MELATIH ROH KITA
Pembacaan Alkitab :
1 Timotius 4:7; 2Timotius 1:7; 4:22
Satu Timotius 4:7 mengatakan, "Latihlah dirimu beribadah." Dua Timotius 1:7 mengatakan, "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melankan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." Kemudian 2Timotius 4:22 mengatakan, "Tuhan menyertai rohmu." Jika kita menggabungkan semua ayat ini, kita dapat melihat bahwa melatih diri beribadah tergantung pada melatih roh, tempat Tuhan berada. Jika Anda ingin melatih diri Anda beribadah, Anda harus mengetahui bagaimana melatih roh Anda, karena Allah ada di dalam roh Anda. Ayat-ayat ini merupakan dasar dari Alkitab untuk melatih roh kita.
Hidup Menurut Roh
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan menurut roh (Roma 8:4), yaitu roh kita berbaur dengan Roh Kudus (I Korintus 6:17). Kita telah melihat, bahwa kita dapat mengenal roh ini dengan merasakan berbagai aspek hidup, damai sejahtera, atau kematian. Apapun yang kita Iakukan, apapun yang kita katakan, kita harus melakukannya dan mengatakannya dengan roh, bukan dengan jiwa atau daging. Apapun yang kita lakukan, kita harus berpaling kepada Tuhan. Beberapa orang Kristen mungkin berpendapat, bahwa berpaling kepada Tuhan berarti berpaling kepada sorga. Tetapi berpaling kepada Tuhan dalam pengalaman kita berarti berpaling ke roh kita, karena Tuhan ada di dalam roh kita. Hal ini berarti menaruh pikiran di atas roh (Roma 8:6). Menaruh pikiran di atas roh berarti berpaling kepada Tuhan. Kita harus berpaling dari daging, dari pikiran, dari penyakit, dan dari kesulitan. Bahkan pengetahuan dan pengajaran Alkitab pun dapat merupakan daya tarik yang harus kita jauhkan dari diri kita. Dari hari ke hari kita diselewengkan dari roh kita oleh banyak perkara yang ada di luar diri kita.
Mengasihi isteri itu tidak salah, ini sangat baik. Memikirkan pengajaran Alkitab dan mencari pengetahuan itu baik, tetapi dalam kasih, pertimbangan, dan pencarian kita, kita sering kali tidak bergantung kepada Tuhan. Kita menaruh pikiran kita, yang mewakili diri kita, pada begitu banyak perkara selain Tuhan yang ada di dalam roh kita. Sering kali kita melakukan banyak hal dengan jiwa kita atau daging kita, bukan dengan roh. Kita semua harus belajar satu perkara : apapun yang terjadi pada diri kita, kita harus berpaling kepada Tuhan. Ini berarti berpaling ke roh. Di satu pihak, saya menyangkal pikiran, emosi dan tekad saya yang alamiah, yaitu diri saya sendiri; di pihak lain, saya belajar merasakan roh. Saya hanya melakukan sesuatu jika saya merasa, bahwa saya memiliki hidup dan damai sejahtera dalam batin. Melakukan hal ini berarti melatih roh kita. Kita semua harus belajar hidup menurut roh dengan cara seperti ini.
Roma 7 menunjukkan kepada kita, ada seorang yang berusaha menjadi baik, berusaha menaati hukum Allah. Hukum Allah itu ada di luar diri kita. "Aku" dalam Roma 7 berusaha dan bergumul untuk menaati hukum Allah. Maksud, pikiran dan keinginannya tertuju ke luar. Tetapi dalam Roma 8, keadaan ini berubah. Dia tidak mungkin lagi diselewengkan oleh apapun, termasuk oleh hukum Allah. Dia tidak menujukan dirinya pada apa pun selain pada Tuhan sendiri yang ada di dalam rohnya. Dalam Roma 8 kita harus hidup menurut roh (ayat 4). Kita tidak perlu bergumul, berjuang, berusaha berbuat baik, atau menaati hukum. Kita hanya diminta untuk hidup menurut roh. Apapun yang saya lakukan, apapun yang saya katakan, saya lakukan dan katakan dengan menyangkal pikiran, emosi, dan tekad saya, bersamaan dengan itu saya merasakan roh saya. Jika saya memiliki hidup dan damai sejahtera, saya akan melakukan atau mengatakannya. Jika saya tidak memiliki hidup dan damai sejahtera, saya tidak akan melakukan atau mengatakannya. Inilah cara kita melatih dan menggunakan roh kita.
Perubahan Organ
Banyak sekali di antara kita yang tidak melatih atau menggunakan rohnya. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak mempedulikan roh kita, kita tidak memperhatikannya. Kita memperhatikan banyak perkara yang baik dan berusaha untuk melakukan perkara-perkara tersebut dengan kernampuan kita sendiri. Kita harus mengalaini perubahan, bukan mengubah perkara yang kita hadapi, melainkan organ kita. Masalahnya adalah : kita menggunakan jiwa atau roh Anda?
Misalnya, karena saya adalah orang Kristen, maka saya harus mengasihi saudara saya, karena itu saya mengubah kebencian menjadi kasih. Ini merupakan perubahan dalam sebuah perkara. Secara moral, perubahan ini benar. Secara rohani, perubahan ini tidak mutlak benar. Saya membenci saudara anu, saya membencinya berdasarkan diri saya sendiri. Saya mengasihi saudara anu, saya mengasihinya berdasarkan diri saya. Sekarang saya harus berubah dengan cara melatih roh. Ini adalah perubahan organ. Sebelumnya, hubungan antara saya dengan saudara itu terjadi di dalam diri; sekarang saya harus mengubah hubungan saya dengan saudara itu ke dalam roh. Dengan mengubah organ ini, saya belajar melatih dan menggunakan roh saya.
Jika saya bersungguh-sungguh terhadap Tuhan, saya harus belajar melatih roh saya. Pertarna-tarna saya harus menolak pikiran, akal budi, emosi, dan keinginan-keinginan saya. Saya berhenti menggunakan jiwa saya. Kemudian saya mulai melatih roh saya. Asal kita mempraktikkannya hari demi hari, latihan ini akan menjadi kebiasaan kita.
Melatih dengan Berdoa
Kita harus mulai melatih roh kita melalui berdoa, karena berdoa pada dasarnya terjadi di dalam roh (Efesus 6:18). Jika Anda ingin melatih mata Anda, Anda harus melihat. Jika Anda ingin melatih kaki Anda, Anda harus berjalan. Semakin banyak Anda berjalan, Anda semakin banyak melatih kaki Anda. Demikian pula, cara terbaik bagi Anda untuk melatih roh Anda adalah dengan belajar berdoa.
Belajar Merasakan Roh
Mungkin ketika Anda mulai berdoa, Anda masih berada di dalam pikiran, jiwa Anda. Tetapi jika Anda terus berdoa, Anda akan berdoa di dalam roh. Bahkan dalam doa kita, kita harus belajar menyangkal pikiran, emosi dan tekad kita, dan belajar merasakan roh. Anda tidak seharusnya berdoa menurut apa yang Anda ketahui. Anda tidak seharusnya berdoa menurut apa yang Anda sukai, inginkan, atau kasihi. Anda tidak boleh berdoa menurut apa yang Anda putuskan untuk didoakan. Anda harus menyangkal pikiran, emosi dan tekad Anda, sambil memperhatikan perasaan batin yang ada di dalam diri Anda.
Mungkin Anda memutuskan untuk berdoa bagi gereja, tetapi pada saat Anda datang kepada Tuhan dan mulai berdoa, ada perasaan lain di dalam batin Anda. Anda harus melupakan keputusan Anda itu dan perhatikanlah perasaan batin Anda. Batin Anda mungkin menunjukkan, bahwa Anda harus mengatakan sebagai berikut, "Oh, Tuhan, di dalam gereja pun saya masih hidup dalam daging." Keputusan Anda adalah berdoa untuk gereja, tetapi Tuhan memberikan perasaan bahwa Anda masih hidup di dalam daging. Semakin Anda mengakui bahwa Anda hidup di dalam daging, Anda semakin merasakan pengurapan, damai, keharmonisan dan penyegaran. Di pihak lain, jika Anda bersikeras dengan pendirian Anda untuk berdoa bagi gereja dan menentang perasaan batin Anda, Anda akan merasakan kekeringan dan kekosongan di dalam batin.
Perlunya Latihan
Kita harus mempraktikkan semua prinsip ini dari hari ke hari. Apa pun yang saya lakukan atau katakan, saya lakukan dan katakan dengan menyangkal pikiran, emosi dan tekad saya; bemimaan dengan itu merasakan situasi di dalam batin saya. Hal ini berarti saya menggunakan dan melatih roh saya. Saya hidup, berjalan dan melakukan segala perkara bukan menurut diri saya sendiri, melainkan menurut roh saya bersama Tuhan. Dalam roh kita mengalami kemenangan. Mulailah melatih roh Anda. Dalam roh kita dapat menikmati Tuhan. Belajarlah menggunakan dan melatih roh Anda.
