Jenis Orang Kristen
Pembacaan Alkitab:
II Korintus 4:16-18; Ibrani 10:38; Galatia 2:19b-20.
Dalam berita ini saya ingin mempersekutukan satu hal kepada saudara saudari, yakni tentang jenis orang Kristen. Kita tahu, di dalam dunia ini, ada berjuta-juta orang Kristen. Di antara sekian banyak orang Kristen, ada yang berada di kalangan kekristenan, ada yang berada di kalangan Roma Katholik. Di kalangan kekristenan sendiri, mereka terbagi menjadi berbagai macam denominiasi dan sekte. Katholik pun, yang menyebut dirinya hanya satu susunan, sebenarnya juga memiliki perbedaan aliran. Di sini, kita tidak bermaksud melihat berapa banyak sekte dan denominiasi dalam kekristenan, tetapi kita akan melihat dari sudut hakiki orang Kristen, sebenarnya ada berapa jenis orang Kristen. Baik yang ada di kalangan kekristenan maupun yang ada di kalangan Katholik, yakni orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen, sebenarnya ada berapa jenis. Tujuan pembahasan ini adalah untuk menampakkan kepada saudara saudari, hari ini kita termasuk orang Kristen jenis apa. Dengan kata lain, kita tahu kedudukan kita sebagai orang Kristen ada di mana.
Dengan sederhana kita himpun semua orang Kristen di sini. Jika Anda perhatikan, dengan ajaib sekali kita akan tampak, bahwa jenis orang Kristen ternyata terdiri dari kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari dua jenis. Kelompok pertama ada dua jenis, kelompok kedua ada dua jenis, kelompok ketiga ada dua jenis, kelompok keempat ada dua jenis.
ORANG KRISTEN SEJATI DAN ORANG KRISTEN PALSU
Mari kita bahas dulu dua jenis dari kelompok pertama. Jenis pertama adalah orang Kristen sejati, jenis kedua adalah orang Kristen palsu. Ketika kita berjumpa dengan seseorang yang mengaku dirinya orang Kristen, kita bisa memeriksanya, apakah ia adalah orang Kristen sejati atau orang Kristen palsu. Benarkah ia memiliki hayat Kristus? Benarkah ia telah beroleh selamat? Anda segera tampak, meskipun di seluruh dunia ini banyak orang Kristen, sebenarnya mereka tidak lebih dari dua jenis, satu jenis adalah yang sejati, satu jenis adalah yang palsu.
Saya yakin, membedakan sejati atau palsu tidaklah sulit bagi saudara saudari. Tetapi bagi mereka yang baru beroleh selamat, saya ingin membahasnya sedikit lagi. Berdasarkan apakah kita mengetahui sejati atau palsunya seseorang yang mengaku dirinya Kristen? Berdasarkan satu hal, yaitu sudahkah ia mengalami kelahiran kembali, apakah dosanya sudah diampuni. Jika Anda berjumpa dengan orang Kristen yang berkata kepada Anda, bahwa dia tidak mengetahui dosanya sudah diampuni, dia tidak tahu di dalam dirinya ada Kristus sebagai hayat, dia tidak tahu apakah dirinya adalah anak Allah; dia hanya memberitahu Anda, bahwa dia masuk dan dibaptis sebagai orang Kristen, karena merasa kekristenan itu baik dan dia mau menjalankan ibadahnya; orang sedemikian adalah orang Kristen palsu.
Sekali-kali jangan mengira, orang Kristen palsu adalah orang yang khusus datang ke dalam perhimpunan orang Kristen dengan pura-pura. Jelas, itu seratus persen palsu. Tetapi masih ada satu macam orang yang mengaku Kristen tapi sebenarnya palsu. Orang ini benar-benar mau masuk ke dalam kekristenan, mau membantu kegiatan gereja, bahkan ada yang sampai menyerahkan harta benda dan rumah kepada gereja. Dari lahinah, dia benar-benar menjadi orang Kristen, tetapi dari batiniah, dia adalah orang Kristen palsu. Karena dia tidak pernah bertobat, tidak pernah mengaku dosa, tidak pernah menerima Yesus menjadi Juruselamatnya, tidak pernah menerima hayat Tuhan Yesus, tidak pernah dilahirkan kembali menjadi anak Allah. Meskipun dia telah masuk sebagai anggota kekristenan, tetapi di dalamnya dia belum pernah mencicipi karunia keselamatan Allah. ltulah sebabnya, saya mengatakan orang Kristen jenis adalah orang Kristen palsu.
