JALAN BARU DAN IMAMAT UNIVERSAL PERJANJIAN BARU
Pembacaan Alkitab:
Matius 3:1-2,4; Roma 15:16; 12:1; Kolose 1:28;
Wahyu 5:9-10a; I Petrus 2:5; Matius 28:19; Ibrani 10:24-25; I Korintus 14:26,31
GARIS BESAR
I. Imam Perjanjian Lama berpaling menjadi imam Perjanjian Baru -- Matius 3:1-2,4:
1.
Tidak lagi mempersembahkan lembu dan kambing domba.
2.
Mempersembahkan orang dosa di dalam Kristus -- Roma 15:16.
3.
Agar orang-orang kekasih yang beroleh selamat yang kekasih bisa mempersembahkan diri mereka dalam Kristus -- Roma 12:1.
4.
Agar kaum saleh bisa dipersembahkan dalam keadaan dewasa di dalam Kristus -- Kolose 1:28.
II. Imamat universal Perjanjian Baru -- Wahyu 5:9-10a; I Petrus 2:5:
1.
Setiap orang memberitakan Injil -- Matius 28:19.
2.
Setiap orang menghadiri sidang rumahan dan sidang kelompok -- Ibrani 10:24-25.
3.
Setiap orang berbicara bagi Tuhan -- I KOrintus 14:26,31.
Kita telah nampak, bahwa jalan yang ditetapkan Allah selalu serasi dengan sifat dan hakiki dari perkara-perkara yang ingin Dia lakukan dan rampungkan. Dalam Perjanjian Baru, Allah memiliki kehendak yang indah yaitu mendapatkan sekelompok orang dosa, menyelamatkan mereka, memisahkan, menguduskan dan mengubah mereka, sampai mereka menjadi satu roh dengan Dia dan menjadi orang-orang yang bersatu denganNya. Orang-orang itu tidak bisa dipisahkan dari Allah. Mereka tidak hanya bersatu dengan Allah, bahkan berbaur dengan Allah. Mereka adalah sekelompok orang milik Allah. Dalam hidup mereka sehari-hari dan melalui ekspresi mereka, orang lain dari diri mereka, akan nampak Allah. Mereka adalah ekspresi Allah, adalah Allah yang ternyata dalam tubuh daging.
Tujuan Allah melakukan semua itu adalah untuk mendapatkan sekelompok orang yang dapat memenangkan orang lain bagi Allah. Mereka tidak hanya dapat memenangkan orang lain bagi Allah, mereka pun dapat mempersembahkan orang kepada Allah sebagai korban, yaitu sebagai makanan bagi Allah, agar Dia dipuaskan.
IMAM PERJANJIAN LAMA BERPALING MENJADI IMAM PERJANJIAN BARU
Dalam Perjanjian Lama, tugas dan tanggung jawab seorang imam adalah membawa lembu dan kambing domba ke mezbah dan mempersembahkannya pagi dan petang sebagai korban bakaran bagi Allah. Korban persembahan itu menjadi makanan bagi Allah. Mereka adalah korban yang hidup bagi Allah, yang memuaskan hati Allah. Semuanya itu hanya merupakan lambang.
