MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Pembacaan Alkitab: Kol. 2:13; 3:4; Yoh. 6:57; 14:19; 15:4-5
Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia tidak hidup berdasarkan hayat insani-Nya. Walaupun Dia adalah seorang manusia yang sempurna dengan hayat-Nya sendiri, tetapi Ia tidak hidup berdasarkan hayat insani-Nya, melainkan berdasarkan hayat Bapa. Karena hayat Bapa itu ilahi dan abadi, maka Tuhan Yesus hidup berdasarkan hayat ilahi ini. Dia dan Bapa memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Putra hidup berdasarkan hayat Bapa, karena kehendak Putra ialah mengekspresikan Bapa. Karena Putra adalah gambar, ekspresi Bapa, dan karena Dia hidup oleh Bapa, maka Putra mengekspresikan Bapa dengan sepenuhnya. Yang hidup Putra, tetapi yang diekspresikan adalah Bapa.
Dalam Yohanes 6:57 Tuhan Yesus mengatakan dengan jelas bahwa Bapa yang hidup mengutus Dia dan Ia hidup karena Bapa. Bapa mengutus Putra, dan Putra hidup di bumi melalui, karena, dan oleh Bapa. Saya lebih suka me-ngatakan bahwa Putra memperhidupkan Bapa, sebab Bapa adalah hayat Putra.
Alkitab mewahyukan bahwa Putra adalah sebutir be-nih yang akan direproduksi di dalam kaum beriman. Menu-rut Yohanes 12:24, biji gandum perlu jatuh ke dalam tanah dan mati supaya dapat menghasilkan banyak biji gandum dalam kebangkitan. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia memperhidupkan hayat Bapa. Kini, setelah kebangkitan-Nya, Dia telah menjadi hayat kita. Dia menghendaki kita mem-perhidupkan hayat-Nya, bukan hayat alamiah kita sendiri. Sebagai manusia individual, kita semua mempunyai hayat kita sendiri. Tetapi dalam ekonomi-Nya, Allah tidak meng-hendaki kita memperhidupkan hayat alamiah kita, melain-kan memperhidupkan Kristus. Sebagaimana Kristus memper-hidupkan Bapa, kita pun harus memperhidupkan Kristus.
KEBUDAYAAN BERLAWANAN DENGAN KRISTUS
Kita telah menunjukkan bahwa Kristus berlawanan de-ngan kebudayaan kita. Kebudayaan buatan kita sendiri, yang kita laksanakan sendiri, juga kebudayaan yang kita warisi, boleh jadi sangat baik, tetapi asalkan itu bukan Kristus, itu merupakan hambatan bagi pengalaman dan ke-nikmatan kita atas Kristus, serta kehidupan kita oleh Kristus. Untuk memahami hal ini dengan jelas, kita perlu memiliki visi surgawi. Jika kita mencoba membuang kebu-dayaan kita tanpa melihat Kristus sebagai hayat dan segala sesuatu kita, maka kita hanya akan menggantikan sejenis kebudayaan dengan kebudayaan lain. Menjadi tidak berke-budayaan juga berarti memiliki satu kebudayaan lain. Orang-orang yang berkebudayaan mempunyai suatu kebudayaan, orang-orang yang tidak berkebudayaan juga mempunyai suatu kebudayaan, walaupun jenisnya sangat berbeda. Ka-lau kita memahami hal ini, kita akan nampak bahwa me-mutuskan untuk membuang kebudayaan kita saja tidak ada gunanya. Terpisah dari Kristus, apa adanya kita dan apa yang kita perbuat bagaimana pun berkaitan dengan kebudayaan. Setiap orang mempunyai kebudayaan. Kebuda-yaan itu boleh jadi berkembang atau tidak berkembang, tinggi atau rendah, namun kebudayaan itu tetap adalah ke-budayaan. Pada waktu Kitab Kolose ditulis, orang-orang Yu-nani memiliki kebudayaan mereka, dan orang-orang Yahudi pun memiliki kebudayaan mereka. Selama ribuan tahun dalam sejarah, setiap suku dan bangsa memiliki jenis kebu-dayaannya yang khas. Titik beratnya di sini adalah setiap jenis kebudayaan berlawanan dengan Kristus dan Kristus berlawanan dengan setiap jenis kebudayaan. Kebudayaan yang mana saja selalu berlawanan dengan Kristus. Di luar Kristus, setiap produk dan pengembangan manusia adalah bagian dari kebudayaan.
