← Daftar isi Kolose (1) · bab 14/21

KRISTUS DI DALAM KAMU

Pembacaan Alkitab:

Kol. 1:27; Yoh. 14:17, 20, 23; 15:4-5;

Rm. 6:3; 8:9-11; 1 Kor. 1:30; 6:17; 2 Kor. 13:5; 2 Tim. 4:22a

Ekonomi Allah ialah menggarapkan satu persona yang ajaib ke dalam diri kita. Persona ini adalah Kristus yang almuhit, yang adalah realitas setiap hal positif dalam alam semesta. Kristus adalah yang sulung dari segala yang dicip-takan. Dia adalah Allah juga manusia, sebab Dialah Allah yang kekal yang berinkarnasi pada waktu tertentu. Jadi, Kristus adalah Allah yang sejati dan manusia sejati. Dia memiliki seluruh atribut ilahi dan kebajikan insani. Dia adalah realitas kasih, hayat, terang, anugerah, rendah hati, sabar, kuat, rahmat, hikmat, benar, dan kudus.

KRISTUS UNTUK KITA NIKMATI DAN ALAMI

Kristus sangat berkaitan dengan penciptaan. Kolose 1:16 mengatakan, “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; se-gala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Ayat 17, “ . . . segala sesuatu berkelangsungan di dalam Dia” (Tl.). Sama seperti jari-jari roda diikat menjadi satu oleh poros roda, begitu pula semua ciptaan berkelangsungan atau ber-tahan di dalam Kristus.

Pertama-tama usaha penciptaan dirampungkan, kemu-dian Kristus menjadi seorang manusia, tahap pertama dari proses panjang yang Ia alami. Selaku manusia, Ia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Betapa ajaib-nya, Allah yang tidak terbatas hidup dalam suatu keluarga tukang kayu di sebuah kota kecil! Allah telah dibatasi dan dikekang sedemikian rupa. Setelah melalui kehidupan in-sani dengan penderitaan, ujian, dan cobaan-cobaannya, Kristus lalu disalibkan. Kematian-Nya merupakan kemati-an yang ajaib dan almuhit. Sesudah dimakamkan, Ia meng-adakan suatu piknik di wilayah maut, dan kemudian ke-luar dalam kebangkitan. Setelah kebangkitan-Nya, Kristus naik ke surga, di mana Ia dinobatkan, dimahkotai, dan di-jadikan Tuhan dan Kepala atas segala sesuatu.

Dalam kebangkitan-Nya, Kristus menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b). Segala yang telah Kristus alami, se-gala apa adanya Dia, dan segala yang Ia rampungkan, yang Ia capai, dan yang Ia peroleh merupakan unsur-unsur yang telah tercampur ke dalam-Nya sebagai Roh almuhit. Sebagai Roh almuhit ini, Ia turun ke atas Tubuh-Nya pada hari Pentakosta. Dalam Roh inilah kita memiliki Allah, ma-nusia, inkarnasi, kehidupan insani, penebusan, khasiat ke-matian Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, hayat kebangkitan, kenaikan, penobatan jabatan-Nya sebagai Kepala dan Tuhan. Inilah Sang almuhit yang ingin Allah garapkan ke dalam kita bagi penggenapan ekonomi-Nya. Penyaluran Kristus yang almuhit ke dalam kita ini adalah untuk kehendak dan rencana kekal Allah. Inilah Kristus kita yang kita kasihi dan yang kita nikmati.

Alkitab mewahyukan bahwa Allah adalah tritunggal: Dialah Bapa, Putra, dan Roh. Jika kita membaca Alkitab dengan cermat, kita akan nampak bahwa Bapa berada di dalam Putra (Yoh. 14:10) dan Putra itu disebut Bapa (Yes. 9:5). Orang-orang yang telah melihat Putra telah melihat Bapa juga. Lebih lanjut, Putra telah menjadi Roh realitas. Ini menunjukkan bahwa Putra telah direalisasikan sebagai Roh itu. Ketika Allah Tritunggal datang kepada kita, Dia adalah Roh almuhit itu. Kristus kita adalah Roh yang sedemikian untuk kita alami dan nikmati hari ini.