Dalam Perjanjian Baru, semua lambang telah digenapi. Saat ini, yang dipersembahkan oleh imam-imam Allah sebagai korban persembahan adalah orang-orang dosa. Kita dapat melihat perubahan ini dalam Matius 3. Ayat 1 mengatakan, "Pada waktu itu datanglah Yohanes Pembaptis, memberitakan Injil di padang gurun Yudea." Ketika Yohanes Pembaptis datang untuk melaksanakan ministrinya, dia tidak melakukannya dalam bait suci, atau di kota suci, melainkan di padang gurun. Di sana tidak ada warna agamawi atau latar belakang kebudayaan. Di samping itu, ia memakai pakaian yang terbuat dari "bulu unta dan ikat pinggang kulit; dan makanannya adalah belalang dan madu hutan" (ayat 4). Imamat 11:4 memberitahu kita, bahwa unta adalah binatang yang najis, yang tidak boleh dimakan. Tetapi Yohanes malah memakai pakaian dari bulu unta. Bukan hanya dirinya yang "liar", makanannya juga demikian. Semua ini menunjukkan bahwa dia melaksanakan ministrinya secara "liar". Dia tidak diduduki oleh peraturan-peraturan yang usang manapun. Yang dia lakukan bahkan lebih liar. Dia memberitakan, "Bertobatlah, karena Kerajaan Sorga sudah dekat" (Matius 3:2). Jika seseorang mau bertobat, dia akan membaptis orang itu ke dalam air. Baptisan waktu itu tidak seperti praktik hari ini yang menggunakan kolam baptisan yang baik dan kamar ganti pakaian. Yohanes menyerukan pertobatan, dan satu kelompok demi satu kelompok datang kepadanya sambil mengaku dosanya, kemudian dibaptis olehnya di sungai Yordan (ayat 5-6). Yohanes sama sekali tidak melaksanakan ministrinya menurut cara ibadah Perjanjian Lama. Yang dia lakukan mutlak bertentangan dengan agama dan kebudayaan. Ini menunjukkan, bahwa dia sepenuhnya menolak pengaturan Allah dalam Perjanjian Lama, agar dia dapat mendatangkan ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Tetapi kita tidak seharusnya melupakan latar belakang keluarga Yohanes. Dia tidak berasal dari keluarga yang "liar". Ayahnya, Zakharia, bukan hanya seorang imam (Lukas 1:5), melainkan seseorang yang memimpin dalam susunan imamat. Maka, Yohanes terlahir dalam keluarga imam. Di samping itu, kelahirannya juga berasal dari Allah (Lukas 1:13). Dia diberikan oleh Allah kepada orang tuanya. Selain itu, dia adalah anak sulung yang seharusnya mewarisi karir ayahnya untuk melayani dalam bait suci. Namun, dia tidak mengenakan pakaian imam, melainkan mengenakan pakaian dari bulu unta. Dia tidak makan makanan imam, melainkan dia makan belalang dan madu hutan. Dia juga tidak tinggal di tempat kudus, membakar ukupan dan membersihkan pelita, melainkan dia pergi ke padang gurun, membaptiskan orang ke dalam air. Itu adalah gerakan dan metoda yang liar. Itu menunjukkan bahwa jalan menyembah Allah yang usang, sudah berlalu, dan jalan yang baru sudah diperkenalkan. Yohanes benar-benar orang yang melayani sebagai imam yang sejati.
Tidak Lagi Mempersembahkan Lembu dan Kambing Domba, melainkan Mempersembahkan Orang Dosa dalam Kristus
Yohanes terlahir sebagai imam, tetapi itu hanya lambang dan bayangan; itu bukan realitasnya. Di dalam dirinya, imamat Perjanjian Lama sudah berganti/berpaling. Imamat itu berpaling dari lambang ke realitas, dari bayangan kepada wujudnya, dan dari mempersembahkan lembu dan kambing domba kepada mempersembahkan orang dosa sebagai korban. Itulah korban persembahan yang diinginkan Allah sejak dunia belum dijadikan dalam kekekalan yang lampau. Korban persembahan itu adalah orang-orang dosa secara individual (perorangan). Efesus 1:4 mengatakan, "Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan." Kita, orang-orang yang beroleh selamat, dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan. Dalam kekekalan yang lampau, Allah sudah memilih kita. Tidak peduli di negara mana atau di pojok dunia yang mana kita berada, Dia telah memilih kita. Kita tidak tahu kapan kita akan dilahirkan atau di mana kita akan dilahirkan. Allah sudah menakdirkan kita sebelum dunia dijadikan, agar kita dipilih, beroleh selamat pada waktunya dan menjadi korban persembahan bagi Allah di dalam Kristus.
