi pula Kolose 1:27 mengatakan, ”Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah (di dalam) kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Sebagai kaum beriman, kita memiliki Kristus yang berhuni di dalam kita. Tetapi Kristus yang kita miliki adalah suatu rahasia. Walaupun Kristus hidup di dalam kita, orang-orang duniawi tidak menyadari bahwa Dia ada di dalam kita. Bagi mereka, ini adalah satu rahasia.
Meskipun Kristus itu rahasia, namun gereja adalah penyataan Kristus. Sebagai Tubuh Kristus, gereja adalah ekspresi Kristus. Ketika kita melihat gereja, kita melihat Kristus. Ketika kita berkontak dengan gereja, kita berkontak dengan Kristus. Ketika kita datang ke dalam gereja, kita datang ke dalam Kristus. Gereja benar-benar rahasia Kristus.
Ketika menyinggung tentang rahasia Allah dalam 4:1, yang Paulus maksudkan ialah Kristus sebagai rahasia Allah dan gereja sebagai rahasia Kristus. Paulus dan rasul-rasul lain adalah pelayan rahasia ini.
Telah kita tunjukkan bahwa dalam bahasa Yunani, kata ”pelayan” dalam 4:1 berasal dari akar kata yang sama dengan kata ”ekonomi” yang digunakan di tempat lain. Kata ini, oikonomia, menunjukkan suatu administrasi atau kepengurusan rumah tangga. Dalam Perjanjian Baru seorang pelayan (pengurus rumah tangga) adalah seorang yang melayani, bertanggung jawab menyalurkan Allah kepada orang-orang dalam keluarga-Nya. Allah mempunyai satu keluarga yang sangat besar, dan keinginan hati-Nya ialah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam semua anggota keluarga-Nya.
Posisi seorang pelayan dalam keluarga Allah dapat dilukiskan dengan fungsi seorang kepala rumah tangga di dalam keluarga yang kaya pada zaman dulu. Seorang kepala rumah tangga dalam keluarga semacam itu bertanggung jawab atas pengaturan pembagian kebutuhan hidup sehari-hari makanan, pakaian, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya kepada anggota-anggota keluarga. Keluarga-keluarga yang kaya sering kali mempunyai persediaan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari yang berlimpah-limpah dalam gudangnya. Tanggung jawab seorang pengurus rumah tangga adalah menyalurkan suplai ini kepada anggota-anggota keluarga. Dengan menggunakan kiasan ini, Paulus menyebut dirinya sendiri sebagai seorang pelayan (pengurus rumah tangga) dalam keluarga Allah. Allah sangat kaya; Dia memiliki satu gudang yang sangat besar, berisi barang-barang yang akan disalurkan kepada anak-anak-Nya. Tetapi penyaluran ini memerlukan seorang pengurus rumah tangga. Jadi, seorang pengurus rumah tangga adalah seorang penyalur, seorang yang menyalurkan suplai hayat ilahi kepada anak-anak Allah.
Sebagai seorang penyalur, Paulus menyalurkan Kristus kepada kaum beriman. Dengan menerima penyaluran tersebut melalui Paulus, kaum beriman dapat bertumbuh dengan suplai yang telah mereka terima. Dengan demikian kita nampak bahwa ministri Paulus adalah ministri penyaluran, satu ministri penyaluran kekayaan Kristus yang tidak terduga kepada kita supaya kita boleh bertumbuh dan menjadi gereja. Paulus menyalurkan kekayaan Kristus bukan saja kepada orang kudus secara individual, tetapi juga kepada Tubuh secara korporat.
Pelayanan penyaluran Paulus disebut kepengurusan rumah tangga. Dengan kata lain, kepengurusan rumah tangga ini adalah ministri. Ministri adalah kepengurusan dan pelayanan rumah tangga yang menyalurkan kekayaan Kristus kepada orang-orang kudus anggota-anggota Tubuh, dan ke dalam gereja Tubuh secara keseluruhan. Semoga kita semua memiliki kesan yang mendalam terhadap kedua perkara yang penting dari rahasia Allah dan pengurus rumah tangga yang menyalurkan.
