Daftar isi Kolose (2) · Berita Ketiga Puluh Lima · bab 12/21

Berita Ketiga Puluh Lima

KRISTUS YANG ALMUHIT (2)

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:2-4, 6-10, 16-22; 3:4, 10-11, 15-16

Dalam Kolose 2:3 Paulus memberi tahu kita bahwa di dalam Dia tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Dalam ayat 4 dilanjutkan, “Hal ini kukatakan, supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah.” Ini menunjukkan bahwa orang-orang kudus di Kolose pada waktu itu teperdaya oleh kata-kata yang indah.

TRADISI (AJARAN TURUN-TEMURUN) MANUSIA

Dalam ayat 8 Paulus berkata, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafat dan tipuan yang kosong menurut ajaran turun-temurun dan unsur-unsur dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Tl.). Dalam ayat ini Paulus memberikan peringatan yang serius kepada kita: Jangan ada yang menawan kita dengan filsafat dan tipuan yang kosong. Filsafat dan tipuan yang kosong itu adalah menurut tradisi manusia.

Tradisi (ajaran turun-temurun, LAI) berhubungan dengan kebudayaan dan bersumber pada kebudayaan. Tradisi tidak dapat dipisah dari kebudayaan. Orang-orang yang agamis dan filosofis memiliki tradisi yang kuat. Semakin berbudaya, kita akan semakin bertradisi. Semua manusia mempunyai tradisi yang khas. Pada zaman kuno, orang-orang Yahudi memiliki tradisi mereka sendiri, demikian pula orang-orang Yunani. Kaum beriman pada hari ini pun memiliki tradisi kekristenan mereka, dan kita semua memiliki tradisi pribadi kita sendiri. Jalan satu-satunya untuk tidak memiliki tradisi ialah tidak memiliki kebudayaan. Asalkan kita mempunyai sejenis kebudayaan, pasti kita mempunyai tradisi. Bahkan beberapa tradisi kita adalah buatan kita sendiri, dan kita laksanakan sendiri. Semua tradisi adalah menurut manusia, karena Allah tidak mempunyai tradisi apa pun. Sebab itu, tidak ada tradisi yang menurut Allah.

Dalam Kolose 2:8 frase “menurut . . . unsur-unsur dunia” adalah keterangan tambahan dari “menurut tradisi manusia”. Ini membuktikan bahwa tradisi manusia identik dengan atau unsur-unsur dunia. Dunia di sini tidak ditujukan kepada dunia materi, melainkan umat manusia yang telah jatuh, seperti dalam Yohanes 3:16. Tradisi sama dengan unsur-unsur itu, dan manusia sama dengan dunia itu. Jadi, tradisi manusia sama dengan unsur-unsur dunia.

Dalam ayat ini Paulus menunjukkan bahwa filsafat dan tipuan yang kosong bukan menurut Kristus. Ungkapan “tidak menurut Kristus” sangat penting. Ungkapan ini menunjukkan bahwa setiap hal harus dinilai dan dievaluasi menurut Kristus. Ketika kita memandang diri sendiri, keluarga kita, situasi kita, dan lingkungan sekitar kita, kita tidak boleh menilai semua itu menurut tradisi manusia, melainkan menurut Kristus.

TIDAK MEMAKSAKAN HAL-HAL TERTENTU

Ayat 16 mengatakan, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.” Di sini kita tampak masalah menghakimi dan opini-opini. Kita menghakimi orang sebab kita mempertahankan hal-hal tertentu. Sebagai contoh, jika kita mempertahankan cara makan tertentu, kita akan menghakimi orang lain menurut apa yang kita pertahankan itu. Di pihak lain, kita juga akan dihakimi orang lain karena itu. Kalau saya memaksa semua orang kudus makan makanan Kanton, saya akan dihakimi oleh mereka. Tetapi, jika saya tidak memaksakan jenis makanan yang mana pun, saya tidak akan dikritik orang dalam hal makanan. Demikian pula tentang minuman dan pemeliharaan hari-hari.

Mengatakan kita tidak memaksakan apa-apa, berarti kita tidak agamis dan filosofis. Orang yang agamis atau filosofis selalu mempertahankan hal-hal tertentu. Perbuatan mereka itu mengundang penghakiman dan kritikan dari orang lain. Karena itu, jika kita tidak ingin membiarkan orang lain menghakimi kita, kita sendiri tidak seharusnya mempertahankan hal-hal tertentu.

