Daftar isi Dua Belas Bakul (8) ยท bab 1/12

Hubungan Normal antara Allah dengan Manusia

Pembacaan Alkitab:

Mazmur 42:2-3; 43:4a; Kidung Agung 1:2-3; Matius 22:36-38; Yohanes 21:15a.

HUBUNGAN ANTARA ALLAH DENGAN MANUSIA

Dalam pembahasan kali ini, saya merasakan, bahwa kita perlu membahas sedikit tentang hubungan antara Allah dengan kita. Saya yakini, setiap orang milik Tuhan pasti mengetahui, jika seseorang ingin mengenal Allah, dia harus terlebih dulu mengetahui bagaimanakah hubungan antara Allah dengan dirinya. Saya ingin bertanya kepada saudara saudari, dalam pandangan Anda, bagaimanakah hubungan Anda dengan Allah? Tentu, tiap-tiap orang akan memberikan jawabannya masing-masing. Ada yang menjawab, bahwa hubungan mereka dengan Allah adalah hubungan hayat, adalah hubungan antara Bapa dengan anak. Ada yang menjawab, bahwa hubungannya dengan Allah adalah hubungan antara Sang Pencipta dengan makhluk ciptaan. Ada yang menjawab, bahwa mereka adalah objek yang diatur oleh Sang Pengatur, dan lain sebagainya. Tetapi di sini saya mau berkata kepada saudara saudari, bahwa titik pertama hubungan yang terjadi antara Allah dengan manusia bukanlah pada hubungan hayat, bukan pada hubungan Pencipta dengan ciptaan, bukan pula pada hubungan Pengatur dengan yang diatur. Seluruh Alkitab memperlihatkan kepada kita, bahwa hubungan antara Allah dengan manusia adalah hubungan kasih.

Sering saya memikirkan di hadapan Allah, sedikit sekali anak-anak Allah yang memahami, bahwa hubungan mereka dengan Allah adalah hubungan kasih. Memang, hubungan antara seorang anak dengan bapanya merupakan hubungan hayat, namun saya percaya, di dalam perasaan mereka tidaklah demikian, karena yang mereka rasakan adalah hubungan dalam kasih. Kalau seorang anak selalu merasakan bahwa hayat yang ada di dalam dirinya adalah hayat orang tuanya, selalu merasakan bahwa hubungannya dengan orang tuanya adalah hubungan hayat, kita tentu akan mengira anak tersebut kurang beres. Saya yakini, semua saudata saudari tahu, bahwa yang Sering dirasakan oleh seorang anak adalah kasih sayang orang tuanya. Kita semua dilahirkan oleh orang tua kita, kita sungguh-sungguh memiliki hayat orang tua, tetapi dalam perasaan kita, kita jarang sekali merasa bahwa kita memiliki hayat orang tua kita. Yang kita rasakan adalah hubungan kasih antara orang tua dengan kita.

Ingatlah, hubungan antara Allah dengan manusia adalah hubungan kasih. Memang, di dalam kita ada hayatNya, tetapi kalau di dalam perasaan kita tidak ada kasih Allah, hubungan kita dengan Allah pasti ada penyakitnya. Dalam pengalaman yang normal dari orang Kristen, kasih merupakan satu-satunya perasaan, bahkan merupakan perasaan yang mencakup segalanya. Orang Kristen yang normal pasti merasakan kasih Allah, dan merasakan Allah patut dikasihi.

PERASAAN NORMAL ORANG KRISTEN TERHADAP ALLAH

Kita sering mengingatkan saudara saudari, bahwa di dalam kita ada hayat Allah, kita harus hidup di dalam hayat Allah ini, selalu menjaga hubungan hayat ini. Karena topik ini Sering kita bicarakan, maka dalam pembicaraan atau dalam doa saudara saudari, mereka selalu mengarah kepada bagaimana hayat Allah tinggal di dalam dirinya, bagaimana mereka hidup berdasarkan hayat Allah. Saudara saudari, ketahuilah, sebagai fakta, perkara ini memang benar, tetapi dalam perasaan, belum tentu benar.

