Aspek Lain Korban Penebus Salah
"TUHAN berfirman kepada Musa: Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap TUHAN, dan memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya, atau barang yang diserahkan kepadanya atau barang yang dirampasnya, atau apabila ia telah melakukan pemerasan atas sesamanya, atau bila ia menemui barang hilang, dan memungkirinya, dan ia bersumpah dusta -- dalam perkara apapun yang diperbuat seseorang, sehingga ia berdosa -- apabila dengan demikian ia berbuat dosa dan bersalah, maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya atau yang telah diperasnya atau yang telah dipercayakan kepadanya atau barang hilang yang ditemuinya itu, atau segala sesuatu yang dimungkirinya dengan bersumpah dusta. Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah; ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya. Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba yang sudah dinilai menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam. Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah."
Imamat 6:1-7
Dalam berita ini, kita di depan Allah akan baik-baik membaca Imamat 6:1-7. Dalam potongan ayat-ayat Alkitab ini disinggung tentang korban penebus salah. Korban penebus salah yang tercantum dalam Alkitab, penting sekali. Imamat pasal l sampai dengan pasal 6 membicarakan tentang lima macam korban. Kelima macam korban itu menyatakan lima aspek yang melambangkan Tuhan Yesus mempersembahkan diri sebagai korban. Kristus Yesus adalah suatu korban. Tetapi ditinijau dari pandangan kita, ada lima aspek. Ada lima aspek itu, baru bisa menjadi sempurna. Kalau hanya satu yang melambangkan Tuhan Yesus, itu tidaklah sempurna. Sebab itu harus dengan lima korban melambangkan Tuhan kita. Jadi kelima korban itu semuanya penting.
HUBUNGAN KORBAN PENEBUS SALAH
DENGAN EMPAT KORBAN DI DEPANNYA
Apa hubungan korban penebus salah dengan keempat korban yang di depannya? Untuk mengetahui ini, kita perlu menyinggung sedikit tentang keempat korban yang di depan, kemudian baru menyinggung korban penebus salah. Kita harus memahami keempat korban itu satu persatu, barulah kita tidak menaruh korban penebus salah pada posisi yang terlalu besar.
1. Korban Bakaran
Korban ini melambangkan Tuhan kita mempersembahkan segenap dirinya kepada Allah. Ini adalah perkara yang penting. Korban ini bukan untuk penebusan dosa. Namun kalau Tuhan tidak mempersembahkan segenap diri-Nya kepada Allah, Dia tidak akan bisa menebus dosa bagi manusia.
2. Korban Sajian
Korban ini tidak mengandung darah; ini melambangkan penghidupan Tuhan. Penghidupan Tuhan di bumi sungguh bersih. Tepung, gandum adalah untuk makanan manusia. Tuhan sangat bersih, sangat lembut/halus hidup di depan Allah. Korban ini menitikberatkan kesempumaanNya. Boleh dikatakan, Dia adalah Manusia yang sempurna.
3. Korban Keselamatan
Korban ini melambangkan Tuhan di antara Allah dan manusia merampungkan pendamaian. Tidak saja supaya Allah bisa berdamai dengan kita, juga supaya kita bisa berdamai dengan Allah.
4. Korban Penghapus Dosa
Korban ini melambangkan Tuhan menebus dosa bagi kita, supaya kita bisa berdamai dengan Allah. Tuhan menebus dosa bagi kita, supaya kita bisa bersandar darahNya beroleh selamat.
5. Korban Penebus Salah
Mungkin ada orang bertanya, "Apa perbedaan antara korban penebus salah dengan korban penghapus dosa?" Dosa mengacu kepada dosa kita secara global, yaitu dosa di depan Allah. Salah mengacu kepada dosa-dosa Kita sehari-hari yang bisa dihitung. Boleh dikatakan, korban penghapus dosa adalah untuk keseluruhan dosa kita, semua dosa kita; korban penebus salah adalah untuk sebagian dosa kita, dosa yang bisa dihitung.
KORBAN PENEBUS SALAH TERBAGI MENJADI DUA BAGIAN
Pertama, tercatat dalam kitab Imamat pasal 5. Kedua, tercatat dalam kitab Imamat pasal 6. Pasal 5 menyinggung tentang apa yang harus kita perbuat, sehari lewat sehari, kalau kita berdosa kepada Allah. Pasal 6 menyinggung tentang apa yang harus kita perbuat, sehari lewat sehari, kalau kita bersalah di depan manusia. Di sini, saya tidak bermaksud membicarakan pasal 5, melainkan membicarakan pasal 6. Dengan kata lain, setelah kita beroleh selamat, apa yang harus kita perbuat kalau kita bersalah kepada orang?
