← Daftar isi Roh Manusia · bab 15/21

IMAMAT UNIVERSAL PERJANJIAN BARU

Pembacaan Alkitab:

I Korintus 15:8-10,58

JALAN BARU PERLU PENGALAMAN KEMATIAN DAN KEBANGKITAN

Ayat-ayat yang kita baca ini berasal dari surat I Korintus, khususnya dari pasal 15. Kita telah nampak, bahwa pasal 14 dan 15 adalah dua pasal yang sangat penting. Pasal 14 terutama membicarakan tentang berbicara bagi Tuhan (bernubuat). Hanya berbicara bagi Tuhan yang bisa membangun gereja. Setelah I Korintus 14, Paulus membahas soal kebangkitan dalam pasal 15. Ini menunjukkan, bahwa berbicara bagi Tuhan dalam pasal 14 harus dilakukan dalam kebangkitan. Dalam diri alamiah kita, kita hanya dapat mengatakan perkataan yang biasa; tidak mungkin kita berbicara bagi Tuhan. Karena itu, kita harus belajar tinggal dalam kebangkitan agar kita dapat berbicara bagi Allah dan membicarakan Allah.

Alasan kita mengecam jalan lama adalah karena jalan lama menahan kita dalam alamiah. Kita tidak tahu bagaimana menerapkan kuasa kebangkitan, keadaan lingkungan kita juga tidak memerlukannya. Akibatnya, kita terus-menerus berada dalam jalan lama, dalam diri alamiah kita. Lagi pula, apa saja yang harus kita lakukan dalam jalan baru, tidak bisa dilakukan oleh manusia alamiah kita. Untuk memberitakan Injil menurut jalan yang ditetapkan dalam Perjanjian Baru, kita harus langsung berkontak dan mengunjungi orang, menyelamatkan mereka dari lingkungan mereka, agar kita bisa mempersembahkan mereka kepada Allah sebagai korban persembahan. Namun, ini adalah perkara yang tidak bisa digenapkan oleh manusia alamiah. Hanya dengan kuasa kebangkitan, hal ini bisa dicapai.

Kita tahu bahwa Roh Kudus adalah realitas kebangkitan. Bila Anda ada di dalam Roh Kudus, Anda berada di dalam kebangkitan. Meskipun kebangkitan dan Roh Kudus sangat erat hubungannya, dalam pengalaman subjektif kita, kebangkitan lebih erat hubungannya dengan kematian. Diri alamiah kita dengan kekuatan alamiahnya dan pandangan alamiahnya, harus melewati kematian, kemudian baru kita dapat masuk ke dalam kebangkitan. Kidung nomor 125 mengatakan, "Setelah darah tercurah, minyak baru diurapkan; tanpa lewat Golgota, Pentakosta takkan tiba." Jika kita tidak melewati kematian salib, kita tidak mungkin menerima Roh Pentakosta, karena Roh Pentakosta adalah realitas kebangkitan. Untuk memiliki realitas kebangkitan, kita perlu melewati Golgota.

Hari ini kita telah nampak jalan baru ini seperti yang diwahyukan dalam Alkitab. Kita juga telah nampak, bahwa untuk menempuh jalan ini kita perlu melewati kematian dan kebangkitan pada setiap langkah. Khusus kepada saudara-saudara yang melayani sebagai para penatua dalam gereja, saya berpesan, bahwa untuk membimbing saudara dan saudari menempuh jalan baru ini, kita dituntut menjadi orang-orang yang hidup dalam kebangkitan. Kita harus melewati kematian. Kemudian, kita dapat masuk ke dalam kebangkitan dan masuk ke dalam realitas Roh Kudus.

RASUL PAULUS MENGALAMI KASIH KARUNIA ALLAH

UNTUK BEKERJA LEBIH KERAS

Ketika Paulus membicarakan kebangkitan Kristus dalam I Korintus 15, dia tidak menganggapnya sekadar sebagai pokok penanggulangan terhadap bidat dalam gereja. Sebaliknya, dia menerapkan kebangkitan kepada dirinya sendiri. Dalam ayat 5, dia menyebutkan penampakan diri Tuhan sesudah kebangkitanNya. Ayat 8 mengatakan, "Dan yang paling akhir dari semuanya, Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya." Kemudian Paulus melanjutkan dengan berkata, "Karena aku adalah yang paling kecil dari semua rasul, yang tidak layak disebut rasul" (ayat 9 Tl). "Tetapi karena kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku ada sekarang . . . aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua" (ayat 10). Ini menunjukkan kepada kita, bahwa rasul Paulus memiliki satu keistimewaan -- bekerja keras, berjerih lelah. Semakin keras Anda bekerja, Anda semakin seperti rasul. Karena Paulus bekerja lebih keras daripada semua rasul yang lain, dia adalah rasul di antara para rasul. Tetapi dia berkata, "Tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku" (ayat 10). Kasih karunia Allahlah yang membentuk dirinya menjadi orang semacam itu.

