KRISTUS YANG ALMUHIT (1)
Pembacaan Alkitab: Kol. 1:12-29
Dalam berita ini kita akan melihat Kristus yang almu-hit yang diwahyukan dalam Kitab Kolose. Kebanyakan orang kudus dalam pemulihan Tuhan mengenal istilah “Kristus yang almuhit” ini. Kita telah menekankan dalam berbagai berita bahwa Kristus dalam Kitab Kolose adalah Sang al-muhit. Namun demikian, saya tidak terlalu yakin bahwa kealmuhitan Kristus telah diwahyukan dengan memadai kepada kaum saleh. Dengan cara apakah Kristus menjadi Sang almuhit? Dalam aspek-aspek, butir-butir, dan hal-hal apakah Ia menjadi almuhit? Kita perlu mampu menunjuk-kan berbagai aspek kealmuhitan Kristus itu.
Dalam Kolose 1:12 kita nampak bahwa Kristus adalah bagian orang-orang kudus. Namun istilah yang umum ini pun bahkan tidak memberi tahu kita dalam aspek apakah Kristus menjadi almuhit. Mengatakan Kristus adalah bagian kita boleh diumpamakan seperti mengatakan kita baru saja makan malam. Makanan khusus apakah yang menjadi santapan malam itu? Banyak hal yang dapat digabungkan dan disebut suatu santapan malam. Kita mungkin meng-umumkan bahwa Kristus adalah bagian kita, tetapi dalam cara khusus apakah Ia menjadi bagian kita? Mengenai ke-almuhitan Kristus, kita perlu lebih tegas dan khusus.
GAMBAR ALLAH YANG TIDAK KELIHATAN
Menurut Kitab Kolose, aspek pertama dari kealmuhitan Kristus ialah bahwa Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (1:15). Aspek kealmuhitan Kristus ini mencakup semua ayat dari 1:15 hingga akhir pasal 1. Dalam ayat 15 Paulus berkata, “Dialah gambar Allah yang tidak kelihat-an, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Ketika kita membaca ayat ini, mudah sekali dalam pikiran kita menyisipkan sebuah kata penghubung “dan” di antara kata “gambar Allah” dengan kata “yang sulung”. Berbuat demikian akan sangat mengubah ayat ini, sebab dengan di-sisipkannya kata penghubung itu mengisyaratkan bahwa gambar dengan yang sulung merupakan dua hal yang ber-beda. Tetapi, frase “yang sulung dari segala yang dicipta-kan” pada hakikatnya adalah keterangan tambahan “gam-bar Allah yang tidak kelihatan”. Gambar Allah yang tidak kelihatan diekspresikan dalam yang sulung dari segala yang diciptakan. Lagi pula, yang sulung dari segala yang dicip-takan adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan, maka Kristus adalah yang sulung dari segala yang diciptakan.
Gambar Allah menunjukkan ekspresi Allah, seperti gambar seseorang menunjukkan ekspresi orang tersebut. Jika kita tidak memiliki gambar, tidak mungkin kita mengeks-presikan diri kita. Kristus adalah ekspresi Allah, gambar Allah. Selaku gambar Allah, Kristus mengekspresikan Allah dalam menjadi yang sulung dari segala yang diciptakan. Alam semesta adalah ekspresi Allah.
PANDANGAN MENYELURUH TERHADAP ALKITAB
Mengenai aspek kealmuhitan Kristus ini, sangatlah berfaedah kalau kita memiliki suatu pandangan menyelu-ruh terhadap Alkitab — wahyu lengkap Allah. Walau benar mengatakan Alkitab itu mewahyukan Allah, tetapi Alkitab dalam pewahyuan atas Allah tidaklah sesederhana itu. Ki-tab Kejadian diawali dengan perkataan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Lalu, dalam pembukaan Ki-tab Maleakhi, kitab terakhir dari Perjanjian Lama, Allah diwahyukan sebagai persona yang mengasihi Yakub. Dalam Perjanjian Lama Allah diwahyukan sebagai Pencipta alam semesta, dan persona yang mengasihi Israel. Tidak heran kalau orang-orang Yahudi menyukai Perjanjian Lama!
