JALAN BARU DAN PELAYANAN SERTA PENYEMBAHAN DALAM PERJANJIAN BARU
Pembacaan Alkitab:
Yohanes 4:20-21,23-24; Lukas 2:37; Filipi 3:3; Efesus 4:12; I Korintus 14:26
GARIS BESAR
I. Penyembahan dalam Perjanjian Baru:
1. Penyembahan dalam Perjanjian Lama merupakan perkara fisik -- Yohanes 4:20.
2. Penyembahan dalam Perjanjian Baru merupakan perkara roh manusia -- Yohanes 4:21,23-24.
3. Orang-orang dalam Perjanjian Lama menyembah Allah dalam bait suci -- Lukas 2:37.
4. Orang-orang dalam Perjanjian Baru menyembah Allah dalam Kristus, Manusia-Allah -- Filipi 3:3.
II. Cara penyembahan dalam Perjanjian Baru:
1. Tidak ada bentuk (aturan) penyembahan.
2. Tidak ada acara dan urutan lahiriah tertentu.
3. Hanya melayani berdasarkan Roh Allah -- Filipi 3:3:
a. Sidang kelompok terutama untuk menyempurnakan kaum saleh -- Efesus 4:12.
b. Berbicara bagi Tuhan terutama untuk membangun gereja -- I Korintus 14:26.
IMAMAT DALAM PERJANJIAN BARU BERSIFAT UNIVERSAL
Kita telah nampak, bahwa jalan yang ditetapkan oleh Tuhan selalu sesuai dengan ekonomi yang dikehendakiNya. Kita juga telah nampak bahwa ekonomi Perjanjian Baru Allah menghendaki setiap orang yang beroleh selamat menjadi imam. Imamat Perjanjian Baru bersifat universal. Tidak seharusnya hanya sekelompok orang yang menjadi imam, sedangkan yang lain bukan imam. Setiap orang seharusnya adalah imam. Tidak peduli betapa mudanya Anda, asal Anda adalah orang yang sudah beroleh selamat, memiliki hayat Tuhan, Anda adalah satu anggota dari Tubuh Kristus, Anda adalah seorang imam. Bagi Tuhan, Anda adalah anggota TubuhNya. Bagi Allah, Anda adalah imamNya. Imam Perjanjian Baru adalah orang yang bersatu dengan Allah; membawa Allah masuk ke dalam kita, dan membawa kita masuk ke dalam Allah. Kita dengan Allah, Allah dengan kita saling menghuni satu sama lain, menjadi satu. Demikianlah kita menjadi orang milik Allah dan yang melayani Allah.
IMAM-IMAM PERJANJIAN BARU MEMPERSEMBAHKAN ORANG DOSA
DI DALAM KRISTUS
Imam adalah orang yang melayani Allah, dan melayani Allah adalah mempersembahkan korban. Kata "imam" mengandung arti "orang yang mengurus/mengelola". Imam adalah orang yang "mengurus/mengelola" korban persembahan. Dia bersatu dengan Allah, dan menerima amanat dari Allah. Dia tidak hanya diutus dari Allah, juga orang yang melayani bersama Allah. Pekerjaan khususnya adalah mengurus/mengelola korban persembahan Allah.
Dalam Perjanjian Lama, korban persembahan adalah lembu dan kambing domba. Kita tahu, bahwa imam-imam Perjanjian Lama dan korban-korban dalam Perjanjian Lama adalah lambang, bukan realitas. Realitasnya masih belum datang. Empat ribu tahun setelah Adam diciptakan, barulah Kristus datang dalam tubuh daging. Saat itulah waktunya tergenap. Pada saat itu, realitasnya sudah datang. Maka, malaikat mengumumkan kepada Maria, bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak, yaitu Kristus. Ketika Kristus datang, semua lambang dalam Perjanjian Lama tergenap dan terwujud. Tidak perlu lagi lambang-lambang. Kini Kristus adalah segalanya.
Ibrani 10:7 mengatakan, "Sesungguhnya, Aku datang . . . untuk melakukan kehendakMu, ya Allah." Dari konteksnya kita nampak, bahwa kehendak Allah yang dimaksud di sini adalah Kristus menggenapi dan menggantikan semua korban dalam Perjanjian Lama. Mulai sekarang, tidak ada korban lagi. Hanya ada satu korban yang sejati, yaitu diri Kristus.
Jadi, imam-imam Perjanjian Baru tidak lagi mempersembahkan lembu dan kambing domba sebagai korban, tetapi mempersembahkan orang dosa, yang dimustikakan dan telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan, sebagai korban (Roma 15:16). Namun, orang-orang dosa ini tidak begitu saja menjadi korban persembahan, karena mereka semua telah berdosa. Kita tahu, bahwa korban persembahan itu adalah untuk pemberesan, penyingkiran, dan penebusan dosa. Syukur kepada Allah atas keselamatanNya. Setelah Dia menyelamatkan kita, Dia menaruh kita di dalam Kristus sehingga kita memiliki perubahan dalam kedudukan. Kita tidak lagi berada di dalam Adam, kini kita berada di dalam Kristus. Begitu kita berada di dalam Kristus, Allah dapat membenarkan dan menerima kita. Ketika kita masih sebagai orang dosa, kita bukanlah korban persembahan. Tetapi ketika kita ada di dalam Kristus, kita adalah korban persembahan yang diperkenan Allah.