SEPATAH KATA BAGI SAUDARI
(1)
Para Saudari Yang Melayani
Dalam Hidup Gereja
Pembacaan Alkitab :
Roma 16:1-2, 3-4, 6, 12b
Firman ilahi dalam wahyu Allah selalu sangat ekonomis. Dalam Alkitab, tak ada satu kata pun yang terbuang sia-sia. Setiap halaman, setiap garis, dan bahkan setiap kata dalam Alkitab ini bernilai dan tidak boleh kurang. Berdasarkan prinsip ini, kita perlu memandang Roma 16 sama pentingnya dengan Roma 6. Kita semua sangat menghargai Roma 6, dan kita pun mengetahui apa yang diwahyukan di sana. Tetapi sangat sedikit di antara kalian yang jelas atas Roma 16 ini. Roma 16 bukanlah satu pasal yang pendek, ia terdiri atas dua puluh tujuh ayat.
Tidak ada doktrin-doktrin yang disinggung dalam Roma 16 --- tak ada pembenaran, tak ada penebusan, tak ada pendamaian, tak ada pengudusan, tak ada pemuliaan, tak ada tindakan yang lainnya. Namun dalam pasal ini penuh dengan nama-nama, nama demi nama. Kali ini kita akan khusus memilih lima nama dari pasal ini.
Febe Dan Priska
Nama pertama yang disebut adalah Febe, ini adalah nama yang paling baik di antara semua nama perempuan lainnya. Nama kedua adalah Priska, yang bila dieja dalam bahasa Ibrani dibaca Priskila, sebuah nama yang kekasih. Aku menyukai kedua nama ini. Nama yang pertama kuberikan kepada anak perempuan sulungku, karena aku tahu nama ini adalah sebuah nama yang indah. Sedang nama kedua, Priskila, kuberikan kepada istriku. Arti nama bukan hanya sekedar satu nama, namun juga merupakan realitas orang itu sendiri.
Nama ketiga adalah nama seorang saudara, Akwila, suami Priska (Priskila). Menurut prinsip Alkitab, nama suami selalu berada di depan nama istri. Tetapi dalam hal ini, keadaannya berbalikan dengan prinsip ilahi, nama istri berada di depan, dan kemudian baru nama suaminya. Kelihatannya seolah-olah melanggar prinsip.
Pertama kali pasangan ini disebutkan dalam Kisah Para Rasul 18, Akwila disebut duluan, baru Priska. Semasa mudaku, ketika membaca sampai kitab Roma, aku merasa ragu, yang manakah sang suami. Bahkan pernah terpikir olehku, mestinya terdapat kekeliruan dalam naskahnya. Tetapi, di sini ada satu alasan yang pasti atas penetapan dalam firman ini.
Maria Dan Persis
Nama keempat adalah nama yang sangat dikenal, Maria. Sedikitnya ada enam Maria dalam Perjanjian Baru, dan Maria dalam Roma 16 adalah yang keenam. Maria adalah bentuk nama dalam Perjanjian Baru, yang dalam Perjanjian Lama adalah Miriam.
Maria yang pertama adalah ibu Tuhan Yesus. Yang lainnya adalah Maria Magdalena. Dia dirasuk oleh tujuh setan, dan setan-setan itu telah diusir keluar oleh Tuhan Yesus. Ia telah babas, sejak saat itu ia menjadi penuntut Tuhan yang sejati, seorang yang sangat mengasihi Tuhan. Masih ada Maria lainnya, yaitu ibu Yohanes, yang disebut juga Markus dalam Kisah Para Rasul 12.
Di sini ada empat Maria : Maria dalam Roma 16, ibu Yesus, Maria Magdalena, dan ibu Yohanes Markus dalam Kisah Para Rasul 12. Selain itu, masih ada dua Maria lainnya.
Keenam Maria ini menempuh hidup Kekristenan dan hidup gereja dengan baik, berawal dari inkarnasi Kristus dan berakhir dalam hidup gereja yang praktis. Inkarnasi Kristus diawali dari Maria yang pertama, ibu Yesus, dan Maria dalam Roma 16 merupakan penutup dari hidup gereja yang praktis. Dari Maria yang pertama hingga Maria yang terakhir, telah mencakup baik hidup kekristenan mau pun hidup gereja.
Maria adalah nama keempat yang ingin kita pilih, dan kelima adalah Persis, dalam ayat 12. Mungkin tak seorang pun di antara kalian yang pernah memperhatikan nama ini, dan bahkan banyak yang tidak mengetahui kalau Persis ini adalah nama seorang perempuan. Seorang saudari yang bernama Persis dengan sengaja diberi salam oleh Rasul Paulus dalam Roma 16.
Dalam pasal ini ada sejumlah nama lain di samping kelima nama yang telah kita sebut itu. Karena tak satu perkataan pun yang terbuang sia-sia dalam Kitab Suci, maka kita perlu mengingat nama-nama yang tercantum dalam salam dari Rasul Paulus ini sebagai sesuatu yang sangat praktis/berguna.
Sebuah Pasal Yang sangat Penting
Kita perlu memandang Roma 16 sama pentingnya dengan Roma 6, Roma 8 ataupun Roma 12. Roma 6 adalah satu pasal dari Kitab Roma. Roma 8 merupakan satu pasal lainnya, demikian pula Roma 12. Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa kitab Roma ada 16 pasal. Jika anda memahami Roma 6, anda pun harus memahami Roma 16. Jika anda mengetahui Roma 8, anda pun hams mengetahui Roma 16. Jika anda mengenal Roma 12, anda harus mengenal Roma 16. Terhadap banyak orang Kristen yang ada penuntutan, seolah-olah kitab Roma bukan terdiri dari enam belas pasal. Kitab Roma mereka hanya terdiri dari empat belas pasal, dan barangkali dengan beberapa penggalan dari pasal lima belas dan enam belas.
Kita semua perlu mempunyai kesan bahwa Kitab Roma mempunyai enam belas pasal. Kita harus memilih Roma 16 ini. Tanpa pengalaman yang cukup, sulitlah bagi kita untuk masuk ke dalam Roma 16 untuk melihat apa yang tercakup di sana, dan apa yang diungkapkan kepada kita. Dalam perkara ini Roma 16 adalah seperti Roma 8. Anda memerlukan pengalaman untuk mencapai kedalaman Roma 8 dan memahaminya. Terlebih lagi, tanpa pengalaman, tak mungkinlah anda memahami Roma 16.
Hidup Gereja Yang Riil
Kebanyakan pembaca Kristen menganggap Roma 16 sebagai satu pasal yang berisi salam-salam belaka. Memang kelihatannya demikian. Tetapi saya akan mengatakan dengan tegas, sebenarnya tidak demikian. Secara nyata dan praktis, pasal ini lebih dari sekedar daftar yang berisi salam belaka.
Kitab Roma merupakan satu sketsa yang lengkap dan sempurna atas hidup Kekristenan dan hidup gereja. Tak ada buku lain yang demikian lengkap seperti kitab Roma dalam membahas kedua perkara ini. Meskipun tidak dibahas secara mendetail, tetapi ia sangat lengkap. Inilah sketsa, garis besar, dari hidup kekristenan dan hidup gereja yang lengkap.
Memang agak mudah memahami kalau dikatakan Roma 6 dan Roma 8 mewahyukan hidup kekristenan, sedang Roma 12 mewahyukan hidup gereja. Akan tetapi, tidak mudah melihat apa yang diwahyukan dalam Roma 16. Sebagai pasal terakhir dari kitab ini, Roma 16 mewahyukan hidup gereja yang riil.
Hidup gereja yang riil tidak diwahyukan dalam Roma 15. Topik utama dalam Roma 15 adalah komunikasi antar gereja-gereja, persekutuan tubuh antar gereja-gereja. Anda tak dapat menemukan hidup gereja yang riil dalam Roma pasal 15. Istilah gereja atau pun gerejagereja sama sekali tak dipakai dalam pasal tersebut. Tetapi dalam satu pasal ini, pasal keenam belas, istilah gereja atau gereja-gereja digunakan sebanyak lima kali. Hidup gereja yang riil ada di dalam pasal ini.
Kita tak seharusnya menganggap Roma 16 hanya sebagai satu pasal yang berisikan salamsalam belaka. Pasal ini memuat tentang hidup gereja yang riil. Dari pasal ini kita dapat melihat bahwa hidup gereja yang tepat, pertama-tama, tergantung pada para saudari.
Sebelum Paulus memberi salam kepada kaum saleh, ia memberikan rekomendasi kepada mereka akan seorang saudari dengan cara yang sangat bermakna. Mungkin menurut pendapat kita, rekomendasi seperti itu harusnya diletakkan di akhir pasal, tetapi Paulus meletakkan rekomendasi bagi saudari tersebut pada butir yang pertama. Tambahan pula, setelah rekomendasi ini, Paulus memberikan salamnya kepada pasangan suami istri, namun yang disebutkan dulu adalah nama istrinya.
Kemudian ia menyalami Maria, seorang saudari, dan dua saudari lainnya yang tidak kita sebutkan , dan Persis, saudari lainnya lagi.
Di bawah inspirasi Roh Kudus, Paulus meletakkan rekomendasi dan salam-salamnya secara demikian dengan maksud untuk menunjukkan bahwa para saudari menempati urutan pertama dalam hidup gereja yang praktis.
Roh Yang Melayani
Sekarang kita perlu memasuki detail-detail yang bertalian dengan keempat saudari ini dan satu saudara.
Jika kalian membaca dengan cermat, kalian dapat melihat bahwa segala perkara yang bertalian dengan keempat saudari ini meliputi segala aspek dari hidup gereja yang riil. Pertama, Febe adalah seorang yang melayani, seorang diaken perempuan. Kata diaken berasal dari kata Yunani yang dilndonesiakan, yaitu untuk orang yang melayani. Karena itu, Febe lnewakili roh yang melayani dalam hidup gereja yang riil.