Pada Perjanjian Baru, kita melihat Kitab Matius di-awali dengan perkataan, “Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.” Injil Yohanes diawali demikian, “Pada mulanya ada Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dalam ki-tab terakhir dari Perjanjian Baru, Kitab Wahyu, ada perka-taan sebagai berikut: “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Anugerah dan damai sejahtera menyer-tai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini” (1:4-5a). Alangkah besarnya per-bedaan antara ayat-ayat dalam Kitab Wahyu ini dengan kata pembukaan Kitab Kejadian! Perbedaan ini bahkan jauh melampaui pembukaan Injil Matius dan Yohanes. Hari ini kita berada di dalam gereja-gereja lokal. Ada satu penya-luran terhadap gereja-gereja yang bukan hanya dari Allah atau dari firman, lebih-lebih dari Allah Tritunggal — dari Dia yang ada, dan yang sudah ada, dan yang akan datang, dari ketujuh Roh, dan dari Yesus Kristus.
Dalam Wahyu 1:5 Kristus dilukiskan sebagai “Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini.” Nama Yesus menyiratkan inkarnasi, dan sebutan Kristus menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Dia yang diurapi Allah. Dia adalah Saksi yang setia dalam kehidupan insani-Nya, dan Dia adalah yang pertama bangkit dari antara orang mati. Dalam kenaikan dan penobatan-Nya, Dia adalah penguasa raja-raja bumi ini, sebab Dia sekarang adalah Tuhan dan Kepala dari segala sesuatu. Tidak hanya demikian, Dia akan menguasai seluruh bangsa ketika Dia datang untuk meme-rintah dalam kerajaan-Nya. Sebab itu, gambaran Kristus dalam ayat ini meliputi segala hal mulai dari inkarnasi Kristus hingga Kerajaan-Nya yang kekal.
Wahyu ilahi dalam Alkitab memperlihatkan bahwa Kristus, Sang almuhit ini adalah untuk gereja. Bahkan se-cara lebih pasti lagi, Kitab Wahyu memperlihatkan bahwa Dia adalah untuk gereja-gereja. Jadi, Alkitab mewahyukan bahwa Kristus adalah untuk gereja-gereja.
KEBUDAYAAN — PENGHAMBAT
KEHENDAK ALLAH
Melalui kejatuhan manusia, ada hal-hal negatif tertentu yang masuk untuk menghalangi Kristus untuk gereja. Hal-hal negatif ini termasuk Iblis, dosa, dan dunia. Mudah di-pahami bahwa hal-hal ini adalah penghambat kehendak Allah. Namun, ada lagi hal yang lain yang sangat licik yang merintangi Kristus dan gereja; unsur yang licik dan yang bertentangan itu adalah kebudayaan. Walaupun kata kebu-dayaan tidak terdapat dalam Perjanjian Baru, namun pada kenyataannya, kebudayaan merupakan penghambat kehen-dak Allah.
Dalam Kitab 1 Korintus Paulus menanggulangi berba-gai hal negatif seperti percabulan dan perpecahan. Hal-hal daging itu membuat kaum beriman di Korintus kehilangan kenikmatan yang tepat atas Kristus. Dalam Kitab Galatia, Paulus menanggulangi hukum Taurat dan ketentuan-keten-tuan agama Yahudi yang menghalangi kaum beriman di Galatia menikmati Kristus. Dalam Kitab Kolose, hal yang mengganggu kaum beriman untuk menikmati Kristus ada-lah kebudayaan.
Unsur-unsur utama dari kebudayaan di Kolose pada masa Paulus ialah agama Yahudi dan filsafat Yunani. Ke-budayaan Ibrani dan kebudayaan Yunani muncul bersama di Asia Kecil dan membentuk suatu campuran. Ada bebe-rapa orang Yahudi dan Yunani di Kolose telah masuk ke dalam gereja. Ketika mereka masuk ke dalam hidup gereja, mereka juga membawa latar belakang kebudayaan mereka yang berbeda-beda itu. Mengatakan kita mempunyai latar belakang yang berbeda sebenarnya berarti kita mempunyai kebudayaan yang berbeda. Kaum beriman Yahudi di Kolose memiliki satu latar belakang kebudayaan Yahudi, dan kaum beriman Yunani memiliki latar belakang kebudayaan Yunani. Dari pengalaman kita tahu bahwa masuk ke dalam hidup gereja belum tentu berarti kita membuang latar belakang kebudayaan kita. Seperti kaum beriman Yahudi dan Yunani di Kolose, kita pun mungkin mencoba membawa masuk as-pek-aspek tertentu dari kebudayaan kita ke dalam hidup gereja, yang kita anggap penting dan berharga.
