Daftar isi Kolose (2) · Berita Kedua Puluh Enam · bab 3/21

Berita Kedua Puluh Enam

PENGALAMAN ATAS KEMATIAN KRISTUS BERLAWANAN DENGAN PERTAPAAN

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:20-23

SATU PERSONA DAN SATU CARA

Dalam ekonomi-Nya Allah memberi kita satu persona dan satu cara. Satu persona ini ialah Kristus yang almuhit yang unggul, (lebih utama), dan satu cara ini ialah salib. Sebagai Sang almuhit, Kristus adalah segala sesuatu kita. Dialah Allah, manusia, dan realitas segala hal positif dalam alam semesta. Allah telah memberi kita persona yang ajaib ini untuk menjadi keselamatan kita. Satu persona ini, Kristus, adalah pusat alam semesta; dan satu cara ini, salib, adalah pusat pemerintahan Allah. Allah memerintah atas setiap hal dengan salib dan menanggulangi semua itu dengan salib. Sebab itu, sama seperti Kristus adalah titik pusat alam semesta, demikian juga, salib adalah pusat pemerintahan Allah.

Dalam kitab ini Paulus menunjukkan kepada orang-orang Kolose bahwa tidak ada satu pun yang boleh menggantikan Kristus. Kristus tidak boleh diganti dengan berbagai ketentuan, liturgi, mistikisme, atau filsafat. Kristus adalah segala sesuatu dan tidak boleh diganti dengan apa pun. Dalam berita-berita sebelumnya kita telah membahas masalah Kristus berlawanan dengan mistikisme. Dalam Kitab Kolose mistikisme mencakup Gnostikisme dan pertapaan. Kristus berlawanan dengan segala macam ajaran itu. Dia berlawanan dengan setiap jenis pengganti.

Kita sudah menunjukkan bahwa segala hal positif dalam alam semesta adalah bayangan Kristus. Sebagai contoh, rumah kita adalah satu bayangan dari Kristus sebagai tempat kediaman kita yang sejati. Karena Kristus adalah wujud segala bayangan, maka kita tidak boleh mengizinkan bayangan-bayangan itu menjadi pengganti Dia yang adalah wujud dan realitasnya. Alangkah tololnya kita jika mengambil bayangan-bayangan dan bukan realitasnya! Kitab Kolose menjelaskan bahwa Kristus yang almuhit adalah segala sesuatu kita. Maksud Allah bukan memberi kita ribuan hal; melainkan hanya memberi kita satu persona, yakni Kristus yang almuhit.

Pada pertengahan pasal 2, Paulus mulai menunjukkan kepada kita bahwa salib adalah cara Allah yang unik. Cara Allah bukanlah pertapaan, bukan merendahkan diri kita, meremehkan diri sendiri, atau memperlakukan diri dengan kejam. Satu-satunya cara ialah salib. Oleh salib Allah telah menanggulangi segala hal negatif dalam alam semesta. Lagi pula, Allah tetap mengatur atas segala sesuatu melalui salib. Sebab itu, kita mempunyai satu persona dan satu cara, yaitu Kristus dan salib.

TIDAK ADA TEMPAT BAGI PERTAPAAN

Dalam berita ini kita akan meninjau lebih lanjut tentang pengalaman atas kematian Kristus berlawanan dengan pertapaan. Dalam kehidupan orang Kristen tidak ada tempat bagi pertapaan, tidak ada tempat bagi penyiksaan tubuh secara kejam dalam usaha mengekang nafsu daging. Pertapaan bukanlah cara Allah. Sebaliknya, itu adalah penemuan manusia, produk pikiran manusia yang telah jatuh. Orang-orang yang tidak percaya Tuhan mungkin mempraktikkan pertapaan, tetapi orang Kristen tidak boleh.

