JALAN MELAKSANAKAN TUGAS IMAM UNIVERSAL
Pembacaan Alkitab:
I Petrus 2:5; Yohanes 3:22-30; Roma 1:9; 15:16; Kolose 1:27-29
GARIS BESAR
I. Yohanes Pembaptis:
A. Melepaskan tugas imam Perjanjian Lama.
B. Berpaling kepada tugas imam Perjanjian Baru.
II. Tugas imam:
A. Mempersembahkan korban -- mempersembahkan orang dosa.
B. Mempersiapkan roti sajian -- menyuplaikan hayat.
C. Menyalakan pelita -- menyebarkan terang.
D. Membakar ukupan -- berdoa untuk orang lain.
Doa: Tuhan, kiranya sidang ini sekali lagi memberiMu kesempatan untuk melangkah lebih jauh di antara kami. Kiranya Engkau membukakan langit bagi kami, mewahyukan diriMu dan rahasiaMu kepada kami. Tuhan, kami berhimpun di hadapanMu. Kami sepenuhnya terbuka kepadaMu, kami mau mendapatkan penyelamatan; kami tidak ingin tinggal dalam keadaan yang lalu, yang merasa puas dengan apa yang kami miliki. Tuhan, bawalah kami maju, singkapkan terang firmanMu kepada kami sekali lagi. Gugah dan bangkitkanlah kami dari dalam, sehingga kami tidak berhenti di sini. Tuhan, kami juga berdoa bagi setiap saudara yang mengemban tanggung jawab sebagai penatua. Kiranya roh mereka semua membara, menyala-nyala; kiranya dalam jalan baru ini, mereka damba memiliki pengalaman yang makin banyak, makin mengecap kekayaanMu, dan makin nampak kemuliaanMu. Tuhan, berikanlah kami pimpinan yang jelas mengenai apa yang ingin Kaukatakan, dan apa yang ingin Kaupersekutukan. Bersihkan kami dengan darah adiMu dan urapilah kami satu per satu dengan pengurapanMu yang kaya. Amin!
Ketika kita masuk ke dalam pemulihan Tuhan, dari semula kita sudah melihat jelas, bahwa Allah menghendaki seluruh umatNya melaksanakan tugas imam. Dalam Perjanjian Lama, Allah menyelamatkan bani Israel keluar dari Mesir, dan berkata, "Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepadaKu . . . kamu akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus" (Keluaran 19:4, 6). Allah menghendaki bangsa Israel menjadi suatu kerajaan imam; di dalam kerajaan ini, semua orang adalah imam. Sayangnya, karena pemberontakan dan kegagalan mereka, kebanyakan orang Israel kehilangan status imam itu. Semula, Allah menetapkan setiap orang dari bangsa Israel adalah imam. Tapi kemudian, hanya keluarga Harun yang menjadi imam, dan orang-orang dari suku Lewi hanya menjadi pembantu imam dalam melakukan berbagai urusan. Karena itu, dalam Perjanjian Lama muncullah perbedaan antara kaum paderi (para imam) dengan rakyat biasa.
Sampai Perjanjian Baru, dalam I Petrus 2:9 kita nampak, "Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri." Wahyu 1:5-6 juga mengatakan dengan jelas, "Dia, yang mengasihi kita, dan yang telah melepaskan kita dari dosa-dosa kita oleh darahNya, dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, BapaNya." Kita yang beroleh selamat dan dibersihkan oleh darah adi Tuhan, telah disisihkan oleh Allah khusus untuk menjadi imam-imamNya. Karena itu, dalam Perjanjian Baru, Allah kembali menyatakan maksud hatiNya, yaitu agar setiap orang dari anak-anakNya bisa menunaikan tugas imam itu. Sayangnya, kegagalan dari umat Allah dalam Perjanjian Lama diulangi oleh umatNya dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, umat Israel kehilangan imamat itu karena kegagalan mereka. Akibatnya, Allah harus mengubah jalanNya dari seluruh bangsa itu sebagai imam kepada hanya keluarga Harun sebagai imam. Dalam jaman Perjanjian Baru, pembedaan antara kaum paderi dengan kaum awam perlahan-lahan menjadi suatu adat dan tradisi; ini adalah buatan manusia dan tidak menyenangkan hati Allah. Dalam kekristenan hari ini, istilah kaum paderi dan kaum awam sering dipakai dan merupakan pokok yang sering dibicarakan oleh orang.
