← Daftar isi Kolose (1) · bab 10/21

KRISTUS BERLAWANAN DENGAN KEBUDAYAAN BAGI MANUSIA BARU

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:2; 3:4, 10-11, 15-16; 4:2

Kitab Kolose tidak mudah dimengerti. Saya ragu apa-kah ada banyak pembaca kitab ini, bahkan di antara kita, yang benar-benar nampak wahyu yang termuat di dalam-nya. Karena alasan ini, banyak pembaca memperhatikan hal seperti terhiburnya hati dalam Kolose 2:2. Hal utama dalam Kitab Kolose bukan terhiburnya hati, melainkan Kristus sebagai rahasia Allah. Bahkan Kolose 2:2, yang membicarakan terhiburnya hati, juga menjelaskan hal uta-ma tersebut: “Supaya hati mereka terhibur dan mereka ter-jalin bersama dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan keyakinan yang penuh akan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus” (Tl.). Hasil dari ter-hibur-nya hati ialah memiliki pengetahuan penuh tentang Kristus sebagai rahasia Allah. Jadi, hal utamanya bukan terhibur-nya hati, melainkan Kristus sebagai rahasia Allah.

UNSUR KEBUDAYAAN

Para pembaca Perjanjian Baru lebih mudah mema-hami masalah yang ditanggulangi Paulus dalam kitab se-perti Korintus dan Galatia. Dalam Kitab 1 Korintus Paulus menanggulangi berbagai macam hal negatif, bahkan hal-hal dosa, yang mengganggu orang-orang Korintus dari kenik-matan yang tepat atas Kristus dan hidup gereja. Dalam Kitab Galatia Paulus menanggulangi hukum Taurat berikut agama Yahudi. Tetapi, tidak mudah untuk menunjukkan apa yang ditanggulangi Paulus dalam Surat Kiriman kepa-da gereja di Kolose. Beberapa penafsir Alkitab menunjuk-kan bahwa Paulus menanggulangi masalah-masalah seperti penyembahan terhadap malaikat dan pertapaan. Walaupun pandangan ini benar, tetapi itu hanya berkaitan dengan pe-nampilan luaran kitab ini. Sebenarnya, dalam Kitab Kolose Paulus menanggulangi perkara kebudayaan manusia yang tersembunyi. Suatu bukti yang kuat dari hal ini ialah dipa-kainya kata orang “barbar” dalam Kolose 3:11, kata yang tidak pernah dipakai baik dalam 1 Korintus 12:13 maupun Galatia 3:28, yaitu ayat-ayat yang sesifat dengan Kolose 3:11. Penggunaan Paulus atas kata “barbar” dalam Kitab Kolose menunjukkan bahwa Surat Kiriman ini menanggulangi kebudayaan.

Sumber kesulitan di antara kaum beriman di Kolose adalah kebudayaan: kebudayaan Yahudi dan Yunani. Saya percaya bahwa gereja-gereja di Asia Kecil telah diresapi oleh kebudayaan Yahudi, khususnya yang berkenaan dengan ke-tentuan-ketentuan agama, dan oleh kebudayaan Yunani, khususnya yang berkenaan dengan filsafat. Pada masa Paulus, kebudayaan di daerah Laut Tengah mencakup tiga unsur utama: agama Yahudi, filsafat Yunani, dan politik Romawi. Dua dari unsur-unsur tersebut — agama Yahudi dan filsafat Yunani — telah menyerbu gereja di Kolose.

Sama seperti kebudayaan sangat mempengaruhi kaum beriman di Kolose, hari ini kebudayaan juga sangat mempe-ngaruhi diri kita. Tanpa disadari, kita berada di bawah peng-aruh kebudayaan yang ke dalamnya kita telah dilahirkan. Nampaknya unsur agama dan filsafat dari kebudayaan itu merupakan bagian diri kita. Dalam banyak kelompok ke-kristenan, unsur politik dari kebudayaan juga ada.

