Daftar isi Kolose (2) · Berita Ketiga Puluh Dua · bab 9/21

Berita Ketiga Puluh Dua

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS SEBAGAI UNSUR MANUSIA BARU

Pembacaan Alkitab: Kol. 3:4, 10-15; 1:25-27

Kitab Kolose dapat dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama adalah pendahuluan (1:1-8), bagian terakhir adalah penutup (4:7-18). Bagian kedua (1:9 — 3:11) berfokus pada Kristus sebagai yang lebih utama dan yang almuhit, sentralitas dan universalitas Allah. Bagian ini merupakan inti Kitab Kolose dan memuat pokoknya. Bagian ketiga (3:12 — 4:6) membahas kehidupan kaum saleh dalam kesatuan dengan Kristus. Dalam kitab ini kita terlebih dulu memiliki suatu wahyu yang lengkap dari Kristus, kemudian kita melihat suatu kehidupan yang harus kita tempuh dalam kesatuan dengan Kristus. Jika kita benar-benar mengenal Kristus dan mengalami Dia, kita akan hidup dalam kesatuan dengan Dia.

MANUSIA BARU DENGAN

KRISTUS SEBAGAI ISINYA

Dalam Kolose 1:9—3:11 kita tampak tujuh aspek utama dari Kristus: Kristus adalah bagian orang-orang kudus (1:9-14); Dia adalah yang sulung dari segala ciptaan dan dalam kebangkitan (1:15-23); Dia adalah rahasia ekonomi Allah (1:24-29); Dia adalah rahasia Allah (2:1-7); Dia adalah wujud dari semua bayangan (2:8-23); Dia adalah hayat orang-orang kudus (3:1-4); dan Dia adalah unsur manusia baru (3:5-11). Ketujuh aspek Kristus ini ditampilkan dalam suatu urutan yang indah sekali. Pertama kita tampak Kristus adalah bagian orang-orang kudus dan terakhir Dia adalah unsur manusia baru. Ini menunjukkan bahwa hasil terakhir dari kenikmatan kita atas Kristus sebagai bagian kita ialah mengalami Dia sebagai isi dan unsur manusia baru. Bila kita menikmati Kristus, maka terdapatlah suatu akibat dan hasil yang pasti dari kenikmatan tersebut. Mengatakan bahwa kenikmatan atas Kristus sebagai bagian orang-orang kudus menghasilkan pengalaman atas Kristus sebagai unsur manusia baru menunjukkan bahwa kenikmatan atas Kristus menghasilkan hidup gereja. Akan tetapi, kita harus hati-hati, jangan mengurangi kedalaman wahyu dalam Kitab Kolose. Paulus tidak mengatakan kepada kita dengan cara yang dangkal bahwa kalau kita menikmati Kristus gereja akan muncul. Tentu saja itu benar, tetapi pengertian yang demikian kekurangan wahyu yang terdapat di sini. Kristus adalah bagian yang almuhit dari orang-orang kudus, yang dilambangkan dengan tanah permai. Jika kita menikmati Kristus sebagai bagian yang demikian, alhasil, muncullah manusia baru yang berisikan Kristus. Terakhir, Kristus yang kita nikmati sebagai bagian kita menjadi unsur manusia baru. Dalam manusia baru ini Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Jadi, penting sekali kita belajar memperhidupkan Kristus sebagai unsur manusia baru.

DAMAI SEJAHTERA KRISTUS

Jika kita ingin memperhidupkan Kristus sebagai unsur manusia baru, kita perlu diperintah oleh damai sejahtera Kristus (3:12-15) dan didiami oleh perkataan Kristus (3:16-17). Damai sejahtera Kristus harus menjadi juri di batin kita, dan perkataan Kristus harus tinggal dengan limpahnya di dalam kita. Selaku orang Kristen, kita mempunyai latar belakang dan konsepsi yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan itu menimbulkan perselisihan pendapat di antara kita. Sebab itu, kita perlu seorang juri. Juri ini tidak lain adalah damai sejahtera Kristus. Penting sekali dalam hati kita ada damai sejahtera Kristus yang mengepalai kita dan memberikan keputusan atas perselisihan apa pun di antara kita.

