WAHYU YANG OBYEKTIF, MINISTRI YANG SUBYEKTIF, DAN PENGALAMAN YANG RIIL
Pembacaan Alkitab: Kol. 1:15-19, 25-29; 2:2b, 6, 9, 18, 23
Meskipun Kitab Kolose singkat, wahyu yang termuat di dalamnya lebih tinggi daripada kitab mana pun dalam Alki-tab. Alkitab dapat diibaratkan seperti Gunung Sion yang mempunyai sejumlah puncak. “Puncak” tertingginya ialah Kitab Kolose.
SUATU PERBANDINGAN
Jika kita membandingkan Kitab Kolose dengan Injil Yohanes, kita akan lebih mudah memahami betapa tinggi-nya wahyu dalam Kitab Kolose ini. Kebanyakan dari kita mengapresiasi Injil Yohanes, karena kitab ini merupakan kitab hayat, juga sebuah kitab mengenai rahasia hayat. Meskipun Injil Yohanes itu misterius, wahyu yang termuat di dalamnya tidak dapat dibandingkan dengan wahyu dalam Kitab Kolose. Injil Yohanes berawal dengan perkataan “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dalam Yohanes 1:18 dikatakan lebih lanjut, “Tidak seorang pun yang pernah me-lihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pang-kuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Kitab Kolose tidak mengatakan bahwa Firman itu adalah Allah, tetapi mengatakan bahwa Kristus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan” (1:15). Penuturan dan ungkapan Paulus di sini sangat bagus dan mengagumkan sekali. Kemudian, sebagai keterangan tambahan dari anak kalimat ini, Paulus me-ngatakan lebih lanjut bahwa Kristus adalah “yang sulung dari segala yang diciptakan”. Itu menunjukkan bahwa “yang sulung dari segala yang diciptakan” merupakan sinonim dari “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Ini membukti-kan bahwa yang sulung dari segala yang diciptakan adalah gambar Allah yang tidak kelihatan itu.
Yohanes 1:3 mengatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Bandingkan perkataan ini dengan perkataan Paulus dalam Kolose 1:16-17: “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik peme-rintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala se-suatu dan segala sesuatu menyatu (berkelangsungan) di da-lam Dia.” Menghafalkan Yohanes 1:3 agak mudah, tetapi sangat sukar menghafalkan Kolose 1:16-17, sebab ayat-ayat ini jauh lebih rumit. Menurut Kitab Kolose, Kristus yang telah kita terima sebagai Juruselamat dan hayat kita adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Tidak hanya de-mikian, Dia yang adalah gambar Allah justru adalah yang sulung dari segala yang diciptakan, sebab di dalam Dia, oleh Dia, dan untuk Dia segala sesuatu diciptakan. Lagi pula, dari Kolose 1:17 kita nampak bahwa Kristus ada ter-lebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu berke-langsungan di dalam Dia. Kata ini menunjukkan bahwa Kristus telah ada pada kekekalan yang lampau, juga me-nunjukkan satu fakta bahwa segala sesuatu bersama ber-eksistensi bersandarkan Kristus sebagai inti penopang, se-perti halnya jari-jari roda ditopang bersama oleh poros roda pada pusatnya. Wahyu yang diberikan dalam ayat-ayat se-perti ini berada di luar kemampuan kita untuk memahami-nya sepenuhnya.
Dalam Kolose 1:18 Paulus berkata lebih lanjut bahwa Kristus adalah Kepala Tubuh, yaitu gereja, Dialah yang su-lung, yang pertama bangkit dari antara orang mati. Kemu-dian dalam ayat 19 kita baca, “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia.” Kepenuhan mempu-nyai lebih dari satu aspek. Sebab itu, dengan hati-hati Paulus menunjukkan bahwa seluruh kepenuhan, yaitu kepenuhan dengan berbagai aspeknya, berkenan tinggal di dalam Kristus. Berbagai aspek kepenuhan mencakup kepenuhan dalam yang sulung dari segala yang diciptakan, kepenuhan dalam adanya Kristus sebelum segala sesuatu, kepenuhan dalam adanya ciptaan di dalam Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, kepenuhan dalam apa adanya Dia sebagai yang per-tama bangkit dari antara orang mati, dan kepenuhan da-lam apa adanya Dia sebagai Kepala gereja. Seluruh kepe-nuhan ini berkenan tidak saja tinggal di dalam Kristus, tetapi juga memperdamaikan segala sesuatu kepada diri-Nya sendiri. Di mana lagi dapat kita temukan wahyu yang bisa dibandingkan dengan yang ini?