Yohanes 1:1 mengatakan, "Firman itu adalah Allah." Kemudian, ayat 14 mengatakan, "Dan Firman itu telah menjadi tubuh daging dan berkemah di antara kita . . . penuh kasih karunia dan realitas"(Tl). Ayat 17 melanjutkan, "Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa; tetapi kasih karunia dan realitas datang oleh (berasal dari) Yesus Kristus." Kasih karunia berasal dari Yesus Kristus. Ini menunjukkan kepada kita, bahwa kasih karunia tidak lain Yesus Kristus, penjelmaan dan ekspresi Allah Tritunggal. Dia telah melalui kematian dan kebangkitan untuk menjadi Roh pemberi hayat. Hari ini Dia dapat masuk ke dalam roh kita untuk menjadi kenikmatan kita. Jadi, kesimpulan Allah Tritunggal ini, yakni Roh pemberi hayat, kini menjadi kasih karunia.

Dua Korintus 13:13 juga mengatakan, "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus, menyertai kamu sekalian." Kasih karunia, kasih, dan persekutuan bukanlah tiga hal yang terpisah; ketiganya adalah tiga aspek dari satu hal. Kasih adalah sumber. Ketika kasih terekspresi, kasih itu menjadi kasih karunia. Ketika kasih karunia datang kepada kita, kasih karunia itu menjadi persekutuan, dan persekutuan ini adalah Roh Kudus. Jadi, Roh Kudus adalah Allah Tritunggal yang datang kepada kita.

Sampai di sini, kita nampak bahwa kasih karunia adalah "Roh yang sempurna" hasil dari Allah Tritunggal yang terproses, yang masuk ke dalam kita untuk menjadi segala-gala kita. Ketika kasih karunia ini datang kepada Paulus dalam kebangkitan, kasih karunia ini menjadikannya rasul di antara semua rasul. Dia menjadi orang yang sebagaimana seharusnya. Sebab itu dia berkata, "Tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku" (I Korintus 15:10).

Pada permulaan I Korintus 15, Paulus menerapkan kasih karunia kebangkitan kepada dirinya sendiri. Dalam ayat terakhir, dia menganjuri saudara-saudara, "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!" (ayat 58). Giat dalam pekerjaan Tuhan berarti kita dipenuhi dengan pekerjaan Tuhan.

Jika pada hari ini, kita tidak dipenuhi dengan pekerjaan Tuhan, itu menunjukkan bahwa kita tidak berada dalam kasih karunia atau dalam kebangkitan, melainkan berada dalam lingkungan alamiah. Hayat alamiah berasal dari Adam, tetapi hayat kebangkitan kita terima pada saat kelahiran ulang. Menurut jalan baru yang Tuhan pulihkan hari ini, tidak ada seorang pun dapat memenuhi semua kebutuhan ini berdasarkan hayat alamiah mereka. Khususnya saudara-saudara yang memimpin dalam gereja-gereja harus sadar, bahwa pekerjaan itu tidak dapat dirampungkan oleh manusia alamiah. Hanya dengan tinggal dalam kasih karunia kebangkitan, kita bisa giat dalam pekerjaan Tuhan untuk kemajuan jalan baru.

BARU MENGACU KEPADA BARU DALAM SIFAT

Jalan baru hari ini bukanlah sebuah istilah yang kita temukan. Jalan baru ini khususnya tercantum dalam Perjanjian Baru. Ibrani 10:20 mengatakan, "Karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir." Melalui penyalibanNya, Tuhan telah membuka jalan yang baru ini bagi kita. Tubuh dagingNya telah disalib di kayu salib, sehingga tabir ciptaan lama bisa tersingkir. Melalui darahNya, Dia telah membawa kita ke hadapan Allah, supaya kita bisa menjadi ciptaan baru untuk menempuh jalan baru.

Di samping itu, jalan baru yang disebutkan dalam Alkitab ini bukanlah baru dalam cara, melainkan baru dalam sifat. Jalan yang lama, yang bertentangan dengan jalan baru, adalah jalan hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, itu adalah jalan yang ditempuh berdasarkan ciptaan lama. Jalan baru ada dalam Perjanjian Baru dan ditempuh berdasarkan ciptaan baru. Ini bukanlah perubahan dalam cara melainkan perubahan dalam sifat batiniah. Misalnya, pemberitaan Injil kita saat ini, kita mendorong kaum saleh untuk menjenguk orang dengan mengetuk pintu (dari rumah ke rumah). Namun ini bukanlah perubahan dari cara yang lama ke cara yang baru. Karena terang dari Tuhan belakangan ini semakin kuat, dan karena kita nampak bahwa pemberitaan Injil dengan seorang pembicara sedangkan yang lain mendengar bertentangan dengan sifat ciptaan baru dalam Perjanjian Baru, maka kita tidak mau kembali ke jalan lama. Kita ingin mengalami perubahan dalam sifat untuk memberitakan Injil dan melayani Allah menurut kehendak Allah dan teladan dalam Alkitab.

IMAMAT UNIVERSAL DALAM PERJANJIAN BARU

Imam Perjanjian Lama Berpaling Menjadi Imam Perjanjian Baru

Dari Alkitab kita nampak, bahwa peralihan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru terjadi melalui Yohanes Pembaptis. Ayahnya adalah Imam Besar pada saat itu. Sebab itu, Yohanes terlahir sebagai imam. Tetapi dalam pandangan Allah, dia adalah imam terakhir dari Perjanjian Lama.

Ketika Yohanes bertumbuh, dia sangat kuat dalam rohnya dan tinggal di padang gurun (Lukas 1:80). Dia tidak tinggal di bait suci atau tinggal di rumah imam. Ini menunjukkan, bahwa jaman telah berubah. Ketika dia datang untuk merampungkan ministrinya, dia tidak makan makanan imam, juga tidak mengenakan pakaian imam. Matius 3:4 mengatakan, "Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya adalah belalang dan madu hutan." Ini menunjukkan, bahwa Yohanes telah meninggalkan kebudayaan manusia dan agama manusia. Dia memberitakan di padang gurun, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (ayat 2). Jika seseorang bertobat dan mau mengaku dosa-dosanya, Yohanes akan membaptisnya di sungai Yordan (ayat 6). Semua itu menunjukkan, bahwa Yohanes menggenapkan ministrinya secara "liar". Dia tidak diduduki oleh peraturan-peraturan yang usang. Ini berarti jalan penyembahan Allah yang lama menurut Perjanjian Lama sudah berakhir. Jalan baru telah diperkenalkan.

Imam Perjanjian Baru Mempersembahkan Orang Dosa di dalam Kristus

Imam-imam Perjanjian Lama mempersembahkan lembu dan kambing domba sebagai korban kepada Allah. Dalam Perjanjian Baru, korban persembahan yang pertama yang harus dipersembahkan oleh imam adalah orang dosa yang beroleh selamat. Dalam Roma 15:16, Paulus berkata, bahwa dia "melayani sebagai imam Injil Allah, supaya persembahan bangsa-bangsa bisa diperkenan." Inilah korban persembahan yang pertama dan mendasar dalam Perjanjian Baru. Selain ini, ada korban berupa pujian, korban berupa perbuatan baik, dan korban berupa barang-barang (Ibrani 13:15-16). Ini seperti korban tatangan dan korban curahan dalam Perjanjian Lama, yang merupakan tambahan bagi lima korban utama.

Korban persembahan dalam Perjanjian Lama adalah lambang Kristus. Dalam Perjanjian Baru, kita menyelamatkan orang dosa yang ada di dalam Adam, menaruh mereka di dalam Kristus, dan mempersembahkan mereka kepada Allah. Sesudah itu, kita harus membantu mereka memasuki Roma 12, meminta mereka mempersembahkan diri mereka sebagai persembahan yang hidup kepada Allah (ayat 1). Bukan hanya itu, Paulus berkata, kita harus "menasihati setiap orang dan mengajar setiap orang dengan segala hikmat, supaya kita bisa mempersembahkan setiap orang dalam keadaan dewasa di dalam Kristus" (Kolose 1:28).