Kalau kita ingat latar belakang Kitab Kolose, kita akan memahami adanya beberapa golongan di antara kaum beriman di Kolose. Satu golongan ialah mereka yang menyukai ketentuan-ketentuan Yahudi, dan yang lainnya menyukai paham Gnostik. Pilihan-pilihan yang berbeda itu membangkitkan konflik opini. Karena alasan inilah, Paulus menyuruh mereka membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam hati mereka. Yang jadi juri tidak seharusnya opini, konsepsi, pilihan, atau kesukaan mereka sendiri, melainkan damai sejahtera Kristus, yang kepadanya kita dipanggil menjadi satu tubuh.

Telah kita tunjukkan bahwa damai sejahtera Kristus adalah damai sejahtera yang disebutkan oleh Paulus dalam Efesus 2:15. Di situ dikatakan kepada kita, “Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” Damai sejahtera ini adalah kesatuan manusia baru, Tubuh. Dengan membatalkan ketentuan-ketentuan, Kristus telah menciptakan orang-orang yang berbeda itu menjadi satu manusia baru. Sekarang di dalam kita sebagai anggota manusia baru ada sesuatu yang disebut Paulus damai sejahtera Kristus. Jadi, damai sejahtera Kristus adalah kesatuan manusia baru yang tersusun dari orang-orang yang berbeda. Di luar pekerjaan Kristus di atas salib, tidak mungkin ada kesatuan di antara orang-orang yang berbeda. Tetapi melalui kematian-Nya, Kristus telah menciptakan damai sejahtera; yaitu Ia telah menghasilkan kesatuan. Kesatuan manusia baru ini sekarang berada di dalam kita. Kesatuan ini, damai sejahtera Kristus, kini harus kita se-tujui untuk mengambil keputusan sebagai juri di dalam hati kita. Damai sejahtera ini harus berfungsi sebagai seorang wasit dalam menyelesaikan perselisihan-perselisihan di antara berbagai kelompok. Kita perlu mengesampingkan opini dan konsepsi kita, dan mendengar perkataan wasit yang tinggal di dalam kita. Tidak perlu kita bertengkar atau mengekspresikan opini kita. Biarkan saja damai sejahtera Kristus membuat keputusan yang terakhir.

Misalkan, ada beberapa saudara muda hidup bersama di perumahan saudara. Bila mereka mempunyai problem dalam hidup bersama, mereka tidak seharusnya berdebat. Sebaliknya, mereka harus membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati mereka. Mereka harus membiarkan damai sejahtera ini menjadi wasit yang memberikan keputusan terakhir. Dengan cara inilah mereka akan memperhidupkan Kristus sebagai unsur manusia baru.

PERKATAAN KRISTUS

Kita perlu membiarkan perkataan Kristus tinggal, berumah di dalam kita. Kita harus mau mengesampingkan konsepsi dan opini kita, dan memberi tempat kepada perkataan Kristus. Jika kita menginginkan perkataan Kristus menghuni kita, kita perlu mengosongkan seluruh manusia batin kita. Semua bagian batin kita — pikiran, emosi, tekad, hati, dan roh kita — harus kosong, agar mudah dipenuhi oleh perkataan Kristus. Perkataan ini tidak saja harus tinggal di dalam kita, tetapi juga menghuni kita, berumah dalam setiap bagian dari manusia batiniah kita. Oh, semoga tiap ruang dan sudut dari diri kita dihuni oleh perkataan Kristus!

Kalau kita ingin memperhidupkan Kristus sebagai unsur manusia baru, maka damai sejahtera Kristus harus menjadi juri dalam hati kita, dan perkataan Kristus harus menjadi isi manusia batiniah kita. Kita berdoa semoga semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan mau memberikan tempat kepada damai sejahtera Kristus yang menjadi juri dan kepada perkataan Kristus yang berhuni di batin itu.

