← Daftar isi Kolose (1) · bab 18/21

KEBUDAYAAN BUATAN SENDIRI DAN KETETAPAN SENDIRI MENGGANTIKAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Kol. 1:27-29; 2:2b-4, 6-8, 16-18; 3:10-11

WAHYU YANG ALWASI TENTANG KRISTUS

Kitab Kolose mewahyukan Kristus secara alwasi (me-menuhi segala sesuatu, luas tak terbatas). Wahyu yang al-wasi ini jauh lebih besar daripada Kristus yang terlihat oleh kebanyakan orang Kristen. Orang-orang Kristen me-nyadari bahwa Kristus itu Allah dan Dia telah menjadi se-orang manusia, hidup di bumi, mati di atas salib bagi dosa-dosa kita sebagai Penebus kita, Dia telah dikubur, telah dibangkitkan pada hari ketiga, telah dinaikkan ke surga, dan telah dinobatkan sebagai Tuhan dan Kepala segala se-suatu. Kini Kristus adalah Tuhan di atas segala tuhan dan Raja dari segala raja. Pada suatu hari Dia akan kembali untuk memerintah seluruh bumi dan mendirikan kerajaan-Nya. Banyak sekali buku yang telah menulis semua hal tersebut. Sudah tentu, wahyu tentang Kristus yang sedemikian ini benar, tetapi sangat sempit, dan itu tidak sepadan dengan wahyu yang alwasi tentang Kristus yang terdapat dalam Kitab Kolose.

Menurut Alkitab, Kristus itu alwasi (memenuhi segala sesuatu, luas tak terbatas), dan wahyu tentang Kristus juga alwasi. Seperti jagat raya, Kristus tidak terukur. Karena alasan inilah maka wahyu tentang Kristus pun tanpa batas. Dalam Efesus 3 Paulus mengatakan tentang lebar, panjang, tinggi, dan dalam. Kristus adalah lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya alam semesta. Karena Dia demikian alwasi, bagaimana kita dapat puas dengan suatu wahyu yang sem-pit tentang Dia? Bodohlah kita jika kita membatasi diri kita dengan wahyu yang sempit tentang Kristus itu.

Ada orang-orang tertentu menasihati saya untuk tidak melampaui teologi umum yang terdapat dalam kekristenan dewasa ini. Mereka menyarankan saya agar saya cukup memberitakan dan mengajar secara umum saja. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, saya nampak Kristus adalah Roh pemberi-hayat, dan saya berbeban untuk memberita-kannya kepada orang lain. Beberapa sahabat akrab saya te-lah tersinggung dan mulai memperingatkan saya dalam ka-sih, namun akhirnya menentang saya. Ada beberapa yang mengakui bahwa Alkitab memang mewahyukan Kristus se-bagai Roh itu. Namun mereka mengatakan kepada saya bahwa saya tidak seharusnya mengajarkan hal itu, agar tidak menyinggung hati orang-orang Kristen lain. Saya menjawab, “Kalau kalian mengakui Alkitab mewahyukan Kristus sebagai Roh itu, berilah aku kebebasan untuk mem-beritakan hal itu. Kalian mungkin takut kepada kekristenan, tetapi aku tidak takut. Andaikata Martin Luther mengam-bil sikap seperti kalian, bagaimana bisa terjadi Reformasi? Gereja Katolik mengukuhi konsepsi keselamatan oleh per-buatan, tetapi Luther nampak bahwa keselamatan bukan oleh perbuatan, melainkan oleh iman. Dia dengan berani mengumumkan fakta kebenaran ini menurut Alkitab.”

Kita tidak seharusnya terbatas oleh pandangan sempit tentang Kristus yang dipegang oleh kebanyakan orang Kris-ten. Kristus teramat sangat luas; Dia tidak terbatas. Alki-tab bahkan mengatakan tentang “kekayaan Kristus yang tidak terduga” (Ef. 3:8). Walau kekayaan Kristus tidak ter-duga, tetapi banyak orang Kristen yang membatasi Dia de-ngan teologi dan ajaran-ajaran mereka. Mereka hanya me-miliki pengertian dasar terhadap Dia. Kristus, Juruselamat yang kita percayai, tidak terbatas. Dia tidak kunjung ha-bis, almuhit, dan tidak terbatas. Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan kebesaran atau keagungan-Nya. Karena Dia tanpa batas, maka wahyu tentang Dia pun seharusnya tanpa batas. Dalam hal ini Kitab Kolose bukan main pen-tingnya. Tanpa Kitab Kolose, kita sulit memahami ketidak-terbatasan dan kealwasian Kristus.