Dalam hidup gereja yang riil, perkara pertama bukanlah doktrin, tetapi pelayanan. Orang yang direkomendasikan ini bukanlah pendeta, bukan pula pendeta perempuan, tetapi seorang diaken perempuan, seorang yang berlelah, seorang yang melayani. Firman kudus sangatlah ekonomis, tetapi Paulus menggunakan dua ayat yang panjang untuk memuji saudari yang kekasih ini, untuk menunjukkan bagaimana ia melayani. "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani sebagai diaken gereja di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia di dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri" (Roma 16:1-2 T1). Mulamula Paulus menyebutnya diaken, kemudian menyebutnya pemberi bantuan (penunjang), ini merupakan sebuah kata yang bermartabat yang menunjukkan seorang yang senang membantu, menunjang, mensuplai, dan yang menunjukkan suatu penghargaan yang tinggi terhadap saudari itu.
Mungkin perawat terbaik di sebuah rumah sakit di Amerika bisa memberikan sedikit gambaran tentang pelayanan pemberi bantuan di dalam kitab Roma ini. Pada jaman Paulus, seorang pemberi bantuan adalah seorang yang selalu bersama-sama dengan anda, di sisi anda, memelihara dan merawat anda, mensuplai segala kebutuhan anda, menanggung semua beban anda, dan membereskan segala problema anda, memenuhi segala kebutuhan anda. Paulus minta kepada kaum saleh di Roma untuk memperhatikan Febe karena ia sendiri telah banyak melayani. Pelayanannya berarti bahwa ia ingin membagikan apa saja yang anda perlukan. Apa saja yang anda perlukan, entah besar atau kecil, segeralah ia memberikannya kepada anda. Pelayanan dari seorang perawat yang terbaik merupakan sepertiga gambaran dari pelayanan seorang pemberi bantuan seperti itu.
Yang kita butuhkan sekarang adalah melatih lebih banyak saudari-saudari menjadi perawat-perawat gereja. Dalam beberapa hal, gereja adalah sebuah rumah sakit, tempat perlindungan untuk merawat sedemikian banyak orang sakit. Kita perlu membawa orang-orang yang sakit ke dalamnya dan merawat mereka. Para saudara adalah dokternya, sedang para saudari dan sebagian saudara menjadi perawat-perawatnya.
Ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang,
juga kepadaku sendiri
Jika kalian, para saudari, mengasihi Tuhan dan sungguh-sungguh ingin bagi gereja dalam pemulihan Tuhan, kalian harus menganggap diri kalian sebagai orang-orang yang melayani, sebagai orang- orang yang memberikan perawatan, sama seperti para perawat di sebuah rumah sakit. Namun perawatan seorang perawat ini sendiri masih sepertiga dari pelayanan seorang pemberi bantuan dalam kitab Roma.
Kata "Roh Kudus" diterjemahkan sebagai "Penghibur" dalam bahasa Yunani adalah Parakletos. Sulit untuk menterjemahkan kata ini hingga mempunyai arti yang sama dengan aslinya. Saran yang terbaik adalah kata pemberi bantuan dalam kitab Roma. Roh Kudus adalah Pemberi bantuan/ Penunjang, dan semua saudari yang melayani adalah penunjang-penunjang. Selain itu, I Yohanes 2:1 mengatakan bahwa hari ini Tuhan Yesus terhadap Bapa adalah Penunjang kita. Dalam ayat ini kata Parakletos biasanya diterjemahkan Penganjur, Pengacara, tapi paling baik diterjemahkan Penunjang; yakni, seseorang yang dipanggil dan selalu berada di sisi anda untuk membantu segala sesuatu yang anda butuhkan. Seorang penunjang dalam kitab Roma merawat dan membantu segala perkara anda, segala perkara menurut hukum, sebab musabab secara hukum, dan juga membantu segala urusan yang anda butuhkan.
Saudari kita, Febe, seorang yang melayani,
yang memberikan bantuan kepada banyak orang
Sekelompok Saudari yang Melayani
Pokok pikiran dalam rekomendasi Paulus terhadap saudari ini adalah dalam garis ini. Di dalam setiap gereja lokal diperlukan sekelompok saudari yang melayani seperti saudari ini, sekelompok saudari yang berlelah untuk memelihara kaum saleh. Aku telah melihat praktek pelayanan seperti ini di antara para saudari di gereja Shanghai, yang merupakan gereja terbesar di Cina. Gereja yang 90% terbangun oleh pelayanan para saudari. Ministri saudara Nee ada di sane, tetapi ministrinya menyumbangkan hanya sepersepuluh dari pembangunan di dalam gereja itu.
Bukan hanya satu atau dua, juga bukan hanya sepuluh atau dua puluh, tetapi sejumlah besar saudari yang ada di Shanghai melayani kaum saleh, melayani rasul-rasul, pelayan-pelayan Tuhan. Pelayanan mereka lebih daripada pelayanan seorang perawat. Gereja di Shanghai terbangun pada tahun 1926. Sejak seat saudara Nee mulai ministrinya pada tahun 1927 hingga ia menikah tujuh tahun kemudian, yaitu tahun 1934, kebanyakkan ia dirawat oleh saudarisaudari yang kekasih itu, yang umurnya rata-rata lebih tua dari saudara Nee. Gereja di sana terbangun dengan baik sekali oleh pelayanan saudari-saudari itu.
Ketika pertama kali says pergi ke Shanghai pada tahun 1933, setiap Sabtu para saudari membersihkan balai sidang dan membersihkan semua kursi. Sangat sedikit kaum lelaki yang libur di hari Sabtu. Ada juga beberapa saudara di sana, mereka sebagai sekerja yang. sepenuh waktu. Kebanyakan saudara lainnya harus bekerja enam atau tujuh hari setiap minggu. Jadi pekerjaan pembersihan ini hampir-hampir seluruhnya di tangan saudari.
Tempat-tempat lain di Cina mempunyai keadaan yang sama. Namun satu hal yaitu, ternpat-tempat tertentu akan memiliki kondisi yang baik sekali jika di sana terdapat sekelompok saudari yang melayani. Di beberapa tempat kurang ada pembangunan gereja, terutama disebabkan oleh kurangnya saudari-saudari yang melayani. Karena alasan inilah, kita mempunyai beban untuk mengadakan beberapa kali latihan bagi para saudari hingga bangkit sekelompok saudari yang ingin melayani bagi pembangunan gereja yang kokoh.
Gambaran yang paling baik dari hidup gereja dalam bentuk miniatur Injil Yohanes 12, satu keluarga yang terdiri dari tiga orang; satu saudara dan dua saudari; mereka adalah Lazarus, Marta dan Maria. Dalam gambaran ini, Lazarus dibangkitkan dari kematian sebagai suatu kesaksian hayat. Tetapi di sana memerlukan pelayan Marta. Jangan kalian kira Marta tidak baik. Marta sungguh-sungguh baik. Gereja memerlukan sekelompok Marta untuk melayani. Maria pun di sana melayani, namun dengan cara yang berbeda. Lazarus adalah satu-satunya yang tidak melayani. Ia hanya duduk di sana sebagai suatu kesaksian yang hidup, dibangkitkan dari antara orang mati. Gambaran ini menujukkan bahwa pelayanan bukanlah pada para saudara, tetapi pada para saudari.
Dalam rekomendasi Paulus, aspek yang pertama dari hidup gereja yang nil secara tak sadar telah tercakup dalamnya. Secara tak langsung dalam rekomendasi ini ada roh pelayanan dari para saudari. Karena itu, terlebih dulu para saudari harus dilatih sebagai perawatperawat gereja.
Di Dalam Gereja Dan Bagi Gereja
Aspek vital yang kedua yang tersirat dalam rekomendasi Paulus terhadap saudari dalam Roma 16:1, Febe, yaitu ia adalah seorang saudari yang seratus persen bersangkut paut dengan gereja. Ia seorang saudari di dalam gereja. la dipuji sebagai seorang yang melayani di dalam gereja, melayani untuk gereja, dan melayani gereja secara langsung. Ia berlelah bagi banyak kaum saleh yang dikasihinya bukan dalam ruang lingkup yang lain, tetapi di dalam gereja. Ia adalah seorang saudari yang seratus persen di dalam gereja.
Saudari-saudari, selama kalian, melayani di dalam gereja, kalian berharga di hadapan Tuhan. Segala sesuatu yang kalian lakukan di dalam gereja mempunyai arti. Namun apa saja yang kalian lakukan di luar gereja tidaklah bararti banyak. Dalam hidup kekristenanku, aku telah melihat banyak saudari yang baik yang mengasihi saudara saudari lainnya, memelihara dan merawat mereka, tetapi semuanya berada di luar gereja. Akhirnya apa yang mereka lakukan menjadi hal yang menyedihkan karena dilakukan di luar gereja. Yang Tuhan inginkan yaitu melayani di dalam gereja, melayani untuk gereja, dan melayani gereja secara langsung. Ini lah topik utamanya.
Saudari dalam Roma 16:1, Febe, adalah seorang yang melayani, seorang perawat yang melayani, perawat gereja, seorang penunjang yang melayani, dan ia adalah seorang yang seratus persen di dalam gereja. Rekomendasi Paulus ini sangat bagus.
