Daftar isi Kolose (2) · Berita Ketiga Puluh Sembilan · bab 16/21

Berita Ketiga Puluh Sembilan

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:13; 3:4; Yoh. 6:57; 14:19; 15:4-5

Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia tidak hidup berdasarkan hayat insani-Nya. Walaupun Dia adalah seorang manusia yang sempurna dengan hayat-Nya sendiri, tetapi Ia tidak hidup berdasarkan hayat insani-Nya, melainkan berdasarkan hayat Bapa. Karena hayat Bapa itu ilahi dan abadi, maka Tuhan Yesus hidup berdasarkan hayat ilahi ini. Dia dan Bapa memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Putra hidup berdasarkan hayat Bapa, karena kehendak Putra ialah mengekspresikan Bapa. Karena Putra adalah gambar, ekspresi Bapa, dan karena Dia hidup oleh Bapa, maka Putra mengekspresikan Bapa dengan sepenuhnya. Yang hidup Putra, tetapi yang diekspresikan adalah Bapa.

Dalam Yohanes 6:57 Tuhan Yesus mengatakan dengan jelas bahwa Bapa yang hidup mengutus Dia dan Ia hidup karena Bapa. Bapa mengutus Putra, dan Putra hidup di bumi melalui, karena, dan oleh Bapa. Saya lebih suka mengatakan bahwa Putra memperhidupkan Bapa, sebab Bapa adalah hayat Putra.

Alkitab mewahyukan bahwa Putra adalah sebutir benih yang akan direproduksi di dalam kaum beriman. Menurut Yohanes 12:24, biji gandum perlu jatuh ke dalam tanah dan mati supaya dapat menghasilkan banyak biji gandum dalam kebangkitan. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia memperhidupkan hayat Bapa. Kini, setelah kebangkitan-Nya, Dia telah menjadi hayat kita. Dia menghendaki kita memperhidupkan hayat-Nya, bukan hayat alamiah kita sendiri. Sebagai manusia individual, kita semua mempunyai hayat kita sendiri. Tetapi dalam ekonomi-Nya, Allah tidak menghendaki kita memperhidupkan hayat alamiah kita, melainkan memperhidupkan Kristus. Sebagaimana Kristus memperhidupkan Bapa, kita pun harus memperhidupkan Kristus.

KEBUDAYAAN BERLAWANAN DENGAN KRISTUS

Kita telah menunjukkan bahwa Kristus berlawanan dengan kebudayaan kita. Kebudayaan buatan kita sendiri, yang kita laksanakan sendiri, juga kebudayaan yang kita warisi, boleh jadi sangat baik, tetapi asalkan itu bukan Kristus, itu merupakan hambatan bagi pengalaman dan kenikmatan kita atas Kristus, serta kehidupan kita oleh Kristus. Untuk memahami hal ini dengan jelas, kita perlu memiliki visi surgawi. Jika kita mencoba membuang kebudayaan kita tanpa melihat Kristus sebagai hayat dan segala sesuatu kita, maka kita hanya akan menggantikan sejenis kebudayaan dengan kebudayaan lain. Menjadi tidak berkebudayaan juga berarti memiliki satu kebudayaan lain. Orang-orang yang berkebudayaan mempunyai suatu kebudayaan, orang-orang yang tidak berkebudayaan juga mempunyai suatu kebudayaan, walaupun jenisnya sangat berbeda. Kalau kita memahami hal ini, kita akan tampak bahwa memutuskan untuk membuang kebudayaan kita saja tidak ada gunanya. Terpisah dari Kristus, apa adanya kita dan apa yang kita perbuat bagaimana pun berkaitan dengan kebudayaan. Setiap orang mempunyai kebudayaan. Kebudayaan itu boleh jadi berkembang atau tidak berkembang, tinggi atau rendah, namun kebudayaan itu tetap adalah kebudayaan. Pada waktu Kitab Kolose ditulis, orang-orang Yunani memiliki kebudayaan mereka, dan orang-orang Yahudi pun memiliki kebudayaan mereka. Selama ribuan tahun dalam sejarah, setiap suku dan bangsa memiliki jenis kebudayaannya yang khas. Titik beratnya di sini adalah setiap jenis kebudayaan berlawanan dengan Kristus dan Kristus berlawanan dengan setiap jenis kebudayaan. Kebudayaan yang mana saja selalu berlawanan dengan Kristus. Di luar Kristus, setiap produk dan pengembangan manusia adalah bagian dari kebudayaan.