Bagaimanakah dengan orang Kristen sejati? Orang-orang ini adalah orang-orang yang pernah bertobat, mengaku dosa, di dalam mereka ada hayat Tuhan, mereka benar-benar adalah anak-anak Allah. Orang Kristen sedemikian, tak peduli ia dari bangsa apa, tak peduli bagaimana tingkat pendidikannya, begitu Anda berjumpa dengannya, segera ada sesuatu yang berasal dari dalam diri Anda dan dari dalam dirinya yang bisa saling bersekutu, saling bereaksi. Segera pula Anda bisa berkata, "Orang ini adalah saudaraku." Kalaupun Anda berdua berada di kalangan yang berbeda, namun persekutuan yang di dalam terasa satu. Anda bisa menjabat tangannya dan berkata, "Kita adalah satu."
MENGEJAR DUNIA DAN MENUNTUT ROH KUDUS
Terhadap sejati dan palsunya orang Kristen, saya hanya membahas sedikit itu. Sekarang, kita mengesampingkan yang palsu untuk membicarakan orang Kristen yang sejati. Dalam kalangan orang Kristen sejati, juga ada dua jenis. Pertama, ada sekelompok orang Kristen, mereka benar-benar adalah anak-anak Allah, tetapi yang mereka cari dan tuntut adalah kesenangan dunia hari ini, mereka hanya menerima karunia Allah secara luaran. Mereka benar-benar telah beroleh selamat, benar-benar adalah anak-anak Allah, tetapi yang mereka dambakan dan cari di bumi ini adalah kenyamanan dan ketenteraman kehidupan masa kini. Kalau Anda mendengarkan doa-doa mereka, hanyalah dipenuhi dengan permohonan akan kesejahteraan duniawi, berkat duniawi; kalau tidak untuk keluarga, tentu untuk anak-anaknya. Pada saat memberitakan Injil, mereka akan memberitahu orang, "Dalam keluargamu tidak ada damai, percayalah Tuhan Yesus, keluargamu akan memiliki damai sejahtera Jika kamu percaya Tuhan Yesus, yang sakit akan disembuhkan. Anakmu tidak menurut, percayalah Tuhan Yesus, maka anak-anak akan menurut. Usaha dagangmu tidak laris, percayalah Tuhan Yesus, usahamu akan laris dan kamu akan kaya Pekerjaanmu tidak lancar, percayalah Tuhan Yesus, maka pekerjaanmu akan sukses." Yang menjadi pelajar akan berkata, "Untuk ujian kali ini, aku berdoa kepada Tuhan. Ternyata, semua pelajaran yang kubaca dan pelajari tepat keluar, sehingga aku bisa mengerjakan dengan baik." Lalu dia menganjuri teman-teman sekolahnya agar percaya Tuhan Yesus, jika percaya Yesus, dijamin pasti bisa lulus ujian.
Benarkah apa yang dikatakan di atas? Saya tidak berani mengatakan tidak Tetapi ingatlah, di dalam sifatnya ada masalahnya. Apakah menjadi orang Kristen adalah untuk mendapatkan kedamaian? Untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi? Pernah suatu kali, Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal" (Yohanes 6:27). Tuhan juga berkata, "Kamu telah makan roti itu dan kenyang." Apa artinya makan roti dan kenyang? Ini berarti membereskan masalah makanan. Semua ajaran bertujuan membereskan masalah hidup di dunia ini; tetapi kekristenan tidak membereskan masalah ini. Hanya kekristenan yang telah jatuh yang akan memberitahu orang, bahwa kekristenan membereskan masalah hidup di dunia ini.
Ketika Tuhan di bumt banyak orang yang tadiNya mengikutinya mengundurkan Kemudian Tuhan Yesus bertanya kepada kedua belas muridNya, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Tuhan seolah berkata, "Banyak orang mengikuti Aku, karena untuk makan roti dan kenyang. Aku tidak membereskan permasalahan hidup mereka, maka mereka mengundurkan diri. Apakah kalian masih mau mengikuti Aku? Atau mau pergi jugakah kalian?" Mengundurkan diri berarti pergi untuk mencari nafkah sendiri, sedang mengikuti Tuhan berarti mencari yang bersifat kekal itu. Petrus menjawab, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal."