DI DALAM KRISTUS

Satu Korintus 1:30 menerangkan kepada kita bahwa keberadaan kita di dalam Kristus Yesus adalah dari Allah. Dahulu, oleh kelahiran, kita berada di dalam Adam. Tetapi Allah Bapa telah memindahkan kita dari Adam ke dalam Kristus. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus dan ber-seru kepada nama-Nya, kita dipindahkan dari Adam ke da-lam Kristus. Itulah sebabnya setelah kita percaya kepada Kristus, kita dibaptiskan. Dalam perkataan Roma 6:3, kita telah dibaptis ke dalam Kristus Yesus.

KRISTUS HIDUP DI DALAM KITA

Walau keberadaan kita sekarang di dalam Kristus ada-lah suatu fakta yang ajaib dan mulia, namun itu baru me-rupakan masalah posisi. Posisi tersebut memang memberi kita hak dan kehormatan untuk mengambil bagian atas se-gala apa adanya Kristus, tetapi dengan hak dan kehormat-an ini kita masih perlu mengalami Kristus hidup di dalam kita. Sekarang karena kita berada di dalam Kristus, Kristus ingin hidup di dalam kita. Ini bukan masalah posisi, melain-kan masalah pengalaman dan kenikmatan. Bagi kita, berada di dalam Kristus merupakan masalah posisi; bagi Kristus, berada di dalam kita merupakan masalah pengalaman dan kenikmatan. Berapa banyak kita menikmati Kristus tergan-tung pada berapa banyak Dia hidup di dalam kita.

Jika kita tidak berada di dalam Kristus, Kristus tidak dapat berada di dalam kita. Menurut Perjanjian Baru, kebe-radaan Kristus di dalam kita berdasar pada fakta kita ber-ada di dalam Dia. Dalam Yohanes 15:4, Tuhan berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Kalau kita tinggal di dalam Kristus, Dia akan tinggal di dalam kita. Sekali lagi kita nampak bahwa berada di dalam Kristus adalah masalah posisi, sedang Kristus di dalam kita meru-pakan masalah pengalaman dan kenikmatan. Beban saya dalam berita ini bukan ingin mengatakan kepada kalian bahwa kita berada di dalam Kristus, melainkan menunjuk-kan bahwa Kristus berada di dalam kita. Sekadar menge-tahui kita berada di dalam Kristus tidak memberi kita pengalaman atas Kristus atau kenikmatan atas Kristus. Tetapi, posisi ini dapat memberi kita hak dan kehormatan untuk memiliki kenikmatan dan pengalaman atas Kristus.

Kita harus memiliki keyakinan untuk mengatakan bahwa kita sepenuhnya, semutlaknya, dan seluruhnya ber-ada di dalam Kristus. Mengenai posisi kita di dalam Kristus, kita boleh percaya dengan pasti bahwa kita mutlak berada di dalam-Nya. Sebagai contoh, setiap orang yang berkewar-ganegaraan Amerika adalah warga negara penuh, dan mut-lak. Kewarganegaraannya bukan sebagian atau bersyarat. Tetapi, berapa banyak orang yang menikmati Amerika ber-kaitan dengan berapa banyak Amerika yang masuk ke da-lamnya. Ia berada di Amerika, tetapi berapa banyak Amerika yang di dalamnya? Seorang yang berasal dari negeri lain boleh menjadi warga negara Amerika dengan cara naturali-sasi, karenanya, ia menjadi warga negara Amerika oleh hak kewarganegaraan itu. Tetapi dalam batinnya ia mungkin tetap memiliki banyak hal dari negeri asalnya. Hal ini me-nunjukkan, walaupun ia berada di Amerika, tidak banyak Amerika yang masuk ke dalamnya, ia tetap mengasihi ba-nyak hal dari negeri asalnya dalam batinnya. Seasas dengan itu, kita berada di dalam Kristus dengan mutlak, tetapi Dia di dalam kita masih bersifat relatif dan bersyarat. Menurut pengalaman kita, sebenarnya kita tidak banyak memiliki Kristus di dalam kita. Kita masih sangat banyak diduduki dan dimiliki oleh kebudayaan kita. Meskipun kita mungkin telah bertahun-tahun berada dalam hidup gereja dalam pe-mulihan Tuhan, masih ada tempat yang lebih luas dalam diri kita untuk diisi gereja. Demikian pula dengan Kristus. Meskipun kita mungkin telah lama berada di dalam Kristus, dalam pengalaman kita masih tidak mempunyai cukup ba-nyak Kristus di dalam kita.