MELENGKAPKAN FIRMAN ALLAH

Kita telah menunjukkan bahwa maksud Paulus dalam Kitab Kolose ini ialah melengkapkan firman Allah. Inilah tujuan utamanya dalam menulis Surat Kiriman ini. Dalam Kolose 1:25-26 Paulus berkata, “Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan penyelenggaraan Allah, yang diberikan kepadaku bagi kamu, untuk melengkapkan firman Allah, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya” (Tl.). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa firman Allah yang dilengkapkan oleh Paulus adalah rahasia yang sekarang dinyatakan kepada kaum saleh. Tidak hanya demikian, menurut ayat 27, rahasia ini adalah Kristus di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan. Sasaran rahasia ini ialah menghasilkan gereja.

Pada waktu Kitab Kolose ditulis, agama Yahudi telah ada beberapa abad lamanya, gereja juga sudah ada. Namun demikian, sekalipun gereja sudah ada, firman Allah belumlah lengkap. Paulus merasa cemas karena situasi di Kolose. Kaum beriman Yahudi dan bukan Yahudi mengabaikan Kristus dan gereja; mereka memusatkan perhatian mereka atas hal-hal seperti ketentuan agama Yahudi dan filsafat kafir. Banyak orang Yahudi dan orang Kristen mengaku mengenal Allah dan menyembah-Nya. Tetapi, Kristus telah diabaikan dan hidup gereja yang sejati telah dikesampingkan. Sebab itu, Paulus menulis surat kepada orang-orang Kolose guna melengkapkan firman Allah.

Pada prinsipnya, situasi hari ini sama dengan di Kolose pada waktu Paulus menulis Kitab Kolose. Agama Yahudi dan kekristenan telah ada di bumi berabad-abad lamanya. Walaupun orang-orang Yahudi memiliki Perjanjian Lama dan orang-orang Kristen memiliki seluruh Alkitab, jarang sekali orang yang benar-benar mengalami Kristus bagi hidup gereja yang tepat. Kristus tetap diabaikan, dan hidup gereja tetap tidak dipedulikan. Karenanya, firman Allah masih perlu dilengkapkan secara riil.

Apa artinya melengkapkan firman Allah, melengkapkan wahyu ilahi? Dengan lebih sederhana, melengkapkan firman Allah berarti mengalami Kristus secara subjektif dan menikmati Dia dalam kehidupan sehari-hari, agar hidup gereja yang tepat dapat terwujud untuk mengekspresikan Allah. Wahyu inilah yang dimaksud dengan kelengkapan firman Allah.

Orang-orang Kristen hari ini terlibat dalam berbagai macam pekerjaan bagi Tuhan. Tetapi di manakah pengalaman atas Kristus, dan di manakah pelaksanaan hidup gereja? Paulus mengetahui, baik agama Yahudi maupun agama lain yang mana pun, tidak ada yang dapat memenuhi kehendak hati Allah. Hasrat Allah ialah memiliki hidup gereja yang dihasilkan melalui pengalaman pribadi dari umat-Nya atas Kristus. Allah menghendaki suatu organisme, Tubuh Kristus, yang dihasilkan melalui pengalaman atas Kristus. Pada masa Paulus, banyak orang Yahudi, dan orang-orang Kristen pun tidak sedikit. Tetapi ketika Paulus melihat situasi itu, dia mungkin bertanya, “Di manakah pengalaman atas Kristus, dan di manakah gereja yang memenuhi hasrat hati Allah?” Hari ini kita juga harus mengajukan pertanyaan serupa.

MENGALAMI KRISTUS

Kita harus mengakui bahwa kita sendiri kekurangan pengalaman atas Kristus. Kita telah diterangi dan tampak bahwa untuk hidup gereja Allah tidak menghendaki yang lain kecuali Kristus. Tetapi, dalam pengalaman kita, kita tetap kekurangan Kristus. Ini berarti pada hakikatnya kita pun kekurangan kelengkapan firman Allah. Kita kekurangan Kristus untuk menghasilkan gereja. Kita tahu yang penting hanya satu, yaitu Kristus bagi gereja. Namun, kita tetap masih kekurangan Kristus. Sebelum kita dapat menyuplaikan Kristus kepada orang lain, kita perlu menyuplaikan Dia ke dalam diri kita sendiri. Untuk melakukan hal ini, kita perlu menghabiskan lebih banyak waktu dalam berdoa-baca dan bersekutu atas Kitab Kolose. Jika kita berbuat demikian, kita akan mulai mengalami kekayaan Kristus yang berada dalam kitab ini. Setelah itu kita akan mulai memiliki pengalaman yang memadai atas Kristus bagi hidup gereja yang tepat.