Hari ini, pemberitaan Injil Anda tidak bisa selalu memberi kesan kepada orang, bahwa percaya Tuhan Yesus akan mendapatkan kesejahteraan di bumi, percaya Tuhan Yesus akan mendapatkan banyak berkat materi. Meskipun orang-orang sedemikian benar-benar telah beroleh selamat, tetapi mutu mereka masih rendah, mutu orang Kristen sedemikian ini masih kurang. Apakah yang disebut orang Kristen itu? Orang Kristen adalah orang yang mencari dan menuntut yang sorgawi; orang Kristen adalah orang Ibrani. Arti orang Ibrani adalah orang yang telah menyeberangi sungai. Dari tepi sini menyeberang ke tepi sana, dari dunia hari ini menyeberang ke dunia kekal. Semua pengharapan kita tidak di sini, melainkan di sana. Paulus berkata, "Penderitaan ringan sekarang ini, mengerjakan bagi kami pengharapan kemuliaan yang tidak terkatakan." Yang kita perhatikan bukanlah hari ini, yang kita perhatikan adalah yang kelak, yang kekal.
Saudara saudari, orang Kristen yang bermutu tinggi adalah orang Kristen yang "mengesampingkan bumi”. Jika Allah memberikan jalan yang damai kepada kita, kita akan menempun jalan damai itu; jika Allah mengizinkan kita menemui kesulitan, kita akan dengan suka rela menerima kesulitan itu. Yang aku tuntut adalah Roh Kudus, bukan materi duniawi. Terhadap orang Kristen yang menginginkan mendapatkan suatu materi duniawi, mendambakan kenikmatan duniawi, saya tidak berani mengatakan, bahwa dia adalah orang Kristen palsu, namun saya berani mengatakan, bahwa dia bermutu. rendah. Tetapi, masih ada sekelompok orang Kristen yang di atas mereka barang-barang dunia tidak mempunyai kedudukan, yang mereka cari adalah pertumbuhan hayat, mereka mengasihi Tuhan. mereka mau Tuhan, mereka mengikuti Tuhan; inilah orang Kristen bermutu tinggi.
Saudara saudari, Anda berada di kelas mana? Yang kelas rendah atau kelas tinggi? Tinggi atau rendah adalah tergantung pada penuntutan Anda. Jika Anda menuntut yang tinggi, Anda akan tinggi; jika Anda menuntut yang rendah, Anda tentu saja rendah.
BERDASARKAN PERASAAN DAN BERDASARKAN IMAN
Mari kita lihat lebih lanjut orang-orang Kristen kelas tinggi. Kebetulan sekali, kelompok ini juga terbagi menjadi dua jenis. Ada sejenis orang Kristen, mereka mencari perkara-perkara rohani, menuntut perkara-perkara yang bersifat kekal, menuntut Tuhan sendiri; tetapi mereka mencari dan menuntut perkara-perkara itu berdasarkan perasaan mereka sendiri, berdasarkan gairah mereka sendiri. Mereka sangat bergairah membaca Alkitab, setiap hari mengadakan persekutuan dengan saudara saudari, dalam sidang-sidang juga bergairah. Tetapi setelah masa itu lewat, kegairahan mereka menurun, segera doa-doa mereka ikut mereka, membaca Alkitab terasa lesu, persekutuan dengan saudara-saudari tidak bersemangat. Dua keadaan itu, yakni sebentar gairah, sebentar lembam, membuktikan bahwa orang Kristen itu hidup di dalam emosi mereka. Memang mereka telah beroleh selamat, mengasihi Tuhan, juga menuntut perkara-perkara rohani, tetapi mereka masih hidup di dalam emosi mereka, hidup di dalam perasaan mereka.
Dua hari yang lalu, ada seorang saudara dari tempat yang jauh datang khusus untuk mencari saya. Dia merasa bahwa dirinya sedang menderita Dia berkata kepada saya, "Saudara, dalam doaku beberapa hari ini, aku tidak menjamah Tuhan, aku telah kehilangan penyertaan Tuhan, aku sungguh tidak tahan!" Saya berkata, "Apakah ada dosa yang tidak rela Anda lepaskan?" "Tidak ada," jawabnya. "Adakah sesuatu yang Tuhan inginkan untuk Anda taati, namun Anda tidak mau taat?" Dia menjawab, Tidak. Apa yang Tuhan kehendaki agar kulakukan, semuanya telah kulakukan." Saya bertanya lagi, "Adakah Tuhan menginginkan sesuatu dari Anda tetapi Anda tidak mau menyerahkan untuk Tuhan?" Kembali dia menjawab, Tidak." Kemudian saya berkata, "Jika demikian, Anda tenang saja. Tuhan tidak meninggalkan Anda. Tuhan hanya ingin membawa Anda keluar dari perasaan agar masuk ke dalam iman."
