KRISTUS YANG ALMUHIT BERLAWANAN DENGAN KEBUDAYAAN
Pembacaan Alkitab:
Kol. 1:27-28; 2:2b-4, 6, 8-9, 16-19; 3:3-4, 9b-11
Berbicara mengenai Kristus berlawanan dengan kebu-dayaan tidaklah mudah, karena ada kemungkinan untuk memahami perkataan ini dengan konsepsi alamiah. Dalam mengatakan Kristus berlawanan dengan kebudayaan, mak-sud kita bukanlah berarti kita harus membuang kebuda-yaan, dan kemudian hidup tanpa kebudayaan apa pun. Jika kita mencoba membuang kebudayaan kita dengan cara de-mikian, kita hanya akan mengembangkan kebudayaan ben-tuk lain, yaitu kebudayaan yang membuang kebudayaan kita. Tanpa kebudayaan, manusia akan menjadi binatang. Orang-orang yang tidak memiliki Kristus tentu perlu hidup menurut kebudayaan.
TUJUAN ALLAH
Mengenai perihal Kristus yang almuhit berlawanan dengan kebudayaan, kita perlu nampak bahwa menurut wahyu lengkap dalam Alkitab, tujuan Allah ialah menggarap-kan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya. Tujuan ini merupakan titik fokus dari wahyu ilahi dalam Alkitab. Untuk dapat menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, Allah harus tritunggal. Ketritunggalan Allah — Bapa, Putra, dan Roh — benar-benar merupakan fakta yang ajaib dan menga-gumkan. Bapa sebagai sumber telah terwujud di dalam Put-ra, yang adalah ekspresi Bapa. Ketika Putra datang, Ia se-lalu datang bersama Bapa. Ini menunjukkan bahwa Bapa tidak dapat dipisahkan dari Putra, Putra juga tidak dapat dipisahkan dari Bapa. Putra adalah perwujudan, realitas, dan ekspresi Bapa. Melalui proses kematian dan kebangkitan, Putra telah menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45), Roh Kudus yang memberikan hayat. Jadi, Roh Kudus adalah rea-lisasi Putra, seperti halnya Putra adalah perwujudan Bapa.
Bapa, Putra, dan Roh bukanlah tiga Allah, melainkan satu Allah dalam ketritunggalan-Nya. Karena Allah itu tri-tunggal, Ia dapat menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Allah mendatangi kita dalam Putra melalui inkarnasi Kristus. Kristus mati di atas salib untuk menebus kita dan meng-akhiri ciptaan lama. Kemudian dalam kebangkitan, Ia men-jadi Roh pemberi-hayat. Di satu pihak, Kristus bertakhta di surga sebagai Kepala dan Tuhan segala sesuatu, dan di pi-hak lain, Ia sebagai Roh itu berhuni di dalam kita sebagai hayat kita. Sebagai Roh pemberi-hayat, Kristus adalah sup-lai hayat kita, dan Dia adalah realitas setiap hal positif bagi kita.
Sebagai Roh almuhit, Allah Tritunggal sedang menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita. Bagian yang terdalam dari diri kita ialah roh, yang dikelilingi oleh jiwa dan tu-buh. Tubuh jasmani manusia menampung jiwa, dan jiwa menampung roh, yaitu wadah untuk menerima dan me-nampung Allah. Sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit yang telah melalui proses, Kristus berada di dalam roh kita, ingin menyebarkan diri-Nya ke seluruh bagian jiwa kita, dan terakhir menjenuhi tubuh kita, untuk membuat kita menjadi serupa mutlak dengan Dia. Bila hal tersebut ter-jadi, seluruh diri kita akan dijenuhi oleh diri-Nya sendiri. Inilah penyelamatan Allah yang sesuai dengan ekonomi-Nya.
