Pertentangan dalam Hidup Orang Kristen
Pembacaan Alkitab: II Korintus 4:7-9; 12:9; 11:29.
Hal yang Bertentangan
Dalam berita ini Kita ingin melihat sedikit mengenai pertentangan dalam penempuhan hidup orang Kristen. Jika Anda memiliki sedikit pengalaman sebagai orang Kristen, Anda segera menyadari, bahwa seluruh penghidupan orang Kristen adalah hal yang bertentangan. Semakin banyak hal yang bertentangan di atas diri seorang saudara atau saudari, itu makin baik. Semakin banyak pertentangan yang ia alami, semakin banyak berkat yang ia terima. Semakin banyak pertentangan yang ia dapatkan, semakin maju pertumbuhan rohaninya.
Ketahuilah, ketika seseorang (Kristen) baru mengikuti Tuhan, keadaan pertentangan ini tidak begitu banyak, keadaan lahinah dan batiniah mereka hampir selaras. Misalnya, Anda baru beroleh selamat, atau baru mendapatkan kebangunan, pada saat ini, membaca Alkitab bagi Anda ada cita rasanya, berdoa juga ada kekuatan dan terasa nyaman. Bahkan mengherankan sekali, doa-doa orang Kristen yang baru beroleh selamat seolah sangat mudah mendapatkan jawaban; sepertinya asal ada doa, pasti ada jawaban, begitu berdoa, segera didengar. Anda ingin mengalahkan dosa atau pencobaan terasa mudah sekali. Anda ingin bersidang, segera ada kekuatan untuk bersidang. Pendek kata, ketika seseorang baru dibangunkan atau baru beroleh selamat, segala sesuatunya tidak ada yang bertentangan, baik lahinah maupun batiniah terasa selaras. Saat itu, Anda bisa menyanyi lantang, bisa memuji, sepanjang hari Anda penuh dengan penyertaan Tuhan. Anda bisa berdiri dan bersaksi, bahwa Tuhan benar-benar beserta dengan manusia, karunia penyelamatan Tuhan benar-benar hidup dan penuh kuat kuasa.
Mengherankan sekali, setelah lewat sejangka waktu, Anda segera memasuki suatu situasi yang lain, yakni terasa bahwa lahinah dan batiniah Anda tidak serasi lagi, terasa ada pertentangan. Anda ingin membaca Alkitab, tapi merasa tidak berselera. Anda ingin berdoa dengan baik, tapi tidak ada kekuatan untuk berdoa; kalaupun berdoa, seolah tidak ada fawaban. Anda ingin pergi bersidang, tetapi seolah tidak ada semangat untuk pergi, begitu ada sedikit saja perkara yang mengganggu, segera tidak datang bersidang. Ada miniat, tetapi tidak ada kekuatan. Demikianlah muncul pertentangan antara luar dan dalam; di dalam menjadi semacam orang, di luar menjadi orang macam lain. Pada saat ini, Allah baru akan memulai langkah kedua.
Apakah yang sebenarnya terjadi? Ketahuilah, meskipun pada permulaannya Anda telah mengalami kuat kuasa Allah, sebenarnya, saat itu Anda belum mengenal diri Anda sendiri, dan pengalaman Anda itu tidak cukup limpah, kebanyakan merupakan kegembiraan dalam perasaan. Karena itu, untuk membuat Anda mengenal diri sendiri, dan untuk menolong Anda terlepas dari penghidupan perasaan atau emosi, Allah harus menaruh Anda pada pengalaman tahap kedua.
Dalam tahap kedua ini, Allah seolah membiarkan Anda memiliki miniat, namun tidak memberi Anda kekuatan. Anda ingin membaca Alkitab, Allah tidak memberi Anda kekuatan untuk itu; Anda ingin berdoa, Allah tidak memberi Anda kekuatan untuk itu; Anda ingin bersidang, Allah tidak memberi Anda kekuatan untuk itu; Anda memiliki kemauan untuk menuntut Tuhan, namun Anda tidak memiliki kekuatan untuk itu. Tidak hanya demikian, keadaan luaran yang Allah aturkan bagi Anda, juga seolah bertentangan dengan keadaan batiniah Anda. Ketika Anda ingin menghadiri sidang, tidak hanya tidak ada kekuatan untuk pergi, sebaliknya malah ada urusan-urusan yang mengganggu yang membuat Anda tidak bisa bersidang. Anda ingin berdoa, namun hanya ada minit berdoa, tidak ada kekuatan untuk itu. Atau baru saja Anda berdoa, saat itu juga, anak Anda ribut, sehingga membuat Anda tidak bisa berdoa. Hal-hal demikian membuat Anda merasa betapa tidak mudahnya menjadi orang Kristen, Anda lalu menyalahkan diri sendiri, juga menyalahkan Allah. Ingatlah, pengalaman pertentangan ini, pada satu aspek adalah agar Anda tampak diri Anda sendiri, agar Anda mengenal "manusia" Anda, di aspek lain adalah agar Anda dibawa keluar dari emosi Anda.