Jika kita membaca 1Korintus 4 dengan cermat, kita akan nampak bahwa pasal yang membicarakan pengurus rumah tangga rahasia Allah ini menekankan empat butir pokok: para hamba Kristus yang setia (ayat 1-5), tontonan bagi para malaikat dan bagi manusia (ayat 6-9), sampah dunia dan kotoran segala sesuatu (ayat 10-13), dan bapa yang melahirkan (ayat 14-21). Kita akan membahas dua butir yang pertama dalam berita ini dan dua butir yang terakhir dalam berita yang akan datang.
I. PARA HAMBA KRISTUS YANG SETIA
Dalam 4:1 Paulus berkata, ”Demikianlah hendaknya orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba Kristus, (dan pelayan) yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.” Yang Paulus maksudkan dengan ”demikianlah” adalah cara yang dilukiskan dalam 3:21-23. Dalam ayat-ayat ini Paulus memohon kita untuk tidak membanggakan manusia, karena segala sesuatu adalah milik kita, dan kita adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah.
Dengan demikian Paulus berkata, ia dipandang orang sebagai hamba Kristus. Kata Yunani yang diterjemahkan ”memandang” di sini juga berarti memperhitungkan, mengukur, atau menggolongkan. Paulus berkata bahwa ia dinilai atau dianggap sebagai hamba Kristus.
Kata hamba dalam ayat ini berarti seorang pelayan atau hamba yang ditunjuk, pejabat resmi yang diangkat secara khusus untuk tujuan tertentu (Kis. 26:16).
Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan, ”Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah bahwa mereka ternyata dapat dipercayai (setia).” Kata ”yang” dalam permulaan ayat ini dalam bahasa aslinya adalah ”di sini”, yaitu mengacu kepada di dalam tugas kepengurusan rumah tangga, pelayanan membagi-bagikan. Maksudnya dalam pelayanan membagi-bagikan ini, yang paling penting ialah para pelayan itu ternyata setia.
Di sini seolah-olah Paulus berbicara tentang dirinya sendiri. Banyak orang yang disebut manusia rohani hari ini beranggapan bahwa orang Kristen tidak seharusnya membicarakan dirinya sendiri. Ketika saya bersama Kaum Saudara (The Brethren), kami diajar untuk tidak membicarakan diri sendiri secara positif. Tetapi di sini Paulus seolaholah menunjukkan bahwa ia setia sebagai pelayan.
Dalam ayat 3 Paulus melanjutkan, ”Bagiku tidak begitu penting (sedikit sekali artinya) entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi.” Perkataan dihakimi mengacu kepada diselidiki untuk penghakiman atau dalam penghakiman, juga berarti dikritik. Paulus berkata bahwa baginya dihakimi oleh orang kudus atau oleh pengadilan manusia adalah perkara kecil. Hari penghakiman manusia adalah pada zaman ini, yang di dalamnya manusia menghakimi. Ini berlawanan dengan hari Tuhan (3:13), yang ada pada zaman yang akan datang, zaman Kerajaan, yang di dalamnya Tuhan akan menghakimi.
Dalam ayat ini Paulus juga memberi tahu kita bahwa ia bahkan tidak menghakimi diri sendiri. Ia menganggap dihakimi oleh orang-orang Korintus atau oleh manusia adalah perkara kecil, dan ia tidak mau menghakimi diri sendiri.
Dalam ayat ini ada dua perkara mendasar yang perlu kita pelajari. Pertama, jangan pedulikan kritik atau penghakiman orang lain. Sebagian besar orang Kristen tidak tahan dikritik atau dihakimi. Bila mengetahui dirinya dikritik orang, saudari tertentu tidak dapat tidur nyenyak dalam jangka waktu yang lama. Demikian pula saudara-saudara. Andaikata seorang saudara yang adalah penatua mengetahui seseorang telah mengkritik dirinya, ia tidak dapat tidur nyenyak semalam-malaman, sebab mungkin ia berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku adalah penatua di gereja, namun seseorang mengkritik aku.” Jika kita terganggu oleh kritikan, itu menunjukkan bahwa dihakimi oleh orang lain adalah perkara yang besar, bukan perkara kecil bagi kita, sehingga kita tidak dapat berkata bersama Paulus, ”Bagiku tidak begitu penting (hal yang sangat kecil) entahkah aku dihakimi oleh kamu.”