TUJUAN EKONOMI ALLAH
Kita tidak boleh mencoba melakukan apa-apa terhadap kebudayaan yang ada di dalam kita. Yang terpenting ialah kita harus nampak visi tentang ekonomi Allah. Ekonomi Allah ialah ingin menggarapkan persona Kristus yang almu-hit dan hidup ke dalam kita. Menurut wahyu dalam Kitab Kolose, Kristus adalah bagian kaum beriman, yang sulung dari segala yang diciptakan, gambar Allah yang tidak keli-hatan, Kepala Tubuh, yang pertama bangkit dari antara orang mati, yang di dalam-Nya seluruh kepenuhan berkenan diam, rahasia ekonomi Allah, rahasia Allah, realitas segala hal yang positif, dan unsur manusia baru. Kristus adalah segala sesuatu: Dialah hayat, terang, kuat, kuasa, tenaga, benar, kudus, bajik, dan setiap atribut ilahi dan kebajikan insani lainnya. Karena Kristus adalah segala sesuatu bagi kita, maka Dia bersifat almuhit. Tujuan ekonomi Allah ialah menggarapkan Sang almuhit ini ke dalam kita. Sebagai Sang almuhit, Kristus mempunyai pencapaian yang tertinggi. Dia telah naik ke atas surga dan telah ditinggikan ke tem-pat tertinggi dalam alam semesta. Kini Dia duduk di sebe-lah kanan Allah. Kristus telah dinobatkan, dan telah men-jadi Tuhan dan Kepala atas segala sesuatu. Lagi pula, Dia telah memperoleh segala sesuatu, sebab segala sesuatu telah menjadi kepunyaan-Nya. Persona ini dengan segala yang telah dicapai dan diperoleh-Nya ini adalah persona yang hen-dak digarapkan Allah ke dalam diri kita. Apakah Anda be-nar-benar percaya bahwa persona almuhit yang hidup ini telah tergarap ke dalam Anda? Saya sangsi, banyak orang Kristen, termasuk kaum beriman dalam pemulihan Tuhan, benar-benar percaya hal ini.
KRISTUS HARUS MENJADI HAYAT KITA
Kristus yang almuhit adalah hayat kita (3:4). Jika Kristus tidak menjadi hayat kita, maka segala apa adanya Dia dan semua yang dicapai dan diperoleh-Nya akan tetap bersifat obyektif. Dia tetap Dia, kita tetap kita. Kalau be-gitu Dia tidak ada sangkut-pautnya dengan kita secara riil, demikian pula kita dengan Dia. Karena itu, dalam peng-alaman riil sehari-hari kita, Kristus harus menjadi hayat kita. Namun kita mungkin memiliki pengetahuan Alkitab secara doktrinal bahwa Kristus adalah hayat kita tanpa hidup oleh Kristus secara riil dari hari ke hari. Bukannya hidup oleh Kristus, kita malahan terlalu sering hidup oleh hayat alamiah kita.
Kita semua harus mengakui bahwa kita mengasihi ha-yat kita sendiri, mengasihi hayat alamiah insani kita. Mungkin kita menyatakan kita membenci hayat kita, te-tapi sebenarnya kita sangat mengasihinya. Bahkan ketika Anda bersaksi tentang kebencian Anda terhadap hayat ala-miah Anda, dalam lubuk batin, Anda tetap mengindahkan hayat Anda dan menganggapnya lebih baik daripada hayat orang lain. Sebagai contoh, dalam lubuk batinnya, seorang saudari mungkin merasa hayatnya lebih baik daripada ha-yat suaminya. Sudah tentu, saudara pun mempunyai pera-saan yang serupa terhadap istrinya. Kita semua sama da-lam hal menganggap tinggi hayat alamiah kita sendiri.
