KRISTUS — UNSUR MANUSIA BARU
Pembacaan Alkitab:
Kol. 3:5-11; Gal. 2:19a; Rm. 6:3; 8:13;
Ef. 4:22, 25a, 24; Rm. 12:2; Flp. 1:21; Kol. 1:27; 1 Kor. 12:13
Menurut Kolose 3, Kristus adalah hayat kita, juga persona yang adalah segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu (ayat 4, 11). Dalam berita ini kita akan melihat bagaimana Kristus yang demikian ini adalah unsur manusia baru.
Sebelum Paulus membahas masalah ini, dia mengatakan tentang menanggalkan sejumlah hal (ayat 5, 9). Dalam manusia baru ini segala sesuatu yang bukan Kristus harus ditanggalkan. Dalam gereja sebagai manusia baru tidak ada tempat bagi segala sesuatu yang bukan Kristus. Dalam menggolongkan hal-hal yang harus kita tanggalkan itu, Paulus membicarakan tentang hal-hal yang bersifat daging, hal-hal psikologis, dan akhirnya keseluruhan manusia lama.
I. MEMATIKAN ANGGOTA-ANGGOTA TUBUH KITA YANG PENUH HAWA NAFSU
Dalam Kolose 3:5 Paulus berkata, “Karena itu, matikan-lah anggota-anggotamu yang ada di bumi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”(Tl.). Di dalam anggota-anggota kita yang berdosa ada hukum dosa, yang membuat kita menjadi tawanan dosa dan menyebabkan tu-buh kita yang bejat menjadi tubuh maut (Rm. 7:23-24). Jadi, anggota-anggota kita, yang berdosa, disamakan dengan per-kara-perkara dosa, seperti percabulan, kenajisan, hawa naf-su, nafsu jahat, dan keserakahan. Dalam ayat 6 Paulus me-nunjukkan “semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang yang tidak taat].” Dalam ayat 7 dia selanjut-nya berkata bahwa dahulu kaum beriman juga melakukan hal-hal itu ketika mereka hidup di dalamnya.
Dalam ayat 5 Paulus menyuruh kita mematikan ang-gota-anggota kita yang ada di bumi. Ini dilakukan berda-sarkan fakta bahwa kita telah disalibkan dengan Kristus (Gal. 2:19a) dan dibaptis ke dalam kematian-Nya (Rm. 6:3). Kita melaksanakan kematian Kristus atas anggota-anggota kita yang berdosa dengan menyalibkan anggota-anggota itu, dengan iman, oleh kuat kuasa Roh (Rm. 8:13). Ini berhu-bungan dengan Galatia 5:24. Kristus merampungkan penya-liban yang almuhit. Sekarang kita menerapkannya kepada daging kita yang penuh nafsu. Ini mutlak berbeda dengan pertapaan.
Kematian Kristus yang almuhit di atas salib diterapkan ke atas kita pada waktu pembaptisan. Semua orang yang percaya dalam Tuhan Yesus harus dibaptiskan. Dalam pembaptisan kita tidak saja mengakui kematian Kristus, juga menerapkannya ke atas diri kita sendiri. Sebab itu da-lam pembaptisan kita ditempatkan ke dalam kematian Kristus dan dikubur.
Menurut Roma 8:11 dan 13, mematikan perbuatan-per-buatan tubuh adalah suatu aksi yang dikerjakan dalam kuasa Roh itu, bukan digenapkan oleh upaya diri sendiri. Upaya kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh tidak lebih dari cara pertapaan. Walaupun kita tidak untuk mempraktekkan pertapaan, tetapi kita perlu mematikan hal-hal negatif di dalam kita melalui kuasa Roh Kudus. Untuk melaksanakan hal ini, kita perlu terbuka kepada Roh itu dan membiarkan Roh itu mengalir di batin kita. Melalui pengaliran Roh itu, kita akan mengalami khasiat kematian Kristus. Ini bukan pertapaan, melainkan operasi Roh itu di batin kita.