PENTINGNYA KORBAN PENEBUS SALAH
Saya tidak mengatakan korban ini bisa membuat orang beroleh selamat. Kita telah mempunyai korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa. Kita sudah mendapatkan keselamatan dan mendapatkan hayat (kehidupan). Korban penebus salah yang disebutkan dalam pasal 5 dan 6 membicarakan tentang "persekutuan dengan Allah". Mendapatkan hayat adalah satu perkara, bersekutu dengan Allah adalah perkara yang lain. Anda percaya Yesus mati bagi Anda, Anda menerima Dia sebagai Juruselamat, Anda mempunyai hayat, tetapi itu bukan berarti sejak kini persekutuan Anda dengan Allah tidak bisa hilang/terputus. Begitu Anda beroleh selamat, Anda dengan Allah ada satu persekutuan, ini benar. Tetapi setelah Anda beroleh selamat, lewat beberapa waktu kemudian, kalau Anda kembali berbuat dosa, dan Anda tidak mau bertobat, maka Anda akan kehilangan persekutuan dengan Allah. Anda akan merasakan, bahwa Allah jauh dari Anda; Anda merasa sulit berdoa, susah membaca Alkitab. Ini bukan berarti Anda tidak beroleh selamat lagi. Begitu Anda percaya, Anda beroleh selamat; itu selamanya tidak bisa berubah. Tetapi persekutuan Anda dengan Allah Sering berubah. Kalau Anda berdosa dan tidak mau menyingkirkan dosa-dosa itu, Anda akan kehilangan persekutuan dengan Allah. Banyak orang telah beroleh selamat, tetapi tidak bisa dengan leluasa berdoa, tidak mudah membaca Alkitab, mungkin dikarenakan dosa-dosa yang ia lakukan hari demi hari itu tidak dibereskannya dengan baik.
Begitu kita beroleh selamat, kita segera memiliki suatu sukacita, yaitu sukacita beroleh selamat. Kita merasa sangat senang memberitahu orang lain, "Aku telah beroleh selamat." Betapa sukacitanya! Sayang, sukacita itu tidak bertahan terlalu lama. Mengapakah sukacita itu hilang? Mungkin, Anda telah mengucapkan sepatah kata yang tidak baik, telah bersalah kepada orang, sehingga Anda merasa tidak enak bertemu dengan muka Allah. Yang Anda salahi adalah orang, tetapi yang kehilangan sukacita adalah Anda. Anda bersalah kepada orang, tetapi Anda sendiri yang kehilangan persekutuan dengan Allah.
Hari ini kita akan belajar satu pelajaran, yaitu tidak saja beroleh selamat, juga perlu belajar sehari lewat sehari baik-baik berdoa, baik-baik membaca Alkitab, baik-baik bersaksi; tiap hari mempertahankan persekutuan yang lincah dengan Allah. Manusia bisa kehilangan persekutuan dengan Allah, tetapi tidak bisa kehilangan keselamatan. "Mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar daripada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa" (Yohanes 10:28b-29). Inilah perkataan Tuhan kita. Hidup kekal selama-lamanya tidak akan hilang, hayat selamanya tidak akan hilang. Tetapi ada satu yang bisa hilang, yaitu persekutuan kita dengan Allah.
Misalnya, ada seorang ayah berkata kepada anaknya, "Kamu harus menjadi anak yang baik. Kamu tidak boleh demikian, demikian . . ." Kalau anak itu membuka lemari, lalu mencuri kembang gula, atau dia bermain hingga bajunya kotor, atau nakal; begitu ayahnya mengetahui dan memanggilnya, dia segera mempunyai perasaan tidak berani bertemu muka dengan ayahnya. Mereka masih mempunyai hubungan ayah dan anak, tetapi karena si anak telah melakukan suatu perkara yang tidak diperkenan ayahnya, maka dia menjadi tidak berani menghadap ayahnya. Begitu dia mendengar ayahnya memanggil namanya, hatinya segera berdebar-debar. Karena dia menyadari, bahwa dia sudah bermasalah dengan ayahnya. Dia berpikir, "Bajuku sudah kotor, atau barang-barang sudah rusak, bagaimana bisa bertemu muka dengan ayah?" Dia tidak berani bertemu muka dengan ayahnya. Apakah dengan ini dia bisa menjadi bukan anak ayahnya lagi? Kita tahu, hal ini jelas tidak mungkin. Bukan hubungan ayah dan anak yang berubah, melainkan persekutuan ayah dan anak yang berubah. Hubungan kita dengan Allah, sebagai Bapa dan anak-anakNya, hubungan hayat antara Allah dengan kita, tidak pernah berubah ataupun hilang, dikarenakan keadaan sehari-hari kita. Tetapi ada satu yang bisa berubah atau hilang, yaitu persekutuan kita dengan Allah.
Korban penebus salah akan membawa kita kembali bersekutu dengan Allah. Korban penghapus dosa memimpin orang percaya kepada Tuhan Yesus. Korban penebus salah memimpin orang Kristen berhubungan dengan Allah. Korban penghapus dosa berkaitan dengan kita saat kita percaya, untuk menghapus dosa-dosa kita. Korban penebus salah adalah menyingkirkan penghalang hubungan kita dengan Allah hari demi hari. Yang satu supaya kita mendapatkan hayat, yang satunya lagi supaya kita mempunyai persekutuan.