Empat puluh tahun yang lalu, saya benar-benar terganggu apabila dikritik. Adakalanya hal itu mempengaruhi makan dan tidur saya. Tetapi setelah melewati pengalaman selama bertahun-tahun, saya hampir-hampir tidak pernah terganggu oleh kritik. Saya tidak berkata bahwa kritik sa-ma sekali tidak pernah mengganggu saya. Akan tetapi, saya dapat bersaksi bahwa kritik sedikit sekali mengganggu saya, atau bahkan sama sekali tidak mengganggu saya. Sebenarnya, dihakimi dan dikritik adalah lumrah, biasa. Jika saya tidak dikritik, saya menjadi curiga apakah saya setia kepada amanat Tuhan. Seseorang yang hidup dan aktif akhirnya akan dikritik. Cara terbaik untuk menghindari kritik yaitu tidak berbuat apa-apa. Selama kita dengan aktif memperhatikan gereja, kita harus siap untuk dikritik.
Saya menasihatkan semua penatua dalam gereja-gereja untuk mohon belas kasihan Tuhan, supaya meningkatkan kapasitasnya untuk menahan kritik. Seorang penatua yang baru, mula-mula akan merasa sulit ketika dikritik oleh orang-orang kudus. Para penatua tidak hanya dikritik oleh orang luar, yang terutama dikritik oleh saudara dan saudari dalam gereja. Akan tetapi, setelah sejangka waktu, seorang penatua akan terbiasa dengan kritik.
Kita dapat membandingkan kritikan dengan lada yang pedas; mula-mula lada yang pedas tidak mudah untuk dimakan, tetapi akhirnya seseorang akan terbiasa olehnya. Banyak penatua telah menjadi cukup terampil dalam makan dan mencerna lada pedas kritikan orang-orang kudus. Mereka telah belajar bersama Paulus bahwa dikritik orang lain adalah perkara kecil.
Hal kedua yang perlu kita pelajari dari ayat-ayat ini adalah jangan mengkritik diri sendiri atau menghakimi diri sendiri. Pada permulaan ministri saya, saya menghakimi diri sendiri setiap kali menyampaikan berita. Saya menghabiskan banyak waktu untuk melihat bagaimana reaksi orang lain terhadap berita itu. Sering kali perlu waktu berhari-hari agar saya dapat benar-benar tenang setelah saya menyampaikan berita. Kemudian tiba waktunya untuk menyampaikan berita lain. Hari ini saya tidak menghakimi diri sendiri seperti itu. Saya telah tahu bahwa menghakimi diri sendiri seperti itu bukanlah praktek yang sehat. Kita tidak cukup layak untuk menghakimi semacam ini. Lagi pula, jika kita tidak menghakimi diri sendiri, kita akan merasa baik; jika kita menghakimi diri sendiri, kita akan menjadi sangat kecewa. Jika semua penatua menghakimi diri sendiri sedemikian, mereka akan merasa diri mereka tidak memenuhi syarat untuk menjadi penatua dan tentu akan berusaha untuk mundur. Paulus dapat berkata bahwa ia tidak menghakimi diri sendiri, dan kita perlu belajar dari dia dalam hal ini.
Dalam ayat 4 Paulus berkata, ”Sebab memang aku tidak sadar akan apa pun tentang diriku, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan, melainkan Tuhanlah yang menghakimi aku.” Walaupun Paulus merasa benar, ia tidak menganggap bahwa karena itu ia dibenarkan. Mengetahui bahwa yang menghakimi dirinya adalah Tuhan, dengan rela ia menyerahkan masalah penghakiman kepada-Nya. Seolah-olah Paulus berkata, ”Biarlah Tuhan menghakimi saya. Dia akan menghakimi saya pada hari kedatangan-Nya.”
Dalam ayat 5 Paulus menyimpulkan, ”Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Kelak tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Frase ”sebelum waktunya” berarti sebelum hari Tuhan.