Mengapa demikian? Berdasarkan fakta, begitu kita dilahirkan kembali, kita sungguh-sungguh telah memiliki hayat Allah, kita menjadi anak-anak Allah, ini memang harus Sering kita akui. Tetapi ini bukanlah yang harus selalu kita rasakan. Jika kita selalu merasakan bahwa kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Allah, hayat Allah telah ada di dalam kita, di atas diri kita tentu ada penyakitnya. Sebab itu, seperti tadi telah saya katakan, dalam keadaan normal, tidak ada seorang anak yang selalu merasakan bahwa hayat orang tuanya ada di dalam dirinya; kalau demikian, kemungkinan besar anak tersebut kurang beres. Dalam keadaan normal, anak selalu merasakan orang tuanya itu berharga, merasakan orang tuanya patut disayangi juga. Demikian juga, begitu seseorang menjadi anak Allah, dalam keadaan yang normal, seharusnya selalu merasakan bahwa Allah itu sangat berharga (mustika), Allah patut dikasihi.

Saudara saudari yang kekasih, saya ingin mengatakan: orang Kristen yang baik, orang Kristen yang normal, pasti hidup dalam hayat, pasti hidup dalam pimpinan Roh, tetapi di dalam perasaan dan di dalam emosinya, ia selalu merasakan Allah mengasihi dirinya, merasa kasih Allah telah menarik dirinya, merasa kasih Allah melinigkupi dirinya, merasa kasih Allah menunjang dirinya, merasa bahwa seluruh dirinya tercelup dalam kasih Allah.

PELAYANAN HARUS BERASAL DARI KASIH

Karena itu, saya sangat mengharapkan semua saudara saudari mengingat satu perkara: dalam alam semesta ini, hubungan yang ingin Allah jalini dengan manusia adalah hubungan kasih. Tidak salah, Alkitab mengatakan, kita memiliki hayat Allah, kita adalah anak-anak Allah, Dia adalah Bapa kita; tetapi di aspek lain, Alkitab mengatakan, hubungan antara Allah dengan Kita adalah hubungan suami dengan istri, Dia adalah Mempelai Laki-laki, dan kita adalah rriempelai perempuan. Ketika Tuhan datang ke bumi, Yohanes Pembaptis โ€“ orang yang bersaksi baginya -- di samping mengatakan, 'Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia", juga mengatakan, "Dia adalah Mempelai Laki-laki yang datang menjemput mempelai perempuan." Paulus juga mengatakan, bahwa orang-orang yang beroleh selamat seperti perawan suci yang akan dipersembahkan kepada Kristus. Ketika Tuhan datang lagi, Dia adalah Mempelai Laki-laki yang menjemput mempelai perempuan, yaitu gereja. Alkitab memberitahu kita, hari itu adalah "hari perkawinan Anak Domba." Sampai di langit baru dan bumi baru, sampai kekekalan, hubungan antara Allah dengan umat tebusanNya tetap adalah hubungan kasih. Tuhan adalah Mempelai Laki-laki mereka, dan mereka adalah mempelai perempuanNya.

Meskipun hari ini Tuhan belum kembali lagi, langit baru dan bumi baru belum muncul, namun Allah berkenan kalau hubungan kita denganNya pada hari ini adalah hubungan kasih. Tak peduli berapa banyak seseorang telah bekerja bagi Allah, kalau tidak ada kasih, tidak bisa diperkenan Allah. Dalam kitab Wahyu pasal 2, ada satu gereja yaitu gereja di Efesus; semua yang ada padanya baik, dalam hal pekerjaan, tidak ada sesuatu yang patut dicela, tetapi Tuhan tidak berkenan kepada gereja ini, karena dia telah meninggalkan kasih yang semula. Saudara saudari yang kekasih, apapun yang kita kerjakan, hendaklah berasal dari kasih. Mengapa kita memberitakan Injil? Karena Dia patut dikasihi. Mengapa aku meninggalkan segalanya bagi Dia? Karena aku mengasihi Dia. Mengapa aku melakukan perkara ini? Karena aku mencinitai Dia. Semua aktivitas luaranku dikendalikan oleh kasih. Jika aku tidak mengasihinya, namun aku bergairah melayani Dia, dalam pandanganNya, itu tidaklah Indah, tidak diperkenan. Yang Dia inginkan adalah kita mengasihi Dia. Yang Dia inginkan dari kita adalah hubungan kasih.