PERINGATAN TENTANG KERENDAHAN HATI

DAN PENYEMBAHAN TERHADAP MALAIKAT

Dalam Kolose 2:18 Paulus berkata, “Janganlah kamu biarkan pahalamu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta mengagung-agungkan penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikiran yang diletak-kan di atas daging” (Tl.). Di sini Paulus memperingatkan kaum beriman untuk tidak membiarkan pahalanya diga-galkan oleh orang yang pura-pura rendah hati. Dia tidak memperingatkan mereka mengenai hawa nafsu daging. Ke-rendahan hati adalah salah satu pekerti manusia yang ter-baik. Dalam banyak ajaran etika, kerendahan hati memiliki nilai yang tinggi. Pada aspek-aspek tertentu, kerendahan hati bahkan merupakan suatu pekerti yang lebih halus daripada kasih. Tetapi, kerendahan hati itu pun dapat mem-perdayai kaum beriman dari kenikmatan atas Kristus.

Dalam ayat ini Paulus juga memperingatkan kita untuk tidak diperdaya melalui penyembahan terhadap ma-laikat. Kerendahan hati berkaitan dengan filsafat etis, se-mentara penyembahan terhadap malaikat berkaitan dengan agama. Penyembahan terhadap malaikat bukan perbuatan kasar, sebaliknya, itu adalah bentuk penyembahan berhala yang telah diluhurkan, dibudayakan, dilatih, dan dikem-bangkan dengan tinggi. Itu pun jauh lebih halus daripada penyembahan terhadap binatang-binatang oleh orang kafir. Itu adalah penyembahan terhadap makhluk-makhluk sur-gawi yang dekat dengan Allah. Hukum Taurat diberikan melalui makhluk-makhluk demikian. Dalam Kolose 2:18 Paulus menyinggung filsafat dan agama. Aspek-aspek kebu-dayaan ini dapat dipakai musuh untuk memperdaya kita dari Kristus.

Pada prinsipnya hari ini pun sama. Iblis, si licik itu masih memperalat etika dan agama untuk memperdaya orang-orang Kristen dari kenikmatan atas Kristus. Perkata-an saya ini tidak saya tujukan kepada orang lain, misalnya kepada orang-orang dalam agama Katolik, tetapi khususnya kepada kita yang berada dalam pemulihan Tuhan. Beberapa orang mungkin menyetujui bahwa kerendahan hati dapat memperdaya mereka dari Kristus, tetapi mereka tidak mau mengakui bahwa penyembahan malaikat dapat memperdaya mereka dari Kristus. Meskipun kita mungkin tidak me-nyembah kepada malaikat dengan sesungguhnya, namun kita mungkin mengagumi mereka. Selain itu, kita mung-kin mengagumi banyak hal yang bukan Allah sendiri.

DIPERDAYA OLEH PENGARUH KEBUDAYAAN

Jika kita menyelami kedalaman Kitab Kolose, kita akan nampak bahwa kitab ini tidak menanggulangi dosa atau hukum Taurat, melainkan menanggulangi kebudaya-an manusia. Kebudayaan merupakan suatu kehidupan yang “tanpa disadari” dari setiap manusia. Ini terjadi baik dalam masyarakat primitif maupun negara-negara maju. Prinsip ini di mana-mana sama. Manusia di seluruh dunia berada di bawah pengaruh kebudayaan mereka. Saudara-saudara yang tinggal di Timur Jauh mungkin merasa sulit untuk berbicara secara spontan dalam sidang-sidang umum, sebab mereka secara tanpa sadar telah dipengaruhi oleh kebuda-yaan Timur. Menurut Kitab Kolose, kebudayaan kitalah yang memperdaya kita dari kenikmatan atas Kristus dan menggagalkan hidup gereja.

Kitab Kolose membicarakan kebutuhan kita pada hari ini. Kita lebih banyak dirusuhi bukan oleh hal-hal dosa, se-perti dalam Kitab 1 Korintus, bukan pula oleh hukum Taurat, seperti dalam Kitab Galatia. Tetapi kita semua se-cara tanpa sadar dan di bawah kesadaran telah terpenga-ruh oleh kebudayaan. Ketika kita datang menempuh hidup gereja, kita membawa serta kebudayaan kita. Kebudayaan ini kini menggerogoti kenikmatan kita atas Kristus. Kebu-dayaan merupakan metode sistematis yang kita kembang-kan untuk hidup dan memelihara eksistensi kita. Bila kebudayaan itu lebih kuat, maka kita semakin kritis terha-dap orang lain. Berdasarkan kebudayaan yang kita miliki itu, kita mengembangkan tipe pertapaan kita, cara-cara ki-ta sendiri untuk mengekang hawa nafsu daging. Pertapaan kita merupakan cara yang kita rancang untuk mengekang diri kita dan menahan diri dari hal-hal dosa.

