Daftar isi Dua Belas Bakul (8) · bab 11/12

Sebabnya Tuhan Tidak Pernah Putus Asa

Pembacaan Alkitab:

Yohanes 4:13-14; 2:23-24; 6:15; 7:3-4,6,9; 12:24; 13:37-38; 16:31-33

"Jawab Yesus kepadanya, barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal"

(Yohanes 4:13-14)

Ketika Tuhan Yesus di bumi, apa yang la kerjakan tidak ada satu pun yang tidak baik. Injil Markus mencantumkan, "Apa yang Dia kerjakan semuanya baik." Benar, apa yang Tuhan kerjakan, semuanya baik. Hari ini, kita akan membahas pekerjaan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Bersamaan dengan itu, kita akan memperhatikan Injil Yohanes 4:13-14.

Di sini Tuhan Yesus mengatakan, bahwa Dia akan memenuhi hati orang Kristen, supaya mereka tidak lagi tidak mendapatkan apa yang mereka dambakan. Ini adalah janji Tuhan Yesus sendiri kepada kita "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya." Barangsiapa minum air yang diberikan oleh Tuhan, selama-lamanya hasratnya akan terpuaskan, selamanya tidak akan merasakan kekurangan sesuatu, selamanya tidak akan putus asa. Lalu, kita akan bertanya, "Benarkah bisa demikian?" Benar! Kita, orang-orang yang percaya Tuhan Yesus, benar-benar selamanya tidak akan haus lagi. Tetapi mengapa ada orang yang masih tidak merasa puas. Ada orang masih mengatakan, "Aku masih haus. Aku belum mendapatkan apa yang ingin kudapatkan. Masih ada sesuatu yang ingin kudapatkan." Lalu, apakah janji Tuhan tidak manjur? Tidak! Tuhan berkata, "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya." Tuhan akan membuat orang selamanya puas.

Lalu, mengapa kita masih haus? Masih tidak puas? Masih ada keinginan? Masih bisa sedih? Masih bisa gundah? Mengapa masih ada permintaan? Mengapa masih mengasihi diri sendiri? Karena kita hanya melihat janji pada ayat 14, namun melupakan pengumuman atau petunjuk dalam ayat 13. Tuhan di sini tidak saja mengatakan, "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. " Tuhan terlebih dulu mengatakan, "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi", yaitu air yang ditinggalkan oleh Yakub. (Air yang paling baik di dunia ini).

Banyak orang, karena tidak mengerti bagaimana sifat air dunia ini, bagaimana sifat barang yang diberikan oleh dunia ini, apakah bisa bertahan lama, bagaimana masalah waktunya; dan karena mereka tidak bisa sejak mula mengerti yang sementara dan yang kekal, yang bisa terlihat dan yang tidak bisa terlihat, yang material dan yang rohani, mereka tidak mengetahui perbedaan-perbedaan itu; maka mereka tidak tahu, bahwa untuk mendapatkan janji dalam ayat 14 yang Tuhan beritahukan kepada mereka agar memuaskan hati mereka itu, harus terlebih dulu mengerti air dunia dalam ayat 13 yang tidak bisa memuaskan had mereka. Harus terlebih dulu mengetahui, "Barangsiapa minum air ini, akan haus lagi." Kemudian baru bisa mengerti apa yang Tuhan katakan, "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, tidak akan haus untuk selama-lamanya." Tuhan menghendaki kita beroleh kepuasan, agar kita jangan setelah mendapatkan satu, ingin yang satunya lagi, mendapatkan satu, menginginkan lainnya, dan selamanya tidak mendapatkan kepuasan.