Karena itu, dalam surat kirimannya, Paulus sering menyebutkan, kita ada di dalam Kristus. Misalnya, Kolose 1:28 mengatakan, "Tiap-tiap orang kami peringatkan dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, supaya kami dapat mempersembahkan tiap-tiap orang dalam keadaan dewasa di dalam Kristus." Ketika kita berada di dalam diri kita sendiri, kita tidak memenuhi syarat untuk dipersembahkan. Tetapi ketika kita berada di dalam Kristus, kita dapat dipersembahkan kepada Allah, bahkan kita dapat dipersembahkan dalam keadaan dewasa.
MEMBERITAKAN INJIL DAN MENYELAMATKAN ORANG DOSA ADALAH PERKARA YANG PALING MENGGEMBIRAKAN
Kristus adalah keturunan perempuan yang meremukkan kepala ular. Dia juga adalah keturunan Abraham yang merampungkan penebusan Allah dan memberikan berkat penebusan Allah -- Roh Allah Tritunggal yang almuhit -- kepada setiap orang yang percaya dan beroleh selamat (Galatia 3:14). Selanjutnya, Roh ini, yaitu Roh yang almuhit, adalah berkat unik dalam penebusan Allah. Roh ini dilambangkan dengan tanah Kanaan. Dalam Roh ini, kita menikmati Kristus sebagai segala sesuatu dan menerima berkat ini.
Puji Tuhan, karena Kristus telah datang dan telah merampungkan segala sesuatu. Allah tidak hanya menginginkan, orang-orang yang beroleh selamat, menikmati diriNya, Allah juga mengutus mereka untuk menyelamatkan orang dosa, agar orang-orang dosa percaya kepada Kristus dan dibaptis ke dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, sehingga bersama-sama menikmati berkat ini. Kita orang yang telah beroleh selamat ini tidak lagi di dalam Adam, juga tidak berada dalam diri kita sendiri, melainkan berada di dalam Bapa, Putra dan Roh Kudus. Inilah status kita.
Kita juga harus nampak, bahwa kita ditetapkan oleh Tuhan segala sesuatu itu untuk menjadi imam-imam. Kita harus memberitakan Injil kepada orang dosa, menyelamatkan mereka ke dalam Kristus dan membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal. Bila kita membaptis seseorang, kita mempersembahkan sebuah mustika di mezbah. Satu orang dosa adalah satu mustika yang dipersembahkan. Sepuluh orang dosa adalah sepuluh mustika yang dipersembahkan. Semua orang Kristen tahu, bahwa memberitakan Injil dan menyelamatkan orang dosa adalah satu perkara yang paling menggembirakan. Kalau sebuah gereja ingin hidup, lincah dan mengalami kebangunan, tidak ada jalan lain selain menjadi gereja yang memberitakan Injil.
Jika sebuah gereja sudah berdiri selama delapan tahun, dan belum menyelamatkan satu orang pun, malah setiap orang melihat wajah-wajah yang tua terus-menerus, tentu saja tidak akan ada sukacita. Tetapi jika sebuah gereja memiliki beberapa wajah baru, dan khususnya jika orang baru itu mau berdiri dan mengatakan beberapa perkataan, walaupun pembicaraan mereka tidak begitu baik, setiap orang akan merasa sangat gembira. Maka, jika kita tidak menyelamatkan orang dosa, kita sulit memiliki sukacita. Demikian pula, jika sebuah gereja tidak memberitakan Injil untuk menyelamatkan orang dosa, gereja itu akan sulit memiliki sukacita.
Bila kita menyelamatkan orang dosa dan membaptis mereka, dalam pandangan manusia, kita memasukkan mereka ke dalam air; tetapi dalam pandangan Allah, kita adalah imam-imam yang "mengimamkan" korban persembahan itu kepada Allah. Semua orang yang melakukan hal ini mengetahui betapa sukacitanya. Ketika sukacita kita begitu merasuk, seakan-akan kita terangkat. Ini terjadi karena Allah juga bersukacita. Dalam Lukas pasal 15, Tuhan berbicara kepada kita dalam perumpamaan, "Siapakah di antara kamu yang memiliki seratus ekor domba dan kehilangan satu di antaranya, yang tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan di padang gurun, dan mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?" (ayat 4). Ketika domba itu ditemukan, malaikat-malaikat di sorga bersukacita karenanya (ayat 7). Inilah yang digambarkan dalam Kidung No. 493 "Para malaikat giranglah, kurniaNya tiada bandingan (bait 1) -- pujian malaikat bahkan membubung memenuhi sorga. Jika orang dosa tidak berharga, mengapa malaikat begitu bersukacita bila orang dosa itu beroleh selamat? Penulis kidung itu benar-benar tahu hati Allah, dan ia menulis syairnya dengan tepat.