Setiap Orang Imani Memberitakan Injil

Imamat Perjanjian Baru bersifat universal; bukan hanya untuk sebagian kecil orang. Ini berarti, setiap orang yang beroleh selamat adalah seorang imam. Setiap orang perlu mempersembahkan orang dosa sebagai korban bakaran. Walaupun di masa lampau kita sehati membangkitkan seluruh gereja untuk memberitakan Injil, kebanyakan saudara saudari bukanlah imam Injil. Mereka hanya melayani sebagai orang Lewi. Mereka hanya melayani menunjukkan tempat duduk, menjenguk, membersihkan dan mengatur kursi. Hanya sedikit saudara yang menyampaikan berita yang sebagai imam. Maka, jalan lama memberitakan Injil membunuh imamat universal Perjanjian Baru.

Hari ini, ketika kita membantu semua saudara saudari untuk menjadi imam, kita harus membantu mereka memberitakan Injil. Setiap orang harus pergi ke luar untuk menyelamatkan orang. Tidak ada seorang pun dapat menggantikan orang lain. Inilah yang digambarkan dalam Yohanes 15. Tuhan adalah pokok anggur yang benar, dan kita adalah ranting-ranting pokok anggur itu. Ranting-ranting yang tidak berbuah akan dipotong (ayat 1-2). Pemotongan di sini tidak mengacu kepada kebinasaan kekal, melainkan mengacu kepada kerugian kenikmatan yang kaya dalam Kristus.

Sebab itu, kita harus nampak, hari ini yang diperlukan bukanlah mengubah cara pemberitaan Injil. Karena pemberitaan Injil dalam jalan lama membunuh imamat kaum saleh dan menggantikan imamat universal dengan sedikit imam, maka kita harus berpaling dari kesalahan semacam itu. Itu adalah kesalahan dalam sistem dan dalam sifat. Untuk memulihkan imamat universal kaum imani dalam Perjanjian Baru, setiap orang harus pergi memberitakan Injil dan menjadi imam. Korban pertama yang harus kita persembahkan dalam Kristus adalah orang dosa yang beroleh selamat. Hanya dengan berbuat demikianlah kita dapat menjadi imam Injil Perjanjian Baru.

PENYEMBAHAN PERJANJIAN BARU MERUPAKAN PERKARA ROH MANUSIA

Dalam sidang istimewa di Kaohsiung, minggu yang lalu, saya menyebutkan alasan kita menghapus perkumpulan dengan satu orang pembicara dan yang lain mendengar, dan sebaliknya, harus mengadakan sidang kelompok. Saya ingin mengulangi perkara ini berdasarkan Perjanjian Baru.

Yohanes pasal 4 mencatat percakapan Tuhan dengan perempuan Samaria yang hina (ayat 5-26). Perempuan itu sangat pandai. Ketika Tuhan menjamah dosa-dosanya, dia langsung mengalihkan percakapan dari soal lima suami ke soal penyembahan agamawi. Dia berkata, "Nenek moyang kami menyembah di gunung ini, dan kamu mengatakan, Yerusalemlah tempat penyembahan" (ayat 20). Tuhan menjawabnya, "Saatnya akan tiba, bahwa kamu tidak akan menyembah Bapa di gunung ini atau di Yerusalem . . . penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan realitas" (ayat 21-23). Tuhan mewahyukan kepadanya, bahwa penyembahan dalam Perjanjian Lama adalah perkara tempat fisik, tetapi sekarang Perjanjian Baru sudah datang. Penyembahan Perjanjian Baru adalah perkara roh manusia. Hanya bila kita berada di dalam roh dan di dalam realitas, Allah baru mendapatkan penyembahan yang benar. Sayangnya, kekristenan telah merosot, orang-orang di dalamnya tidak menyembah dan melayani di dalam roh. Jadi, kita harus memulihkan penyembahan Perjanjian Baru.

MENYEMBAH DAN MELAYANI HANYA DENGAN ROH ALLAH

Kita sudah menerima terang dari Tuhan untuk melihat penyembahan Perjanjian Baru bukanlah perkara pelayanan agamawi. Penyembahan ini tidak seharusnya memiliki waktu tertentu atau tempat tertentu, dan tidak seharusnya memiliki acara tertentu atau urutan tertentu. Dalam Filipi 3:3, Paulus berkata, bahwa kita melayani di dalam Kristus dengan Roh Allah.