Berbeda dengan Injil Yohanes, Kitab Kolose tidak me-makai kata-kata, ungkapan-ungkapan, dan kalimat-kalimat yang sederhana. Kalimat-kalimat dalam Surat Kiriman ini sangat rumit dan sering mencakup banyak frase dan anak kalimat. Sebenarnya, seluruh ayat dari Kolose 1:9-20 harus dianggap sebagai satu kalimat tunggal. Ini jauh berbeda de-ngan ungkapan-ungkapan sederhana dalam Injil Yohanes: “Akulah roti hidup”, “Akulah terang”, atau “Akulah pintu”.
MELENGKAPKAN FIRMAN ALLAH
Dalam Kolose 1:25 kita nampak bahwa Paulus telah menjadi pelayan gereja sesuai dengan kepengurusan Allah “untuk melengkapkan firman Allah” (Tl.). Firman Allah adalah wahyu ilahi. Sudah pasti Kitab Kolose adalah bagi-an dari kelengkapan wahyu Allah melalui Paulus. Tanpa Su-rat Kiriman ini, wahyu ilahi tidak akan lengkap. Karena Kitab Kolose merupakan bagian dari kelengkapan wahyu ilahi, maka wahyu dalam kitab ini sangatlah tinggi dan kaya. Karena wahyu ini begitu tinggi dan karena tulisan Paulus rumit, tidak banyak orang Kristen yang mengerti kitab ini dengan tepat. Kita percaya bahwa sekarang, yakni pada akhir zaman ini, Tuhan akan membuka kitab ini demi kehendak-Nya.
MEWAHYUKAN KRISTUS ITU SIAPA
DAN KRISTUS ITU APA
Dalam Kolose 1 kita nampak suatu wahyu tentang sia-pa dan apa itu Kristus. Sebenarnya kitab ini mewahyukan tentang apa itu Kristus lebih banyak daripada siapa itu Kristus. Tetapi kebanyakan orang Kristen hanya mengeta-hui siapa itu Kristus, kurang mengetahui apa itu Kristus. Namun, jika kita ingin mengetahui Kristus yang almuhit, kita harus mengetahui apa dan siapa itu Kristus. Mengenal siapa itu Kristus lebih mudah daripada mengenal apa itu Kristus. Dalam Kolose 1 kita nampak bahwa Kristus adalah bagian dari kaum saleh (ayat 12), gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala yang diciptakan, Kepala Tubuh, yang utama, yang pertama bangkit dari antara orang mati, dan yang di dalamnya seluruh kepenuhan berkenan berdiam. Kepenuhan ini berkaitan dengan apa itu Kristus atau dengan siapa itu Kristus? Sukar dijelaskan. Tetapi nam-paknya Paulus menganggap kepenuhan ini sebagai suatu pribadi. Ini menunjukkan bahwa dia menganggap kepenuh-an sebagai satu persona, karena kepenuhan ini berkenan tinggal di dalam Kristus dan memperdamaikan segala se-suatu. Semua ini merupakan fungsi dari persona yang hidup, bukan suatu benda. Ketika kita melihat aspek-aspek Kristus yang terungkap dalam pasal 1, kita temukan bahwa ada beberapa yang berkaitan dengan siapa itu Kristus, sedang-kan yang lain berkaitan dengan apa itu Kristus.
SASARAN MINISTRI YANG SUBYEKTIF
Wahyu tentang Kristus yang diberikan dalam Kitab Kolose sejauh ini sepenuhnya bersifat obyektif. Sebagai con-toh, Kristus secara obyektif adalah gambar Allah dan yang sulung dari segala yang diciptakan. Namun, dalam ayat 24-29 kita jumpai kepengurusan rumah tangga, ekonomi, pe-nyaluran, yang melaluinya Kristus yang obyektif tersalur ke dalam kita. Kristus yang diwahyukan dengan obyektif dalam ayat 15-19 telah tersuplai ke dalam kita secara subyektif melalui pelayanan pengurus rumah tangga Allah dalam ayat 25-29. Sebab itu, dalam Kolose 1 kita mempu-nyai wahyu yang obyektif dan ministri yang subyektif. Sasaran ministri yang subyektif ialah menyalurkan Kristus yang diwahyukan secara obyektif itu ke dalam kita. Jika kita memiliki ayat 15-19 tanpa ayat 25-29, kita hanya akan memiliki wahyu yang obyektif, tidak ada ministri yang sub-yektif. Kita perlu ministri yang subyektif agar Kristus yang almuhit yang diwahyukan secara obyektif itu tersuplai ke-pada kita.