Kita harus nampak, bahwa ini adalah perkara yang penuh sukacita, menggairahkan, dan amanat yang sangat mulia. Kita semua harus pergi untuk membawa orang dosa kepada keselamatan, sehingga mereka bisa menjadi korban persembahan di dalam Kristus untuk dipersembahkan kepada Allah.
MEMULIHKAN SETIAP ORANG MEMBERITAKAN INJIL, MENJADI IMAM INJIL
Kita harus sadar, bahwa kekristenan hari ini telah merosot, telah jatuh dari jalan yang ditetapkan Allah. Misalnya, sidang-sidang pemberitaan Injil dengan seorang pembicara dan yang lainnya mendengar, telah membunuh fungsi memberitakan Injil dalam semua orang saleh. Meskipun kaum saleh masih mau mengambil bagian dalam pekerjaan penginjilan, mereka tidak dapat memberitakan Injil, juga tidak memiliki kesempatan untuk memberitakan. Sebaliknya, mereka hanya dapat mengambil bagian dalam sedikit pelayanan orang Lewi, seperti memindahkan kursi, membersihkan kaca jendela, membersihkan debu karpet, dan mengundang orang untuk menghadiri perjamuan kasih. Akhirnya, tidak ada seorang pun yang bisa memberitakan Injil. Segalanya tergantung pada satu orang pembicara. Sisanya hanya mendengar. Ini jelas keliru.
Semakin sering hanya seorang yang berbicara, semakin sedikitlah orang saleh yang bisa berbicara. Setelah sepuluh tahun, setiap orang menjadi orang yang bisu. Jika seseorang menutup matanya selama lima tahun, dia akan menjadi orang buta. Setelah seorang anak dilahirkan, jika dia tidak bisa berbicara selama sepuluh tahun, orang tuanya akan menganggap dia anak yang bisu. Jika kita sudah memberitakan Injil di satu tempat selama sepuluh tahun dan telah menyelamatkan seratus atau dua ratus orang, tetapi tidak bisa menyempurnakan satu orang pun untuk menjadi imam Injil, berarti kita sudah membunuh fungsi organik kaum saleh.
Jalan yang ditetapkan Allah hari ini serasi dengan imamat universal Perjanjian Baru. Jika tidak, imamat universal tidak akan terwujud; kita tidak akan bisa menyaksikan setiap orang memberitakan Injil, dan ekonomi Perjanjian Baru Allah tidak akan tergenap. Kekristenan menyembah Allah yang sejati, tetapi telah membunuh para penyembah itu. Walaupun kekristenan itu melakukan hal yang benar, namun mereka melakukannya dengan cara yang keliru. Sebagaimana pemberitaan Injil disampaikan oleh satu orang sedangkan yang lainnya mendengar, dan juga banyak kegiatan dalam kekristenan dapat disimpulkan dengan frasa: "benar dalam tujuan, keliru dalam cara." Pada akhirnya, kekeliruan yang serius pun terjadi, semua fungsi organik kaum saleh terbunuh. Jadi, kita harus dengan sekuatnya menempuh jalan baru ini dan memulihkan setiap orang memberitakan Injil dan menjadi imam Injil.
PENYEMBAHAN DALAM PERJANJIAN BARU
Penyembahan dalam Perjanjian Lama Merupakan Perkara Tempat Fisik
Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, pada suatu hari Dia hendak dari Yerusalem ke Galilea; Yohanes 4:4 mengatakan, bahwa "Ia harus melewati Samaria". Saya sudah mempelajari peta dan menemukan bahwa dari sudut pandang mana saja, Tuhan tidak perlu melewati Samaria. Banyak jalan dari Yerusalem untuk sampai ke Galilea. Tetapi Tuhan berkata, bahwa Ia "harus". Alasannya adalah Ia memiliki beban untuk mengunjungi perempuan yang hina, amoral, tetapi dipilih oleh Allah, yang tinggal di Samaria. Dia sudah memiliki lima suami. Dalam potongan Alkitab itu kita nampak hikmat Tuhan. Dia datang mengunjungi perempuan itu dengan cara yang berbeda dari cara Dia mengunjungi Zakheus di Yerikho. Di Yerikho, Dia tinggal di rumah Zakheus dan menyelamatkannya. Tetapi di sini Tuhan Yesus tidak berbuat demikian. Sebaliknya, Dia datang pada tengah hari dan menunggu perempuan itu di pinggir sumur, tempat dia menimba air. Itulah tempat yang paling cocok. Dia dapat berbicara kepada perempuan itu pada hari yang cerah. Dari hal ini kita nampak hikmat Tuhan Yesus.