Saudara saudari yang kekasih, cobalah Anda memeriksa sendiri, bagaimanakah keadaan Anda hari ini di hadapan Tuhan? Di manakah Anda berada? Anda jangan melihat dari sudut lahiriah, tinjaulah dari sudut batiniah. Hubungan Allah dengan kita, sedikitpun tidak terjadi pada banyaknya perkara, melainkan mutlak pada kasih. Hanya orang yang mengasihi Tuhan yang bisa hidup di dalam hayat Tuhan, hanya orang yang mengasihi Tuhan yang bisa mengikuti Tuhan, hanya orang yang mengasihi Tuhan yang bisa memberitakan Injil. Pelayanan orang yang mengasihi Tuhan, barulah pelayanan yang sejati; kasih kepada saudara saudari yang timbul karena kasih Tuhan, barulah kasih yang sejati. Jika di dalam Anda tidak ada kasih yang segar kepada Tuhan, jika tidak ada perasaan yang manis dan mesra, apapun yang Anda kerjakan di luar - yang menurut fakta perkaranya adalah riil - di dalam pandangan Tuhan, tidaklah Indah dan tidak diperkenan. Mengapa? Karena yang Tuhan kehendaki dari diri kita adalah kasih. Saudara saudari, berjerih lelah bagi Tuhan, giat memberitakan Injil, hidup bagi Tuhan, semua itu sudahlah sepatutnya. Tetapi semua itu hanyalah suatu sarana. Kalau kita tidak merasakan Tuhan patut dikasihi, tidak merasakan kemesraan dengan Tuhan, semua itu tidak dapat memuaskan hati Tuhan.

MENJADI TEMAN (SAHABAT) ALLAH

Tidak hanya dalam Perjanjian Baru, dalam Perjanjian Lama pun, yang Allah minta dari manusia juga kasih. Tentu Anda masih ingat, bahwa Allah pernah memberi Abraham satu anak yang sangat berharga baginya. Pada suatu hari, di saat Abraham sangat menyayanginya, Allah datang dan menyuruh Abraham mempersembahkan anak itu kepadaNya. Inilah ujian Allah terhadap Abraham, apakah ia mengasihi Allah atau tidak. Allah ingin menguji: Abraham yang melayaninya, Abraham yang mempersembahkan korban kepadaNya, benarkah hatinya mengasihi dirinya, atau mengasihi anaknya? Di dalam hatinya, Allah yang patut dikasihi atau anaknya? Dua hal dibentangkan di depannya, dia harus memilih salah satu. Pilihannya menyatakan keadaan hatiriya.

Maksud Allah menguji Abraham bukan ditujukan pada mau tidaknya ia mempersembahkan korban, melainkan untuk mengetahui apakah ia mengasihi Allah, apakah ia mengasihi Allah melebihi segalanya. Dalam Perjanjian Lama, Abraham mengasihi Allah, sebab itu dia bisa menjadi teman (sahabat) Allah. Abraham adalah makhluk ciptaan. Tetapi pada suatu hari, terjadilah hubungan antara Allah dengan Abraham bukan sebagai Pencipta dan ciptaan, melainkan sebagai sahabat. Bersahabat adalah persoalan kasih. Dalam mengikuti Tuhan, Anda dapat mencapai satu taraf, dalam perasaan Anda, Dia bukan lagi Tuhan, melainkan sahabat baik Anda! Dalam perasaanNya, Anda bukanlah satu makhluk ciptaan, Dia merasakan Anda adalah sahabatNya! Sedemikian rupa hubungan Anda dengan Allah: sahabat!