Pada tahun 1970, beberapa penentang di Hongkong bangkit menyatakan bahwa Kristus yang kita percayai ada-lah Pencipta, tetapi mereka menyangkal Kristus sebagai ciptaan. Mereka membenarkan apa yang mereka percayai, dan menyalahkan kita yang mengatakan Kristus sebagai Pencipta juga sebagai yang sulung dari segala yang dicipta-kan. Saya bertanya kepada mereka, bagaimanakah Kristus bisa menjadi seorang manusia jika Dia bukan suatu cipta-an. Bukankah manusia itu makhluk ciptaan? Kalau Kristus bukan ciptaan, bagaimana mungkin Dia memiliki tubuh da-ri daging dan darah? Bagaimana pula Dia dapat terpaku di atas salib jika Dia hanya sebagai Pencipta yang ilahi dan rohani? Alangkah berbahaya kalau hanya mempunyai sedi-kit pengetahuan. Itu akan membuat kita tidak bisa melihat wahyu yang alwasi tentang Kristus dalam Alkitab. Satu alasan dari ditulisnya Kitab Kolose adalah menampilkan wah-yu yang demikian alwasi tentang Kristus.

GEREJA DISERBU OLEH KEBUDAYAAN

Ketika Kitab Kolose ditulis, Asia Kecil merupakan satu wadah pencampuran kebudayaan, di mana kebudayaan Yu-nani bercampur dengan kebudayaan Yahudi, khususnya fil-safat Yunani dengan agama Yahudi. Melalui ministri Paulus, gereja-gereja terbangun di wilayah itu. Gereja-gereja di tem-pat itu sangat sulit menahan serbuan agama Yahudi dan filsafat Yunani. Gereja di Kolose ibarat sebuah pulau yang berada di tengah-tengah samudra kebudayaan Yahudi dan Yunani. Akhirnya, arus pasang kebudayaan melanda gereja dan menjalar ke dalam hidup gereja. Karena itu, gereja di-penuhi dengan konsepsi-konsepsi agama Yahudi dan ide-ide filsafat Yunani. Terutama aliran Gnostik masuk ke dalam hidup gereja. Menurut ajaran Gnostik, semua benda materi pada hakikatnya jahat, maka harus ada berbagai peraturan untuk menangani benda-benda materi. Karena gereja di Ko-lose telah diserbu oleh ide-ide filosofis yang demikian, maka Kristus telah digantikan, dan kaum beriman tidak hidup oleh-Nya, melainkan hidup oleh konsepsi filosofis.

SEGALA SESUATU DICIPTAKAN

DI DALAM KRISTUS

Untuk melawan konsepsi Gnostik yang menganggap benda-benda bersifat jahat, Paulus menampilkan wahyu yang paling alwasi tentang Kristus. Kalau kaum Gnostik menya-takan benda-benda materi pada hakikatnya jahat, maka Paulus menunjukkan segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus, dan semuanya kini berkelangsungan (bertahan) di dalam Kristus. Paulus sangat berani, dan ajarannya telah menggiring filsafat Gnos-tik kepada jalan akhirnya. Dengan berani dia menunjukkan bahwa segala sesuatu, termasuk binatang-binatang dan rep-til-reptil yang diharamkan atau dianggap najis oleh orang-orang Yahudi, diciptakan di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus. Selain itu, semuanya itu sekarang berke-langsungan (bertahan) di dalam Kristus. Ini pasti mengejut-kan mentalitas orang Yahudi yang telah terlatih untuk mem-bedakan yang tahir dari yang najis. Ingatlah reaksi Petrus terhadap visi yang dilihatnya dalam Kisah Para Rasul 10. Ketika Petrus nampak sebuah kain yang di dalamnya berisi segala macam binatang liar dan binatang melata, serta men-dengar suara yang menyuruhnya menyembelih dan makan binatang-binatang itu, ia berkata, “Tidak, Tuhan, sebab aku belum pernah makan apa pun yang haram dan yang najis” (ayat 14). Namun demikian, menurut perkataan Paulus da-lam Kitab Kolose, segala benda ini diciptakan untuk Kristus dan berkelangsungan di dalam Kristus.