Karena orang-orang Kolose tidak memiliki pengalaman yang memadai atas Kristus bagi hidup gereja, maka hal-hal yang bukan Kristus menyusup ke dalam gereja. Hal yang sama terjadi di antara orang-orang Kristen dewasa ini. Umat Allah memiliki sedikit pengetahuan tentang Alkitab, dan mengenal Allah sampai tingkat tertentu. Tetapi, jarang sekali yang mengalami Kristus sebagai Roh pemberi-hayat secara hidup dan riil dalam kehidupan sehari-hari mereka. Penting sekali kita memiliki pengalaman riil atas Kristus seperti yang diwahyukan dalam Kitab Kolose. Kita perlu dari hari ke hari menikmati Kristus yang utama dan almuhit yang menjadi unsur manusia baru. Kita semua perlu berdoa agar tiap hari kita menerima pengalaman yang lebih riil dan hidup atas Kristus. Jika kita mengalami Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari, kita akan memiliki lebih banyak Kristus untuk dibagikan dalam sidang-sidang gereja. Akhirnya, hidup gereja akan diperkaya melalui pengalaman kita atas Kristus.

MASALAH KEBUDAYAAN

Kesulitan di Kolose bukan kedosaan seperti yang ada di Korintus, melainkan kebudayaan. Pertapaan dan filsafat adalah dua macam hasil yang besar dari kebudayaan. Orang-orang yang tidak berkebudayaan itu liar, sama sekali tidak memiliki ciri pertapaan. Tidak hanya demikian, orang-orang yang kebudayaannya rendah tidak memiliki filsafat. Semakin berkebudayaan seseorang, filsafat yang dimilikinya semakin tinggi. Orang-orang Yunani kuat dalam filsafat, sedangkan orang-orang Yahudi terkenal dengan ketentuan-ketentuan agamanya. Kebanyakan ketentuan-ketentuan agama berkaitan dengan penanggalan nafsu daging dan pengekangan diri. Gereja di Kolose tersusun dari orang Yunani dan Yahudi. Masalah orang Yunani adalah filsafat, sedang masalah orang Yahudi adalah tata cara agama. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai praktik kebudayaan telah menyusup ke dalam hidup gereja dan mendudukinya.

Dalam Kolose 3:10-11 Paulus mengatakan bahwa di dalam manusia baru “tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Mengatakan bahwa tidak ada tempat bagi orang Yunani dan Yahudi berarti tidak ada tempat bagi filsafat dan ketentuan-ketentuan agama. Kalau Anda membandingkan Kolose 3:11 dengan bagian-bagian yang sesifat, seperti 1 Korintus 12:13 dan Galatia 3:28, Anda akan menemukan bahwa hanya dalam Kitab Kolose saja Paulus menyebut orang Barbar dan orang Skit. Kaum beriman di Kolose mencurahkan banyak perhatian pada masalah kebudayaan dan tidak mau menjadi serupa dengan orang Barbar atau orang Skit. Karena itu, Paulus menunjukkan bahwa di dalam gereja sebagai manusia baru, tidak ada tempat baik bagi orang yang berkebudayaan atau tidak berkebudayaan. Tidak ada tempat bagi filsafat, pertapaan, atau ketentuan-ketentuan. Dalam manusia baru Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Manusia baru tersusun dari Kristus, bukan dari unsur kebudayaan yang mana pun.

Orang-orang Kolose tidak berdosa seperti beberapa orang yang di Korintus. Tetapi, kaum beriman di Kolose telah menggantikan Kristus, unsur penyusun manusia baru, dengan berbagai aspek kebudayaan. Ada yang memustikakan filsafat, ada yang memustikakan ketentuan-ketentuan agama. Hal-hal itu dibiarkan masuk ke dalam hidup gereja sebagai pengganti Kristus. Tetapi dalam manusia baru tidak ada tempat bagi apa pun, kecuali Kristus.

