KEHIDUPAN KAUM SALEH DALAM KESATUAN DENGAN KRISTUS: DIPERINTAH OLEH DAMAI SEJAHTERA
KRISTUS DAN DIDIAMI OLEH
PERKATAAN KRISTUS
Pembacaan Alkitab: Kol. 3:12-17; Ef. 5:19-20
Setelah memberikan kata pengantar dalam Kolose 1:1-8, kitab ini menyingkapkan Kristus sebagai yang lebih uta-ma dan almuhit, sebagai sentralitas dan universalitas Allah (1:9—3:11). Dalam bagian Kitab Kolose ini, Kristus diwahyu-kan secara penuh. Di sini Paulus tidak mengatakan Kristus adalah Anak Domba Allah, manna, atau air hayat. Sebalik-nya, dia memberi tahu kita bahwa Kristus adalah bagian orang-orang kudus, gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan, yang pertama bangkit dari antara orang mati, rahasia ekonomi Allah, pengharapan akan kemuliaan yang berdiam di dalam, rahasia Allah, dan Dia yang di dalam-Nya tersembunyi segala harta hikmat dan pe-ngetahuan. Ketika kita merenungkan segala aspek Kristus ini, kita akan memahami bahwa wahyu tentang Kristus yang disampaikan dalam Kitab Kolose adalah luar biasa, dan sama sekali berbeda dengan apa yang diwahyukan di mana saja dalam Alkitab.
Dalam Kolose 3:12—4:6 Paulus beralih kepada masalah kehidupan kaum saleh dalam kesatuan dengan Kristus. Da-lam Kolose 3:12-15 dia mengatakan tentang perlunya dipe-rintah oleh damai sejahtera Kristus, dan dalam ayat 16-17 tentang perkataan Kristus tinggal di dalam kita dengan limpahnya. Hidup dalam kesatuan dengan Kristus berarti dalam kehidupan kita, kita tidak terpisah dari Kristus. Da-lam Yohanes 15 Tuhan menyuruh kita tinggal di dalam Dia, sebab di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam pandangan Allah, apa saja yang kita lakukan di luar Kristus tidak berharga. Sebab itu, jika kita terpisah dari Kristus yang almuhit yang diwahyukan dalam Kitab Ko-lose, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kehidupan kaum sa-leh harus berada dalam kesatuan dengan Kristus. Ini ber-arti dalam kehidupan kita, kita perlu bersatu dengan Dia.
Dalam Kolose 3:10-11 kita nampak bahwa dalam ma-nusia baru, Kristus adalah semua dan di dalam segala se-suatu. Kristus adalah semua anggota dan di dalam semua anggota. Dalam manusia baru tidak ada tempat bagi manu-sia alamiah yang mana pun. Sebaliknya, Kristus adalah se-tiap orang dan di dalam setiap orang. Mengatakan bahwa Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu dalam manusia baru menunjukkan bahwa kita bersatu dengan Kristus dan Kristus bersatu dengan kita. Bahkan kita boleh mengatakan Kristus adalah kita dan kita adalah Dia. Ini menunjukkan kesatuan kita dengan Kristus. Sebab itu, kehidupan kaum saleh harus merupakan kehidupan yang berada dalam kesatuan dengan Kristus, kehidupan yang menjadi satu dengan Dia. Jika kita hidup dalam cara yang demikian, maka kita dan Kristus, Kristus dan kita adalah satu. Kita hidup, dan Kristus hidup dalam kehidupan kita.
Kita perlu bersatu dengan Tuhan Yesus seperti Dia bersatu dengan Bapa. Dalam Yohanes 14:10 Tuhan berkata, “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.” Ini me-nunjukkan bahwa Bapa bekerja di dalam perkataan Putra. Walaupun Bapa dan Putra adalah dua persona, tetapi me-reka hanya memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Hayat Bapa adalah hayat Putra, dan kehidupan Putra adalah kehidupan Bapa. Di satu pihak hayat Bapa adalah hayat Putra, di pihak lainnya kehidupan Putra adalah kehidupan Bapa. Dengan cara inilah Bapa dengan Putra memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Kristus dengan kita pun pada prinsipnya sama. Hari ini kita dengan Kristus memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Hayat Putra menjadi hayat kita, dan kehidupan kita menjadi kehidupan Dia. Inilah yang berarti hidup dalam kesatuan dengan Kristus.