Kita mewarisi terang mengenai pelaksanaan tugas imam universal dari Kaum Saudara dari Inggris. Lima puluh atau enam puluh tahun yang lalu, ketika dimulainya pemulihan Tuhan di tengah-tengah kita, orang-orang yang melaksanakan tugas imam universal itu tidaklah banyak, perlahan-lahan ada kemajuan. Tetapi selama tahun-tahun yang lampau, pelaksanaannya merosot lagi. Dengan mengambil gereja di Taipei sebagai contoh, orang-orang yang benar-benar berfungsi dalam tugas imam itu kurang dari sepertiga jumlah yang hadir. Pelayanan-pelayanan yang kita sebut pelayanan gereja kebanyakan tidak lebih dari sekedar pekerjaan orang Lewi, seperti pekerjaan pembersihan, membagikan roti dan anggur pada sidang pemecahan roti, melayani penyambutan dalam persidangan gereja, dan urusan-urusan lainnya. Hal-hal itu bukan pekerjaan imam yang langsung berkontak dengan Allah dan mempersembahkan orang dosa. Tentu saja, pelayanan orang Lewi juga diperlukan, tetapi pelayanan itu bukanlah perkara penting yang diperhatikan Allah dalam Perjanjian Baru.
Boleh dikatakan, pelayanan dalam Perjanjian Baru hampir seluruhnya beraspek rohani, beraspek hayat; tidak banyak pada aspek urusan-urusan praktis. Dari semula kita telah nampak hal ini dengan jelas. Para sekerja juga harus berpegang teguh pada hal ini, sedapatnya mendorong saudara saudari agar mereka mengobarkan karunia yang ada di dalam mereka dan supaya setiap orang menunaikan fungsinya sebagai imam. Dalam Perjanjian Lama, tugas terpenting dari seorang imam adalah mempersembahkan korban. Korban-korban itu dipersembahkan di pelataran luar. Setelah imam selesai mempersembahkan korban, mereka masuk ke dalam tempat kudus untuk mengurusi roti sajian, menyalakan pelita dan membakar ukupan. Di samping itu, Imam Besar harus masuk ke dalam tempat mahakudus setahun sekali. Semua lambang ini sangat jelas terlihat dalam Perjanjian Lama.
YOHANES PEMBAPTIS MELEPASKAN TUGAS IMAM PERJANJIAN LAMA DAN BERPALING KEPADA TUGAS IMAM PERJANJIAN BARU
Saya telah bertahun-tahun mempelajari Alkitab dan telah menyelidiki lambang-lambang cukup lama. Namun saya selalu tidak jelas bagaimana menerapkan lambang imam Perjanjian Lama ke dalam Perjanjian Baru, dan sebenarnya apa yang dimaksud dengan korban persembahan rohani dalam Perjanjian Baru? Sampai akhir-akhir ini, oleh karena dua potongan Alkitab, saya makin jelas terhadap hal ini.
Salah satu potongan Alkitab itu berkenaan dengan Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis dilahirkan dalam suatu keluarga imam. Ayahnya, Zakharia, adalah Imam Besar, orang yang memegang pimpinan dalam susunan imamat. Yohanes terlahir sebagai imam, tetapi dikemudian hari, ia tidak melaksanakan ministrinya dalam bait Allah. Sebaliknya, dia pergi ke padang gurun. Dia tidak memakai pakaian imam, juga tidak makan makanan imam. Sebaliknya, dia memakai jubah dari bulu unta dan makan belalang dan madu hutan. Dia pergi ke padang gurun dan berkata kepada orang-orang, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat" (Matius 3:2). Inilah permulaan imam Perjanjian Baru; tugas seorang imam Perjanjian Baru adalah mempersembahkan orang dosa. Yohanes adalah seorang imam, karena terlahir dalam keluarga imam. Namun jamannya sudah berubah. Dia tidak lagi menjadi imam Perjanjian Lama; dia menjadi imam Perjanjian Baru.