Kemajuan pada Masa Bertentangan
Sampai di sini, Izinkan saya mengatakan beberapa patah kata mengenai fakta yang sesungguhnya. Sering kali, seorang saudara atau saudari yang bergairah di luar, belum tentu mempunyai kemajuan yang sungguh-sungguh; saudara saudari yang mempunyai kemajuan yang sungguh-sungguh, belum tentu mempunyai kegairahan yang di Luar. Misalnya, hari ini ada saudara atau saudari yang berkekuatan dalam berdoa, berselera dalam membaca Alkitab, bergairah dalam bersidang, juga ikut pasukan Injil. Kita segera mengatakan, bahwa saudara atau saudari ini dibangunkan Tuhan; ini benar. Tetapi, saya di sini bukanlah mengatakan perkataan yang membuat Anda putus asa. Ketahuilah, keadaan itu belum tentu sungguh-sungguh ada kemajuan rohani.
Ada lagi satu keadaan, ada saudara saudari yang dipimpin Tuhan masuk ke dalam suatu situasi, tidak mempunyai kekuatan untuk berdoa, tidak mempunyai selera dalam membaca Alkitab, juga tidak senang bersidang. Secara luaran, dia telah tawar, telah mundur, tetapi kemajuan orang Kristen yang sejati justru ada di sini. Di sini keadaan dirinya yang sebenarnya tersingkapkan, dia mengenal betapa lemahnya dirinya sendiri. Di sini dia mengenal, bahwa di dalam dirinya sedikitpun tidak ada kekuatan untuk melaksanakan kehendak Allah. Saudara saudari yang kekasih, ketahuilah, jika seorang Kristen belum melewati potongan masa ini, ia sulit sekali mendapatkan kemajuan rohani.
Ketika Anda baru mencari dan menuntut Tuhan, Anda seolah sebuah perahu layar yang benayar dengan angini buritan, tidak perlu mengeluarkan tenaga sudah maju ke depan. Anda mudah mengalahkan dunia, mudah menolak pencobaan. Tetapi setelah keadaan ini lewat, Anda lalu merasa bahwa dosa kembali muncul, berbagai pencobaan balik lagi. Saat ini, Anda merasa bahwa Anda harus kudus, Anda harus terlepas dari dunia, namun Anda tidak mempunyai kekuatan. Bersamaan dengan itu, keadaan luaran yang Allah aturkan bagi Anda justru terasa merepotkan, semuanya seolah tidak menyenangkan dan membuat Anda tidak tahan.
Seseorang yang sedang dalam proses pertentangan ini, tentu merasa sangat menderita Tetapi, orang yang tidak mengenal hal-hal rohani, atau orang yang tidak banyak mengenal hal-hal rohani, akan berkata, "Ah, sayang sekali, saudara anu, saudari anu, beberapa bulan yang lalu sangat baik, gairah mengabarkan Injil, Sering bersidang, Sering membuka mulut berdoa. Sekarang, tidak datang bersidang, tidak lagi membuka mulut untuk berdoa, tidak lagi mengabarkan Injil. Ia telah menjauhi Tuhan." Demikianlah orang lalu mengira ia telah gagal. Tak disangka, orang yang dalam pandangan manusia telah gagal, ternyata justru sedang mengalami satu tahap kemajuan dalam penghidupannya sebagai orang Kristen.
Saya khawatir, ada saudara saudari yang akan berkata kepada saya, "Saudara, Anda menganjuri orang untuk mundur. Anda berkata, bahwa saat orang mundur, saat itulah ia maju. Bukanlah ini berarti menganjuri orang untuk mundur?" Izinkan saya mengajukan pertanyaan, silakan Anda sekalian merenungkannya, "Seorang Kristen lebih banyak mengalami kemajuan pada saat ia menang atau pada saat ia gagal? Seorang Kristen yang menjumpai satu pencobaan atau menghadapi satu temperamen, lebih banyak mendapatkan kemajuan pada saat dia menang atau pada saat ia kalah?" Secara luaran, dia lebih banyak mengalami kemajuan saat dia menang; tetapi ditinijau dari dalam, belum tentu. Seringkali, kemajuan yang didapat oleh seseorang ketika ia jatuh atau gagal, jauh lebih banyak daripada ketika ia menang, jauh melebihi ketika ia teguh berdiri.
