← Daftar isi Kolose (1) · bab 19/21

MENGALAMI KRISTUS

Pembacaan Alkitab:

Kol. 1:27-28; 2:6-8, 13, 20, 19; 2:4, 8, 16, 18

Dalam Kitab Kolose terdapat sejumlah frase atau ung-kapan yang menunjukkan pengalaman kita atas Kristus. Beberapa dari frase itu antara lain “Kristus di dalam kamu” (1:27 Tl.), “dewasa penuh dalam Kristus” (1:28 Tl.), “hidup-mu tetap di dalam Dia” (2:6), “menurut Kristus” (2:8), “dihi-dupkan Allah bersama-sama dengan Dia” (2:13), “mati ber-sama-sama dengan Kristus” (2:20), “berpegang teguh kepada Kepala” (2:19), “dari mana” (2:19), “bertumbuh dengan per-tumbuhan Allah” (2:19 Tl.). Sembilan ungkapan di atas mem-beri kita suatu lukisan lengkap dari pengalaman yang tepat atas Kristus. Dalam aspek ini kita perlu menaruh perhati-an istimewa pada kata-kata penghubung “di dalam”, “menu-rut”, “bersama”, dan “dari mana”. Lagi pula, sangat mem-bantu bila kita mendoabacakan semua ayat yang berkaitan dengan butir-butir tersebut.

Selain semua butir yang positif tadi, Paulus juga memberi orang-orang Kolose beberapa butir negatif, khususnya empat peringatan. Dalam Kolose 2:4 dia berkata, “Hal ini kukatakan, supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah.” Dalam Kolose 2:8 Paulus mengeluarkan peringatan demikian: “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafat dan tipuan yang kosong menurut ajaran turun-temurun dan unsur-unsur dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Tl.). Peringat-an ketiga tercantum dalam Kolose 2:16, di mana Paulus ber-kata, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.” Terakhir dalam Kolose 2:18, Paulus berkata, “Janganlah kamu biarkan pahalamu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta mengagung-agungkan penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besar-kan diri oleh pikiran dagingnya” (Tl.). Perhatikan, pada tiap-tiap ayat itu Paulus menggunakan kata-kata “jangan ada”, “jangan biarkan”. Kalau kita ingin memiliki penga-laman yang riil atas Kristus, kita harus memperhatikan semua peringatan ini, dan berhati-hati agar tidak ada se-orang pun yang memperdaya kita, menawan kita, meng-hakimi kita, atau merebut pahala kita.

KRISTUS DAPAT DITERAPKAN

DALAM PENGALAMAN KITA

Dalam Kolose 1:27 Paulus membicarakan “Kristus di dalam kamu, . . . pengharapan akan kemuliaan” (Tl.). Tahu-kah Anda bahwa Kristus ada di dalam Anda? Kristus yang ada di dalam kita itu alwasi, tidak terukur, dan tidak terduga. Alangkah ajaibnya Kristus yang sedemikian ini berhuni di dalam kita! Kita perlu menjadi dewasa penuh di dalam Kristus yang demikian, hidup di dalam Dia, dan me-nurut Dia. Setelah mati bersama dengan Kristus dan dihi-dupkan bersama dengan Dia, kita harus berpegang teguh pada-Nya selaku Kepala, yang dari-Nya seluruh Tubuh me-nerima pertumbuhan dengan pertumbuhan Allah. Semua ini tersebut menunjukkan bahwa Kristus itu dekat, terse-dia, dan dapat diterapkan. Jika tidak, mana mungkin Kristus ada di dalam kita, dan mana mungkin kita menjadi dewasa penuh di dalam Dia? Jika Kristus tidak dapat diterapkan, tidak mungkin kita hidup di dalam Dia, menurut Dia, mati atau hidup bersama Dia. Kita pun tidak mungkin berpe-gang teguh pada-Nya sebagai Kepala yang dari-Nya seluruh Tubuh menerima pertumbuhannya dengan pertumbuhan Allah. Semua butir ini berkaitan dengan pengalaman yang subyektif atas Kristus. Lagi pula, butir-butir ini telah di-abaikan atau sama sekali tidak ada di antara orang Kristen dewasa ini. Jarang sekali yang menekankan hidup di dalam Kristus, menurut Kristus, atau berpegang teguh pada Kristus sebagai Kepala.

