← Daftar isi Kolose (1) · bab 1/21

KRISTUS - WUJUD SEMUA BAYANGAN

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:16-18, 20-22

Pada berita sebelumnya telah kita tunjukkan bahwa dalam ekonomi keselamatan-Nya, Allah telah menghidupkan kita, telah memaku hukum Taurat di atas salib, dan telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa. Me-nurut perkataan Paulus dalam Kolose 2:14 surat hutang da-lam ketentuan-ketentuan hukum yang mendakwa dan meng-ancam kita telah ditiadakan. Untuk kurun waktu tertentu hukum Taurat masih berlaku. Walaupun Allah mengguna-kan hukum Taurat, sangat sulit bagi-Nya untuk terus me-laksanakan ekonomi-Nya dengan hukum Taurat yang ma-sih berlaku itu. Karenanya, ketika Kristus disalibkan, Allah datang untuk meniadakan hukum Taurat dengan memaku-nya di atas salib.

TANDA PERINGATAN CIPTAAN BARU

Saya harap banyak orang Kristen yang mempertahankan pemeliharaan Sabat hari ketujuh dapat nampak perbedaan antara ekonomi Allah dengan pemeliharaan Sa-bat. Berdasarkan Perjanjian Lama, Sabat adalah suatu tan-da atau bukti dari penciptaan Allah. Setelah enam hari bekerja, Allah beristirahat pada hari ketujuh, hari itu men-jadi hari Sabat. Karenanya, hari ketujuh itu menjadi suatu kesaksian dari ciptaan lama, yaitu menyaksikan bahwa penciptaan berasal dari tangan Allah. Sebagai bagian dari ciptaan lama, manusia diwajibkan memelihara hari ketujuh tersebut. Tetapi, ciptaan baru telah lahir pada hari pertama dari satu minggu, yakni pada hari Tuhan Yesus dibangkit-kan dari antara orang mati. Melalui kebangkitan Kristus, ciptaan baru, termasuk gereja yang tersusun dari kaum beriman yang dilahirkan kembali dalam Kristus, telah di-hasilkan. Sebab itu, kalau hari ketujuh adalah tanda cip-taan lama, maka hari kedelapan, hari pertama dalam satu minggu adalah tanda ciptaan baru. Karena alasan inilah, maka di mana pun dalam Perjanjian Baru tidak dikatakan bahwa orang-orang Kristen berhimpun bersama dan mela-kukan ibadah pada hari ketujuh. Tetapi setidak-tidaknya ada dua ayat yang menerangkan bahwa kaum saleh ber-himpun pada hari pertama dalam satu minggu. Kisah Para Rasul 20:7 mengatakan bahwa “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-me-cahkan roti.” Ayat ini menunjukkan bahwa pada masa Rasul Paulus, kaum saleh berhimpun memperingati Tuhan pada hari pertama dalam satu minggu. Ini memperlihatkan bahwa hari ini adalah satu peringatan dari ciptaan baru Allah. Karena kita adalah kaum beriman yang berada da-lam ciptaan baru, maka kita tidak diwajibkan lagi untuk memelihara hari ketujuh. Sebaliknya, kita datang berhimpun pada hari pertama dalam satu minggu untuk mengingat Tuhan Yesus.

Dalam 1 Korintus 16:2 Paulus berkata, “Pada hari per-tama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-ma-sing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisih-kan sesuatu dan menyimpannya, supaya jangan pengumpul-an itu baru diadakan pada saat aku datang. “ Ayat ini juga memperkuat fakta bahwa orang-orang Kristen sebermula berhimpun pada hari pertama dari tiap-tiap minggu, bukan pada hari ketujuh. Karena mereka datang berhimpun pada hari ini, maka inilah waktu yang terbaik untuk mengum-pulkan persembahan-persembahan mereka kepada Tuhan.

Ada beberapa orang Kristen menunjukkan bahwa pergi ke sinagoga pada hari Sabat adalah praktek Paulus. Ya, memang ini adalah praktek Paulus, tetapi tujuannya bukan untuk memelihara Sabat atau beribadah kepada Allah, me-lainkan mengambil keuntungan dari kesempatan itu guna memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi.

Penjelasan lain dari pentingnya hari pertama dalam satu minggu dalam Perjanjian Baru terdapat dalam Wahyu 1:10. Di sini Rasul Yohanes mengatakan kepada kita bahwa dia “Pada hari Tuhan aku di dalam roh” (Tl.). Hari Tuhan adalah hari pertama dalam satu minggu, yaitu hari ke-bangkitan Tuhan. Seperti telah kita tunjukkan, gereja se-bermula bersidang pada hari ini. Pada hari Tuhan, suatu kesaksian dari ciptaan baru Allah, Yohanes dalam roh me-lihat visi yang berkaitan dengan ekonomi Allah.

