← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 12/25

SEGALA SESUATU BAGI GEREJA DAN GEREJA BAGI KRISTUS

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 3:16-23

Melalui membaca 3:18-23 kita tahu bahwa pasal 3 merupakan penjelasan dan lanjutan dari pasal 1 dan 2. Dalam kedua pasal yang pertama dari surat ini, Paulus menanggulangi hikmat orang-orang Korintus. Karena hikmat filosofis mereka, mereka menjadi pemecah belah, dan mereka mengagungkan tokoh-tokoh rohani. Dalam 3:18 Paulus menyinggung mereka yang merasa dirinya bijak, dan dalam ayat 19 ia berkata bahwa hikmat dunia adalah kebodohan bagi Allah. Dalam pandangan Allah, hikmat Yunani adalah kebodohan. Tuhan menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya, dan Dia mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat, sesungguhnya semuanya sia-sia belaka (ayat 20).

I. MEMBANGUN GEREJA DENGAN HAL-HAL

YANG ALAMIAH BISA MEMBINASAKAN

BAIT ALLAH DAN DIHUKUM OLEH ALLAH

Satu Korintus 3:17 mengatakan, ”Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu sekalian.” Membinasakan bait Allah adalah memusnahkan, merusak, atau menajiskan, mencelakakannya. Membinasakan bait Allah berarti membangun dengan bahan-bahan yang tidak berharga seperti kayu, rumput kering, dan jerami, yang dijelaskan dalam ayat 12. Ini mengacu kepada beberapa orang beriman Yahudi yang mencoba membangun gereja dengan unsur-unsur agama Yahudi, dan mengacu kepada beberapa orang beriman Yunani yang berusaha memasukkan unsur-unsur filsafat ke dalam pembangunan gereja. Semua itu bisa merusak, memusnahkan, menajiskan, dan mencelakakan bait Allah, juga berarti membinasakan bait Allah. Menggunakan doktrin apa pun yang berbeda dari pengajaran dasar para rasul (Kis. 2:42), atau cara atau usaha apa pun yang bertentangan dengan sifat Allah, pekerjaan penebusan Kristus, dan pekerjaan pengubahan Roh itu berarti merusak, memusnahkan, menajiskan, mencelakakan, dan membinasakan gereja Allah.

Kata ”membinasakan” dalam ayat 17 sedikitnya menyiratkan hukuman yang diungkapkan dalam ayat 15. Setiap orang yang merusak, memusnahkan, menajiskan, dan mencelakakan gereja Allah dengan doktrin bidah, pengajaran yang memecah-belah, cara-cara duniawi, dan usaha-usaha alamiah dalam pembangunan, akan menerima penghukuman dari Allah.

Dalam ayat ini Paulus mengungkapkan bahwa bait Allah itu kudus. Karena bait Allah, gereja, adalah kudus, maka bahan-bahan, cara-cara, dan usaha-usaha yang kita pakai untuk membangun bait Allah juga harus kudus, sesuai dengan sifat Allah, penebusan Kristus, dan pengubahan Roh itu.

Telah kita lihat bahwa membangun gereja dengan hal-hal alamiah, dengan kayu, rumput, dan jerami, berarti membangun dengan susunan alamiah kita, hakiki kita, dan perbuatan-perbuatan jahat seperti iri hati, perselisihan, kecemburuan, dan kebencian. Pada kayu, rumput kering, dan jerami, tidak ada yang berharga. Penafsiran dari lambang-lambang ini bukanlah hal yang penting di sini; perkara yang terpenting adalah kita menyadari bahwa tidak ada tempat bagi alamiah kita, hakiki kita, dan perbuatan negatif kita dalam membangun gereja. Sebagai anggota gereja kita harus mengambil bagian dalam pembangunan gereja. Akan tetapi, kita harus berhati-hati supaya jangan membiarkan kayu, rumput kering, dan jerami alamiah kita, hakiki kita, dan perbuatan jahat kita dibawa masuk ke dalam gereja. Menginjeksikan hal-hal ini ke dalam kehidupan gereja amat berbahaya. Kita perlu memiliki kesadaran yang dalam mengenai hal ini. Kita perlu nampak betapa jijiknya hal itu, dan perlu menghakiminya.