KRISTUS, HAYAT KITA

Kitab Kolose mewahyukan bahwa dalam ekonomi Allah, Kristus adalah segala sesuatu. Kristus adalah bagian orang-orang kudus, gambar Allah yang tidak kelihatan, yang su-lung dari penciptaan, rahasia ekonomi Allah, yang pertama bangkit dari antara orang mati, kepenuhan Allah, rahasia Allah, yang di dalam-Nya tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan, dan wujud segala bayangan. Terakhir, Kristus almuhit yang unggul ini adalah unsur manusia baru. Lagi pula, seperti yang dinyatakan Paulus dalam Kolose 3:4, Kristus ini adalah hayat kita. Ungkapan “hayat kita” ini merupakan keterangan kuat bahwa kita harus meng-alami Kristus yang diwahyukan dalam kitab ini dalam ke-hidupan kita sehari-hari.

Bagi eksistensi fisik kita, segalanya bergantung pada kita memiliki hayat. Jika tubuh Anda tanpa hayat, maka segala yang berkaitan dengan Anda akan berakhir. Sebagai contoh, jika Anda tidak memiliki hayat, bagaimana Anda memiliki hal-hal seperti kasih atau ketaatan? Setiap hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia semua berdasar pada hayat manusia. Jika hayat ini tamat, segala-galanya juga berakhir. Hal ini menekankan pentingnya Kristus se-bagai hayat kita. Bagi kita, nampak Kristus yang almuhit sebagai hayat kita adalah suatu hal yang penting. Menurut wahyu Perjanjian Baru, Kristus ini telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit.

DAMAI SEJAHTERA KRISTUS

DAN PERKATAAN KRISTUS

Dalam Kolose 3:15-16 Paulus menyuruh kita untuk membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita dan membiarkan perkataan Kristus tinggal de-ngan limpahnya di dalam kita. Jika kita membiarkan da-mai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita, damai sejahtera ini akan meredakan segala perselisihan di antara kita. Kaum saleh di Kolose dirusuhi oleh ajaran, filsafat, dan cara yang berbeda-beda. Sama seperti dalam sebuah permainan atau kontes perlu seorang wasit untuk mereda-kan perselisihan, demikian pula orang-orang Kolose perlu seorang wasit, seorang juri, untuk meredakan segala opini yang berbeda-beda. Bermakna sekali bahwa hanya dalam Kitab Kolose, kitab yang menanggulangi kebudayaan dan ajaran-ajaran atau praktek-prakteknya, Paulus membicara-kan juri batiniah dari damai sejahtera Kristus. Juri ini me-redakan segala opini yang bersumber dari kebudayaan kita.

Bila damai sejahtera Kristus meredakan opini kita, per-kataan Kristus, yang diam dengan limpahnya di dalam ki-ta, menggantikan opini-opini kita. Kita memiliki perkataan Kristus sebagai pengganti opini-opini kita. Perjanjian Baru mewahyukan dengan jelas bahwa perkataan Kristus adalah Roh itu. Tidak hanya demikian, hari ini Kristus adalah Roh pemberi-hayat. Kehidupan kristiani kita adalah masa-lah Kristus sebagai Roh yang hidup itu. Kita tidak perlu ajaran-ajaran, filsafat-filsafat, praktek-praktek, atau tata cara-tata cara. Kita perlu pengalaman atas Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Para saudara tidak perlu mencoba me-ngasihi istri mereka, para istri pun tidak perlu mencoba menaati suami mereka. Sebaliknya, kita semua harus ber-kontak dengan Kristus dan membiarkan Dia menjadi kasih dan ketaatan kita. Hari ini Kristus sebagai Roh pemberi-hayat ada dalam roh kita. Kita perlu berdoa, “Tuhan Yesus, aku berterima kasih kepada-Mu bahwa Engkau berada di sini. Engkau berada di dalam aku sepanjang waktu untuk menjadi apa saja yang kuperlukan.” Jika kita ingin mem-praktekkan hal ini, kita perlu satu visi yang jelas bahwa Kristus adalah segala sesuatu bagi kita. Visi demikian akan membunuh filsafat, pertapaan, opini, dan ajaran-ajaran kita. Visi ini bahkan akan membasmi pengaruh kebudayaan atas pengalaman kita atas Kristus. Demikian, kita tidak men-jadi orang yang mengindahkan kebudayaan, tetapi menjadi orang yang diduduki, dimiliki, dan diresapi oleh Kristus.

