KRISTUS BERLAWANAN DENGAN MISTIKISME
Pembacaan Alkitab: Kol. 2:18-19; Ef. 4:15-16
Walaupun Kitab Kolose adalah kitab yang pendek, te-tapi bagian-bagian yang ada di dalamnya ditulis dari arah dan sudut pandang yang berbeda-beda. Dalam pasal 1 dan bagian depan pasal 2, Paulus menulisnya dari sudut pan-dang alam semesta. Tetapi mulai dari pertengahan pasal 2, dia mulai menulis dari sudut pandang kehidupan sehari-hari kita yang riil. Dengan beralih dari sudut pandang uni-versal ke sudut pandang riil, dia membuat kita nampak ekonomi penyelamatan Allah.
Dalam penyelamatan-Nya, Allah tidak bermaksud mem-pertahankan hukum Taurat, Ia juga tidak berniat menyu-ruh malaikat-malaikat menduduki posisi yang mencolok. Dalam ekonomi penyelamatan Allah, hukum Taurat dan malaikat-malaikat harus dikesampingkan. Dalam penyela-matan atas umat-Nya, Allah tidak mau menggunakan cara apa pun yang tidak langsung. Sebaliknya, Ia ingin berkontak langsung dengan umat pilihan-Nya. Fakta Allah menghapus hukum Taurat dan melucuti penguasa-penguasa dan peme-rintah-pemerintah berarti jalan untuk berkontak dengan umat-Nya secara langsung kini terbuka bagi Allah, tanpa campur tangan pengantara apa pun.
Semua hal positif yang tertinggal setelah hukum Tau-rat dan malaikat-malaikat tersingkir adalah bayang-bayang Kristus. Cakrawala, matahari, bulan, bintang-bintang, ma-kanan dan minuman semua adalah bayangan, lambang Kristus; Kristus adalah wujud, substansi bayang-bayang ini. Segala yang kita butuhkan bagi kehidupan jasmani kita hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bu-lan, dan tahun demi tahun adalah suatu bayangan. Hanya Kristuslah realitas, wujud. Bila kaum beriman kembali memelihara hukum Taurat, itu adalah suatu kekeliruan yang serius. Selain itu, menyembah malaikat merupakan suatu penghinaan besar terhadap Allah. Demikian pula, kita meng-hina Dia bila kita menghargai hal-hal jasmani atau materi melebihi Kristus, karena semua hal itu adalah bayang-ba-yang Kristus. Saya ulangi, hukum Taurat telah dikesam-pingkan, malaikat-malaikat telah dilucuti, dan hal-hal materi adalah bayang-bayang. Sebab itu, kita memiliki kedudukan untuk mengatakan bahwa Kristus adalah segala sesuatu di dalam segala sesuatu. Dialah hukum Taurat, peraturan, ta-ta cara, malaikat, alam semesta, matahari, bulan, bintang, langit, bumi, makanan, dan minuman kita. Dialah realitas segala hal yang positif dalam kehidupan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan kita.
Menulis dari sudut pandang universal, Paulus memperlihatkan bahwa Kristus adalah bagian orang-orang kudus, gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala yang diciptakan, Kepala Tubuh, yang pertama bangkit dari antara orang mati, persona yang di dalam-Nya berdiam se-luruh kepenuhan Allah, rahasia ekonomi Allah, pengharap-an akan kemuliaan yang berhuni di batin, rahasia Allah, dan yang di dalam-Nya tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Sebagai persona yang demikian, Kristus itu dalam, unggul, almuhit, dan universal. Namun, Ia ber-diam di dalam kita menjadi pengharapan akan kemuliaan kita (1:27). Beralih dari sudut pandang universal ke sudut pandang kehidupan sehari-hari, Paulus memperlihatkan ke-pada kita bahwa Kristus adalah realitas segala hal positif bagi kehidupan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan kita. Sebab itu, Kristus bukan hanya almuhit secara uni-versal, Ia pun terperinci secara riil.