Selama 19 abad ini, hampir-hampir tidak ada pembangunan gereja yang sejati. Hari ini Alkitab mudah didapat dengan bebas, dan Injil telah diberitakan di setiap negara. Namun di manakah pembangunan gereja yang sejati? Kita harus mengakui bahwa di antara kita dalam pemulihan Tuhan pun tidak banyak pembangunan. Karena terlalu banyak alamiah kita, hakiki kita, dan pekerjaan kita telah dibawa masuk ke dalam kehidupan gereja. Unsur-unsur ini adalah kuman yang merusak kehidupan gereja. Akan tetapi, mungkin kita tidak jelas mengenai keseriusan hal ini.

Beberapa orang kudus keras wataknya atau ganjil cara berpikirnya. Namun, yang lain menganggap mereka lumrah, biasa, dan tidak keras sama sekali. Tetapi menurut pengalaman dan pengamatan saya, orang yang demikian ini justru paling alamiah. Mereka mungkin tidak mengkritik orang lain dan dapat menyesuaikan diri dalam segala situasi. Namun mereka sangat sulit ditanggulangi. Beberapa orang kudus yang baiknya luar biasa adalah seperti karet yang tidak dapat putus. Seolah-olah tidak ada apa pun yang dapat menjamahnya. Tidak peduli diperlakukan seperti apa pun, mereka tidak akan marah. Tetapi secara otomatis orang-orang yang demikian ini membawa sifat alamiah dan hakiki alamiahnya ke dalam kehidupan gereja. Mereka menganggap sifat mereka baik, dan mungkin orang lain pun mengaguminya. Jadi, dengan tidak sadar hal-hal itu terinfus ke dalam kehidupan gereja. Tetapi karena semuanya itu alamiah, hal-hal itu tidak dapat menjadi bahan yang pantas bagi pembangunan gereja. Sudah tentu, mereka yang kasar dan keras pun bukanlah bahan yang baik bagi bangunan Allah.

Sulit sekali mencari kegunaan jerami, tetapi kayu jenis tertentu ada gunanya dan juga memiliki penampilan yang indah. Banyak orang kudus dalam pemulihan Tuhan seperti kayu jenis tersebut. Tetapi kayu keinsanian yang baik pun bukanlah bahan yang berguna dalam membangun gereja.

Membangun gereja dengan hal-hal yang bersifat alamiah adalah membinasakan bait Allah. Bertahun-tahun yang silam saya mengira bahwa membinasakan bait Allah adalah menganiaya gereja. Saya tidak menyadari bahwa menurut konteks di sini, membinasakan gereja adalah membangun dengan hal-hal yang bersifat alamiah. Misalnya, tidakkah membawa masuk rumput kering atau jerami itu mencemari Yerusalem Baru? Demikian pula, menginjeksikan susunan alamiah kita, hakiki kita, atau perbuatan kita ke dalam gereja akan merusak gereja. Mungkin Anda belum menyadari bahwa ketika Anda membawa sifat baik Anda, hakiki baik Anda, bahkan perbuatan-perbuatan baik alamiah Anda ke dalam kehidupan gereja, itu berarti Anda merusak dan mencemari gereja. Sudah tentu, bila ada iri hati atau perselisihan di antara kita, itu pun mencemari dan mengotori kehidupan gereja.