Dalam Perjanjian Baru, orang pertama yang melaksanakan ministrinya adalah Yohanes. Yang kedua adalah Tuhan Yesus. Dalam Injil Yohanes 3:22-30 dikatakan, "Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-muridNya ke tanah Yudea dan Ia diam bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air; dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, . . . murid-murid Yohanes . . . datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, Rabi, Orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepadaNya. Jawab Yohanes, Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahuluiNya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki, tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." Titik berat saya di sini adalah Yohanes keluar menjadi imam jaman Perjanjian Baru. Yang dipersembahkannya adalah orang dosa. Dia bukanlah Imam Besar. Imam Besar adalah Orang yang datang sesudah dia. Dia hanya seorang imam yang membantu Imam Besar mempersembahkan orang dosa.
Kutipan yang lain terdapat dalam Roma 1:9. Di sana Paulus berkata, "Karena Allah yang kulayani di dalam rohku dalam pemberitaan Injil AnakNya "(terjemahan lain). Kata "melayani" dalam bahasa aslinya memiliki arti "pelayanan dalam penyembahan". Paulus menganggap pemberitaan Injilnya bukan hanya suatu pekerjaan, melainkan suatu pelayanan dan penyembahan kepada Allah. Sesudah dia memberitakan Injil dan membawa orang dosa beroleh selamat, dia mempersembahkan orang-orang dosa itu. Sebab itu, dalam Roma 15:16 dia berkata, "Yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, melayani sebagai imam Injil Allah, agar persembahan bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diperkenan. . ."(Tl).
TUGAS PARA IMAM
Mempersembahkan Korban
Lalu, apakah yang dilakukan imam Perjanjian Baru? Bagaimana semua saudara saudari dapat menjadi imam? Kita tahu, bahwa pekerjaan terpenting dari imam-imam Perjanjian Baru adalah mempersembahkan orang dosa kepada Allah pada mezbah salib. Pemberitaan Injil kita adalah membawa orang-orang dosa dan mempersembahkan mereka. Persembahan ini disebutkan secara sederhana dalam kitab Roma. Di sana Paulus berkata, "Aku harus menjadi pelayan Kristus Yesus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, melayani sebagai imam Injil Allah, agar persembahan bangsa-bangsa bukan Yahudi diperkenan, sesudah dikuduskan dalam Roh Kudus" (15:16 Tl.). Namun, persembahan dalam kitab Kolose tidak begitu sederhana. "Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kayanya kemuliaan dari rahasia ini di antara bangsa-bangsa lain, yaitu Kristus di dalam kamu, menjadi pengharapan yang mulia; Dialah yang kami beritakan, dengan menasihati setiap orang dan mengajar setiap orang dalam segala hikmat, agar kami dapat mempersembahkan setiap orang dalam keadaan dewasa di dalam Kristus" (1:27-28 Tl). Persembahan di sini membuat bangsa-bangsa bukan Yahudi mengetahui, bahwa pada rahasia Allah terkandung suatu kemuliaan. Kemuliaan ini adalah Kristus di dalam mereka menjadi pengharapan yang mulia. Mereka harus menjadi orang semacam itu. Demikian barulah mereka dapat dipersembahkan sebagai persembahan kepada Allah.
Mempersiapkan Roti Sajian, Menyalakan Pelita, Membakar Ukupan Lambang dalam Perjanjian Lama sangat jelas. Di pelataran luar, ada persembahan korban. Di tempat kudus, ada penyimpanan roti sajian, penyalaan pelita dan pembakaran ukupan. Roti sajian adalah untuk suplai hayat, pelita adalah untuk penyebaran terang, dan pembakaran ukupan adalah untuk mendoakan manusia. Mempersembahkan semua orang dalam keadaan dewasa di dalam Kristus adalah "pekerjaan menyempurnakan" yang disebut dalam Efesus 4. Penyempurnaan akan membuat seseorang memenuhi syarat untuk dipersembahkan dalam keadaan dewasa. Maka persembahan di mezbah di pelataran luar dalam Roma 15 adalah persembahan awal. Persembahan dalam tempat kudus, melalui roti sajian, kaki dian emas, dan mezbah emas, dalam Kolose 1 adalah persembahan yang lebih maju.
Dalam membangun kelompok kecil (grup), kita menasihati setiap orang dan mengajar setiap orang dalam segala hikmat, agar kita dapat mempersembahkan setiap orang dalam keadaan dewasa di dalam Kristus. Persembahan ini adalah pekerjaan imam. Agar semua saudara saudari bisa berfungsi dalam imamat, mereka harus dibawa ke dalam pelayanan Injil, sehingga setiap orang memiliki bagian dalam Injil. Demikian barulah pelayanan di antara kita menjadi imamat universal dengan setiap orang melayani.