Mungkin Anda akan berkata, "Saudara, ini lebih berbahaya lagi! Semua orang berkata, bahwa jatuh itu tidak baik. Tetapi Anda malah berkata, bahwa kemajuan pada saat jatuh lebih banyak daripada saat berdiri, kemajuan pada saat gagal lebih banyak daripada saat menang. Tidakkah kata-kata ini berarti menyuruh orang untuk jatuh?" Saya akan menjawab, "Kalaupun saya menganjuri Anda untuk jatuh, apakah Anda benar-benar jatuh?" Saudara saudari, misalnya saya berkata kepada Anda: Berguling-gulinglah di tengah jalan! Apa yang terjadi? Semakin saya berkata begitu, semakin teguh Anda berdiri. Karena itu, ingatlah, jatuh atau bangunnya seseorang tidak tergantung pada Anda. Bukan berarti karena Anda ingin jatuh, lalu Anda jatuh; atau karena Anda ingin berdiri, lalu Anda berdiri.
Banyak saudara saudari, justru karena mereka terus berdiri, maka mereka tidak memiliki kemajuan. Mereka perlu mengalami satu kejatuhan yang hebat, baru kemudian ada kemajuan. Saya menjumpai banyak orang yang derhikian. Saya pernah menjumpai seorang saudari, ia sangat lemah lembut, sedikitpun tidak memiliki temperamen, dalam keadaan bagaimanapun selalu ramah. Tetapi kami orang-orang yang membimbing, justru menemukan satu kesulitan, yaitu saudari ini memendam satu pikiran yang selalu merasakan bahwa saudari-saudari yang melayani bersamanya kurang lembut, selalu merasakan bahwa saudari-saudari sekerja kurang ramah. Ketahuilah, kelemahlembutan saudari tadi adalah kebaikan alamiahnya,' namun itu malah menjadi kesulitannya dalam hal rohani. Setiap hari ia menghakimi orang lain, namun tidak mau menghakimi dirinya sendiri. Seolah ia berkata, "Ketika aku belum beroleh selamat, aku sudah jauh lebih lemah lembut dan ramah daripada kalian. Setiap hari kalian banyak berdoa, banyak membaca Alkitab, namun, sampai kini kalian tidak lebih ramah daripada aku."
Bagaimana kami membantu saudari ini? Kami hanya dapat berdoa, "Ya Tuhan, hancurkan kelemahlembutan saudari ini!" Tuhan mendengar doa kami. Perlahan-lahan Tuhan mengatur suasana, membangkitkan suatu keadaan yang mengarah kepada dia, hampir semua orang menyulitkan dia. Demikian ditanggulangi, sampai suatu hari, dia tidak dapat lembut lagi, dan meledaklah amarahnya. Saat ini, dia merasa betapa dirinya bertentangan, betapa menderita. TadiNya saudari ini seolah seperti Maria yang lembut dan tenang, sekarang dalam sekejap marah-marah luar biasa. Dia sendiri merasa heran, lalu berdoa, "Ya Tuhan, tunjukkan kepadaku, mengapa bisa demikian? Sekian tahun aku mengikutiMu, mengapa kini demikian?" Dalam keadaan ini, di dalamnya dia ingin kelemah-lembutan, tetapi di luarnya, tidak ada kelemah-lembutan. Di dalam dan di luarnya bertentangan, dia sangat menderita.
Demikian menderita, sampai suatu hari, ajaib sekali, terang Roh Kudus menyinari dia, menampakkan kepadanya keadaan sesungguhnya dari "diri"nya. Dia tampak bahwa kelemah-lembutannya dulu adalah yang alamlah, bukan yang rohanlah, bukan milik Tuhan, tetapi milik dirinya sendiri. Tuhan menampakkan kepadanya, bahwa kelembutannya itu bukanlah kebaikan rohani, malahan kesulitan rohani. Tuhan akan menghancurkan kelemah-lembutannya itu. Bersamaan dengan itu, dia tampak betapa lemahnya dia. Begitu menjumpai agak banyak masalah, kelemah-lembutannya tidak bisa mengatasi masalah itu. Saat inilah dia baru benutut di hadapan Tuhan dan berkata, "Tuhan, hari ini aku baru mengenal diriku sendiri, kelemah-lembutanku tidak ada artinya. PermintaanMu sedikit saja ditambah, aku sudah tidak bisa memenuhinya."