TUJUAN EKONOMI ALLAH

Kita tidak boleh mencoba melakukan apa-apa terhadap kebudayaan yang ada di dalam kita. Yang terpenting ialah kita harus tampak visi tentang ekonomi Allah. Ekonomi Allah ialah ingin menggarapkan persona Kristus yang almuhit dan hidup ke dalam kita. Menurut wahyu dalam Kitab Kolose, Kristus adalah bagian kaum beriman, yang sulung dari segala yang diciptakan, gambar Allah yang tidak kelihatan, Kepala Tubuh, yang pertama bangkit dari antara orang mati, yang di dalam-Nya seluruh kepenuhan berkenan diam, rahasia ekonomi Allah, rahasia Allah, realitas segala hal yang positif, dan unsur manusia baru. Kristus adalah segala sesuatu: Dialah hayat, terang, kuat, kuasa, tenaga, benar, kudus, bajik, dan setiap atribut ilahi dan kebajikan insani lainnya. Karena Kristus adalah segala sesuatu bagi kita, maka Dia bersifat almuhit. Tujuan ekonomi Allah ialah menggarapkan Sang almuhit ini ke dalam kita. Sebagai Sang almuhit, Kristus mempunyai pencapaian yang tertinggi. Dia telah naik ke atas surga dan telah ditinggikan ke tempat tertinggi dalam alam semesta. Kini Dia duduk di sebelah kanan Allah. Kristus telah dinobatkan, dan telah menjadi Tuhan dan Kepala atas segala sesuatu. Lagi pula, Dia telah memperoleh segala sesuatu, sebab segala sesuatu telah menjadi kepunyaan-Nya. Persona ini dengan segala yang telah dicapai dan diperoleh-Nya ini adalah persona yang hendak digarapkan Allah ke dalam diri kita. Apakah Anda benar-benar percaya bahwa persona almuhit yang hidup ini telah tergarap ke dalam Anda? Saya sangsi, banyak orang Kristen, termasuk kaum beriman dalam pemulihan Tuhan, benar-benar percaya hal ini.

KRISTUS HARUS MENJADI HAYAT KITA

Kristus yang almuhit adalah hayat kita (3:4). Jika Kristus tidak menjadi hayat kita, maka segala apa adanya Dia dan semua yang dicapai dan diperoleh-Nya akan tetap bersifat objektif. Dia tetap Dia, kita tetap kita. Kalau begitu Dia tidak ada sangkut-pautnya dengan kita secara riil, demikian pula kita dengan Dia. Karena itu, dalam pengalaman riil sehari-hari kita, Kristus harus menjadi hayat kita. Namun kita mungkin memiliki pengetahuan Alkitab secara doktrinal bahwa Kristus adalah hayat kita tanpa hidup oleh Kristus secara riil dari hari ke hari. Bukannya hidup oleh Kristus, kita malahan terlalu sering hidup oleh hayat alamiah kita.

Kita semua harus mengakui bahwa kita mengasihi hayat kita sendiri, mengasihi hayat alamiah insani kita. Mungkin kita menyatakan kita membenci hayat kita, tetapi sebenarnya kita sangat mengasihinya. Bahkan ketika Anda bersaksi tentang kebencian Anda terhadap hayat alamiah Anda, dalam lubuk batin, Anda tetap mengindahkan hayat Anda dan menganggapnya lebih baik daripada hayat orang lain. Sebagai contoh, dalam lubuk batinnya, seorang saudari mungkin merasa hayatnya lebih baik daripada hayat suaminya. Sudah tentu, saudara pun mempunyai perasaan yang serupa terhadap istrinya. Kita semua sama dalam hal menganggap tinggi hayat alamiah kita sendiri.