Langkah pertama dari jalan baru adalah setiap orang harus memberitakan Injil. Memberitakan Injil dalam Efesus 4 bukan sekedar pekerjaan memberitakan, melainkan pekerjaan menyempurnakan kaum saleh; seperti seorang guru yang mengajar murid-muridnya. Bila kaum saleh disempurnakan, setiap orang dari mereka akan menjadi imam Perjanjian Baru. Pekerjaan imam Perjanjian Baru adalah membangun Tubuh Kristus. Salah satu aspeknya adalah mendapatkan orang dosa dan melayankan Kristus ke dalam mereka, sehingga Kristus di dalam mereka akan menjadi harapan yang kekal. Orang-orang inilah yang kemudian akan menjadi korban persembahan kepada Allah dalam tangan para penginjil. Paulus adalah imam Injil semacam ini. Dia membawa orang kafir beroleh selamat, mempersembahkan mereka sebagai korban, dan dalam segala hal merupakan teladan bagi kaum imani yang beroleh selamat itu. Dia tidak berlutut berdoa setiap hari. Sebaliknya, dia mendapatkan orang dosa satu per satu, agar mereka masing-masing memiliki Kristus di dalam mereka sebagai kemuliaan, sehingga menjadi korban yang diperkenan di pandangan Allah.
Setelah kita mendapatkan orang, kita perlu merawat mereka. Dalam I Tesalonika 2:7, Paulus berkata, "Kami berlaku ramah (lembut) di tengah-tengah kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya." Bila Anda melihat seorang ibu yang sedang merawat anaknya, Anda akan mengerti bagaimana seseorang harus merawat anaknya sendiri. Seorang ibu yang merawat bukanlah seorang perawat yang dibayar, melainkan ibu anak itu sendiri. Ketika seorang ibu merawat anaknya, dia menaruh anaknya itu dalam dekapannya. Jadi, dia merupakan ranjang dan ayunan bagi bayi itu, bahkan merupakan segala sesuatu bagi anak itu. Bila anak itu gelisah, sang ibu akan mengayun-ayun anak itu ke depan dan ke belakang. Inilah yang dimaksud dengan mengasuh. Ketika dia mengasuh, dia pun merawat. Setelah kita membaptis orang, kita harus mengadakan sidang rumahan untuk merawat dan mengasuh mereka. Pekerjaan perawatan ini harus pula dilakukan oleh setiap orang. Demikian barulah tugas imam itu menjadi universal.
Setelah seseorang dirawat selama satu bulan, dia akan menjadi mantap. Saat itu, dia harus segera dibawa ke sidang kelompok agar berkenalan dengan saudara saudari yang lain. Hal itu akan membawanya menempuh hidup bersekutu dan akan mendorongnya memasuki hidup gereja. Dalam sidang kelompok, bukan hanya ada ajaran, tetapi juga ada perawatan. Selain itu, sidang kelompok harus bersifat organik, yaitu setiap orang saling mengajar, setiap orang saling belajar, demikianlah Tubuh Kristus akan terbangun. Satu Korintus 14 adalah pasal yang khusus membahas pembangunan gereja. Bagaimana gereja dapat dibangun? Gereja dibangun dengan bernubuat (mengutarakan firman) Paulus berkata, "Karena kamu semua dapat bernubuat seorang demi seorang, supaya kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan" (ayat 31). "Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk beberapa orang yang tidak percaya atau tidak terpelajar masuk, ia akan diyakinkan oleh semua, dihakimi oleh semua" (ayat 24 Tl). Di sini kita nampak, bahwa setiap orang seharusnya bernubuat. Sebab itu, bernubuat harus juga bersifat universal.
PERLU MEMPERKAYA ISI JALAN BARU,
PARA PENATUA SEBAGAI KUNCI UNTUK MENGADAKAN TEROBOSAN
Lebih dari empat tahun telah kita habiskan untuk mempelajari jalan baru di Taipei. Hari ini kita dapat mengatakan, bahwa kerangka dasarnya sudah ada di gereja di Taipei; gereja kini ada di jalan yang benar. Kini sudah ada kerangka dasar dari pekerjaan Injil, sidang rumahan, sidang kelompok, dan sidang wilayah. Tetapi isinya harus serasi dengan kerangka dasar itu terus maju dan makin kaya. Hari ini, Kunci terobosan ini sangat tergantung pada para penatua.