Banyak ilmuwan mengakui bahwa dalam alam semesta ada sejenis kekuatan yang menopang segala sesuatu sekaligus. Kuasa penopang ini, poros dan inti alam semesta, adalah Kristus. Karena Kristus adalah kuasa penopang ini, maka segala hal, termasuk ular, kalajengking, dan katak berkelangsungan di dalam Kristus. Tanpa Kristus, alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya akan run-tuh. Kita ditopang bukan oleh bumi, melainkan oleh Kristus. Keberadaan kita berkelangsungan oleh Kristus yang di da-lam-Nya segala sesuatu ditopang sekaligus.

TEMPAT HANYA BAGI KRISTUS

Maksud Paulus menampilkan wahyu yang alwasi ten-tang Kristus ini ialah membantu kaum beriman untuk di-bebaskan dari konsepsi kebudayaan mereka. Menurut Kisah Para Rasul 10, dalam pandangan Allah, di antara bina-tang-binatang dan reptil-reptil itu tidak berbeda dalam hal mana yang tahir dan mana yang najis. Dari keengganan Petrus untuk menaati suara yang menyuruhnya menyem-belih dan makan, jelas Petrus masih tetap bertindak menu-rut pilihan atau selera kebudayaannya. Selera sedemikian menyebabkan kita terpecah-belah, dan membuat kita tidak mungkin mewujudkan satu manusia baru. Dalam manusia baru tidak ada kedudukan bagi orang Yahudi atau Yunani, orang yang bersunat atau yang tidak bersunat. Tidak ada pula tempat bagi orang Barbar atau Skit. Dalam manusia baru, semua tempat hanya bagi Kristus. Kristus adalah se-mua dan di dalam segala sesuatu. Ini berarti Kristus meru-pakan tiap bagian dari manusia baru dan berada di dalam setiap bagian. Sasaran dari wahyu yang alwasi tentang Kristus ini ialah agar kita semua dapat memperhidupkan Kristus. Jika kita memperhidupkan Kristus, tidak akan ada perbedaan pada makanan macam apa yang kita makan. Ke-tika kita mengunjungi tempat-tempat tertentu, kita tidak boleh mengatakan karena kita orang Kristen, maka kita tidak boleh makan makanan tertentu. Pilihan atau selera seperti itu adalah di luar kehidupan manusia baru.

KEPRIHATINAN PAULUS

TERHADAP KEBUDAYAAN

Kitab Kolose mewahyukan Kristus secara alwasi demi menanggulangi kebudayaan kita. Kebudayaan dengan licik dan tersembunyi menggantikan Kristus. Kita semua me-ngecam dosa, tetapi kita tidak mengecam kebudayaan. Bela-kangan ini Tuhan memperlihatkan kepada saya bahwa Ki-tab 1 Korintus menanggulangi masalah dosa, Kitab Galatia menanggulangi masalah agama dan hukum Taurat, dan Kitab Kolose menanggulangi kebudayaan. Filsafat, tradisi, dan unsur-unsur dunia adalah aspek-aspek kebudayaan. De-mikian pula, berbagai macam ajaran seperti pertapaan dan Gnostikisme. Kemudian saya mulai lebih memperhatikan perbandingan antara 1 Korintus 12:12-13, Galatia 3:27-28, dan Kolose 3:10-11. Jika Anda membaca ayat-ayat tersebut dengan teliti, Anda akan menjumpai bahwa dalam 1 Korintus 12:12-13 dan Galatia 3:27-28 tidak disebut Barbar atau Skit. Tetapi Kolose 3:11 menyebut orang-orang bersunat atau tidak bersunat, Barbar atau Skit. Ini suatu petunjuk bahwa dalam Kitab Kolose Paulus menanggulangi kebudayaan. Skit adalah orang-orang paling biadab. Menurut tafsiran M. R. Vincent dalam bukunya “Word Studies in the New Tes-tament”, Skit dalam Kolose 3:11 adalah orang-orang yang mempersembahkan manusia sebagai kurban, mereka juga menguliti kepala musuh-musuh yang dibunuh, adakalanya menguliti seluruh tubuhnya, bahkan menggunakan tengko-rak korban mereka sebagai cawan minum. Barbar yang di-sebut dalam ayat ini termasuk semua bangsa selain Yunani dan Yahudi. Ini adalah petunjuk kuat bahwa dalam Kitab Kolose Paulus prihatin kepada kebudayaan manusia. Bah-kan yang bersunat dan yang tidak bersunat, walaupun ber-kaitan dengan agama, tetapi juga berkaitan dengan kebu-dayaan.