MEMPERBAIKI HAYAT ALAMIAH

Di samping mengapresiasi hayat alamiah, kita pun telah terbiasa menggunakannya, yaitu terbiasa hidup menurut hayat alamiah. Kita telah bertahun-tahun terbiasa hidup oleh hayat pribadi kita. Lagi pula, kita bahkan telah berusaha untuk “memperbaiki” hayat alamiah. Melalui la-tihan-latihan yang kita terima di rumah, hayat alamiah kita telah sedikit banyak diperbaiki. Kemudian, diperbaiki lebih lanjut melalui pendidikan dan agama. Kita harus mengakui bahwa hayat alamiah kita bahkan telah diperbaiki melalui partisipasi kita di dalam gereja lokal. Seorang saudara yang telah berada dalam gereja beberapa tahun memang jauh lebih “baik” daripada sebelum ia memasuki hidup gereja. Dalam hidup gereja dapat kita jumpai beberapa orang yang paling “baik” di seluruh negeri ini. Akan tetapi, gereja tidak melaksanakan usaha perbaikan yang demikian, melainkan harus mengakhiri dan mengubur hayat alamiah. Namun kebanyakan dari kita belum dikubur oleh gereja, sebaliknya, kita malah diperbaiki. Sebelum Anda memasuki hidup gereja, mungkin Anda seperti kuningan yang belum digosok. Tetapi sekarang, karena Anda telah diperbaiki oleh hidup gereja, Anda kelihatan seperti kuning-an yang telah digosok hingga berkilauan. Walau kuningan yang telah digosok itu tampaknya seperti emas, tetapi itu bukanlah emas. Demikian pula, walau hayat alamiah kita boleh diperbaiki dan digosok, ia tetap bukan Kristus. Dalam gereja-gereja lokal banyak sekali kuningan yang diperbaiki, dan terlalu sedikit emas. Terlalu banyak hayat alamiah dan tidak banyak Kristus.

Pengajar-pengajar Kristen sering memberikan nasihat yang keliru kepada orang. Mereka seolah dokter yang memberi orang resep obat yang keliru. Dalam tahun-tahun pertama dari pelajaran saya, saya mengatakan kepada orang-orang yang akan menikah bahwa mereka perlu diseimbangkan dan ditundukkan. Saya mengatakan kepada mereka bahwa Tuhan bisa memakai suami atau istri, dan anak-anak mereka untuk menundukkan mereka. Saya menyesal telah memberikan ajaran semacam itu, sebab itu dapat membawa mereka kepada usaha memperbaiki hayat alamiah, bukan hidup oleh Kristus. Pada waktu itu saya belum dapat membedakan dengan jelas mana emas dan mana kuningan yang telah diperbaiki dan digosok. Sekarang saya tahu, tidak peduli kuningan itu diperbaiki dan digosok, tidak mungkin menjadi emas. Seasas dengan itu, memperbaiki hayat alamiah kita tidak mungkin mengubahnya menjadi Kristus. Yang Allah inginkan ialah kita memperhidupkan Kristus, Dia tidak menghendaki kita hanya memperbaiki hayat insani kita saja.

Bila kita tidak memperhidupkan Kristus, kita akan hidup menurut filsafat pribadi kita. Ketika saya mengatakan kepada kaum beriman bahwa mereka perlu diseimbangkan dan ditundukkan dalam kehidupan pernikahan mereka, saya memberi mereka filsafat, bukan kekayaan Kristus. Pada waktu itu filsafat saya adalah suatu campuran antara Alkitab dengan ajaran etis tertentu yang saya terima sejak kecil. Karena itu, yang saya persekutukan kepada kaum beriman mengenai masalah pernikahan itu adalah kebudayaan, bukan Kristus. Pada aspek-aspek tertentu memang filsafat saya baik sekali. Saya dapat membelanya dengan menampilkan ayat-ayat Perjanjian Baru yang menyatakan istri harus patuh kepada suami, dan suami harus mengasihi istri. Bagi saya seolah-olah filsafat saya pada segi-segi tertentu lebih baik daripada filsafat Konghucu. Konghucu tidak pernah mengajarkan seorang istri perlu diseimbangkan oleh suaminya, dan seorang suami perlu ditundukkan melalui menanggung beban dari istri dan anak-anaknya. Kalau kita membahas masalah kehidupan pernikahan terpisah dari Kristus, kita mungkin akan menyetujui filsafat ini. Namun, sekalipun filsafat ini benar, filsafat ini bukan Kristus dan hanya memperbaiki hayat alamiah kita belaka.

MENYUPLAIKAN KRISTUS

Bahkan kita yang berada dalam hidup gereja pun kekurangan visi surgawi tentang keinginan Allah yang menghendaki kita memperhidupkan Kristus. Karena tidak jelas akan visi ini, maka kita telah menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki hayat insani kita, tetapi tidak memperhidupkan Kristus. Sebab itu, saya berbeban menunjukkan bahwa gereja lokal tidak boleh menjadi suatu tempat usaha perbaikan; sebaliknya, gereja haruslah menjadi satu tempat di mana Kristus disuplaikan. Sekarang, ketika kaum muda mempersekutukan masalah pernikahan kepada saya, saya mengatakan kepada mereka bahwa mereka perlu mengalami Kristus sebagai anugerah mereka. Saya tidak lagi mengatakan bahwa mereka perlu diseimbangkan dan ditundukkan menurut pengaturan kedaulatan Allah dalam kehidupan pernikahan mereka. Saya ingin berkata kepada semua orang beriman bahwa satu-satunya keperluan kita ialah Kristus. Kristus hidup di dalam kita, dan kita menjadi satu roh dengan Dia. Oh, keperluan kita hari ini adalah Kristus yang berhuni di batin kita.

