Daftar isi Kolose (2) · Berita Ketiga Puluh Tiga · bab 10/21

Berita Ketiga Puluh Tiga

KRISTUS BERLAWANAN DENGAN KEBUDAYAAN BAGI MANUSIA BARU

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:2; 3:4, 10-11, 15-16; 4:2

Kitab Kolose tidak mudah dimengerti. Saya ragu apakah ada banyak pembaca kitab ini, bahkan di antara kita, yang benar-benar tampak wahyu yang termuat di dalam-nya. Karena alasan ini, banyak pembaca memperhatikan hal seperti terhiburnya hati dalam Kolose 2:2. Hal utama dalam Kitab Kolose bukan terhiburnya hati, melainkan Kristus sebagai rahasia Allah. Bahkan Kolose 2:2, yang membicarakan terhiburnya hati, juga menjelaskan hal utama tersebut: “Supaya hati mereka terhibur dan mereka terjalin bersama dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan keyakinan yang penuh akan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus” (Tl.). Hasil dari terhibur-nya hati ialah memiliki pengetahuan penuh tentang Kristus sebagai rahasia Allah. Jadi, hal utamanya bukan terhibur-nya hati, melainkan Kristus sebagai rahasia Allah.

UNSUR KEBUDAYAAN

Para pembaca Perjanjian Baru lebih mudah memahami masalah yang ditanggulangi Paulus dalam kitab seperti Korintus dan Galatia. Dalam Kitab 1 Korintus Paulus menanggulangi berbagai macam hal negatif, bahkan hal-hal dosa, yang mengganggu orang-orang Korintus dari kenikmatan yang tepat atas Kristus dan hidup gereja. Dalam Kitab Galatia Paulus menanggulangi hukum Taurat berikut agama Yahudi. Tetapi, tidak mudah untuk menunjukkan apa yang ditanggulangi Paulus dalam Surat Kiriman kepada gereja di Kolose. Beberapa penafsir Alkitab menunjukkan bahwa Paulus menanggulangi masalah-masalah seperti penyembahan terhadap malaikat dan pertapaan. Walaupun pandangan ini benar, tetapi itu hanya berkaitan dengan penampilan luaran kitab ini. Sebenarnya, dalam Kitab Kolose Paulus menanggulangi perkara kebudayaan manusia yang tersembunyi. Suatu bukti yang kuat dari hal ini ialah dipakainya kata orang “barbar” dalam Kolose 3:11, kata yang tidak pernah dipakai baik dalam 1 Korintus 12:13 maupun Galatia 3:28, yaitu ayat-ayat yang sesifat dengan Kolose 3:11. Penggunaan Paulus atas kata “barbar” dalam Kitab Kolose menunjukkan bahwa Surat Kiriman ini menanggulangi kebudayaan.

Sumber kesulitan di antara kaum beriman di Kolose adalah kebudayaan: kebudayaan Yahudi dan Yunani. Saya percaya bahwa gereja-gereja di Asia Kecil telah diresapi oleh kebudayaan Yahudi, khususnya yang berkenaan dengan ketentuan-ketentuan agama, dan oleh kebudayaan Yunani, khususnya yang berkenaan dengan filsafat. Pada masa Paulus, kebudayaan di daerah Laut Tengah mencakup tiga unsur utama: agama Yahudi, filsafat Yunani, dan politik Romawi. Dua dari unsur-unsur tersebut — agama Yahudi dan filsafat Yunani — telah menyerbu gereja di Kolose.

Sama seperti kebudayaan sangat mempengaruhi kaum beriman di Kolose, hari ini kebudayaan juga sangat mempengaruhi diri kita. Tanpa disadari, kita berada di bawah pengaruh kebudayaan yang ke dalamnya kita telah dilahirkan. Tampaknya unsur agama dan filsafat dari kebudayaan itu merupakan bagian diri kita. Dalam banyak kelompok kekristenan, unsur politik dari kebudayaan juga ada.