MEMPERBAIKI HAYAT ALAMIAH
Di samping mengapresiasi hayat alamiah, kita pun te-lah terbiasa menggunakannya, yaitu terbiasa hidup menu-rut hayat alamiah. Kita telah bertahun-tahun terbiasa hi-dup oleh hayat pribadi kita. Lagi pula, kita bahkan telah berusaha untuk “memperbaiki” hayat alamiah. Melalui la-tihan-latihan yang kita terima di rumah, hayat alamiah kita telah sedikit banyak diperbaiki. Kemudian, diperbaiki lebih lanjut melalui pendidikan dan agama. Kita harus meng-akui bahwa hayat alamiah kita bahkan telah diperbaiki melalui partisipasi kita di dalam gereja lokal. Seorang saudara yang telah berada dalam gereja beberapa tahun memang jauh lebih “baik” daripada sebelum ia memasuki hidup gereja. Dalam hidup gereja dapat kita jumpai bebe-rapa orang yang paling “baik” di seluruh negeri ini. Akan tetapi, gereja tidak melaksanakan usaha perbaikan yang demikian, melainkan harus mengakhiri dan mengubur ha-yat alamiah. Namun kebanyakan dari kita belum dikubur oleh gereja, sebaliknya, kita malah diperbaiki. Sebelum An-da memasuki hidup gereja, mungkin Anda seperti kuningan yang belum digosok. Tetapi sekarang, karena Anda telah diperbaiki oleh hidup gereja, Anda kelihatan seperti kuning-an yang telah digosok hingga berkilauan. Walau kuningan yang telah digosok itu nampaknya seperti emas, tetapi itu bukanlah emas. Demikian pula, walau hayat alamiah kita boleh diperbaiki dan digosok, ia tetap bukan Kristus. Dalam gereja-gereja lokal banyak sekali kuningan yang diperbaiki, dan terlalu sedikit emas. Terlalu banyak hayat alamiah dan tidak banyak Kristus.
Pengajar-pengajar Kristen sering memberikan nasihat yang keliru kepada orang. Mereka seolah dokter yang mem-beri orang resep obat yang keliru. Dalam tahun-tahun per-tama dari pelajaran saya, saya mengatakan kepada orang-orang yang akan menikah bahwa mereka perlu diseimbang-kan dan ditundukkan. Saya mengatakan kepada mereka bahwa Tuhan bisa memakai suami atau istri, dan anak-anak mereka untuk menundukkan mereka. Saya menyesal telah memberikan ajaran semacam itu, sebab itu dapat mem-bawa mereka kepada usaha memperbaiki hayat alamiah, bukan hidup oleh Kristus. Pada waktu itu saya belum dapat membedakan dengan jelas mana emas dan mana kuningan yang telah diperbaiki dan digosok. Sekarang saya tahu, tidak peduli kuningan itu diperbaiki dan digosok, tidak mung-kin menjadi emas. Seasas dengan itu, memperbaiki hayat alamiah kita tidak mungkin mengubahnya menjadi Kristus. Yang Allah inginkan ialah kita memperhidupkan Kristus, Dia tidak menghendaki kita hanya memperbaiki hayat insani kita saja.
Bila kita tidak memperhidupkan Kristus, kita akan hi-dup menurut filsafat pribadi kita. Ketika saya mengatakan kepada kaum beriman bahwa mereka perlu diseimbangkan dan ditundukkan dalam kehidupan pernikahan mereka, saya memberi mereka filsafat, bukan kekayaan Kristus. Pada waktu itu filsafat saya adalah suatu campuran antara Alki-tab dengan ajaran etis tertentu yang saya terima sejak ke-cil. Karena itu, yang saya persekutukan kepada kaum ber-iman mengenai masalah pernikahan itu adalah kebudayaan, bukan Kristus. Pada aspek-aspek tertentu memang filsafat saya baik sekali. Saya dapat membelanya dengan menam-pilkan ayat-ayat Perjanjian Baru yang menyatakan istri harus patuh kepada suami, dan suami harus mengasihi istri. Bagi saya seolah-olah filsafat saya pada segi-segi tertentu lebih baik daripada filsafat Konghucu. Konghucu tidak per-nah mengajarkan seorang istri perlu diseimbangkan oleh suaminya, dan seorang suami perlu ditundukkan melalui menanggung beban dari istri dan anak-anaknya. Kalau kita membahas masalah kehidupan pernikahan terpisah dari Kristus, kita mungkin akan menyetujui filsafat ini. Namun, sekalipun filsafat ini benar, filsafat ini bukan Kristus dan hanya memperbaiki hayat alamiah kita belaka.
MENYUPLAIKAN KRISTUS
Bahkan kita yang berada dalam hidup gereja pun ke-kurangan visi surgawi tentang keinginan Allah yang meng-hendaki kita memperhidupkan Kristus. Karena tidak jelas akan visi ini, maka kita telah menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki hayat insani kita, tetapi tidak memper-hidupkan Kristus. Sebab itu, saya berbeban menunjukkan bahwa gereja lokal tidak boleh menjadi suatu tempat usaha perbaikan; sebaliknya, gereja haruslah menjadi satu tempat di mana Kristus disuplaikan. Sekarang, ketika kaum muda mempersekutukan masalah pernikahan kepada saya, saya mengatakan kepada mereka bahwa mereka perlu meng-alami Kristus sebagai anugerah mereka. Saya tidak lagi mengatakan bahwa mereka perlu diseimbangkan dan ditun-dukkan menurut pengaturan kedaulatan Allah dalam kehi-dupan pernikahan mereka. Saya ingin berkata kepada semua orang beriman bahwa satu-satunya keperluan kita ialah Kristus. Kristus hidup di dalam kita, dan kita menjadi satu roh dengan Dia. Oh, keperluan kita hari ini adalah Kristus yang berhuni di batin kita.