KEBUDAYAAN MENGHAMBAT PENGALAMAN KITA ATAS KRISTUS
Banyak hal yang menghambat terlaksananya penyela-matan Allah yang sempurna. Dua hambatan yang lebih nyata ialah dosa dan dunia. Tetapi hambatan yang paling licik ialah kebudayaan. Kebudayaan mengganggu umat pi-lihan Allah dalam mengalami dan menikmati Kristus. Kristus yang almuhit berlawanan dengan kebudayaan. Namun, kita tidak mengatakan bahwa kita harus membuang kebudaya-an kita, dan berperilaku seperti orang Barbar. Kita sekali-kali tidak menganjuri siapa pun untuk hidup seperti orang tanpa kebudayaan. Orang-orang yang tidak memiliki Kristus benar-benar perlu kebudayaan. Ketika anak-anak bertum-buh dewasa, mereka tidak saja membutuhkan kebudayaan, tetapi juga hukum Taurat. Tetapi setelah kita menerima Kristus, kita tidak boleh membiarkan kebudayaan kita mem-batasi Kristus atau mengganggu kita dalam mengalami Kristus. Sebelum menerima Kristus, semua orang perlu kebudayaan. Tetapi setelah menerima Kristus, orang harus hidup menurut Kristus, bukan menurut kebudayaan. Jangan mengira kebudayaan itu tidak perlu. Kebudayaan memeli-hara, mengatur, dan memperbaiki manusia. Tetapi setelah Kristus masuk ke dalam kita, dalam pengalaman kita, kita harus mulai hidup oleh Kristus. Masalahnya ialah Kristus telah dibatasi oleh kebudayaan kita.
Kita telah nampak bahwa tujuan Allah ialah mengga-rapkan Kristus ke dalam umat pilihan-Nya. Allah memakai kebudayaan untuk melindungi manusia sampai mereka me-nerima Kristus. Sebelum anak-anak menerima Kristus, me-reka harus dilatih menurut kebudayaan dan di bawah hu-kum Taurat. Jangan sekali-kali mengatakan kepada anak-anak bahwa mereka tidak perlu kebudayaan. Sebaliknya, ajarkanlah mereka untuk menghormati orang tua mereka, mengasihi orang lain, dan membagi milik mereka bersama orang lain. Akhirnya, bila mereka mencapai tingkat kede-wasaan tertentu, mereka akan memutuskan untuk mene-rima Kristus ke dalam mereka. Setelah itu kita perlu mem-bantu mereka bertumbuh ke dalam Kristus dan bersama Kristus. Kita dapat berangsur-angsur membantu mereka beralih dari kebudayaan kepada Kristus. Akhirnya, mereka tidak hidup menurut kebudayaan, melainkan hidup menu-rut Kristus. Para pemuda, jangan menyatakan bahwa ka-lian telah membuang kebudayaan kalian, tetapi bersaksilah kepada orang bahwa kalian telah menerima Kristus dan sekarang kalian memperhidupkan Kristus, mempertumbuh-kan Kristus, dan menghasilkan Kristus.
Dengan kelicikannya, Iblis menggunakan hal-hal yang baik, bahkan hal-hal yang dikaruniakan Allah, untuk mencegah kita mengalami Kristus. Sampai-sampai Alkitab pun digunakan Iblis untuk mengganggu manusia dalam me-nikmati Kristus. Namun, tidak ada hal lain yang lebih men-jauhkan manusia dari Kristus daripada kebudayaan. Kebu-dayaan adalah suatu gangguan, khususnya bagi orang-orang Kristen yang mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Faktanya, semakin kita mengasihi Dia, kebudayaan sema-kin menghambat kita untuk mengalami Dia.