Tidak salah, memang hati kita perlu terhibur dan ter-jalin bersama dalam kasih untuk memperoleh segala keka-yaan keyakinan yang penuh akan pengertian. Tetapi sasaran terhiburnya hati kita ialah agar hati kita memiliki penge-nalan yang penuh akan Kristus sebagai rahasia Allah. Kita tidak seharusnya hanya memperhatikan terhiburnya hati, tetapi mengabaikan bahwa kita perlu Kristus, rahasia Allah, menjadi segala sesuatu kita. Dari saat ke saat, kita perlu menerima Dia sebagai hayat kita dan hidup oleh-Nya.

Kita telah menunjukkan berulang-ulang, setelah Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus adalah hayat kita dan unsur manusia baru, dia menyuruh kita membiarkan da-mai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam kita dan mem-biarkan perkataan Kristus tinggal di dalam kita. Untuk memiliki pengertian yang penuh dari makna damai sejah-tera Kristus menjadi juri dalam hati kita, kita perlu mengetahui latar belakang ditulisnya Kitab Kolose. Di Ba-bel, perpecahan kebudayaan umat manusia mulai timbul. Opini-opini yang dihasilkan dari kebudayaan kita terutama dinyatakan dalam ketentuan-ketentuan agama dan dalam peraturan-peraturan filsafat, yang masing-masing diwakili oleh orang Yahudi dan orang Yunani. Opini-opini kebudaya-an telah memecah-belah umat manusia menjadi banyak bangsa yang berbeda-beda. Tetapi, kehendak kekal Allah ada-lah memiliki manusia korporat sebagai Tubuh Kristus bagi ekspresi-Nya. Namun, jika umat manusia tetap dipecah-belah oleh opini-opini kebudayaan, mana mungkin kehendak Allah dapat terlaksana? Itu mustahil. Menurut Efesus 2:15, kematian Kristus di atas salib telah membatalkan dan meng-akhiri ketentuan-ketentuan dan tata cara-tata cara kebuda-yaan. Maksud Kristus dalam melakukan hal ini ialah un-tuk menciptakan satu manusia baru dalam diri-Nya sendiri dan karenanya terciptalah damai sejahtera. Jadi, damai se-jahtera yang diciptakan oleh Kristus dihasilkan melalui pe-nyaliban opini-opini kebudayaan. Ketika orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi diciptakan menjadi satu manusia baru, terciptalah damai sejahtera ini. Damai sejahtera ini, damai sejahtera Kristus, adalah yang Paulus sebutkan dalam Kolose 3:15.

TIDAK ADA PERBEDAAN KEBUDAYAAN

DALAM MANUSIA BARU

Menurut Kolose 3:11, dalam manusia baru tidak ada kemungkinan bagi diteruskannya keberadaan berbagai perbedaan kebudayaan. Di sini tidak lagi ada perbedaan antara yang berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, sebab dalam manusia baru Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Setelah membicarakan hal ini, Paulus meneruskan menyuruh kita, yang berasal dari banyak latar belakang yang berbeda-beda, untuk membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam hati kita. Damai sejahtera ini meru-pakan hasil dan akibat dari kematian Kristus yang meng-akhiri perbedaan-perbedaan kebudayaan tersebut. Sebab itu, bila damai sejahtera Kristus menjadi tuan kita dalam ba-tin, maka damai sejahtera ini akan menundukkan opini-opini kebudayaan, ketentuan-ketentuan agama, dan konsep-si-konsepsi filsafat.

DOA YANG SEJATI

Kerap kali ketika berdoa, kita tidak masuk ke dalam doa yang sungguh-sungguh. Melalui pengalaman kita dapat membedakan mana doa yang sungguh-sungguh, mana doa yang tidak sungguh-sungguh. Tahukah Anda mengapa be-gitu sukarnya berdoa dengan sungguh-sungguh? Halangan-nya yang utama bukan dosa atau keduniawian, melainkan opini kebudayaan. Tanpa disadari, kita masih dikontrol oleh opini-opini kebudayaan kita. Namun, bila kita berdoa de-ngan tekun, akhirnya kita bisa berdoa dengan sungguh-sungguh. Ini berarti dalam doa kita, kita dibebaskan dari opini-opini kebudayaan dan masuk ke dalam roh. Bila kita mengalami doa yang sungguh-sungguh, kita akan berada di luar kebudayaan kita, khususnya, di luar opini kebudayaan kita. Selama waktu doa yang sungguh-sungguh, kita berada di dalam roh, dan kita dengan Tuhan adalah satu roh. Pada waktu-waktu inilah kita memperhidupkan Kristus.