Dalam ayat 17 Paulus mengatakan bahwa hal-hal yang disebut dalam ayat sebelumnya “hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus”. Jangan memperhatikan apa pun yang menggantikan Kristus. Jika kita hanya memperhatikan Kristus, kita tidak akan dihakimi orang.

Dalam pasal 2 Paulus memakai kata “jangan ada yang” atau “jangan kamu biarkan” sebanyak 4 kali. Dalam 2:4 ia mengatakan jangan ada yang memperdayakan kita; dalam 2:8, jangan ada yang menawan kita; dalam 2:16, jangan biarkan orang menghakimi kita, dan terakhir dalam 2:18, jangan biarkan kemenangan kita digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat.

Dalam ayat 20-21 Paulus bertanya, kalau kita telah mati bersama Kristus dan bebas dari unsur-unsur dunia, mengapakah kita masih menaklukkan diri pada berbagai peraturan, seolah-olah kita masih hidup di dunia: jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini. Dalam ayat 22 kita tampak bahwa peraturan-peraturan yang demikian adalah menurut perintah-perintah dan pengajaran manusia. Kita telah menunjukkan bahwa unsur-unsur dunia adalah tradisi manusia belaka.

MENANGGULANGI PENGGANTI-PENGGANTI

Paulus menulis Surat Kiriman ini karena tradisi manusia dan unsur-unsur dunia merajalela di Kolose. Kaum saleh telah teperdaya dan tertawan olehnya. Lagi pula, mereka telah dihakimi dan pahala mereka dirampas. Penemuan terbaik dari kebudayaan itu telah menipu kaum saleh dan menyimpangkan mereka dari Kristus. Aspek-aspek kebudayaan itu telah menggantikan Kristus. Dalam pengalaman kaum saleh, hal-hal itu telah menjadi barang pengganti Kristus. Karena itu, Paulus menulis kitab ini untuk menanggulangi masalah ini.

Dalam Kitab Kolose, yang wahyunya lebih tinggi daripada Kitab 1 Korintus dan Galatia ini, Paulus menanggulangi kebudayaan yang terbentuk dari agama dan filsafat. Bagi masyarakat manusia, filsafat dan agama itu perlu dan baik. Jika masyarakat tidak memiliki agama dan filsafat, orang akan menjadi biadab, berkelakuan seperti binatang. Meskipun agama dan filsafat diperlukan bagi masyarakat manusia, tetapi tidak ada tempat bagi kedua hal itu dalam hidup gereja. Kedua hal tersebut telah menggantikan Kristus. Gereja memerlukan Kristus, persona hidup yang almuhit, bukan agama atau filsafat.

YANG SULUNG DARI SEGALA YANG DICIPTAKAN

Beberapa pernyataan atau ungkapan Paulus dalam Kitab Kolose telah membingungkan para ahli teologi dan penafsir Alkitab. Satu ungkapan yang menyulitkan ialah “yang sulung dari segala yang diciptakan” (1:15). Meskipun beberapa ahli teologi dengan bebas membicarakan Kristus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan, tetapi mereka enggan untuk menelaah frase yang menyulitkan ini. Namun Paulus mengatakan bahwa Dia yang adalah gambar Allah yang tidak kelihatan ini adalah yang sulung dari segala yang diciptakan. Para ahli teologi mungkin dengan senang menunjukkan bahwa Kristus adalah yang pertama bangkit dari antara orang mati, Dia adalah yang pertama-tama dibangkitkan. Tetapi, jarang sekali yang ingin menunjukkan, sebagai yang sulung dari segala yang diciptakan, Kristus juga adalah yang pertama dari makhluk ciptaan. Siapa saja yang mengikuti Paulus untuk menyatakan demikian mungkin akan dituduh sebagai bidah. Walaupun demikian, kita tidak dapat menghilangkan perkataan Paulus dari dalam Alkitab yang mengatakan Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan dan yang sulung dari segala yang diciptakan.