Pertapaan adalah bagian dari “unsur-unsur dunia” yang dikatakan dalam Kolose 2:20. Unsur-unsur ini merupakan asas-asas awal yang di luar, hal-hal materi, ajaran-ajaran kekanak-kanakan yang lahiriah. Unsur-unsur ini menunjukkan ajaran-ajaran awal baik dari orang-orang Yahudi maupun orang-orang kafir, ajaran-ajaran yang terdiri dari pertapaan dan aturan-aturan ritualistis dalam makanan, minuman, dan pembasuhan. Itulah suatu asas dasar pertapaan untuk menganiaya tubuh atau memperlakukan diri sendiri dengan kejam dalam usaha mengekang daging. Cara Allah, cara salib, sama sekali berbeda.

Menurut ekonomi penyelamatan Allah, salib adalah cara inti dari Allah dalam alam semesta. Namun, kebanyakan orang Kristen hanya sedikit mengetahui tentang salib dalam kaitannya dengan dunia rohani. Sebagian besar orang Kristen mengapresiasi salib pada aspek jasmaniah, yakni pada aspek yang dapat diteropong oleh mata jasmani manusia. Tetapi dalam ayat 14-15 ada satu jendela yang olehnya kita dapat melihat ke dalam aspek rohani dari salib Kristus. Ketika Kristus berada di atas salib, Dia tidak saja menderita; Dia bekerja untuk menggenapkan penebusan melalui menanggung dosa-dosa kita dan melalui melaksanakan kehendak Bapa. Allah juga bekerja, menghapus surat utang dalam ketentuan-ketentuan dengan memakunya di atas salib. Seperti yang sudah kita tunjukkan, pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa malaikat jahat juga sibuk, mereka datang mencampuri apa yang sedang dilakukan Allah dan Kristus. Tetapi Allah melucuti mereka, menang atas mereka dalam salib, dan membuat mereka menjadi tontonan yang memalukan. Sudah tentu, di segi jasmaniahnya, laskar-laskar Romawi dan agamawan-agamawan Yahudi juga sangat aktif. Karena semua aktivitas itu terpusat di salib, maka salib menjadi cara Allah yang kekal, inti, dan unik.

Saya ingin menekankan fakta bahwa cara Allah bukan pertapaan. Orang Kristen tidak boleh mempraktikkan pertapaan. Sebagai orang beriman dalam Kristus, kita bukanlah manusia yang kehilangan sukacita. Sebaliknya, kita adalah manusia yang penuh sukacita, manusia yang bersukacita senantiasa di dalam Tuhan. Mengapa kita harus membebani tubuh kita dengan kesakitan, atau menganiaya diri kita? Alangkah bodohnya! Cara kita, cara yang unik, ialah salib. Sebab itu, pengalaman atas salib berlawanan dengan pertapaan.

TELAH MATI BERSAMA KRISTUS

DARI UNSUR-UNSUR DUNIA

Dalam Kolose 2:20 Paulus menunjukkan bahwa kita telah mati bersama Kristus dari unsur-unsur dunia. Unsur-unsur ini termasuk tata cara-tata cara Yahudi, peraturanperaturan kafir, dan filsafat. Itu juga mencakup mistikisme dan pertapaan. Unsur-unsur dunia itu adalah asas-asas dasar dari masyarakat duniawi, asas-asas awal yang ditemukan oleh umat manusia dan dipraktikkan dalam masyarakat. Kita telah mati bersama-sama Kristus terhadap unsur-unsur dunia ini. Tatkala Kristus disalibkan, kita juga disalibkan. Dalam penyaliban-Nya kita telah dibebaskan dari asas-asas unsur-unsur dunia.