Sejumlah orang saleh telah membaca buku riwayat hi-dup Nyonya Guyon. Buku itu memuat jejak-jejak yang nya-ta dari pertapaan dan mistikisme, hal-hal yang merusak ge-reja di Kolose. Orang-orang yang membaca buku-buku yang dikarang oleh orang-orang aliran mistik harus membacanya dengan daya pembeda. Walaupun ada beberapa hal dalam buku-buku itu yang bisa membantu orang, tetapi yang lain-nya beracun. Beberapa tahun yang lampau kita menerima bantuan melalui beberapa dari buku-buku itu. Tetapi akhir-nya kita mengetahui bahwa membaca buku-buku seperti itu tanpa daya pembeda akan menjerumuskan orang-orang Kris-ten yang menuntut ke dalam kekeliruan pertapaan. Karena itu saya tidak menganjurkan Anda membaca buku-buku itu tanpa bantuan orang kudus yang lebih berpengalaman. Bahkan akhir-akhir ini, ada beberapa orang, khususnya saudari, telah dirusak oleh buku-buku tersebut.
Kita harus waspada terhadap pertapaan. Kita tidak boleh membebankan sesuatu ke atas diri kita dalam upaya untuk menanggulangi hawa nafsu daging kita. Sebaliknya, praktek kita haruslah membuka diri kita dalam persekutu-an dengan Tuhan dan membiarkan Roh itu dengan leluasa mengalir di batin kita, dan menerapkan khasiat kematian Kristus yang almuhit ke atas hal-hal negatif dalam diri kita. Pertapaan merupakan bunuh diri rohani; sebaliknya, apa yang kita bicarakan ialah penerapan kematian Kristus me-lalui pengaliran Roh itu.
II. MEMBUANG HAL-HAL KEJIWAAN YANG BURUK
Dalam ayat 8 Paulus membicarakan tentang mem-buang hal-hal psikologis (kejiwaan) yang buruk: “Tetapi seka-rang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahat-an, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu”. Jika Anda membandingkan ayat ini dengan ayat-ayat yang terdahulu, Anda akan nampak bahwa Paulus menggolong-kan hal-hal daging dalam satu kategori dan hal-hal jiwa yang telah jatuh dalam kategori lain. Semua hal negatif, baik dari daging maupun dari jiwa yang telah jatuh harus dikesampingkan. Kita melakukan ini bukan oleh kekuatan kita sendiri, melainkan melalui kuat kuasa Roh yang al-muhit.
III. TELAH MENANGGALKAN MANUSIA LAMA SERTA KELAKUANNYA
Dalam ayat 9 Paulus meneruskan, “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manu-sia lama serta kelakuannya.” Ayat ini menunjukkan bahwa keseluruhan manusia lama, seluruh diri manusia lama, per-lu ditanggalkan seperti menanggalkan pakaian lama. Sege-nap persona manusia lama harus dibuang. Dalam ayat ini Paulus membicarakan tentang “telah menanggalkan manu-sia lama” sebab kita telah menanggalkan manusia lama dalam pembaptisan. Manusia lama kita telah disalibkan ber-sama Kristus (Rm. 6:6) dan telah dikubur dalam pembap-tisan (Rm. 6:4).
IV. TELAH MENGENAKAN MANUSIA BARU
Dalam ayat 10 Paulus memaklumkan, “Dan telah me-ngenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui un-tuk memperoleh pengetahuan yang benar (penuh) menurut gambar Penciptanya.” Mengenakan manusia baru sama se-perti mengenakan pakaian baru. Kata Yunani yang diterje-mahkan baru dalam ayat ini berarti baru dalam waktu. Ini berbeda dengan kata yang dipakai dalam Efesus 4:24, yang berarti baru dalam sifat, mutu, atau bentuk.
Manusia baru ini milik Kristus. Inilah Tubuh-Nya, yang diciptakan di dalam Dia di atas salib (Ef. 2:15-16). Ini tidak bersifat individual, melainkan korporat. Menurut visi yang jelas dalam Efesus 2:15, manusia baru ini adalah sua-tu wujud korporat. Ini dibuktikan dengan fakta bahwa manusia baru diciptakan dari dua golongan manusia, Yahudi dan kafir (bukan Yahudi). Lagi pula, Efesus 2:16 mengatakan bahwa manusia baru yang diciptakan dari manusiamanusia kolektif itu adalah Tubuh Kristus. Karenanya, manusia baru dan Tubuh adalah istilah yang searti dan dapat digunakan secara bergantian.