ASPEK KORBAN PENEBUS SALAH TENTANG BERDOSA KEPADA ORANG
Kita telah membicarakan, korban penebus salah terbagi menjadi dua bagian. Pertama adalah apa yang harus diperbuat kalau berdosa kepada Allah; ini dibicarakan dalam pasal 5. Kedua adalah apa yang harus diperbuat kalau bersalah kepada manusia; ini dibicarakan dalam pasal 6. Kini kita akan membicarakan tentang apa yang harus diperbuat kalau bersalah/berdosa kepada manusia. Jadi pembahasan kita ini berkisar pada apa yang harus kita perbuat kalau persekutuan kita dengan Allah putus/hilang, dikarenakan kita berdosa kepada orang. ingatlah, pasal 6 bukan membicarakan keselamatan jiwa, melainkan bagaimana bersekutu dengan Allah.
BEBERAPA DOSA BERSALAH KEPADA MANUSIA
Ayat 1, "TUHAN berfirman kepada Musa." Potongan ayat ini menyatakan, bahwa perkara-perkara yang dikatakan selanjutnya adalah perkara-perkara yang diberikan oleh Allah, bukan Musa yang memberikan kepada kita. Kita akan melihat beberapa macam dosa yang Allah katakan sebagai dosa bersalah kepada manusia. Allah seolah-olah membukakan satu catatan yang jelas: pertama dosa anu, kedua dosa anu, kemudian dosa anu; ada beberapa macam dosa.
Ayat 2, "Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap TUHAN." Dosa-dosa yang disinggung selanjutnya adalah dosa-dosa bersalah kepada manusia. Lalu, mengapa di sini dikatakan, "Jika berbuat dosa dan berubah setia kepada TUHAN?" Oh, . . . berbuat dosa kepada manusia berarti telah berbuat dosa kepada Allah. Allah adalah Pencipta, semua manusia adalah ciptaanNya. Sebab itu, berdosa kepada manusia berarti berdosa kepada Allah. di bawah ini kita akan melihat beberapa dosa bersalah kepada manusia.
1. Tidak Setia kepada Barang Titipan Orang
Ayat 2 mengatakan, ". . . memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya." Dosa ini bisa membuat kita tidak bisa bersekutu dengan Allah. Saudara saudari, pernahkah orang menitipkan barang kepada Anda? Pernah sekali, ketika saya pergi ke Fu Chow, ada seorang menitipkan kepada saya buah-buah mangga untuk bibi saya yang kedua. Mangga adalah buah-buahan yang mudah rusak/busuk. Meskipun saya sudah mencari akal supaya tidak membusuk, tetap buah-buah itu berubah warna dan mulai membusuk. Saya pikir, kalau menunggu sampai di rumah, mungkin semuanya telah busuk. Lebih baik saya memberikannya kepada orang untuk dimakan di kapal. Lalu saya menyisakan tiga buah yang paling baik dan muda untuk bibi saya dan sisanya saya berikan kepada orang-orang di kapal untuk dimakan. Ketika hampir tiba di rumah, hatiku merasa tidak sentosa, karena merasa bahwa saya telah tidak setia kepada barang yang dipercayakan kepada saya. Barang-barang itu bukan milik saya, biar dia baik atau busuk, saya harus membawa dan memberikannya kepada bibiku yang kedua. Saya merasa, saya harus menjelaskan kepada bibi saya, tapi merasa sungkan juga. Kalau tidak dijelaskan, itu berarti tidak beres, karena itu tidak benar. Akhirnya hal itu dapat saya bereskan dengan baik.
Orang menitipkan kepada kita 50 dollar, mungkin kita masih bisa setia. Kalau orang menitipkan kepada kita, Rp. 50,- mungkin kita kurang bisa setia. Karena jumlahnya kecil, kita tidak menganggap berarti. Tetapi, ini juga ketidaksetiaan yang merupakan semacam dosa yang menyebabkan kita kehilangan persekutuan dengan Allah. Mungkin orang menitipkan kepada kita sepucuk surat, kita tidak menyobek melihat isinya, tetapi senang melihat luarnya. Sekilas melihat luarannya memang tidak mengapa, tetapi kalau bermotivasi ingin mengetahui rahasia seseorang, itu tidak seharusnya. Ini bisa menghalang-halangi persekutuan intim dengan Allah, menghalang-halangi persekutuan manusia dengan Allah. Saya khawatir, banyak orang tidak bisa dengan baik-baik membaca Alkitab, itu mungkin dikarenakan ada dosa yang tidak dibereskan dengan baik. Kita tidak hati-hati, kita tidak membereskan dosa, itu bisa membuat kita tidak mempunyai persekutuan yang leluasa dengan Allah.