Walaupun kita telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi waktu keselamatan pada masa itu belumlah genap (Galatia 4:4). Setelah manusia yang diciptakan Allah itu jatuh, Allah datang dan mengetuk pintu hati Adam dalam Kejadian 3. Dia memanggil dan berkata, "Di manakah engkau?" (ayat 9) dan memberitakan Injil kepadanya dengan mengatakan, bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular (ayat 15). Perkataan ini adalah Injil dan merupakan sebuah janji. Dua ribu tahun kemudian, pada masa Abraham, Allah datang untuk berjanji kepada Abraham, dengan mengatakan, "Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kejadian 12:3). Keturunan Abraham adalah Yesus Kristus. Setelah itu, dua ribu tahun lagi berlalu. Empat ribu tahun setelah manusia diciptakan, Yesus Kristus lahir dari seorang anak dara dan menjadi keturunan perempuan. Maria, orang yang melahirkan Yesus, adalah keturunan Abraham. Akibatnya, Yesus, yang dilahirkan olehnya, juga keturunan Abraham.
Halaman pertama dari Perjanjian Baru mencatat, "Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham" (Matius 1:1). Selanjutnya dikatakan, "Abraham melahirkan Ishak, dan Ishak melahirkan Yakub dan Yakub melahirkan Yusuf, suami Maria, yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus" (ayat 15b-16). Dalam silsilah Injil Matius, kita nampak penggenapan janji yang diberikan kepada Adam dan Hawa. Di samping itu, janji Allah kepada Abraham juga digenapi. Tuhan Yesus meremukkan kepala ular dan Dia adalah Orang yang dalam namaNya semua keturunan di bumi diberkati. Ketika Kristus datang, Dia menggenapi janji dalam Perjanjian Lama. Tetapi sebelum Kristus datang, Allah telah mendirikan imamat dalam Perjanjian Lama. Yang ada saat itu hanyalah bayangan. Allah menuntut imam-imam dalam Perjanjian Lama untuk mempersembahkan lembu dan kambing domba. Lembu dan kambing domba adalah lambang Kristus. Dalam Perjanjian Baru, imam-imam tidak lagi mempersembahkan lembu dan kambing domba. Sebaliknya, mereka mempersembahkan orang dosa yang dipilih Allah dan beroleh selamat dalam Kristus.
Kini kita mengerti mengapa Yohanes, yang terlahir sebagai imam, tidak mau mempersembahkan lembu dan kambing domba ketika dia keluar untuk menggenapkan ministrinya. Saat itu dia mempersembahkan orang dosa. Dia memberitakan di padang gurun, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat" (Matius 3:2). Jika ada orang mau bertobat dan mengaku dosanya, dia akan membaptiskan mereka, mempersembahkan mereka satu per satu kepada Allah. Yohanes adalah imam pertama dari Perjanjian Baru dan imam terakhir dari Perjanjian Lama. Dalam pandangan Allah, setelah Yohanes Pembaptis, tidak ada lagi imam dalam Perjanjian Lama. Sistem pelayanan (ibadah) dalam Perjanjian Lama telah berhenti sama sekali. Dengan kata lain, jaman telah berubah. Jalan yang lama berubah menjadi yang baru, dan imam Perjanjian Lama berpaling menjadi imam Perjanjian Baru.
GEREJA MEROSOT DAN MENINGGALKAN JALAN YANG DITETAPKAN ALLAH
Kita telah nampak, bahwa jalan baru adalah jalan yang ditetapkan Allah. Jalan ini sesuai dengan apa yang Allah hendak rampungkan di dalam diriNya. Namun, walaupun sekarang adalah jaman Perjanjian Baru yang juga adalah jaman gereja, jalan yang lama itu masih ada. Sebabnya ialah gereja telah merosot. Tidak lama setelah gereja didirikan oleh para rasul, bahkan sebelum rasul-rasul itu meninggal, sudah ada kaum imani yang meninggalkan jalan yang diperkenalkan oleh para rasul. Gereja menjadi merosot, dan sifatnya berubah. Akibatnya, pelayanan, penyembahan dan sidang gereja semuanya berubah. Segalanya disesuaikan dengan kecenderungan alamiah manusia, akhirnya muncullah kekristenan yang telah jatuh.