Dalam Kolose 1:16 Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus. Ini termasuk hal-hal yang ada di surga maupun di bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Bahkan hal-hal yang diharam-kan oleh orang-orang Yahudi, meliputi kura-kura, katak, ular, dan babi, semua termasuk hal yang diciptakan di dalam Kristus. Kali pertama saya membaca ayat ini menurut terjemahan dwibahasa Yunani — Inggris, saya sangat terkejut. Saya berkata kepada diri sendiri, “Apakah Paulus mengartikan bahkan kura-kura dan ular-ular pun diciptakan di dalam Kristus?” Tidak usah disangsikan, perkataan Paulus pasti mencakup makhluk-makhluk itu juga. Kolose 1:16 merupakan pukulan telak terhadap filsafat Gnostik. Kita telah menunjukkan bahwa menurut ajaran Gnostik, dunia materi, termasuk tubuh manusia, pada dasarnya jahat. Tetapi Paulus memaklumkan bahwa segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, dan Kristus sendiri adalah yang sulung dari segala yang diciptakan. Pernyataan ini telah menanggulangi konsepsi orang Yunani dan Yahudi. Karena segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, maka kita tidak boleh menganggap sifat hakiki ciptaan itu jahat, dan tidak boleh menghina aspek mana pun dari ciptaan Allah di dalam Kristus.

MENURUT KRISTUS

Keinginan Paulus terhadap orang-orang Kolose ialah agar mereka tidak mengajar orang lain menurut tradisi manusia, melainkan menurut Kristus semata. Penting sekali bagi kita untuk belajar menilai segala sesuatu dan meng-evaluasinya menurut Kristus, bukan menurut mentalitas kebudayaan. Sebagai contoh, pandangan kita dalam hal pernikahan harus menurut Kristus, bukan menurut kebudayaan kita. Saya sangat mengapresiasi ungkapan “menurut Kristus” ini. Kita tidak seharusnya mengizinkan apa pun menjadi pengganti Kristus. Kristus dan hanya Kristus adalah standar dan dasar ukuran. Ini berarti kita tidak boleh menilai apa pun menurut kebudayaan, menurut tradisi, atau unsur-unsur dunia. Dalam gereja, Kristus adalah satu-satunya patokan, standar, dan dasar. Inilah prinsip dasar dalam pelaksanaan hidup gereja.

Kebudayaan telah menyusup ke dalam gereja di Kolose, menggantikan Kristus, serta menawan kaum saleh. Kaum saleh telah diselewengkan dari Kristus, bukan oleh dosa atau keduniawian, melainkan oleh beberapa aspek yang paling berkembang dari kebudayaan. Hari ini prinsipnya juga sama. Walaupun kita di dalam hidup gereja membenci dosa, tidak banyak di antara kita yang membenci kebudayaan. Sebaliknya, secara tidak sadar dan di alam bawah sadar kita semua memustikakan kebudayaan kita. Kita menilai tinggi latar belakang kebudayaan kita yang khas. Dalam hidup gereja, Kristus lebih banyak digantikan oleh kebudayaan daripada hal yang lain yang mana pun. Kita lebih banyak hidup menurut kebudayaan daripada menurut Kristus.

RAHASIA EKONOMI ALLAH

Setelah Paulus dalam pasal 1 menunjukkan bahwa Kristus adalah yang sulung dari segala yang diciptakan, segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, dan segala sesuatu hidup di dalam Dia, dia mengatakan kepada kita bahwa Kristus yang almuhit ini adalah rahasia ekonomi Allah. Allah ingin menggarapkan Kristus ke dalam diri kita. Kristus di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan. Kini kita perlu bertumbuh di dalam Dia untuk mencapai kematangan dan menjadi dewasa. Jadi, ekonomi Allah berfokus pada Kristus.

RAHASIA ALLAH

Dalam Kolose 2:2 Paulus berkata selanjutnya bahwa Kristus adalah rahasia Allah. Segala adanya Allah dan segala milik Allah terwujud di dalam Kristus. Sebagai rahasia Allah, Kristus adalah wujud, definisi, dan penjelasan Allah. Segala yang ingin Allah lakukan berkaitan dengan Kristus.

REALITAS SEGALA HAL YANG POSITIF

Tidak hanya demikian, Dia yang adalah rahasia dan wujud Allah ini juga adalah realitas segala hal yang positif. Menyinggung hal-hal yang terdaftar dalam Kolose 2:16, Paulus berkata dalam ayat 17 bahwa semuanya itu “hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus.” Makan, minum, hari raya, bulan baru, hari Sabat, semua adalah bayangan, sedangkan wujud-nya, realitasnya, dan substansinya adalah Kristus. Kristus adalah makanan dan minuman yang sejati. Dia juga adalah hari raya, bulan baru, dan hari Sabat yang sejati. Sebagai perwujudan Allah, Kristus adalah realitas setiap hal yang positif. Karena itu, tidak ada tempat bagi agama Yahudi atau filsafat Yunani, hanya ada kedudukan bagi Kristus yang almuhit. Meskipun Paulus dahulu sangat bergairah dalam agama Yahudi, tetapi ketika ia menerima wahyu tentang Kristus, ia menyadari bahwa filsafat Yunani maupun tradisi Yahudi tidak terbilang apa. Dalam ekonomi Allah hanya Kristus saja yang terhitung.