2. Curang dalam Transaksi.
Ayat 2, ". . . memungkiri . . . barang yang diserahkan kepadanya." Yang pertama adalah perkara yang biasa, tetapi yang kedua adalah perkara yang khusus. Dalam hal jual beli atau transaksi barang, kita juga mungkin berbuat dosa. ltu bukan hanya ditujukan kepada orang yang berdagang saja, melainkan juga kepada setiap saudara saudari. Bukan hanya orang-orang yang berdagang yang bisa melakukan dosa ini, setiap saudara saudari juga bisa melakukan dosa ini. Pernah saya dengar, seorang ibu dan tiga anaknya naik sebuah bis. Ketika membayar ongkos bis, ibu itu menyuruh anaknya membayar 70 ketip kepada kondekturnya. Sebenarnya, mereka berempat harus membayar 72 ketip.. Tetapi ibu itu hanya membayar 70 ketip. Jadi ia menghemat 2 ketip. Dalam hal ini, bukan yang menarik karcis yang tidak jujur, melainkan yang membeli karcis yang tidak jujur. Adakalanya, ketika naik trem, Anda melampaui tiga pos (Halte) dari ongkos yang telah Anda ba yar. Sekarang, Anda membayar lagi kekurangan ongkos itu atau membiarkannya? Kita mungkin berpikir, "Aku bayar saja sekian . . . "(kurang dari ongkos yang seharusnya). Itu tidak benar, tidak halal. Orang yang menarik karcis boleh jadi mencari untung, tetapi kita, orang-orang Kristen, tidak seharusnya demikian. Kita adalah "orang Kristus", jangan sembarangan melewatkannya. Adakalanya kita membeli barang, ternyata uang kembaliannya kelebihan. Kalau kita tidak mengembalikan kelebihannya itu, berarti kita tidak jujur. Kalau kita suka orang lain mengembalikan Lebih, itu menunjukkan kita suka terhadap dosa. Perkara-perkara di atas adalah perkara-perkara kecil, tetapi kita tidak bisa membiarkannya lewat dengan sembarangan.
Ada saudara berkata, "Dalam berdagang, kalau tidak berbohong, tentu tidak bisa sukses." Ketahuilah, justru kita harus berdagang dengan jujur. Pada mulanya, kelihatannya mungkin kita akan rugi, tetapi kemudian ternyata melebihi orang lain. Banyak kesaksian dari saudara-saudara tentang hal ini. Kita tidak perlu berbohong dan seharusnya tidak berbohong. Dalam hal transaksi barang, kalau kita sengaja berbohong, Kita akan kehilangan persekutuan dengan Allah. Ini harus kita bereskan.
3. Merampas Barang Orang
Ayat 2 mengatakan, ". . . atau barang yang dirampasnya." Merampas dengan merampok itu sama dosanya. Mendapatkan sesuatu dengan paksaan kekuatan, dengan cara yang tidak benar adalah merampas barang orang. Misalnya, orang mempercayakan kepada Anda untuk melakukan pembagian warisan. Setelah orang yang memberi kuasa kepada Anda meninggal, Anda adalah pelaksana dari apa yang dipesankan orang tadi. Lalu, Anda melaksanakan sesuai dengan apa yang dipesankan atau Anda menyisakan sedikit dari harta warisan itu untuk diri Anda sendiri? ()rang tadi telah meninggal, barangnya ada ditangan Anda. Kalau Anda dengan sembarangan mengubah pesannya, itu berarti Anda telah merampas barang orang. Di antara kita mungkin ada orang yang pernah menjadi tentara, mungkin ada orang yang pernah kerja di kantor pajak (bea cukai). Kalau kita pernah dengan cara yang tidak benar mendapatkan harta, itu berarti merampas barang orang.
Percaya Tuhan, mendapatkan hayat, itu merupakan fakta. Setiap orang yang beroleh selamat berdasarkan darah Tuhan, semua dosanya diampuni di depan Allah, ini juga merupakan satu fakta. Tetapi jika Anda berdosa kepada orang, Allah tidak bisa menggantikan orang itu untuk mengampuni Anda. Misalnya, saya berbuat dosa kepada saudara A, kemudian saya mengaku dosa di depan Allah, tetapi Allah tidak bisa menggantikan saudara A mengampuni saya. Anda berdosa kepada orang, kalau Anda tidak baik-baik membereskan dosa itu, memang itu tidak bisa membuat Anda kehilangan hayat, tetapi itu bisa membuat Anda kehilangan persekutuan.
4. Memeras Sesama
Ayat 2 mengatakan, ". . . atau apabila ia telah melakukan pemerasan terhadap sesama." "Sesama" dalam Perjanjian Lama diacukan kepada "orang lain". Jadi sesama leita adalah orang lain. Sering mertua menipu menantunya, orang tua menipu anak-anaknya, guru menipu muridnya, Orang-orang yang berkedudukan tinggi merugikan orang-orang bawahannya. Kesemuanya itu termasuk memeras sesamanya, itu tidak diperkenan Allah. Di antara kita, tidak ada seorang pun yang boleh bertindak seenaknya, yang boleh dengan sembarangan melewatkan hari-harinya. Perkara-perkara demikian harus dibereskan. Banyak orang menjadi suami yang jahat, banyak orang menjadi istri yang jahat, banyak orang menjadi ibu yang jahat. Banyak ibu dengan cara yang tidak benar memeras anak-anaknya. Bukan itu saja, masih banyak perkara yang tidak wajar yang mungkin telah kita lakukan. Sering kali, ketika kita melewati suatu persimpangan jalan, ada suara-suara yang mengganggu orang lain. Sering kita benaku kasar terhadap sopir, sering kita kejam terhadap pembantu rumah tangga kita; semuanya itu adalah memeras sesama kita. Pembantu rumah tangga, sopir, adalah makhluk ciptaan Allah, kita tidak bisa begitu mempenakukan mereka. Adakalanya mereka memang bersalah, mereka tidak beraturan. Tetapi, bukankah keadaan mereka berbeda dengan keadaan Anda? Bukankah mereka tidak berkedudukan seperti Anda? Atau berpendidikan seperti Anda? Mereka tidak mempunyai apa yang Anda punyai, lalu bagaimana Anda mengharapkan mereka bisa sama seperti Anda? Meskipun mereka salah, Anda tidak seharusnya memeras mereka. Orang Kristen tidak seharusnya lalim terhadap orang lain, orang Kristen tidak seharusnya menganiaya orang; itu tidak diperkenan Allah.