Tidak ada seorangpun yang bisa mengikuti Tuhan bersandarkan apa yang dilihat oleh mata. Mencari dan menuntut Tuhan hanya bisa bersandarkan iman. Sejak hari pertama Anda mengikuti Tuhan, bukan karena mata Anda telah melihat Dia, juga bukan karena perasaan Anda merasakan Dia, melainkan karena Anda telah mendapatkan satu iman. Oulu bagaimana Anda bisa beroleh selamat, sekarang Anda mengikuti Tuhan juga begitu; dulu bagaimana Anda mendapatkan hayatNya, sekarang Anda mendapatkan pertumbuhan hayat juga begitu. Jadi, orang-orang yang telah mendapatkan Tuhan dan mengikuti Tuhan juga terbagi menjadi dua jenis. Satu jenis adalah yang berdasarkan perasaan, satu lagi adalah yang berdasarkan imam. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan, "Orang benar akan hidup oleh iman." Anda mengikuti Tuhan bukan berdasarkan perosaan, bukan berdasarkan penglihatan mata, melainkan berdasarkan iman.
Mungkin saudara saudari bertanya, "Bagaimana baru terhitung berdasarkan iman?" Misalnya, seorang saudara baru beroleh selamat, ketika ia berdoa, penuh dengan penyertaan Tuhan, membaca Alkitab terasa nikmat, Sering mendapatkan penyegaran dalam sidang-sidang, sangat lancar dalam memberitakan Injil, semuanya terasa menyenangkan, sepanjang hari penuh penyertaan Tuhan. Tetapi, bagaimana sekarang? Dia tidak merasakan penyertaan Tuhan lagi. Lalu, benarkah penyertaan Tuhan telah hilang dari dirinya? Tidak. Hanya perasaan penyertaanNya yang telah hilang. Fakta penyertaan masih tetap ada, namun perasaan penyertaan telah hilang. Mengapa demikian? Karena Tuhan ingin membawa dia keluar dari perasaan, agar masuk ke dalam iman.
Ada satu perumpamaan yang sangat dangkal. Pada hari-hari tertentu dalam musim hujan, Anda tidak bisa melihat matahari karena ia tertutup oleh awan tebal. Apakah matahari itu telah hilang? Tidak. Matahari tetap ada, hanya saja ia tertutup oleh awan. Demlikian pula halnya dengan kita menuntut Tuhan. Ketika kita baru beroleh selamat atau baru dibangunkan oleh Tuhan, Tuhan memberi kita satu perasaan. Kalau tidak ada perasaan itu, kita tidak akan membaca Alkitab atau berdoa karena tidak ada rasanya, kita tidak akan memberitakan Injil karena terasa tawar. Penyertaan yang disertai perasaan ini, seperti lapisan kembang gula pada obat yang diberikan kepada anak kecil.
Ketika saya baru beroleh selamat, membaca Alkitab sangat senang, makin membaca makin berselera. Setiap pagi, sebelum cuci muka selalu membaca satu potongan Alkitab; ketika makan, satu tangan memegang alat makan, satu tangan memegang Alkitab, sangat senang membaca. Saya juga sangat senang berdoa, makin berdoa makin sukacita Ingatlah, semua itu adalah perasaan, semua itu adalah lapisan kembang gula. Kemudian, perlahan-lahan Tuhan memimpin saya agar tidak hidup berdasarkan perasaan, melainkan berdasarkan iman.