Kira-kira jam dua belas siang, perempuan Samaria itu datang untuk menimba air. Tuhan berkata kepadanya, "Berilah Aku minum" (Yohanes 4:7). Perempuan Samaria itu menjawab, "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku . . .?" (ayat 9). Setelah Tuhan menjawabnya, dia mengajukan pertanyaan yang lebih banyak. Melalui tanya jawab ini, perempuan itu mengetahui bahwa Tuhan Yesus lain dengan yang lain. Tuhan Yesus mempunyai air hidup. Dia pun mulai memohon kepada Tuhan, "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus lagi" (ayat 15). Jika kita yang menjawab perempuan itu, kita tentu akan berkata, "Akuilah dosa-dosamu dan kemudian kamu dapat meminum air hidup itu." Tetapi Tuhan Yesus tidak sebodoh kita. Dia menjawab dengan bijaksana. "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini" (ayat 16).
Tuhan ingin dia memanggil suaminya, kemudian barulah Dia memberinya air hidup. Perempuan itu sangat takut bila ditanya mengenai perkara ini. Dia langsung berkata, "Aku tidak mempunyai suami" (ayat 17). Ini adalah berbohong dengan mengatakan yang benar. Tuhan Yesus tidak menyangkal perkataannya. Dia hanya berkata, "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar" (ayat 17-18). Perempuan itu tidak mengakui dosa-dosanya. Tetapi Tuhan Yesus menunjukkan secara terinci semua dosa-dosanya. Perempuan itu sangat terkejut, namun dia juga sangat pandai. Dia segera mengalihkan pokok pembicaraan dari minum air hidup kepada penyembahan agamawi. Dia berkata, "Tuhan, nyata sekarang kepadaku, bahwa Engkau adalah seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah" (ayat 19-20). Dia sangat pandai. Dia mengalihkan dari lima suami kepada perkara penyembahan terhadap Allah, dari kedudukannya sebagai orang dosa kepada seorang agamawan. Ini juga menunjukkan, bahwa banyak penyembah Allah yang sangat bergairah juga adalah orang-orang dosa dan yang melakukan kejahatan di balik layar. Kemudian Tuhan Yesus membukakan hatinya dan berkata kepadanya, "Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini, dan bukan juga di Yerusalem" (ayat 21). Tuhan ingin menunjukkan kepadanya, bahwa jamannya sudah berubah. Perjanjian Lama sudah berlalu, dan Perjanjian Baru sudah datang.
Penyembahan dalam Perjanjian Baru Merupakan Perkara Roh Manusia
Tuhan Yesus melanjutkan perkataanNya, "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar (sejati) akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (realitas)" (ayat 23). Penyembahan dalam Perjanjian Lama tergantung pada tempat fisik. Tetapi penyembahan dalam Perjanjian Baru tidak tergantung pada apa saja yang bersifat fisik, juga tidak tergantung pada tempat apapun. Penyembahan dalam Perjanjian Baru tergantung pada roh manusia.
Jika kita menyembah Allah hanya berdasarkan tempat, masih ada kemungkinan berbuat dosa. Tetapi jika kita menyembah Allah berdasarkan roh kita, kita tidak dapat berbuat dosa. Karena bagian terbesar dari roh adalah hati nurani, dan hati nurani tidak akan membiarkan kita berdosa. Misalnya, seorang pencuri mungkin mencuri uang kemarin malam. Namun hari ini, hari Minggu, mungkin ia bisa menghadiri kebaktian gereja di pagi hari. Hal ini disebabkan konsepsinya yang mementingkan tempat tertentu. Dia menyembah Allah di dalam sebuah kapel. Tetapi jika dia berpaling ke rohnya untuk menyembah Allah, dia tidak akan mencuri uang lagi, karena hati nuraninya tidak akan mengijinkannya melakukan hal itu. Itulah sebabnya kita perlu beralih dari jalan lama ke jalan baru. Ini bukan hanya perkara cara, melainkan cerita sifat batini.
Dalam Perjanjian Lama, orang-orang menyembah Allah di satu tempat; asalkan tempat itu benar, orang boleh melakukan penyembahan. Tetapi dalam perjanjian baru, persoalannya bukanlah tempatnya, melainkan roh manusia. Roh adalah bagian yang sejati dan bagian yang paling inti dari seseorang. Organ ini harus benar. Pula, roh kita berada di dalam hati kita. Jika roh kita benar, hati kita pun akan benar. Hari ini, dalam jalan baru, pemberitaan Injil kita, sidang kita di rumah-rumah dan dalam kelompok-kelompok, dan bahkan pembicaraan kita dalam sidang wilayah, bukan hanya berubah dalam cara luaran, melainkan menurut sifat yang di dalam (batin), sehingga perlu ada suatu perubahan. Jika sidang-sidang kita dan pemberitaan Injil kita semua dilakukan dengan seorang pembicara dan yang lain mendengar, kita tidak sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan tidak semua orang saleh mampu menjadi imam Injil. Jika kita tidak mengubah jalan lama dan menempuh jalan baru, sidang dan pelayanan kita akan bersifat luaran saja. Semuanya tidak akan berada di dalam roh. Semuanya hanya soal metoda. Tidak akan ada realitas. Maka, segala hal dalam jalan baru bukanlah perkara tempat, bentuk, metoda, atau prosedur, melainkan perkara realitas di dalam roh.