Kemerosotan kekristenan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui kemunduran yang perlahan-lahan. Sejak abad kedua, abad ketiga dan terus sampai abad keenam, kemerosotan itu semakin buruk. Pada tahun 570 M, uskup agung Roma diakui oleh gereja-gereja di Barat dan Timur sebagai paus, dan gereja Roma Katholik didirikan dengan resmi. Setelah itu gereja Katholik menutup Alkitab dan melarang orang imani biasa membacanya. Hanya paus dan kaum paderi yang diijinkan membacanya. Alkitab terkunci, dan kurun waktu ini dikenal dalam sejarah Barat sebagai Jaman Kegelapan.
Menjelang abad keenam belas, Martin Luther bangkit untuk memulai Reformasi, dan Alkitab yang terkunci itu pun terbuka. Ini adalah jasa besar yang dilakukan oleh Luther. Berdasarkan Alkitab, dia juga memulihkan kebenaran dibenarkan oleh iman. Namun, cara melayani dalam gereja dan cara memberitakan Injil tidak berubah.
Dari Katholikisme, berkembanglah Protestanisme. Pada mulanya Protestanisme terdiri dari semua agama negara. Pada saat itu negara-negara Eropa Utara mendirikan gereja nasionalnya masing-masing. Di Inggris, ada gereja Inggris. Di Denmark, ada gereja nasional Denmark. Kemudian, gereja-gereja swasta dan gereja independen (bebas) seperti Baptis dan Methodis, berkembang dari gereja-gereja negara. Semuanya itu adalah gereja-gereja swasta. Gereja-gereja swasta itu tidak ada hubungannya dengan negara yang manapun. Pada saat itu perlahan-lahan terjadilah pemulihan gereja, tetapi pemulihan itu tidak begitu tuntas. Masih banyak perkara dalam Protestanisme yang merupakan warisan dari Katholikisme.
Pada abad kedelapan belas, saudara Zinzendorf dibangkitkan oleh Tuhan untuk memimpin orang lain kepada pemulihan hidup gereja. Pada abad kesembilan belas, terjadi pemulihan lebih lanjut ketika kaum Saudara dibangkitkan. Seabad kemudian, kira-kira tahun 1920, Tuhan membangkitkan saudara Watchman Nee di Timur Jauh di Fukien, Cina. Pada saat itu saya berada di Cina Utara. Walaupun kami terpisah jauh, Tuhan mendapatkan kami berdua. Kami mengasihi Tuhan dan kami menyadari keperluan yang sesungguhnya untuk terlepas dari racun yang ditinggalkan oleh kekristenan yang telah merosot. Enam puluh tahun yang lalu, kami pikir, kami sudah cukup tuntas terlepas dari hal-hal itu. Tetapi kemudian Tuhan menerangi kami lebih banyak dan menunjukkan kepada kami, bahwa unsur-unsur dari kekristenan yang telah merosot belum sepenuhnya dibersihkan dari antara kami. Nampaknya kami mewarisi unsur-unsur yang telah jatuh itu. Walaupun kami berusaha sebisanya untuk menjadi steril, benih penyakit itu tidak pernah meninggalkan kami.