Dalam Kolose 2:6 Paulus berkata, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” Hal pertama yang kita lakukan terhadap Kristus ialah menerima Dia. Kemudian kita perlu hidup di dalam Dia. Kristus bukan hanya hayat kita, Dia juga adalah wilayah, lingkungan, atau alam kita, di mana kita hidup. Banyak orang beriman telah memiliki pengalaman menerima Kristus sebagai Penebus, Juruselamat, dan hayat. Tetapi kita perlu juga menerima Dia sebagai rahasia Allah, perwujudan Allah, dan realitas segala hal yang positif.

Kita perlu menerapkan perihal mengalami Kristus sebagai realitas setiap hal yang positif ke setiap bagian kehidupan sehari-hari kita. Ketika kita makan, kita harus menerima Kristus sebagai makanan yang sejati. Daripada mengucapkan syukur menurut tradisi, lebih baik kita mengucapkan ucapan syukur yang lebih tinggi sesuai dengan wahyu dalam Kitab Kolose, “Tuhan Yesus, aku tidak hanya bersyukur kepada-Mu atas makanan-makanan ini dan menerimanya. Tuhan, aku menerima Engkau sebagai realitas makanan ini.” Kita yang percaya kepada Kristus harus memandang segala hal dan menilai segala hal menurut Kristus, yang menjadi segala sesuatu kita secara riil. Jika kita memandang segala hal menurut Kristus, kehidupan sehari-hari kita pasti akan berubah.

Dalam Kolose 2:3 Paulus menunjukkan kepada kita bahwa di dalam Kristus tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Kemudian dia memperingatkan kita agar jangan ada orang yang memperdayakan kita dengan kata-kata yang indah, sehingga kita meninggalkan Kristus. Kita tidak boleh membiarkan agama atau filsafat memperdayakan kita dan menyimpangkan kita dari Kristus. Kita tidak boleh beralih dari Kristus kepada kebudayaan macam apa pun. Kristus, rahasia Allah, dan substansi atau wujud setiap hal positif adalah segala sesuatu bagi kita: makanan, pakaian, tempat tinggal, transportasi. Ketika kita memandang semua hal yang positif dalam alam semesta, kita harus menilai mereka menurut Kristus. Alangkah besarnya wahyu ini! Kristus yang kita terima bukanlah Kristus yang sempit. Sebaliknya, Dia tidak terbatas, dan almuhit. Dia bukan hanya Penebus, Juruselamat, dan hayat kita, Dia bahkan segala sesuatu bagi kita. Betapa lengkap dan kaya Kristus yang kita terima!

BERPERILAKU DI DALAM KRISTUS

Setelah menerima Kristus yang sedemikian, kita sekarang harus berperilaku di dalam Dia. Banyak orang Kristen mengira Kristus yang telah mereka terima hanyalah Penebus, Juruselamat, dan hayat mereka. Mereka mengapresiasi Dia sebagai Penebus yang mengalirkan darah-Nya untuk mereka, dan sebagai Juruselamat yang menyelamatkan mereka dari dosa. Tetapi mereka belum menyadari bahwa Kristus yang mereka terima adalah perwujudan Allah dan realitas segala hal positif. Kita perlu berperilaku di dalam Kristus almuhit yang sedemikian. Ketika Anda makan, berperilakulah di dalam-Nya. Ketika Anda mengenakan pakaian, berperilakulah di dalam-Nya. Berperilakulah di dalam-Nya ketika Anda bercakap-cakap dengan suami atau istri Anda.