5. Menemukan Barang Orang
Ayat 3, ". . . atau apabila ia menemui barang hilang, dan memungkirinya." Terhadap perkara ini, kita mungkin tidak mempunyai perasaan apa-apa, tetapi ini juga terhitung sebagai melakukan kelicikan. Mungkin kita mengira, bahwa uang yang kita temukan itu bukanlah barang yang tidak halal. Tetapi Allah mengatakan, bahwa itu berarti melakukan kelicikan. Tidak ada seorang Kristen pun yang boleh menganggap barang temuan sebagai miliknya. Misalnya, ketika kita naik kendaraan umum, lalu melihat orang-orang melakukan kelicikan, itu bukan urusan kita, kita tidak bisa mengurus orang-orang itu. Kita tidak berdaya mengubah kebiasaan masyarakat. Tuhanlah yang akan mengurus mereka. Pernah sekali, di atas trem, saya melihat seorang menghitung uang recehannya, waktu dia menghitung, uang recehnya jatuh satu keping, lalu orang lain dengan sengaja menginjak uang yang jatuh itu dengan kakiNya, sehingga bagaimanapun si pemilik mencarinya, tidak menemukannya. Setelah orang itu turun dari trem, barulah orang yang menginjak uang itu turun. Saya tidak tahu, apakah orang yang turun belakangan itu, karena uang receh itu, malah harus mengeluarkan ongkos tambahan untuk dua halte trem.
Baik itu sebuah saputangan, sebuah topi, sebuah pen atau sepucuk surat orang lain, kalau tertinggal di jalan dan kita menemukannya, kita tidak boleh mengambilnya dan menganggapnya sebagai barang kita sendiri. Karena itu tidak halal. Dulu mungkin kita pernah mengambil barang orang lain, tetapi baik uang, baik barang yang besar, atau yang kecil, asal bukan milik kita, janganlah dianggap milik kita. Dalam batas-batas yang memungkinkan, kita harus mengembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya. Kalau kita menemukan barang di tengah jalan, seharusnya menunggu sampai orang itu mengambil kembali atau kita memberikan barang itu kepada pewajib setempat. Kalau kita mengambilnya dan menganggapnya milik sendiri, Allah mengatakan, bahwa itu adalah dosa.
6. Bersumpah Dusta
Ayat 3, ". . . bersumpah dusta." Kata "dusta" di sini, dalam bahasa aslinya mempunyai dua aspek: yang satu adalah meneruskan kata yang di depannya, yang kedua adalah berdiri sendiri. Meneruskan kata yang di depan, yaitu orang yang menemukan barang yang hilang, ketika tertangkap dan ditanya, dia bersumpah dusta dengan mengatakan, "Aku tidak menemukan barang itu. Kalau aku yang menemukan, tentu begini, begitu . . ." Kalau Anda menemukan barang orang, tetapi bersumpah dusta, mengatakan, "Tidak menemukan," itu tidak sepatutnya, itu dipersalahkan oleh Allah. Kita selamanya tidak bisa menghindari kesulitan dengan cara berbohong.
Berbohong, menurut pembicaraan yang biasa, ialah suatu cara untuk menghindari dosa. Ada tiga penyebab besar yang membuat orang berbohong. Pertama, karena sombong. Berbohong agar bisa mempertahankan kesombongan. Anda melakukan satu kesalahan dalam suatu perkara, lalu orang lain bertanya kepada Anda, tetapi untuk mempertahankan muka Anda, Anda menyangkal, bahwa Anda yang melakukannya, atau Anda dengan kata-kata yang lain berusaha untuk menutupinya. Kedua, karena orang lain terlalu serius/ketat. Ibu yang terlalu serius/ketat, pasti mempunyai anak-anak yang berbohong; guru yang terlalu ketat, pasti mempunyai murid yang berbohong; majikan yang terlalu ketat, pasti mempunyai pembantu yang berbohong. Terlalu ketat bisa membuat orang lain berbohong. Kalau orang salah kepada Anda, dan Anda bisa sedikit longgar terhadapnya, ia masih memberitahu Anda. Kalau tangan Anda membawa cemeti, terhadap perkara yang kecil pun tidak bisa memaafkan orang lain, orang lain tidak bisa tidak berbohong; karena berbohong bisa menghindari kesulitan : Berbohong bisa menolong diri sendiri. Penyebab yang ketiga adalah yang kita bicarakan di sini, yaitu karena ingin mendapatkan keuntungan. Asal aku mau berbohong sepatah dua patah kata, aku akan mendapatkan Rp 10.000,- Mengapa tidak mau berbohong? Berbohong bisa mendapatkan sedikit keuntungan, berbohong bisa mendapatkan uang. Ada orang berbohong karena sombong, ada orang berbohong karena lawannya terlalu ketat; ini masih dosa yang agak ringan. Tetapi berbohong untuk mendapatkan keuntungan adalah dosa yang lebih berat. Dengan berbohong mendapatkan keuntungan adalah hal yang dihukum oleh Allah. Berbohong sudah dihukum oleh Allah, apalagi dengan berbohong mendapatkan keuntungan, lebih-lebih dihukum oleh Allah.