Ministri yang subyektif dari Kristus yang obyektif ialah melengkapkan firman Allah. Karena itu, kelengkapan fir-man Allah bukan doktrin melulu, melainkan suatu ministri. Melalui ministri yang subyektif ini, Kristus yang obyektif menjadi Kristus yang di dalam kita, sesuai dengan ayat 27. Dalam ayat 25-29 Kristus tidak lagi hanya bersifat obyektif, karena Ia kini adalah Kristus yang subyektif yang tinggal di dalam kita menjadi pengharapan akan kemuliaan kita. Dia telah menjadi subyektif karena Dia telah tersalur ke dalam kita melalui ministri pengurus rumah tangga itu. Sekarang Kristus yang obyektif telah menjadi Kristus yang subyektif, yaitu Kristus yang hidup di dalam kita.
Membicarakan Kristus yang obyektif agak mudah, tetapi menyuplaikan Kristus ini ke dalam kaum saleh agar Ia men-jadi subyektif bagi mereka sangatlah sukar. Karena itu, Paulus harus berusaha dengan jerih lelah serta bergumul sesuai dengan kuasa-Nya yang beroperasi dengan kuat di dalamnya (ayat 29). Paulus berjerih lelah, berusaha, dan bergumul, agar Kristus dapat disalurkan ke dalam kaum saleh, agar mereka dapat mengalami Dia. Sasaran Paulus dalam usahanya ialah “mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus”. Sasaran-Nya ialah menyup-laikan Kristus kepada orang lain, agar mereka dapat berda-sarkan Kristus bertumbuh dan matang, menjadi sempurna dan lengkap. Mula-mula Paulus berusaha menyuplaikan Kristus ke dalam kaum saleh. Karena itu dalam Kolose 1:27 dia mengatakan, “Kristus di dalam kamu.” Kemudian, dia bergumul demi kaum saleh untuk mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus. Di satu pihak, Kristus harus berada di dalam kaum saleh; di pihak lain, kaum saleh harus dewasa penuh dalam Kristus. Hal ini memerlukan banyak jerih lelah, bahkan harus bergumul sesuai dengan kuasa ilahi yang beroperasi dengan kuat itu.
Tidak mudah untuk membantu kaum saleh mengalami Kristus yang diwahyukan dalam Kolose 1 ini. Dalam Kolose 2:1 Paulus membicarakan betapa ia telah bergumul dengan hebat demi kaum beriman di Kolose dan Laodikia. Kalau kita menginginkan orang lain memasuki pengalaman yang riil atas Kristus yang almuhit, kita juga perlu bergumul bagi mereka.
Setelah menyajikan wahyu yang obyektif tentang Kristus, Paulus meneruskan mengenai perlunya ministri yang subyektif dari Kristus. Melalui ministri ini, Kristus yang obyektif yang diwahyukan dalam Kolose 1:15-19 tersalur ke dalam kaum saleh dan tinggal di dalam mereka sebagai pengharapan akan kemuliaan mereka. Lagi pula, harus ada usaha dan pergumulan untuk mempersembahkan kaum sa-leh dewasa penuh dalam Kristus. Menyuplaikan Kristus ke dalam orang memang sukar, tetapi lebih sukar lagi mem-persembahkan orang dewasa penuh dalam Kristus. Penting sekali kita mengalami Kristus hidup di dalam kita dan memi-liki pengalaman sejati atas menjadi dewasa penuh dalam Dia.
PENGALAMAN ATAS KRISTUS YANG ALMUHIT
Dalam pasal 1 kita telah menyinggung wahyu yang obyektif dan ministri yang subyektif dari Kristus. Sekarang dalam pasal 2 kita masih mempunyai hal lain, yaitu peng-alaman yang riil atas Kristus yang obyektif yang telah ter-salur secara subyektif ke dalam kita. Karena itu, kita me-miliki wahyu yang obyektif, ministri yang subyektif, dan pengalaman yang riil. Kolose 2 ditujukan pada masalah per-tumbuhan atau perkembangan yang penuh dari pengalam-an yang riil atas Kristus yang almuhit.