Saudara saudari kekasih, proses ini adalah proses yang bertentangan, juga disebut proses peremukan. Kelemahlembutan alamlah saudari tadi justru menjadi kesulitannya untuk mengenal Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan membuat dia mengalami keadaan yang bertentangan itu, agar meremukkan kelemah-lembutan alamiahnya. Sejak hari itu, dia belajar satu pelajaran, mengetahui bahwa segala kebaikan yang berasal dari dirinya sendiri tidaklah berharga. Dia juga mengetahui bahwa kebaikan alamiahnya sangatlah terbatas, bahkan kebaikan itu adalah musuh dari kerohaniannya. Demikianlah dia tidak lagi bersandarkan dirinya sendiri, tidak lagi memegahkan dirinya sendiri; dia mengenal hidup bersandar Tuhan, menampilkan kelemah-lembutan Tuhan.
Pertentangan Membuat Orang Mengenal Dirtnya Sendiri
Saya yakini, kita semua jelas dengan contoh di atas. Kemajuan seorang Kristen tidak terjadi pada saat ia lancar, melainkan pada saat ia tidak lancar; kemajuan seorang Kristen, tidak terjadi pada saat ia berdiri, melainkan pada saat ia jatuh. Saudara saudari, ketahuilah, syarat utama kemajuan rohani seorang Kristen adalah "mengenal diri sendiri". Ketika seseorang sedang teguh berdiri, ia tidak mudah mengenal dirinya sendiri. Pada saat Anda jatuh, tersinigkaplah keadaan sebenarnya diri Anda. Saat inilah baru Anda mengenal diri Anda sendiri.
Tadi malam saya mendengar satu kesaksian seorang saudari, ia sedang mengalami banyak kegagalan, merasa sangat dingin dan tawar, merasa sangat menderita. Tetapi dipandang dari sudut lain, adanya kejatuhan itu menyatakan, bahwa ia memang memerlukan kejatuhan itu; ia memerlukan ketawaran itu; ia memerlukan kemunduran itu. Pada diri orang-orang tertentu, jika tidak ada kejatuhan, ketawaran, kemunduran itu, mereka sulit mengenal dirinya sendiri. Sebab itu, kemajuan rohani tidak berada di dalam hal yang lain, tetapi berada di dalam pertentangan rohani. Tanpa pertentangan rohani, tidak ada kemajuan rohani.
Ketika saya baru mulai melayani Tuhan, saya Sering menilai pelayanan seseorang di hadapan Allah berdasarkan ketawaran atau kegairahannya. Tetapi hari ini tidak lagi demikian. Kalau saya melihat orang bergairah, saya tidak terlalu bergembira; melihat orang dingin, tawar, saya tidak terlalu bersedih hati. Saya tahu, suatu hari Anda akan sedikit dingin; suatu hari Anda akan sedikit tenggelam; bahkan Anda mungkin mengalami satu kekalahan yang besar. Mungkin sekali, orang-orang yang had ini Anda pandang kalah, orang-orang yang Anda rasa dingin, orang-orang yang Anda kira tidak begitu berguna, setelah satu tahun kemudian, mereka sangat kuat, mereka sangat hebat. Ingatlah, kemajuan sesungguhnya dari hidup rohani orang Kristen tidak tenetak pada keadaan yang lancar, melainkan pada keadaan yang bertentangan. Pengalaman ini memang tidak menyenangkan, namun mendatangkan akibat yang baik. Begitu Anda beberapa kali dibawa Tuhan mengalami ini, Anda akan mutlak hidup di dalam iman, Anda tidak akan hidup di dalam emosi.