Orang-orang dalam Perjanjian Lama Menyembah Allah dalam Bait Suci,
tetapi Orang-orang dalam Perjanjian Baru Menyembah Allah
di dalam Kristus, Manusia-Allah
Dalam Perjanjian Lama, manusia menyembah Allah dalam Bait Suci. Bila seseorang ingin menyembah Allah, ia harus pergi ke bait suci. Tetapi penyembahan dalam Perjanjian Baru bukanlah di dalam bait suci, melainkan di dalam Kristus, karena Allah ada di dalam Kristus.
Hari ini, walaupun Allah kita sama dengan Allah yang disembah oleh orang-orang Yahudi, namun jamannya sudah berbeda, demikian pula bentuknya. Allah yang disembah orang-orang Yahudi hanyalah Allah, bukan manusia; Dia hanya memiliki keilahian, tidak memiliki keinsanian. Tetapi dalam Perjanjian Baru, Allah yang kita (orang Kristen) sembah adalah Allah, juga manusia. Dia adalah Manusia-Allah. Allah yang demikian yang kita sembah pada hari ini. Semua orang yang tidak menyembah Manusia-Allah ini, tidak menyembah Allah. Hari ini, Allah adalah Allah yang berinkarnasi, Allah yang berbaur dengan manusia. Ketika kita menyembahNya, kita menikmati bukan hanya Allah, juga menikmati Manusia. Sungguh ajaib!
Selama tiga setengah tahun, ketika Tuhan Yesus menggenapkan ministriNya di bumi, adakalanya Dia berada di Galilea, yang jauh sekali dari Yerusalem, adakalanya Dia pergi ke Yerusalem dan bahkan dekat dengan bait suci. Dalam bait suci, banyak imam, sekelompok demi sekelompok melayani Allah berdasarkan liturgi dan peraturan Perjanjian Lama. Tetapi Yesus tidak ada di sana. Mungkin Dia ada di rumah kecil di samping bait suci. Di sana kita nampak sekelompok orang Galilea, sebagian duduk, sebagian berdiri, bahkan ada beberapa pemungut cukai dan pelacur. Semuanya adalah orang Galilea yang hina. Pada saat itu, Allah disembah di dalam bait suci atau Yesus yang disembah? Kita akan pergi ke bait suci atau ke rumah kecil untuk menyembah Allah?
Kita dapat nampak dengan jelas, pada saat itu Allah berada di dalam rumah kecil itu. Sebab Yesus ada di sana, dan Allah berada di dalam Yesus Kristus. Titik yang paling sulit ketika kita memberitakan Injil kepada orang Yahudi adalah mereka masih mengira Allah ada di dalam bait suci. Mereka tidak percaya, bahwa Allah ada di dalam Yesus Kristus. Kita harus memberitahu orang-orang Yahudi: Allah sudah meninggalkan bait suci selama dua ribu tahun. Hari ini Anda tidak dapat menemukan Allah di luar diri Kristus. Anda harus pergi kepada Kristus. Bila Anda ada di dalam Kristus, Anda akan menemukan Allah.
Dengan prinsip yang sama, hari ini, ketika kita menyembah Allah, kita tidak sepatutnya tertarik kepada bangunan katedral yang indah. Kita mencari Kristus dan kita menyembah Kristus. Kita pergi ke tempat Kristus berada. Inilah penyembahan dalam Perjanjian Baru. Semula, kita bersidang dalam balai sidang yang besar dengan piano dan khotbah yang agung. Kemudian kita dipimpin untuk mengadakan sidang rumahan dan sidang kelompok kecil. Kini empat atau lima keluarga bersidang bersama dari rumah ke rumah. Beberapa rumah kelihatannya baik. Tetapi rumah lain tampak tidak baik; kursinya reyot, bangkunya miring, dapur dan ruang makan menjadi satu. Akibatnya, beberapa saudara dan saudari merasa sidang semacam itu tidak bisa diteruskan. Mereka tidak suka menghadiri sidang semacam itu.
Namun kita harus nampak, bahwa untuk menyembah Allah dalam Perjanjian Baru, kita harus tahu di mana Kristus berada. Jangan meremehkan tempat yang nampaknya jelek, karena mungkin Yesus berdiam di sana. Hari ini, namaNya belum disebut sebagai Kristus yang dimuliakan. NamaNya hari ini adalah Yesus dari Nazaret. Jadi, kita semua harus nampak, mengapa kita harus mengubah jalan yang lama ini. Jalan yang lama cocok dengan konsepsi manusia alamiah kita. Tetapi dalam Alkitab, jalan yang ditetapkan Allah cocok dengan ekonomiNya. Karena itu, kita harus kembali ke Perjanjian Baru dan menyembah serta melayani menurut Perjanjian Baru. Dengan demikian barulah kita bisa memuaskan keinginan Allah.