Fakta bahwa manusia baru adalah Tubuh dan Tubuh adalah manusia baru merupakan satu petunjuk yang kuat bahwa manusia baru bukan satu wujud individual, melain-kan wujud korporat. Sebab itu, salah besar bila beberapa versi Alkitab mengatakan mengenakan diri baru. Versi The New American Standard melakukan kesalahan ini dalam Kolose 2:10 dengan menerjemahkannya “telah mengenakan diri baru”. Itu adalah kesalahan yang sangat serius. Itu su-dah melebihi menerjemahkan Alkitab dan sebenarnya, ada-lah mengubah Alkitab. Bahasa Yunaninya berarti manusia, bukan diri. Jadi, sama sekali salah jika mengatakan me-ngenakan diri baru. Menurut Kolose 3:10, apa yang kita ke-nakan adalah manusia baru, bukan diri baru.
A. Diperbarui untuk Memperoleh Pengetahuan yang Penuh Menurut Gambar Penciptanya
Dalam Efesus 2 kita diberi tahu bahwa manusia baru diciptakan, tetapi dalam Kolose 3:10 kita nampak manusia baru terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengeta-huan yang penuh menurut gambar Penciptanya. Meskipun Kitab Efesus dan Kolose merupakan kitab yang sesifat, te-tapi pembahasan tentang manusia baru yang dikatakan ke-dua kitab ini tidak sama persis. Bagaimana kita dapat me-ngatakan bahwa di satu pihak manusia baru itu diciptakan dan di pihak lain diperbarui? Karena manusia baru dicipta-kan dengan kita yang adalah milik ciptaan lama (Ef. 2:15), maka manusia baru perlu diperbarui. Pembaruan ini ter-jadi terutama di dalam pikiran kita, seperti yang dinyata-kan oleh frase “untuk memperoleh pengetahuan yang pe-nuh” (Tl.). Dalam roh kita manusia baru telah diciptakan. Sebelum manusia baru diciptakan di dalam roh kita dalam kebangkitan, kita tidak memiliki Roh Allah atau hayat Allah di dalam kita. Meskipun kita mempunyai roh, di da-lam roh kita tidak berisi hayat ilahi. Tetapi pada waktu ciptaan baru terjadi di dalam roh kita dalam kebangkitan, Roh Kudus dengan hayat ilahi ditambahkan ke dalam diri kita. Penambahan Roh dan hayat ilahi ke dalam roh kita ini menghasilkan suatu insan baru, yakni manusia baru. Karena alasan ini maka kita dapat mengatakan bahwa da-lam roh kita manusia baru telah diciptakan.
Tetapi, masih tetap ada keperluan untuk pembaruan dalam jiwa kita dan bahkan dalam tubuh kita. Pikiran kita yang mewakili jiwa kita perlu diperbarui. Akhirnya, ketika tubuh kita ditransfigurasi, itu pun berarti diperbarui. Sebab itu, roh kita telah dilahirkan kembali, tetapi jiwa kita se-dang diperbarui. Di satu pihak, dalam roh kita manusia baru sudah diciptakan dengan unsur-unsur baru, yaitu un-sur-unsur hayat ilahi dan Roh Kudus; di pihak lain, dalam jiwa kita manusia baru sedang terus-menerus diperbarui.
Masalah kaum beriman di Kolose bukan pada roh, bu-kan pula pada ciptaan baru. Karena mereka telah menerima berbagai macam filsafat, masalah mereka adalah di dalam pikiran. Mereka telah keliru di aspek pikiran, bukan di as-pek ciptaan baru. Sebab itu, mereka perlu pembaruan untuk memperoleh pengetahuan yang penuh.
Dalam Kolose 3:10 Paulus mengatakan bahwa manusia baru itu terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pe-ngetahuan yang penuh “menurut gambar Penciptanya”. Gam-bar di sini mengacu kepada Kristus, Anak terkasih Allah, sebagai ekspresi Allah (1:15; Ibr. 1:3). Allah Sang Pencipta-lah yang menciptakan manusia baru ini di dalam Kristus (Ef. 2:15).