Tetapi, ini bukannya sekejap saja sudah bisa. Panjang pendeknya waktu ini, tidaklah sama bagi tiap-tiap orang. Ada yang hanya setengah tahun, ada yang satu tahun. Potongan pertama adalah "kehidupan perasaan." Setelah masa ini lewat, perasaan seoleh lenyap; membaca Alkitab terasa tawar, berdoa tidak berselera, seolah tidak memiliki kata-kata untuk memberitakan Injil Inilah yang disebut kehidupan yang “kering”. Setelah sejangka waktu demikian, suatu hari ajaib sekali, terasa bersukacita; membaca Alkitab kembali berselera, berdoa juga ada rasanya, Hanya, derajat sukacita kali ini lain dengan yang dulu, jangka waktu sukacitanya juga tidak seperti yang dulu. Namun, tak lama kemudian terasa tenggelam lagi. Setelah lewat beberapa waktu, ajaib sekali, kembali senang memberitakan Injil, senang berdoa. Masa sukacita kali ini lebih pendek daripada yang sebelumnya; tak lama kemudian, lagi-lagi terasa turun, lembam. Sejangka waktu kemudian, kembali lagi bersukacita Masa sukacita pada kali ketiga Lebih pendek lagi daripada masa kedua Demikianlah setahap demi setahap di atas diri Anda timbul keadaan yang sangat menyenangkan, juga ada masa yang tenggelam, tawar. Saat-saat inilah Anda mulai terlepas dari hidup berdasarkan perasaan ke dalam hidup berdasarkan iman. Doa Anda tidak lagi berdasarkan perasaan Anda, pemberitaan Injil Anda tidak lagi berdasarkan perasaan Anda, sidang-sidang Anda tidak lagi berdasarkan perasaan; segala sesuatu Anda tidak lagi naik turun, tinggi rendah seperti ombak taat, melainkan tenang, datar dan terus maju. Inilah yang disebut tenatih dan maju.
IMAN YANG POSITIF DAN IMAN YANG NEGATIF
Sampai di sini, masih belum tamat. Orang Kristen kelas atas, orang Kristen yang hidup berdasarkan iman, masih juga terbagi menjadi dua jenis. Pertama, imannya selalu positif; artinya, ia selalu beriman, bahwa Tuhan bekerja baginya. Meskipun aku tidak merasakan bahwa Tuhan bekerja, namun aku percaya bahwa Tuhan sedang bekerja. Aku percaya Tuhan beserta, aku percaya Tuhan memberkali. Ini sangat baik. Sedikitpun ia tidak merasakan penyertaan Tuhan, tidak merasakan berkat Tuhan, tidak merasakan kekuatan Tuhan, namun ia percaya akan penyertaan Tuhan, percaya akan berkat Tuhan, percaya akan kekuatan Tuhan. Atas segala hal dalam mengikuti Tuhan, ia hanya berdasarkan iman, tidak berdasarkan perasaan. Imannya selalu pada aspek positif.
Tetapi ingatlah, iman demikian masih belum cukup tinggi. Orang yang benar-benar hidup oleh iman, imannya Lebih tinggi lagi. Apakah iman yang lebih tinggi itu? Yaitu iman Tuhan Yesus. Tuhan tidak hanya percaya bahwa Allah mendengarkan doaNya, sehingga Lazarus dibangkitkan, Tuhan juga percaya bahwa Allah mendengarkan doanya sehingga Lazarus tidak dibangkitkan. Ketahuilah, ketika Tuhan Yesus disalibkan, orang-orang yang di bawah mengejek Dia: Jika Allah berkenan kepadaNya, tentu Allah akan mengutus malaikat-malaikatNya untuk menolongNya turun dari salib. Tetapi Tuhan tidak demikian. Dia percaya Allah menolong Dia, Dia juga percaya Allah tidak menolong Dia.
Sangat mengherankan, setelah Tuhan kita bekerja di bumi, akhirnya, Betsaida menolak Dia, Khorazim menolak Dia, tetapi Dia tetap beriman. Tuhan berkata, "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu" (Matius 10:21,25-26). Dia percaya Allah memberkali, Dia juga percaya Allah tidak memberkali. Dia percaya Allah bekerja, Dia juga percaya Allah tidak bekerja. Iman inilah yang membawa Dia naik ke salib. Inilah iman yang paling tinggi, paling unggul. Iman ini membawa Tuhan Yesus kepada kedudukan kematian, sehingga membereskan segala ,sesuatu milik ciptaan lama; demikianlah selanjutnya baru ada kebangkitan yang sejati.
Saudara saudari, jika Anda ingin mencapai hayat pada tingkatan sedemikian, harus memiliki iman ini. Dalam Galatia 2:20 Paulus mengatakan, "Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah." Terjemahan ayat ini secara lebih tepat adalah "Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman Anak Allah." Iman Anak Allah seharusnya menjadi iman kita, dan berdasarkan iman ini kita menempuh hidup di bumi.