DIDUDUKI OLEH KEBUDAYAAN

Kita perlu pengertian yang jelas tentang arti dari Kristus berlawanan dengan kebudayaan. Walaupun Kristus ada di dalam kita, kita lebih banyak diduduki oleh kebuda-yaan daripada oleh Kristus. Kita dipenuhi oleh banyak hal yang bukan Kristus. Hal-hal tersebut mencakup apa yang kita sukai dan yang tidak kita sukai, kegemaran, pilihan, dosa, dan keduniawian kita. Semakin Kristus sebagai anu-gerah tersuplai ke dalam kita, hal-hal yang menduduki kita itu makin terlucut keluar. Namun, walau mungkin banyak hal kedosaan dan keduniawian agak mudah ditanggalkan, kebudayaan kita tetap tinggal, tidak peduli berapa banyak anugerah tersuplai ke dalam diri kita.

Setiap hal yang bukan Kristus sendiri di dalam kita dapat mengganggu kita dalam mengalami dan menikmati Kristus dengan sejati. Teristimewa kebudayaan. Kita telah bertahun-tahun lamanya menempuh hidup gereja, banyak hal telah terlucut dari diri kita, ketika anugerah ditambah-kan ke dalam kita. Namun demikian, ada satu hal yang masih bercokol dalam kita secara licik, yaitu kebudayaan.

Kita sulit membedakan dan menghakimi kebudayaan di dalam kita. Karena kita tidak mengenal apakah kebuda-yaan kita itu, kita tidak mudah membedakannya. Walau kita mungkin menghakimi unsur-unsur dosa dan dunia di dalam kita, tetapi kita mungkin tidak menghakimi kebuda-yaan kita. Kebudayaan kita mungkin sangat kuat, tetapi kita tidak menyadarinya. Bahkan kita mengira kita tidak terpengaruh oleh kebudayaan. Namun, setiap manusia yang hidup memiliki kebudayaan. Asalkan Anda hidup, dan tidak lagi sebagai bayi, Anda pasti mempunyai kebudayaan.

KEBUDAYAAN BUATAN SENDIRI

DAN KEBUDAYAAN WARISAN

Kita tidak saja mempunyai kebudayaan dari negeri kita, kita pun mempunyai kebudayaan buatan sendiri. Tan-pa disadari, kita semua memiliki sejenis kebudayaan buat-an sendiri. Kebudayaan ini tidak hanya menjadi susunan dari praktek-praktek tertentu yang kita lakukan dalam ke-hidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi standar bagi kehi-dupan kita. Bila kita mempunyai standar sedemikian, berarti kita berada di bawah pengaruh kebudayaan kita. Kebuda-yaan tidak saja ditujukan kepada hal-hal seperti cara kita makan. Kebudayaan khususnya menyiratkan standar-stan-dar tertentu. Dalam batin kita ada sebuah lukisan mental bahwa kita seharusnya menjadi orang macam apa. Inilah kebudayaan buatan kita sendiri, standar yang kita tetapkan bagi kehidupan kita sehari-hari.