Tidak banyak orang Kristen selama berabad-abad ini yang dapat memasuki atau menyelami Kitab Kolose sepe-nuhnya. Di satu pihak, mereka tidak nampak kealwasian wahyu tentang Kristus dalam kitab ini. Di pihak lain, me-reka tidak nampak bahwa kitab ini ditulis untuk menang-gulangi kebudayaan. Penting sekali kita memahami bahwa pengganti yang terakhir bagi Kristus yang ada di dalam kita ialah kebudayaan kita.

LEBIH BANYAK HIDUP

BERDASARKAN KEBUDAYAAN

DARIPADA BERDASARKAN KRISTUS

Oleh rahmat dan anugerah Tuhan, kita yang berada dalam pemulihan Tuhan tidak memperhatikan kebudayaan kita. Ada beberapa yang mungkin mengira dirinya telah be-bas dari kebudayaan. Namun, tidak ada yang terkecuali, kita masing-masing memiliki kebudayaannya sendiri, yakni kebudayaan buatan atau ketetapannya sendiri. Lagi pula, mereka yang telah bertahun-tahun berada dalam hidup gereja mungkin memiliki suatu kebudayaan hidup gereja lokal. Setelah mereka masuk ke dalam pemulihan Tuhan dan mulai bersidang dengan kaum saleh dalam gereja, ada yang dengan spontan mulai menyerupakan diri dengan hi-dup gereja. Ada beberapa orang yang tidak berdandan atau pergi ke bioskop, bukan karena mereka memperhidupkan Kristus, melainkan karena mereka telah menyerupakan diri dengan kehidupan gereja. Ada yang mencukur rambut me-reka dengan model tertentu dengan alasan yang sama. Ada lagi yang bersaksi bahwa mereka melakukan hal-hal ter-tentu karena mengasihi Kristus dan gereja. Akan tetapi, mengasihi Kristus adalah satu hal, memperhidupkan Kristus adalah hal yang lain. Mungkin saja Anda mencukur ram-but Anda karena mengasihi Kristus bukan karena mem-perhidupkan Kristus. Mungkin sedikit sekali orang kudus dalam pemulihan Tuhan yang pergi ke bioskop. Mengapa mereka tidak pergi ke bioskop? Karena mereka mengasihi Kristus dan gereja, atau karena mereka memperhidupkan Kristus? Kita harus bisa berkata, “Alasan aku tidak pergi ke bioskop ialah aku memperhidupkan Kristus. Karena Kristus tidak berbuat demikian, maka aku pun tidak ber-buat demikian. Kristus adalah hayat di batinku, dan kehi-dupan di lahirku. Aku hidup oleh Kristus, bukan karena menyerupakan diri dengan hidup gereja.” Kita semua harus dapat mengumumkan bahwa kita tidak mempunyai per-aturan atau pola apa pun, kita hanya mempunyai Kristus. Kita harus tidak henti-hentinya berkontak dengan Dia dan hidup dalam keesaan dengan Dia. Dia hidup di dalam kita, kita hidup di dalam Dia; dengan demikian kita dan Kristus adalah esa. Kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu tidak hanya karena kita mengasihi Tuhan, tetapi juga karena kita memperhidupkan Dia.

Bahkan mereka yang sangat mengasihi Tuhan dan me-nuntut Tuhan, hidup mereka jauh lebih banyak berdasar-kan kebudayaan daripada berdasarkan Kristus. Jika Anda menganalisis kehidupan sehari-hari Anda, Anda mungkin akan mengetahui bahwa Anda lebih sering tidak hidup ber-dasarkan Kristus, melainkan berdasarkan kebudayaan. Ada beberapa orang mungkin tidak berdoa sama sekali selama beberapa minggu. Tetapi, karena mereka mengasihi Kristus dan gereja, mereka tetap menghadiri sidang. Apakah kehi-dupan seperti itu memperhidupkan Kristus? Pasti tidak. Kehidupan seperti itu adalah menurut kebudayaan, boleh jadi menurut kebudayaan gereja lokal, tetapi bukan menu-rut Kristus.