CARA MENYEMBAH DALAM PERJANJIAN BARU
Tidak Ada Bentuk Penyembahan, Tidak Ada Acara Atau Urutan Lahiriah Tertentu
Penyembahan dalam Perjanjian Baru tidak memiliki bentuk atau model. Kalau ada bentuk, penyembahan itu akan dengan mudah menjadi pelayanan kebaktian. Namun sampai hari ini, setelah kita membimbing orang beroleh selamat, mereka masih memiliki konsepsi alamiah untuk menghadiri kebaktian. Pada hari Minggu, mereka akan pergi ke kapel yang terdekat agar mereka dapat menghadiri kebaktian. Permulaan acara biasanya menyanyikan kidung, kemudian disusul pendeta mengucapkan doanya, lalu pendeta itu menyampaikan khotbahnya dan menguraikan Alkitab. Bila kebaktian itu hampir selesai, dinyanyikan kidung lain yang disertai doa dan persembahan. Kita harus nampak, bahwa hal menyembah Allah itu tidak salah. Tetapi jika kita menempuh jalan di atas, kita mutlak salah. Serangkaian acara dan urutan yang telah ditentukan akan sepenuhnya membunuh roh di dalam kaum saleh. Kita tidak boleh membawa jalan penyembahan ini ke dalam sidang rumahan, sidang kelompok, atau sidang Minggu pagi. Akibatnya sungguh mengerikan. Kita harus mutlak mengubah konsep kita, sehingga kita dapat memiliki penyembahan Perjanjian Baru.
Hanya Melayani dengan Roh Allah
Cara menyembah dalam Perjanjian Baru adalah kita semua harus menggunakan roh kita. Sebelum kita menghadiri sidang, kita sudah merupakan penyembah-penyembah Allah. Setiap pagi kita mengalami kebangunan, dan dalam penghidupan kita sehari-hari, kita secara konstan diperbarui, menang dan senantiasa menjamah serta bersekutu dengan Tuhan. Di samping itu, hidup kita dipenuhi dengan kidung. Kidung nomor 225, 493 atau kidung yang lebih sederhana, seperti kidung nomor 481 dan lainnya adalah kidung-kidung yang saya sukai. Semuanya adalah lagu-lagu yang sangat baik. Kita dapat belajar menyanyikannya dalam hidup kita sehari-hari.
Karena itu, jika hari ini kita sudah mengadakan kesepakatan dengan saudara saudari untuk mengadakan sidang rumahan pada jam 19.30, maka kita harus sudah siap pada jam 18.30. Kita bisa mulai menyanyi. Kita tidak memulai sidang di tempat sidang. Sebaliknya, kita mulai sidang sebelum kita meninggalkan rumah kita. Mungkin kita berjalan sambil bernyanyi, "Sejak Kristus di hatiku" (Kidung nomor 136). Kita tidak perlu menunggu sampai di depan pintu, baru menyanyi. Kita dapat menyanyikan satu bait setiap kita naik satu lantai. Ketika kita sampai di rumah orang saleh dan sambil membunyikan bel, kita tetap boleh bernyanyi, "Sejak Kristus di hatiku". Orang yang di dalam rumah yang mendengar nyanyian itu bisa menanggapinya dengan bernyanyi juga, "Sejak Kristus di hatiku, riang ria bergolak melanda jiwaku, sejak Kristus di hatiku." Anak-anak dalam rumah itu juga boleh menirukan lagu itu. Suasananya akan menjadi hidup!
Kita harus tahu, bahwa ketika kita bersidang, kita harus menggunakan roh kita. Allah itu Roh, dan tidak ada seorang pun dapat menjamahNya tanpa menggunakan rohnya. Dalam surat Filipi 3:3, Paulus berkata, bahwa penyembah-penyembah benar adalah orang-orang yang berada di dalam Kristus, yang melayani dengan Roh Allah. Isi dari sidang-sidang kita seharusnya ada nyanyian ada doa, ada berbicara dan berdasarkan Roh itu. "Berdasarkan Roh itu" berarti sejak mulai pagi hari, aku sudah mendapatkan penyegaran/kebangunan, hidup setiap hari diperbarui, setiap hari menang, memelihara rohku tetap membubung, selalu bersekutu dengan Tuhan, bahkan sebelum sidang dimulai, bagiku sidang itu sudah dimulai di rumahku. Karena aku begitu hidup, maka aku mungkin tidak perlu berkata banyak ketika datang ke sidang rumahan. Asal aku menyanyikan beberapa buah kidung, roh orang lain akan dihidupkan. Inilah melayani Allah di dalam Perjanjian Baru dengan Roh Allah.