Sebagai contoh, kita bisa mengambil cara kita bersidang. Setiap kali kita menyinggung hal bersidang, dalam diri kita segera menaruh harapan, yang hadir akan banyak. Sidang yang dihadiri oleh lima ratus orang, lebih baik daripada sidang yang dihadiri oleh seratus orang; sidang yang dihadiri oleh delapan ratus orang, lebih baik daripada sidang yang dihadiri oleh lima ratus orang. Tentu saja, sidang yang dihadiri oleh seribu orang, lebih baik daripada yang dihadiri oleh delapan ratus orang. Saya yakin, pagi ini Anda semua merasa senang, karena lantai atas dan lantai bawah penuh dengan orang. Bahkan ada orang yang mengikuti sidang melalui pesawat televisi. Anda semua mendengarkan pembicaraan saya. Anda tidak bisa mengatakan bahwa sidang semacam ini tidak ada. Perjanjian Baru mencatat, ketika Paulus pergi ke Troas, dia tinggal di sana selama tujuh hari. Karena keesokan harinya dia akan meninggalkan tempat itu, dia berbicara kepada kaum imani di sana sampai tengah malam. Satu orang muda bernama Eutikhus, jatuh dari jendela lantai tiga. Ketika dia diangkat, dia sudah mati. Paulus turun dan merebahkan dirinya ke atas tubuhnya. Dia memberitahu semua orang bahwa nyawa anak muda itu masih ada. Kemudian Paulus naik ke atas lagi dan berbicara dengan jemaat itu cukup lama sampai fajar, lalu pergi (Kisah Para Rasul 20:6-11). Jadi, sidang semacam itu juga ada.
Namun, Alkitab mewahyukan kepada kita, bahwa sidang yang biasa diadakan oleh kaum imani seharusnya dilakukan dari rumah ke rumah (Kisah Para Rasul 2:46). Setelah hari Pentakosta, ketika tiga ribu orang beroleh selamat, Petrus dan Yohanes hanya kadang-kadang pergi ke bait suci untuk berbicara kepada orang banyak di sana. Kebanyakan mereka berkumpul (bersidang) dari rumah ke rumah. Dalam perkumpulan seperti itu, bukan cuma satu orang yang berbicara, dan yang lain mendengar, tetapi banyak orang berbicara, dan banyak orang mendengar. Dalam sidang itu ada persekutuan, doa, pemecahan roti, pengajaran dan pemberitaan Injil. Semua itu dilakukan dalam sidang-sidang di rumah-rumah kaum imani. Inilah jalan yang semula ditetapkan oleh Allah bagi gereja untuk bersidang.
Karena kemerosotan gereja, sidang semacam itu telah hilang. Yang dilihat orang secara eksklusif dalam kekristenan hari ini adalah perkumpulan yang besar dengan satu pembicara dan lainnya mendengar. Mereka semua telah meninggalkan jalan yang ditetapkan Allah dan jatuh ke dalam tradisi manusia. Jalan tradisional ini cocok dengan sifat alamiah manusia dan sesuai dengan roh jaman ini. Pada tahun 1948, saudara Watchman Nee mengatakan, bahwa perkumpulan semacam itu sama seperti bani Israel mengikuti adat istiadat dan kebiasaan bangsa-bangsa lain (II Raja-raja 17:8). Itu tidak sesuai dengan Alkitab. Tidaklah mudah melihat hal ini dari permukaan. Ada pujian, ada khotbah, ada pemberitaan Injil, dan manusia beroleh selamat. Nampaknya tidak ada yang salah. Namun, di balik itu tersembunyi sesuatu yang bertentangan dengan imamat universal yang ditetapkan oleh Allah.
IMAMAT UNIVERSAL PERJANJIAN BARU
Setiap Orang Memberitakan Injil
Imamat yang ditetapkan Allah adalah imamat yang mencakup semua orang yang beroleh selamat sebagai imam. Selain itu, korban persembahan yang pertama dalam Perjanjian Baru adalah mempersembahkan orang dosa yang beroleh selamat kepada Allah. Inilah fungsi pertama dari imam Perjanjian Baru.