Perlunya Hati yang Terhibur
Berhubungan dengan perkembangan ini Paulus menga-takan bahwa ia berjuang bagi kaum saleh agar hati mereka terhibur, dan agar mereka terjalin bersama dalam kasih. Paulus menyadari pentingnya hati yang terhibur dan gem-bira. Saya dapat bersaksi, jika hati saya tidak gembira, su-kar sekali saya mengalami Kristus. Sebagai contoh, suatu hari saya tidak senang karena perlakuan sebuah maskapai penerbangan. Saya harus menunggu beberapa jam baru da-pat pesawat terbang. Saya tidak mau tinggal dalam keti-daksenangan, maka saya berdoa, “Tuhan, ketika aku harus menunggu pesawat selama tiga jam, buatlah hatiku gem-bira.” Saya menyadari pada waktu itu, seperti sekarang ini, sukar sekali mengalami Kristus yang almuhit kalau hati kita tidak gembira. Bila hati kita tidak gembira, Kristus seolah-olah jauh dari kita dalam pengalaman. Jika Anda ingin mengalami Kristus yang almuhit, jangan biarkan diri Anda tetap gusar terhadap suami atau istri Anda. Anda perlu berdoa agar Tuhan menjauhkan segala ketidakgembi-raan dari hati Anda. Paulus mengetahui pentingnya sebuah hati yang terhibur, maka dia berjuang untuk kaum saleh, agar hati mereka dihangatkan dan agar mereka dapat me-miliki “pengenalan yang penuh akan rahasia Allah, yaitu Kristus”.
Berperilaku, Berakar, dan Dibangun
Dalam 2:6-7 kita menjumpai lebih banyak hal tentang pengalaman riil atas Kristus. Ayat 6-7 mengatakan, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hen-daklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu ber-akar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman sebagaimana telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syu-kur.” Untuk mengalami Kristus secara riil, pertama-tama kita harus menerima Dia, kemudian hidup (berperilaku, bertindak) di dalam Dia. Walau kita telah berakar di dalam Kristus, kita wajib maju untuk dibangun di dalam Dia, dan diteguhkan di dalam iman. Semuanya ini, termasuk melimpah dengan syukur, berkaitan dengan pengalaman yang riil.
Filsafat, Tradisi, dan Unsur-unsur Dunia
Ayat 8 mengatakan, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafat dan tipuan yang ko-song menurut tradisi manusia dan unsur-unsur dunia, te-tapi tidak menurut Kristus” (Tl.). Ayat ini menyinggung tiga hal negatif: filsafat dan penipuan yang kosong, tradisi, dan unsur-unsur dunia. Hal-hal negatif itu berlawanan de-ngan Kristus. Kita perlu berhati-hati agar tidak tertawan oleh hal-hal seperti itu. Dalam ayat 9 Paulus menjelaskan bahwa di dalam Kristus “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” (Tl.). Karena kita memiliki Kristus yang sedemikian, maka apa perlunya kita memiliki filsa-fat, tradisi manusia, atau unsur-unsur dunia?
Kerendahan Hati, Agama, dan Peraturan-peraturan
Dalam Kolose 2:18 Paulus mengeluarkan peringatan lain: “Janganlah kamu biarkan pahalamu digagalkan oleh orang-orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah ke-pada malaikat, serta mengagung-agungkan penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikiran dagingnya” (Tl.). Pahala di sini berarti Kristus seba-gai kenikmatan kita. Paulus memperingatkan kita agar tidak membiarkan siapa pun menggagalkan kita dari kenik-matan atas Kristus melalui hal-hal seperti kerendahan hati, pekerti manusia yang terbaik, dan penyembahan terhadap malaikat, suatu bentuk agama yang diperhalus.
Dalam ayat 20-21 Paulus mengatakan tentang peratur-an-peraturan. Di sini dia berkata, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh du-nia, mengapa kamu menaklukkan dirimu pada berbagai peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini.” Seperti yang ditunjukkan Paulus dalam ayat 22, semua hal itu “hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian”.