Mungkin saja orang-orang yang paling berbudaya dan paling “baik” adalah mereka yang berada di gereja-gereja lokal. Banyak yang menjadi sangat baik melalui menempuh hidup gereja selama bertahun-tahun. Hidup gereja merupa-kan kilang kebudayaan yang terbaik. Saya tidak meragukan bahwa suami dan istri yang terbaik terdapat dalam gereja-gereja lokal. Banyak yang dapat bersaksi bahwa kehidupan pernikahan mereka mendapat bantuan yang besar melalui hidup gereja yang mereka tempuh bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, bahkan kehidupan pernikahan kita yang baik pun mungkin lebih banyak karena unsur hidup gereja da-ripada karena memperhidupkan Kristus.

Dalam hal kita marah-marah atau kehilangan kesabaran dapat kita buktikan betapa hidup gereja bisa “memperbaiki” kita. Mungkin Anda adalah seorang yang berwatak cepat. Setelah Anda berada dalam gereja beberapa tahun, Anda akan nampak kini agak sukar bagi Anda untuk me-lampiaskan marah Anda. Alasannya ialah suasana gereja tidak mendorong siapa pun untuk melampiaskan marahnya. Karena itu, Anda tidak melampiaskan amarah Anda karena suasana hidup gereja, bukan karena memperhidupkan Kristus.

Tuhan Yesus sekarang ingin menanggulangi gangguan tersembunyi yang disebabkan oleh kebudayaan kita. Kita harus mengakui bahwa kita tidak cukup banyak memper-hidupkan Kristus. Kita telah terganggu dari memperhidup-kan Kristus terutama bukan oleh dosa atau dunia, tetapi oleh kebajikan dan kehidupan insani yang telah “diper-baiki”. Justru “perbaikan” kehidupan insani kita itulah yang menghambat kita dalam memperhidupkan Kristus. Dari hari ke hari kita jauh lebih banyak hidup oleh “kebaikan” kita daripada oleh Kristus. Rasul Paulus dapat berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Tetapi, kita tidak dapat berkata demikian selama kita hidup terutama berda-sarkan kebudayaan kita, termasuk kebudayaan hidup ge-reja, dan tidak hidup berdasarkan Kristus. Kebudayaan hi-dup gereja telah memenuhi gereja-gereja lokal.

Maksud saya dalam menunjukkan pengaruh kebudaya-an dalam hidup gereja yaitu agar kita tidak memberikan tempat kepada para penentang untuk mengkritik kehidupan gereja. Saya sangat menghargai dan menyukai hidup ge-reja, dan saya dapat bersaksi tidak ada tempat yang lebih baik untuk memperhidupkan Kristus selain di dalam hidup gereja. Namun demikian, pada hari-hari ini, Tuhan berbi-cara kepada kita tentang kebudayaan, agar kita dapat dibebaskan bahkan dari kebudayaan yang tertinggi, sehingga kita dapat memperhidupkan Kristus dengan mutlak.

KEBUDAYAAN SEBAGAI

PENGHAMBAT PEMBANGUNAN

Dalam berita ini saya khusus berbeban menerangkan fakta adanya suatu kebudayaan buatan dan ketetapan sen-diri pada kita semua. Kebudayaan ini merupakan pengganti Kristus. Mungkin Anda tidak menyadari betapa kuatnya kebudayaan yang Anda buat sendiri. Kebudayaan ini telah memisahkan kita dari orang lain dan membuat kita tidak dapat terbangun bersama-sama mereka. Kebudayaan kita boleh jadi ibarat sebuah sel baja yang mengurung kita di dalamnya. Kita semua memiliki sebuah kebudayaan buatan sendiri dan ketetapan sendiri. Orang beriman tertentu boleh jadi sangat baik dan mustika. Namun ia penuh dengan ke-budayaan buatan sendiri. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin sangat jujur dan terus terang, sama sekali tidak main politik. Tetapi kejujuran dan keterusterangannya itu boleh jadi suatu kebudayaan, bukan Kristus. Ada lagi yang mungkin sangat baik hati dan satria, tidak pernah melukai siapa pun, tetapi itu pun boleh jadi adalah satu aspek dari kebudayaan mereka. Kita semua memiliki kebudayaan kita masing-masing. Jika orang lain hidup menurut kebudayaan kita, kita merasa senang. Tetapi, jika mereka tidak hidup menurut kebudayaan kita, mungkin kita akan tersinggung.