ROH PEMBERI-HAYAT YANG ALMUHIT

Jika Kristus bagi kita hanya bersifat obyektif, Ia tidak mungkin berada di dalam kita, dan kita tidak mungkin menjadi dewasa penuh di dalam Dia, dan tidak satu pun butir-butir positif lainnya dari pengalaman atas Kristus yang dibahas dalam Kitab Kolose dapat menjadi pengalaman kita. Siapa lagi orangnya yang dapat berada di dalam kita dan memungkinkan kita mati bersama dengan-Nya, hidup di dalam-Nya, dan hidup menurut Dia? Persona yang unik yang memenuhi syarat bagi sembilan butir di atas ialah Roh itu. Istilah Roh itu, sangat berarti. Yohanes 7:39 mengatakan, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan”(Tl.). Wa-laupun Roh Allah telah ada, Roh itu belum ada, sebab Yesus belum dimuliakan. Dalam Surat-surat Kiriman istilah Roh itu sering dipakai, ini menunjukkan Allah Tritunggal almu-hit yang telah melalui proses. Pada akhirnya, Allah Tri-tunggal itu mencapai kita sebagai Roh itu.

Untuk mencapai kita, Allah Tritunggal harus melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkit-an, dan kenaikan. Melalui inkarnasi Allah masuk ke dalam manusia. Kemudian, Tuhan hidup di bumi sebagai manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun. Yesus, perwujudan Allah Tritunggal, bertahun-tahun hidup dalam keluarga se-orang tukang kayu miskin. Bayangkanlah, Allah yang Ma-hakuasa dan tidak terbatas dari hari ke hari hidup dalam rumah seorang tukang kayu! Akhirnya, Tuhan Yesus dile-takkan ke dalam maut. Tetapi pada hari ketiga, setelah me-lalui maut, mengalahkan dan menaklukkannya, Ia keluar dari maut dan masuk ke dalam kebangkitan. Melalui inkar-nasi, sifat ilahi dibawa masuk ke dalam sifat insani. Tetapi melalui kebangkitan sifat insani dibawa masuk ke dalam sifat ilahi. Melalui inkarnasi, Allah dibawa masuk ke da-lam manusia, dan melalui kebangkitan Kristus, manusia dibawa masuk ke dalam Allah. Melalui kebangkitan Kristus, Allah Tritunggal, berbaur dengan manusia, menjadi Roh itu. Roh ini mencakup Allah, inkarnasi, sifat insani, kehi-dupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Sifat insani yang telah tertebus dan ditinggikan ada dalam Roh ini. Roh pem-beri-hayat yang almuhit adalah Allah Tritunggal yang men-capai kita dalam tahap yang terakhir. Inilah Roh itu. Selain itu, Kristus sendiri hari ini adalah Roh itu. Karena itu, mudahlah bagi Kristus untuk berada di dalam kita dan kita di dalam Dia. Ini pun memungkinkan kita untuk menjadi dewasa penuh di dalam Dia, hidup di dalam Dia, dan menu-rut Dia.

KRISTUS YANG DAPAT DIALAMI

Di satu pihak, Kristus ada di dalam kita; di pihak lain, kita ada di dalam Kristus. Coba bayangkan udara dalam atmosfir sebagai gambarannya. Kita ada di dalam udara, dan udara pun ada di dalam kita. Jika kita ingin tetap hidup, keduanya kita perlukan. Hari ini Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai Roh pemberi-hayat almuhit adalah udara kita. Udara ini ada di dalam kita, dan kita ada bah-kan hidup di dalam udara ini. Selain itu, kita dapat men-jadi orang menurut udara ini yang bertumbuh dalam udara ini dengan pertumbuhan dari Allah. Karenanya, Kristus yang almuhit adalah Kristus yang dapat dialami. Dia adalah Kristus yang ada di dalam kita, dan yang di dalam-Nya ki-ta dapat hidup. Kita dapat hidup, bertindak, bergerak, dan berperilaku di dalam Dia.