Ketika Allah memanggil Abraham, Allah tidak membe-rinya sebuah peta. Penyertaan Allah itulah peta Abraham yang hidup. Tetapi kebanyakan orang Kristen hari ini lebih suka memiliki semacam “peta” untuk memimpin mereka setiap hari. “Peta” ini secara tidak sadar terlukis menurut standar hidup mereka. Dari hari ke hari mereka “menge-mudi” menurut “peta” ini. Bila kita memiliki “peta” seperti ini, secara otomatis kita akan mengesampingkan Tuhan, sebab Tuhan telah digantikan oleh standar kita. Karena kita mempunyai standar-standar buatan sendiri bagi kehidupan kristiani, maka kita merasa tidak perlu menuntut Tuhan, berkontak dengan-Nya, atau bersandar kepada-Nya, sebalik-nya, kita hidup hanya menuruti standar kita. Beberapa orang mungkin menyatakan bahwa mereka setiap hari berdoa kepada Tuhan dan mohon bantuan-Nya. Memang, mereka boleh jadi berdoa dan mohon bantuan Tuhan, tetapi bantuan yang mereka inginkan adalah yang memungkin-kan mereka memenuhi atau mencapai standar mereka. Itu jauh berbeda dengan mohon Tuhan memimpin kita menu-rut Dia sendiri. Kita terlebih dahulu mempunyai standar-standar kita, lalu kita mohon bantuan Tuhan untuk men-capai sasaran kita itu. Itulah yang dimaksud hidup menurut kebudayaan buatan kita sendiri.

Selain kebudayaan buatan kita sendiri, kita pun me-miliki kebudayaan yang kita kumpulkan secara tidak sadar melalui pengaruh lingkungan sekitar dan latar belakang kita. Sejak kanak-kanak, banyak yang telah terlatih untuk menjadi orang jujur, rendah hati, satria, dan baik budi. Ke-budayaan seperti itu merupakan bagian dari diri pribadi mereka, dan mereka dengan spontan hidup olehnya. Orang-orang yang berkebudayaan demikian mungkin dapat me-ngasihi Tuhan dan berada dalam hidup gereja. Tetapi mereka tidak memperhidupkan Kristus, malah hidup oleh kebuda-yaan mereka itu. Kita mungkin hidup oleh kebudayaan yang telah kita warisi atau oleh kebudayaan yang kita cip-takan bagi diri sendiri. Dalam kedua kasus itu diri kita se-lalu diduduki dan dikuasai oleh kebudayaan, bukan oleh Kristus.

Karena kita menganggap kebudayaan kita baik, maka kita tidak menyalahkannya. Siapa yang mau menyalahkan standar yang kita tetapkan bagi kehidupan pernikahan yang baik? Kita tidak saja tidak menyalahkan kebudayaan kita, malahan memustikakan dan menghargainya. Kita menilai tinggi hal-hal baik yang telah kita warisi. Dengan spontan kita hidup oleh kebudayaan kita. Sekalipun anuge-rah yang telah tersuplai kepada kita dalam hidup gereja menyebabkan terlucutnya banyak hal dari diri kita, tetapi kebudayaan tetap tertinggal. Iblis, si licik itu, memakai ke-budayaan kita untuk mengganggu kita dalam menikmati dan mengalami Kristus. Sekarang, karena Kristus telah masuk dan hidup di dalam kita, maka kita harus bangkit menghakimi kebudayaan warisan atau kebudayaan buatan sendiri yang menghambat kita dalam mengalami Kristus. Kita harus menyalahkan kebudayaan kita seperti kita me-nyalahkan hal-hal dosa dan dunia. Karena kebudayaan kita merupakan bagian dari susunan diri kita, kita perlu terang surgawi menyinari kita untuk menyingkapkannya. Di ba-wah sorotan terang yang demikian kita akan berkata, “Iblis, aku mencela kelicikanmu. Sebelum Kristus masuk ke da-lamku, aku perlu hidup oleh kebudayaan. Sekarang aku perlu hidup oleh Kristus. Karena itu, aku benci akan kebu-dayaan di dalamku dan menyalahkannya, sebab itu meng-hambatku dalam menikmati Kristus.”