Kita perlu menjadi orang-orang yang dipenuhi oleh Kristus, dijenuhi oleh Kristus, diselubungi Kristus, dan sepenuhnya diduduki oleh Kristus. Banyak di antara kita yang berada dalam pemulihan Tuhan belum lagi dijenuhi oleh Kristus. Dalam sidang-sidang gereja kita mungkin berdoa atau berkidung dalam Kristus. Tetapi segera setelah kita pulang ke rumah, kita mungkin mengabaikan Kristus sama sekali dan hidup menurut kebudayaan kita. Dalam sidang, kita mungkin mengumumkan bahwa bagi kita hidup adalah Kristus. Tetapi, dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya di rumah, kita mungkin hidup oleh diri sendiri, bukan oleh Kristus. Betapa berbedanya jika dalam kehidupan sehari-hari kita di rumah kita dapat hidup oleh Kristus! Sewaktu seorang saudari memasak, mungkin ia menyadari bahwa baginya memasak di dapur adalah Kristus. Jika kita semua berlatih hidup oleh Kristus dari hari ke hari, kita akan memperhidupkan Kristus, mempertumbuhkan Kristus, dan menghasilkan Kristus. Kita perlu tampak Kristus dalam segala hal dan berperilaku di dalam Dia dalam kehidupan sehari-hari.

BERAKAR DI DALAM KRISTUS

Dalam Kolose 2:7 Paulus mengatakan bahwa kita harus berakar di dalam Kristus. Kita adalah tanaman yang berakar di dalam Kristus sebagai tanah yang sejati. Kristus adalah tanah yang di dalam-Nya kita bertumbuh. Tidak hanya demikian, Kristus juga adalah segala keperluan kita untuk bertumbuh. Dia adalah pupuk, air, dan suplai hayat kita.

DIPENUHI DI DALAM KRISTUS

Dalam Kolose 2:10 Paulus melanjutkan bahwa kita telah dipenuhi di dalam Kristus. Tetapi saya ragu di antara kita ada yang berani mengatakan bahwa kita ini penuh, karena kita masih belum memiliki pengalaman yang penuh atas Kristus. Kepenuhan ke-Allahan berdiam secara jasmaniah di dalam Kristus, dan kita telah dipenuhi di dalam Dia. Dalam pengalaman kita, kita perlu menerima Dia, berperilaku di dalam Dia, berakar di dalam Dia, dan kemudian dipenuhi di dalam Dia. Saya harap dalam sidang gereja akan ada banyak kesaksian tentang bagaimana kita dipenuhi di dalam Kristus. Perlu ada kesaksian-kesaksian tentang betapa kita telah dipenuhi di dalam pengetahuan, hikmat, kesabaran, kebaikan, kerendahan hati, kasih, dan daya pembeda. Kita kekurangan kesaksian-kesaksian semacam ini, karena kita kekurangan Kristus dalam pengalaman kita. Kita tidak dipenuhi di dalam Dia dari hari ke hari. Kita bukan dipenuhi dalam hal-hal tersebut, melainkan kekurangan hal-hal tersebut. Sebagai contoh, kita tidak dipenuhi daya pembeda dalam menghadapi situasi, malah kekurangan daya pembeda tersebut. Ketika Anda mendengar kesaksian-kesaksian kaum saleh, Anda akan tampak bahwa kebanyakan di antara kita kekurangan pengalaman atas Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Banyak di antara kita yang masih belum mengenal dengan memadai bahwa Kristus yang telah kita terima adalah yang almuhit, dan kita harus berperilaku di dalam Dia. Tetapi jika kita berperilaku di dalam Kristus yang sedemikian, dan telah berakar di dalam Dia, kita akan dipenuhi di dalam Dia.

Kita telah menunjukkan bahwa Kristus adalah realitas, substansi atau wujud segala bayangan. Setelah tampak ini, seharusnya kita tidak lagi memperhatikan bayangan-bayangan, melainkan memperhatikan Kristus yang almuhit. Perhatian kita tidak boleh hanya pada masalah menjadi kudus, rohani, dan menang; tetapi pada memiliki dan mengalami Kristus yang almuhit. Kita perlu memandang kepada rahmat dan anugerah Tuhan agar kita dapat mengalami Kristus yang sedemikian.