Lambang-lambang dalam Imamat 23 pun memperlihatkan pentingnya hari pertama dalam satu minggu. Umat Israel membawa seberkas hasil pertama dari hasil panen mereka kepada imam untuk diunjukkan di hadapan Tuhan (ayat 10-11). Di sana dikatakan dengan khusus bahwa “Imam harus mengunjukkannya pada hari sesudah Sabat itu.” Su-dah jelas bahwa “hari sesudah Sabat itu” adalah hari kede-lapan, atau hari pertama dalam satu minggu. Lagi pula, Imamat 23:16 mengatakan tentang “sampai pada hari sesu-dah Sabat yang ketujuh”. Hari ini adalah hari Pentakosta, yang juga jatuh pada hari pertama dalam satu minggu. Ayat-ayat ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari kedu-dukan hari kedelapan dalam ekonomi Allah.

Kita telah nampak bahwa dalam ekonomi Allah, hari ketujuh adalah suatu tanda peringatan dari ciptaan lama, sedangkan hari kedelapan adalah tanda peringatan dari cip-taan baru. Karena orang-orang Yahudi masih tetap berada dalam ciptaan lama Allah, maka mereka terus memelihara hari ketujuh. Tetapi karena kita, gereja, berada dalam cip-taan baru dan tidak lagi dalam ciptaan lama, maka kita tidak dituntut untuk memelihara hari ketujuh. Sebaliknya, kita berhimpun bersama pada hari pertama dalam satu minggu, hari yang menandakan suatu permulaan baru da-lam kebangkitan. Karena itu, kaum beriman dalam Kristus yang tetap membela pemeliharaan Sabat hari ketujuh ber-arti kekurangan pengetahuan yang tepat tentang Alkitab. Bagi kaum beriman di dalam Kristus, yang diingat seha-rusnya bukan Sabat lagi, melainkan hari pertama dalam satu minggu, yaitu hari kebangkitan Tuhan Yesus dari an-tara orang mati. Melalui kebangkitan-Nya pada hari perta-ma dalam satu minggu itulah kita telah dilahirkan kembali (1 Ptr. 1:3). Sekarang kita tidak lagi berada di dalam cipta-an lama, melainkan di dalam ciptaan baru.

BAYANGAN HAL-HAL ROHANI

Dalam berita ini kita perlu melihat bagaimana Kristus sebagai wujud segala bayangan. Dalam Kolose 2:16-17 Paulus berkata, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanya-lah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujud-nya ialah Kristus.” Istilah bahasa Yunani mengenai makan-an dan minuman dapat juga diterjemahkan “hal makan dan minum”. Makanan dan minuman melambangkan ke-puasan dan kekuatan. Hari raya menunjukkan hari raya tahunan orang Yahudi, yang melambangkan sukacita dan kenikmatan; bulan baru melambangkan suatu permulaan baru berupa cahaya di dalam kegelapan. Hari Sabat melam-bangkan kesempurnaan dan perhentian. Hari raya diraya-kan setahun sekali, bulan baru sebulan sekali, hari Sabat seminggu sekali, dan makan dan minum setiap hari.

Semua hal mengenai peraturan liturgi yang disebutkan di atas adalah bayangan dari hal-hal rohani di dalam Kristus, yaitu hal-hal yang akan datang. Seperti halnya tubuh jas-mani manusia, wujud dalam ayat 17 adalah suatu substansi. Dan seperti bayangan tubuh manusia, tata cara dalam Taurat adalah bayangan dari hal-hal sejati di dalam Injil. Kristus adalah realitas Injil. Semua hal baik di dalam Injil adalah milik-Nya dan adalah diri-Nya. Kitab Kolose me-wahyukan Kristus yang demikian almuhit sebagai inti eko-nomi Allah.

Setelah menjadi orang Kristen bertahun-tahun lamanya, saya baru memperoleh suatu pengertian yang tepat mengenai Kolose 2:16-17 ini. Konsepsi Paulus ialah berba-gai aspek peraturan liturgi tidak lain adalah bayangan dari hal-hal yang akan datang, yaitu hal-hal rohani dalam Kristus, seperti halnya bayangan adalah gambaran dari tu-buh seseorang. Hari-hari raya, bulan baru, hari Sabat, dan peraturan-peraturan tentang makan dan minum, semuanya adalah bayangan; dan wujud, substansi yang nyata dari se-mua bayangan itu ialah Kristus.

REALITAS DARI SEMUA HAL YANG POSITIF

Banyak hal dalam lingkungan hidup sehari-hari kita juga merupakan bayangan Kristus. Sebagai contoh, makan-an yang kita makan adalah suatu bayangan, bukan makanan yang sebenarnya. Makanan yang sebenarnya ialah Kristus. Kristus juga merupakan minuman yang sebenarnya. Pakaian yang kita kenakan untuk menutupi kita, mendandani dan menghangatkan kita juga adalah bayangan Kristus. Kristus-lah yang sebenarnya menutupi ketelanjangan kita, yang menghangatkan kita, dan mendandani kita. Kristus juga tempat kediaman kita dan perhentian kita yang sejati. Ru-mah yang kita tempati juga bayangan Kristus sebagai tempat kediaman kita. Perhentian yang kita nikmati pada malam hari juga gambaran Kristus sebagai perhentian kita. Bah-kan kepuasan yang kita nikmati setelah kita makan ma-kanan yang lezat bukanlah kepuasan yang sejati, melain-kan suatu bayangan Kristus sebagai realitas kepuasan itu.

Dalam ayat 16 Paulus membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, dan tiap tahun. Seperti telah kita tunjukkan, makan dan minum adalah perkara harian, Sabat adalah per-kara mingguan, bulan baru adalah perkara bulanan, dan hari raya adalah perkara tahunan. Seluruh aspek dalam ke-hidupan kita adalah bayangan Kristus. Makan dan minum melambangkan kepuasan dan kekuatan setiap hari, dan Sa-bat melambangkan kesempurnaan dan perhentian setiap minggu. Tanpa kesempurnaan, kita tidak dapat menikmati perhentian. Perhentian selalu berasal dari kesempurnaan dan kepuasan. Setelah Anda menyelesaikan suatu hal dan merasa puas terhadapnya, barulah Anda dapat berada da-lam perhentian. Setelah Allah menyelesaikan pekerjaan pen-ciptaan-Nya pada hari keenam, Ia menikmati perhentian pada hari ketujuh. Saya dapat bersaksi bahwa saya juga baru dapat menikmati perhentian bila pekerjaan saya su-dah rampung dan saya merasa puas terhadapnya. Jadi, Sa-bat melambangkan kesempurnaan dan perhentian mingguan.

Bulan baru melambangkan suatu permulaan baru bu-lanan karena terang di dalam kegelapan. Sebagaimana bu-lan baru melambangkan suatu permulaan baru pada masa Perjanjian Lama, demikian pula Kristus hari ini memberi-kan suatu permulaan baru kepada kita karena terang di dalam kegelapan. Akhir-akhir ini saya mendengar kesaksi-an seorang saudara Yahudi yang baru diselamatkan bebe-rapa bulan yang lalu. Sebelum ia datang kepada Tuhan, ia berada dalam kegelapan, seperti semua orang Yahudi yang tidak percaya pada hari ini. Tetapi sekarang Kristus adalah bulan barunya, sehingga ia memiliki terang di dalam ke-gelapan.

Hari raya melambangkan kenikmatan dan sukacita tahunan. Umat pilihan Allah setahun tiga kali datang berhimpun bersama untuk hari raya tahunan yang merupa-kan saat-saat kenikmatan dan gembira ria bersama di ha-dapan Tuhan. Walau hari raya itu merupakan kenikmatan, tetapi semua itu hanyalah bayangan Kristus. Dialah ma-kanan, minuman, kesempurnaan, perhentian, bulan baru, dan hari raya yang sejati. Setiap hari kita makan dan mi-num Kristus, setiap minggu kita memiliki kesempurnaan dan perhentian di dalam Dia, setiap bulan kita mengalami permulaan yang baru di dalam Dia, dan sepanjang tahun Dialah sukacita dan kenikmatan kita. Maka, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, Kristus ada-lah realitas dari setiap hal yang positif bagi kita.

Dalam pasal 1 Paulus memperlihatkan kepada kita bah-wa Kristus adalah bagian orang-orang kudus, gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari semua ciptaan, Ke-pala Tubuh, yang pertama bangkit dari antara orang mati, persona yang di dalam-Nya seluruh kepenuhan berkenan tinggal, dan pengharapan akan kemuliaan yang berada di batin kita. Dalam pasal 2 dia berkata lebih lanjut bahwa Kristus adalah rahasia Allah yang di dalam-Nya tersem-bunyi seluruh harta hikmat dan pengetahuan. Setelah se-muanya ini, Paulus lalu beralih kepada kehidupan kita yang riil, yang mencakup masalah-masalah harian, minggu-an, bulanan, dan tahunan kita.

Hal-hal yang disinggung oleh Paulus dalam Kolose 2:16 berkaitan dengan rotasi bumi pada porosnya, atau berkait-an dengan revolusi bumi mengitari matahari dalam orbit-nya. Tanpa rotasi dan revolusi tersebut, kita tidak mungkin mempertahankan kehidupan jasmani kita. Karena ada rota-si dan revolusi bumi, maka kita mempunyai hari, minggu, bulan, dan tahun. Seperti telah berkali-kali kita tunjukkan, realitas hal-hal harian, mingguan, bulanan, dan tahunan adalah Kristus.

Dalam ayat 17 Paulus mengatakan bahwa Kristus ada-lah wujud segala bayangan. Ini berarti Dia adalah realitas makanan dan minuman kita, realitas kesempurnaan dan perhentian kita, realitas permulaan baru kita dengan te-rang dalam kegelapan, dan realitas kenikmatan dan suka-cita kita. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan se-tiap tahun kita perlu Kristus. Semua hal yang positif dalam kehidupan harian, kehidupan mingguan, kehidupan bulan-an, dan kehidupan tahunan kita haruslah Kristus. Kristus harus menjadi segala sesuatu kita tidak melulu secara dok-trinal, tetapi juga dalam pengalaman. Saya dapat bersaksi bahwa Kristus adalah kesempurnaan saya, perhentian saya, permulaan baru saya, kenikmatan saya, sukacita saya, ma-kanan saya, minuman saya, dan kepuasan saya. Walaupun keluasan Kristus itu bersifat alam semesta, tetapi Dia juga menjadi setiap aspek yang rinci dari kehidupan sehari-hari kita yang riil. Dari hari ke hari, Dia adalah nafas kita dan segala sesuatu kita.

TIDAK PERLU MENGEKSPRESIKAN OPINI

Dalam Kolose 2:16 Paulus berkata, “Jangan biarkan orang menghakimi kamu,” dan dalam ayat 18 dia berkata lebih lanjut, “Janganlah kamu biarkan kemenanganmu (pahalamu) digagalkan oleh orang yang pura-pura merendah-kan diri.” Menurut ayat 20-22 kita tidak perlu menunduk-kan diri kita kepada peraturan-peraturan. Karena Kristus adalah wujud semua bayangan, maka kita bisa terlepas dari celaan atau opini orang-orang yang membela aliran Gnostik dan pertapaan.

Sejak saya datang ke Amerika Serikat dan memulai ministri saya, saya terus-menerus menganjuri orang untuk melupakan doktrin-doktrin dan opini-opini mereka. Menu-rut matematika Allah, hanya Kristuslah yang berharga. Doktrin dan opini tidak berarti, yang berarti ialah Kristus yang adalah untuk kehidupan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan kita.

Dari tahun ke tahun, saya telah belajar untuk tidak berpegang pada opini-opini saya atau mengekspresikan opini-opini itu. Tetapi, orang lain mungkin mengekspresikan opini mereka dengan gigih, bahkan terhadap hal-hal seperti mem-beli jenis alat penghisap debu untuk dipakai dalam balai sidang. Padahal tidak ada artinya kita berselisih tentang hal-hal yang sepele itu. Mungkin saya memiliki opini ten-tang hal-hal itu, tetapi saya telah belajar untuk tidak meng-ekspresikannya. Berselisih demi opini kita itu sama sekali merupakan pemborosan waktu belaka.

Dalam hidup gereja kita harus hanya memiliki satu faktor, satu alasan, satu unsur, satu sumber, yakni Kristus. Karena Kristus adalah faktor, alasan, unsur, dan sumber kita, maka kita tidak perlu mengekspresikan opini kita atau berdebat. Walaupun mungkin kita memiliki banyak opini, tetapi oleh rahmat Tuhan kita harus belajar untuk tidak mengekspresikan opini-opini kita itu. Beberapa orang mungkin lebih suka makan memakai sumpit, sedang yang lain mungkin lebih suka memakai pisau dan garpu, atau dengan jari tangan mereka. Asalkan mereka memasukkan makanan ke dalam mereka, apa bedanya? Tidak perlu kita mengekspresikan opini mengenai alat atau perkakas yang digunakan untuk makan.

Opini adalah benteng diri kita. Walaupun opini kita mungkin luar biasa kuatnya, tetapi kita harus belajar un-tuk tidak mengekspresikannya dalam hidup gereja. Tetapi, hal ini tidak berarti kita menyetujui hal-hal seperti penyem-bahan berhala. Kita harus dengan tegas menentang per-buatan semacam itu. Namun mengenai banyak hal lainnya kita tidak perlu mengekspresikan opini kita. Jika Kristus benar-benar sebagai segala sesuatu dalam kehidupan hari-an, mingguan, bulanan, dan tahunan kita, kita tidak perlu mengekspresikan opini kita. Kita memiliki Kristus sebagai faktor, alasan, unsur dan sumber kita yang unik.