Hari ini saya tidak membicarakan air dunia tidak bisa memuaskan hati orang, melainkan mengapa orang Kristen di Dunia ini masih merasakan haus. Mengapa orang Kristen masih haus? Karena orang Kristen kembali minum air dalam ayat 13. Mengapa seseorang bisa putus asa? Kalau tidak menaruh/mempunyai harapan, tentu tidak akan putus asa. Kalau selamanya tidak mengharapkan, tentu selamanya tidak akan ada putus asa. Orang yang selamanya tidak pernah mengharapkan mempunyai uang/harta, maka selamanya ia tidak akan putus asa karena tidak ada uang. Demikian juga, kalau kita mengharapkan air dunia ini memuaskan kita, maka mata kita telah beralih pandang, dan kita segera merasakan haus. Inilah yang menyebabkan kita di depan Tuhan bisa merasa sedih, kecewa dan putus asa.

Mengapa kita tidak bisa mendapatkan kepuasan? Ada satu sebab, yaitu karena kita mengharapkan mendapatkan hal atau benda yang segera berlalu untuk memuaskan harapan kita. Anda mengharapkan barang yang segera berlalu, harta yang cepat berlalu, karena itu Anda selamanya tidak akan mendapat kepuasan. Ketika barang-barang itu sampai ke tangan Anda, Anda menemukan bahwa barang-barang itu tidak bisa menghibur Anda, tidak bisa menyebabkan Anda bersukacita, tidak bisa memuaskan Anda. Sebab itu, Anda merasakan ada kekurangan lagi, Anda mengingini barang yang lain lagi, Anda kembali dahaga, dan karenanya Anda ingin minum lagi. Kesalahan kita ialah kita memasuki barang-barang yang segera lewat guna memuaskan hati kita. Kalau tangan Anda memegang barang-barang yang segera lewat itu, dan hati Anda memikirkan barang-barang yang segera lewat itu, maka hati Anda selamanya tidak akan mendapat kepuasan.

Di sini, kita khusus membaca Injil Yohanes, melihat firman Tuhan Yesus. (Tentunya, selain Injil Yohanes, tiga kitab Injil lainnya juga banyak membicarakan tentang firman Tuhan). Tuhan Yesus kita selamanya tidak pernah putus asa. Jika berdasarkan perkara-perkara yang la alami dalam seumur hidupNya, jika melihat situasi yang mengelilinginya dalam seumur hidupNya, Ia boleh segera putus asa berkali-kali. Tetapi Dia tidak putus asa. Dalam Yesaya 49 ada perkataan yang membicarakan tentang Tuhan, bahwa Allah menghendaki Dia mengembalikan Yakub kepada Allah, dan supaya Israel dikumpulkan kepada Allah. Tetapi, bagaimana kesudahannya? Kita tahu, secara lahinah kelihatannya itu gagal total. Lalu bagaimana dengan Dia? Bagaimana perasaanNya? Dia berkata, "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tidak berguna; namun hakku terjamin pada Tuhan dan upahku pada Allahku" (ayat 4). Dia tidak putus asa. Yesaya 42 juga membicarakan tentang Tuhan, bahwa Dia tidak putus asa, juga tidak gentar. Meskipun yang Dia alami bisa menyebabkanNya putus asa dan gentar, tetapi Dia tidak demikian.