Kita tahu bahwa kita masih berada di bawah pengaruh latar belakang kebudayaan sebab kita bereaksi ketika orang lain mengkritik atau memuji latar belakang kita. Sebagai contoh, kalau saya berkata positif tentang kebudayaan Ya-hudi, kaum beriman Yahudi akan merasa senang. Tetapi, kalau saya berkata negatif, mereka mungkin tidak senang. Begitu pula, jika saya menganjuri kaum saleh China agar tidak mengunjungi Chinatown, mereka mungkin tidak se-nang. Tetapi, jika saya mengatakan sesuatu yang baik ten-tang kebudayaan China, mereka akan merasa gembira.
Kebudayaan kita bukan hanya mencakup kebangsaan atau kewarganegaraan kita, bahkan perasaan kita yang khusus terhadap suatu daerah tertentu dari negara kita. Orang-orang New England menyenangi New England, dan orang-orang Texas membanggakan Texas. Semua contoh ini menunjukkan betapa mendalamnya pengaruh kebudayaan dan betapa sulitnya kita meninggalkan latar belakang kita.
Di Kolose, kebudayaan Yahudi dan Yunani telah menyerbu hidup gereja dan menyusup ke dalamnya. Namun, hidup gereja seharusnya mutlak berada dalam Kristus, beserta dengan Kristus, dari Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus. Akan tetapi ketika kebudayaan memenuhi gereja, gereja sudah tidak lagi untuk Kristus, melainkan untuk kebudayaan manusia. Jadi, gereja tidak lagi menjadi gereja Kristus, sebaliknya menjadi gereja dari sejenis kebudayaan.
Akhir-akhir ini, saya melihat sebuah merek dalam ak-sara China: Gereja Kristen Taiwan di Orange County. Saya sangat terkejut melihat merek demikian di California Sela-tan. Istilah “Gereja Taiwan” ini menunjukkan betapa ke-budayaan menyebar dan membentuk gereja. Setelah gereja dibangun di negara tertentu, mudah sekali kebudayaan ne-gara itu masuk ke dalam gereja. Akibatnya, gereja tidak lagi murni di dalam Kristus, dari Kristus, beserta Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus. Kitab Kolose ditulis kare-na gereja di Kolose telah disusupi oleh kebudayaan. Filsa-fat, unsur-unsur dunia, dan penyembahan kepada malaikat adalah aspek-aspek kebudayaan yang telah menyusup ke dalam gereja di lokal tersebut.
KRISTUS DAN CIPTAAN
Dalam menanggulangi kebudayaan yang menyusup ke dalam gereja di Kolose, Paulus menunjukkan dalam Kolose 1:15 bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak ke-lihatan, yang sulung dari segala yang diciptakan. Dalam ayat berikutnya Paulus berkata selanjutnya, “Karena di da-lam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Dalam ayat 17 diteruskan, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu me-nyatu (berkelangsungan) di dalam Dia.” Kita perlu melihat beberapa ayat ini dari latar belakang filsafat Yunani dan Gnostikisme. Gnostikisme diambil dari berbagai sumber, mencampurkan ajaran dan praktek kafir, agama Yahudi, dan kemudian ajaran dan praktek agama Kristen. Gnostikis-me menyelidiki rahasia-rahasia yang ada di balik bentuk-bentuk luar dari agama-agama kafir, dan mengajarkan ten-tang adanya dua dewa atau dua asas: terang dan kegelap-an, kebaikan dan kejahatan. Gnostikisme berkaitan dengan filsafat Yunani. Menurut Gnostikisme, tubuh jasmani ma-nusia dan seluruh dunia material itu jahat. Di bawah pe-ngaruh konsepsi filsafat ini, beberapa orang beriman di Ko-lose mengira bahwa surga, bumi, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia materi adalah jahat. Mereka tidak hidup berdasarkan Kristus, melainkan hidup berdasarkan filsafat itu. Paulus berdebat dengan mereka, menunjukkan bahwa Kristus yang mereka percayai adalah yang sulung dari segala hal materi yang diciptakan. Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu, termasuk semua benda materi, dicip-takan di dalam Kristus, melalui Kristus, dan untuk Kristus. Tidak hanya demikian, segala hal itu pun berkelangsungan di dalam Kristus. Ini merupakan pukulan telak terhadap filsafat Gnostik. Karena segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus, dan karena se-muanya berkelangsungan di dalam Kristus, maka kita ha-rus memiliki pandangan yang positif terhadap semua itu. Kita tidak seharusnya menganggap hakiki hal-hal itu jahat, seperti anggapan kaum Gnostik.