Mari kita mengambil contoh dari kisah Petrus. Walau Petrus seorang nelayan, ia sangat mengetahui teologi Yahudi. Pada suatu hari Petrus menerima inspirasi untuk menga-takan bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus, Putra Allah yang hidup. Tuhan menjawab bahwa Petrus telah menerima wahyu dari Bapa yang di surga. Kemudian Tuhan berkata lagi ten-tang pembangunan gereja dan tentang salib (Mat. 16:18, 24). Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita nampak Petrus dipakai oleh Tuhan untuk mendirikan gereja lokal yang pertama, gereja di Yerusalem. Meskipun Petrus begitu dipakai Tuhan, tetapi ia tetap terbatas oleh kebudayaan Yahudi. Hal ini terbukti dalam pengalamannya dalam Kisah Para Rasul 10. Ketika Petrus berdoa, pengalamannya atas Roh Kudus telah terbatas oleh konsepsi kebudayaannya tentang bangsa kafir. Petrus mengira kenikmatan atas Kristus hanya terbatas untuk orang-orang Yahudi. Sebagai orang Yahudi asli, ia mengira orang bukan Yahudi ibarat babi. Sikapnya terha-dap mereka merupakan produk kebudayaan Yahudi. Walau Petrus bersatu dengan Tuhan, tetapi pengalamannya atas Kristus terkurung oleh kebudayaan. Kemudian, dalam Ki-sah Para Rasul 10 Petrus nampak satu visi, yaitu sebuah kain lebar, “di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang melata dan burung” (ayat 12). Lalu ada suara yang berkata, “‘Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah!’ Tetapi Petrus menjawab, ‘Tidak, Tuhan, se-bab aku belum pernah makan apa pun yang haram dan yang najis’” (ayat 13-14). Visi ini diperlihatkan kepada Petrus sampai tiga kali. Ketika Petrus memikirkan maksud visi tersebut, beberapa orang kafir tiba di tempat ia tinggal dan menanyakan tentang dia. Tujuan Allah ialah memperluas kenikmatan atas Kristus untuk mencakup bangsa kafir. Untuk perluasan pengalaman atas Kristus ini, Petrus perlu mengesampingkan latar belakang kebudayaannya.
KEBUDAYAAN TELAH
DIGANTIKAN OLEH KRISTUS
Akan tetapi, jika kita tidak memiliki visi tentang Kristus yang demikian, janganlah kita berusaha membuang kebudayaan kita. Begitu visi itu muncul, kita harus menge-sampingkan latar belakang kebudayaan kita dan jangan mengizinkannya menggantikan atau mengekang Kristus. Bila Kristus masuk, kebudayaan kita harus keluar. Tetapi kita tidak boleh mencoba membuang kebudayaan, jika kita tidak memiliki Kristus. Perhatian kita sebenarnya bukan tertuju pada kebudayaan, melainkan pada pengalaman atas Kristus. Butir yang kita bicarakan ialah karena kita telah menerima Krisus, maka kita tidak boleh mengizinkan kebu-dayaan menjadi suatu pengganti bagi Kristus. Di dalam Kristus kita mempunyai kebebasan untuk mengesamping-kan kebudayaan kita demi memperluas kapasitas kita un-tuk menikmati Tuhan. Seluruh tempat dalam batin kita harus diberikan kepada Kristus. Jika seluruh kapasitas ba-tin kita dipakai oleh-Nya, maka dengan spontan kebudayaan di batin kita akan digantikan oleh Kristus. Tetapi mengeri-kan sekali jika kita membuang kebudayaan tanpa memiliki Kristus. Bila Kristus datang, kita harus berkata kepada Tuhan bahwa kita menghendaki Dia menduduki dan memi-liki seluruh tempat di batin kita.