Mereka yang membinasakan gereja dengan membangun menggunakan hal-hal alamiah akan dihukum Allah. Menurut ayat 17, mereka yang membinasakan bait Allah akan dibinasakan oleh-Nya. Satu aspek dari hukuman Allah adalah kegelapan. Tentu saja tidak mendapat terang dan berada dalam kegelapan merupakan hukuman yang serius. Jika Anda membangun gereja dengan hal-hal yang bersifat alamiah, Anda akan berada dalam kegalapan. Allah menghukum Firaun dengan kegelapan, dan Dia juga akan menggunakan kegelapan untuk menghukum kerajaan Antikristus (Kel. 10:21-23; Why. 16:10). Hal ini menunjukkan bahwa kegelapan adalah hukuman yang serius. Mereka yang berusaha membawa sifat, hakiki dan perbuatan mereka ke dalam gereja akan tertinggal dalam kegelapan.

Menurut ayat 13-15, pekerjaan pembangunan kita akan diuji dengan api. Jikalau pekerjaan kita tahan uji, kita akan mendapat pahala. Tetapi jika pekerjaan kita terbakar api, kita akan menderita kerugian. Saya tidak dapat memastikan apa itu api penghakiman. Akan tetapi, baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru, api berasal dari Allah sebagai penghakiman. Misalnya, anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, dihakimi dengan api. Dalam kitab Maleakhi dikatakan bahwa Tuhan akan menghakimi manusia dengan api. Dengan prinsip yang sama, api dari Allah akan menghakimi pekerjaan kita. Pekerjaan yang tersusun dari emas, perak, dan batu permata akan tahan uji. Sebenarnya semakin panas api itu, bahan-bahan itu semakin murni. Tetapi bahan-bahan dari kayu, rumput kering, dan jerami akan terbakar api. Apa pun yang dikerjakan menurut alamiah kita, hakiki kita, dan perbuatan-perbuatan alamiah kita, akan hangus oleh api.

Penghakiman Tuhan paling sedikit memiliki dua aspek: kegelapan dan pembakaran. Kita sendiri mungkin berada dalam kegelapan, dan pekerjaan kita bisa hangus menjadi abu. Sering kali saya merasa takut dan gentar di hadapan Tuhan, ingin tahu apakah pekerjaan saya akan tahan uji. Berkali-kali saya bertanya kepada diri sendiri, apakah pekerjaan saya akan tahan uji api penghakiman Tuhan. Kita semua harus bertanya apakah pekerjaan kita membawa kita ke dalam terang atau menahan kita dalam kegelapan. Beberapa dari mereka yang bekerja di ladang misi dapat bersaksi, semakin banyak mereka bekerja, mereka semakin terbelenggu dalam kegelapan. Itu menandakan bahwa pekerjaan mereka dilakukan menurut alamiah mereka, hakiki mereka, dan perbuatan manusiawi mereka.

II. MEMBINASAKAN BAIT ALLAH, GEREJA,

DENGAN MEMBANGGAKAN

TOKOH-TOKOH ROHANI

Membanggakan tokoh-tokoh rohani juga membinasakan bait Allah, gereja. Berbuat demikian adalah berada dalam daging dan berjalan menurut manusia (3:3-4). Jadi, kita harus berhati-hati, jangan pilih-pilih terhadap penatua, rekan sekerja, atau saudara saudari. Sambil belajar tidak membawa alamiah, hakiki, dan perbuatan kita ke dalam gereja, kita juga harus belajar tidak memiliki pilihan terhadap siapa pun. Jika kita mengagungkan orang-orang tertentu, kita akan mencemari, merusak, membinasakan bait Allah, dan akan menderita hukuman Allah.

III. MENGANGGAP DIRI SENDIRI BERHIKMAT DAN MENIPU DIRI SENDIRI

Dalam ayat 18 Paulus berkata, ”Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.” Baik kaum beriman yang dipengaruhi oleh agama Yahudi maupun kaum beriman Yunani yang dipengaruhi oleh filsafat, menipu diri mereka sendiri dengan membawa unsur-unsur agama Yahudi dan filsafat Yunani ke dalam pembangunan gereja. Pemikiran rasul di sini terutama tertuju pada kaum beriman Yunani yang sangat meninggikan hikmat filsafat mereka (1:22).