KEBUDAYAAN — MUSUH TERHADAP
PENGALAMAN ATAS KRISTUS
Dalam 2:8, 18, dan 20 Paulus menyebutkan sejumlah hal: filsafat, tradisi, unsur-unsur dunia, kerendahan hati, penyembahan terhadap malaikat, dan peraturan-peraturan. Sebenarnya semuanya itu dapat diringkas dalam satu isti-lah, yaitu kebudayaan. Filsafat merupakan salah satu pro-duk tertinggi dari kebudayaan manusia. Tradisi juga ber-kaitan dengan kebudayaan. Faktanya, tradisi berasal dari kebudayaan, dan kebudayaan terwujud di dalam tradisi. Ka-lau tidak ada kebudayaan, tidak ada tradisi; dan jika tidak ada tradisi, tidak ada pula kebudayaan. Tidak hanya demi-kian, unsur-unsur dunia, yaitu prinsip-prinsip awal dari ajar-an-ajaran dasar juga adalah aspek-aspek dari kebudayaan. Kerendahan hati adalah kebajikan yang terdapat di antara kebanyakan orang yang berkebudayaan. Semakin diperhalus dan berbudaya, orang akan semakin rendah hati. Tetapi se-makin tidak berbudaya dan biadab seseorang, ia akan sema-kin tidak rendah hati. Karena itu, kerendahan hati berkaitan erat dengan kehalusan kebudayaan. Tidak hanya demikian, penyembahan terhadap malaikat terdapat di kalangan orang-orang yang berkebudayaan tinggi. Orang-orang yang kebu-dayaannya rendah mungkin menyembah binatang-binatang, tetapi mereka yang berkebudayaan lebih tinggi mungkin menyembah malaikat-malaikat. Penyembahan terhadap ma-laikat sebenarnya merupakan bentuk penyembahan berhala yang diperhalus, suatu praktek yang masih terdapat dalam aliran kekristenan tertentu hari ini. Beberapa orang mung-kin malah membenarkan penyembahan terhadap malaikat dengan mengatakan bahwa hal itu lebih baik daripada me-nyembah binatang-binatang. Terakhir, peraturan-peraturan manusia berkaitan dengan kebudayaannya. Peraturan-per-aturan adalah ketetapan-ketetapan yang berkaitan dengan cara hidup kita. Sebagai contoh, etika makan adalah suatu peraturan. Orang-orang yang lebih berbudaya memiliki le-bih banyak peraturan. Semakin berbudaya, orang lebih bisa berkata, “Jangan pegang ini, jangan kecap itu, dan jangan sentuh ini.”
Walaupun dalam Kitab Kolose tidak terdapat istilah kebudayaan, sebenarnya kitab ini ditulis untuk menanggu-langi kebudayaan, musuh yang sesungguhnya terhadap peng-alaman dan kenikmatan kita atas Kristus. Semua orang menghargai kebudayaan mereka dan memustikakan kebu-dayaan mereka. Karena alasan ini, kebudayaan adalah ham-batan terhadap pengalaman atas Kristus.
Dalam bagian Kitab Kolose yang membahas masalah pengalaman yang riil atas Kristus, Paulus mencatat banyak hal yang mengganggu pengalaman tersebut. Hal-hal yang disinggung dalam Kitab Kolose sangat berlainan dengan apa yang tercantum dalam Kitab 1 Korintus, di mana Paulus menanggulangi perpecahan, kedengkian, percabulan, dan persengketaan. Dalam Kitab Galatia Paulus menanggulangi hukum Taurat yang merupakan gangguan terhadap peng-alaman atas Kristus. Tetapi dalam Kitab Kolose dia tiba ke-pada masalah kebudayaan yang tersembunyi dan licik. Orang-orang Kristen menghakimi perzinaan dan perpecahan dan sebagian besar memahami bahwa hukum Taurat sudah berlalu. Tetapi siapa yang menyangkal kebudayaan sebagai satu penghambat terhadap kenikmatan atas Kristus? Bah-kan di antara kita pun jarang sekali orang yang mengha-kimi kebudayaan karena alasan ini.
Gereja di Kolose telah diserbu oleh percampuran kebu-dayaan Yahudi dan Yunani. Unsur-unsur Gnostik dan per-tapaan telah menyusup ke dalam hidup gereja. Baik Gnos-tikisme maupun pertapaan adalah produk kebudayaan yang telah dikembangkan secara tinggi. Orang-orang yang mem-praktekkan pertapaan, yang menyiksa tubuh dengan kejam, biasanya adalah orang-orang yang halus dan berkebudayaan.
Kita perlu ingat bahwa Kitab Kolose tidak ditulis un-tuk menanggulangi dosa atau hukum Taurat, melainkan kebudayaan. Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Kolose tidak dapat dialami kecuali hambatan-hambatan kebudaya-an telah tersingkap dan ditanggulangi. Kita mungkin ber-pegang pada kebudayaan kita sambil mengalami Kristus yang diwahyukan dalam kitab-kitab Perjanjian Baru lain-nya. Tetapi untuk mengalami Kristus almuhit yang terung-kap dalam Kitab Kolose, kita perlu menyangkal dan meno-lak gangguan yang ditimbulkan oleh kebudayaan kita itu.