Yang dititikberatkan oleh Injil Yohanes berbeda dengan Injil Matius. Tuhan yang dibicarakan dalam Injil Yohanes berbeda dengan Injil Matius. Tuhan yang dibicarakan dalam Injil Yohanes adalah Tuhan yang sejak mula ditolak oleh orang. Tuhan yang dibicarakan oleh Injil Matius adalah Tuhan yang dari pasal 12 baru ditolak oleh orang. Injil Yohanes pasal 1 mencatat, Tuhan datang kepada milikNya sendiri, tetapi orang-orang milikNya itu tidak menerimaNya. Dia datang untuk menanggung dosa orang Israel, untuk menanggung dosa orang kafir, tetapi orang-orang tidak mau Dia, menolak Dia, tidak menerima Dia. Ketika Dia di kayu salib, manusia tidak mau Dia, Allah juga tidak mau Dia. Kalau itu terjadi pada kita, kita pasti putus asa, pasti kecewa, sedih dan duka. Tetapi Yohanes pasal 19 mencatat, Tuhan di kayu salib berseru, "Sudah selesai (genap)." Kalau Anda dan saya, pastilah akan berseru, "Sudah tamat!". Tetapi Dia seperti tentara yang menang perang berseru lantang, "Sudah genap." Seumur hidupNya, Dia mengambil Allah sebagai kepuasanNya. Terhadap dunia ini, sedikitpun Dia tidak menaruh pengharapan, juga tidak mengharapkan sesuatu dari manusia. Dia hanya mengharapkan Allah dan hanya Allahlah yang menjadi kepuasanNya. Dia berkata, "Selain Bapa, tidak ada seorangpun yang mengenal Anak. Aku tidak menerima kemuliaan dari manusia. Anak datang bukan untuk melakukan kehendak dirinya (Anak) sendiri, melainkan untuk melakukan kehendak Bapa yang mengutusNya. Lihatlah Aku selalu melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku." Seumur hidup Tuhan, la selalu mengambil kehendak Allah sebagai kepuasanNya; Allahlah kepuasan-Nya. Sebab itu bagaimanapun berubahnya manusia, perkara-perkara dan benda-benda dalam dunia, itu tidak bisa membuat Dia putus asa. Barangsiapa menerima Allah sebagai kepuasannya, ia tidak akan pernah putus asa.

Di aspek negatif, kita seharusnya tidak menaruh sedikitpun pengharapan terhadap orang dunia. Tidak mengharapkan barang, nama, kemuliaan, bantuan, hiburan, tunjangan dan lain-lain dari orang dunia. Jika demikian, kita selamanya tidak akan haus. Kita harus memperhatikan pandangan kita terhadap air dunia. Bagaimana pandangan kita terhadap dunia, begitu juga pandangan kita terhadap orang dunia. lni sudah pasti.

"Dan sementara la di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam namaNya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakanNya. Tetapi Yesus sendiri (tidak mempercayakan dirinya) kepada mereka, karena la mengenal mereka semua" (Yohanes 2:23-24).

Dalam Injil Yohanes pasai 2, tercatat Tuhan melakukan 2 mujizat yang besar. Ketika Dia melakukan mujizat yang pertama, murid-murid percaya kepadaNya. Ketika Dia melakukan mujizat yang kedua, banyak orang percaya dalam namaNya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakanNya (ayat 23). Berdasarkan diri kita, asal melihat banyak orang yang bersidang, ketika pemberitaan Injil banyak yang percaya, maka tanpa disadari hati kita telah terdorong berada dalam pekerjaan. Tetapi Tuhan tidak demikian. Ayat 24 berkata, "Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan dirinya kepada mereka; karena la mengenal mereka semua." Tuhan tidak mau menikmati sesuatu dari diri orang. Tuhan tidak mempercayakan dirinya kepada mereka, karena Dia tahu bahwa mereka nantinya akan menyalibkan Dia. Ketika banyak orang percaya Tuhan, Tuhan senang; tetapi Dia tidak mempercayakan dirinya kepada mereka. Tuhan tidak membiarkan orang-orang itu mendapatkan hatinya. Meskipun pekerjaan lancar, tetapi pekerjaan tidak menguasai dirinya. Sebab itu, Dia dapat menjaga keunggulanNya.

"AKU TIDAK MEM£NUKAN HORMAT DARI MANUSIA"

(Yohanes 5:41)

Dalam pasal ini ada seorang yang sudah 38 tahun lamanya sakit. Dalam sekejap mata orang itu disembuhkan oleh Tuhan. Ada orang yang tadiNya menentang Dia, sekarang tidak menentang Dia lagi. Banyak orang memuliakan Allah. Tetapi Tuhan Yesus berkata, "Aku tidak memerlukan hormat dari manusia." Kalau kita, jangan-jangan selalu ingin mendapatkan hormat dari manusia. Kalau Anda mengharap orang memberi Anda hormat, dan orang memberikan hormat, Anda bersukacita; tetapi kalau orang tidak memberi Anda hormat, Anda segera kecewa dan putus asa. Namun Tuhan di aspek negatif tidak menerima hormat apa pun dari manusia, apa pun Dia tidak mengharapkan, apa pun Dia tidak menerima. Sebab itu, Ia tidak kecewa atau putus asa.

"Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, la menyingkir pula ke gunung seorang diri."

(Yohanes 6:15).

Ketika itu ada beberapa ribu orang berkumpul. Karena melihat mujizat Tuhan membagikan roti, maka mereka, berkata, "Orang ini benar-benar raja kita." Meskipun demikian banyak orang menyanjung Tuhan, namun Tuhan menolak mereka. Tuhan tidak mau menerima kemuliaan dari manusia. Apa yang diberikan manusia kepadaNya, tidak Dia terima. Dia tidak mau minum air dunia. Allah, di dalam dirinya, sudah memuaskan hatinya, sebab itu Dia bisa menolak segala sesuatu yang dunia berikan kepadaNya. "Menyingkir” adalah satu sikap yang paling baik. "Menyingkir" bisa menjaga seorang yang bekerja bagi Tuhan, dengan tidak menerima celaka sanjungan manusia. "Menyingkir" juga karena di dalamNya sudah puas akan sesuatu yang dari Allah.

Maka kata saudara-saudara Yesus kepadaNya: Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-muridMu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia. Maka jawab Yesus kepada mereka: "WaktuKu belum tiba, tetapi bagi kamu se/alu ada waktu. Demikianlah kataNya kepada mereka, dan la tinggal di Galilea" (Yohanes 7:3-4). Saat itu saudara-saudara Tuhan Yesus mengira, karena Dia sudah melakukan banyak mujizat, maka namaNya akan termashyur. Mereka berkata kepada Tuhan Yesus, Kalau mau termashyur, pergilah ke tempat orang banyak. Di sini murid-muridMu tidak melihat Engkau, tidak bisa percaya kepadaMu; orang-orang Yahudi juga tidak melihat Engkau, mereka tidak bisa percaya kepadaMu. Yerusalem adalah tempat yang besar, di sana orangnya sangat banyak, pergilah ke sana supaya orang-orang bisa percaya kepadaMu, dan Engkau juga bisa ternama. Tetapi Tuhan tetap "tinggal di Galilea." Meskipun pindah tempat itu satu hal yang mudah, bahkan melakukan pindah tempat itu bisa membuat Dia mendapatkan banyak kemudahan, tetapi Dia tidak berbuat demikian. Orang-orang dunia kebanyakan suka melihat hal yang aneh-aneh dan puji-pujian oleh karena suka terhadap hal-hal yang aneh, yang banyak diucapkan. Kalau Tuhan pindah tempat, Dia mempunyai laksaan kesempatan untuk menerima pujian dari manusia. Tetapi Tuhan tidak mempercayakan dirinya kepada mereka. Dia tidak mau pujian khusus dari manusia. Di dalamNya sudah ada barang, sebab itu Dia tidak memerlukan benda apapun yang dari luar. Dia mengenal sifat air dunia ini, sebab itu ketika Dia disalibkan beberapa perempuan menangis baginya, Ia berkata, "Janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!" Tuhan tidak kecewa. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yohanes 12:24).

Dalam pasal ini kita tampak, hari itu adalah hari yang paling mulia dalam sepanjang hidup Tuhan di bumi. Tidak saja ada banyak orang Yahudi percaya kepadaNya, teman-temanNya percaya kepadaNya, orang Farisi juga saling berkata, "Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil. Lihatlah seluruh dunia datang mengikuti Dia" (ayat 19). Jadi, tidak saja musuh mengaku kalah, teman-teman percaya dan bersandar, orang Yahudi percaya kepadaNya, orang kafirpun percaya kepadaNya. Saat itu juga ada beberapa orang Yunani mohon kepada Filipus untuk memberitahu kepada Tuhan Yesus, bahwa mereka ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Semua orang itu mengakui, bahwa hari itu adalah hari kemenangan Tuhan Yesus. Kalau kita dalam keadaan ini, kita akan merasakan membubung tinggi mencapai langit. Tetapi bagaimana dengan Tuhan Yesus? Saat itulah Dia berkata kepada murid-murid-Nya, "Sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." Perkataan ini ditujukan kepada kematian Tuhan Yesus sendiri (ayat 33). Tuhan seolah-olah berkata kepada Filipus, "Bapa mengutus Aku datang, dan jalan yang harus Kutempuh, tidak selamanya berada dalam jalan naik keledai masuk kota Yerusalem, bukan jalan yang terus-menerus dihormati dan disanjung oleh orang. Orang dunia memberikan semua miliknya ini kepadaNya, tetapi Dia tidak menikmatinya, juga tidak menerimanya. Air dunia ini, setetes pun Dia tidak meneguk. Dia menolak pemberian dari manusia: Dia sudah berketetapan pada apa yang Allah berikan kepadaNya.