Perkataan Paulus dalam ayat 2 sampai 5 menunjukkan bahwa ia adalah seorang pengurus rumah tangga yang setia. Ia tidak mempedulikan kritikan orang lain, dan ia tidak mengkritik diri sendiri. Ia menyerahkan seluruh situasinya kepada Tuhan. Hal ini menunjukkan kesetiaannya.
Jika kita memperhatikan kritikan orang lain yang ditujukan kepada kita atau jika kita mengamati diri sendiri, berarti kita tidak setia. Sebaliknya, kita mungkin agak politis dan berusaha menghindari kritikan supaya merasa lebih baik. Kita perlu berpaling dari hal itu dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan. Demikian, kita akan setia.
II. TONTONAN BAGI PARA MALAIKAT
DAN BAGI MANUSIA
Satu Korintus 4:6 mengatakan, ”Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apa artinya ungkapan: ’Jangan melampaui yang ada tertulis’, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan mengutamakan yang satu daripada yang lain.” ”Kata-kata ini” mengacu kepada hal-hal yang disinggung dalam pasal 1 sampai dengan pasal ini. Kata ”kenakan” adalah pengungkapan yang menggunakan kiasan. Hal-hal yang ditulis oleh Paulus di dalam pasal 1-3, dapat diterapkan pada semua orang yang melayani Tuhan, terutama kepada orang-orang Korintus yang congkak dan terpecah-belah. Tetapi karena mereka, yang menurut keadaan mereka dan bagi kebaikan mereka, Paulus mengenakan hal-hal itu pada dirinya sendiri dan pada Apolos, sebagai perumpamaan; (seperti yang telah dikatakannya dalam 3:5-8), dengan harapan supaya orang-orang Korintus yang sombong memahami dan menerapkan perbandingan yang mereka buat ke atas diri mereka sendiri.
Beberapa penerjemah dan penafsir menganggap bahwa ungkapan ”yang ada tertulis” mengacu kepada tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Kita tidak sependapat dengan mereka. Ini pasti ditujukan kepada apa yang telah ditulis dalam pasal-pasal sebelumnya, seperti: ”Apakah Paulus disalibkan karena kamu?” (1:13) dan ”Jadi, siapakah Apolos? Siapakah Paulus?” Mereka hanyalah para pelayan Kristus, penanam dan penyiram (3:5-7). Mereka bukan Kristus yang disalibkan bagi kaum beriman, juga bukan Allah yang menumbuhkan kaum beriman, mereka tidak seharusnya dipuji melebihi apa adanya mereka. Kalau tidak, para pemuji mereka, seperti kaum beriman Korintus yang bersifat daging, akan menjadi sombong sehingga meninggikan yang satu dan merendahkan yang lain.
Ayat 7 melanjutkan, ”Sebab siapa yang menganggap engkau begitu penting? Apa yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” Allahlah yang membedakan kita dari yang lainnya. Semua yang kita miliki, kita terima dari Allah. Maka, semua kemuliaan seharusnya diberikan kepada Allah, dan kita seharusnya bermegah di dalam Allah, bukan di dalam diri kita sendiri atau di dalam hamba mana pun, yang dipakai Allah, seperti Paulus atau Apolos. Di sini seolah-olah Paulus berkata, ”Apakah kamu menyangka Petrus, Paulus, atau Apolos yang membedakan kamu dari yang lain, atau membuat perbedaan antara kamu dari yang lain? Janganlah beranggapan demikian. Lagi pula, apa yang kamu terima, bukanlah kamu terima dari Paulus, Kefas, atau Apolos kamu menerima semuanya dari Allah. Karena itu, janganlah kamu bermegah seolah-olah kamu tidak menerimanya. Jika kamu memiliki sesuatu yang membuat kamu berbeda dari yang lain, sesuatu itu telah kamu terima dari Allah. Karena Allah telah memberikannya kepadamu, kamu harus bermegah di dalam Dia saja, bukan di dalam manusia.”
Ayat 8 mengatakan, ”Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kamu.” Kaum beriman Korintus, bermegah atas apa yang telah mereka dapatkan, merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka puas diri, merdeka terhadap rasul dan telah menjadi raja. Ini mutlak di dalam diri sendiri dan di dalam daging mereka.