PERINGATAN TENTANG KERENDAHAN HATI

DAN PENYEMBAHAN TERHADAP MALAIKAT

Dalam Kolose 2:18 Paulus berkata, “Janganlah kamu biarkan pahalamu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta mengagung-agungkan penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikiran yang diletakkan di atas daging” (Tl.). Di sini Paulus memperingatkan kaum beriman untuk tidak membiarkan pahalanya digagalkan oleh orang yang pura-pura rendah hati. Dia tidak memperingatkan mereka mengenai hawa nafsu daging. Kerendahan hati adalah salah satu pekerti manusia yang terbaik. Dalam banyak ajaran etika, kerendahan hati memiliki nilai yang tinggi. Pada aspek-aspek tertentu, kerendahan hati bahkan merupakan suatu pekerti yang lebih halus daripada kasih. Tetapi, kerendahan hati itu pun dapat mem-perdayai kaum beriman dari kenikmatan atas Kristus.

Dalam ayat ini Paulus juga memperingatkan kita untuk tidak diperdaya melalui penyembahan terhadap malaikat. Kerendahan hati berkaitan dengan filsafat etis, sementara penyembahan terhadap malaikat berkaitan dengan agama. Penyembahan terhadap malaikat bukan perbuatan kasar, sebaliknya, itu adalah bentuk penyembahan berhala yang telah diluhurkan, dibudayakan, dilatih, dan dikembangkan dengan tinggi. Itu pun jauh lebih halus daripada penyembahan terhadap binatang-binatang oleh orang kafir. Itu adalah penyembahan terhadap makhluk-makhluk surgawi yang dekat dengan Allah. Hukum Taurat diberikan melalui makhluk-makhluk demikian. Dalam Kolose 2:18 Paulus menyinggung filsafat dan agama. Aspek-aspek kebudayaan ini dapat dipakai musuh untuk memperdaya kita dari Kristus.

Pada prinsipnya hari ini pun sama. Iblis, si licik itu masih memperalat etika dan agama untuk memperdaya orang-orang Kristen dari kenikmatan atas Kristus. Perkataan saya ini tidak saya tujukan kepada orang lain, misalnya kepada orang-orang dalam agama Katolik, tetapi khususnya kepada kita yang berada dalam pemulihan Tuhan. Beberapa orang mungkin menyetujui bahwa kerendahan hati dapat memperdaya mereka dari Kristus, tetapi mereka tidak mau mengakui bahwa penyembahan malaikat dapat memperdaya mereka dari Kristus. Meskipun kita mungkin tidak menyembah kepada malaikat dengan sesungguhnya, namun kita mungkin mengagumi mereka. Selain itu, kita mungkin mengagumi banyak hal yang bukan Allah sendiri.

DIPERDAYA OLEH PENGARUH KEBUDAYAAN

Jika kita menyelami kedalaman Kitab Kolose, kita akan tampak bahwa kitab ini tidak menanggulangi dosa atau hukum Taurat, melainkan menanggulangi kebudayaan manusia. Kebudayaan merupakan suatu kehidupan yang “tanpa disadari” dari setiap manusia. Ini terjadi baik dalam masyarakat primitif maupun negara-negara maju. Prinsip ini di mana-mana sama. Manusia di seluruh dunia berada di bawah pengaruh kebudayaan mereka. Saudara-saudara yang tinggal di Timur Jauh mungkin merasa sulit untuk berbicara secara spontan dalam sidang-sidang umum, sebab mereka secara tanpa sadar telah dipengaruhi oleh kebudayaan Timur. Menurut Kitab Kolose, kebudayaan kitalah yang memperdaya kita dari kenikmatan atas Kristus dan menggagalkan hidup gereja.

Kitab Kolose membicarakan kebutuhan kita pada hari ini. Kita lebih banyak dirusuhi bukan oleh hal-hal dosa, seperti dalam Kitab 1 Korintus, bukan pula oleh hukum Taurat, seperti dalam Kitab Galatia. Tetapi kita semua secara tanpa sadar dan di bawah kesadaran telah terpengaruh oleh kebudayaan. Ketika kita datang menempuh hidup gereja, kita membawa serta kebudayaan kita. Kebudayaan ini kini menggerogoti kenikmatan kita atas Kristus. Kebudayaan merupakan metode sistematis yang kita kembangkan untuk hidup dan memelihara eksistensi kita. Bila kebudayaan itu lebih kuat, maka kita semakin kritis terhadap orang lain. Berdasarkan kebudayaan yang kita miliki itu, kita mengembangkan tipe pertapaan kita, cara-cara kita sendiri untuk mengekang hawa nafsu daging. Pertapaan kita merupakan cara yang kita rancang untuk mengekang diri kita dan menahan diri dari hal-hal dosa.