Sebab itu, setelah jaman Perjanjian Baru datang, Allah mewahyukan kepada imam terakhir dari Perjanjian Lama, yaitu Yohanes Pembaptis, agama dia tidak lagi mempersembahkan korban berupa lembu dan kambing domba, melainkan mempersembahkan orang dosa di dalam Kristus. Sesudah itu Tuhan Yesus datang. Dia juga seorang imam yang sejati, yang terus-menerus membawa orang dosa beroleh selamat. Kemudian Tuhan Yesus juga mengutus murid-murid untuk memberitakan Injil. Mula-mula Dia mengutus dua belas orang (Lukas 6:12-16), kemudian Dia mengutus tujuh puluh orang (Lukas 10:1-24). Setelah bangkit, Tuhan berkata kepada murid-murid, "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28:18b-19). Tuhan mengutus kita kepada semua bangsa untuk memberitakan Injil kepada setiap orang, membaptiskan mereka ke dalam diriNya, dan mempersembahkan mereka sebagai korban kepada Allah. Dalam surat kirimannya, Paulus juga berkata, dia "harus menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, dengan melayani sebagai imam Injil Allah, agar persembahan bangsa-bangsa bukan Yahudi bisa diperkenan, setelah dikuduskan di dalam Roh Kudus" (Roma 15:16 Tl.). Paulus adalah seorang imam Injil Allah. Dia mempersembahkan orang kafir yang beroleh selamat sebagai korban kepada Allah.
Bukan pelayanan Kaum Paderi, melainkan Setiap Orang Imani Memberitakan Injil
Kita masih memiliki banyak konsepsi alamiah. Mungkin kita mengira, karena Paulus adalah rasul nomor satu, tentu saja dia dapat memberitakan Injil. Tetapi kita bukan rasul, juga bukan nabi, maka kita tidak dapat memberitakan Injil. Untuk memberitakan Injil, kita harus mengundang seorang tokoh penginjil datang ke tempat kita dan berkhotbah kepada setiap orang. Itu sangat tidak sesuai dengan Alkitab dan tidak serasi dengan sifat jalan yang ditetapkan Allah dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, Allah menetapkan, setiap orang imani harus memberitakan Injil.
Namun, gereja sudah merosot. Fungsi organik dari banyak orang imani terbunuh; semuanya menjadi tidak bisa memberitakan Injil, hanya beberapa orang yang cakap memberitakan Injil dan melayani sebagai imam. Akibatnya timbullah sistem paderi. Kebanyakan orang imani adalah orang awam yang datang hanya untuk menyembah, duduk di bangku tanpa berfungsi sama sekali. Hal itu membunuh pengaturan dan penetapan Allah. Selama dua ribu tahun yang lalu, banyak orang Kristen telah menjadi tidak cakap melayani Allah. Sebagian orang mungkin tidak mengerti hal ini. Mereka mungkin mengira mereka masih melayani Allah. Setiap minggu mereka masih datang ke balai sidang, untuk menyapu lantai, membersihkan karpet, membersihkan jendela, mengatur kursi, dan melayani sebagai penyambut dalam sidang. Semua hal itu tidak lain pekerjaan orang Lewi, bukan pelayanan imam Injil Perjanjian Baru.
Sejak tahun 1984, kita telah nampak keperluan untuk mengubah sistem yang ada. Namun, selama empat tahun ini, kita masih belum bisa bebas sepenuhnya dari racun kekristenan. Tidaklah mudah melepaskan diri dari tradisi atau sistem lama yang manapun. Misalnya, kira-kira seratus tahun yang lalu bapak pendiri Republik Cina yang modern, Bapak Sun Yat-sen, menyatakan bahwa pemerintah Cina berpaling dari pemerintahan yang imperialistis kepada pemerintahan yang demokratis. Hari ini Taiwan hanya mengalami sedikit dari fajar (kejayaan) sistem itu. Melaksanakan demokrasi tidaklah mudah. Sebagai contoh lain, lihatlah pakaian kita, enam puluh tahun yang lalu tidak banyak orang Cina yang berani memakai pakaian model Barat. Bahkan mereka tidak berani berbahasa Inggris walaupun mereka telah mempelajarinya. Tetapi hari ini, enam puluh tahun kemudian, banyak ibu-ibu di Taiwan yang mendorong anak-anak mereka belajar bahasa Inggris. Di mana-mana kita temukan orang-orang yang mengenakan pakaian model Barat. Alasannya adalah jaman telah berubah, dan arusnya telah beralih. Dalam perdagangan dan perniagaan, Taiwan telah bangkit dan maju dengan pesat. Jika kita tidak beralih, kita akan ketinggalan di belakang.