Priska Dan Akwila
Saudari kedua dalam Roma 16 adalah Priska (Priskila). Aku yakin dia seorang yang lebih kuat di dalam hidup gereja daripada suaminya, dengan pengertian ia yang memelopori perawatan gereja. Ke mana saja mereka pergi, ia dan suaminya merawat gereja dengan cara mengadakan sidang-sidang gereja di rumah mereka. Sewaktu mereka berada di Efesus, gereja berhimpun di rumah mereka. Sewaktu mereka di Roma, di sini pun gereja berhimpun di rumah mereka.
Paulus berkata bahwa keduanya ini mempertaruhkan diri mereka bukan hanya untuk dia saja, tetapi juga bagi gereja. Karena itu, Rasul Paulus berterimakasih kepada mereka, dan gereja-gereja juga berterima kasih kepada mereka.
Dalam satu keluarga, jika istri tidak memelopori untuk menempuh hidup gereja, suami akan selalu merasa terhalang. Cara terbaik dan jalan yang paling unggul bagi satu keluarga untuk menempuh hidup gereja yaitu sang istri yang menjadi pelopor. Dalam hal-hal lainnya istri tak seharusnya menjadi pelopor. Tetapi dalam menempuh hidup gereja yang praktis bagi keluarga, para istri boleh menjadi pelopor. Namun maksudku bukan dalam hal seperti pengajaran, mengambil keputusan, dan memberikan petunjuk, tetapi dalam melayani gereja, saudari boleh memelopori.
Keluarga Yang Mutlak Untuk
Hidup Gereja
Di dalam setiap keluarga, jika sang istri memelopori untuk menempuh hidup gereja, hal itu akan membuat kemudahan untuk membawa seluruh keluarga ke dalam hidup gereja. Tetapi jika sang istri tidak memelopori hal ini, melainkan suami yang memeloporinya, boleh jadi sulit bagi keluarga tersebut bisa menempuh hidup gereja. Kegagalan-kegagalan akan selalu muncul yang bersumber dari sang istri tidak mengambil inisiatif untuk menempuh hidup gereja.
Para saudara perlu memaafkan aku karena mendorong semua saudari menjadi berani untuk memelopori hal yang bersangkut paut dengan hidup gereja yang riil, membiarkan semua Akwila mengikuti Priska — Priska dalam satu perkara ini. Di sini seolah-olah para saudari melanggar prinsip kekepalaan, namun mereka tidak seharusnya membiarkan hukum atau agama menahan mereka dari perkara yang satu ini. Dalam setiap gereja lokal perlu ada sekelompok saudari yang berani memelopori hidup gereja yang praktis. Pada suatu saat Tuhan akan menunjukkan kepada kita bahwa semuanya ini benar-benar sesuai dengan kehendak hatiNya.
Para Saudari Memelopori
Dengan Mempertaruhkan Tengkuk Mereka Untuk Gereja
Hanya dalam perkara satu-satunya inilah para saudari diijinkan memelopori. Roma 16 memiliki wahyu samacam ini sehingga para saudari boleh bertindak sebagai pelopor dengan mempertaruhkan tengkuk mereka bagi gereja. Karena alasan inilah Akwila disebut di belakang Priska. Tuhan tidak mengijinkan para saudari bertindak sebagai pelopor dalam hal lainnya --- tidak mengijinkan mereka hanya untuk kerohanian mereka pribadi, untuk selera kerohanian pribadi, untuk segala sesuatu lainnya. Melakukan hal yang demikian berarti benar-benar melanggar prinsip, dan para saudari tak seharusnya melakukan hal itu. Tetapi di antara ribuan perkara, inilah satu-satunya perkara yang unik, di mana para saudari boleh memelopori untuk hidup gereja yang rill. Para saudari harus berani hanya untuk hidup gereja, bukan untuk kerohanian mereka sendiri. Kerohanian tidaklah terlalu berarti banyak. Satu-satunya perkara yang sangat bermakna adalah hidup gereja. Tidak perlu kalian mohon Tuhan mengampuni kalian atau memaafkan kalian karena kalian memelopori hal yang bersangkut paut dengan hidup gereja, karena Tuhan malahan akan mendorong anda untuk melakukan hal ini. Ia akan berkenan karena saudari memelopori hal ini, karena dalam jaman ini hanya sedikit keluarga yang bagi hidup gereja secara praktis. Tuhan akan sangat berbahagia terhadap istri yang memelopori keluarganya untuk memiliki hidup gereja.
Para saudari perlu terdorong untuk memelopori keluarga mereka untuk menempuh hidup gereja - bukan untuk mengajar, bukan untuk menjadi rohaniwan, juga bukan untuk pemberitaan Injil. Jika para saudari tidak mau berbuat demikian, mereka tidak dapat mencapai standar, tidak memenuhi syarat di hadapan Tuhan. Bahkan di dalam gereja di tempat ini, untuk hidup gereja para saudari harus memelopori, menjadi Priska-Priska.
Roma 16:1-23
1. Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani (menjadi diaken) jemaat di Kengkrea,
2. Supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orangorang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberi bantuan kepada banyak orang,juga kepadaku sendiri.
3. Sampaikan salam kepada Priska dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.
4. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua gereja bukan Yahudi.
5. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.
6. Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu.
7. Salam kepada Adronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah berada di dalam Kristus sebelum aku.
8. Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan.
9. Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.
10. Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.
11. Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.
12. Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.
13. Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku juga ibu.
14. Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.
15. Salam kepada Filologus dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.
16. Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.
17. Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaaan. Sebab itu hindarilah mereka!
18. Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan Bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.
19. Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersuka cita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat.
20. Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!
21. Salam kepada kamu dari Timotius, temanku sekerja, dan dari Lukius, Yason dan Sosipater, teman-temanku sebangsa.
22. Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini.
23. Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh gereja. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita.
Para Saudari Melayani dan Memelopori
Dengan mempertaruhkan Tengkuk Mereka
Untuk Hidup Gereja
Berlelah Dalam Hidup Gereja
Dalam Roma 16 ayat 6 dan 12 Paulus mengatakan bahwa Maria telah bekerja keras bagi rasul-rasul, dan Persis pun telah bekerja membanting tulang. Bekerja di sini berarti melayani.
Kita telah menunjukkan segala perkara yang bertalian dengan pars saudari dalam penghidupan gereja yang riil: seperti melayani, berlelah dan memelopori untuk hidup gereja.
Jika perkara-perkara ini diterapkan ke dalam praktek di antara kita, maka kita dapat segera nampak kalau situasi kita tidak sebanding dengan wahyu yang tercantum dalam Roma 16; yakni kurangnya roh yang melayani di antara para saudari. Jika ands mau memberiku kebebasan berbicara dengan terus terang dan dengan jujur tanpa menyalahi anda, aku akan menunjukkan kekurangan ini. Di antara para saudari lebih banyak bicara (ngobrol) daripada melayani. Kepala tak perlu berbicara tentang doktrin-doktrin, tapi perlu ada sesuatu yang riil yang perlu anda lakukan, yaitu melayani orang-orang.
Kata-Kata Yang Melayankan Hayat
Kepada Orang Lain
Ada dua Cara yang berbeda untuk membicarakan kebenaran-kebenaran atau doktrin-doktrin kepada orang-orang. Satu cara yaitu membicarakannya secara doktrinal; sedang cara lainnya yaitu melayani orang-orang dengan kebenaran-kebenaran, karena anda tahu benar seseorang itu memerlukan kebenaran khusus agar bertumbuh dalam hayat. Pembicaraan semacam ini, meskipun nampaknya membicarakan doktrin, namun sebenarnya melalui berbicara melayani orang-orang lain, sesuai dengan kebutuhan mereka dalam hayat melayani mereka. Pembicaraanku dengan anda seharusnya melayankan sesuatu kepada anda.
Tidak Berkata yang Sia-sia
Seringkali para saudari membicarakan tentang doktrin-doktrin tertentu, tetapi dalam pandangan Tuhan pembicaraan mereka sebenarnya bisa dianggap sebagai sia-sia (ngobrol) karena dalamnya tak ada unsur pelayanan. Tak seorang pun dari mereka yang berbicara membutuhkan perkara-perkara itu untuk pertumbuhan hayat mereka, karena itu pembicaraan mereka menjadi sia-sia. Paulus mengucapkan kata-katanya ini dalam I Timotius 5:13, "Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas." Mencampuri soal orang lain berarti ikut campur dalam urusan-urusan orang lain. Segala perkara yang tak sepatutnya diucapkan ini boleh jadi adalah perkara-perkara yang baik, doktrin-doktrin yang baik, bahkan yang sangat sorgawi dan rohani, namun yang sebenarnya tak perlu mereka utarakan.
Jika semua saudari memang berbeban terhadap roh yang melayani, maka tak seorang pun dari mereka yang mempunyai waktu, tenaga, semangat, perhatian atau pun hati untuk membicarakan sesuatu yang bukan melayankan hayat kepada orang lain. Saudari-saudari akan dijenuhi sepenuhnya dengan roh yang melayani.
Dalam sebuah rumah sakit, perawat-perawat yang baik bukan pembicara-pembicara yang baik. Seluruh waktu dan tenaga mereka sepenuhnya mereka curahkan untuk melayani. Hanya orang yang malas yang suka berbicara. Kiranya Tuhan melatih semua saudari menjadi perawat-perawat gereja yang baik dan tepat.