Kita harus belajar pelajaran ini. Khususnya pekerja-pekerja Tuhan, harus belajar pelajaran ini. Karena hari ini muka manusia menghadap kepada Anda, mungkin besok ia akan mengarahkan tumitnya kepada Anda. Orang-orang yang hari ini berseru terhadap Tuhan, "Hosana!" besok adalah orang-orang yang berseru, "Singkirkan Dia". Tuhan tidak kecewa dan putus asa karena mereka. Sebab terhadap perlakuan baik manusia, Dia mempunyai satu penolakan tersembunyi yang misteri. Dia selamanya tidak berhubungan langsung dengan situasi sekelilingNya. Yang Dia perhatikan secara langsung adalah Allah dan kehendak Allah. Sebab itu, jalanNya di bumi bukanlah jalan yang bengkokbengkok, sebaliknya jalan kitalah yang selalu bengkok-bengkok. Tuhan kita tidak membiarkan manusia menyebabkan jalanNya bengkok sedikit pun; tidak membiarkan pujian manusia mengalihkan jalanNya; tidak membiarkan serangan musuh mengubah perjalananNya

"Kata Petrus kepadaNya: Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikut Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagiMu! Jawab Yesus: Nyawamu akan kau berikan bagiKu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali" (Yohanes 13:37-38).

Pencobaan-pencobaan di atas, ada yang sebagai kemuliaan dari manusia, ada yang upeti dari musuh, sekarang, Tuhan menghadapi pencobaan yang lebih sulit, yaitu yang Petrus berikan kepadaNya. Petrus berkata, "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikut Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagiMu!" Tetapi Tuhan menjawab, "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Menurut pengamatan saya, Petrus sering berjalan di depan Tuhan, membantu Tuhan. Tetapi Tuhan tidak mempercayakan dirinya kepada Petrus. Kalau saya mempunyai murid, -- tentunya saya tidak bisa mempunyai murid, -- karena murid ini tadiNya selalu di depan saya dan membantu saya, begitu dia tidak mengakui saya, dan saya diadili di pengadilan, jangan-jangan saya akan dengan garang memelototi dia sambil berkata, "Engkau tidak mengakui aku?" Tetapi Tuhan berpaling memandang Petrus. Begitu dipandang oleh Tuhan, Petrus keluar dan menangis. Ada satu nyanyian yang berkata demikian: ada perkara apa, yang membuat berhala di bumi kehilangan corak indahnya. Bukan karena putus asa, kecewa atau anjuran, melainkan tersingkapnya mustika yang tidak terhingga. Bait berikutnya, hanya air mata yang ditampak oleh Petrus, muka mulia yang dipandang oleh Stefanus, hati lembut yang mendampingi Maria menangis, bisa menarik aku terlepas dari tangan tarikan dunia. Asal sepasang "Mata" itu melihat kita, cukuplah meluluhkan kita. Tetapi sekali pandanganNya kepada Petrus itu juga mengandung wahyu yang lain. Kita terlalu banyak mengharap kepada "Petrus" kita. Sebab itu, ketika dia berkata dan perkataannya tidak bisa dipercayai; ketika dia merugikan kita, ketika dia bersalah kepada kita; kita segera putus asa, sedih dan bahkan berduka. Kita tidak tahan disalahpahami dan diingkari oleh "Petrus" kita. Ingatlah, kalau kita meminum air dunia ini, mengharapkan teman-teman memuaskan kita, mengharapkan famili-famili memuaskan kita, mengharap orang lain memuaskan kita, kita pasti akan haus lagi. Kalau kita hanya bersuka cita karena muka yang Allah berikan kepada kita, bersuka cita karena teman-teman yang Allah berikan kepada kita, bersuka cita karena makanan yang Allah berikan kepada kita, bersuka cita akan barang-barang lain yang Allah berikan kepada kita, kita akan puas karena Allah, kita tidak akan kecewa karena perubahan situasi dan lingkungan, tidak bisa stress, tidak bisa merasa haus dan sedih.

Jawab Yesus kepada mereka: Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri; sebab Bapa menyertai Aku, semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku, dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:31-33).

Saat itu, murid-murid telah percaya kepada Tuhan Yesus. Kemudian Tuhan berkata kepada mereka, "Percayakah kamu sekarang?" la berkata lagi, "Kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku." Yohanes pasal 17 mencantumkan doa terakhir Tuhan Yesus. Pasal 16 adalah perbincangan Tuhan yang terakhir di bumi dengan murid-muridNya. Klimaks perkataanNya, "Kamu meninggalkan Aku seorang diri." Kalau Anda dan saya, pasti menggerutu di depan Allah, "Mengapa meninggalkan aku seorang diri di sini?" Tetapi Tuhan berkata, "Bapa menyertai Aku." la seolah-olah bisa mendapatkan sedikit hiburan dari murid-murid yang hidup bersamaNya beberapa tahun, tetapi Dia tidak menaruh pengharapanNya kepada seorang pun di antara mereka. Sebab itu, meskipun mereka semua pergi, Dia tidak merasa gundah gulana. Sebaliknya Dia berkata kepada mereka tentang pengalamanNya, "supaya mereka beroleh damai sejahtera di dalam Aku". Dia tahu kita minum air dunia ini pasti akan haus lagi. Sebab itu meskipun kini ada air yang diletakkan di depanNya, !a tidak meminumnya. Orang yang tidak minum air ini, tentu tidak akan haus lagi. Mengapa kita tidak bisa menempuh suatu kehidupan yang puas? Mengapa kita bisa putus asa? Karena Anda telah mempunyai pengharapan; pengharapan Anda terlalu besar. Anda tidak bisa dengan barang yang Anda harapkan itu memuaskan diri Anda; sebab itu Anda putus asa. Saya boleh bersaksi, suinig ada orang menghina saya, tetapi juga Sering ada orang memuji saya (adakalanya Iblis juga iniemuji saya), Tuhan mengingatkan saya satu ayat ini, yaitu "jangan minum air ini"; agar jangan sampai setelah lewat beberapa waktu, saya harus minum lagi, harus ada perkara-perkara yang mengecewakan. Simpati, bantuan, uang, nama, kenyamanan, hiburan dan lain sebagainya yang diberikan kepada Anda oleh dunia, semuanya itu datang ke tempat Anda, lalu Anda mengira itu adalah milik Anda yang harus diminum sepuas-puasnya. Kalau Anda minum sepuas-puasnya, pada suatu hari, Anda akan haus! Seberapa banyak Anda meneguk air dunia ini, sebanyak itu pula Anda akan haus di dunia ini.

Ada orang Kristen bertanya kepada saya, "Mengapa banyak orang bisa merasakan kemustikaan Tuhan, tetapi aku tidak merasakan kemustikaan Tuhan?" Saya boleh menjawab mereka, "Karena di luar Tuhan, Anda masih mempunyai banyak air. Anda minum, sebab itu Anda tidak merasa bahwa Tuhan sangat mustika. Asal dilihat berapa banyak persembahan Kita di dunia ini, berapa banyak kehilangan kita di dunia ini, dapat diketahui berapa banyak kita memustikakan Tuhan."