Sidang Kelompok Terutama untuk Menyempurnakan Kaum Saleh
Dalam sidang kelompok, jika kita masing-masing baru datang pada jam yang ditentukan, dan setelah datang, kita saling memandang dan menunggu satu sama lain, mungkin memilih sebuah kidung sepuluh menit kemudian, dan setelah itu seorang mungkin berkata, "Gereja telah memutuskan, bahwa kita harus membaca "Pelajaran Kebenaran". Mari kita baca bergiliran." Setelah membaca, bersekutu, berdoa, sidang itu pun selesai. Itulah yang dianggap sidang penyembahan oleh kekristenan. Ada acaranya, ada urutan yang teratur, tetapi tidak ada Roh itu, dan tidak ada suplai. Sidang itu mati, dan gereja dirugikan. Kita tidak bisa menempuh jalan demikian.
Bila kita menghadiri sidang dalam jalan baru, pertama-tama kita harus menjadi orang yang penuh dengan Roh, penuh nyanyian. Sambil berjalan menuju sidang kelompok, kita sambil bernyanyi, "Sejak Kristus di hatiku". Saudara saudari yang mendengar kita, menanggapinya dengan nyanyian pula, "Betapa perubahan dalam hidupku . . ." Mungkin yang lain akan bernyanyi, "Hayat dan alangkah teduh! Di batinku Kristus hidup" (Kidung nomor 222). Bernyanyi semacam itu, sambil diulang-ulang, ada berbagai nyanyian, semua itu akan menghidupkan roh kita. Tidak perlu berkata terlalu banyak. Kita akan menjamah roh satu sama lain.
Dalam sidang, seharusnya ada nyanyian, ada doa. Setelah menyanyi, seseorang bisa berdoa. Tidak perlu harus orang tertentu yang berdoa. Kita semua dapat berkata, "Tuhan, kami memuji dan bersyukur kepadaMu. Sungguh menggembirakan, Engkau bersama kami." Belum tentu harus menutup mata, atau menyuruh orang-orang menundukkan kepala. Ketika Tuhan Yesus berdoa, Ia menengadah ke langit (Yohanes 17:1). Bentuk-bentuk yang ditentukan itu tidak terdapat dalam Alkitab; itu hanya peraturan-peraturan usang dari kebaktian. Yang perlu kita lakukan adalah mengikuti Roh itu.
Sesudah itu, orang lain mungkin berkata, "Saudara saudari, sungguh ajaib! Pagi ini saya membaca Roma 12:1. Dalam ayat itu Paulus meminta kita demi rahmat Allah untuk mempersembahkan tubuh kita. Dulu ketika saya membaca ayat itu, rasanya tidak semanis seperti pagi ini. Itulah sebabnya saya tidak bisa mempersembahkan diri. Tetapi pagi ini, saya mempersembahkan diri dengan tuntas kepada Tuhan." Ketika saudara saudari lainnya mendengar perkataan ini, mereka segera memuji Tuhan karenanya. Pembicaraan tidak terhenti pada pembicara tadi saja. Dua atau tiga orang mengikuti yang pertama, dan sidang itu penuh dengan pujian dan ucapan syukur!
Lalu, seorang saudara yang baru beroleh selamat mungkin bertanya, "Bagaimana kita, orang yang beroleh selamat, mempersembahkan tubuh kita?" Bila ada pertanyaan, kita bisa membiarkan saudara atau saudari bergiliran berbicara. Kita tidak seharusnya menyuruh satu orang saja untuk menjawabnya. Mungkin seorang saudari muda mulai menjawab, "Saudara, ketahuilah, dulu kita semua adalah orang-orang yang sibuk untuk diri kita sendiri. Waktu kita, dan tubuh kita sepenuhnya terjajah. Kini, karena kita sudah beroleh selamat dan mengasihi Tuhan, Paulus menganjuri kita untuk mempersembahkan tubuh kita. Menurut pengalamanku, mempersembahkan tubuh kita berarti mempersembahkan waktu kita, karena tubuh kita terbatas oleh waktu." Dia hanya mengucapkan beberapa kalimat; hanya berlangsung kurang dari satu menit. Setiap orang mendengarnya dan terjamah olehnya.
Mungkin di antara hadirin dalam sidang itu, sayalah yang lebih lama di dalam Tuhan dan memiliki lebih banyak pengalaman. Namun, saya tidak akan menggunakan kesenioran saya dan berbicara panjang lebar. Yang saya bicarakan adalah apa yang dikatakan oleh saudari yang pertama tersebut di atas. Mungkin saya berkata, "Saudari itu sangat tepat. Mempersembahkan tubuh kita adalah mempersembahkan waktu kita. Kalau kita tidak mempersembahkan waktu kita, tubuh kita tidak dapat keluar." Itu saja yang saya katakan. Saya tidak menceritakan sebuah kisah, juga tidak menyampaikan khotbah yang panjang. Setiap orang mengucapkan beberapa kalimat yang sederhana. Seluruh hadirin berbicara demikian masing-masing hanya memakai waktu beberapa menit.