Belakangan ini, saya membaca sebuah buku yang menyinggung tentang gereja-gereja dalam sejarah. Di sana dikatakan, kira-kira pada abad dua belas, ada sekelompok orang Kristen di Afrika Utara, mereka begitu mengasihi Tuhan sehingga tidak saja mereka sendiri merasakan Allah itu sahabatnya, bahkan orang-orang di sekeliling mereka juga bisa merasakan, bahwa mereka adalah sahabat Allah. Demikianlah orang-orang lalu menyebut sekelompok orang Kristen itu "Sahabat Allah." Pada diri mereka, segalanya terasa segar; di dalam mereka, setiap hari Allah selalu manis, setiap hari Indah. Mereka tidak hanya melayani Allah, bahkan mengasihi Allah. Begitu hebatnya mereka mengasihi Allah, sehingga orang-orang yang di sampingnya bisa merasakan kasih itu. Mereka adalah "Sahabat Allah."

MENGASIHI ALLAH ADALAH PERINTAH YANG TERUTAMA

Orang-orang Farisi bertanya kepada Tuhan, "Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Tuhan kepada mereka, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama." Saudara saudari, kalau mengasihi Tuhan, mengasihi Allah adalah hukum yang paling besar, Izinkan saya bertanya kepada Anda, "Jika ada orang tidak mengasihi Tuhan, tidak mengasihi Allah, dosa apakah yang telah ia perbuat?" Orang itu telah melakukan dosa yang paling besar! Sering kali, Tuhan di dalam kita tidak segar, tidak terasa manis. Sering kali, di atas diri saudara saudari, ilmu pengetahuan (pelajaran) lebih menarik daripada Tuhan, kedudukan lebih manis daripada Tuhan, anak-anak lebih menarik daripada Tuhan, keluarga lebih mesra daripada Tuhan. Jangan katakan perkara yang besar, Sering kali Anda menyayangi sebuah baju lebih daripada mengasihi Tuhan. Semua itu membuktikan betapa dalam kejatuhan Anda, membuktikan Anda telah melakukan dosa yang paling besar!

Karena itu, jika hari ini kita tidak dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi mengasihi Tuhan, kita harus dengan baik-baik mengaku dosa ini kepada Tuhan. Hari ini, jika Anda marah-marah, Anda mengaku dosa ini kepada Tuhan; jika Anda berdusta, Anda mengaku dosa ini kepada Tuhan; jika Anda berbuat salah dalam perkara tertentu, Anda mengaku dosa kepada Tuhan. Tetapi saya khawatir, di antara saudara dan saudari, sedikit sekali yang mempunyai perasaan, bahwa kurang mengasihi Tuhan adalah satu dosa yang paling besar, bahkan lebih besar daripada marah-marah atau berdusta.

LEBIH MENGASIHI TUHAN DARIPADA SEGALANYA

Allah mempunyai satu permintaan di atas diri kita, yaitu supaya kita mengasihi Dia. Ketika Tuhan masih di bumi, dan setelah orang-orang datang kepadaNya, la hanya melakukan satu hal, yaitu membawa orang untuk mengasihi-Nya. Setelah kebangkitan Tuhan, Petrus memimpin murid-murid lainnya kembali menjala ikan. Tuhan khusus datang kepada mereka. Tuhan tidak mencela Petrus, Dia hanya berkata, "Simon, . . . apakah Engkau mengasihi Aku lebih daripada semua ini?โ€ Perkataan Tuhan sangat bermakna. Kata "semua ini" bisa ditujukan kepada ikan-ikan yang ada di depan Petrus, bisa ditujukan kepada lautan yang di depan Petrus, bisa ditujukan kepada perahu-perahu yang ada di depan Petrus. Tuhan seolah berkata, "Di depanmu ada seratus lima puluh ekor ikan, ada jala, ada perahu, ada lautan; di depanmu ada banyak barang. Aku menaruh diriKu di hadapan semua barang ini, bandingkanlah, apakah engkau mengasihi Aku? Atau mengasihi semua ini?"

Ingatlah, jika hal ini tidak terbereskan, catatan Alkitab akan terhenti sampai di sini, dan tidak akan ada Kisah Para Rasul sebagai kelanjutannya. Jika hal ini tidak terbereskan, Pentakosta tidak akan datang. Jika hal ini tidak terbereskan, kalaupun Roh Kudus diturunkan, manusia tidak akan bisa dipenuhi Roh Kudus. Tuhan berkata, "Petrus, apakah engkau mencinitai dunia atau mengasihi Tuhan? Engkau mengasihi nafkah penghidupan atau mengasihi Tuhan? Engkau mencinitai kenikmatan atau mengasihi Tuhan? Jika persoalan ini tidak terbereskan, pasti akan timbul kesulitan."