Karena kita telah mati bersama-sama Kristus dari unsur-unsur dunia, maka Paulus bertanya kepada kita mengapa sewaktu kita masih hidup di dunia, kita menaklukkan diri kita kepada ketentuan-ketentuan. Dengan nada mencela, dia bertanya kepada kaum beriman di Kolose mengapa mereka masih menaklukkan diri mereka kepada rupa-rupa peraturan yang ditujukan kepada setiap asas-asas awal yang darinya mereka telah mati di dalam Kristus. Dunia dalam ayat ini tidak ditujukan kepada bumi secara fisik, melainkan masyarakat manusia, umat manusia. Sebab itu, Paulus bertanya kepada kaum beriman mengapa mereka masih menaklukkan diri mereka kepada rupa-rupa peraturan seolah-oleh mereka masih hidup dalam masyarakat manusia itu.

Dalam ayat 21 Paulus mencantumkan beberapa dari peraturan-peraturan ini: “Jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini.” Ini adalah ketentuan-ketentuan, tata tertib, dan peraturan-peraturan mengenai hal-hal materi dan berhubungan dengan hal-hal yang bergerak, hal-hal yang dapat dimakan, dan hal-hal yang dapat dipegang. Pegang, kecap, dan sentuh mencakup setiap macam tindakan, dan ketentuan-ketentuan mengenai hal-hal ini berhubungan dengan praktik pertapaan.

Beberapa tahun yang lampau saya bertemu dengan seorang saudara. Ia seorang Yahudi ortodoks sebelum menjadi orang Kristen. Sewaktu bersekutu dengannya, ia menceritakan banyak cerita tentang berbagai praktik orang Yahudi. Ia mengatakan kepada saya bahwa beberapa orang Yahudi ortodoks menaruh sepatu mereka pada arah tertentu ketika mereka beristirahat di malam hari, suatu praktik yang mungkin berdasar pada satu ayat dalam Perjanjian Lama. Mereka percaya bahwa jika mereka tidak menaruh sepatu mereka pada arah yang tepat, mereka akan kehilangan berkat Allah. Benar-benar takhayul! Saya heran, orang-orang Yahudi, manusia pintar yang menghargai pendidikan bisa begitu takhayul. Orang-orang yang tidak memiliki Kristus dan salib memang sering takhayul dan juga cenderung kepada praktik pertapaan.

MELALUI SALIB

Sebagai orang-orang yang mempunyai satu persona dan satu cara, kita tidak memerlukan peraturan-peraturan tentang di mana sepatu kita harus diletakkan. Tetapi, ketika kita hendak tidur pada malam hari, kita harus melalui salib. Itu berarti tidak peduli apa yang telah kita lakukan selama siang hari atau apa yang terjadi atas kita, salib membereskan setiap hal. Misalkan, pada sore hari Anda dibuat tidak senang oleh istri atau suami Anda. Sebelum tidur Anda perlu menerapkan salib atas perasaan ketidaksenangan Anda itu. Jika Anda berbuat demikian, perasaan tidak senang itu akan lenyap. Hal ini menunjukkan bahwa cara kita adalah salib, bukan pertapaan atau perlakuan kejam yang mana pun atas diri kita. Menyadari bahwa kita telah mati di dalam Kristus, kita harus tidur pada malam hari dengan suatu kesadaran salib. Jika kita mempraktikkan tidur melalui salib, merebahkan diri dengan kesadaran bahwa kita telah mati di dalam Kristus, keesokan paginya kita akan bangun dalam kebangkitan sebagai seorang manusia baru. Kita tidak saja memiliki Kristus, persona yang unik yang berlawanan dengan segala hal; kita pun memiliki salib, cara yang unik, yang berlawanan dengan semua cara lain.

Karena kita memiliki Kristus dan salib, tidak ada kedudukan bagi kerendahan hati yang dibebankan pada diri sendiri. Kita tidak perlu melatih diri untuk menjadi rendah hati. Saya telah mengamati, baik di Timur maupun di Barat, orang-orang yang paling sombong adalah orang-orang yang belajar mempraktikkan sejenis kerendahan hati. Kita tidak perlu mempelajari praktik semacam itu. Sebaliknya, kita harus melulu menerima cara salib yang unik ini.