Perhimpunan kita malam ini bukan sekadar penyembahan, juga bukan sekadar sidang, kita datang dengan Roh Allah. Kita harus menggunakan roh kita untuk menyanyi, memuji, berdoa dan berbicara bagi Tuhan. Tegasnya, sidang kita tidak seharusnya dimulai pada waktu yang direncanakan, melainkan seharusnya baru dimulai dari saat kita meninggalkan rumah untuk bersidang. Bahkan seharusnya dimulai pada saat kita melakukan penyegaran pagi. Sepanjang hari ini kita harus hidup dalam keadaan yang penuh pujian, penyegaran dan pembaruan. Malamnya, ketika kita bersidang, dan bahkan sebelum kita datang ke balai sidang, kita mulai menyanyi dan memuji. Ketika saudara saudari mulai berdatangan, ada yang lebih awal, ada yang lebih akhir, mereka semua mulai melatih roh mereka. Pelayanan oleh Roh Allah semacam ini bukanlah sidang penyembahan, melainkan sebuah jalan yang tepat untuk menyembah menurut Perjanjian Baru.

Alasan kita mengubah sistem hari ini bukan hanya untuk mengubah cara dan menggantikan sidang besar dengan sidang kecil, melainkan karena sidang besar dengan satu pembicara tidak sesuai dengan sifat ekonomi Perjanjian Baru Allah. Itulah sebabnya kita harus mengubah sistem. Ekonomi Allah dalam Perjanjian Baru menghendaki setiap orang diselamatkan, dilahirkan ulang, dan dihidupkan rohnya. Dari saat seseorang beroleh selamat, orang itu harus menjadi orang yang dibangunkan, memuji dan menyanyi setiap saat. Ketika dia menghadiri sidang, dia harus mampu melatih rohnya dan melayani dengan Roh Allah.

Dalam sidang kelompok, setiap orang berbagian dalam menyanyi atau berdoa. Sebagian orang juga harus dengan spontan memberikan kesaksian. Yang lain dapat mengajukan pertanyaan untuk dibahas, sehingga keperluan satu sama lain dapat terpenuhi. Harus ada persekutuan dan doa untuk satu sama lain, yang mencakup penggembalaan dan perawatan. Dengan demikian, sidang itu bukan sekadar sidang, melainkan suatu penghidupan bersama orang-orang Kristen. Sidang itu tidak akan menjadi suatu komunitas (masyarakat) yang besar melainkan suatu komunitas kecil. Hanya dengan demikianlah kita akan benar-benar terlepas dari sistem agamawi untuk mewujudkan kehendak Allah.

JALAN LAMA MENGGAGALKAN EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH

Sidang Injil raya kita di masa lampau, dengan sejumlah besar orang yang menyatakan percaya dan dibaptis, memang cukup mengesankan. Tetapi bila menyinggung hakiki Perjanjian Baru, sidang-sidang itu telah membunuh fungsi sebagian besar orang saleh. Dengan kata lain, sidang-sidang itu telah membunuh imamat universal Perjanjian Baru dan telah menyebabkan sedikit orang menjadi kaum paderi yang super. Pada prinsipnya, ini adalah pelanggaran terhadap Tuhan, karena ini telah menggagalkan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Hari ini kita harus sadar, bahwa ini sama sekali bukan perkara mengubah cara. Kita perlu bertobat dengan tuntas, dan kita perlu meninggalkan segala cara yang tidak sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Jalan lama itu menghalangi Allah. Ketika Allah dengan kedaulatanNya bekerja dalam suatu lingkungan, mungkin Dia mengumpulkan banyak orang seperti yang dilakukanNya pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1-41). Namun, bahkan setelah tiga ribu orang beroleh selamat, mereka mulai memecahkan roti, bersekutu, mengajarkan kebenaran, dan memberitakan Injil dari rumah ke rumah. Ini menunjukkan kepada kita, bahwa selain pada kesempatan khusus, semua saudara saudari harus berbuah secara langsung dalam hidup sehari-hari mereka. Mereka harus menjadi imam Injil secara langsung, mempersembahkan korban Injil, yaitu orang dosa yang beroleh selamat. Jika mereka tidak melakukan hal ini, berarti mereka bertindak bertentangan dengan ekonomi Allah.