KRISTUS, HAYAT KITA

Kitab Kolose mewahyukan bahwa dalam ekonomi Allah, Kristus adalah segala sesuatu. Kristus adalah bagian orang-orang kudus, gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari penciptaan, rahasia ekonomi Allah, yang pertama bangkit dari antara orang mati, kepenuhan Allah, rahasia Allah, yang di dalam-Nya tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan, dan wujud segala bayangan. Terakhir, Kristus almuhit yang unggul ini adalah unsur manusia baru. Lagi pula, seperti yang dinyatakan Paulus dalam Kolose 3:4, Kristus ini adalah hayat kita. Ungkapan “hayat kita” ini merupakan keterangan kuat bahwa kita harus mengalami Kristus yang diwahyukan dalam kitab ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagi eksistensi fisik kita, segalanya bergantung pada kita memiliki hayat. Jika tubuh Anda tanpa hayat, maka segala yang berkaitan dengan Anda akan berakhir. Sebagai contoh, jika Anda tidak memiliki hayat, bagaimana Anda memiliki hal-hal seperti kasih atau ketaatan? Setiap hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia semua berdasar pada hayat manusia. Jika hayat ini tamat, segala-galanya juga berakhir. Hal ini menekankan pentingnya Kristus sebagai hayat kita. Bagi kita, tampak Kristus yang almuhit sebagai hayat kita adalah suatu hal yang penting. Menurut wahyu Perjanjian Baru, Kristus ini telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit.

DAMAI SEJAHTERA KRISTUS

DAN PERKATAAN KRISTUS

Dalam Kolose 3:15-16 Paulus menyuruh kita untuk membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita dan membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita. Jika kita membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita, damai sejahtera ini akan meredakan segala perselisihan di antara kita. Kaum saleh di Kolose dirusuhi oleh ajaran, filsafat, dan cara yang berbeda-beda. Sama seperti dalam sebuah permainan atau kontes perlu seorang wasit untuk meredakan perselisihan, demikian pula orang-orang Kolose perlu seorang wasit, seorang juri, untuk meredakan segala opini yang berbeda-beda. Bermakna sekali bahwa hanya dalam Kitab Kolose, kitab yang menanggulangi kebudayaan dan ajaran-ajaran atau praktik-praktiknya, Paulus membicarakan juri batiniah dari damai sejahtera Kristus. Juri ini meredakan segala opini yang bersumber dari kebudayaan kita.

Bila damai sejahtera Kristus meredakan opini kita, perkataan Kristus, yang diam dengan limpahnya di dalam kita, menggantikan opini-opini kita. Kita memiliki perkataan Kristus sebagai pengganti opini-opini kita. Perjanjian Baru mewahyukan dengan jelas bahwa perkataan Kristus adalah Roh itu. Tidak hanya demikian, hari ini Kristus adalah Roh pemberi-hayat. Kehidupan kristiani kita adalah masalah Kristus sebagai Roh yang hidup itu. Kita tidak perlu ajaran-ajaran, filsafat-filsafat, praktik-praktik, atau tata cara-tata cara. Kita perlu pengalaman atas Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Para saudara tidak perlu mencoba mengasihi istri mereka, para istri pun tidak perlu mencoba menaati suami mereka. Sebaliknya, kita semua harus berkontak dengan Kristus dan membiarkan Dia menjadi kasih dan ketaatan kita. Hari ini Kristus sebagai Roh pemberi-hayat ada dalam roh kita. Kita perlu berdoa, “Tuhan Yesus, aku berterima kasih kepada-Mu bahwa Engkau berada di sini. Engkau berada di dalam aku sepanjang waktu untuk menjadi apa saja yang kuperlukan.” Jika kita ingin mempraktikkan hal ini, kita perlu satu visi yang jelas bahwa Kristus adalah segala sesuatu bagi kita. Visi demikian akan membunuh filsafat, pertapaan, opini, dan ajaran-ajaran kita. Visi ini bahkan akan membasmi pengaruh kebudayaan atas pengalaman kita atas Kristus. Demikian, kita tidak menjadi orang yang mengindahkan kebudayaan, tetapi menjadi orang yang diduduki, dimiliki, dan diresapi oleh Kristus.