Jika kita ingin menikmati Kristus dan mengalami Dia melalui menjadi satu roh dengan-Nya, kita harus beralih dari semua standar, peraturan, ketetapan, dan prinsip yang telah kita buat bagi diri kita sendiri. Memberi tahu orang lain bahwa mereka perlu diseimbangkan dan ditundukkan berarti mempersekutukan suatu standar kepada mereka. Hari ini saya tidak menyuplaikan standar, saya hanya menyuplaikan Kristus. Saya akan menganjuri semua orang beriman untuk tidak lagi menetapkan standar dan peraturan, tetapi berkontak terus dengan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Jika Anda berwatak lamban, janganlah mencoba menjadi orang yang cepat; jika Anda cepat, jangan pula mencoba menjadi lambat. Jangan mencoba menyeim-bangkan diri sendiri, perhidupkan saja Kristus. Biar Kristus yang menjadi standar, peraturan, prinsip, dan sasaran Anda.

TINGGAL DALAM ATMOSFER DOA

Jika kita ingin mengalami Kristus dan memperhidupkan Dia, kita perlu tinggal dalam atmosfer doa. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa melalui doalah kita dibawa masuk ke dalam roh, di mana kita menjadi satu dengan Tuhan dan menerima Dia sebagai hayat kita. Pengalaman ini demikian mustikanya, sehingga ketika menikmatinya kita tidak ingin berhenti. Kita senang tinggal di dalam roh dan bersatu dengan Tuhan. Tetapi, begitu waktu doa kita itu berlalu, kebanyakan kita kembali lagi kepada cara hidup kita yang alamiah. Kita tidak lagi berada dalam atmosfer doa. Dengan sendirinya kita mulai lagi mencoba menjadi orang yang suci, rohani, dan menang. Bila kita gagal, kita bertobat, mengaku dosa kepada Tuhan, dan memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Cara menempuh kehidupan orang Kristen bukan demikian. Sebaliknya, kehidupan sehari-hari kita harus sama seperti pengalaman kita dalam doa yang sebenarnya. Ketika kita berdoa hingga diri kita masuk ke dalam roh, kita bersatu dengan Tuhan, kita menikmati kehadiran-Nya, dan kita dengan spontan memperhidupkan Dia. Tanpa mengerahkan upaya apa pun kita sudah suci, rohani, dan menang. Kita tidak mempunyai masalah dan kekhawatiran. Saya percaya kita semua telah memiliki pengalaman seperti ini dalam doa.

Pengalaman-pengalaman doa yang sejati ini harus menjadi model bagi pengalaman sehari-hari kita bersama Tuhan. Ini berarti pengalaman kita dalam kehidupan sehari-hari harus serupa dengan ketika kita berdoa. Tetapi, sebagian besar dari waktu kita, kita pakai untuk hidup menurut hayat alamiah, tidak menurut Kristus. Untuk memperhidupkan Kristus, kita perlu bertekun dalam doa, yaitu berdoa tanpa henti. Kita perlu tinggal dalam atmosfer doa. Di sinilah kita akan menjadi satu roh dengan Tuhan. Dialah hayat kita, kita memperhidupkan Dia, dan kita akan dengan spontan menjadi suci, rohani, dan menang. Kita tidak berpikiran untuk menyeimbangkan diri sendiri. Kita tidak memiliki standar, prinsip, dan peraturan, melainkan memiliki Kristus yang kita alami secara riil. Bila kita berada dalam atmosfer doa yang demikian, kita akan bersatu dengan Kristus, dan Dia adalah hayat kita. Inilah artinya memperhidupkan Kristus.