Sebelum kalian melaksanakan jalan baru, dan mengadakan tiga macam sidang di rumah, di kelompok dan di wilayah, pertama-tama kalian harus menjadi orang yang disegarkan. Selain penyegaran tiap pagi dan kemenangan tiap hari, kalian harus berdoa, mengikuti Roh, menampilkan Kristus, dan bekerja dengan rajin. Semoga kalian semua bangkit dan memikul beban ini. Tuhan Yesus memberikan dua perumpamaan dalam Lukas 14, "Karena siapakah di antara kamu, jika hendak membangun sebuah menara, tidak duduk dulu dan menghitung biayanya, entahkah dia bisa merampungkannya?" (ayat 28). "Atau raja manakah, yang hendak berperang dengan raja lain, tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan . . ." (ayat 31). Kedua contoh ini menunjukkan, bahwa hidup orang Kristen seharusnya direncanakan. Bagaimana seharusnya aku menempuh hidup? Selain jam kerja, berapa banyak waktu seharusnya aku berikan kepada Tuhan? Harus ada perencanaan dan perhitungan. Sudah lama kita hidup dengan sembarangan. Sejak hari ini, kita tidak boleh sembarangan lagi.
Sebagai penatua, kalian memiliki tanggung jawab yang berat. Kalian harus membuat perencanan, perhitungan, menangani umum, merawat keluarga, meningkatkan ketrampilan, semua itu memang perlu. Tetapi saya percaya kepada tangan Allah Pencipta yang mengatur semua lingkungan. Asalkan kita bekerja berdasarkan prinsipnya, tidak akan ada kesulitan. Hari ini kalian sudah berada dalam pemulihan Tuhan. Kalian tidak bisa ceroboh terus seperti waktu kalian belum berada dalam pemulihan Tuhan. Kalian harus seperti Paulus, yang tidak berlari tanpa tujuan, dan yang tidak meninju udara (I Korintus 9:26). Kalian harus memiliki tujuan. Tuhan sudah menetapkan kalian dalam kepenatuaan di Taipei, kalian harus melakukan perkara ini dengan serius. Kalian membawanya dalam doa di hadapan Tuhan. Jika kalian sendiri belum jelas, kalian harus bersekutu dengan dua atau tiga orang saudara lainnya lagi. Temukan pada mereka apa yang seharusnya dilakukan oleh penatua. Jika kalian mau menempuh hidup yang menang setiap hari, mau menjamah Tuhan setiap pagi, memiliki permulaan yang segar setiap hari, dan berjalan menurut Roh, waktu kalian akan tidak tersia-sia.
Saudara-saudara yang kekasih, asal kalian mau melakukannya, tidak ada yang tidak mungkin dilakukan. Setiap minggu, selain hari Tuhan, kalian harus mempersembahkan sekurang-kurangnya dua malam untuk melayani Tuhan; entah Anda memberitakan Injil dengan mengunjungi orang, mengadakan sidang rumahan atau sidang kelompok. Pada hari Tuhan, kalian tentu bertemu dengan saudara dan saudari. Di Taipei, sebagian besar orang bekerja sepanjang siang dan beristirahat pada malam hari. Di samping itu, kebanyakan orang memiliki waktu satu setengah hari yang luang pada akhir pekan. Keadaan demikian sangat cocok bagi kita untuk melayani Tuhan. Asalkan kalian membuat suatu rencana dan mempersembahkan dua malam setiap minggu kepada Tuhan, kalian akan benar-benar dapat merampungkan sesuatu. Ini adalah jalan yang efektif. Kita sudah mempelajarinya, dan kerangka dasarnya sudah dibuat. Selanjutnya tergantung pada kalian, para penatua.