Jika kalian, para saudari, sungguh-sungguh ingin menjadi orang-orang yang melayani dalam gereja, pertama-tama kalian semua wajib belajar, sama sekali tak berbicara yang sia-sia. Kebanyakan saudari menganggap gosip-gosip sebagai kata-kata yang sia-sia, tetapi lupa kalau perkataan tentang doktrin pun sia-sia. Di sini saya ingin dengan tegas memberitahu anda, bahwa perkataan yang sia-sia tentang doktrin juga adalah gosip. Pembicaraan anda seharusnya melayankan sesuatu kepada orang lain, yaitu yang mereka butuhkan untuk pertumbuhan hayat mereka. Karena anda tabu bahwa orangorang tersebut memerlukan ini, layanilah mereka dengan ini untuk pertumbuhan mereka. Jika mereka tidak memerlukan itu namun anda membicarakannya juga, maka pembicaraan anda adalah pembicaraan yang sia-sia, kosong. Apakah kata-kata anda itu sia- sia atau tidak, hal itu bukan tergantung pada judul pembicaraan anda, tetapi pembicaraan anda itu mereka butuhkan atau tidak. Jika tidak dibutuhkan, apapun yang anda katakan adalah sia-sia, kata-kata yang kosong. Alkitab menyebut jenis kata-kata seperti ini adalah kata sia-sia (Mat.12:36) karena anda bermalas-malas, anda tidak melakukan sesuatu pun, anda tidak memiliki pelayanan yang menyibukkan anda. Karenanya anda punya semangat, bahkan berminat dan mempunyai waktu untuk membicarakan segala hal yang sia-sia.
Melayani meliputi perkara-perkara materi dan rohani. Saudari-saudari bisa melayani kaum muda dengan hayat rohani. Mereka harus melayani semua kaum yang kekasih agar kerohanian mereka bertumbuh.
Jika gereja ingin bertumbuh dan terbangunkan, pertama-tama semua saudari harus belajar tidak berbicara yang sia-sia. Ini suatu pelajaran yang besar. Dengan kata lain, saudarisaudari harus belajar apa yang perlu dikatakan, dan apa yang tidak perlu dikatakan. Ada banyak perkara-perkara yang baik yang tidak perlu dibicarakan oleh para saudari. Mereka benarbenar tak perlu mempercakapkannya.
Belakangan ini seiring dengan Roma 8, kita telah berkali-kali menekankan bahwa kita harus hidup dan bertindak menurut roh. Saya yakin sekali banyak pembicaraan di antara kaum imani tidak menurut rob. Yang saya maksud bukan saja pembicaraan tentang berbelanja atau tentang pernikahan, tetapi juga pembicaraanpembioaraan yang sia-sia tentang doktrin. Sandara-saudara dan saudari-saudari, semuanya bares belajar, pertama-tama membatasi bukan dalampikiran kits, tetapi mulut kita. Janganlah meugira berjalan menurut roh itu hanya berarti menggunakan kedua kaki kita. Hidup dan bertindak menurut roh yang pertama-tama berarti menggunakan bibir kita. Kits perlu belajar berbicara menurut roh.
Melayani Melalui Doa
Melayani orang lain dengan sesuatu juga meliputi perkara berdoa bagi orang-orang lain. Seorang saudari mungkin menyadari ada empat saudari muda yang memerlukan seseorang untuk melayani mereka melalui doa-doa, tanpa perlu menegur mereka juga tanpa perlu memberitahu kalau ia berdoa bagi mereka. Ia hanya perlu melayani mereka dengan doanya, dengan perataraannya, bahkan dengan mati-matian menjadi penengah mereka. Doa tersebut juga merupakan satu jenis pelayanan.
Di Shanghai saudari-saudari yang tua melayani dengan cara ini. Mereka tidak saja banyak berdoa bagi saudari-saudari muda, tetapi juga bagi banyak saudara. Sebagai contoh, seringkali seorang saudara berdiri dalam sidang dan mengatakan sesuatu yang tak patut ia katakan. Saudari-saudari yang melayani tersebut tidak mengatakan sesuatu pun, tetapi mereka menerima beban itu, pulang ke rumah dan berdoa bagi saudara itu, melayani saudara itu dengan doa mereka. Setelah sejangka waktu, saudara itu bersaksi bagaimana Tuhan telah mengubahnya. Doa para saudari itu merupakan suatu pelayanan terhadap saudara, yang membukakan jalan bagi Tuhan untuk berbuat sesuatu.
Doa para saudari merupakan satu Pelayanan
Saudari-saudari yang melayani itu juga sadar kalau sejumlah kaum muda memerlukan dos-doa mereka untuk pernikahan mereka. Untuk kasus yang sama, semua saudari tersebut bekerja bersama-sama berdoa bagi pernikahan saudara tertentu. Itulah pelayanan.
Seringkali para saudari mengundang beberapa saudari muda yang mereka doakan untuk makan malam. Selama makan malam, tak pernah muncul kata-kata yang sia-sia, gosip-gosip, atau kata-kata kosong tentang hal-hal khusus, juga tak ada percakapan sia-sia tentang peristiwa-peristiwa dalam gereja, yang ada hanyalah astu pelayanan yang membuat saudari-saudari yang lebih muda itu terbangun. Hari ini terlampau banyak pembicaraan yang sia-sia tentang peristiwa-peristiwa dalam gereja, tetapi tak banyak melayani. Semua pembicaraan tentang demikian banyak hal, semua percakapan sia-sia tentang orang-orang lain, di pandangan Allah kesemuanya itu tak lain adalah gosip, dan menyia-nyiakan waktu anda. Para saudari haruslah menjadi orang-orang yang melayani dan harus belajar melayani.
Untuk melayani, pertama-tama anda harus berhenti berbicara yang sia-sia. Anda harus belajar tentang apa yang tidak perlu dibicarakan, atau menjadi sederhana, belajar tidak berbicara yang sia-sia. Namun anda masih memerlukan persekutuan dengan orang-orang lain dengan suatu roh yang melayani. Jika anda memiliki pelayanan di dalam roh seperti ini dan dengan beban seperti ini, maka hari-hari anda akan menjadi lebih sibuk. Demikian banyak saudara memerlukan pelayanan anda. Mereka memerlukan doa-doa anda. Dan banyak sekali saudarisaudari yang memerlukan pelayanan anda. Para penatua pun memerlukan pelayanan anda. Pekerjaan, ministri, memerlukan pelayanan anda.
Jika para saudari memang bersungguh-sungguh dengan Tuhan, banyak hal bisa mereka lakukan dengan jalan pelayanan ini. Persekutuan seperti ini pasti akan menimbulkan suatu keinginan di dalam kalian untuk melayani orang-orang. Kalian perlu berlelah, kalian perlu melayani, dan perlu menjadi penunjang yang baik. Dan kesemuanya ini harus dilakukan di dalam gereja dan bagi gereja.
Melalui persekutuan seperti ini, saya yakin Tuhan akan memberikan beban kepada semua saudari, dan Ia pun akan mencelikkan mata kalian supaya nampak betapa banyak perkara yang perlu diperhatikan melalui pelayanan kalian. Jalan terbaik untuk melayani adalah berdoa. Di rumah Maria dalam Kisah Para Rasul 12 ada perhimpunan doa yang berdoa bagi Petrus yang sedang dipenjarakan. Alkitab tidak menyebutkan rumah-rumah lainnya. Perhimpunan doa di rumah Maria ini merupakan suatu pelayanan.
Ketika kalian, para saudari, nampak suatu kebutuhan dalam hidup gereja, tak perlu kalian membicarakannya, tetapi tanggunglah beban untuk berdoa. Ketika kalian melihat ada suatu kebutuhan untuk suatu peremukan hayat yang kalian tak seharusnya berkomentar. Kalian perlu menanggung beban dengan empat atau lima, delapan atau sepuluh saudari bersama-sama datang dan berdoa, melayani untuk tujuan ini. Berdoa bagi peremukan hayat yang riil ini.
Cara terbaik untuk melayani adalah berdoa
Kapan anda nampak seorang saudara menjadi problem bagi gereja, atau seorang saudari mempunyai beberapa masalah dalam penghidupannya, janganlah berkomentar. Terimalah beban untuk berdoa dengan dua atau tiga saudari lainnya, melayani untuk tujuan ini. Jika kalian ingin menjadi orang yang demikian, maka banyak di antara kalian yang menjadi Febe-Febe hari ini. Dengan demikian gereja akan memiliki pelayanan yang terbaik.
Kita semua perlu belajar melayani gereja dan melayani kaum saleh seperti saudari Febe yang dipuji oleh Paulus dalam Roma 16. Hal ini haruslah menjadi beban para saudari, dan mereka benar-benar memiliki posisi untuk melayani secara demikian. Jika para saudari menerima beban ini dan setia kepada Tuhan dalamnya, mereka akan dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh para saudara. Kita benar-benar memerlukan saudarisaudari yang demikian. Kiranya Roh Kudus menterjemahkan kata-kata ini kepada kita.
Witness Lee Anaheim, California 11 Maret 1975
SEPATAH KATA BAGI SAUDARI
(2)
Para Ibu Yang Penuh Kasih Di
Dalam Hidup Gereja
Pembacaan Alkitab :
Yohanes 19:25-27; I Petrus 5: 13b;
I Timotius 1:2-3a; Titus 1:4a; Roma 16:13
Roma 16 merupakan sebuah pasal yang sepenuhnya menyinggung tentang hidup gereja yang praktis. Pasal ini menggunakan istilah gereja atau gereja-gereja sebanyak lima kali; dan istilah ini digunakan mutlak bukan secara doktrin. Pertama-tama pasal 16 menggunakan istilah gereja, yaitu gereja lokal, gereja di Kengkrea. Beberapa pasal lainnya dalam suratsurat kiriman berulangkali menggunakan istilah gereja atau gereja-gereja.