Jika kita ingin menikmati Kristus dan mengalami Dia melalui menjadi satu roh dengan-Nya, kita harus beralih dari semua standar, peraturan, ketetapan, dan prinsip yang telah kita buat bagi diri kita sendiri. Memberi tahu orang lain bahwa mereka perlu diseimbangkan dan ditundukkan berarti mempersekutukan suatu standar kepada mereka. Hari ini saya tidak menyuplaikan standar, saya hanya me-nyuplaikan Kristus. Saya akan menganjuri semua orang beriman untuk tidak lagi menetapkan standar dan peratur-an, tetapi berkontak terus dengan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Jika Anda berwatak lamban, janganlah men-coba menjadi orang yang cepat; jika Anda cepat, jangan pula mencoba menjadi lambat. Jangan mencoba menyeim-bangkan diri sendiri, perhidupkan saja Kristus. Biar Kristus yang menjadi standar, peraturan, prinsip, dan sasaran Anda.
TINGGAL DALAM ATMOSFER DOA
Jika kita ingin mengalami Kristus dan memperhidup-kan Dia, kita perlu tinggal dalam atmosfer doa. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa melalui doalah kita dibawa masuk ke dalam roh, di mana kita menjadi satu de-ngan Tuhan dan menerima Dia sebagai hayat kita. Peng-alaman ini demikian mustikanya, sehingga ketika menik-matinya kita tidak ingin berhenti. Kita senang tinggal di dalam roh dan bersatu dengan Tuhan. Tetapi, begitu waktu doa kita itu berlalu, kebanyakan kita kembali lagi kepada cara hidup kita yang alamiah. Kita tidak lagi berada da-lam atmosfer doa. Dengan sendirinya kita mulai lagi men-coba menjadi orang yang suci, rohani, dan menang. Bila kita gagal, kita bertobat, mengaku dosa kepada Tuhan, dan memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Cara menempuh kehidupan orang Kristen bukan demikian. Sebaliknya, ke-hidupan sehari-hari kita harus sama seperti pengalaman kita dalam doa yang sebenarnya. Ketika kita berdoa hingga diri kita masuk ke dalam roh, kita bersatu dengan Tuhan, kita menikmati kehadiran-Nya, dan kita dengan spontan memperhidupkan Dia. Tanpa mengerahkan upaya apa pun kita sudah suci, rohani, dan menang. Kita tidak mempu-nyai masalah dan kekhawatiran. Saya percaya kita semua telah memiliki pengalaman seperti ini dalam doa.
Pengalaman-pengalaman doa yang sejati ini harus men-jadi model bagi pengalaman sehari-hari kita bersama Tuhan. Ini berarti pengalaman kita dalam kehidupan sehari-hari harus serupa dengan ketika kita berdoa. Tetapi, sebagian besar dari waktu kita, kita pakai untuk hidup menurut ha-yat alamiah, tidak menurut Kristus. Untuk memperhidup-kan Kristus, kita perlu bertekun dalam doa, yaitu berdoa tanpa henti. Kita perlu tinggal dalam atmosfer doa. Di sini-lah kita akan menjadi satu roh dengan Tuhan. Dialah ha-yat kita, kita memperhidupkan Dia, dan kita akan dengan spontan menjadi suci, rohani, dan menang. Kita tidak berpi-kiran untuk menyeimbangkan diri sendiri. Kita tidak me-miliki standar, prinsip, dan peraturan, melainkan memiliki Kristus yang kita alami secara riil. Bila kita berada dalam atmosfer doa yang demikian, kita akan bersatu dengan Kristus, dan Dia adalah hayat kita. Inilah artinya memper-hidupkan Kristus.