Kini kita sudah jelas, bahwa pekerjaan pertama seorang imam Perjanjian Baru adalah menyelamatkan orang dosa dan mempersembahkan mereka sebagai korban. Sesudah itu, Anda masih pula melakukan beberapa pekerjaan yang rinci, dengan konstan mempersiapkan roti sajian menyuplaikan hayat, dan menyalakan pelita, menyebarkan kebenaran. Mempersiapkan roti sajian dan menyalakan pelita dilakukan dalam sidang kelompok. Di samping itu, Anda harus berdoa untuk orang lain. Itulah yang dimaksud oleh Paulus dalam Kolose pasal 1, ketika dia mengatakan, bahwa dia memberitakan Kristus ini, dengan "menasihatkan setiap orang dan mengajar setiap orang dalam segala hikmat, agar setiap orang bisa dipersembahkan dalam keadaan dewasa di dalam Kristus." Jika setiap orang mau melakukan demikian, akan muncul hasil imamat yang universal. Setiap orang memberitakan Injil, setiap orang merawat domba-domba Tuhan, setiap orang belajar berfungsi dan mengajar dalam sidang kelompok, dan setiap orang bernubuat dalam sidang wilayah. Dengan demikian, setiap orang dalam gereja akan menjadi imam, dan tingkatan kaum paderi akan terhapus.
MENGENAI SIDANG KELOMPOK DAN BERNUBUAT
Satu butir lagi, yakni mengenai membagi sidang kelompok. Tidaklah mudah membagi satu kelompok menjadi beberapa kelompok. Jika jumlah yang hadir dalam satu kelompok bertambah, kita harus membagi kelompok itu; tetapi pembagiannya tidak bisa dilakukan terlalu cepat. Orang-orang yang lebih berpengalaman, harus mengamati dengan cermat keadaan sesungguhnya dari sidang kelompok itu. Misalnya, setelah Anda memberitakan Injil dan orang-orang beroleh selamat, seharusnya Anda memilih tiga atau empat orang untuk Anda rawat. Anda harus berusaha sedapatnya membawa mereka ke sidang kelompok. Jika setiap orang membawa satu orang, delapan orang akan membawa delapan orang, demikian enam belas orang akan membentuk suatu sidang. Cara sidang semacam ini akan memungkinkan orang yang baru datang untuk belajar. Mereka tidak akan mengerti tentang penyembahan yang agamawi, melainkan hanya tahu bagaimana bersidang secara organik. Setelah bersidang secara demikian selama tiga bulan, lebih banyak orang akan didapatkan, mungkin jumlahnya akan bertambah menjadi dua puluh lima. Saat itu, Anda harus membagi kelompok ini. Dalam pembagian ini, setiap kelompok tentu memiliki beberapa orang yang senior, dan orang-orang yang baru. Perlahan-lahan, kelompok-kelompok itu akan kembali menempuh siklus di atas, berlipat ganda dan berkembang sekali dan sekali lagi.
Hal yang paling sulit dilakukan dalam sidang wilayah adalah bernubuat. Anda semua harus rajin; rajin mengajar, rajin berbicara, memegang setiap kesempatan untuk berlatih. Pada hari Sabtu, Anda harus menggabungkan semua inspirasi roh yang Anda terima selama penyegaran tiap hari dalam satu minggu itu, dan menyusunnya menjadi bahan untuk bernubuat pada hari Tuhan. Inilah prinsip yang benar. Namun, ingatlah, mengajar mereka bernubuat tidak bisa seperti memberitakan khotbah yang panjang, paling baik adalah mengutarakan mengenai satu butir saja. Dalam sidang wilayah, pada hari Tuhan, jika ada lima belas orang berdiri dan berbicara tentang lima belas butir, sidang itu akan kaya. Para pembimbing harus mengajar setiap orang dan mengoreksi mereka. Dengan demikian, tidak akan ada orang yang malas di antara kita.
Jika setiap orang sibuk memberitakan Injil; jika sesudah bayi-bayi dilahirkan, setiap orang sibuk merawat mereka; jika sesudah mereka dirawat, setiap orang di antara mereka dibawa ke sidang kelompok; dan jika orang-orang yang menerima terang, pengalaman dan wahyu dari firman Tuhan mau bernubuat dalam sidang wilayah untuk membangun gereja, saya yakin, dalam waktu satu atau dua tahun, dasar yang teguh akan diletakkan. Asalkan kita semua mau berjuang, jalan baru tidak hanya berupa kerangka dasar saja melainkan akan kaya limpah isinya. Demikian, realitas I Korintus 14 dan Efesus 4 akan tergenap di antara kita secara hidup, dan tujuan Allah akan tercapai.