Mungkin seorang saudara sulit hidup bersama dalam kesatuan dengan istrinya, sebab mereka masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda. Suami mengharap agar istrinya hidup menurut kebudayaannya; istrinya juga meng-harap agar suaminya hidup sesuai dengan kebudayaannya. Perbedaan kebudayaan itu menjadi satu sumber kesulitan dalam kehidupan pernikahan mereka. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman dalam kehidupan pernikahan selama lebih dari lima puluh tahun, saya dapat bersaksi bahwa ke-hidupan pernikahan yang paling bahagia adalah kedua pihak tidak mengharap pihak pasangan hidup menurut ke-budayaannya masing-masing. Tetapi, apabila masing-ma-sing pihak menuntut pihak lawan menyesuaikan diri de-ngan kebudayaannya, pasti akan segera timbul kesulitan. Karena itu, persoalannya ialah kita semua memiliki kebu-dayaan kita sendiri, dan mengharap orang lain hidup me-nurut kebudayaan itu. Kebudayaan buatan sendiri ini meru-pakan suatu gangguan terbesar dalam mengalami Kristus. Pengganti Kristus yang paling tersembunyi dan paling licik ialah kebudayaan kita.

KEBUDAYAAN DAN OPINI

Pada waktu-waktu silam saya sering mengatakan ten-tang masalah yang diakibatkan oleh opini-opini dalam hi-dup gereja. Akhir-akhir ini saya dengar di tempat-tempat tertentu ada beberapa saudari dengan gigih menentang piano, tetapi dengan kegigihan yang sama mereka menyukai gitar. Opini-opini seperti itu berasal dari kebudayaan kita karena kebudayaan adalah sumber opini. Jika kebudayaan kita telah tertanggulangi, kita tidak akan memiliki opini tentang piano atau gitar, tetapi hanya memperhatikan Kristus. Tan-pa opini berarti tanpa kebudayaan. Kalau Anda berpegang pada kebudayaan Anda, sangat sulitlah Anda untuk tidak beropini. Kebudayaan Anda menyebabkan Anda memperta-hankan opini sendiri. Saya adalah seorang yang kuat dalam opini saya. Tetapi selama bertahun-tahun saya telah ditang-gulangi Tuhan. Sekarang bagi saya menggunakan piano atau gitar dua-duanya atau tidak sama sekali, tidak jadi soal. Demikian pula, kaum saleh memakan makanan ma-cam apa pun tidak jadi soal bagi saya. Akan tetapi, kalau kita ada kebudayaan tetapi tanpa Kristus, niscayalah kita akan banyak memperhatikan hal-hal semacam itu. Betapa kita perlu penyelamatan Tuhan! Gangguan yang paling ter-sembunyi dan terlicik dalam memperhidupkan Kristus ialah kebudayaan kita. Benteng kebudayaan yang ada dalam kita ini harus diruntuhkan oleh Tuhan, barulah kita tidak me-miliki kebudayaan, melainkan hanya memiliki Kristus. Da-lam berbagai macam situasi dan keadaan kita tidak lagi memiliki opini-opini menurut kebudayaan kita, tetapi kita hanya memperhatikan Kristus saja. Kalau orang lain ingin pakai piano atau gitar, kita tidak mempunyai perasaan apa-apa tentang hal tersebut. Jika mereka sama sekali tidak menggunakan alat-alat musik, kita pun tidak merasa apa-apa. Karena kita telah diselamatkan dari kebudayaan kita, kita hanya memperhatikan Kristus dan memperhidupkan Kristus semata.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS DI DALAM ROH

Jalan untuk dibebaskan dari kebudayaan buatan sendiri ialah tidak sengaja mencoba membuang kebudayaan kita. Kalau kita berbuat demikian, usaha kita untuk membuang kebudayaan kita akan menjadi bentuk kebuda-yaan yang lain, yakni suatu kebudayaan yang anti kebu-dayaan. Kita perlu nampak bahwa jalan untuk dibebaskan dari kebudayaan tidak lain ialah memperhidupkan Kristus di dalam roh secara terus-menerus. Kita semua telah tersu-sun dengan kebudayaan menurut suku dan bangsa kita masing-masing, bahkan menurut hidup gereja. Hidup gereja kini memainkan peranan penting dalam kebudayaan kita. Kita harus mengecam kebudayaan yang mana pun yang menggantikan Kristus. Keperluan kita ialah memperhidup-kan Kristus, hidup oleh persona almuhit ini di dalam roh kita.