Dalam kesatuan yang demikian ini, kita dengan Kristus, Kristus dengan kita adalah satu. Dalam pengertian yang sebenarnya, Kristus adalah kita dan kita adalah Kristus, karena Kristus dengan kita hidup sebagai satu. Hayat-Nya adalah hayat kita, dan kehidupan kita adalah kehidupan-Nya. Sebab itu, Kristus hidup di dalam kehidupan kita. Inilah kehidupan orang Kristen yang normal, kehidupan yang memenuhi standar Allah dan yang memenuhi syarat ekonomi-Nya.
Mengenai kehidupan kita dalam kesatuan dengan Kristus, Paulus menyuruh kita membiarkan damai sejah-tera Kristus menjadi juri dalam hati kita dan membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita. Paulus tidak membicarakan hal-hal ini di mana pun dalam Surat-surat Kirimannya. Perhatikanlah kata “hendaklah” yang dipakai Paulus dalam ayat 15 dan 16. Kata tersebut menunjukkan bahwa baik damai sejahtera Kristus maupun perkataan Kristus sudah ada. Namun kita perlu mengizin-kannya beroperasi di dalam kita. Kita perlu membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita, dan kita harus membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita. Tidak ada masalah baik pada damai sejahtera Kristus maupun pada perkataan Kristus. Masalahnya ada pada kita, khususnya pada pemberian izin dari kita untuk membiar-kan hal-hal tersebut bekerja di dalam kita.
I. MENGENAKAN KEBAJIKAN ROHANI
Sebelum kita melihat ayat 15-17 secara lebih rinci, ma-rilah kita melihat aspek-aspek tertentu dari ayat 12-14. Da-lam ayat 12 Paulus berkata, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlem-butan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian.” Setelah mengenakan manusia baru, kita juga perlu mengena-kan kebajikan-kebajikan rohani yang dicatat dalam ayat-ayat ini. Dalam ayat 12 Paulus menyebut kaum beriman sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi. Ma-nusia baru adalah kaum pilihan Allah. Tidak hanya demikian, manusia baru itu kudus. Ini berarti manusia baru bukan yang umum, juga bukan yang duniawi; melainkan yang dipi-sahkan bagi Allah. Selain itu, manusia baru adalah yang dika-sihi. Menurut ayat-ayat ini, manusia baru adalah yang dipilih, dikuduskan, dan dikasihi.
Sebagai manusia baru yang demikian, kita perlu me-ngenakan semua kebajikan rohani yang penting: belas ka-sihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Kerendahan hati agak berbeda dengan kerendah-an. Seseorang mungkin membanggakan kerendahannya, te-tapi bukan merendahkan hati. Pengajar-pengajar bidah di Kolose mengajarkan satu model kerendahan dengan menin-das diri, tetapi Paulus mengajarkan kerendahan hati rohani seperti kelemahlembutan dan kesabaran.
Dalam ayat 13 Paulus melanjutkan mengatakan ten-tang sabar terhadap satu sama lain dan saling mengam-puni. Tuhan, Sang yang mengampuni, adalah hayat kita dan hidup di dalam kita. Mengampuni adalah satu kebajikan dari hayat-Nya. Ketika kita mengambil Dia sebagai hayat dan persona kita dan hidup berdasarkan Dia, dengan sendi-rinya kita akan mengampuni orang lain dan pengampunan kita akan menjadi salah satu kebajikan dari kehidupan kristiani kita.
II. MENGENAKAN KASIH,
PENGIKAT KESEMPURNAAN
Dalam ayat 14 Paulus melanjutkan, “Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatu-kan dan menyempurnakan.” Kata Yunani yang diterjemah-kan yang “menyempurnakan” dapat juga diterjemahkan “kelengkapan”. Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:16). Kasih ada-lah esens diri Allah, substansi hayat ilahi. Jadi, mengena-kan kasih berarti mengenakan unsur hayat Allah. Kasih yang sedemikian adalah pengikat yang menyatukan dalam suatu gabungan kesempurnaan, kelengkapan, dan kebajik-an yang matang.
III. MEMBIARKAN DAMAI SEJAHTERA KRISTUS
MENJADI JURI DALAM HATI KITA
Dalam ayat 15 Paulus berkata, “Hendaklah damai se-jahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyu-kurlah.” Istilah Yunani yang diterjemahkan “memerintah” dapat juga diterjemahkan sebagai menjadi juri, memimpin, dinobatkan sebagai pemerintah dan pengambil keputusan atas segala sesuatu. Damai sejahtera Kristus yang meme-rintah di dalam hati kita melarutkan dendam yang disebut-kan dalam ayat 13.
Kata ganti nama relatif “itulah” dalam ayat 15 mengacu kepada damai sejahtera Kristus. Kita dipanggil kepada damai sejahtera ini dalam satu Tubuh Kristus. Untuk kehidupan Tubuh yang normal kita memerlukan damai sejahtera Kristus memerintah, mengatur, dan menentukan segala sesuatu di dalam hati kita mengenai hubungan kita dengan anggota-anggota Tubuh-Nya. Kita dipanggil kepada damai sejahtera Kristus, karena itu hal ini seharusnya juga menjadi motivasi kita untuk membiarkan damai sejahtera ini memerintah dalam hati kita.
Dalam ayat ini Paulus juga menganjuri kita untuk bersyukur. Kita bukan hanya harus membiarkan damai se-jahtera Kristus memerintah dalam hati kita, tetapi kita juga harus bersyukur kepada Tuhan. Di dalam kehidupan Tu-buh, hati kita seharusnya selalu dalam keadaan damai sejah-tera terhadap anggota-anggota dan bersyukur kepada Tuhan.
Perkataan Paulus tentang damai sejahtera Kristus yang memerintah (menjadi juri) ditulis menurut pengalamannya yang riil. Jika kita melihat pengalaman kita, kita akan menyadari bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai dua atau tiga “kelompok” dalam batin kita. Karena alasan inilah kita memerlukan seorang wasit atau juri. Seorang juri selalu diperlukan untuk menyelesaikan perselisihan atau perdebatan antara kelompok-kelompok itu. Satu dari kelom-pok dalam batin kita itu mungkin condong kepada satu ca-ra dalam masalah tertentu, sedang kelompok lain mungkin condong kepada cara yang berlawanan. Lagi pula, kelompok yang ketiga mungkin berpendirian netral. Kita sering me-rasakan adanya ketiga kelompok tersebut dalam batin kita: satu kelompok yang positif, satu kelompok yang negatif, dan satu lagi kelompok netral. Sebagai orang Kristen, kita lebih rumit daripada orang-orang yang belum beroleh selamat. Sebelum kita beroleh selamat, kita berada di bawah kontrol kelompok setan. Kita dapat mengumbar nafsu dalam hibur-an-hiburan atau kesenangan-kesenangan duniawi tanpa perasaan yang berlawanan dalam batin kita. Tetapi sekarang, karena kita telah beroleh selamat, satu kelompok mungkin mendorong kita melakukan satu hal, tetapi kelompok lain-nya mungkin mendorong kita melakukan hal yang lain. Ka-renanya perlu ada juri yang menyelesaikan perselisihan di batin kita. Kita perlu seseorang atau sesuatu untuk menge-tuai konferensi yang terjadi di batin kita. Menurut ayat 15, ketua ini, juri ini, adalah damai sejahtera Kristus.
Ingatlah latar belakang Kitab Kolose. Berbagai filsafat dan ajaran telah menyerbu gereja di Kolose. Saya tidak per-caya kalau seluruh kaum saleh di Kolose menerima filsafat yang sama. Sebaliknya, saya percaya bahwa ada sebagian yang menghargai pikiran filsafat Yunani murni, dan lain-nya lebih menyukai filsafat Mesir atau Babel. Saya tidak yakin bahkan dalam masalah pertapaan semua orang saleh itu juga mempunyai pandangan yang sama. Tidak ada yang lebih berpecah-belah atau menyebabkan lebih banyak perti-kaian daripada opini-opini tentang pertapaan. Dalam gereja di Kolose tidak ada perpecahan yang sesungguhnya, tetapi tidak diragukan di sana ada perselisihan. Kaum saleh tidak benar-benar bersatu. Hasilnya, mereka tidak berada dalam damai sejahtera.
Setelah Paulus menulis tentang Kristus yang almuhit dan tentang manusia baru yang di dalamnya Kristus ada-lah semua dan di dalam segala sesuatu, dan di mana tidak ada tempat bagi orang Yahudi, Yunani, atau perbedaan-per-bedaan kebudayaan lainnya, dia lalu menyuruh kaum saleh memperhatikan damai sejahtera Kristus. Dalam batin kita, kita semua mempunyai sesuatu yang disebut damai sejah-tera Kristus. Ini adalah damai sejahtera yang dibicarakan Paulus dalam Efesus 2:15, di mana dikatakan bahwa di dalam diri-Nya sendiri Kristus telah menciptakan satu manusia baru yang berasal dari dua pihak. Dengan menciptakan orang Yahudi dan Yunani menjadi satu manusia baru, maka Kristus telah menciptakan damai sejahtera. Inilah damai sejahtera dalam Kolose 3:15.
Kaum beriman yang berbeda latar belakang kebudaya-an dan kebangsaan itu telah diciptakan menjadi satu manu-sia baru. Kesatuan manusia baru itu menghasilkan damai sejahtera yang sejati. Di luar Kristus dan gereja, suku atau bangsa yang berbeda-beda tidak dapat benar-benar bersatu. Kita yang berada dalam pemulihan Tuhan adalah satu ka-rena kita berada di dalam Kristus dan gereja. Kita berada di dalam manusia baru, di mana tidak ada orang Yunani, orang Yahudi, orang bersunat, atau orang tak bersunat. Dalam manusia baru tidak ada perbedaan suku, kelas, atau kebangsaan. Sebaliknya dalam manusia baru ada kesatuan, karena Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Kesatuan ini adalah damai sejahtera kita. Damai sejahtera Kristus dalam Kolose 3:15 tak lain adalah kesatuan yang penuh damai di dalam manusia baru.
Kita perlu mengerti masalah damai sejahtera Kristus dalam kaitannya dengan latar belakang Kitab Kolose ini. Berbagai aspek kebudayaan telah masuk ke dalam hidup gereja. Kaum beriman Yahudi tertentu setuju memelihara hari Sabat. Mereka juga mempertahankan peraturan-per-aturan tentang makanan. Sudah pasti kaum beriman yang berlatar belakang Yunani tidak menghargai semua itu; te-tapi mereka sebaliknya membawa masuk filsafat yang me-reka gemari. Tentu saja ini tidak dapat diterima oleh kaum beriman Yahudi. Akibatnya, dalam pengalaman mereka, me-reka telah kehilangan damai sejahtera Kristus. Kemenang-an damai sejahtera Kristus telah diganti dengan kemenangan konsepsi filsafat Yunani dan praktek-praktek agama Yahudi di antara kaum beriman. Jadi, di Kolose setidak-tidaknya ada dua kelompok: kelompok filsafat dan kelompok agama Yahudi. Sebab itu, perlu ada seorang juri. Juri ini bukan seorang saudara tertentu dalam gereja, melainkan damai sejahtera Kristus, yaitu kesatuan manusia baru (Tubuh Kristus).
Kita telah menunjukkan berulang-ulang bahwa di da-lam manusia baru tidak mungkin ada orang Yunani atau Yahudi. Filsafat Yunani dan peraturan-peraturan Yahudi tidak boleh dimasukkan. Dalam manusia baru Kristus ada-lah semua dan di dalam segala sesuatu. Tidak hanya demi-kian, kesatuan manusia baru, damai sejahtera Kristus, harus terus dipertahankan. Kita harus membiarkan damai sejah-tera Kristus menjadi juri dalam hati kita. Semua kelompok harus menaruh perhatian kepada perkataan juri ini. Apa-kah Anda menyadari bahwa dalam batin Anda ada seorang juri? Dari Kitab Kolose kita nampak dengan jelas bahwa damai sejahtera Kristus adalah juri kita yang di dalam. Juri ini harus menyelesaikan semua pertikaian dalam ba-tin kita. Sebagai contoh, beberapa saudara China mungkin suka mengunjungi Chinatown. Tetapi, sewaktu melakukan hal tersebut, mereka mungkin tidak mempunyai damai se-jahtera, dan mengalami perselisihan dalam batin. Karena-nya saudara-saudara itu perlu memperhatikan juri ini, yak-ni damai sejahtera Kristus yang menentukan dalam batin mereka. Bila kita merasa kelompok-kelompok yang berbeda-beda dalam batin kita itu berselisih atau bertengkar, kita perlu memberi tempat kepada damai sejahtera Kristus yang menentukan itu dan membiarkan damai sejahtera ini, yak-ni kesatuan dari manusia baru, memerintah di batin kita. Biarlah damai sejahtera ini, kesatuan ini, yang memberi-kan keputusan terakhir.
IV. MEMBIARKAN PERKATAAN KRISTUS
TINGGAL DI DALAM
Dalam ayat 16 Paulus melanjutkan, “Hendaklah perka-taan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kamu, se-hingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dalam mazmur, puji-pujian, dan nyanyian rohani, menyanyi dengan anugerah dalam hatimu kepada Allah” (Tl.). Perkataan Kristus adalah perkataan yang diucapkan oleh Kristus. Di dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya, Allah berbicara di dalam Putra, dan Putra bu-kan hanya berbicara di dalam kitab-kitab Injil, tetapi juga melalui anggota-anggota-Nya, para rasul dan nabi, di dalam Kitab Kisah Para Rasul, di dalam Surat-surat Kiriman, dan di dalam Kitab Wahyu. Semua tuturan itu dapat dianggap sebagai perkataan-Nya.
Dalam bagian ini, kepenuhan hayat rohani yang meluap keluar dalam pujian dan nyanyian berkaitan dengan firman, sedangkan dalam bagian yang serupa, yakni Efesus 5:18-20, kepenuhan hayat rohani berkaitan dengan Roh itu. Ini menunjukkan bahwa perkataan atau firman adalah Roh itu (Yoh. 6:63b). Kehidupan orang Kristen yang normal seharusnya merupakan suatu kehidupan yang dipenuhi dengan firman sehingga Roh dapat meluap keluar dengan pujian dan kidung yang menggema dari dalam kaum beriman.
Kitab Kolose berpusat pada Kristus sebagai Kepala dan hayat kita. Dia melaksanakan jabatan-Nya sebagai Kepala dan melayankan kekayaan-Nya kepada kita melalui perka-taan-Nya. Yang ditekankan di sini adalah perkataan Kristus. Kitab Efesus membicarakan gereja sebagai Tubuh Kristus. Untuk menempuh hidup gereja yang normal, kita harus di-penuhi di dalam roh kita hingga mencapai seluruh kepe-nuhan Allah. Jadi, Kitab Efesus menekankan Roh itu. Dalam Kitab Efesus, baik Roh Kudus maupun roh kita ditekankan berkali-kali; bahkan firman dianggap sebagai Roh itu (Ef. 6:17). Namun dalam Kitab Kolose, kedua roh itu masing-masing hanya disebut satu kali (1:8; 2:5). Dalam Kitab Efesus, firman adalah untuk membasuh hayat alamiah kita (Ef. 5:26) dan untuk berperang melawan musuh (Ef. 6:17), sedangkan dalam Kitab Kolose firman adalah untuk mewah-yukan Kristus (1:25-27) di dalam keutamaan-Nya, sentra-litas-Nya, dan universalitas-Nya.
Kita telah menunjukkan bahwa dalam Kitab Efesus pe-nekanannya ialah pada Roh itu, sedang dalam Kitab Kolose penekanannya adalah pada firman. Kitab Efesus memperha-tikan kehidupan kita, tetapi Kitab Kolose memperhatikan wahyu Kristus. Dalam Kitab Kolose, Paulus memperhati-kan wahyu Kristus hingga kepada pengetahuan yang pe-nuh. Untuk ini kita perlu perkataan Kristus.
Perkataan Kristus mencakup seluruh Perjanjian Baru. Kita perlu dipenuhi dengan perkataan ini. Ini berarti kita harus membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita, mendiami kita, atau berumah dalam kita. Kata Yunani yang diterjemahkan “tinggal” berarti berada di da-lam rumah, bersemayam, atau berhuni. Perkataan Tuhan haruslah mempunyai tempat yang cukup lapang di dalam kita agar dapat beroperasi dan menyuplaikan kekayaan Kristus ke dalam manusia batiniah kita. Tidak hanya de-mikian, perkataan Kristus juga harus tinggal dalam kita dengan limpahnya. Kekayaan Kristus (Ef. 3:8) ada di dalam firman-Nya. Bila perkataan yang demikian kaya ini berhu-ni dalam kita, pasti ia akan mendiami kita dengan kaya. Perkataan Kristus harus memiliki keleluasaan di batin kita. Kita tidak boleh hanya menerimanya dan kemudian mem-batasinya di satu daerah yang kecil dalam diri kita. Seba-liknya, kita harus memberinya keleluasaan untuk berope-rasi di batin kita. Dengan cara inilah perkataan itu akan mendiami kita dan berhuni di dalam kita.