Membanggakan tokoh-tokoh rohani juga menganggap diri sendiri berhikmat, jadi menipu diri sendiri. Mereka yang membanggakan orang-orang tertentu menganggap diri mereka lebih berhikmat daripada yang lain. Orang yang menggunakan pikiran filosofisnya adalah orang yang mengagungkan orang lain. Menganggap diri sendiri lebih pandai daripada orang lain dan mengagungkan orang lain adalah menipu diri sendiri. Mengagungkan tokoh-tokoh rohani bukan saja membinasakan gereja; tetapi juga menipu diri sendiri. Menurut konteks ayat 18, menipu diri sendiri berkaitan dengan mengagungkan manusia. Namun, banyak orang berpendapat bahwa mengagungkan manusia itu tidak ada salahnya. Misalnya, seseorang mungkin berkata, ”Saudara anu adalah salah satu penatua yang terbaik. Aku menyukainya, dan aku berpihak kepadanya.” Kedengarannya ini tidak apa-apa, tetapi sesungguhnya hal ini merusak gereja. Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak boleh mengagungkan siapa pun.

IV. MENJADI BODOH SUPAYA

MEMPEROLEH HIKMAT ALLAH

Dalam ayat 18 Paulus menasihati orang yang menyangka dirinya berhikmat dalam zaman ini, untuk menjadi bodoh, supaya ia menjadi berhikmat. Menjadi bodoh di sini berarti menolak hikmat filsafat dan menerima perkataan yang sederhana mengenai Kristus dan salibNya (1:21, 23). Menjadi berhikmat berarti menerima hikmat Allah, menjadikan Kristus sebagai segala sesuatu kita (1:24, 30; 2:6-8).

Walaupun mudah untuk menjadi berhikmat dan sulit menjadi bodoh, setiap orang dalam pemulihan Tuhan harus belajar menjadi bodoh dalam arti yang dibicarakan Paulus dalam ayat 18. Sesungguhnya semua orang beriman hari ini adalah ”orang Yunani”, karena kita bersifat filosofis dalam jalan kita sendiri. Jadi kita perlu menjadi bodoh agar kita menjadi berhikmat. Semakin kita menjadi bodoh dalam arti yang wajar, semakin banyak kenikmatan yang kita dapatkan. Tetapi semakin menjadi berhikmat secara filosofis, semakin sedikit kenikmatan yang kita dapatkan. Lagi pula, pertumbuhan hayat dalam gereja-gereja tergantung pada hal ini. Jika kita semua rela menjadi bodoh, kita akan mengalami banyak kemajuan dalam pertumbuhan hayat.

Dalam kehidupan gereja kita perlu belajar menjadi bodoh supaya kita beroleh hikmat Allah. Kemudian wahyu Allah akan terbuka bagi kita. Mereka yang menerima wahyu paling banyak dari Allah adalah mereka yang telah belajar menjadi bodoh. Akibatnya, mereka mendapatkan hikmat Allah.

V. TAHU BAHWA SEGALA SESUATU ADALAH MILIK KITA,

KITA ADALAH MILIK KRISTUS, DAN KRISTUS ADALAH MILIK ALLAH

Dalam ayat 21 dan 22 Paulus berkata, ”Sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya milikmu.” Semua, termasuk dunia dan kematian, adalah milik kita dan mengerjakan kebaikan bagi kita (Rm. 8:28). Kaum beriman Korintus berkata bahwa mereka milik Paulus, atau Apolos, atau Kefas (1:12), tetapi Paulus berkata bahwa dia, Apolos, dan Kefas adalah milik mereka; semuanya adalah milik mereka. Mereka adalah gereja, dan semuanya ini adalah untuk gereja. Gereja untuk Kristus, dan Kristus untuk Allah.