Dalam Efesus 4:24 Paulus mengatakan bahwa manusia baru ini “diciptakan menurut kehendak Allah di dalam ke-benaran dan kekudusan yang sesungguhnya”. Dalam ayat ini tidak dikatakan tentang gambar, hanya dikatakan bah-wa manusia baru diciptakan menurut Allah sendiri, sedang dalam Kolose 3:10 kita nampak manusia baru ini sedang terus-menerus diperbarui menurut gambar Allah yang men-ciptakannya. Dalam Efesus 4:24 manusia baru diciptakan menurut Allah, tetapi dalam Kolose 3:10 manusia baru te-rus-menerus diperbarui menurut gambar Allah. Pembaru-an manusia baru ini menghasilkan pengetahuan yang pe-nuh, dan pengetahuan yang penuh ini adalah menurut gam-bar Allah. Dalam beberapa berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa gambar dalam Kolose 1:15 ditujukan kepada ekspresi Allah dan kepenuhan Allah. Gambar Allah adalah kepenuhan dan ekspresi-Nya. Sudah tentu ini adalah Kristus sendiri.
Saya tidak yakin bahwa di antara kita sudah banyak orang yang telah diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang penuh menurut gambar Allah. Dalam hal ini, kita perlu lebih banyak pertumbuhan. Kita sama seperti orang-orang Kolose yang dalam manusia baru sudah diciptakan, tetapi pikiran kita belum lagi diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang penuh. Kita harus diperbarui dalam pi-kiran kita untuk memperoleh pengetahuan yang penuh menurut ekspresi Allah, yakni menurut Kristus sebagai gambar Allah. Ini berarti kita perlu suatu pembaruan da-lam pikiran kita menurut apa adanya Kristus. Hal ini hanya dapat terjadi bila kita telah diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang penuh.
Dalam Kitab Kolose Paulus memakai frase “pengetahu-an yang penuh” sebanyak tiga kali (1:10 LAI:pengetahuan; 2:2 LAI:mengenal; 3:10 LAI:pengetahuan yang benar). Ma-salah orang-orang Kolose ialah mereka memiliki jenis pe-ngetahuan yang keliru. Mereka telah menerima filsafat-filsafat yang bukan menurut Kristus. Dalam Kolose 2:8 Paulus berbicara tentang filsafat-filsafat yang menurut tra-disi manusia dan menurut unsur-unsur dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sekarang dalam Kolose 3:10 dia berbicara tentang pengetahuan yang penuh menurut gambar, ekspresi, kepenuhan Allah. Mengenai manusia baru, pikiran kita per-lu diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang penuh sedemikian, yaitu menurut Kristus yang adalah ekspresi Allah yang tidak kelihatan. Pikiran kita perlu diperbarui sampai tingkat tertentu sehingga kita memiliki pandangan yang jelas akan Kristus sebagai gambar Allah. Tidak ba-nyak orang Kristen yang mempunyai pengertian yang tepat akan Kristus yang diungkapkan dalam Kitab Kolose ini. Pikiran mereka belum lagi diperbarui kepada pengetahuan yang penuh tentang Dia. Akibatnya, banyak orang Kristen hari ini telah tersesatkan, tertipu, dan teperdaya seperti orang-orang Kolose dahulu. Orang-orang Kolose bisa tertipu karena dalam pikiran mereka, mereka belum memiliki pe-ngetahuan yang penuh menurut ekspresi Allah. Demikian pula keadaan orang Kristen dewasa ini. Beberapa orang te-lah terpengaruh karena pikiran mereka belum diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang penuh menurut Kristus yang almuhit sebagai gambar Allah.
Dalam Kitab Efesus kita nampak bahwa manusia baru diciptakan di dalam roh kita dengan unsur-unsur hayat ilahi dan Roh Kudus. Unsur-unsur ini telah ditambahkan ke dalam diri kita untuk menghasilkan satu ciptaan baru. Tetapi dalam Kitab Kolose manusia baru sedang terus-me-nerus diperbarui di dalam pikiran kita untuk memperoleh pengetahuan yang penuh menurut Kristus sebagai gambar Allah. Bila pikiran kita telah dipenuhi dengan pengetahuan tentang Kristus yang almuhit, maka emosi kita akan ter-pengaruh. Hal ini akan menyebabkan kita memiliki apre-siasi yang lebih besar terhadap Tuhan Yesus. Sebagai con-toh, seorang anak kecil boleh jadi memiliki penilaian yang lebih besar terhadap sebuah kotak beludru daripada cincin berlian yang ada di dalam kotak itu. Dalam pikiran anak kecil itu tidak ada pengetahuan tentang nilai cincin berlian. Tetapi, ketika anak itu bertumbuh dewasa, ia akan mem-punyai penilaian yang lebih besar terhadap cincin berlian itu. Akhirnya, ia akan menyimpan cincin itu dan mem-buang kotaknya.