KRISTUS SEBAGAI HAYAT KITA

DAN UNSUR MANUSIA BARU

Dalam pasal 3 kita tampak Kristus adalah hayat dan unsur manusia baru. Manusia baru, yang adalah gereja, Tubuh Kristus, tersusun dari Kristus yang menjadi hayat kita. Dia hidup di dalam kita, dan kita hidup di dalam Dia. Selain Kristus yang demikian, apa lagi yang kita inginkan? Saya dapat bersaksi bahwa saya tidak menginginkan apa pun selain Kristus yang almuhit; Dia adalah hayat saya dan unsur manusia baru

DAMAI SEJAHTERA KRISTUS

YANG MENJADI JURI

Dalam Kolose 3:15 Paulus berkata, “Hendaklah damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu Tubuh” (Tl.). Efesus 2 menerangkan kepada kita bahwa Kristus di atas salib telah mengadakan damai sejahtera. Kita harus membiarkan damai sejahtera ini menjadi juri di dalam kita. Ini menyiratkan bahwa kita perlu mengesampingkan opini-opini kita. Orang-orang Yunani harus melupakan filsafat mereka, dan orang-orang Yahudi harus melupakan peraturan-peraturan, tata cara-tata cara mereka. Kita tidak seharusnya memperhatikan filsafat-filsafat dan peraturan-peraturan, kita harus memperhatikan damai sejahtera Kristus yang diam di batin kita. Kritus telah membatalkan peraturan-peraturan dan konsepsi-konsepsi filsafat di atas salib. Kristus telah menghapuskan perbedaan-perbedaan di antara manusia, agar di dalam diri-Nya dapat diciptakan satu manusia baru. Damai sejahtera yang dihasilkan melalui pembatalan perbedaan-perbedaan kebudayaan itu sekarang harus menjadi juri di dalam hati kita. Kita wajib membiarkan damai sejahtera ini menjadi wasit di batin kita. Ketika damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita, semua opini akan ditundukkan.

Kita berharap agar jumlah kaum saleh dalam gereja dalam pemulihan Tuhan akan berangsur-angsur bertambah. Tidak usah disangsikan, ada banyak orang yang berlatar belakang berbeda-beda akan masuk ke dalam hidup gereja. Orang-orang yang berbeda itu memiliki opini yang berbeda-beda pula. Kita tidak perlu berbantahan atas opini-opini itu, kita perlu membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam hati kita. Biarlah kita semua berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu. Tuhan, aku tidak memperhatikan opini atau keputusanku; aku hanya memperhatikan damai sejahtera-Mu. Aku tidak mempertahankan kesukaan-ku. Aku ingin damai sejahtera-Mu menjadi juri, memerintah di dalamku, dan memutuskan segalanya.”

PERKATAAN KRISTUS YANG BERHUNI

Dalam Kolose 3:16 Paulus meneruskan, “Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kamu” (Tl.). Kita perlu membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita. Kita tidak seharusnya dipenuhi oleh tradisi Yahudi atau filsafat Yunani, melainkan oleh perkataan Kristus. Kita adalah wadah perkataan Kristus, bukan penampung filsafat atau agama. Kita perlu dikosongkan dari segala hal itu agar dapat dipenuhi oleh perkataan Kristus. Jika kita mengizinkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita, dan jika kita dipenuhi dengan perkataan Kristus, kita pasti akan memiliki manusia baru secara riil. Semua orang kudus dalam semua gereja dalam pemulihan Tuhan akan memperhidupkan Kristus dalam satu manusia baru. Pada suatu hari, Kristus yang menjadi hayat kita akan menyatakan diri dalam kemuliaan, dan kita pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan (Kol. 3:4). Tetapi, hari ini kita perlu hidup oleh Dia. Kita harus memperhatikan Dia sebagai hayat kita dan unsur manusia baru, bukan memperhatikan latar belakang, kebudayaan, opini, dan keputusan kita. Kita ingin damai sejahtera-Nya menjadi juri di dalam kita, dan perkataan-Nya memenuhi kita.

SEMUA DAN DI DALAM SEGALA SESUATU

Kita telah berkali-kali menegaskan bahwa dalam manusia baru tidak ada tempat bagi orang Yahudi atau Yunani, orang bersunat atau tak bersunat, orang berkebudayaan atau tidak berkebudayaan, budak atau orang merdeka (Kol. 3:11). Dalam manusia baru hanya ada tempat bagi Kristus. Sebab itu, dalam manusia baru Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Dia adalah setiap bagian dari manusia baru, dan Dia berada dalam setiap bagian. Hal ini tidak seharusnya menjadi satu ajaran belaka, melainkan menjadi pengalaman kita yang riil dari hari ke hari. Semoga kita semua memiliki satu pengalaman yang lengkap atas Kristus yang almuhit, Kristus yang adalah segala sesuatu bagi kita.