Menurut ayat-ayat itu, bukan saja tokoh-tokoh rohani adalah bagi kita, bahkan segala sesuatu, termasuk hal-hal negatif seperti dunia dan kematian, adalah milik kita.

Artinya, dunia dan kematian pun dapat bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Sudahkah Anda paham bahwa keadaan negatif dari gereja di tempat Anda adalah milik Anda dan mendatangkan kebaikan untuk Anda? Beberapa orang kudus mungkin berkata, ”Situasi di gereja lokalku tidak baik. Aku ingin bermaksud pindah ke suatu tempat yang keadaan gerejanya lebih baik.” Akan tetapi, mereka yang tidak merasa puas di satu tempat dan pindah ke tempat lain, tidak mengalami pertumbuhan hayat. Kita semua harus nampak bahwa keadaan gereja di tempat kita seperti mati, adalah milik kita, dan bagi kita. Sungguh, segala sesuatu adalah bagi kita.

Ketika membaca 1Korintus 3, Anda mungkin merasa heran mengapa Paulus menyimpulkan pasal ini sedemikian. Setelah berbicara mengenai hikmat dan pengagungan tokoh-tokoh rohani, ia menyimpulkan dengan berkata bahwa segala sesuatu adalah milik kita, kita adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah. Di sini seolah-olah Paulus berkata, ”Hai orang-orang Korintus, kamu menerapkan kebudayaan, hikmat, dan filsafat Yunanimu. Menurut hikmatmu, kamu memiliki pilihan dan kesukaan. Kamu memilih-milih orang-orang, doktrin, dan praktek-praktek. Semua pilihan itu berkaitan dengan hikmat, cara berpikirmu yang filosofis. Tetapi aku ingin kamu tahu bahwa segala sesuatu, tidak peduli baik atau buruk, dan semua orang, dipakai Allah untuk menyempurnakan kamu. Bahkan dunia dan kematian adalah sarana yang dipergunakan Allah untuk mendatangkan kebaikan bagimu. Segala sesuatu adalah pelayan-pelayanmu demi kesempurnaanmu.”

Saya ingin mengucapkan sepatah kata yang menghibur dan mendorong semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan. Janganlah merasa bahwa gereja di tempat Anda bukan tempat yang tepat bagi Anda. Bahkan walau keadaan gereja Anda sangat memprihatinkan, Allah masih mempergunakan gereja itu untuk menyempurnakan Anda. Dia mempergunakan gereja yang tidak memuaskan Anda untuk mengerjakan kebaikan bagi Anda. Artinya Anda memerlukan gereja semacam itu. Ketika saya di China, banyak orang kudus yang menganggap gereja di Shanghai hebat dan ingin pindah ke kota itu. Tetapi mereka yang pindah ke sana merasa kecewa. Mereka yang belum pernah tinggal di Shanghai berpendapat bahwa gereja di sana mengagumkan. Tetapi beberapa dari mereka yang berada di gereja di Shanghai merasa tidak senang dengan gereja di sana. Hal ini melukiskan fakta bahwa kita tidak boleh pindah ke tempat lain yang menurut anggapan kita lebih baik daripada gereja di tempat kita. Tidak peduli di mana Anda berada, gereja adalah milik Anda, dan Allah mempergunakan gereja itu untuk menyempurnakan Anda. Allah mempergunakan gereja di Shanghai untuk menyempurnakan orang kudus di Shanghai. Mereka yang berada di tempat itu membutuhkan gereja itu. Akan tetapi, mereka yang tinggal di tempat lain membutuhkan gereja di tempat mereka sendiri.