MENURUT KRISTUS

Dalam segala sesuatu yang kita perbuat, kita wajib menurut Kristus, jangan menurut filsafat, etika, kebudaya-an, atau agama. Kita tidak boleh menurut manusia lama dengan cara apa pun. Sebaliknya, kita di sini menurut Allah Tritunggal pemberi-hayat almuhit yang telah melalui proses. Tetapi, hal ini tidak boleh menjadi satu doktrin belaka. Se-bagai contoh, seorang saudara tidak boleh memperlakukan istrinya menurut kebudayaan, melainkan harus menurut Kristus, menurut Allah Tritunggal yang telah melalui proses.

Jika kita ingin hidup, bertindak, dan membawa diri menurut Allah Tritunggal pemberi-hayat yang almuhit dan yang telah melalui proses, kita semua harus seperti Rasul Paulus. Paulus menjadi seorang yang tidak menurut nenek moyangnya, hukum Taurat, tradisi, agama Yahudi, atau ajaran Gamaliel. Ia menjadi seorang yang mutlak menurut Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Surat-surat Ki-rimannya ditulis tidak menurut apa pun selain Allah Tri-tunggal pemberi-hayat yang almuhit dan yang telah melalui proses. Tulisan-tulisan Paulus berbeda sekali dengan tulis-an-tulisan kekristenan dewasa ini!

Perilaku kita sehari-hari harus menurut Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Sebagai contoh, ketika seorang saudara pergi mencukur rambut, ia harus melakukan hal itu tidak menurut standar tertentu, melainkan menurut Allah Tritunggal yang telah melalui proses.

Tahukah Anda hari ini di manakah Allah Tritunggal pemberi-hayat almuhit yang telah melalui proses itu? Ia berada di dalam roh kita. Dalam roh kita Dia adalah Sang almuhit, Sang pemberi-hayat, dan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Jika kita hidup menurut Allah Tritunggal yang telah melalui proses dalam roh kita, setiap macam kebudayaan yang mana pun akan lenyap, yang ting-gal hanyalah Allah Tritunggal pemberi-hayat yang almuhit. Kehidupan orang Kristen dan hidup gereja adalah di luar kebudayaan, melainkan menurut Allah Tritunggal yang te-lah melalui proses. Jika kita hidup menurut Allah Tritung-gal yang telah melalui proses, kita tidak perlu lagi mencoba membuang kebudayaan kita. Kebudayaan akan lenyap seca-ra otomatis.

Bersama Allah Tritunggal pemberi-hayat yang almuhit ini kita memiliki pengalaman mati bersama dengan Kristus dan dihidupkan bersama dengan Dia. Di sini kita meng-alami menjadi anggota Tubuh, hidup dalam kesatuan dengan Dia dan berpegang kepada-Nya sebagai Dia yang dari-Nya kita menerima suplai untuk bertumbuh dengan pertum-buhan Allah. Inilah kehidupan orang Kristen dan hidup ge-reja. Inilah kehidupan yang mengalahkan dosa dan memba-wakan kepada kita realitas kekudusan, kerohanian, dan kemenangan. Di sini kita memiliki segala yang kita perlu-kan: kesabaran, kerendahan hati, kebenaran, kasih, kebaikan hati, kekudusan, hayat, terang, kekuatan, tenaga, kuasa, dan setiap hal positif lainnya. Seluruh atribut ilahi dan ke-bajikan insani berada dalam hayat ini. Kristus sebagai Allah Tritunggal pemberi-hayat yang almuhit yang telah melalui proses ini adalah segala sesuatu bagi kita. Ketika kita me-miliki Dia dan hidup menurut Dia, kita tidak perlu per-aturan-peraturan atau ketetapan-ketetapan. Kita memiliki Kristus yang alwasi yang dalam pengalaman kita menjadi segala sesuatu kita.

KATA-KATA PERINGATAN

Jangan Diperdaya dengan

Perkataan-perkataan yang Indah

Sekarang kita beralih kepada peringatan-peringatan Paulus. Kita lihat dalam Kolose 2:4 dia memperingatkan kita untuk berhati-hati agar tidak ada orang yang memper-dayakan kita dengan kata-kata yang indah. Betapa menye-dihkan dan kasihan bahwa begitu banyak orang Kristen pa-da hari ini yang gatal telinganya! Mereka begitu berselera mendengarkan kata-kata atau pembicaraan-pembicaraan yang fasih dan indah. Tetapi, jika kita benar-benar meng-alami Kristus, kita tidak akan mempunyai selera lagi ter-hadap kata-kata yang demikian. Sebaliknya, kita akan mera-sa sangat tidak senang terhadap berita-berita atau khotbah-khotbah yang berlapiskan gula. Dalam hidup gereja kita hanya memperhatikan Kristus, tidak memperhatikan kata-kata yang indah.