Sekali lagi Paulus menyinggung situasi di antara kaum beriman Yunani yang berfilsafat di Korintus. Mereka menyangka mereka telah cukup, telah kaya, dan kenyang. Mereka berperilaku seolah-olah mereka adalah raja yang memerintah tanpa para rasul. Paulus dengan setia berbicara kepada mereka, ”Alangkah baiknya kalau benar demikian bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kamu.” Perkataan ini bukanlah perkataan yang manis, menyenangkan, atau berlapis gula. Perkataan ini memperlihatkan kesetiaan Paulus.
Dalam ayat 9 Paulus melanjutkan, ”Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah (terakhir), sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.” Paulus berkata bahwa Allah telah menempatkan para rasul pada tempat yang terakhir, sebab orang-orang Korintus berperilaku seolah-olah mereka telah menjadi raja. Di sini Paulus memberi tahu mereka bahwa mereka telah menjadi raja sebelum para rasul menjadi raja. Ini berarti Allah telah meletakkan para rasul di tempat yang terakhir, mereka akan menjadi raja pada urutan terakhir.
Pada zaman Paulus, ketika para kriminal diadu dengan binatang buas di gelanggang pertunjukan untuk menghibur khalayak ramai, kriminal itu dipertunjukkan sebagai tontonan yang terakhir. Kriminal itu tidak dianggap apa-apa, karena mereka adalah manusia yang paling rendah, yang telah terlibat dalam kejahatan dan menunggu hukuman mati. Pemerintah Romawi sering memaksa mereka bertarung melawan binatang buas di gelanggang pertunjukan sebagai tontonan. Ketika ada tontonan semacam ini, para kriminal itu tampil pada pertunjukan yang terakhir. Paulus menggunakan ini sebagai kiasan untuk menggam-barkan bahwa para rasul telah ditentukan Allah menjadi pertunjukan terakhir, tontonan terakhir. Orang-orang Korintus bukanlah yang terakhir; para rasullah yang terakhir. Para rasul menganggap diri mereka sendiri sebagai kriminal yang dijatuhi hukuman mati di hadapan dunia, tidak seperti orang-orang Korintus yang menganggap diri mereka ditakdirkan menjadi raja-raja yang memerintah.
Paulus juga memberi tahu orang Korintus bahwa para rasul telah menjadi ”tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia”. Hal ini pun satu kiasan yang mengacu kepada pertarungan antara para kriminal dengan binatang-binatang buas yang liar di gelanggang pertunjukan Roma. Para rasul menjadi tontonan yang sedemikian ini kepada dunia, tidak hanya dilihat oleh manusia, tetapi juga oleh para malaikat. Manusia di bumi dan malaikat di angkasa menonton pertunjukan dari para rasul. Maka, mereka adalah suatu tontonan bagi alam semesta. Seperti yang akan kita lihat dalam berita yang akan datang, hal ini bersangkut paut dengan mereka menjadi ”sampah dunia” dan ”kotoran dari segala sesuatu” (ayat 13).
Dengan menggunakan kiasan ini Paulus memberi tahu kaum beriman di Korintus supaya mereka tidak berperilaku seolah-olah mereka adalah raja atau seolah-olah mereka kaya dan memiliki segala sesuatu. Seolah-olah Paulus berkata, ”Jangan berperilaku seperti raja. Allah telah membuat kami, para rasul, yang terakhir dalam pameran ilahi. Kami seperti penjahat-penjahat yang dijatuhi hukuman mati. Inilah nasib kami. Tetapi kamu seolah-olah menikmati nasib yang lain. Kamu kaya, kamu kenyang, dan kamu memerintah. Akan tetapi, kami adalah suatu tontonan.”
Perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus berlaku juga bagi kita dalam pemulihan Tuhan hari ini. Kita juga harus menjadi seperti para rasul dalam ayat 9 bagaikan penjahat-penjahat yang dijatuhi hukuman mati dan tontonan bagi manusia dan malaikat-malaikat. Janganlah kita menganggap diri kita kenyang, kaya, dan kuat. Sikap semacam itu salah sama sekali. Dalam pemulihan Tuhan, kita harus memberi kesan kepada orang lain bahwa kita adalah tahanan yang dijatuhi hukuman mati dan tontonan bagi alam semesta.