Allah mempergunakan segala sesuatu untuk menyempurnakan kita. Karena itu, segala sesuatu adalah bagi kita, kita bagi Kristus, dan Kristus bagi Allah. Allah mempergunakan segala sesuatu untuk menyempurnakan kita supaya kita dapat menjadi Tubuh Kristus yang hidup. Maka, kita adalah Tubuh bagi Kristus, dan Kristus adalah ekspresi Allah. Jadi Kristus adalah bagi Allah. Allah diekspresikan melalui Kristus, Kristus diekspresikan melalui kita, dan kita disempurnakan melalui segala sesuatu. Jika kita nampak hal ini, kita tidak akan mengeluh atau memiliki pilihan, kesukaan, atau seleksi. Lagi pula, kita akan puas menerima semua yang Allah tetapkan bagi kita. Jika Allah menetapkan satu kehidupan gereja yang tidak enak bagi Anda, Anda harus menerimanya, dan memuji Tuhan untuk itu. Mungkin Allah menetapkan seorang suami atau istri yang merepotkan bagi Anda. Bahkan mungkin Dia menakdirkan kematian. Tetapi pasangan yang merepotkan atau kematian itu pun adalah bagi kita dan dipergunakan untuk menyempurnakan kita. Karena itu, kita harus menerima apa yang Allah tetapkan bagi kita dan mengenal bahwa hal-hal itu dipergunakan-Nya untuk menyempurnakan kita.

Sebagai orang tua, saya telah melalui banyak perkara besar dalam hidup saya. Saya benar-benar dapat bersaksi bahwa segala sesuatu adalah milik saya dan Allah mempergunakan semua itu untuk menyempurnakan saya. Karena Allah mempergunakan segala sesuatu, sulit dikatakan saudari yang manakah yang terbaik bagi seorang saudara atau saudara manakah yang terbaik bagi seorang saudari. Demikian pula, saya tidak tahu siapa yang akan menjadi rekan sekerja yang terbaik. Tuhan telah membawa saya sampai ke suatu titik di mana saya tidak mempertimbangkan rekan sekerja mana yang baik dan mana yang tidak menguntungkan, karena saya sadar bahwa mereka semua mengerjakan kebaikan bagi saya. Bahkan mereka yang saya anggap paling jelek mungkin dipergunakan untuk menyempurnakan saya paling banyak. Alangkah diberkatinya kita yang disempurnakan oleh segala sesuatu! O, betapa indahnya melihat bahwa segala sesuatu adalah bagi kita!

Karena segala sesuatu adalah milik kita dan bekerja bagi kita, kita tidak boleh begitu bodoh dengan memiliki pilihan pribadi atau kesukaan pribadi. Kita adalah bagi Kristus, dan Kristus bagi Allah. Allah diekspresikan melalui Kristus, Kristus diekspresikan melalui kita, dan kita disempurnakan oleh segala sesuatu. Segala sesuatu, setiap orang, dan setiap situasi adalah milik kita. Allah itu berdaulat, dan Dia mempergunakan segala sesuatu dan setiap orang untuk menyempurnakan mereka yang mengasihi Dia. Asalkan Anda mengasihi Tuhan, Anda boleh merasa yakin bahwa Dia mempergunakan segala sesuatu untuk menyempurnakan Anda. Karena itu, segala sesuatu adalah milik kita bagi gereja, gereja adalah bagi Kristus untuk menjadi Tubuh-Nya, dan Kristus adalah bagi Allah untuk menjadi ekspresi-Nya. Inilah perkataan kesimpulan Paulus dalam 1Korintus 3.

Dalam terang perkataan ini, janganlah kita mengagungkan seseorang, dan janganlah kita mempunyai pilihan atau kesukaan sehubungan dengan orang-orang, hal-hal, atau benda-benda. Sebaliknya, kita harus melihat bahwa segala sesuatu, buruk atau baik, adalah untuk menyempurnakan kita sehingga kita bisa menjadi Tubuh Kristus, yang adalah ekspresi Allah. Inilah pemahaman yang tepat dari perkataan Paulus bahwa segala sesuatu adalah milik kita, kita adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah.