Daftar isi Kolose (2) · Berita Ketiga Puluh · bab 7/21

Berita Ketiga Puluh

KEHIDUPAN KAUM SALEH DALAM KESATUAN DENGAN KRISTUS: MENGEKSPRESIKAN KRISTUS DALAM KEHIDUPAN INSANI, BERTEKUN DALAM DOA, DAN HIDUP DALAM HIKMAT

Pembacaan Alkitab: Kol. 3:18—4:6

Dalam berita ini kita akan melihat Kolose 3:18—4:6. Bagian Kitab Kolose ini meliputi masalah-masalah yang penting bagi kehidupan kristiani kita. Kita tidak boleh memisahkan bagian kitab ini dari pasal-pasal dan ayat-ayat sebelumnya. Sebaliknya, kita harus mengetahui bahwa ini adalah suatu kelanjutan dari semua yang telah Paulus bahas. Kita telah menunjukkan berulang-ulang bahwa Kitab Kolose mewahyukan siapa dan apa Kristus itu. Akhirnya, dalam Kolose 3:10-11, kita tampak bahwa Kristus adalah manusia baru. Karena Kristus adalah manusia baru, maka kita adalah satu dengan Kristus. Ini adalah butir yang paling mendasar dan paling penting dalam kitab ini.

Dalam pasal 1 dan 2 Paulus membahas banyak aspek mengenai Kristus. Kristus adalah bagian orang-orang kudus, gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari penciptaan, yang pertama bangkit dari antara orang mati, persona yang di dalam-Nya berdiam kepenuhan Allah Tritunggal, rahasia ekonomi Allah, rahasia Allah, pengharapan akan kemuliaan yang berhuni di batin, dan persona yang di dalam-Nya tersimpan segala harta hikmat dan pengetahuan. Dalam pasal 2 Paulus melanjutkan menyatakan bahwa Kristus adalah realitas segala bayangan. Karena Kristus yang demikian adalah semua dan di dalam segala sesuatu dalam manusia baru, di mana kita adalah satu bagian, akhirnya Kristus menjadi kita. Kita dengan Kristus adalah satu. Sasaran terakhir Allah dalam ekonomi-Nya adalah memperoleh manusia baru yang tersusun dari Kristus yang unggul dan almuhit yang tergarap ke dalam manusia korporat. Kita semua perlu memiliki visi yang tinggi dari ekonomi Allah. Menurut visi ini, kita dengan Kristus adalah satu, karena kita dengan Dia memiliki satu hayat dengan satu kehidupan.

Maksud Paulus dalam menulis Kitab Kolose ialah mengesankan semua orang beriman dengan fakta bahwa Kristus adalah segala sesuatu. Kaum beriman Yahudi harus melupakan peraturan-peraturan dan liturgi-liturgi mereka, dan kaum beriman bukan Yahudi harus mengesampingkan konsepsi filsafat mereka. Kita tidak dilahirkan kembali untuk liturgi-liturgi dan konsepsi-konsepsi seperti itu. Kita dilahirkan kembali untuk Kristus. Sekarang kita perlu dipenuhi dengan Kristus, dijenuhi dengan Kristus, dan diresapi dengan Kristus hingga Kristus menjadi kita.

Kita telah menunjukkan bahwa dalam ekonomi Allah ada satu persona — Kristus, satu cara — salib. Melalui satu persona dan satu cara ini, Allah akan memperoleh manusia baru. Manusia baru adalah Kristus yang tersusun di dalam kita. Di satu pihak, manusia baru adalah Kristus; di pihak lainnya, kita, kaum beriman, adalah manusia baru. Karena alasan ini, dalam manusia baru, Kristus dan kita adalah satu.

Sebagai orang-orang yang menjadi bagian dari manusia baru, kita perlu membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di batin kita dan membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita dengan limpahnya. Jika kita berbuat demikian, kita akan dengan spontan mengekspresikan Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita. Ini berarti kita akan memperhidupkan Kristus, karena kita adalah satu dengan Dia, kita memiliki damai sejahtera-Nya, dan kita memiliki perkataan-Nya. Sebab itu, kita menjadi ekspresi Kristus secara riil.

I. MENGEKSPRESIKAN KRISTUS

DALAM KEHIDUPAN INSANI

Allah mendambakan Kristus diekspresikan melalui kehidupan insani. Kita melihat hal ini dalam Kolose 3:18— 4:1, bagian yang sesifat dengan Efesus 5:22—6:9, yakni mengenai etika antar orang beriman. Dalam Kitab Efesus yang ditekankan adalah perlunya memiliki etika yang dipenuhi roh bagi ekspresi Tubuh Kristus dalam hidup gereja yang normal. Dalam Kitab Kolose yang ditekankan adalah kita berpegang teguh pada Kristus sebagai Kepala dan mengambil Dia sebagai hayat kita dengan menyimpan perkataan-Nya dengan limpahnya yang kaya di dalam kita, supaya etika yang tertinggi (yang bukan tidak berasal dari hayat alamiah kita, melainkan dari Kristus sebagai hayat kita) dapat diwujudkan bagi ekspresi-Nya.

Jika kita hidup dalam kesatuan dengan Kristus, Kristus akan terekspresi melalui keinsanian kita. Kristus terekspresi dalam kehidupan insani, bukan dalam hayat malaikat; malaikat tidak dapat mengekspresikan Kristus. Bapa telah menentukan agar kita, orang-orang pilihan-Nya, menjadi ekspresi Putra-Nya. “Dariku diri-Mu hidup” seharusnya menjadi doa kita (lihat Kidung No. 304).

Jika kita ingin menjadi orang-orang yang melaluinya Kristus dapat diperhidupkan, kita perlu melewati dua setengah pasal pertama dari Kitab Kolose. Kemudian, pada 3:15-16, kita perlu menjadi orang-orang yang di dalamnya damai sejahtera Kristus memerintah dan yang di dalamnya perkataan Kristus tinggal dengan limpah. Sesudah itu barulah Kristus terekspresi di dalam kehidupan insani kita.

Banyak di antara orang-orang yang berada dalam agama atau kepercayaan lain memiliki penilaian yang rendah terhadap hayat insani. Mereka tidak mempedulikan pernikahan atau kehidupan keluarga yang tepat. Mereka lebih suka tidak kawin, dan mereka ingin hidup seperti malaikat. Tetapi hayat malaikat tidak dapat mengekspresikan Kristus. Sebaliknya, Kristus perlu diekspresikan dalam diri orang-orang yang menjadi suami, istri, orang tua, anak-anak, tuan, dan hamba. Untuk mengekspresikan Kristus, kita perlu memiliki suatu kehidupan insani yang tepat dan normal.

Sebagai orang tua yang memiliki delapan anak dan bercucu lebih dari dua puluh orang, saya dapat bersaksi bahwa Tuhan mengetahui bagaimana memilih suami atau istri yang terbaik bagi kita dan anak-anak macam apa yang harus kita miliki. Ia pun tahu bagaimana menghancurkan kita dan membuat kita menjadi manusia yang bening agar kita dapat mengekspresikan Kristus. Melalui kehidupan keluarga kita mempelajari banyak pelajaran berharga dari Tuhan. Saya percaya bahwa para malaikat mengamati apakah kita memperhidupkan Kristus atau tidak dalam kehidupan keluarga kita. Memperhidupkan Kristus di dalam gereja tidak sesukar memperhidupkan Kristus di rumah. Tetapi betapa indah bila seorang saudara atau saudari mengekspresikan Kristus dalam kehidupan pernikahannya. Saudara atau saudari dalam pemulihan Tuhan seharusnya tidak ada yang menginginkan hidup seperti seorang biarawan atau biarawati. Pada waktu yang tepat, saudara dan saudari harus menikah, dan kemudian melalui pengalaman-pengalaman kehidupan pernikahan belajar mengekspresikan Kristus dalam kehidupan insani mereka.

Kehidupan kaum saleh dalam kesatuan dengan Kristus harus menghasilkan ekspresi Kristus dalam kehidupan insani. Jika kita tampak hal ini, kita akan memuji Tuhan bagi kehidupan insani kita. Lagi pula, kita akan memiliki suatu apresiasi yang segar bagi kehidupan pernikahan. Saya dapat bersaksi bahwa saya selalu bersyukur karena istri, anak-anak, dan cucu-cucu saya. Saya sangat bersyukur karena semua pelajaran yang telah Tuhan ajarkan kepada saya melalui mereka. Semakin lanjut usia saya, saya semakin menghargai pelajaran-pelajaran yang saya pelajari melalui proses kehidupan insani saya. Dalam hubungan antara istri dengan suami dan anak-anak dengan orang tua, kita perlu memperhidupkan Kristus dan mengekspresikan Dia.

Dalam hubungan antara tuan dan hamba prinsipnya juga sama. Dalam ayat 22-25 Paulus memberi pesan kepada para hamba. Dalam ayat 24 dia membicarakan tentang menerima “warisan yang menjadi upahmu”. Dalam Efesus 6:8, butir ini tidak sejelas yang ada di sini. Warisan di sini adalah apa yang akan diwarisi orang-orang beriman (Rm. 8:17; Kis. 26:18; 1 Ptr. 1:4). Warisan yang menjadi upahmu menunjukkan bahwa Tuhan memakai warisan yang akan Dia berikan kepada kaum beriman-Nya sebagai suatu dorongan agar mereka setia dalam pelayanan mereka kepada-Nya. Orang-orang yang tidak setia pasti akan kehilangan upah ini (Mat. 24:45-51; 25:20-29).

II. BERTEKUN DALAM DOA

DAN HIDUP DALAM HIKMAT

A. Bertekun dalam Doa

Dalam Kolose 4:2-4 Paulus beralih ke masalah doa. Dalam ayat 2 dia berkata, “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur.” Bertekun berarti melanjutkan secara terus-menerus, teguh, dan sungguh-sungguh. Dalam hal doa kita perlu berjaga-jaga dan waspada, tidak lengah. Berjaga-jaga yang demikian seharusnya disertai dengan ucapan syukur.

Jika kita ingin mengekspresikan Kristus dalam kehidupan insani kita dan menjaga anugerah yang telah kita terima dari Tuhan, kita perlu bertekun dalam doa. Jika kita memakai waktu untuk merenungkan wahyu Kristus yang almuhit dalam Kitab Kolose, kita pasti akan menerima anugerah dari Tuhan. Akhirnya, kita akan tampak bahwa kita dengan Kristus adalah satu, sehingga damai sejahtera-Nya menjadi juri di batin kita, dan perkataan-Nya memenuhi kita. Kemudian kita akan mampu memperhidupkan dan mengekspresikan Dia. Akan tetapi, tidak peduli berapa banyaknya anugerah yang kita terima dari Tuhan, ia akan bocor keluar jika kita gagal bertekun dalam doa. Hanya doalah yang dapat memelihara anugerah yang kita terima. Hanya melalui doalah baru anugerah ini menjadi hidup dan berkhasiat dalam pengalaman kita. Sudah pasti, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang menerima anugerah, tetapi kehidupan ini perlu ditopang dengan doa.

Masalah yang terpenting dalam memelihara hayat jasmani kita ialah bernapas. Bernapas bahkan lebih penting daripada makan dan minum. Kita dapat hidup berhari-hari tanpa makan dan minum, tetapi hanya dapat hidup beberapa menit tanpa bernapas. Doa adalah napas rohani. Berdoa berarti bernapas.

Ketika sebagian orang kudus mendengar perkataan tentang doa, mereka segera bertanya bagaimana caranya berdoa. Kita harus melupakan tentang cara, dengan sederhana berdoa saja. Sebagai contoh, seorang bocah belajar berjalan melalui berjalan. Tidak banyak orang tua yang mengajar anak-anaknya berjalan. Sama prinsipnya, kita belajar berdoa melalui berdoa.

Dalam Kolose 4:2 Paulus menyuruh kita bertekun dalam doa. Ini berarti kita tidak boleh hanya terus-menerus dalam doa, tetapi kita harus berjuang atau berusaha keras untuk meneruskan doa kita. Dalam lingkungan kita hampir setiap hal bertentangan dengan doa. Untuk dapat berdoa, kita perlu melawan arus lingkungan kita. Jika kita gagal berdoa, kita akan terhanyut ke hilir. Sebab itu, kita perlu bertekun dalam doa, berdoa terus-menerus.

Dari hari ke hari kita perlu melatih diri kita untuk berdoa. Kita bahkan setiap hari harus menyisihkan waktu-waktu tertentu untuk berdoa. Janganlah memaafkan diri Anda dengan berkata bahwa Anda tidak ada beban untuk berdoa. Berdoalah sekalipun Anda seolah-olah tidak ada beban, atau ketika tampaknya Anda tidak ada sesuatu yang harus dikatakan kepada Tuhan. Anda mempunyai banyak perkataan untuk dibicarakan kepada orang lain. Mengapa tidak pergi kepada Tuhan dan memberi tahu Dia setiap hal yang Anda katakan kepada mereka? Jika Anda tidak tahu harus berkata apa kepada Tuhan, berdoalah seperti ini: “Tuhan, aku datang kepada-Mu, tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, dan aku tidak tahu bagaimana harus berdoa. Tuhan, ajarlah aku berdoa, dan katakanlah apa yang harus aku katakan. Tuhan, dalam hal ini aku perlu belas kasih-Mu.” Jika Anda berbuat demikian, Anda akan tampak bahwa sering kali ketika Anda berdoa demikian, maka akan keluarlah doa-doa yang sejati. Ketika Anda merasa berbeban untuk berdoa, mungkin doa Anda malah tidak sejati. Namun, ketika Anda pergi kepada Tuhan dengan doa yang tanpa beban, mengatakan kepada-Nya bahwa Anda tidak ada sesuatu yang harus diucapkan, Anda akan tampak Anda sendiri disegarkan di dalam Tuhan dan dapat berdoa dengan sejati. Bila kita membuka diri kepada Tuhan dan mengakui kita tidak tahu apa yang harus diucapkan kepada-Nya, maka kita akan menghirup udara rohani yang segar, dan kita akan terlindung di dalam anugerah Tuhan.

Paulus juga menganjuri kita untuk berjaga-jaga dalam doa. Kita perlu berwaspada terhadap musuh. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada beberapa menit yang akan datang. Kita perlu berjaga-jaga karena kehidupan kristiani adalah kehidupan peperangan, kehidupan pertempuran.

B. Hidup dalam Hikmat

Dalam Kolose 4:5-6 Paulus berkata, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, tebuslah waktu. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh anugerah, seperti diberi garam, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Tl.). Menebus waktu berarti menggunakan setiap kesempatan yang baik untuk menyuplaikan hayat. Inilah artinya hidup dalam hikmat (Ef. 5:15). Dalam zaman yang jahat ini, setiap hari adalah hari yang jahat, penuh dengan perkara-perkara yang merusak, yang membuat waktu kita digunakan dengan tidak efektif, berkurang, dan dirampas. Karena itu, kita harus hidup secara bijaksana agar kita dapat menebus waktu, me-megang setiap kesempatan yang ada.

Hidup dalam hikmat berarti mengambil setiap kesempatan untuk menebus waktu. Menebus waktu di sini berkaitan dengan cara kita berbicara dengan orang lain. Sering kali saya harus mengakui kebodohan saya dalam berbicara kepada orang-orang. Dengan berbicara kepada mereka dalam cara-cara tertentu, saya sudah memboroskan waktu. Saya tidak menggunakan hikmat secukupnya untuk menyuplaikan hayat, dan dengan begitu dapat menghindari pergesekan atau perselisihan. Sebaliknya, saya malah memboroskan waktu melalui mengadakan percakapan-per-cakapan yang tidak menyuplaikan hayat. Kita perlu berdoa agar Tuhan memberi kita hikmat dalam kontak kita dengan orang lain. Jika kita hidup dalam hikmat dalam bercakap-cakap dengan orang lain, kita akan menebus waktu kita. Kita semua telah kehilangan kesempatan untuk menyuplaikan hayat karena kita telah menyita waktu dalam perca-kapan-percakapan yang bodoh.

Cara yang terbaik untuk menebus waktu kita ialah berdoa terus-menerus, berjaga-jaga, dan hidup dalam hikmat. Jika kita melakukan hal-hal ini, kita akan memegang semua kesempatan yang baik untuk menyuplaikan hayat. Kalau kita tidak bertekun dalam doa dan tidak berjaga-jaga, kita akan gagal dalam memegang kesempatan untuk menyuplaikan hayat. Kapan pun kita berkontak dengan orang lain tanpa menggunakan hikmat, kita akan memboroskan waktu. Pada kesempatan tertentu kita mungkin memboroskan waktu setengah jam untuk membicarakan hal-hal yang tidak menyuplaikan hayat. Kita semua harus belajar berdoa, berjaga-jaga, dan mencari hikmat dari Tuhan agar kita dapat menebus waktu kita.

Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh anugerah, seperti diberi garam, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Tl.). Dalam Efesus 4:29 Paulus menyebutkan perkataan yang memberikan anugerah kepada orang yang mendengarnya. Anugerah adalah Kristus sebagai kenikmatan dan suplai kita. Perkataan kita harus menyampaikan anugerah ini kepada orang lain. Perkataan yang membangun orang lain selalu menyuplaikan anugerah yang demikian kepada orang-orang yang mendengarnya. Perkataan yang beranugerah berarti Kristus diekspresikan melalui perkataan kita. Ini berarti perkataan kita harus menjadi ekspresi dan ungkapan Kristus. Setiap perkataan harus merupakan pengekspresian Kristus yang adalah anugerah.

Tutur kata kita harus pula seperti diberi garam. Garam membuat makanan dapat diterima dan enak rasanya. Perkataan yang digarami menjaga kita dalam perdamaian seorang dengan yang lain (Mrk. 9:50). Jika perkataan kita beranugerah dan bergaram, maka perkataan itu akan membuat segalanya menjadi serasi atau menyenangkan, dan akan membangkitkan rasa yang nyaman dalam diri orang lain.

Dalam Kolose 4:2-6 Paulus membahas lima masalah yang penting: doa, berjaga-jaga, hidup dalam hikmat, menebus waktu, dan tutur kata yang beranugerah dan diberi garam. Sukar untuk menentukan mana yang menjadi butir utama dalam ayat-ayat ini, doa atau menebus waktu. Tetapi tidak peduli yang mana yang kita anggap sebagai titik fokusnya, yang pasti kehidupan kristiani yang tepat memerlukan kita menebus waktu. Semua orang dalam dunia hari ini telah memboroskan waktu dan kehilangan kesempatan yang berharga. Tetapi kita perlu menebus setiap waktu dan memegang setiap kesempatan. Untuk menempuh kehidupan yang demikian, kita perlu dipenuhi dengan Kristus dan dijenuhi oleh-Nya. Kita perlu bersatu dengan Kristus dan membiarkan damai sejahtera-Nya menjadi juri di dalam kita dan dipenuhi oleh perkataan-Nya. Kemudian kita akan mengekspresikan Dia melalui doa, berjaga-jaga, dan hidup dalam hikmat. Jika kita adalah manusia yang demikian, kita akan menjadi orang-orang yang menebus waktu dan merebut setiap kesempatan yang ada untuk menyuplaikan hayat. Lagi pula, perkataan kita tidak akan menimbulkan keresahan. Sebaliknya, melalui penanggulangan Tuhan yang menyeluruh, maka apa saja yang terucap dari mulut kita akan menjadi perkataan anugerah yang diberi garam. Perkataan yang demikian akan membuat segala hal menjadi serasi atau menyenangkan untuk dirasakan. Semoga kita semua mempelajari dan mempraktikkan semua hal ini.