Kelemahan ltu Patut Dimegahkan
Ketika di Manila, saya mendengar ada saudara saudari yang berkata, "Aku sungguh-sungguh lemah, mohon kalian mendoakan aku yang lemah ini." Mendengar hal ini, saya merasa tidak enak. Kemudian saya membawakan tiga sampai empat pemberitaan yang mengatakan, bahwa doa untuk orang yang lemah itu tidaklah Alkitablah. Lihatlah, Paulus malah bermegah atas kelemahannya. Paulus mengatakan, bahwa sampai hari itu, ia tetap berada di dalam kelemahannya; namun ia memegahkan kelemahannya itu. Dia berkata, "Siapa yang lemah? Aku lebih lemah lagi." Sebab itu, ingatlah, kelemahan bukanlah sesuatu yang membencikan, sebaliknya malah cukup berharga; kelemahan bukanlah sesuatu yang menakutkan, sebaliknya malah boleh dimegahkan.
Saudara saudari yang kekasih, hanya orang Kristen iang masih hijaulah yang merasa dirinya kuat. Orang Kristen yang berpengalaman akan berkata, "Siapakah yang lemah, dan aku tidak? Tetapi aku tidak hidup di dalam kelemahanku, aku hidup di dalam iman. Sejak hari ini, aku menjadi anak Allah bukan di dalam diriku sendiri, melainkan di dalam Dia. Dialah Tuhanku, Dialah kekuatanku. Ketika aku kuat, aku tidak begitu bersandar kepadaNya, aku tidak begitu menengadah kepadaNya. Sebaliknya, ketika aku lemah, kasih karuniaNya ternyata di atas diriku, kasih karuniaNya menunjangku."
Saudara saudari yang kekasih, perkataan ini menampakkan kepada kita, bahwa kita perlu dibawa Tuhan ke suatu suasana, sehingga kita tampak betapa diri kita penuh kelemahan, dan hanya Dia yang kuat. Di sana kita tampak betapa diri kita tidak mampu berbuat apapun, sebaliknya Dia teguh perkasa. Hanya pada hari ini, dan harus mencapai hari ini, barulah kita bisa berkata, "Ada satu harta mustika ditaruh di dalam bejana." Jika kita melihat bejananya, sungguh tidak ada yang patut dihargai; tetapi jika kita menjamah harta mustikanya, sungguh sangat berharga dan mulia.
Ketika Anda baru beroleh selamat, Anda merasa bahwa kednanya sama-sama berharga; Tuhan berharga, bejana juga berharga; Tuhan kuat, aku juga kuat; Tuhan kudus, aku juga kudus. Sampai suatu hari, Tuhan memperlihatkan kepada Anda, betapa Dia tidak bisa dibaurkan dengan Anda (jangan salah mengerti perkataan ini, pada satu aspek, Tuhan telah berbaur dengan kita, pada aspek lain, Tuhan tidak bisa berbaur dengan kita). Dia akan melakukan pekerjaan yang membedakan. Baik segi kebaikan maupun segi keburukan Anda tidak ada nilainya, semuanya seperti bejana. Sampai suatu hari Anda harus menundukkan kepala dan berkata, "Ya Tuhan, semua yang berasal dariMu adalah berharga, semua yang berasal dari diriku hanyalah bejana. Memandang Engkau sungguh mulia, memandang diriku sendiri sungguh najis."
Sampai di sini, Anda baru tahu bagaimana hidup menengadah kepadaNya, dan tidak lagi bersandarkan diri sendiri, tidak lagi memegahkan diri. Kalaupun memegahkan diri, akan seperti Paulus, yakni tidak memegahkan kebaikannya, melainkan memegahkan kelemahannya; bermegah bahwa aku bisa marah-marah, bermegah bahwa aku tidak bisa rendah hati, bermegah bahwa aku tidak memiliki kelemah-lembutan, bermegah bahwa aku lemah dan tidak memiliki kekuatan. Orang yang pernah menerima pimpinan Tuhan akan bermegah atas kekurangannya, sebaliknya, orang yang tidak pernah dipimpin Tuhan akan bermegah atas kebaikannya. Paulus berkata, "Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku juga merasa lemah?" Anda juga bisa berkata, "Ada orang yang marah-marah, tidakkah aku juga bisa marah-marah? Ada orang yang sombong, tidakkah aku juga bisa sombong? Ada orang yang tawar, tidakkah aku juga bisa tawar? Ada orang yang jatuh, tidakkah aku juga bisa jatuh? Jika aku memegahkan diriku, .kelamahan-kelemahan inilah yang aku megahkan! Oh, saudara saudari, siapakah yang bisa benar-benar menang? Yaitu orang yang kalah. Siapakah yang bisa benar-benar berdiri teguh? Yaitu orang yang jatuh. Itulah sebabnya saya berkata, "Kehidupan yang sebenarnya dari orang Kristen adalah kehidupan yang bertentangan."