Dalam Kitab Kolose pertama-tama Paulus menampilkan wahyu yang obyektif, dan kemudian ministri yang subyektif. Dalam pasal 2 yang membahas pengalaman yang riil atas Kristus, dia menunjukkan bahwa penghambat yang paling licik terhadap kenikmatan atas Kristus ialah kebu-dayaan kita. Tentang wahyu yang obyektif atas Kristus, Kitab Kolose memberi kita wahyu yang tertinggi. Seprinsip dengan itu, tentang pengalaman yang riil atas Kristus, ki-tab ini menunjukkan gangguan yang paling licik. Semoga kita semua terkesan oleh fakta ini bahwa jika kita ingin memiliki pengalaman yang riil atas Kristus yang almuhit, kita harus menanggulangi kebudayaan kita.
MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Beberapa orang yang nampak pentingnya mengesam-pingkan kebudayaan mungkin menyatakan bahwa mereka telah berbuat demikian. Kaum saleh Amerika mungkin me-nyatakan mereka telah membuang kebudayaan Amerika, dan kaum beriman China mungkin menyatakan mereka te-lah membuang kebudayaan China mereka. Namun, mereka mungkin belum lagi membuang kebudayaan buatan mereka sendiri, yaitu kebudayaan yang mereka kembangkan sen-diri. Melalui membuang kebudayaan kita sebenarnya kita hanya menemukan kebudayaan lain — kebudayaan yang membuang kebudayaan. Kalau demikian, kita mengganti-kan kebudayaan kita bukan dengan Kristus, melainkan de-ngan satu kebudayaan yang non kebudayaan. Yang terpen-ting bukanlah membuang kebudayaan kita, melainkan memperhidupkan Kristus. Akibatnya bukanlah kebudayaan berlawanan dengan tanpa kebudayaan, melainkan kebuda-yaan berlawanan dengan Kristus. Kita perlu memperhatikan Kristus dan hidup oleh Kristus. Sebab itu, yang penting bukannya mencoba membuang kebudayaan kita secara negatif, melainkan memperhidupkan Kristus secara positif.
Anak-anak harus dibesarkan menurut standar-standar kebudayaan tertentu. Jika tidak, mereka akan menjadi liar dan kurang ajar. Jika para orang tua Kristen mengatakan kepada anak-anak mereka bahwa mereka tidak perlu kebu-dayaan tetapi hanya perlu menikmati Kristus saja, itu sua-tu kekeliruan besar. Anak-anak perlu kebudayaan sampai mereka cukup umur untuk mengalami Kristus dan hidup oleh Dia. Siapa yang belum menerima Kristus harus memi-liki kebudayaan supaya mereka dapat hidup dengan wajar dan teratur. Masyarakat hari ini perlu kebudayaan. Sema-kin berkebudayaan seseorang, ia semakin tidak perlu diawasi oleh polisi atau pengadilan. Saya harap saya sudah mem-buat hal ini sangat jelas bahwa saya tidak mengatakan kita harus membuang kebudayaan kita semata-mata. Kita bukan mencoba mengesampingkan kebudayaan, tetapi ha-rus berkonsentrasi pada hal memperoleh Kristus. Semakin banyak kita memiliki Kristus, semakin sedikitlah keperlu-an kita untuk hidup oleh kebudayaan.
Sebenarnya, setiap hal yang kita miliki di luar Kristus adalah suatu bentuk kebudayaan. Sebagai contoh, makan dengan menggunakan pisau dan garpu adalah soal kebuda-yaan, dan makan dengan sumpit juga adalah soal kebudaya-an. Kita semua memiliki kebudayaan buatan sendiri dan yang ditentukan sendiri. Ini berarti kita semua memiliki cara hidup yang khas. Anda hidup menurut cara Anda, saya hidup menurut cara saya. Hidup menurut cara kita berarti hidup menurut kebudayaan kita. Seperti yang telah kita tunjukkan, ini adalah gangguan yang paling besar bagi ke-nikmatan atas Kristus, dan itulah musuh yang terbesar. Sebab itu, marilah kita lebih banyak memperhatikan peng-alaman atas Kristus dan memperhidupkan Kristus secara riil dari hari ke hari.