Peralihan dari sudut pandang universal ke sudut pan-dang riil terjadi dalam Kolose 2:14-15. Dalam ayat-ayat ini Paulus menekankan dengan jelas bahwa dalam penyelamat-an Allah, Allah tidak menginginkan adanya perkara apa pun di antara Dia dengan umat pilihan-Nya. Untuk mem-bereskan jalan bagi menghidupkan umat pilihan-Nya, Ia telah memaku hukum Taurat di atas salib dan melucuti malai-kat-malaikat. Walau untuk sementara waktu Allah mema-kai hukum Taurat dan menetapkan malaikat bagi peme-rintahan-Nya, tetapi Ia tidak akan mengizinkan hukum Taurat atau malaikat-malaikat menghalang-halangi penyela-matan-Nya. Sekarang hukum Taurat dan malaikat-malaikat telah disingkirkan, Allah telah mempunyai satu atmosfer yang cerah dan lingkungan yang tanpa rintangan untuk ber-kontak dengan orang-orang pilihan-Nya dan menghidupkan mereka. Ia tidak saja menebus umat pilihan-Nya, tetapi juga menghidupkan mereka. Hari ini Allah Penebus dan pemberihayat dapat berkontak langsung dengan umat pilihan-Nya.
Setelah membuat peralihan dari sudut pandang univer-sal ke sudut pandang riil dalam ayat-ayat ini, Paulus me-lanjutkan membicarakan hal-hal jasmani, yakni makanan dan minuman kita sehari-hari, dan hal-hal mengenai kehi-dupan mingguan, bulanan, dan tahunan kita. Dalam dua ayat ini saja dia membahas soal makan dan minum, hari Sabat, bulan baru, dan hari-hari raya. Dia menunjukkan bahwa hal-hal tersebut adalah bayangan, sedang Kristus adalah wu-jud, realitas, substansi. Ini berarti jika kita tidak memiliki Kristus, kita tidak memiliki realitas, hanya memiliki ba-yangan. Kristuslah realitas, wujud segala hal yang positif. Karena itu, dalam ekonomi Allah tidak ada perkara jasmani atau materi, yang ada hanya Kristus. Lagi pula, Kristus bukan hanya gambar Allah, yang sulung dari segala cipta-an, yang pertama bangkit dari antara orang mati, perwu-judan kepenuhan Allah, rahasia ekonomi Allah dan rahasia Allah itu sendiri; Dia bahkan hukum Taurat, malaikat, ma-kanan, minuman, bulan baru, hari Sabat, dan hari raya. Berdasarkan wahyu demikianlah, kita mempunyai kebera-nian dan keyakinan untuk menyatakan bahwa Kristus ada-lah segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu. Ini bukan ajaran kita, melainkan suatu pengakuan tentang apa yang dikatakan Paulus dalam Kitab Kolose. Betapa kita dirah-mati karena kita yang berada dalam pemulihan Tuhan da-pat nampak Kristus dalam segala aspek-Nya ini! Dengan Kolose 1 dan 2 sebagai landasan kita, kita memiliki keya-kinan untuk mengatakan bahwa sebagai persona yang adalah segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu, Kristus kita adalah realitas setiap hal positif dalam alam semesta ini.
Penting sekali bagi kaum beriman di Kolose untuk me-mahami hal ini. Mereka tidak perlu menerima peraturan-peraturan agama atau produk kebudayaan yang tertinggi, termasuk mistikisme, filsafat, dan pertapaan. Kalau di Ko-rintus ada masalah percabulan, maka di Kolose orang-orang kudus mempraktekkan pertapaan guna mengekang hawa nafsu daging. Orang-orang Kolose tidak nampak visi bahwa Kristus adalah segala sesuatu. Jika nampak, mereka tidak akan membiarkan kebudayaan menyusup ke dalam gereja dan menipu atau merampas mereka dari Kristus.
I. JANGAN BIARKAN ORANG
Dalam Kolose 2:18 Paulus mengeluarkan sebuah peri-ngatan kepada orang-orang beriman di Kolose: “Janganlah kamu biarkan kemenanganmu (pahalamu) digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah ke-pada malaikat, serta mengagung-agungkan penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi (bersifat daging).” Perkataan “di-gagalkan” di sini dalam bahasa aslinya sulit diterjemah-kan, dapat juga diterjemahkan “dihakimi dan dinyatakan tidak layak”. Dalam hal ini, berarti menghakimi atau meng-kritik dengan cara menipu. Pengajar-pengajar bidah menilai orang-orang kudus tidak layak menyembah Allah secara langsung dan berpendapat bahwa mereka harus mendekati Dia melalui perantaraan para malaikat. Ini adalah meng-gagalkan orang-orang kudus dari pahala mereka, yaitu menghalangi mereka dari kenikmatan akan Kristus. Dalam Kristus, Pengantara kita satu-satunya, kita dapat menyembah Allah secara langsung.