Kebudayaan merupakan gangguan besar terhadap peng-alaman atas Kristus. Dalam pemulihan-Nya, Tuhan benar-benar telah melawat kita. Yang paling menghambat kita dari kenikmatan atas Kristus bukan dosa atau dunia, me-lainkan kebudayaan. Tanpa disadari, kita diganggu oleh ke-budayaan sehingga tidak bisa mengalami Kristus. Banyak orang kudus telah bertahun-tahun damba mengalami Kristus lebih banyak, tetapi pengalaman mereka tidak berkembang. Faktor yang membatasi perkembangan kenikmatan atas Kristus ialah kebudayaan. Kebudayaan yang ada di batin kita dengan spontan menghambat kita dari pengalaman riil atas Kristus. Dalam sidang kita mungkin menyatakan bah-wa Kristus adalah hayat kita dan hidup gereja itu mulia. Tetapi, ketika kita kembali ke rumah, kita dengan otomatis hidup menurut kebudayaan kita, tidak menurut Kristus. Asas yang mengatur kehidupan kita di rumah bukan Kristus, melainkan kebudayaan. Dalam sidang kita semua mungkin membagi nikmat dalam puji-pujian dan aspirasi yang sa-ma, tetapi di luar sidang kita berbeda-beda dalam konsepsi dan perilaku kebudayaan kita. Kita mungkin melakukan hal-hal tertentu atau tidak melakukan hal-hal tertentu ber-dasarkan pengaruh kebudayaan. Karena itu, kehidupan kita bukan diatur dan dikuasai oleh Kristus, melainkan oleh kebudayaan. Mereka yang berlatar belakang China hidup menurut kebudayaan China, dan yang berlatar belakang Amerika hidup menurut kebudayaan Amerika.
Misalkan, seorang saudara mempunyai masalah dengan istrinya. Dalam keputusasaan ia berdoa kepada Tuhan dan bertanya kepada Tuhan bagaimana ia dapat menjadi seorang suami yang dilukiskan dalam Efesus 5. Saudara lainnya mungkin mencoba menganjurinya menerima Kristus seba-gai hayat dan personanya. Tetapi saudara yang pertama itu mungkin harus mengakui walaupun ia pernah mendengar sejumlah berita tentang hidup oleh Kristus, ia justru tidak mengetahui bagaimana menerima Kristus sebagai hayat dan personanya. Ini menunjukkan bahwa saudara itu telah bertahun-tahun mengesampingkan Kristus, dan hidup me-nurut kebudayaannya. Pada waktu-waktu yang menyulitkan, ia terpaksa datang kepada Tuhan, tetapi tidak lama kemu-dian, ia dengan spontan kembali lagi kepada kebudayaannya.
Prinsipnya sama dengan kita semua. Kita telah mende-ngar berita-berita tentang Kristus sebagai hayat dan per-sona kita. Namun dalam kehidupan sehari-hari kita hidup menurut kebudayaan kita. Ketika kita bernyanyi atau me-muji Tuhan dalam sidang gereja, kita mungkin menyesuai-kan diri dengan suasana sidang. Tetapi di rumah kita hidup menurut kebudayaan. Karena alasan ini, kita menerima beban yang sangat berat dari Tuhan agar seluruh orang kudus dalam pemulihan Tuhan belajar secara riil bagai-mana menerima Kristus sebagai hayat dan persona mereka untuk menggantikan kebudayaan mereka. Sekali lagi saya tegaskan bahwa yang penting bukanlah membuang kebuda-yaan kita, melainkan dari hari ke hari, dari jam ke jam, bahkan dari saat ke saat menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita untuk menggantikan kebudayaan kita. Jika kita berbuat demikian, kita akan benar-benar hidup oleh Kristus, bukan oleh kebudayaan kita.