Paulus tidak hanya berkata bahwa ia memustikakan Tuhan, ia juga kehilangan banyak barang. Dia melihat segala sesuatu merugikan, ia membuang segala sesuatu, bersamaan dengan itu, ia berkata bahwa ia memustikakan pengenalan akan Kristus. Jika Anda di luar Tuhan tidak ada barang yang lain, Anda akan membuktikan, bahwa di dalam Tuhan, semuanya adalah mustika, dapat memuaskan Anda. Kalau menurut apa yang dikatakan Yohanes pasal 4, seberapa banyak kehilangan Anda, sebanyak itu juga yang Anda dapatkan. Seberapa banyak barang-barang dunia yang Anda tolak, sebanyak itu juga Anda menikmati kelimpahan Tuhan.

Saudara saudari, kalau orang memberikan simpati, nama, penghiburan, bantuan, kehormatan, kemuliaan kepada Anda, apa yang Anda lakukan? Perempuan Samaria itu, apakah karena mempunyai air hidup, lalu tidak minum air dunia ini? Tidak! Air dunia ini akan tetap ia minum. Kita tidak bisa tidak minum air dunia ini. Sebab itu, ketika orang dunia, teman, famili, memberikan kehormatan, nama, harta, bantuan kepada Anda, Anda boleh membiarkan mereka melakukannya, tetapi Anda jangan menaruh diri Anda ke dalamnya, jangan mempercayakan diri Anda kepada mereka; hati Anda jangan tergerak oleh mereka, juga jangan menuntut sesuatu kepada mereka. Jangan minta minum, juga jangan minum, supaya tidak kecewa.

Yesaya 53:2 mengatakan, "Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan Tuhan dan sebagai tunas ia tumbuh dari tanah kering. la tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya." Apa artinya ini'? Kalau di tempat yang ada air, tumbuh-tumbuhan pasti mudah bertumbuh, dan bisa bertumbuh lebih cepat. Tetapi lingkungan Tuhan tidak menunjangNya. Dalam lingkunganNya sedikitpun tidak ada sesuatu yang menyuplainya. Dalam dunia, tidak ada sesuatu yang membantuNya. Musuh tidak dapat membantuNya, malaikat-malaikat juga tidak mempunyai sesuatu yang dapat membantuNya. Segalanya adalah pemberian Allah kepada-Nya. Dia tidak mendapatkan dorongan dari lingkungan sekitarnya. Dia tidak mendapatkan tunjangan dan hiburan dari alam sekitarnya. HidupNya adalah satu garis yang lurus. Kita tahu bahwa garis yang lurus adalah jarak yang dekat di antara dua titik. Tuhan kita dari dunia ini sampai ke sana adalah menempuh satu jalan yang lurus. Tuhan berkata, "Setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah." Apa artinya ini? Orang yang memegang bajak, matanya harus melihat ke depan, kalau tidak, alur-alur yang dibajaknya itu akan bengkok-bengkok. Ketika matanya melihat ke depan, alur yang dibajaknya itu pasti lurus. Kalau ia menoleh ke belakang, tanah yang dibajaknya segera bengkok. Oh, Allah tidak menghendaki kita belak-belok, tidak menghendaki kita melingkar-lingkar. Dia adalah kepuasan kita

Mengapa kita bisa puas? Karena Dia berkata, "Air yang Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam hatinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" Nama yang di luar, kemuliaan yang di luar, segala sesuatu yang di luar, tidak ada gunanya. Selain "Aku" di dalam kamu, selain Roh Allah di dalam kita, tidak ada sesuatu yang memuaskan kita. Sungguh, selain Dia tidak ada yang memuaskan kita. Di samping itu, kalau kita tidak menganggap Dia sebagai kepuasan kita, kita tidak bisa memperingati Tuhan di sini.

Saya sungguh bersyukur kepadaNya! Karena bagi kita Dia sudah melewati segala perjalanan, Dia adalah Tuhan Yang patut kita kasihi. Amin!