Tambahan pula, tak satu pasal pun dalam surat-surat kiriman yang menggunakan istilah saudari lebih dari sekali. Istilah saudara lebih sering dipakai dalam Perjanjian Baru daripada istilah saudari. Di tempat-tempat lain tak akan kita temukan istilah "saudari kita". Paulus memulai pasal ini dengan ucapan, "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita." Dalam ayat-ayat berikutnya ia menyampaikan salam kepada saudara-saudara, tetapi ia tidak mengatakan "saudara kita". Hanya dalam rekomendasinya terhadap Febe ia mengucapkan "saudari kita".
Ibunya adalah juga Ibuku
Ada sesuatu hal lagi yang merupakan konsep yang tak umum dalam pasal ini yang menyangkut hidup gereja dalam ayat 13, "Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu." Penekanan dalam Roma 16 adalah pada saudari-saudari bukan saudara-saudara. Di sana ada sebutan ibu, namun tak ada sebutan bapa. Baik sebutan saudari atau ibu, sebutan ini bukanlah dalam daging. "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita", bukanlah saudari yang di dalam daging. Sebutan ibu dalam pasal ini adalah ibu Rufus di dalam daging, tetapi ia juga adalah ibu Paulus. Memang ia bukanlah ibu Paulus di dalam daging. Tak satu ayat pun yang memberitahu nama ibu dan ayah Paulus di dalam daging. Sebutan ibu dalam ayat 13 adalah ibu di dalam daging dari Rufus, namun bukan ibu Paulus yang sebenarnya dalam daging.
Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa sedikitnya Paulus mempunyai dua anak, yang bernama Timotius dan Titus, tetapi mereka ini bukanlah anak di dalam daging. Paulus menggunakan suatu ungkapan yang akrab dengan menyebut mereka anak. "Kepada Timotius, anakku", dan "Kepada Titus, anakku yang sah" (I Tim.l 2; Tit.1:4). Akan tetapi, Perjanjian Baru sanga sedikit sekali memberitahu kita tentang pertal an di dalam daging secara langsung di antara ara rasul. Kita tak bisa menemukan sebuah ayat pun yang memberitahu kita berapa banya putra putri Petrus. Tetapi Petrus justru memberitahu kita kalau ia mempunyai seorang putra yang bernama Markus, "Markus, anakku." Sudah tentu Markus bukanlah anak Petrus di dalan daging. Alkitab memberitahu kita ibu Markus bernama Maria, namun tidak memberitahu kita nama ayahnya di dalam daging. Petru adalah ayah Markus, bukan ayah di dalan daging, melainkan ayah di dalam roh, ayah dalam iman.
Tak satu pun kata-kata dalam Alkitab yang sia-sia. Menurut catatan Yohanes 19, ketika Tuhan Yesus di salib, di mana Ia merasakan penderitaan, mendekati akhir penyalibanNya, Ia memandang ibuNya di dalam daging. Pada seat itu empat saudari berdiri dekat salib, memandang Tuhan yang tersalib. Maria ada di sana beserta saudara perempuannya, dan dua saudari lainnya yang juga bernama Maria. Saudara perempuan Maria adalah ibu Yakobus dan Yohanes; jadi Yakobus dan Yohanes adalah saudara sepupu Yesus. Menjelang akhir penyalibanNya, Tuhan Yesus memandang ibuNya di dalam daging, dan berkata kepadanya, "Ibu, janganlah melihatKu, tetapi pandanglah anakmu." Pada saat yang bersamaan Ia berkata kepada sepupuNya, yakni Yohanes, "Inilah ibumu!" (Yoh.19:25-27). Kisah ini tak bisa dipandang sebagai cerita saja, pasti ada sebabnya mengapa hanya dicatat dalam Injil Yohanes bukan dalam ketiga Injil lainnya.
Masing-masing Injil mengandung catatan-catatan tertentu yang sangat bermakna. Sebagai contoh, Injil Lukas merupakan sebuah kitab tentang penyelamatan, memberikan kita sebuah catatan yang istimewa tentang dua orang penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, yang sewing mengejek Tuhan, sedang lainnya mengomeli si pengejek serta berseru kepada Tuhan. Tuhan kemudian memberitahu bahwa pada hari ini ia dan Tuhan akan bersama-sama di dalam Firdaus (Luk.23:39-43). Catatan dalam Injil Lukas ini pun bukan sekedar kisah belaka. Perkataan Tuhan kepada penjahat di atas salib itu menunjukkan keselamatan, dan Injil Lukas merupakan sebuah kitab tentang keselamatan. Catatan ini tidak tercantum dalam Injil Yohanes, karena Injil Yohanes bukan kitab tentang keselamatan. Catatan Lukas tidak tercantum dalam Injil Yohanes, dan catatan dalam Injil Yohanes tidak diulangi dalam Injil Lukas.
Suatu Pengalihan Hayat
Injil Yohanes adalah sebuah kitab hayat, bukan hayat alamiah, tetapi hayat yang telah dialihkan dan diubah. Untuk menggenapkan tujuannya, Yohanes memberi kita sebuah catatan yang menunjukkan bagaimana hayat orang yang percaya Kristus bisa dialihkan oleh salib Yesus dan oleh kebangkitanNya. Jika anda memandang pada salib Yesus, anda akan memperoleh pengalihan. Perkataan Tuhan Yesus kepada Yohanes dan ibunya, merupakan sebuah kata yang menunjukkan kepada kita, bahwa pembagian hayatNya, pelepasan hayat melalui kematianNya mengalihkan hayat orangorang.
Pengalihan oleh Salib Kristus dan KebangkitanNya
Asalnya, Yohanes bukan putra Maria, dan Maria bukan ibu Yohanes. Tetapi karena penyaliban Yesus, Maria, ibu Yesus, menjadi ibu Yohanes. Yohanes, yang adalah putra saudara perempuan Maria, menjadi putra Maria. Ini bukanlah kisah adopsi, dan tidak berarti Tuhan Yesus adalah seperti seorang hakim yang melaksanakan pengadopsian ketika mereka semua yang berdiri dekat salib. Ini bukan peristiwa adopsi, melainkan suatu pengalihan. Menurut hayat di dalam daging, Yohanes adalah keponakan Maria, dan Maria adalah bibi Yohanes. Tetapi melalui memandang pada salib, mereka menerima hayat yang lain. Hayat yang lain masuk ke dalam mereka. Dalam hayat kedua, keponakan menjadi anak yang sah, dan bibi menjadi ibu yang sah.
Perjanjian Baru tidak memberitahu kita tentang nama-nama anak Petrus maupun Paulus menurut daging. Tetapi memberitahu kita tentang Markus, Timotius dan Titus. Perjanjian baru sebagai suatu catatan rohani tidak memberitahu kita tentang hubungan keluarga di dalam daging; melainkan mencantumkan catatan tentang keluarga rohani kita. Kita mempunyai suatu kebiasaan menyebut yang lain dengan saudara dan saudari di dalam gereja, tetapi hal ini boleh jadi hanyalah suatu istilah keagamaan tanpa kita memiliki realisasi yang sesungguhnya bahwa kita adalah saudarasaudara dan saudari-saudari yang memiliki hayat yang sama. Jika di hadapan seseorang anda memberikan rekomendasi terhadap saudari anda di dalam daging, pastilab di dalam anda ada suatu realisasi yang dalam bahwa orang ini mempunyai hubungan yang khusus dengan anda. Kalau anda tak mempunyai realisasi yang demikian sewaktu anda merekomendasi seorang saudari di dalam Tuhan, tetapi anda menyebutnya saudari anda, maka sebutan yang anda pakai hanyalah suatu istilah keagamaan.
Catatan tentang keluarga rohani kita
Sekalipun dalam hidup gereja kita, saling menyebut-memanggil dengan saudara atau saudari kita, namun aku tak pernah mendengar kaum saleh menyinggung tentang anak-anak mereka di dalam gereja, anak-anak mereka di dalam roh. Perkataan ini kelihatannya sulit diterima dan bahkan mungkin akan menyalahi orang, tetapi kita memerlukan sepatah kata yang kuat dan tajam yang menembus ke dalam kita. Saya berharap harinya akan tiba dan banyak kaum saleh akan memiliki anak-anak yang sesuai dengan catatan rohani ini. Janganlah kita hanya memanggil satu sama lain dengan sebutan saudara atau saudari dengan tanpa arti.
Paulus berkata, "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita", dan "Salam kepada Rufus,... ibunya, yang bagiku adalah juga ibu." Paulus menyebutnya ibunya. Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa Paulus mempunyai seorang ibu, dan dua putra. Ibunya adalah ibu Rufus, sedang kedua putranya adalah Timotius dan Titus. Tetapi tak seorang pun dari mereka ini mempunyai pertalian secara daging.
Ibu-ibu Dalam Hidup Gereja
Untuk memiliki praktek hidup gereja yang tuntas, dalam gereja lokal harus ada saudarisaudari yang sejati dan ibu-ibu yang sejati. Dalam berita terdahulu, bebanku adalah memberitakan bahwa kalian perlu menjadi saudari yang melayani, tetapi sekarang bebanku adalah : kalian perlu menjadi ibu. Selama di tengah-tengah kita kekurangan saudari-saudari yang seperti Febe, hidup gereja belumlah Namun, pelayanan saudari itu adalah pada awal Roma 16, dalam ayat pertama. Agar hidup gereja yang riil mencapai puncaknya, setiap gereja harus memiliki ibu-ibu yang sejati.