Ajaran-ajaran yang saya berikan pada tahun-tahun yang lampau tentang diseimbangkan dan ditundukkan tidaklah menyuplaikan Kristus, dan tidak membawa kaum beriman ke dalam kontak yang langsung dan hidup dengan Kristus. Kita tidak perlu perbaikan, melainkan perlu semacam ke-hidupan yang di dalamnya Kristus diperhidupkan secara langsung. Allah tidak pernah memberi kita kesucian, kero-hanian, dan kemenangan; Dia memberi kita Kristus sebagai persona yang almuhit dan hidup. Yang Allah inginkan ialah persona ini, bukan kebajikan-kebajikan atau atribut-atribut apa pun. Karena itu, keperluan kita ialah berkontak dengan persona hidup ini dalam doa. Jika kita berbuat demikian, kita akan memperhidupkan Kristus dengan spontan. Lagi pula, kita akan bebas dari kebudayaan kita tanpa mencoba mengatur atau mengoreksi diri kita. Segala hal yang bukan Kristus akan lenyap. Kristus akan menjadi apa saja yang kita perlukan: hayat, terang, anugerah, penghiburan, kese-hatan, kekuatan, kerendahan hati, kesabaran, kebaikan, dan kelemahlembutan. Bila kita memiliki Dia, kita memi-liki seluruh atribut ilahi dan kebajikan insani. Selain itu, dalam pengalaman kita, Alkitab akan menjadi hidup dan penuh terang.
KRISTUS DIPERHIDUPKAN DARI DALAM KITA
Beban saya dalam berita ini ialah agar mata kita dapat tercelik dan nampak bahwa yang Allah inginkan ialah Kristus diperhidupkan dari dalam kita. Dia tidak memper-hatikan apakah kita menjadi orang yang seimbang, melain-kan apakah kita bersatu dengan Kristus dan memperhidup-kan Kristus. Allah menghendaki kita memperhidupkan Kristus. Anda mungkin seorang pemuda, tetapi Anda harus memperhidupkan Kristus, tidak memperhidupkan kehidup-an seorang pemuda yang khas. Menjadi orang yang se-imbang, ditundukkan, dan diperbaiki bukanlah cara untuk memperhidupkan Kristus. Cara untuk memperhidupkan Kristus ialah berkontak dengan Kristus sebagai Roh pem-beri-hayat dalam kita di dalam doa. Ketika kita berdoa hingga diri kita masuk ke dalam atmosfer doa yang sejati, kita akan dengan spontan memperhidupkan Kristus. Saya dapat bersaksi bahwa hal ini riil dan dapat dialami oleh kita semua.
Cara untuk mengalami Kristus yang berhuni di batin ialah berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita tidak perlu ber-doa untuk pekerjaan atau rumah yang lebih baik. Doa se-perti itu akan menghambat kita dalam mengalami Kristus. Kita perlu doa yang membawa kita berkontak dengan Tuhan dan yang menyebabkan bersatunya kita dengan Dia di da-lam roh kita. Kalau kita berdoa dengan cara demikian, kita pasti akan menikmati Kristus, mengalami Dia sebagai ha-yat kita, dan memperhidupkan Dia.
Jangan mencoba menjadi semacam manusia tertentu, dan jangan hidup dengan standar atau peraturan tertentu. Berkontak saja dengan Kristus, menjadi satu dengan-Nya, dan perhidupkan Dia. Sasaran kita seharusnya mengenal Kristus, dan Kristus semata, tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan dan ke mana kita harus pergi. Kalau kita menikmati Tuhan dan mengalami Dia, Dia akan menjadi hayat kita dan kita akan memperhidupkan Dia. Alangkah ajaibnya hal ini! Itulah yang dimaksud Paulus dalam Filipi 1:21: “Karena bagiku hidup adalah Kristus.”
Untuk memperhidupkan Kristus, kita perlu berdoa tanpa henti. Begitu kita berhenti berdoa, kita pun akan berhenti memperhidupkan Kristus. Saya ingin menandaskan ber-ulang-ulang bahwa hanya dalam atmosfer doalah baru kita mungkin memperhidupkan Kristus. Karena itu, setiap as-pek dari kehidupan sehari-hari kita harus dibawa ke dalam atmosfer yang demikian, di mana kita benar-benar bersatu dengan Kristus. Dalam atmosfer ini Kristus adalah sejati, kokoh, riil, bahkan dapat dijamah. Dalam atmosfer inilah Kristus baru sebagai hayat kita secara riil. Di sini kita mem-perhidupkan Dia dan menikmati segala apa adanya Tuhan bagi kita. Kristus ini tidak terduga dan tidak terbatas. Dalam pengalaman kita, kita dengan Dia adalah satu, kita berkontak dengan Dia, dan menikmati segala kekayaan-Nya. Dengan demikian, kita akan memperhidupkan Kristus dengan spontan.