Kasih adalah masalah emosi, dan emosi berkaitan dengan pengertian yang kita miliki dalam pikiran. Jika pengertian kita tentang hal tertentu sedikit, kita tidak akan mempunyai banyak penghargaan atau apresiasi terhadapnya. Ini tidak mungkin membuat kita mengasihinya. Tetapi bila pikiran kita terhadap hal itu diperbarui, maka emosi kita berikut kasihnya akan diperbarui pula. Ketika pikiran diperbarui, emosi pun dengan spontan diperbarui. Peng-alaman kita menguatkan hal ini. Baik dalam pengalaman rohani maupun dalam pengalaman insani kita, pikiran mempengaruhi emosi, dan emosi mempengaruhi tekad.
Kita perlu diperbarui di dalam pikiran kita agar kita memiliki kasih yang tepat terhadap Tuhan dalam emosi kita. Banyak orang saleh yang dingin terhadap Tuhan ka-rena pikiran mereka tidak memiliki banyak pengetahuan tentang Dia. Semakin banyak pengetahuan kita tentang Kristus yang almuhit, kita akan semakin mengapresiasi Dia dan mengasihi Dia. Walaupun kita masih memerlukan banyak pembaruan, namun kita sudah memiliki sejumlah pengetahuan tentang Tuhan Yesus. Pengetahuan tentang Dia ini membuat kita bisa mengasihi Dia. Dari kasih dan apresiasi kita terhadap Tuhan, kita menggunakan tekad kita untuk memutuskan menjadi orang yang hidup bagi-Nya, mengikuti-Nya, memperhidupkan-Nya, mempertum-buhkan-Nya, dan menghasilkan Dia. Kita memutuskan un-tuk hidup bagi-Nya dan bagi kesaksian-Nya. Keputusan ini berasal dari emosi, dan emosi kembali dipengaruhi oleh pe-ngetahuan yang tepat tentang Kristus.
Titik sentral dari perkataan Paulus dalam Kitab Kolose menyangkut pembaruan pikiran untuk memperoleh penge-tahuan yang penuh tentang Kristus. Orang-orang Kolose memerlukan pengetahuan yang penuh, bukan menurut fil-safat, Gnostikisme, peraturan-peraturan Yahudi, atau kete-tapan-ketetapan kafir, melainkan suatu pengetahuan yang penuh menurut gambar Allah. Seperti telah kita tunjukkan, gambar ini adalah Kristus yang ajaib, mulia, dan almuhit. Kita perlu suatu pembaruan yang menghasilkan pengetahuan yang penuh menurut Kristus yang sedemikian.
Sewaktu saya masih muda, saya telah tertawan oleh Tuhan Yesus. Semakin pikiran saya diperbarui untuk mem-peroleh pengetahuan yang tepat tentang Dia, saya semakin mengasihi Dia. Saya dapat bersaksi, sekalipun kini saya adalah seorang yang lanjut usia, kasih saya terhadap-Nya tetap segar. Sesungguhnya, saya mengasihi Dia hari ini melebihi sebelumnya. Ketika saya berbicara tentang Dia, batin saya seolah-olah terbakar. Pembaruan yang terjadi da-lam pikiran saya untuk memperoleh pengetahuan yang penuh menurut gambar Allah telah menciptakan apresiasi di batin saya bagi Tuhan. Hal ini membuat saya mengasihi Dia. Bila kita memiliki kasih demikian kepada Tuhan, kita akan berkata, “Tuhan Yesus, bagaimanapun aku ingin meng-ikuti Engkau. Aku mau membayar harga berapa pun, bah-kan nyawaku sekalipun, untuk bersatu dengan-Mu dan ba-gi-Mu. Tuhan, aku ingin menerima Engkau sebagai hayat dan personaku. Aku ingin memperhidupkan Engkau, mem-pertumbuhkan Engkau, dan menghasilkan Engkau. Tuhan Yesus, aku di sini bagi-Mu dan hanya bagi-Mu saja.”