HIDUP OLEH KRISTUS, BUKAN OLEH PERTAPAAN

Pengertian tentang unsur penyusun manusia baru ini hendaknya tidak hanya menjadi doktrin bagi kita. Kita perlu memahami bahwa kita masing-masing mempunyai tipe filsafat dan pertapaan. Fakta bahwa kita mengkritik orang lain membuktikan bahwa kita berpegang pada filsafat kita sendiri. Lagi pula, secara insani, memang lebih baik memiliki filsafat dan pertapaan daripada tidak berkebudayaan. Di Korintus ada percabulan, tetapi di Kolose orang berkebudayaan dan dapat mengendalikan diri. Akan tetapi, kebudayaan dan kehalusan budi bahasa mereka telah menjadi pengganti Kristus. Tidak peduli berapa tingginya kebudayaan mereka, itu bukanlah Kristus.

Janganlah menganggap pertapaan Anda berasal dari Kristus. Anda dapat memperindah pertapaan Anda dengan mengatakannya sebagai memikul salib. Tetapi apa yang disebut memikul salib atau menyangkal diri pada hakikatnya mungkin merupakan bentuk-bentuk pertapaan yang terselubung. Sebagai contoh, bila seorang saudara sedang dipersulit oleh istrinya, mungkin ia menekan amarahnya. Ini termasuk pertapaan; ini bukan memikul salib, bukan pula menyangkal diri. Ketika saudara itu menekan dirinya sendiri, mungkin ia berkata dalam hati, “Aku tidak mau melampiaskan amarahku, aku tidak mau bertengkar atau berdebat dengan istriku.” Kelihatannya saudara itu menang, tetapi pujian bagi apa yang disebut kemenangan itu tidak diberikan kepada Kristus, melainkan kepada pertapaan saudara itu. Dalam situasi itu, ia telah menggantikan Kristus dengan filsafat dan pertapaannya.

Dalam pengalaman saya telah belajar membedakan antara menekan diri dengan hidup oleh Kristus. Sekarang, daripada mencoba menekan diri saya, lebih baik saya berpaling kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan Yesus, Engkau ada di sini. Aku perlu Engkau hidup di dalamku.” Dengan demikian saya tidak hidup oleh filsafat atau pertapaan saya, melainkan oleh Kristus sebagai Roh pemberi-hayat.

Kehidupan orang Kristen bukan suatu kehidupan ajaran atau cara, melainkan suatu kehidupan Kristus sebagai persona yang hidup. Dalam Galatia 2:19b-20 Paulus berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kehidupan Kristus yang sebenarnya di dalam kita berbeda sekali dengan pertapaan, menekan diri, menyangkal diri, dan apa yang dinamakan memikul salib. Alangkah besarnya perbedaan antara keselamatan Allah dengan agama-agama! Keselamatan Allah adalah masalah Kristus hidup di dalam kita. Dalam keselamatan Allah tidak ada tempat bagi upaya-upaya dan cara-cara kita. Keselamatan Allah adalah masalah Kristus semata. Jangan berusaha menyangkal diri dan memikul salib secara agamis, kita membiarkan saja persona Kristus yang hidup itu hidup di dalam kita dari saat ke saat. Kalau suami atau istri Anda mempersulit Anda, jangan mencoba berbuat apa-apa. Biarkan saja Kristus hidup di dalam Anda. Kehidupan orang Kristen mutlak merupakan masalah satu persona hidup yang hidup di dalam kita.

Dalam keempat kitab Injil kita dianjuri untuk menyangkal diri dan memikul salib. Tetapi, mudah sekali kita menerapkan perkataan tersebut menurut pengertian alamiah kita. Namun memperhidupkan Kristus tidaklah menurut konsepsi alamiah. Dalam konsepsi alamiah terdapat pikiran yang menyangkal diri dan menekan keinginan atau nafsu daging. Namun tidak ada pemikiran tentang Kristus sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit yang menjadi persona hidup dalam roh kita. Setelah melalui proses melalui inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan, Kristus sekarang adalah Roh itu di dalam roh kita menjadi hayat kita secara riil.