Kita harus nampak, bahwa dalam pelayanan gereja juga demikian. Kita tidak dapat mengubah kebenaran Alkitab. Tetapi bagaimana mengajarkan dan memberitakan kebenaran itu, membutuhkan banyak pengkajian dan perbaikan. Dari Alkitab dapat kita lihat, bahwa sidang pengabaran Injil dengan satu orang pembicara dan yang lain mendengar itu tidaklah sesuai dengan Alkitab, tidak sesuai dengan ketetapan Allah. Tuhan mengutus ketujuh puluh orang murid ke rumah-rumah orang dan menyuruh mereka, "Kalau kamu memasuki suaru rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada anak damai, maka salammu akan tinggal di atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu" (Lukas 10:5-6). Tuhan tidak pernah menyuruh murid-murid mengadakan sidang yang besar. Sebaliknya, Dia mengutus mereka keluar.
Maka, setiap saudara saudari harus pergi dari pintu ke pintu untuk mengunjungi orang. Hari ini kita ada di dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita semua adalah imam dan seharusnya mempersembahkan korban. Korban pertama yang harus kita persembahkan kepada Allah adalah orang dosa. Jika kita tidak mempersembahkan orang dosa, kita adalah imam yang tidak berfungsi. Kelak kita harus memberikan perhitungan di hadapan Tuhan. Jalan Tuhan bukanlah hanya sedikit orang yang cukup syarat dan berkarunia memberitakan Injil, Dia menghendaki semua orang yang beroleh selamat pergi dan memberitakan Injil. Asal Anda bisa berbicara, Anda bisa memberitakan Injil. Satu Korintus 14:31 mengatakan, "Karena kamu semua dapat bernubuat (berbicara bagi Tuhan) seorang demi seorang." Alkitab mengatakan, bahwa kita semua dapat berbicara. Karena itu, kita semua harus pergi dan menyampaikan Injil kepada orang lain, dan dengan demikian menunaikan tugas kita sebagai imam Injil.
Agar Orang-orang kekasih yang Beroleh Selamat Bisa
Mempersembahkan Diri Mereka dalam Kristus
Setelah kita memimpin orang dosa beroleh selamat dan mempersembahkan mereka sebagai korban, Paulus memberitahu kita dalam Roma 12:1, "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati." Paulus memohon orang dosa mempersembahkan tubuh mereka dan mempersembahkan diri mereka dengan sukarela sebagai korban kepada Allah. Ini adalah langkah lain yang harus kita anjurkan untuk ditempuh orang yang kita bimbing.
Setiap Orang Menghadiri Sidang Rumahan dan Sidang Kelompok
Dalam Kolose 1:28, Paulus berkata, "Dialah yang kami beritakan, apabila tiap orang kami nasihati dan tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk mempersembahkan tiap orang dalam keadaan dewasa di dalam Kristus." Dipersembahkan dalam keadaan dewasa sama seperti diambil sebagai buah yang sudah matang di kebun, pada waktu panen. Seluruh proses pertumbuhan ini sudah tercakup dalam sidang rumahan, sidang kelompok dan sidang wilayah. Akhirnya, melalui sidang yang berbeda-beda itu, kita akan disempurnakan selangkah demi selangkah sampai akhirnya kita dapat dipersembahkan kepada Allah sebagai orang yang dewasa.
Setiap Orang Berbicara Bagi Tuhan
Hari ini kita harus nampak, bahwa kita semua adalah imam-imam Perjanjian Baru. Setiap orang perlu memberitakan Injil. Setiap orang harus menghadiri sidang rumahan dan sidang kelompok. Setiap orang harus berbicara bagi Tuhan. Ketika kita berbicara, kita harus melatih roh kita; tidak hanya perlu ada wahyu dan terang, juga perlu ada inspirasi. Dengan demikian Kristus akan disampaikan kepada orang lain. Bila semua hal ini kita laksanakan, barulah imamat universal bisa diwujudkan.