Saudara saudari yang kekasih, selama bertahun-tahun kita mengikuti Tuhan, melayani Tuhan, perasaan di dalam kita bisa menyatakan, bahwa hubungan kita dengan Allah adalah tergantung pada kasih ini. Han ini, saya harap setiap saudara atau saudari bisa menjawab persoalan ini: Anda mengasihi Tuhan atau tidak mengasihi Tuhan? Anda lebih mengasihi Tuhan atau lebih mengasihi yang lain?

MENGASIHI TUHAN BARU MEMILIKI

KEPUASAN DAN SUKACITA YANG PENUH

Satu hal boleh saya tegaskan: tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki kepuasan dan sukacita yang penuh, karena di dalam diri orang dunia tidak ada Allah. Namun, orang yang telah percaya Tuhan, juga belum tentu di dalam dirinya memiliki kepuasan dan sukacita yang penuh. Mengapa demikian? Karena ia tidak mengasihi Tuhan. Rasa puas manusia berkaitan dengan dua hal: pertama, masalah keperluan; kedua, masalah emosi. Keperluan manusia harus dipenuhi, emosi manusia harus dipenuhi, baru manusia itu memiliki kepuasan. Keperluan terbesar dari manusia adalah Allah; Allah adalah keperluan manusia yang terutama; Agar emosi manusia mendapatkan kepuasan dan sukacita yang penuh, juga hanya dengan mendapatkan Allah; Allahlah sukacita manusia. Karena itu, jika Anda tidak mendapatkan Allah, jika Anda tidak mengasihi Allah lebih daripada semuanya, di dalam batin Anda tidak akan ada kepuasan. Agar di dalam batin Anda ada kepuasan dan sukacita yang penuh, Anda harus menjadi orang yang mengasihi Allah.

Seorang saudara berkata dengan tepat sekali. Dia berkata, "Kebahagiaan dunia ini, ketika Anda belum mgndapatkannya, terasa sangat menarik, sangat menyenangkan. Tetapi begitu Anda mendapatkannya, ternyatalah bahwa semua itu adalah sia-sia." Perkataan ini sungguh benar. Kita semua harus tahu, bahwa hanya satu yang bisa memuaskan manusia, yaitu diri Allah sendiri. Keperluan manusia, emosi manusia, semua ditujukan kepada diri Allah. Jika di dalam Anda tidak ada Allah, jika di dalam Anda tidak mengasihi Tuhan, di dalam Anda tidak akan ada kepuasan dan sukacita. Orang yang mengasihi istrinya, tidak merasa puas; orang yang mengasihi suaminya, tidak merasa puas, orang yang mengasihi keluarga, juga tidak merasa puas. Mengapa? Sebab keperluan dalam batin manusia, emosi dalam batin manusia, bukan untuk semua hal-hal yang di luar Allah, melainkan untuk Allah. Begitu Anda mencari Tuhan, begitu Anda mengasihi Tuhan, merasa Tuhan lebih Indah daripada segalanya, Tuhan lebih segar daripada segalanya, saat inilah di dalam Anda baru ada kepuasan dan sukacita yang penuh.

Saudara saudari yang kekasih, tujuan Allah menciptakan satu keperluan dan satu emosi di dalam kita adalah agar kita bisa menjalin satu hubungan kasih dengan Allah. Dalam alam semesta ini, yang ingin Allah dapatkan adalah ka sih manusia. Menurut penciptaan, Dia adalah Pencipta kita; menurut ciptaan baru, Dialah yang melahirkan kita; tetapi ajaib sekali, Dia mau agar kita mempenakukan Dia sedemikian rupa sehingga hanya merasakan bahwa Dia adalah liihan yang mengasihi kita. Demikianlah di antara kita dengan Dia terjadi satu hubungan kasih yang dalam, mesra dan manis.