KEHIDUPAN YANG MENURUT KEBUDAYAAN BUKAN MENURUT KRISTUS
Mungkin Anda tidak mengerti apa perbedaan antara hidup menurut kebudayaan dengan hidup menurut Kristus. Dalam gereja banyak yang berasal dari latar belakang ke-budayaan yang berbeda. Menurut kebudayaan mereka, bebe-rapa orang kudus bersifat terbuka, terus terang, dan cepat. Mereka sukar sekali menyimpan sesuatu sebagai rahasia. Namun, mereka kekurangan kesabaran. Kaum saleh lain-nya, yang berlatar belakang lain, bersikap konservatif dan tersembunyi. Siapa pun sukar mengetahui isi hati mereka atau perasaan mereka tentang sesuatu. Yang memiliki la-tar belakang kebudayaan lain lagi, mungkin sama sekali tanpa ekspresi. Anda sulit mengatakan apakah ia menyukai Anda atau tidak. Bahkan setelah orang-orang yang kebuda-yaannya berlainan ini beroleh selamat dan mulai menuntut Tuhan, mereka tetap masih mempertahankan ciri-ciri kebu-dayaan mereka, bahkan membawanya ke dalam hidup ge-reja. Persoalannya ialah dalam gereja mereka semua lebih banyak hidup menurut kebudayaan mereka daripada me-nurut Kristus. Mereka memang mengasihi Tuhan Yesus, te-tapi mereka tetap hidup oleh kebudayaan mereka. Tidak peduli kebudayaan mereka itu bagaimana, mereka tidak memberikan banyak tempat kepada Kristus dalam batin mereka. Sebab itu, hidup gereja sehari-hari diduduki oleh kebudayaan, bukan oleh Kristus. Kita mempunyai beban yang sangat berat atas hal ini. Kita perlu bertanya di manakah Kristus dalam hidup gereja kita sehari-hari yang riil itu.
Persoalan di Kolose bukan dosa, seperti di Korintus, atau hukum Taurat dan agama Yahudi, seperti di Galatia. Per-soalan di Kolose adalah kebudayaan. Aspek-aspek tertentu kebudayaan, termasuk filsafat, tradisi, dan asas-asas awal dunia telah tergarap ke dalam kaum saleh dan telah meng-gantikan Kristus dalam kehidupan mereka sehari-hari. Di Kolose kebudayaan telah menjadi pengganti Kristus. Kristus tidak memiliki kedudukan secukupnya dalam kehidupan se-hari-hari kaum beriman. Karena itu, Paulus menulis Surat Kiriman kepada orang-orang di Kolose untuk menanggu-langi masalah tersebut.
VISI TENTANG KEALMUHITAN KRISTUS
Saya percaya saatnya telah tiba untuk menyampaikan berita tentang Kristus berlawanan dengan kebudayaan. Vi-tal sekali bagi kita untuk melihat satu visi tentang keal-muhitan Kristus. Kristus harus menjadi segala sesuatu bagi kita dalam kehidupan sehari-hari kita. Kristus yang adalah ekspresi Allah dan rahasia ekonomi Allah sekarang hidup di dalam kita. Kristus yang berhuni di batin kita bukan Kristus yang kecil dan terbatas. Dia adalah persona yang merupa-kan gambar Allah yang tidak kelihatan, perwujudan kepe-nuhan Allah, dan titik inti ekonomi Allah. Kristus yang se-demikian kini tinggal di dalam kita, dan sedang menunggu kesempatan untuk menyebarkan diri-Nya ke seluruh diri kita. Kita perlu hidup oleh-Nya dari saat ke saat. Kita tidak boleh memberikan tempat sedikit pun kepada kebudayaan dalam kehidupan kita. Sebaliknya, seluruh tempat dalam batin kita harus diberikan kepada Kristus yang almuhit yang tinggal di dalam kita sebagai pengharapan akan ke-muliaan kita. Jika kita nampak visi tentang Kristus yang almuhit yang berhuni demikian, kita akan dengan spontan membuang kebudayaan kita. Dahulu Kristus digantikan oleh kebudayaan. Tetapi begitu kita nampak visi ini, kebu-dayaan di dalam kita akan digantikan oleh Kristus.
Kristus yang sebagai gambar Allah adalah rahasia ekonomi Allah dan rahasia Allah itu sendiri. Sebagai perwujudan Allah, Dia adalah realitas setiap hal positif dalam alam semesta. Tetapi perkataan-perkataan yang ajaib dan menakjubkan ini ibarat bahasa asing bagi kebanyakan orang Kristen dewasa ini.