Mungkin seorang saudari lain bertanya, "Lalu bagaimana saya mempersembahkan tubuh saya? Apakah itu berarti saya tidak bekerja dan tidak mengajar, melainkan hanya diam di rumah dan mempersembahkan tubuh saya kepada Tuhan?" Ini adalah pertanyaan yang sangat praktis. Namun, saya tetap tidak sepatutnya memulai berbicara. Saya membiarkan orang yang baru beroleh selamat untuk berbicara lebih banyak. Mungkin setelah beberapa saat, seseorang yang baru setengah tahun beroleh selamat berkata, "Ketika saya membaca Roma 12, saya tidak hanya nampak soal mempersembahkan tubuh, saya juga nampak pengubahan dan pembaruan pikiran. Karena itu, pertama-tama ada mempersembahkan tubuh, kemudian ada pembaruan dan pengubahan pikiran." Orang lain mungkin tidak begitu memahami hal tersebut. Dia mungkin bertanya, "Lalu bagaimana pikiran itu bisa diperbarui? Orang ketiga mungkin berkata, "Menurut pengalamanku, mengalami pengubahan dalam pikiran, kita perlu membaca firman Tuhan. Ketika kita menerima firman Tuhan ke dalam kita, firman itu akan mengubah konsep kita. Itulah pengubahan pikiran kita." Ini adalah jawaban yang sangat baik.
Kemudian, saudara saudari yang lain mungkin bertanya, "Setelah tubuh dipersembahkan dan pikiran diubah, lalu apa yang terjadi?" Saya ingat, bahwa saya sudah membaca kutipan ini sebelumnya. Maka saya menjawab demikian, "Dalam Roma 12, mula-mula Anda mempersembahkan tubuh, lalu Anda mengalami pengubahan pikiran. Terakhir, dalam ayat 11, Anda menyala-nyala dalam roh untuk melayani Tuhan." Ketika kita berbicara demikian, setiap orang akan mengerti dan akan mendapat terang.
Sidang kelompok semacam ini, dengan setiap orang berbicara, setiap orang bertanya, setiap orang menjawab, setiap orang belajar, dan setiap orang mengajar, benar-benar hidup, segar, kaya dan sederhana. Akibatnya, jumlah orang yang hadir akan bertambah. Alasannya adalah: tidak ada formalitas dalam penyembahan dan tidak ada acara yang sudah dipersiapkan, atau urutan tertentu. Setiap orang bergerak menurut Roh itu, berjalan menurut Roh itu, dan melayani menurut Roh Allah, maka semua saudara saudari yang menghadiri sidang semacam ini akan disempurnakan. Selama lima puluh dua minggu dalam setahun, kita harus menyisihkan satu malam setiap minggu untuk sidang semacam ini. Setelah orang baru bersidang sedemikian selama setahun, dia akan disempurnakan. Dia akan bertumbuh dalam hayat dan akan mampu melayani dengan Roh Allah.
Berbicara Bagi Tuhan Terutama untuk Membangun Gereja
Kita tidak hanya membawa orang baru ke dalam sidang kelompok, kita juga membawa mereka ke sidang gereja pada hari Tuhan. Setelah memecahkan roti, mereka mungkin melihat begitu banyak saudara dan saudari berbicara bagi Tuhan dan membicarakan Tuhan. Mungkin ada yang berbicara selama tiga menit, dan ada juga yang dua menit. Setelah menyaksikan hal ini beberapa minggu, orang baru itu akan tertarik kepada hal itu dan mungkin juga damba berbicara. Maka kita membantu mereka, pertama-tama berbicara dalam sidang kelompok, kemudian berbicara dalam sidang hari Minggu pagi. Akhirnya, setiap orang dalam gereja akan dapat berbicara. Tua, muda, akan bisa berbicara bagi Tuhan dan kekayaan Tuhan akan ternyata. Semua orang akan tersuplai, terbina, terawat, dan gereja sebagai Tubuh Kristus akan terbangun melalui berbicaranya kaum saleh. Inilah yang Tuhan kehendaki hari ini.
Maka, cara sidang kita harus diubah. Cara kita yang lama tidak mendatangkan manfaat bagi ekonomi Tuhan dan tidak sesuai dengan sifat ekonomi Allah. Kini kita sudah mendapatkan jalan yang ditetapkan Allah menurut Alkitab. Setiap butir dari jalan yang ditetapkanNya sesuai dengan sifat ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan memenuhi kebutuhan ekonomi Allah. Terakhir, ekonomi Allah akan terwujud di antara kita. Saya harap kita mau mempraktikkan hal ini bersama-sama. Semoga Tuhan memberkati kalian.