Misalnya, seorang yang menjadi jururawat di sebuah rumah sakit mengambil sedikit kapas, atau mengambil- sedikit obat untuk kepentingan keluarganya. Tetapi ketika orang yang mengurus obat-obatan bertanya kepadanya, ia mungkin akan berkata, "Oh, . . .ini untuk keperluan pasien." Anda mendapatkan barang, tetapi Anda mendapatkannya dengan cara berbohong. Terhadap barang-barang milik umum, kita mudah sekali dengan cara berbohong untuk mendapatkannya; Ini tidak seharusnya. Karena aku adalah orang Kristen, maka aku tidak bisa berbuat demikian. Kalau orang yang bersangkutan memperbolehkan atau memberi Anda, saya tidak menentangnya. Kalau orang yang berwewenang memberi Anda sesuatu, saya tidak bisa berkomentar apa-apa.
CARA PEMBERESANNYA
Apa yang harus kita perbuat, kalau kita telah melakukan dosa-dosa itu? Kata-kata selanjutnya memberitahu kita cara pelaksanaannya. Begitu mengetahui ada dosa, harus segera dibereskan. Ayat 4 mengatakan, "Apabila dengan demikian ia berbuat dosa dan bersalah . . ." Berbuat dosa adalah pelanggaran, berbuat salah adalah kita di depan Allah mempunyai kasus dosa. Apa yang harus dilakukan, bila ada kasus dosa? Di bawah ini kita akan melihat apa yang harus dilakukan.
Ayat 4-5 mengatakan, "Maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya atau yang telah diperasnya atau yang telah dipercayakan kepadanya atau barang hilang yang ditemuinya itu, atau segala sesuatu yang dimungkirinya dengan bersumpah dusta. Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya (Atau pada hari ditemukan dosanya)." Perintah penting pertama, ialah harus mengembalikan barang kepada pemiliknya. Apa pun yang bukan milik Anda, tidak seharusnya tertinggal di dalam rumah Anda. Kalau orang Kristen tidak bersih, jangan menyalahkan masyarakat yang tidak bersih. Kalau orang Kristen tidak rela menyerahkan barang orang lain, jangan menyalahkan banyak pejabat-pejabat yang juga tidak rela menyerahkan barang-barang orang lain. Kalau orang Kristen tidak mau menyerahkan barang yang sudah ditemukannya, janganlah menyalahkan banyak orang yang tidak mau melepaskan barang yang belum dimilikinya. Setiap orang Kristen harus bersih. Dalam batasan yang memungkinkan, kita masih harus mengembalikan kepada orang, harus mengaku terhadap orang.
KORBAN PENGHAPUS DOSA DAN KORBAN PENEBUS SALAH
MEMPUNYAI SATU KATA PENTING YANG BERLAINAN
Korban penghapus dosa adalah "memulihkan"; korban penebus salah adalah "membayar". Kita tidak bisa karena berdosa kepada Allah lalu "membayar" sesuatu; kita juga tidak bisa karena berdosa kepada manusia, lalu "memulihkan" sesuatu. Kalau kita berdosa, kita hanya bisa berdasarkan darah Tuhan dipulihkan kepada Allah. Berdosa kepada manusia, bukan harus memulihkan, melainkan harus membayar. Kalau aku pernah tidak setia kepada barang yang dititipkan atau yang diserahkan kepadaku, bahkan dengan cara yang tidak halal aku mendapatkan barang itu, Malam aku harus mengembalikan barang itu kepada pemiliknya. Kalau kita tidak mau mengembalikan kepada orang, kita tidak bisa mempersembahkan korban penebus salah. Bersandarkan darah Tuhan Yesus, dosa bisa diampuni; ini adalah kebenaran. Kalau Anda berdosa kepada orang, dan Anda tidak mau membereskannya, maka Anda akan kehilangan persekutuan dengan Allah. Begitu teringat, Anda segera merasa tidak bebas; begitu teringat, hati nurani segera merasa tidak sentosa; akibatnya, tidak bisa bersekutu dengan Allah.