Tidak salah, memang hati kita perlu terhibur dan terjalin bersama dalam kasih untuk memperoleh segala kekayaan keyakinan yang penuh akan pengertian. Tetapi sasaran terhiburnya hati kita ialah agar hati kita memiliki pengenalan yang penuh akan Kristus sebagai rahasia Allah. Kita tidak seharusnya hanya memperhatikan terhiburnya hati, tetapi mengabaikan bahwa kita perlu Kristus, rahasia Allah, menjadi segala sesuatu kita. Dari saat ke saat, kita perlu menerima Dia sebagai hayat kita dan hidup oleh-Nya.

Kita telah menunjukkan berulang-ulang, setelah Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus adalah hayat kita dan unsur manusia baru, dia menyuruh kita membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita dan membiarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita. Untuk memiliki pengertian yang penuh dari makna damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita, kita perlu mengetahui latar belakang ditulisnya Kitab Kolose. Di Babel, perpecahan kebudayaan umat manusia mulai timbul. Opini-opini yang dihasilkan dari kebudayaan kita terutama dinyatakan dalam ketentuan-ketentuan agama dan dalam peraturan-peraturan filsafat, yang masing-masing diwakili oleh orang Yahudi dan orang Yunani. Opini-opini kebudayaan telah memecah-belah umat manusia menjadi banyak bangsa yang berbeda-beda. Tetapi, kehendak kekal Allah adalah memiliki manusia korporat sebagai Tubuh Kristus bagi ekspresi-Nya. Namun, jika umat manusia tetap dipecah-belah oleh opini-opini kebudayaan, mana mungkin kehendak Allah dapat terlaksana? Itu mustahil. Menurut Efesus 2:15, kematian Kristus di atas salib telah membatalkan dan mengakhiri ketentuan-ketentuan dan tata cara-tata cara kebudayaan. Maksud Kristus dalam melakukan hal ini ialah untuk menciptakan satu manusia baru dalam diri-Nya sendiri dan karenanya terciptalah damai sejahtera. Jadi, damai sejahtera yang diciptakan oleh Kristus dihasilkan melalui penyaliban opini-opini kebudayaan. Ketika orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi diciptakan menjadi satu manusia baru, terciptalah damai sejahtera ini. Damai sejahtera ini, damai sejahtera Kristus, adalah yang Paulus sebutkan dalam Kolose 3:15.

TIDAK ADA PERBEDAAN KEBUDAYAAN

DALAM MANUSIA BARU

Menurut Kolose 3:11, dalam manusia baru tidak ada kemungkinan bagi diteruskannya keberadaan berbagai perbedaan kebudayaan. Di sini tidak lagi ada perbedaan antara yang berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, sebab dalam manusia baru Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Setelah membicarakan hal ini, Paulus meneruskan menyuruh kita, yang berasal dari banyak latar belakang yang berbeda-beda, untuk membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam hati kita. Damai sejahtera ini merupakan hasil dan akibat dari kematian Kristus yang mengakhiri perbedaan-perbedaan kebudayaan tersebut. Sebab itu, bila damai sejahtera Kristus menjadi tuan kita dalam batin, maka damai sejahtera ini akan menundukkan opini-opini kebudayaan, ketentuan-ketentuan agama, dan konsepsi-konsepsi filsafat.

DOA YANG SEJATI

Kerap kali ketika berdoa, kita tidak masuk ke dalam doa yang sungguh-sungguh. Melalui pengalaman kita dapat membedakan mana doa yang sungguh-sungguh, mana doa yang tidak sungguh-sungguh. Tahukah Anda mengapa begitu sukarnya berdoa dengan sungguh-sungguh? Halangan-nya yang utama bukan dosa atau keduniawian, melainkan opini kebudayaan. Tanpa disadari, kita masih dikontrol oleh opini-opini kebudayaan kita. Namun, bila kita berdoa dengan tekun, akhirnya kita bisa berdoa dengan sungguh-sungguh. Ini berarti dalam doa kita, kita dibebaskan dari opini-opini kebudayaan dan masuk ke dalam roh. Bila kita mengalami doa yang sungguh-sungguh, kita akan berada di luar kebudayaan kita, khususnya, di luar opini kebudayaan kita. Selama waktu doa yang sungguh-sungguh, kita berada di dalam roh, dan kita dengan Tuhan adalah satu roh. Pada waktu-waktu inilah kita memperhidupkan Kristus.