Saya menghargai ketrampilan Paulus sebagai seorang penulis. Di satu pihak, dia menekankan damai sejahtera Kristus, dan di pihak lain perkataan Kristus. Mungkin di antara kita ada yang mengira asalkan roh kita hidup, se-galanya akan beres. Mungkin Anda belum menyadari perlu-nya damai sejahtera Kristus menjadi juri di batin Anda dan perlunya perkataan Kristus berumah dalam batin Anda. Jika kita membiarkan damai sejahtera Kristus bekerja di dalam kita dan membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita, kita akan menjadi orang Kristen yang tepat. Se-bagai ganti kegemaran kita, kita akan memiliki keputusan Kristus sebagai juri. Sebagai ganti opini, konsepsi, pikiran, dan penilaian kita, kita akan memiliki perkataan Kristus. Orang kudus tertentu mengasihi Alkitab dan membacanya setiap hari. Tetapi dalam kehidupan mereka, konsepsi, opini, dan filsafat merekalah yang bergerak di batin mere-ka, bukan perkataan Kristus. Mereka mungkin mempela-jari Alkitab, tetapi mereka tidak membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam mereka, tidak pula mengizinkan-nya bergerak, bertindak, dan hidup di dalam mereka. Aki-batnya, yang menang dalam diri mereka adalah filsafat me-reka, bukan perkataan Kristus. Walaupun mereka membaca Alkitab, perkataan Allah tetap di luar mereka. Penting se-kali kita membiarkan perkataan Kristus masuk ke dalam kita, tinggal dalam kita, dan menggantikan konsepsi, opini, dan filsafat kita. Kita perlu berdoa, “Tuhan Yesus, aku mau menyingkirkan konsepsiku. Aku menghendaki perkataan-Mu mendapat kedudukan di dalamku. Aku mau melupakan opini dan filsafatku. Aku menghendaki perkataan-Mu me-nang di dalamku. Aku tidak mau konsepsiku menang lagi.”
Kita tidak dapat memisahkan perkataan Kristus dari keputusan-Nya sebagai juri. Juri menyelesaikan pertikaian dengan mengucapkan perkataan. Kita perlu membawa ka-sus kita kepada sang juri dan mendengar perkataannya. Ini berarti kita perlu membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita dan membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita. Kemudian kita akan dipenuhi dengan nyanyian dan ucapan syukur.
Menurut ayat 16, ketika perkataan Kristus tinggal dalam kita dengan limpahnya, kita akan mengajar dan menegur seorang akan yang lain dengan mazmur, puji-pujian, dan nyanyian rohani, menyanyi dengan anugerah dalam hati kita kepada Allah. Mengajar, menegur, dan bernyanyi semua berkaitan dengan kata kerja “tinggal”. Ini menunjukkan bahwa firman Tuhan bisa tinggal dengan limpah di dalam kita dengan mengajar, menegur, dan menyanyi. Kita seharusnya mengajar dan menegur bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan mazmur, puji-pujian, dan nyanyian rohani.
V. MELAKUKAN SEGALA HAL
DALAM NAMA TUHAN YESUS
Dalam ayat 17 Paulus berkata, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, la-kukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita.” Nama menunjukkan personanya. Persona Tuhan adalah Roh (2 Kor. 3:17a). Melakukan banyak hal dalam nama Tuhan Yesus berarti bertindak di dalam Roh. Ini adalah memperhi-dupkan Kristus.
Kita telah nampak bahwa selaku manusia baru kita adalah satu dengan Kristus dan kehidupan kita harus ber-ada dalam kesatuan dengan Kristus. Untuk hidup sedemi-kian rupa, kita perlu mengizinkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di batin kita. Damai sejahtera ini harus bicara paling akhir dan harus membuat keputusan terakhir. Ke-tika kita membiarkan damai sejahtera Kristus memutuskan perkara di dalam kita, saat itu juga kita harus membiar-kan perkataan Kristus tinggal di dalam kita dan memiliki keleluasaan untuk bekerja di dalam kita. Selama damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita dan perkataan Kristus tinggal di dalam kita, kita akan memiliki suatu ke-hidupan sehari-hari yang normal, seperti yang terlukis da-lam Kolose 3:18 hingga 4:1. Kita akan menjadi suami, istri, orang tua, anak-anak, hamba, dan tuan yang normal. Kebutuhan kita hari ini ialah hidup dalam kesatuan dengan Kristus, diperintah oleh damai sejahtera Kristus, dan didiami oleh perkataan Kristus.