HIDUP OLEH ROH YANG BERBAUR

Penting sekali kita semua nampak bahwa Allah tidak ingin yang lain kecuali Kristus. Jika kita nampak visi ini, kita akan mengesampingkan standar kita dan damba ber-satu dengan Tuhan dalam roh kita dari saat ke saat. Kini Kristus yang almuhit berada di dalam roh kita. Satu Ko-rintus 6:17 menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang yang mengikatkan dirinya dengan Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Dalam 2 Timotius 4:22 Paulus berkata, “Tuhan menyertai rohmu.” Standar kita seharusnya bukan kebudaya-an yang kita warisi atau kebudayaan yang kita buat sen-diri. Standar kita haruslah kesatuan dengan Tuhan di dalam roh kita. Janganlah mencoba menjadi seorang istri atau suami yang baik, tetapi jadilah satu roh dengan Tuhan itu saja. Kemudian Anda pasti akan memperhidupkan Kristus, sebab Kristus akan benar-benar hidup di dalam Anda.

Allah telah meletakkan kita di dalam Kristus. Jika kita nampak betapa kebudayaan kita mengganggu kita dalam mengalami Kristus yang berhuni di batin kita, kita akan menyadari bahwa sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit, Tuhan berhuni di dalam roh kita dan kita menjadi satu roh dengan-Nya. Kita perlu hidup oleh roh yang berbaur ini sebagai standar kita. Jika kita membiarkan Kristus hidup di dalam kita dari hari ke hari, kita akan dengan spontan hidup oleh-Nya. Dengan jalan inilah Kristus akan menggantikan kebudayaan kita.

KRISTUS, BUKAN STANDAR KEBUDAYAAN

Masalah di kalangan kaum saleh di Kolose adalah me-reka kebanyakan telah diperdaya dan dirampas dari Kristus dan dibawa kepada filsafat dan peraturan-peraturan agama. Mereka menetapkan filsafat dan peraturan-peraturan itu se-bagai standar mereka dan hidup olehnya. Standar itu telah menghambat mereka dalam menikmati dan mengalami Kristus. Inilah alasan Paulus berpesan kepada mereka agar tidak membiarkan seorang pun memperdaya mereka dan merampas pahala mereka (2:18).

Prinsipnya sama dengan kita hari ini. Musuh di dalam kita sangat licik. Kita memiliki standar-standar tertentu, baik standar-standar yang kita warisi maupun yang kita buat untuk diri sendiri. Karena standar-standar itu baik, kita tidak menyalahkannya. Namun demikian, standar-stan-dar yang baik itu bukan Kristus sendiri. Allah tidak meng-hendaki apa pun yang baik yang kita hasilkan, Ia meng-hendaki Kristus, dan Kristus semata. Dalam pandangan Allah, hanya Kristus yang terhitung. Kehendak Allah ialah menggarapkan Kristus ke dalam diri kita agar kita boleh memiliki kenikmatan penuh atas Dia. Bila Kristus beroleh jalan yang bebas di dalam kita, menjadi kenikmatan dan pengalaman kita, maka kebudayaan kita akan tertanggu-langi.

Saatnya telah tiba bagi kita semua yang berada dalam gereja untuk mendengarkan berita ini, melihat visi ini, dan menghakimi standar-standar kebudayaan kita. Setelah itu kita akan menyadari bahwa yang diinginikan Allah adalah Kristus. Kristus hari ini adalah Roh pemberi-hayat yang berbaur dengan roh kita. Jangan hidup menurut standar tertentu, sebaliknya hiduplah oleh Kristus yang berhuni di dalam roh kita. Ketika kita hidup di dalam roh, kita harus membiarkan Kristus beroleh jalan bebas di seluruh diri kita. Kemudian kita akan menikmati Dia, mengalami Dia, dan diselamatkan dari kebudayaan kita.