Kristus adalah yang sulung dari segala yang diciptakan untuk mengekspresikan Allah. Kita telah menunjukkan bah-wa Kristus adalah gambar Allah. Allah itu tidak kelihatan. Tetapi jika kita melihat ciptaan Allah, kita akan nampak bahwa ciptaan itu adalah ekspresi Allah yang tidak kelihat-an, sama sekali tidak jahat. Dalam ciptaan kita nampak ekspresi kuasa dan sifat Allah. Roma 1:20 mengatakan, “Sebab sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipa-hami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga me-reka tidak dapat berdalih.” Kristus adalah gambar Allah yang terekspresi dalam ciptaan. Jika kita nampak hal ini, kita tidak akan memandang remeh ciptaan. Kita akan menya-dari bahwa semua benda materi diciptakan di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus, dan semua itu hidup di dalam Kristus dengan tujuan agar Allah dapat terekspresi.
Dalam Surat Kiriman ini seolah-olah Paulus berkata kepada orang-orang Kolose, “Kristus itu almuhit. Kalian ha-rus percaya kepada Dia, bukan kepada filsafat kalian. Me-nurut filsafat kalian, hal-hal materi adalah jahat. Tetapi menurut Kristus, segala hal itu baik. Jangan mengatakan hal-hal materi itu jahat dan gelap. Sebaliknya, kalian perlu nampak bahwa Kristus adalah yang sulung di antara se-mua yang diciptakan. Bila kalian melihat langit, kalian se-harusnya teringat akan Kristus. Bila kalian melihat bumi, kalian seharusnya memikirkan Kristus. Kalian seharusnya mengenang Kristus bahkan ketika kalian melihat diri ka-lian sendiri.” Setiap aspek ciptaan Allah diciptakan di da-lam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus. Semua hal ini berkelangsungan di dalam Kristus demi ekspresi Allah. Ekspresi Allah dalam ciptaan ini adalah Kristus sebagai gambar Allah.
DUA CIPTAAN ALLAH
Allah mempunyai dua ciptaan: ciptaan lama dan cipta-an baru. Ayat 18 ditujukan kepada ciptaan baru. Di sini dikatakan kepada kita bahwa Kristus adalah “yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati”. Kristus ada-lah Kepala Tubuh, gereja, yaitu ciptaan baru Allah. Kristus bukan hanya yang sulung dari ciptaan lama, juga yang su-lung, yang pertama bangkit dari antara orang mati dalam ciptaan baru. Baik dalam ciptaan lama maupun dalam cip-taan baru, Kristus adalah yang utama. Jika ciptaan lama ada di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus, dan berkelangsungan di dalam Kristus, maka terlebih lagi cipta-an baru. Sebagai ciptaan baru, kita, gereja, berada di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus. Lagi pula, kita hidup dari saat ke saat di dalam Kristus. Anda di dalam cip-taan lama atau ciptaan baru? Secara lahiriah kita adalah ciptaan lama, tetapi secara batiniah kita adalah ciptaan baru.