Kita tidak boleh teperdaya oleh kata-kata yang indah atau terbawa oleh filsafat, tradisi, atau kebudayaan manu-sia. Kita harus memperhatikan Kristus semata. Kristus harus menduduki, memiliki, dan mendapatkan kita. Dalam manusia batiniah kita harus tidak ada tempat bagi filsafat atau asas-asas awal dunia. Setiap bagian dari manusia ba-tiniah kita harus diduduki oleh Kristus dan dengan Kristus. Bagi kita Kristus adalah Allah yang sejati, makanan sejati, minuman sejati, pakaian sejati, dan Sabat sejati. Dia adalah realitas setiap hal yang positif. Sebab itu, kita tidak boleh memberikan tempat kepada hal apa pun selain Kristus dalam diri kita.
JANGAN BIARKAN PAHALA KITA DIGAGALKAN
Dalam Kolose 2:18 Paulus memperingatkan kita, agar tidak membiarkan orang dengan sengaja menggagalkan ke-menangan (pahala) kita. Pahala kita adalah kenikmatan yang penuh atas Kristus. Bahkan mereka yang pernah ber-tahun-tahun berada dalam pemulihan Tuhan pun tidak me-miliki kenikmatan yang penuh atas Kristus. Kita telah diga-galkan dalam hal ini. Melalui melihat visi tentang Kristus yang almuhit ini, kita akan dikembalikan kepada pahala kita. Jika kita nampak visi ini, tidak ada seorang pun yang dapat menggagalkan kita dari kenikmatan yang penuh atas Kristus. Ketika kita mempunyai kenikmatan ini, kita akan nampak bahwa Kristus adalah realitas kita. Ada satu bait dalam sebuah kidung yang mengungkapkan pengalaman atas Kristus sebagai realitas seperti berikut:
Kristus Sang Allah, Tuhan sejati,
Terang dan segala yang sejati,
Sandang, pangan, air hayat sejati,
Hayat dan keindahan sejati.
(Kidung No. 374)
Kalau Kristus demikian riil bagi kita, maka seyogyanyalah kita hidup oleh-Nya, bukan oleh kebudayaan.
KRISTUS ADALAH HAYAT KITA,
JUGA UNSUR MANUSIA BARU
Dalam Kolose 3:3-4 kita nampak bahwa Kristus yang menjadi titik inti ekonomi Allah dan realitas segala hal yang positif adalah hayat kita. Hayat kita tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Ini berarti kita hari ini hidup di dalam Allah. Sebagai hayat kita, Kristus adalah unsur ma-nusia baru. Karena Kristus adalah unsur yang unik dari manusia baru, maka dalam manusia baru tidak ada tempat bagi orang Yunani dan Yahudi, Amerika, dan China, orang yang bersunat dan tak bersunat, budak dan orang merdeka. Dalam manusia baru, Kristus yang adalah hayat kita ada-lah semua dan di dalam segala sesuatu. Inilah Kristus yang almuhit yang berlawanan dengan kebudayaan.
Saya harap melalui nampak visi ini maka dalam batin kita terbit suatu keinginan yang mendalam. Kita perlu ber-doa, “Tuhan Yesus, aku mau didapatkan, diduduki, dan di-miliki oleh-Mu. Aku mau memberikan kapasitasku sepenuh-nya dan semua tempat dalam diriku kepada-Mu. Tuhan, aku tidak ingin terbatas atau terganggu dalam pengalaman-ku atas-Mu. Aku ingin menikmati Engkau tanpa batasan, rintangan, atau halangan. Tuhan, aku hanya ingin memi-liki-Mu, tidak ingin kebudayaan. Aku ingin hidup oleh-Mu, bukan oleh kebudayaan macam apa pun.”
MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Kita tidak perlu bertekad untuk menempuh suatu ke-hidupan kristiani tertentu. Kristus hari ini adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit dalam batin kita. Roh ini ada-lah Allah Tritunggal yang telah melalui proses yang berhuni di dalam kita. Kita tidak perlu mencoba untuk mengasihi, baik hati, atau lemah lembut, sebab itu bukan memperhi-dupkan Kristus. Daripada bertekad berbuat hal-hal terten-tu, hidup saja oleh Kristus yang sekarang adalah Roh pemberi-hayat dalam roh kita. Kita harus berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak tahu apa itu mengasihi orang, ren-dah hati, atau kebajikan. Tuhan, aku hanya memperhatikan memperhidupkan Engkau.” Ketika seorang saudara tergo-da untuk bertengkar dengan istrinya, ia harus berkata, “Tuhan, apakah Engkau ingin bertengkar dengan istriku? Jika Engkau berbuat demikian, aku akan bersatu dengan-Mu dalam hal itu.” Seprinsip dengan itu, ketika Anda ingin berbicara kepada anak-anak Anda, Anda perlu memberi tahu Tuhan bahwa dalam hal ini Anda ingin hidup oleh-Nya, dan Anda ingin bersatu dengan-Nya sewaktu Dia mengawali ber-bicara kepada anak-anak Anda. Inilah memperhidupkan Kristus. Bertekad bertindak dengan cara tertentu tidaklah berguna, itu tidak ada hasilnya. Yang perlu kita lakukan hanyalah memperhidupkan Kristus.
BERTEKUN DALAM DOA
Dalam Kolose 4:2 Paulus menyuruh kita bertekun dalam doa. Paulus tidak bermaksud menyuruh kita melupa-kan semua keperluan riil kita dalam kehidupan sehari-hari dan hanya tahu berdoa saja. Maksudnya ialah kita harus berdoa agar dalam segala hal yang kita lakukan sehari-hari kita dapat memperhidupkan Kristus. Seperti telah kita ka-takan, kita harus berdoa ketika kita ingin bercakap-cakap dengan suami atau istri kita atau dengan anak-anak kita. Dalam doa seperti itu kita boleh berkata, “Tuhan, aku ber-satu dengan-Mu, dan Engkau bersatu denganku. Tuhan aku ingin berbicara dengan anak-anakku. Tuhan, maukah Eng-kau memimpin dalam hal ini?” Ini artinya bertekun dalam doa, berdoa tak berkeputusan.
Memperhidupkan Kristus pada hakikatnya adalah sua-tu masalah doa. Jika kita ingin hidup oleh Kristus, kita perlu berdoa. Kalau Anda ingin pergi berbelanja, tanyalah Tuhan apakah Ia senang pergi bersama Anda. Ketika Anda ingin membeli barang tertentu, tanyalah Tuhan apakah Ia senang membeli barang tersebut. Bahkan dalam hal yang paling kecil pun kita perlu bertanya kepada Tuhan. Berbuat demikian berarti bertekun dalam doa, dan dengan demikian kita akan memperhidupkan Kristus. Jalan untuk memperhidupkan Kristus ialah melalui berdoa kepada-Nya sepanjang hari.
Jika kita memperhidupkan Kristus sedemikian, maka Kristus akan memiliki tempat yang luas dalam kehidupan gereja. Lalu kita akan memiliki hidup gereja yang bebas dari pengaruh kebudayaan. Tidak peduli apa yang menjadi latar belakang kebudayaan kita, kita akan hidup menurut Kristus, tidak menurut kebudayaan. Kaum beriman dari berbagai latar belakang yang berbeda menjadi sama dalam memperhidupkan Kristus, bukan dalam kebudayaan. Itulah hidup gereja yang tepat, kehidupan Tubuh yang di dalam-nya Kristus terekspresi. Dalam hidup gereja yang demikian, kita semua dipenuhi, diresapi, dan dijenuhi oleh Kristus. Tidak ada dosa, dunia, diri, daging, atau kebudayaan. Tidak ada yang lain kecuali Kristus; Kristus yang almuhit yang berlawanan dengan kebudayaan.