Kalau di depan, saya mengusulkan para saudari perlu dilatih menjadi orang-orang yang melayani, sama seperti para perawat dilatih di rumah-rumah sakit untuk merawat orang-orang sakit, tetapi sekarang aku harus berkata, di atas bumi ini, tak pernah ada sekolah yang melatih para ibu untuk menjadi ibu-ibu. Aku tak pernah mendengar ada seorang menerima latihan untuk memahami bagaimana menjadi seorang ibu sebelum is menjadi ibu. Satu– satunya cara agar seseorang itu bisa menjadi seorang ibu adalah melalui melahirkan seorang anak. Dan dengan adanya anak itu memaksa ia melatih diri sendiri.
Berlatih menjadi ibu
Banyak orang tua mencoba melatih anak-anak mereka. Namun akhirnya mereka menyerah karena latihan itu tidak praktis. Hal seperti ini tidak riil seperti sesuatu dalam mimpi. Bagi seorang wanita muda, latihan yang paling praktis untuk menjadi seorang ibu adalah adanya seorang anak kecil lahir darinya. Dulu ia tidak mengerti bagaimana menjadi ibu, tetapi hari ini, setelah seorang bayi terlahir, esok paginya ia mulai berlatih. Dan tak lama kemudian, ia akan lulus dari latihan ini.
Ada sejumlah prinsip yang baik dan mendasar, yang hampir-hampir terlupakan di antara kaum imani bagi generasi-generasi selanjutnya. Jika hal ini dipraktekkan, yaitu setiap kaum imani baru mempunyai seseorang yang merawat mereka dengan sungguh-sungguh sebagai orang tua rohani, maka banyak kaum imani barn yang bisa mendapatkan bantuan dalam hidup rohani serta hidup gereja mereka.
Dalam latihan pada tahun 1948, saudara Nee memberitahu kaum saleh, terutama kepada para saudari, yaitu mereka seharusnya menjadi ibu bagi kaum saleh muda lainnya. Banyak saudari yang mesing-masing bisa merawat dua atau tiga anak di dalam roh.
Kebanyakan anak-anak kurang begitu menghargai orang tuanya sendiri, terutama ketika mereka menginjak umur belasan tahun. Tetapi jika saya mengambil anak-anak anda sebagai anak-anakku, mereka akan lebih menghargai kata-kataku. Jika anak— anakku mempunyai problem yang sama, mereka tak mau terbuka terhadapku. Tetapi jika anda mengambil mereka sebagai anak-anak anda, mereka akan mengungkapkan semua kesulitan mereka kepada anda. Jadi, sekali pun mereka tak mau menerima perkataanku, namun mereka mau menerima nasihat anda. Seringkali timbul banyak masalah antara orang tua dengan anakanak belasan tahun. Sedikit sekali anak-anak yang seumur itu mau patuh dan that. Banyak anak yang bandel senang mendengar nasihat orang lain daripada orang tua mereka sendiri.
Peralihan hayat melalui memandang pada salib
Kita semua memerlukan kelahiran yang kedua, dan kita pun memerlukan ibu yang kedua. Jika kalian pare saudari mengambil beban dengan menengok pada salib, membiarkan diri kalian memiliki pengalihan hayat, dan menerima beberapa kaum muda yang berusia sekolah tingkat lanjutan menjadi anak-anak anda, dalam waktu lima tahun, pasti akan ada suatu kebangunan dalam gereja. Cara terbaik untuk memiliki pengalihan hayat adalah dengan memandang pada salib. Anda perlu membawa seorang muda kepada salib dan memandang Yesus yang tersalib. Ia akan berkata, "Pandanglah ibumu. Inilah ibumu." Dan Ia akan berkata kepada kalian, "Lihatlah anakmu. Inilah putramu", atau, "Inilah putrimu."
Kelahiran yang kedua
dengan keluarga yang kedua dalam hidup gereja
Setiap saudari dari segala umur perlu menjadi seorang ibu bagi orang-orang lainnya. Dengan merawat seorang anak, anda akan bertumbuh dan menjadi matang. Dalam hayat alamiah, cara terbaik untuk orang-orang muda agar menjadi matang yaitu memiliki dua anak. Demikian juga, dengan mengambil beberapa kaum muda sebagai anak-anak rohani anda akan membuat anda bertumbuh.
Tetapi, merawat beberapa orang dengan cara ini merupakan suatu ujian besar. Jika hayat alamiah anda belum tersalib, belum pernah memiliki suatu pengalihan, praktek seperti ini akan menjadi jerat. Anda akan jatuh ke dalam kasih alamiah dan terjerat oleh emosi yang bersifat daging. Praktek seperti ini akan berhasil hanya melalui pengalihan hayat lewat salib.
Dalam hidup gereja kita memerlukan saudari-saudari dan saudara-saudara yang sejati, teristimewa kita memerlukan ibu-ibu yang sejati. Semua saudari perlu terdorong untuk merawat beberapa anak rohani. Hal ini bukan perkara yang ditetapkan kepada para saudari, namun perlu para saudari menerima beban ini.
Pelindung dan penunjang
Tanpa beberapa anak rohani, para saudari lebih mudah undur. Tak peduli betapa mudanya usia anda, satu atau dua anak rohani akan menjadi pelindung anda dan penunjang anda dalam banyak aspek. Perawatan atas anak-anak ini akan membawa suatu perubahan besar di dalam anda. Seorang wanita muda yang belum mempunyai anak akan terlalu bebas. Tak ada sesuatu yang mengikat dan membatasinya, namun ia pun tak memiliki pelindung dan penunjang. Dua orang anak akan menjadi pelindung, penjaga dan pembatas terhadap ibu tersebut, selain itu mereka pun akan menjaganya dari kegagalan. Tanpa anak-anak, mudah sekali saudari-saudari melakukan kesalahan-kesalahan, tetapi dengan adanya dua atau tiga anak, anak-anak ini akan menjaga ibu-ibu dari keadaan melakukan kesalahan-kesalahan.
Karena itu semua saudari perlu menjadi saudari-saudari dalam realitas. Saudari kita Febe, dalam Roma 16:1, adalah seorang saudari yang sejati. Ia adalah seorang pelayan, ia pun merawat saudara saudari lainnya seperti seorang perawat, seorang penunjang, ia seorang wanita yang memenuhi segala kebutuhan orang lain. Tetapi menjadi seorang saudari seperti itu dalam hidup gereja masih belum berada di puncaknya. Dalam hidup gereja perlu memiliki ibu-ibu, bahkan hamba-hamba Tuhan pun perlu memiliki ibu-ibu. Rasul Paulus memerlukan seorang ibu. Ibu Rufus itulah ibunya. Tanpa seorang saudari sebagai ibu yang merawat mereka, semua orang yang mengemban beban bagi pelayanan Tuhan akan merasakan sedih.
Banyak saudari perlu menjadi ibu-ibu yang sejati dalam hidup gereja. Cara terbaik untuk menanggulangi para saudari yang banyak bicara adalah memberi mereka dua belas anak. Semakin banyak anak yang mereka miliki, mereka semakin tak ingin berbicara karena mereka harus bersifat praktis. Mereka tahu barbicara yang sia-sia adalah terlalu banyak teori. Pembicaraan sia-sia mereka berubah menjadi permohonan minta tolong. Setelah selesai memandikan sembilan anak, masih ada tiga orang anak lagi yang masih kecil- kecil yang perlu dimandikan. Mereka tak ada perhatian, tak ada semangat, tak ada tenaga, tak ada Kati, tak mempunyai kapasitas, serta tak ada waktu lagi untuk mempercakapkan siapa-siapa yang segera menikah. Anak-anak akan mengubah seluruh situasinya.
Jika kalian sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, anda perlu memandang pada keluarga gereja, dengan sejumlah reme1a yang memerlukan ibu-ibu rohani untuk merawat mereka. Kalian masing-masing perlu menerima beban untuk merawat sedikitnya seorang sebagai anak rohani kalian. Semua orang tua akan memberitahu anda bahwa mereka memerlukan bantuan kalian.
Hubungan Keluarga yang Riil
Jika kita saling menyebut saudara dan saudari antar satu sama lain dalam hidup gereja, namun ketika kita menghadapi perkara-perkara yang riil, kita tidak saling merawat anak-anak saudara atau saudari lainnya, maka semua anak generasi kedua akan tahu bahwa persaudaraan dan persaudarian kita tidak sejati. Bagi mereka, persaudaraan dalam hidup gereja adalah sesuatu gema di udara saja. Tetapi jika ada orang yang mau mengambil orang-orang muda itu dan merawat mereka seperti merawat anak sendiri, persaudaraan dalam hidup gereja akan menjadi persaudaraan yang riil. Kedua pihak akan mendapatkan keuntungan. Inilah konsepsi Paulus ketika ia menulis Roma 16. Kalau tidak, bagaimana ia bisa menulis seperti ini, "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita". "Salam kepada Rufus, ... ibunya, yang bagiku adalah juga ibu." Ini berarti semua orang pada jaman itu dalam hidup gereja memiliki peng alihan hayat melalui penyaliban dan kebangkitan Kristus.