B. Tidak Boleh Ada Manusia Alamiah
Dalam ayat 11 Paulus melanjutkan, “Dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang ber-sunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah se-mua dan di dalam segala sesuatu.” Kata “Dalam hal ini” mengacu kepada manusia baru di dalam ayat 10, yang ber-arti di dalam manusia baru. Di dalam manusia baru ini bu-kan hanya tidak ada manusia alamiah, bahkan kemungkin-an keberadaan dan kedudukan manusia alamiah pun tidak ada. Tidak ada orang Yunani yang hidup bagi hikmat filsa-fat, juga tidak ada orang Yahudi yang hidup bagi tanda-tanda (1 Kor. 1:22). Tidak ada orang bersunat, juga tidak ada orang tak bersunat. Orang bersunat di sini mengacu kepada mereka yang memelihara ritual agama Yahudi. Orang tak bersunat mengacu kepada mereka yang tidak peduli pada agama Yahudi. Selain itu, dalam manusia baru ini tidak ada orang Barbar, orang Skit, budak, atau orang mer-deka. Orang Barbar adalah orang yang tidak berbudaya, orang Skit dianggap orang yang paling barbar, budak ada-lah orang yang dijual ke dalam perbudakan, dan orang mer-deka adalah orang yang telah dibebaskan dari perbudakan. Tidak peduli manusia macam apa kita ini, ditinjau dari su-dut manusia baru, kita harus menganggap diri kita bukan sebagai apa pun. Dalam manusia baru hanya ada tempat bagi Kristus, tidak ada tempat bagi manusia alamiah jenis apa pun. Sebab itu, di dalam gereja kita semua bukanlah siapa-siapa.
C. Kristus Adalah Semua dan di dalam Segala Sesuatu
Dalam manusia baru “Kristus adalah semua dan di da-lam segala sesuatu”. Dalam manusia baru hanya ada tem-pat untuk Kristus. Dia adalah semua anggota dari manusia baru dan di dalam semua anggota. Dialah segala-galanya di dalam manusia baru. Sebenarnya, Dialah manusia baru itu, Tubuh-Nya (1 Kor. 12:12). Dalam manusia baru Kristus adalah sentralitas dan universalitasnya.
Kata “semua” dalam ayat 11 mengacu kepada semua anggota yang menyusun manusia baru. Kristus adalah se-mua anggota ini, dan Dia ada di dalam semua anggota. Ka-rena alasan ini, maka dalam gereja tidak ada tempat bagi kita. Tidak ada tempat bagi warga negara apa pun. Sebagai orang-orang yang menjadi bagian dari manusia baru, kita tidak boleh menganggap diri kita orang China, orang Ame-rika, orang Jerman, atau orang bangsa apa pun. Bahkan jangan mengatakan Anda adalah si anu. Karena Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu dalam manusia baru dan Anda adalah bagian dari manusia baru, maka An-da adalah bagian dari Kristus. Setiap anggota, setiap bagian dari manusia baru ini adalah Kristus.
Dalam mengatakan tidak ada manusia alamiah mana pun dalam manusia baru, ayat 11 sangat tegas. Alangkah besar salahnya kalau bahasa Yunani di sini diterjemahkan diri baru! Sungguh bodoh jika mengatakan dalam diri baru tidak ada orang Yunani atau Yahudi, tidak ada orang ber-sunat atau tak bersunat. Menurut konteksnya, manusia baru dalam Kolose 3:10 pasti bukan ditujukan kepada diri baru, karena manusia baru terbentuk dari kaum beriman dari berbagai latar belakang kebudayaan. Itu benar-benar bukan apa yang disebut diri baru. Sudah pasti manusia baru di sini adalah manusia yang korporat, gereja, Tubuh Kristus. Walau gereja terbentuk dari berbagai macam ma-nusia, tetapi semuanya adalah bagian dari Kristus. Mereka bukan lagi manusia-manusia alamiah. Kristus adalah setiap orang dalam manusia baru, dan Dia ada di dalam setiap orang dalam manusia baru. Melihat Kristus adalah segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu benar-benar merupakan suatu visi yang hebat sekali!
Penting sekali bagi kita untuk mengetahui dua hal ini: kita perlu diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang penuh menurut Kristus yang almuhit, yaitu gambar Allah; sebagai manusia baru dalam gereja Kristus adalah setiap orang dan di dalam setiap orang. Dalam gereja, manusia baru, tidak ada yang lain kecuali Kristus.