Selain itu, pada waktu-waktu doa yang sungguh-sungguh itu, kematian Kristus bekerja di batin kita secara tuntas untuk mengakhiri semua perkara negatif dalam diri kita. Dengan spontan, kuasa kebangkitan Kristus pun bekerja dalam kita. Akibatnya, kita akan benar-benar bersatu dengan Kristus, menjadi satu dengan Kristus. Pengalaman selama kita berdoa dengan sungguh-sungguh ini memberi kita satu cita rasa dari kehidupan orang Kristen yang normal.

Semakin kita memiliki doa yang sejati, kita akan semakin memiliki pengalaman terlepas dari opini kebudayaan kita, menjadi satu roh dengan Tuhan, dan memperhidupkan Kristus. Sayang sekali, bila kita berhenti berdoa, kita dengan spontan kembali lagi ke dalam kebudayaan kita. Kemudian, kita berusaha hidup menurut pertapaan kita sendiri. Sewaktu kita masuk ke dalam doa yang sungguh-sungguh, kita terpisah jauh dari pertapaan dan semua ajaran lainnya, karena kita bersatu dengan Tuhan yang hidup. Tidak hanya demikian, ketika kita berdoa bersama orang lain sedemikian, kita benar-benar menjadi satu dalam roh doa. Demikian, kita akan menjamah realitas satu manusia baru, di mana tidak lagi ada orang Yunani atau Yahudi, Barbar atau Skit, orang bersunat atau tidak bersunat. Kita menyadari bahwa manusia baru ini tersusun dari Kristus semata dan dalam lingkungan ini tidak ada perbedaan kebudayaan. Namun, bila kita berhenti berdoa, kita akan kembali ke dalam hayat alamiah kita serta opininya, dan pergumulannya. Kita tidak memperhidupkan Kristus melalui menjadi satu roh dengan-Nya, melainkan kita mengekang diri menurut pertapaan buatan kita sendiri. Dalam hayat alamiah kita, kita bertekad berbuat bajik, dan berupaya menggenapkan apa yang telah kita tentukan untuk dilakukan. Ini berarti mengekang diri sendiri, bukan memperhidupkan Kristus.

Berdoa dengan tekun berarti kita tidak boleh meninggalkan roh doa. Kita harus tinggal tetap dalam kondisi doa. Berada dalam kondisi ini berarti berada di luar opini kita dan menjadi satu roh dengan Tuhan, memperhidupkan Tuhan, dan menerima Dia sebagai hayat dan persona kita. Dengan sendirinya kita akan meninggalkan setiap hal di luar Kristus, dan kita hidup oleh persona yang hidup ini. Masalah kita ialah kita tidak tetap di dalam kondisi doa yang demikian. Itulah sebabnya Paulus menyuruh kita untuk bertekun dalam doa. Kita harus berdoa dengan tekun, agar kita terpelihara dalam kondisi doa yang demikian. Dengan perkataan lain, kehidupan sehari-hari kita harus sama dengan pengalaman kita dalam waktu-waktu berdoa dengan sesungguhnya. Pengalaman kita dalam doa harus menjadi satu pola dari kehidupan kristiani kita sehari-hari.

Dalam hari-hari ini kita berbeban untuk menengadah kepada Tuhan, agar kita dapat tampak makna yang sebenarnya dari memperhidupkan Kristus. Kita bersyukur kepada-Nya karena Ia berangsur-angsur memperlihatkan kepada kita apa artinya memperhidupkan Dia. Salah satu aspek memperhidupkan Kristus ialah tinggal tetap di dalam kondisi doa. Bila kita berada dalam kondisi ini, kita berada di luar kebudayaan. Karena kita menjadi satu roh dengan persona hidup ini, dan menerima Dia sebagai hayat dan persona kita, maka tidak perlu bergumul untuk hidup dengan wajar. Sebaliknya, bila kita bersatu dengan Tuhan dalam roh, maka kematian Kristus akan diterapkan ke atas diri kita, dan kuasa kebangkitan-Nya beroperasi di dalam kita. Kemudian kita akan dengan spontan memperhidupkan Dia.