Mungkin saja kita memiliki suatu pengetahuan yang doktrinal bahwa kehidupan orang Kristen adalah Kristus hidup di dalam kita. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin hidup menurut praktik-praktik tertentu. Kita tidak memperhidupkan Kristus, melainkan berusaha menyangkal diri atau memikul salib. Karenanya, sebenarnya kita mungkin hidup menurut filsafat atau pertapaan kita. Ini berarti dalam kehidupan sehari-hari kita yang riil Kristus telah diganti dengan filsafat dan pertapaan kita sendiri.

KRISTUS ADALAH SEMUA

DAN DI DALAM SEGALA SESUATU

Dalam Kitab Kolose Paulus menunjukkan bahwa Kristus harus menjadi semua dan di dalam segala sesuatu. Dalam manusia baru tidak ada tempat bagi kebudayaan atau cara-cara pribadi. Kehendak Allah dalam ekonomi-Nya ialah agar Kristus menjadi segala sesuatu. Kristus harus menjadi hayat, kehidupan, kesabaran, kekudusan, dan kebaikan kita. Kristus seharusnya menjadi cara kita untuk menghadapi istri atau suami kita. Dari saat ke saat dalam kehidupan sehari-hari kita, Kristus seharusnya menjadi segala sesuatu yang kita perlukan. Bukan hidup oleh cara-cara tertentu, tetapi hanya memperhidupkan Kristus.

Sungguh sangat bermakna bahwa setelah membahas sekian banyak masalah penting dalam Kitab Kolose, Paulus lalu membicarakan damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita dan perkataan Kristus dengan limpahnya tinggal di dalam kita. Bila kita merasa bahwa filsafat kita lebih baik daripada orang lain, kita akan selalu mengkritik. Inilah situasi orang-orang Kolose. Di antara orang-orang yang berlatar belakang Yunani dengan Yahudi terdapat persaingan dan kecaman. Itulah alasan Paulus menyuruh mereka membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri di dalam mereka. Dia menganjuri orang-orang kudus untuk melupakan filsafat dan kebudayaan mereka. Kebudayaan dan filsafat bukanlah standar atau wasit; wasitnya adalah damai sejahtera Kristus. Kita perlu meninggalkan cara-cara kebudayaan kita dan membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi juri dalam hati kita. Tampaknya Paulus seolah-olah berkata kepada kaum saleh di Kolose, “Biarlah damai sejahtera Kristus menjadi tuan di dalam kalian. Kalian, kaum beriman di Kolose, telah menerima filsafat sebagai standar. Kalian harus membiarkan damai sejahtera Kristus menjadi standar kalian. Kalian perlu meninggalkan kebudayaan dan filsafat kalian.”

Dalam Kolose 3:16 Paulus menganjuri kaum saleh lebih lanjut, “Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu.” Dia segi negatif, kita mengesampingkan standar-standar kebudayaan kita, dan di segi positif, kita perlu dipenuhi dengan perkataan Kristus. Ini berarti kita harus mengizinkan perkataan Kristus memenuhi pikiran, emosi, tekad, angan-angan, dan pertimbangan kita. Setiap serabut dalam diri kita perlu diduduki oleh perkataan Kristus.

Kedambaan Allah ialah agar kita dari saat ke saat memperhidupkan Kristus, dan tidak memberi tempat bagi kebudayaan dan filsafat. Pelaksanaan kita satu-satunya haruslah persona hidup dari Kristus itu sendiri. Kedua, kita wajib menyingkirkan standar kebudayaan kita. Standar kita tidak seharusnya merupakan bentuk kebudayaan yang mana pun, melainkan damai sejahtera Kristus yang berhuni di dalam batin. Ketiga, kita perlu membiarkan perkataan Kristus memenuhi seluruh diri kita. Kita perlu membiarkan seluruh diri kita dipenuhi dan dijenuhi oleh perkataan Kristus. Jika kita melaksanakan ketiga hal tersebut, kita akan mengalami Kristus dengan spontan. Kita bukan hanya akan memiliki wahyu yang tinggi tentang Kristus, tetapi juga akan mengalami Dia secara riil dalam kehidupan sehari-hari kita.