Selain itu, pada waktu-waktu doa yang sungguh-sung-guh itu, kematian Kristus bekerja di batin kita secara tun-tas untuk mengakhiri semua perkara negatif dalam diri kita. Dengan spontan, kuasa kebangkitan Kristus pun be-kerja dalam kita. Akibatnya, kita akan benar-benar bersatu dengan Kristus, menjadi satu dengan Kristus. Pengalaman selama kita berdoa dengan sungguh-sungguh ini memberi kita satu cita rasa dari kehidupan orang Kristen yang nor-mal.

Semakin kita memiliki doa yang sejati, kita akan se-makin memiliki pengalaman terlepas dari opini kebudayaan kita, menjadi satu roh dengan Tuhan, dan memperhidupkan Kristus. Sayang sekali, bila kita berhenti berdoa, kita de-ngan spontan kembali lagi ke dalam kebudayaan kita. Kemu-dian, kita berusaha hidup menurut pertapaan kita sendiri. Sewaktu kita masuk ke dalam doa yang sungguh-sungguh, kita terpisah jauh dari pertapaan dan semua ajaran lain-nya, karena kita bersatu dengan Tuhan yang hidup. Tidak hanya demikian, ketika kita berdoa bersama orang lain se-demikian, kita benar-benar menjadi satu dalam roh doa. Demikian, kita akan menjamah realitas satu manusia baru, di mana tidak lagi ada orang Yunani atau Yahudi, Barbar atau Skit, orang bersunat atau tidak bersunat. Kita menya-dari bahwa manusia baru ini tersusun dari Kristus semata dan dalam lingkungan ini tidak ada perbedaan kebudayaan. Namun, bila kita berhenti berdoa, kita akan kembali ke da-lam hayat alamiah kita serta opininya, dan pergumulannya. Kita tidak memperhidupkan Kristus melalui menjadi satu roh dengan-Nya, melainkan kita mengekang diri menurut pertapaan buatan kita sendiri. Dalam hayat alamiah kita, kita bertekad berbuat bajik, dan berupaya menggenapkan apa yang telah kita tentukan untuk dilakukan. Ini berarti mengekang diri sendiri, bukan memperhidupkan Kristus.

Berdoa dengan tekun berarti kita tidak boleh mening-galkan roh doa. Kita harus tinggal tetap dalam kondisi doa. Berada dalam kondisi ini berarti berada di luar opini kita dan menjadi satu roh dengan Tuhan, memperhidupkan Tuhan, dan menerima Dia sebagai hayat dan persona kita. Dengan sendirinya kita akan meninggalkan setiap hal di luar Kristus, dan kita hidup oleh persona yang hidup ini. Masalah kita ialah kita tidak tetap di dalam kondisi doa yang demikian. Itulah sebabnya Paulus menyuruh kita un-tuk bertekun dalam doa. Kita harus berdoa dengan tekun, agar kita terpelihara dalam kondisi doa yang demikian. De-ngan perkataan lain, kehidupan sehari-hari kita harus sa-ma dengan pengalaman kita dalam waktu-waktu berdoa dengan sesungguhnya. Pengalaman kita dalam doa harus menjadi satu pola dari kehidupan kristiani kita sehari-hari.

Dalam hari-hari ini kita berbeban untuk menengadah kepada Tuhan, agar kita dapat nampak makna yang sebe-narnya dari memperhidupkan Kristus. Kita bersyukur ke-pada-Nya karena Ia berangsur-angsur memperlihatkan ke-pada kita apa artinya memperhidupkan Dia. Salah satu aspek memperhidupkan Kristus ialah tinggal tetap di dalam kondisi doa. Bila kita berada dalam kondisi ini, kita berada di luar kebudayaan. Karena kita menjadi satu roh dengan persona hidup ini, dan menerima Dia sebagai hayat dan persona kita, maka tidak perlu bergumul untuk hidup de-ngan wajar. Sebaliknya, bila kita bersatu dengan Tuhan dalam roh, maka kematian Kristus akan diterapkan ke atas diri kita, dan kuasa kebangkitan-Nya beroperasi di dalam kita. Kemudian kita akan dengan spontan memperhidupkan Dia.