Kita telah menunjukkan bahwa baik dalam ciptaan la-ma atau baru Kristus adalah yang sulung bagi ekspresi Allah. Setelah Paulus membicarakan kedua ciptaan Allah, ia berkata dalam 1:19, “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia.” Kata kepenuhan dalam ayat ini sama dengan gambar dalam ayat 15. Istilah-istilah ini merupakan sinonim. Kristus adalah gambar Allah dan kepe-nuhan Allah untuk mengekspresikan Allah. Gambar adalah ekspresi, dan ekspresi adalah kepenuhan. Ekspresi ini adalah melalui ciptaan lama dan ciptaan baru. Melalui kedua ciptaan inilah kita memiliki kepenuhan. Kepenuhan ini adalah ekspresi, dan ekspresi adalah gambar.
Ayat 15-19 sebenarnya bagian dari satu kalimat panjang. Kalimat ini mewahyukan bahwa aspek pertama dari kealmuhitan Kristus adalah Dia sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan. Dalam ciptaan lama dan baru, Kristus adalah kepenuhan Allah, ekspresi-Nya.
KRISTUS DI DALAM KITA
Mungkin kita tidak mengerti, apa hubungannya suatu wahyu tentang Kristus yang sedemikian dengan kita. Da-lam Kolose 1:26-27 Paulus membicarakan tentang rahasia. Rahasia ini adalah gambar, kepenuhan, dalam ayat-ayat di depannya. Menurut ayat 27, rahasia di antara bangsa-bang-sa ialah Kristus di dalam kita, pengharapan akan kemulia-an. Pernahkah Anda memahami bahwa Kristus yang ada di dalam Anda adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, ke-penuhan Allah, yang sulung dari segala yang diciptakan, dan yang pertama bangkit dari antara orang mati? Kristus yang demikian ada di dalam kita. Dalam Kolose 1:28-29, kita nampak Paulus berusaha dan bergumul untuk mempersem-bahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus.
Kita telah nampak bahwa aspek pertama dari kealmuhitan Kristus adalah gambar Allah. Kristus ini berada di dalam kita. Tetapi sekarang kita perlu bertumbuh sehingga kita dewasa dalam Kristus. Pertumbuhan ini terhambat oleh kebudayaan. Yang menghambat kita dari pertumbuhan di dalam Kristus adalah kebudayaan kita yang licik dan tersembunyi itu.
NAMPAK KRISTUS DAN HIDUP OLEH DIA
Kita semua mempunyai satu konsepsi tentang benda-benda materi dalam penciptaan. Bahkan konsepsi seperti ini pun mungkin menghambat kita menikmati Kristus dan bertumbuh di dalam Dia. Penting sekali bagi kita untuk me-nyadari bahwa kita dapat melihat Kristus dalam segala hal yang diciptakan. Kita perlu meninggalkan konsepsi kita ten-tang langit, bumi, dan benda-benda materi; kita perlu nam-pak bahwa Kristus adalah yang sulung dari ciptaan lama dan yang sulung dari ciptaan baru. Jadi, Kristus adalah se-gala sesuatu; Dia adalah almuhit. Untuk melihat Kristus sebagai segala sesuatu, kita perlu memiliki pengenalan bah-wa Kristus ini di dalam kita menjadi pengharapan akan ke-muliaan kita. Yang kita perlukan hari ini ialah bertumbuh di dalam Dia sehingga kita dewasa.
Semua orang kudus memiliki konsepsi yang berbeda-beda tentang alam semesta dan benda-benda materi. Jika mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda itu membahas konsepsi-konsepsi tersebut dengan terus te-rang dan tuntas, mereka pasti akan mengakhiri perbantah-an antar mereka. Kita sering kali bersikap sopan dan me-nyesuaikan diri agar tidak melukai orang lain. Tetapi jika kita membicarakan konsepsi kita yang berbeda tentang du-nia, kita akan mengetahui betapa kita masih hidup menu-rut filsafat kita. Orang Amerika hidup menurut filsafat Amerika, dan orang China menurut filsafat China. Walau kita berada dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, kita tetap dalam latar belakang kita. Secara doktrinal kita mungkin menyatakan bahwa Kristus ada di dalam kita sebagai pengharapan akan kemuliaan. Sebenarnya yang menduduki kita dalam batin bukanlah Kristus, melainkan filsafat kita.