Pengalihan Hayat
melalui penyaliban dan kebangkitan Kristus
Salib ada di sini. Pada sisi salib ini, Maria adalah Maria, dan Yohanes adalah Yohanes. Keduanya dalam darah ataupun daging saling tak ada sangkut pautnya. Tetapi pada sisi kebangkitan, Yohanes menjadi putra Maria, dan Maria menjadi ibu Yohanes. Mereka mempunyai hubungan keluarga yang kedua, bukan yang pertama. Hubungan yang pertama ada di dalam daging, tetapi yang kedua ada di dalam hayat yang telah dialihkan. Perkara ini tercantum dalam Alkitab, tetapi hal ini telah dilalaikan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini.
Dalam Perjanjian Baru sangat sulit menelusuri urutan keluarga rasul-rasul yang di dalam daging. Yang mudah dilihat di antara kaum imani semula adalah kelahiran kedua dengan hubungan keluarga yang kedua. Di antara orang-orang Kristen hari ini, banyak yang berbicara tentang kelahiran yang kedua, tetapi hampir-hampir tak pernah terdengar tentang hubungan yang kedua. Jika kita memiliki kelahiran yang kedua, seharusnya pastilah kita juga mempunyai keluarga yang kedua. Jika kita memiliki keluarga yang kedua, pasti juga ada hubungan keluarga. Tidaklah cukup hanya mengatakan bahwa kita berada di dalam keluarga besar. Kita harus mempunyai hubungan keluarga yang sejati dengan saudari-saudari dan ibu-ibu.
Merawat orang lain bukanlah suatu hal yang mudah. Namun setelah kita bertumbuh, kita lebih sulit lagi menerima pemeliharaan orang lain. Akan tetapi, bagaimanapun juga kita semua perlu rawatan orang lain. Rawatan mereka adalah suplai makanan kita yang sejati, pelindung kita yang sejati. Saudari-saudari yang lebih tua tidak seharusnya menganggap bahwa mereka bukan lagi anak-anak karena mereka telah menjadi ibu. Mereka perlu belajar menjadi anak-anak dan mengijinkan orang lain jugs merawat mereka.
Semua orang di antara kita memiliki kelahiran yang kedua, dan kita pun memiliki keluarga yang kedua. Dalam keluarga kedua, kite semua perlu memiliki hubungan keluarga yang kedua. Keluarga ada di dalam hubungan. Jika tidak ada hubungan keluarga, maka tak ada keluarga yang sejati. Tanpa hubungan keluarga, kita takkan merasa terdorong terhadap situasi yang ada dalam hidup gereja. Tanpa realitas ke.emuanya ini, kita tak mempunyai pelaksanaaa hidup gereja.
Para saudari perlu dilatih menjadi orangorang yang melayani, dan mereka perlu belajar menjadi ibu. Sebelum ada ibu-ibu yang sejati di dalam hidup gereja, hidup gereja belumlah riil, belum mencapai puncaknya.
Hal menjadi ibu akan mendatangkan banyak pelajaran, bahkan dalam banyak aspek akan menempatkan anda pada ujian yang sejati. Anda akan nampak betapa anda mengasihi diri sendiri lebih daripada mengasihi orang lain, betapa anda hanya memperhatikan diri sendiri. Semua ini akan diuji dan disingkapkan. Tanpa ujian ini, anda tak akan pernah menyadari betapa egoisnya anda dan betapa anda lebih banyak di dalam diri anda sendiri. Perkaraperkara ini tidak akan tersingkap sebelum anda mengambil beberapa saudara saudari sebagai anak-anak anda. Anak-anak rohani yang baik ini akan menyingkapkan dengan tuntas keadaan anda yang sebenarnya.
Anda mungkin berbicara tentang peremukan diri. Seringkali saya berkata, bahwa para saudari memerlukan suami-suami dengan beberapa penolong-penolong kecil untuk meremukkan mereka, tetapi yang paling balk untuk melakukan peremukan ini adalah anak-anak rohani. Betapa banyak peremukan yang akan anda alami bila anda menjadi seorang ibu yang merawat orang lain. Kita benar-benar memerlukan kasih karunia untuk menempuh jalan ini. Tidaklah cukup hanya menjadi seorang saudara atau seorang saudari secara umum saja. Semua saudari harus menjadi saudari yang melayani, dan tak peduli apakah kita telah memiliki anak atau tidak, kita harus menjadi ibu. Inilah cara terbaik untuk menerima berkat, pertumbuhan, kerohanian, dan kenikmatan yang riil akan Tuhan.
Setiap perkara dalam hidup gereja adalah riil
Kapan anda menjadi ibu yang demikian, sepia sesuatu dalam hidup gereja pasti menjadi riil. Tak akan ada lagi percakapan yang sia-sia. Para saudari sangat suka bicara karena tidak ada anak-anak dan tidak ada yang harus mereka asuh dan rawat. Jika anda mengambil seorang anak dan merawat anak itu, segeralah anda berubah menjadi sangat riil. Tak ada satu pun lainnya yang bisa menolong anda demikian banyak untuk meninggalkan watak alamiah anda. Anak itu akan membawa anda dari bumi ke langit tingkat ketiga.
Berita ini bukanlah doktrin, melainkan sesuatu yang riil. Seperti kata-kata yang pendek ini, "Salam kepada Rufus,... ibunya yang bagiku adalah juga ibu," sungguh sangat limpah maknanya. "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita." Suatu penghargaan yang singkat tapi sangat bermakna. Hidup gereja ada di sini, diwahyukan dalam ayat ini, juga diwahyukan dalam ibu itu. Semua saudari perlu menjadi ibu-ibu.
Dalam pandangan Allah, anak-anak di dalam daging tidaklah terhitung. Kita memerlukan anak-anak kategori kedua, juga memerlukan ibu untuk merawat kita. Anak-anak rohani kita barulah terhitung di pandangan Allah.
Tak perlu diragukan, Petrus memang mempunyai beberapa anak di, dalam daging, tetapi itu tidak tercatat dalam Perjanjian Baru. Ketika Petrus dilepaskan dari penjara, ia mempertimbangkan ke mama ia harus pergi, karena ia tabu di sana banyak rumah dengan kelompokkelompok orang yang sedang berdoa. Akhirnya ia pergi ke rumah ibu Markus. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang akrab antara Petrus dan Markus. Dalam surat kiriman Petrus, Petrus memberitahu kita, kalau Markus adalah anaknya. Sejarah memberitahu kita bahwa Injil Markus kebanyakan Petruslah yang mendiktekannya. Beberapa penelaah Alkitab menyebut Injil Markus sebagai Injil Petrus. Banyak ayat dalam Injil Markus memberikan indikasi bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Petrus. Karena Markus adalah anak rohani Petrus, maka ia mewarisi semua kekayaan Petrus di dalam roh.
Roma 16 adalah sebuah pasal tentang hidup gereja yang riil, bukan di dalam doktrin, melainkan secara praktis. Jika kita tidak bisa melihat adanya saudari-saudari yang benarbenar melayani serta banyaknya, ibu-ibu, hidup gereja kita belumlah riil dan belum mencapai puncaknya.
Pembangunan hidup gereja yang riil
Jika saudari-saudari mau melayani seperti Febe, dan penuh kasih sebagaimana layaknya ibu-ibu, saya berani menjamin bahwa gereja akan terbangun tujuh puluh persen. Tujuh puluh persen terbangunnya hidup gereja yang riil tergantung pada para saudari. Tanpa koordinasi dalam hal ini dari pare saudari, tak peduli berapa banyaknya saudara-saudara yang berlelah dalam hidup gereja, hasil pembangunan yang dapat dicapai sangatlah sedikit. Kapan pare saudari mau melayani dan mau menjadi ibu-ibu, segeralah gereja akan terbangun. Melalui ini akan ada persatuan yang kukuh dalam pembangunan rohani itu, dan bahkan kebangunan yang menang secara spontan akan terbawa masuk. Iblis akan dikalahkan.
Hal ini membuktikan betapa besar dukung an yang dibutuhkan dari pare saudari. Tujuh Puluh persen dari pembangunan yang riil tergantung pada para saudari. Kita semua hams berdoa agar Tuhan merahmati gereja, sehingga semua saudari bisa menjadi Febe-Febe dan menjadi ibu-ibu.
Witness Lee Anaheim, California 18 Maret 1975
IMAM INJIL PERJANJIAN BARU
PRAKATA
Buku ini adalah terjemahan dari berita-berita yang disampaikan saudara Witness Lee dalam bahasa Mandarin di Taiwan, selama musim semi tahun 1989. Berita-berita ini belum disunting oleh pembicara. Bab satu, lima, dan sembilan adalah berita-berita yang disampaikan kepada para penatua di Taipei, pada tanggal 15 Maret, 5 April, dan 19 April. Bab dua sampai empat adalah berita-berita yang disampaikan kepada gereja di Kaohsiung, pada suatu sidang istimewa tanggal 1 dan 2. Bab enam adalah berita yang disampaikan kepada peserta latihan sepenuh waktu di Taipei pada tanggal 5 April. Bab tujuh dan delapan adalah berita-berita yang disampaikan kepada gereja di Taipei dalam dua sidang istimewa pada tanggal 16 April dan 23 April. Terakhir, bab sepuluh dan sebelas merupakan berita-berita yang disampaikan kepada para penatua, sekerja dan peserta latihan dari seluruh pulau Taiwan, pada tanggal 22 April.