SETIAP ORANG MEMERLUKAN KEBANGUNAN YANG SEJATI

Dalam Perjanjian Baru ada kasih karunia bagi kita. Jika kita ingin menikmati kasih karunia Perjanjian Baru, kita harus memenuhi syarat Perjanjian Baru. Kita juga harus nampak, bahwa tuntutan dan syarat Perjanjian Baru tidak mungkin dipenuhi oleh manusia alamiah kita. Jadi, Perjanjian Baru menunjukkan kepada kita satu jalan: kita harus berada di dalam Kristus. Kita harus mati bersamaNya, dan bangkit bersamaNya. Ketika kita mengalami kematian dan kebangkitan, yang ada "bukan lagi aku melainkan Kristus hidup di dalamku".

Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Ia pun berkata dalam I Korintus 15:10, "Tetapi karena kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku ada sekarang . . . tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku." Jadi, kasih karunia Allah tidak lain adalah Kristus; Kristus adalah kasih karunia Allah.

Hanya dengan berada di dalam Kristus, dan mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitanNya, barulah kita mungkin menempuh hidup persembahan yang sejati. Itulah kebangunan yang sejati. Hari ini, gereja di Taipei, termasuk semua sekerja dan penatua, memerlukan kebangunan semacam itu. Kita telah mempelajari kerangka kerja jalan baru dengan tuntas. Yang kita perlukan saat ini adalah diperkaya dalam isi. Dengan kata lain, esensi batiniah harus diubah. Mengubah seseorang tidak hanya meliputi mengubah pakaiannya di luar, melainkan mencakup pula perubahan dalam dirinya. Hari ini, manusia dalam ciptaan lama harus diubah menjadi manusia dalam ciptaan baru, yang ada di dalam kebangkitan.

Saya harap mulai hari ini setiap orang mau menghampiri Tuhan dan melakukan doa yang tuntas. Kita harus berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku masih di bawah kasih karuniaMu dan rahmatMu. Aku masih berbagian dalam kepenatuaan di sini. Aku benar-benar ingin mengikutiMu dalam jalan yang Kautetapkan dan wahyukan, jalan yang sesuai dengan ekonomiMu dalam kebangkitan. Kini Engkau telah menunjukkan jalan ini kepada kami. Tetapi aku tahu, bahwa aku tidak berdaya. Aku menyerahkan diriku kepadaMu. Jagalah aku dalam kebangkitanMu." Jika kita berdoa seperti ini, Roh Tuhan akan menyertai kita dengan berlimpah. Inilah kebangunan rohani yang sejati. Selain itu, kita harus memperbarui kebangunan ini setiap hari; seperti halnya matahari terbit. Dengan demikian, kita akan benar-benar hidup dalam kebangkitan Tuhan, dan akan ada kuasa dari tempat tinggi untuk menyuplai kita. Kita akan mampu memenuhi tuntutan Perjanjian Baru dan mempersaksikan, bahwa kita adalah orang-orang yang benar-benar menerima kasih karunia yang berlimpah dari Tuhan.

TUHAN SETIA UNTUK MENGGENAPI PERKATAAN ALKITAB

Yang telah kita bahas hari ini adalah pokok-pokok yang masih belum terpulihkan selama bertahun-tahun. Pokok-pokok ini sangat penting dalam pemulihan. Dua kutipan dalam I Korintus 14 dan Efesus 4 itu belum pernah tergenap. Di samping itu, ada dua hal dalam imamat universal, yaitu (1) setiap orang saleh memberitakan Injil dan membawa orang dosa kepada Allah, (2) jalan penyembahan dalam Perjanjian Baru, yang bukan perkara tempat fisik, melainkan perkara roh manusia. Selanjutnya, dalam penyembahan kita tidak seharusnya ada bentuk atau model apapun, melainkan kita, melayani dengan Roh Allah. Hanya penghidupan di dalam roh bersama kaum saleh sedemikianlah yang sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dengan demikian, Tubuh Kristus akan terbangun dan ekonomi Allah akan tergenap di antara kita. Seperti yang sudah dikatakan, semua perkara ini belum terwujud selama berabad-abad.

Saya yakin, Allah dengan kehendak indahnya menyampaikan perkara ini kepada kita pada hari ini. Jika kita tidak terus maju dengan setia, kita pasti akan memperlambat waktuNya. Namun, Allah harus merampungkan hal ini juga pada akhirnya. Hari ini, Allah sedang mengulangi perkataanNya dalam Alkitab. PerkataanNya tidak pernah gagal. PerkataanNya akan tergenap di bumi. Kiranya kita menjadi orang-orang yang menerima kasih karunia dalam perkara-perkara ini.