Jika kita ingin memiliki sikap yang tepat terhadap hal-hal materi, kita perlu nampak bahwa berbagai aspek dari ciptaan Allah adalah ekspresi Allah oleh Kristus. Kaum ber-iman yang berlatar belakang Yahudi mungkin mengagumi keindahan ciptaan Allah. Mereka mungkin memakai perka-taan Mazmur 8 menyatakan bahwa nama Tuhan sangat mulia di seluruh bumi. Tetapi pada waktu itu pula orang-orang yang berada di bawah pengaruh filsafat yang lain mungkin menghina mereka. Orang-orang itu mungkin meng-anggap alam semesta materi itu pada hakikatnya jahat. Da-lam usaha untuk meyakinkan dan menundukkan satu sama lain, orang-orang yang berbeda-beda filsafat itu mungkin te-lah melupakan Kristus. Walaupun mereka berada di dalam gereja, mereka tidak berpegang teguh kepada Kristus seca-ra riil tentang alam semesta, sebaliknya berpegang kepada konsepsi dan pemikiran mereka.
Dalam keadaan demikian, perkataan Paulus dalam pa-sal 1 sangat penting. Paulus berkata bahwa Kristus adalah bagian orang-orang kudus, Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan. Gambar ini adalah yang sulung dari semua cip-taan. Orang Yunani tidak benar, orang Yahudi juga tidak benar. Yang benar ialah bahwa langit, bumi, dan segala ben-da materi adalah ekspresi Allah oleh Kristus. Tidak hanya demikian, gereja — ciptaan baru Allah, juga adalah ekspresi Allah. Dalam gereja kita berada di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus, dan kita berkelangsungan di dalam Kristus, menjadi ekspresi Allah di dalam Kristus.
Saya dapat bersaksi, ini bukan sekadar doktrin yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan kristiani kita se-hari-hari. Setelah nampak visi ini, konsepsi saya terhadap langit, bumi, dan segala benda materi, bahkan makanan dan pakaian telah berubah. Saya sekali-kali tidak meng-ajarkan panteisme. Tetapi menurut Alkitab, saya mengajar-kan bahwa semua benda materi diciptakan di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus. Ini juga berlaku bagi ge-reja sebagai ciptaan baru Allah. Gereja ciptakan di dalam Kristus, oleh Kristus, dan untuk Kristus, dan gereja berke-langsungan di dalam Kristus, yang adalah gambar Allah. Dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, kita seharus-nya tidak hidup menurut pikiran filsafat atau ajaran aga-ma, melainkan menurut Kristus. Kristus di dalam kita ada-lah pengharapan akan kemuliaan, dan kita kini bertumbuh di dalam Dia. Kita akan bertumbuh terus di dalam Dia hing-ga mencapai kematangan; pada waktu itu seluruh diri kita, khususnya manusia batiniah kita akan dijenuhi oleh Kristus.
Ketika kita memandang langit dan bumi, konsepsi kita terhadap semua itu harus dikaitkan dengan Kristus. Bah-kan ketika kita melihat sebuah meja, sebuah rumah, ma-kanan atau pakaian, kita harus memikirkan Kristus. Kita melihat Kristus di mana saja dan dalam apa saja. Sebab itu, kita seharusnya memperhidupkan Kristus, bukan yang lain. Kristus yang oleh-Nya kita hidup adalah Kristus yang almuhit. Aspek pertama dari kealmuhitan-Nya ialah Dia se-bagai gambar, kepenuhan, dan ekspresi Allah dalam ciptaan lama dan baru. Karenanya, konsepsi kita tentang alam semesta sepenuhnya berkaitan dengan Kristus. Kita hanya ingin mengenal Kristus dan hidup menurut Kristus.
Untuk menggambarkan Kristus dengan memadai, kita perlu menggunakan istilah-istilah yang terdapat dalam Ki-tab Kolose. Kristus adalah bagian orang-orang kudus, gam-bar Allah yang tidak kelihatan, kepenuhan Allah. Dia juga yang sulung dari yang diciptakan dan yang pertama bang-kit dari antara orang mati. Lagi pula, Dia hidup dalam kita menjadi pengharapan akan kemuliaan kita. Kini kita perlu bertumbuh di dalam Dia. Semoga kita semua menyadari bahwa alam semesta adalah ekspresi Allah oleh Kristus. Dari alam semesta kita nampak Kristus, gambar Allah yang tidak kelihatan.