Lima puluh satu tahun yang lalu, di Inggris diadakan pertemuan Keswick. Pada suatu kesempatan, diundanglah tuan Meyer untuk memimpin suatu sidang. Khotbah apakah yang pertama kali tuan Meyer beritakan? Dia berkata, "Kalau kita mengharapkan Allah memberkali kita, membangunkan kita, maka ada satu perkara yang harus terlebih dulu kita bereskan, yakni kalau kita masih mempunyai rekening utang yang dibiarkan di rumah, yang belum dibayar lunas, jangan mengharapkan mendapat berkat, jangan mengharapkan kebangunan rohani. Ada orang, di rumahnya ada bon belasan dollar, dibiarkan di sana. Kalau memberitahu Anda, khawatir menyinggung Anda, kalau tidak diberitahu, Anda terus menaruh bon itu di sana." Setelah tuan Meyer berkata demikian, sangatlah bermanfaat. Keesokan harinya, blangko wesel di kantor pos Keswick habis terjual. Dari perkara ini kita bisa melihat betapa banyaknya orang Kristen yang tidak beres.
Banyak orang berkata, "Aku tidak membunuh orang, aku tidak membakar rumah orang." Tetapi ketahuilah, sedikit bersalah kepada orang, bisa menyebabkan Anda kehilangan persekutuan dengan Allah. Darah Kristus hanya mencuci bersih dosa-dosa kita, mencuci bersih hati nurani kita. Darah Kristus tidak mencuci hati kita. Hanya setelah kita membereskan segala hubungan kita di dunia ini, hati kita baru tercuci bersih.
Masih ada perkara yang lebih sulit, banyak orang yang hubungan keluarganya berdiri di atas ketidakbenaran. Kalau hal-hal itu tidak dibereskan, tidak bisa mempunyai persekutuan yang baik dengan Allah. Karena hal itu akan menekan dia, sehingga dia tidak bisa maju. Kalau ada warisan atau harta suatu keluarga didirikan di atas ketidakbenaran, hari ini juga, pada batas-batas yang memungkinkan, sebaiknya mengembalikan semuanya itu kepada orang yang bersangkutan; dalam batas-batas yang memungkinkan, membereskan semuanya itu. Tentu saja, kalau tidak memungkinkan, Allah tetap akan menerima hati Anda.
Ada seorang saudara berutang kepada orang lain puluhan ribu dollar; ia dengan cara yang tidak halal mendapatkan uang itu. Kemudian, uang itu hampir habis dipakai, hanya tersisa tiga, empat ribu dollar. Dia sudah berkeluarga dan mempunyai anak; karena itu ia bertanya kepada saya, harus bagaimana. Saya berkata kepadanya, "Andaikata hari ini Anda masih mempunyai deposito 50.000 dollar, apa yang akan Anda lakukan? Kalau masih ada 50.000 dollar, tetapi tidak mau membayar, itu tidak perlu dikatakan lagi; karena itu bukan karena tidak ada, melainkan tidak mau membayar. Tetapi Allah tidak bisa membiarkan Anda lewat. Kalau hati nurani Anda tetap mendakwa Anda, Anda tidak akan memiliki sentosa. Sebab itu, masih perlu mengembalikan uang yang tersisa itu kepada orang yang berhak. Lebih baik menempuh hidup miskin, asal hati nurani merasa sentosa. Kalau tidak, semangat kita akan terkikis habis, karena kita tidak membereskan dosa dengan tuntas."
MENAMBAH SEPERLIMA
Ayat 5 mengatakan, "Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima." Misalnya, Anda merugikan orang 5 dollar. Anda harus mengembalikan kepadanya 6 dollar; kelebihan 1 dollar itu adalah bunganya. Semua orang yang bersalah kepada orang lain, semua harta atau barang yang didapatkan dengan cara yang tidak halal, ketika, mengganti rugi, harus ditambah seperlima. Menambah seperlima adalah untuk mengganti rugi kerugian orang lain. Dengan kata lain, ketika kita mengganti rugi kepada orang lain, tidak dapat dihindarkan kita menambah sedikit. Ketika Anda mengembalikan kepada orang lain, janganlah mengembalikan dengan pas-pasan. Harus ditambah sedikit, supaya orang lain tidak dirugikan. Ini adalah prinisip yang sangat penting. Misalnya, saya bertengkar dengan saudara A, setelah itu saya minta maaf kepada saudara A. Kalau saya berkata kepada saudara A, "Hari ini, saya bertengkar dengan Anda, itu tidak seharusnya, saya tidak mirip orang Kristen. Tetapi Anda juga tidak seharusnya bertengkar." Memang, saya telah mengaku salah, tetapi ini seperti mengembalikan pokok yang dirugikan saja. Pengakuan dosa semacam ini tidak ditambah seperlima. Mengaku dosa haruslah ditambah sedikit, jangan pas-pasan, harus mengembalikan sepenuhnya dengan menambah seperlima. Ini adalah satu prinisip. Kita harus sedikit lebih longgar kepadanya. Ketika kita mengaku dosa, kalau masih mengatakan kesalahan orang lain, itu berarti masih mempunyai hati yang benci kepada orang. Kita harus hanya mengaku kesalahan kita, tidak perlu mengaku dosa sambil mengipas-ngipas orang lain. Harus menurut ketentuan Allah menambah seperlima. Mengaku lima per lima itu kurang, harus mengaku enam per lima. Kalau kita mengaku, haruslah lebih longgar sedikit.