Jangan Tertawan

Dalam Kolose 2:8 Paulus berkata, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafat dan tipuan yang kosong” (Tl.). Kita tidak boleh membiarkan siapa pun menawan kita melalui filsafat. Jangan memperhatikan teori atau pikiran filosofis, tetapi perhatikan saja Kristus yang almuhit.

Jangan Biarkan Orang Menghakimi Kita

Dalam Kolose 2:16 Paulus memperingatkan kepada kita agar “jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.” Jika kita adalah orang-orang yang dipenuhi oleh Kristus yang almuhit, kita tidak akan membiarkan orang lain menghakimi kita. Tetapi, jika kita mempertahankan praktek-praktek tertentu atau yang aneh, kita akan dikritik. Jika kita diduduki oleh Kristus, tidak bersikap khusus dalam hal-hal lainnya, orang lain tidak ada alasan untuk menghakimi kita. Dalam gereja kita semua harus bersikap umum, tidak seorang pun boleh bersikap khusus. Ini berarti kita tidak boleh memperhatikan apa pun yang menggantikan Kristus.

Seorang saudara tertentu dalam gereja boleh jadi baik sekali; tetapi karena pengaruh kebudayaan buatannya sen-diri, ia mungkin juga sangat aneh. Jika saudara ini ingin benar-benar hidup di dalam Kristus dan bertindak menurut Kristus, ia tidak akan menjadi orang yang aneh, melainkan ia akan menjadi umum, atau biasa. Semua orang kudus da-lam gereja harus disusun dengan Kristus. Kalau situasinya demikian, kita akan berjumpa dengan Kristus ketika kita berkontak dengan mereka. Dalam setiap orang akan ada ekspresi Kristus. Ini hanya mungkin bila kita sama-sama memperhatikan Kristus, dan tidak lagi khusus atau aneh dalam hal-hal lainnya.

Banyak orang kudus mengasihi Tuhan Yesus dan ge-reja, tetapi karena mereka begitu aneh dalam hidup mere-ka, orang lain sulit menerima mereka. Hidup gereja akan terganggu bahkan rusak oleh mereka yang mempertahan-kan opini-opini aneh mereka, yaitu opini-opini yang menu-rut kebudayaan mereka. Ini menyatakan fakta betapa me-reka kekurangan Kristus.

Namun, saya yakin bahwa apa yang telah Tuhan ka-takan kepada kita mengenai kebudayaan tidak sia-sia. Saya percaya apa yang dibicarakan-Nya akan membawa kita ke dalam pengalaman atas Kristus. Pada akhirnya, semua ke-anehan akan lenyap, hanya Kristuslah yang tertinggal. Oh, marilah kita bertumbuh di dalam Kristus hingga kita men-capai kedewasaan penuh di dalam-Nya! Marilah kita hidup di dalam-Nya, bertindak di dalam-Nya, dan menyadari kita telah mati bersama dengan Dia, dan sekarang hidup bersa-ma dengan Dia. Marilah kita bersatu pula dengan Kepala kita, yang dari-Nya kita menerima suplai untuk diikat ber-sama dan bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Sasaran Allah ialah agar kita memiliki kehidupan kristiani dan hidup gereja yang sedemikian. Saya percaya tidak lama lagi situasi yang seindah ini akan terekspresi di bumi.

Jangan Membiarkan Orang

Menggagalkan Pahala Kita

Peringatan Paulus terakhir ialah jangan biarkan orang lain menggagalkan pahala kita. Pahala ini adalah peng-alaman dan kenikmatan penuh atas Kristus. Kebudayaan, agama, opini, atau ajaran khas macam apa pun dapat meng-gagalkan pahala kita. Kita harus terus bertahan dengan pengalaman atas Kristus agar kita dapat memiliki kenik-matan penuh atas Dia, tidak menghiraukan praktek-prak-tek agamis dan etis yang mana pun.