Ungkapan “dihakimi dan dinyatakan tidak layak” ditu-jukan kepada seseorang yang berkontak dengan orang lain dengan ketetapan untuk mendapatkannya, merampasnya. Ini menunjukkan bahwa ada orang yang mendatangi orang lain dengan tujuan merampasnya dan menjadikannya ta-wanan atau mangsanya. Bahkan orang-orang Kristen pun dapat diperalat musuh untuk dirampas sedemikian rupa. Mereka mungkin dengan sengaja menghubungi orang lain dengan maksud menangkap orang yang bersangkutan.
Di Kolose ada orang-orang tertentu yang mendatangi kaum saleh, menghakimi dan mengecam mereka mengenai praktek-praktek yang khas. Seperti ditunjukkan dalam ayat 16, mereka menghakimi kaum beriman tentang makan dan minum, hari raya, bulan baru, dan hari Sabat. Ayat 18 me-neruskan konsepsi yang diungkapkan dalam ayat 16. Di sini Paulus memberi tahu kita agar tidak membiarkan siapa pun menghakimi kita dengan tujuan menipu dan meram-pas. Semua orang yang berusaha menipu dan merampas Anda pertama-tama datang dengan suatu roh yang meng-kritik untuk menunjukkan hal-hal yang menurut mereka salah atau keliru. Mereka mungkin mengkritik gereja atau ministrinya. Mereka mungkin bicara dengan kritis tentang sidang-sidang atau tentang partisipasi Anda dalam hidup gereja. Maksud kritik atau kecaman semacam itu ialah me-nipu Anda dan kemudian merampas Anda dengan mereng-gut Anda dari Kristus dan gereja. Arti merampas di sini ialah merampas dengan menghakimi dan mengecam atau mengkritik. Maksudnya ialah mengambil Anda dari pahala Anda, yakni kenikmatan atas Kristus dan hidup gereja.
Kalau Anda mengamati orang-orang yang telah mening-galkan hidup gereja, Anda akan menemukan bahwa mereka telah direnggut dari kenikmatan atas Kristus yang almuhit dan kenikmatan atas hidup gereja. Kristus dan gereja, Ke-pala dan Tubuh, adalah kenikmatan kita, pahala kita. Di-renggut dari Kristus dan gereja berarti dirampas dari pa-hala kita.
Maksud jahat dari para penganut agama Yahudi dan Gnostik ialah merampas kaum saleh di Kolose dari kenik-matan mereka atas Kristus dan gereja. Cara yang dipakai untuk merampas mereka ialah mengkritik mereka menge-nai hal-hal seperti bulan baru dan hari Sabat; mungkin mengkritik mereka karena tidak memelihara hari Sabat. Mungkin mereka menuduh orang Kolose tentang kealpaan mereka dalam hal ini, dan kemudian mereka berdebat bah-wa mereka mempunyai dasar Alkitab untuk menyuruh orang-orang Kolose itu memelihara hari Sabat yang ditetapkan oleh Allah. Tidak hanya demikian, mereka boleh jadi menu-duh orang-orang Kolose tidak memelihara bulan-bulan baru dan hari-hari raya tahunan itu. Sudah pasti, perkataan me-reka sangat meyakinkan dan banyak pengaruhnya. Kalau kita tidak memiliki daya pembeda yang tepat, perkataan semacam itu kedengarannya sangat meyakinkan. Sebab itu, penting sekali untuk melihat bahwa semua butir yang ter-cantum dalam Kolose 2:16 adalah bayang-bayang dari Kristus yang adalah realitas dan substansi. Karena kita memiliki Kristus, kita tidak perlu memelihara hari Sabat, bulan ba-ru, atau hari-hari raya, dan kita tidak perlu tunduk kepada peraturan-peraturan tentang makan dan minum. Karena kita memiliki Kristus, untuk apa kita memelihara hari Sa-bat? Kalau kita memiliki pandangan Paulus, siapa pun sukar merampas kita. Walau kaum muda mudah tertipu, tetapi saya dapat bersaksi, karena saya mempunyai pan-dangan Paulus yang universal dan riil itu, saya sangat je-las dan tidak mungkin orang dengan gampang menipu dan merampas pahala saya.
Selain memiliki pandangan Paulus, kita juga perlu me-miliki pengetahuan yang tepat. Pengetahuan ini akan me-mungkinkan kita memiliki daya pembeda yang diperlukan. Sebagai contoh, kita perlu daya pembeda untuk membeda-kan huruf besar “I” dengan huruf kecil “i”, dan dengan ang-ka Arab “1”. Ketika saya masih muda dan belajar bahasa Inggris, saya sulit membedakan ketiga huruf tersebut. Ini menunjukkan bahwa dalam hal-hal kecil sekalipun kita perlu daya pembeda. Pada prinsipnya masalah rohani juga demikian. Orang-orang yang akhir-akhir ini meninggalkan hidup gereja kekurangan daya pembeda. Mereka tidak mem-punyai pandangan yang jelas terhadap ekonomi Allah, dan mereka kekurangan pengetahuan. Karena mereka secara membuta mengikuti orang lain, maka mereka telah tertipu. Mereka telah kehilangan kenikmatan atas Kristus dan gereja.
II. BIDAH MISTIKISME
A. Mengajarkan Merendahkan Diri Sendiri
Dalam ayat 18 Paulus mengatakan tentang kerendahan hati berkenaan dengan digagalkannya pahala. Para pengajar bidah yang mengajarkan penyembahan kepada malaikat mengajar orang-orang kudus untuk merendahkan diri de-ngan melihat bahwa mereka tidak layak menyembah Allah secara langsung. Mereka menggagalkan orang-orang kudus dari menerima pahala mereka di dalam Kristus dalam un-sur dan suasana pura-pura merendahkan diri dan penyem-bahan kepada malaikat yang demikian.
Guru-guru Gnostik tertentu mengatakan bahwa manu-sia terlalu rendah untuk menyembah Allah secara lang-sung. Mereka menganjurkan sejenis kerendahan hati, atau semacam depresiasi diri yang dianggap dapat menunjukkan kerendahan hati seseorang. Mereka mengajarkan bahwa orang-orang yang memiliki kerendahan hati yang demikian tidak berani menyembah Allah secara langsung. Dengan be-rani menyembah Allah tanpa pengantara, menurut ajaran Gnostik, adalah tanda kesombongan. Mereka mengingatkan kaum beriman bahwa mereka adalah orang yang berdosa, manusia yang telah jatuh yang berhawa nafsu daging dan berpikiran jahat. Mereka lalu mengatakan bahwa orang-orang yang rendah hati tidak akan mencoba menyembah Allah yang kudus dan murni secara langsung. Melalui mem-perlihatkan kerendahan hati yang demikian, mereka mem-bujuk orang-orang beriman di Kolose dan menyesatkan mere-ka untuk menyembah malaikat. Dengan cara inilah mereka menggagalkan kaum saleh di Kolose dari kenikmatan mere-ka atas Kristus. Kaum beriman tidak menikmati Kristus secara langsung sebagai Pengantara mereka, malah beralih kepada malaikat. Akibatnya, mereka telah digagalkan dari pahala mereka.
B. Mengagung-agungkan Penglihatan-penglihatan
Orang-orang yang menipu kaum saleh di Kolose meng-agung-agungkan hal-hal yang telah mereka lihat; mereka mempertahankan penglihatan tertentu yang menurut perki-raan mereka telah mereka lihat. Para pengajar bidah meng-agung-agungkan penglihatan, bertolak belakang dengan iman yang disebutkan dalam ayat 12. Mereka menyukai penglihat-an-penglihatan yang aneh-aneh. Berpegang kepada pengalam-an kasat mata secara demikian menyebabkan kesombongan daging, membesarkan diri tanpa alasan dengan pikiran yang diletakkan di atas daging.
Sama prinsipnya dengan hari ini. Banyak orang ber-iman suka dengan penglihatan yang aneh-aneh. Beberapa orang bahkan mengaku telah berkontak dengan malaikat-malaikat. Dalam perkumpulan-perkumpulan yang diadakan oleh aliran tertentu, ada orang-orang menceritakan pengli-hatan yang mereka tampak. Apa yang disebut penglihatan itu sering kali adalah menurut hawa nafsu mereka sendiri. Mempertahankan hal-hal yang dikira terlihat dalam pengli-hatan adalah perbuatan yang bodoh. Pengajar bidah di Kolose adalah pengkhayal-pengkhayal yang demikian, mereka ber-pegang pada hal-hal yang mereka lihat. Akibatnya, mereka membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang diletakkan di atas daging. Walaupun mereka melakukan kerendahan hati sendiri, sebenarnya mereka sangatlah sombong.
C. Tidak Berpegang Teguh kepada Kepala
Berbicara tentang orang-orang yang dilukiskan dalam Kolose 2:18 Paulus selanjutnya berkata dalam ayat 19, “Sedangkan ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh yang ditopang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, bertumbuh menurut per-tumbuhan yang berasal dari Allah.” Ajaran bidah mengenai penyembahan terhadap malaikat telah menyimpangkan orang-orang kudus dari berpegang teguh kepada Kristus se-bagai Kepala. Ekonomi Allah bertujuan menyatukan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai Kepala melalui Tubuh-Nya, gereja, dengan membuat Kristus menjadi inti segala sesuatu. Muslihat si licik adalah menyimpangkan orang-orang kudus dan karenanya menyebabkan Tubuh Kristus runtuh. Bidah di Kolose membuat kaum saleh terpisah dari Sang Kepala. Hal ini merusak Tubuh. Wahyu yang diteri-ma Paulus ialah meninggikan Kristus dan melindungi serta membangun Tubuh. Kita perlu terlindung di dalam Kristus bagi hidup gereja. Kemudian baru kita akan terlindung da-ri penglihatan yang aneh-aneh dan segala sesuatu yang ab-normal.
Jika kita tidak terlindung di dalam Kristus, unsur agama dalam diri kita mungkin akan menimbulkan banyak hal yang aneh. Sifat kita yang telah jatuh dengan pikiran kita yang juga telah jatuh bersatu dengan si jahat itu. Roh-roh jahat tetap dapat berkontak dengan pikiran kita yang jatuh. Pikiran yang jatuh terus melakukan zina dengan roh-roh jahat. Hal ini menyebabkan berbagai macam hal jahat tersebar ke dalam kita, hal-hal yang dapat membuat kita bertindak secara abnormal, bahkan berdoa, bernyanyi, atau memuji dengan cara-cara yang ganjil. Karena alasan inilah, Alkitab mengatakan kita perlu pikiran yang jernih, pikiran yang diperbarui menurut gambar Pencipta yang mencipta kita (Kol. 3:10). Jika kita mempunyai pikiran yang telah diperbarui, kita akan terlindung di dalam Kristus dan me-nikmati Dia dalam hidup gereja. Alasan utama Paulus me-nulis Kitab Kolose ialah menyelamatkan kaum saleh dari penipuan dan melindungi mereka di dalam Kristus bagi hi-dup gereja yang tepat.
Terlindung di dalam Kristus bagi hidup gereja berarti berpegang kepada-Nya sebagai Kepala, yang dari-Nya selu-ruh Tubuh bertumbuh dengan pertumbuhan ilahi. Bertum-buh merupakan masalah hayat; hayat adalah Allah itu sendiri. Sebagai Tubuh Kristus, gereja tidak boleh dicabut dari Kristus yang adalah perwujudan Allah sebagai sumber hayat. Dengan berpegang kepada Kristus, gereja akan ber-tumbuh dengan pertumbuhan Allah, dengan pertambahan Allah sebagai hayat.
Pertumbuhan terjadi karena “ditopang (disuplai) dan di-ikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi”. Sendi-sendi adalah untuk suplai Tubuh, sedang urat-urat untuk mengikat anggota-anggota Tubuh. Dalam gereja beberapa anggota adalah urat, dan berberapa yang lain adalah sendi. Dengan urat-urat dan sendi-sendi inilah Tubuh dapat bertum-buh. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat bertum-buh dengan pertumbuhan Allah secara individual, kita perlu berada di dalam gereja. Jadi, sasaran Paulus dalam kitab ini ialah melindungi kita di dalam Kristus bagi hidup gereja.