WAKTU MENGEMBALIKANNYA
Ayat 5 mengatakan, "Menyerahkan kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebusan salahnya (hari ia menemukan dosanya)." Di sini memberitahu kita, begitu menemukan dosanya, harus segera membayar, jangan menunggu. Begitu mengetahui, jangan berdalih dengan mengatakan "Menunggu gerakan Roh Kudus." Roh Kudus sudah menggerakkan Anda, yaitu membuat Anda mengetahui dosa-dosa Anda. Tidak perlu menunggu, juga dalam hal mengganti rugi. Jangan menunda, kalau menunda-nunda dan tidak mau membayar, akan muncul dua akibat yang tidak baik. Pertama, hati nurani semakin lama semakin tidak bersuara. Sekali demi sekali hati nurani bersuara, ini sangat berharga. Kalau hati nurani sudah tidak bereaksi, sungguh celaka. Kedua, dakwaan/teguran hati nurahi makin lama makin hebat, sehingga Anda tidak bisa membuka mulut di depan manusia, tidak bisa memberitakan firman, membuat Anda sedikit pun tidak mempunyai rasa sentosa. Kalau kita mengetahui dosa, tetapi menundanunda membereskannya, pasti ada dua akibat ini.
Sebab itu, jika kita berdosa kepada orang, harus segera dibereskan. Kalau kita merugikan orang, dengan cara yang tidak halal mendapat sesuatu, harus membereskannya kepada orang itu. Jangan kita tertipu oleh perkataan, "Kalau berdosa kepada orang, asal mengaku salah kepada Allah sudah cukup, tidak perlu mengaku salah kepada orang yang bersangkutan." Ini sama sekali tidak boleh. Allah bisa demi darah Tuhan Yesus mengampuni Anda, tetapi Allah tidak bisa mewakili orang lain mengampuni Anda. Pada hari itu juga harus dikembalikan. Kapan mengetahui, kapan itu juga mengadakan pemberesan. Menunggu satu hari, dua hari, lebih lama lebih tidak ada kekuatan untuk melakukan. Ini perlu dilakukan dengan kekuatan. Hari inilah saatnya yang paling tepat.
Mempersembahkan Korban Penebus Salah
Ayat 6 mengatakan, "Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkan kepada imam." Inilah perkara kedua yang masih harus dilakukan, meskipun Anda telah mengganti rugi kepada orang. Karena, meskipun Anda telah mengganti rugi kepada orang, hal itu belum bisa membuat Anda mendapatkan pengampunan di depan Allah. Anda masih perlu mempersembahkan korban penebus salah. Di dunia ini, tidak ada satu orang yang berdasarkan pengakuan dosa bisa mendapatkan pengampunan. Kalau berdosa kepada Allah, harus berdasarkan darah Tuhan Yesus, baru mendapat pengampunan. Kita berdosa pada orang, di satu pihak harus membereskan kepada orang itu (ini harus dilakukan dulu), setelah itu juga harus berkata kepada Allah, "Ya Allah, aku tahu, bahwa dalam perkara itu, aku bersalah kepada orang. Aku sudah membereskannya dengan orang itu. Sekarang, mohon Engkau demi darah Tuhan Yesus mengampuni aku." Hari ini Anda membereskan kepada orang, hari ini juga Anda mengaku salah kepada Allah, Allah pasti oleh darah Tuhan Yesus mengampuni dosa-dosa Anda.
Ayat 7 mengatakan, "Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah." Di dunia ini tidak ada satu dosa yang terlalu besar yang tidak bisa diampuni oleh Allah. Semua problemanya tergantung pada kita mau mengakui atau tidak. Tetapi di aspek yang lain, darah Tuhan Yesus tidak bisa dikesampingkan. Kita berdasarkan darah Tuhan Yesus bersekutu dengan Allah.
Hari ini, saya mengajak Anda sekalian, dari Alkitab melihat posisi pengakuan dosa. Ada orang berkata, "Tidak mengaku dosa, juga bisa mendapat pengampunan." Itu kurang. Ada orang berkata, "Bersandarkan pengakuan dosa, pasti mendapatkan pengampunan." Ini kelebihan. Alkitab memberitahu kita, begitu berdosa kepada orang lain, di samping harus membereskan hal itu dengan orang, juga harus mengaku dosa dengan tuntas kepada Allah. Dengan demikian, Allah akan karena darah Tuhan Yesus mengampuni Anda. Kalau Anda tidak terlebih dulu membereskan dengan orang, dan hanya mengaku dosa kepada Allah, hati nurani Anda tidak akan sentosa. Anda tidak ada kekuatan untuk percaya, bahwa darah Tuhan Yesus bisa membuat Anda mendapat pengampunan. Kalau kita tidak bersandarkan darah Tuhan, dosa kita tidak dapat diampuni. Tetapi kalau kita tidak mengaku dosa kepada orang, kita tidak bisa bersandarkan darah Tuhan mendapat pengampunan.
Hari ini, saya tidak mengharapkan yang lain. Saya hanya mengharapkan, hari ini juga, di depan Allah, kita membereskan semua hal yang bersalah kepada orang. Kalau tidak, persekutuan kita dengan Allah akan terputus.