Mengemudikan kendaraan di jalan dapat menjadi suatu peringatan dari cara salib. Ketika kita mengemudikan kendaraan, kita akan menjumpai banyak persimpangan. Apakah Anda menyadari bahwa setiap persimpangan itu adalah suatu salib? Ada salib yang besar, ada juga yang kecil, tetapi semua adalah salib. Hanya dengan melalui banyak salib barulah kita dapat mencapai tujuan kita. Mengenai pengalaman rohani, kita pun harus melalui banyak salib sebelum kita dapat mencapai Yerusalem Baru. Sama seperti kita tidak dapat bepergian jauh secara geografis tanpa melewati persimpangan, demikian juga kita tidak dapat maju secara rohani tanpa melalui salib. Hanya ketika kita tiba di Yerusalem Baru, barulah kita tidak lagi melalui salib, sebab pada waktu itu segala hal negatif telah terhapus bersih. Sebelum kita tiba di Yerusalem Baru, kita perlu melalui salib hari demi hari dalam perjalanan kita bersama Tuhan.

Saya dapat bersaksi bahwa melalui salib setiap malam sebelum tidur adalah praktik rohani yang sehat. Dengan menerapkan salib pada akhir setiap hari, saya dapat beristirahat dengan baik sekali semalam suntuk. Pada waktu kita akan tidur kita perlu menerapkan salib untuk setiap masalah dan setiap hal yang negatif, alamiah, dan yang dosa. Kita boleh berdoa, “Tuhan, aku ingin semua hal ini melalui salib. Aku tidak ingin tidur dengan membawa unsur yang alamiah, dosa, negatif, atau duniawi yang belum dibereskan. Ketika aku akan tidur, Tuhan, aku ingin menjadi seorang yang telah tersalib.” Kita perlu menjadi orang-orang yang melalui satu salib demi satu salib. Saya menganjuri Anda untuk melalui persimpangan salib dari hari ke hari.

Karena kita memiliki Kristus sebagai persona yang unik dan salib sebagai cara yang unik, kita tidak perlu pertapaan. Tidak hanya demikian, kita bahkan tidak perlu memutuskan sesuatu hal tertentu, karena berbuat seperti itu tidaklah berkhasiat. Yang perlu kita lakukan tidak lain hanya merebahkan diri melalui salib pada malam hari, tidur dengan penuh perhentian, dan bangun pagi dalam kebangkitan. Puji Tuhan karena pengalaman atas kematian Kristus berlawanan dengan pertapaan!

TIDAK “MEMPERATURANKAN” DIRI SENDIRI

Sekarang baiklah kita melihat Kolose 2:20-23 dengan lebih rinci. Ayat 20 hingga 22 sebenarnya merupakan satu kalimat; ketiga ayat ini menyusun pertanyaan Paulus. Menurut ayat 20, Paulus bertanya kepada orang-orang Kolose mengapa mereka menaklukkan diri pada berbagai peraturan. Dalam bahasa Yunani kata yang diterjemahkan “menaklukkan . . . peraturan” sebenarnya merupakan satu kata kerja. Ini menunjukkan bahwa Paulus bertanya mengapa orang-orang Kolose “memperaturankan” diri mereka sendiri. Kemudian dalam ayat 21 Paulus mencantumkan peraturan-peraturan tentang pegang, kecap, dan sentuh. Dalam ayat 22 dia selanjutnya berkata bahwa “semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian.” Kata Yunani yang diterjemahkan “binasa oleh pemakaian” dapat diterjemahkan “menjadi rusak karena dipakai”. Di sini Paulus mengatakan bahwa semua hal materi ditentukan untuk membusuk dan binasa karena rusak akibat dipakai (1 Kor. 6:13; Mat. 15:17).

Setiap kali kita memakai suatu benda, benda itu pada akhirnya akan rusak dan membusuk oleh pemakaian. Sebagai contoh, apa saja yang kita makan akan rusak karena dimakan, entah itu tahir atau najis menurut peraturan makanan dalam Kitab Imamat. Kalau apa saja yang kita makan akan rusak dalam pemakaian, maka kita tidak perlu menaklukkan diri kepada peraturan tentang makan. Dalam Kisah Para Rasul 10 Petrus masih memperhatikan apa yang halal dan apa yang haram. Tetapi suara dari langit memberi tahu Petrus bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh ia anggap haram. Dalam Kolose 2 Paulus menganjuri kaum saleh agar tidak memperhatikan rupa-rupa peraturan pertapaan tentang hal-hal yang semuanya akan binasa oleh pemakaian. Apa saja yang kita pakai akhirnya akan rusak dan lenyap. Khususnya, sewaktu makanan dikonsumsi, makanan tersebut hancur. Jadi, kaum saleh tidak perlu mengatur makanan mereka dengan rupa-rupa peraturan.

SATU VISI YANG JELAS

Paulus dapat menulis perkataan yang demikian karena dia telah melihat satu visi yang jelas tentang Kristus yang almuhit sebagai satu persona dan salib sebagai satu cara dalam pemerintahan Allah. Sebab itu, dia tidak memperhatikan rupa-rupa peraturan tentang pegang, kecap, dan sentuh. Dia tahu bahwa semua benda materi akan musnah karena pemakaian dan akhirnya akan lenyap. Paulus menyadari bahwa kaum beriman di Kolose perlu tampak visi yang besar tentang Kristus yang almuhit dan tentang salib sebagai cara Allah dalam pemerintahan-Nya. Kita juga perlu visi yang jelas tentang Kristus dan salib.

KESATUAN DAN KEHARMONISAN MELALUI SALIB

Di luar cara Allah yang satu ini, kita tidak seharusnya memiliki rupa-rupa peraturan dan cara-cara atau praktik-praktik yang khusus. Cara yang telah Allah tetapkan, jun-jung, dan hormati hanyalah salib Kristus. Salib adalah cara kita satu-satunya. Tahukah Anda apakah yang dapat menyelesaikan masalah pertengkaran suami dengan istri? Penyelesaiannya hanya oleh salib. Seprinsip dengan itu, hanya salib yang dapat membuat para pewajib gereja lokal bersatu dan berada dalam keharmonisan yang sempurna. Kita semua perlu melalui salib. Jika kita tidak mengalami salib, kita tidak dapat menempuh hidup gereja yang tepat. Semua orang kudus harus belajar melalui salib dari hari ke hari. Dengan melalui segala macam salib, yang besar atau kecil, kita akan memiliki kesatuan dan keharmonisan dalam hidup gereja.

Dalam hidup gereja boleh jadi ada kesatuan tanpa keharmonisan. Agar ada kesatuan yang harmonis dan manis, kita semua perlu melalui salib setiap hari. Janganlah berdebat bahwa Anda benar dan orang lain salah. Semakin Anda berdebat seperti itu, Anda akan semakin kurang melalui salib. Saya ulangi, cara untuk mencapai tujuan kita ialah melalui persimpangan salib. Jangan menghindari salib apa pun. Sebaliknya, laluilah semua salib yang Anda jumpai dalam kehidupan Kristen, dalam kehidupan keluarga, dan dalam hidup gereja. Dalam kehidupan pernikahan dan hidup gereja khususnya, Anda perlu melalui salib hari demi hari, bahkan jam demi jam. Dalam Efesus 4 Paulus menasihati kita agar tidak membiarkan matahari terbenam sebelum amarah kita padam. Ini berarti kita harus membiarkan amarah kita melalui salib. Jika kita memiliki kehidupan sehari-hari yang melalui salib, kehidupan keluarga dan hidup gereja kita akan menjadi harmonis. Puji Tuhan bagi Kristus dan salib! Allah telah memberi kita satu persona — Kristus yang almuhit, dan satu cara — salib.