Ajaran-ajaran yang saya berikan pada tahun-tahun yang lampau tentang diseimbangkan dan ditundukkan tidaklah menyuplaikan Kristus, dan tidak membawa kaum beriman ke dalam kontak yang langsung dan hidup dengan Kristus. Kita tidak perlu perbaikan, melainkan perlu semacam kehidupan yang di dalamnya Kristus diperhidupkan secara langsung. Allah tidak pernah memberi kita kesucian, kerohanian, dan kemenangan; Dia memberi kita Kristus sebagai persona yang almuhit dan hidup. Yang Allah inginkan ialah persona ini, bukan kebajikan-kebajikan atau atribut-atribut apa pun. Karena itu, keperluan kita ialah berkontak dengan persona hidup ini dalam doa. Jika kita berbuat demikian, kita akan memperhidupkan Kristus dengan spontan. Lagi pula, kita akan bebas dari kebudayaan kita tanpa mencoba mengatur atau mengoreksi diri kita. Segala hal yang bukan Kristus akan lenyap. Kristus akan menjadi apa saja yang kita perlukan: hayat, terang, anugerah, penghiburan, kesehatan, kekuatan, kerendahan hati, kesabaran, kebaikan, dan kelemahlembutan. Bila kita memiliki Dia, kita memiliki seluruh atribut ilahi dan kebajikan insani. Selain itu, dalam pengalaman kita, Alkitab akan menjadi hidup dan penuh terang.

KRISTUS DIPERHIDUPKAN DARI DALAM KITA

Beban saya dalam berita ini ialah agar mata kita dapat tercelik dan tampak bahwa yang Allah inginkan ialah Kristus diperhidupkan dari dalam kita. Dia tidak memperhatikan apakah kita menjadi orang yang seimbang, melainkan apakah kita bersatu dengan Kristus dan memperhidupkan Kristus. Allah menghendaki kita memperhidupkan Kristus. Anda mungkin seorang pemuda, tetapi Anda harus memperhidupkan Kristus, tidak memperhidupkan kehidupan seorang pemuda yang khas. Menjadi orang yang seimbang, ditundukkan, dan diperbaiki bukanlah cara untuk memperhidupkan Kristus. Cara untuk memperhidupkan Kristus ialah berkontak dengan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat dalam kita di dalam doa. Ketika kita berdoa hingga diri kita masuk ke dalam atmosfer doa yang sejati, kita akan dengan spontan memperhidupkan Kristus. Saya dapat bersaksi bahwa hal ini riil dan dapat dialami oleh kita semua.

Cara untuk mengalami Kristus yang berhuni di batin ialah berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita tidak perlu berdoa untuk pekerjaan atau rumah yang lebih baik. Doa seperti itu akan menghambat kita dalam mengalami Kristus. Kita perlu doa yang membawa kita berkontak dengan Tuhan dan yang menyebabkan bersatunya kita dengan Dia di dalam roh kita. Kalau kita berdoa dengan cara demikian, kita pasti akan menikmati Kristus, mengalami Dia sebagai hayat kita, dan memperhidupkan Dia.

Jangan mencoba menjadi semacam manusia tertentu, dan jangan hidup dengan standar atau peraturan tertentu. Berkontak saja dengan Kristus, menjadi satu dengan-Nya, dan perhidupkan Dia. Sasaran kita seharusnya mengenal Kristus, dan Kristus semata, tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan dan ke mana kita harus pergi. Kalau kita menikmati Tuhan dan mengalami Dia, Dia akan menjadi hayat kita dan kita akan memperhidupkan Dia. Alangkah ajaibnya hal ini! Itulah yang dimaksud Paulus dalam Filipi 1:21: “Karena bagiku hidup adalah Kristus.”

Untuk memperhidupkan Kristus, kita perlu berdoa tanpa henti. Begitu kita berhenti berdoa, kita pun akan berhenti memperhidupkan Kristus. Saya ingin menandaskan berulang-ulang bahwa hanya dalam atmosfer doalah baru kita mungkin memperhidupkan Kristus. Karena itu, setiap aspek dari kehidupan sehari-hari kita harus dibawa ke dalam atmosfer yang demikian, di mana kita benar-benar bersatu dengan Kristus. Dalam atmosfer ini Kristus adalah sejati, kokoh, riil, bahkan dapat dijamah. Dalam atmosfer inilah Kristus baru sebagai hayat kita secara riil. Di sini kita memperhidupkan Dia dan menikmati segala apa adanya Tuhan bagi kita. Kristus ini tidak terduga dan tidak terbatas. Dalam pengalaman kita, kita dengan Dia adalah satu, kita berkontak dengan Dia, dan menikmati segala kekayaan-Nya. Dengan demikian, kita akan memperhidupkan Kristus dengan spontan.