← Daftar isi Yeremia (2) · bab 9/40

BERITA KESEMBILAN

PERSEKUTUAN TENTANG SEJARAH ISRAEL DAN SITUASI ISRAEL DALAM TERBENAMNYA MATAHARI WAHYU ILAHI

Pembacaan Alkitab: Yer. 5-6; 1:1-8, 18-19

Dalam berita ini saya ingin memberikan satu persekutuan tentang sejarah Israel dan situasi Israel dalam apa yang kita sebut terbenamnya matahari wahyu ilahi.

SEJARAH ISRAEL

Di Mesir dan di Padang Gurun

Israel berada di Mesir di bawah kuk orang-orang Mesir dan tirani Firaun. Allah mengutus Musa untuk melepaskan mereka dari kuk dan tirani ini dan membawa mereka keluar dari Mesir ke padang gurun ke Gunung Sinai. Di Gunung Sinai langit terbuka untuk Israel, dan Allah memberikan wahyu kepada mereka tentang kemah dan perkakas-perkakasnya. Dia juga memberikan kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan kepada mereka, dan memberi tahu mereka bagaimana untuk menyembah Allah dan memberikan perintah-perintah yang mendetil tentang bagaimana untuk makan, berpakaian, dan berperilaku. Sejak waktu itu Israel mulai menjadi satu umat yang berada di bawah wahyu ilahi di dalam setiap hal.

Pada mulanya Israel mematuhi wahyu ilahi ini. Mereka membangun kemah menurut wahyu yang mereka terima, dan dalam berpegang kepada wahyu ini, mereka juga mulai menyembah Allah melalui sarana keimaman dan kurban-kurban. Namun, sewaktu mereka berkelana di padang gurun, mereka mulai merosot dari wahyu yang telah mereka terima dari Allah melalui Musa. Kitab Bilangan, mencatat banyak kasus tentang kemerosotan mereka dari hukum taurat Allah, yaitu dari wahyu Allah.

Pengulangan Wahyu Ilahi

Ketika umat Israel akan masuk ke tanah permai, Musa mengulang kembali wahyu ilahi itu; ia mengulang kembali wahyu tentang hukum taurat Allah. Pengulangan ini ada dalam kitab Ulangan. (Kata Ulangan berarti “hukum yang kedua” dan menandakan satu pengulangan pembicaraan tentang hukum ilahi). Dalam pengulangan ini Musa terutama memerintahkan mereka bahwa ketika mereka masuk ke tanah permai itu, mereka harus meruntuhkan berhala-berhala, menghancurkan tempat-tempat penyembahan berhala, dan membunuh para penyembah berhala. Misalnya, mengenai para penyembah berhala Musa memerintahkan, dengan berkata, “Maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka…Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis” (Ul. 7:2, 5).

Di Tanah Permai

Namun, Israel tidak mematuhi perintah untuk menghancurkan sama sekali para penyembah berhala itu. Sebaliknya mereka menyisakan mereka dan tidak memusnahkan mereka. Akibatnya, Israel tidak dapat sepenuhnya memiliki tanah permai itu.

Karena Israel menyisakan para penyembah berhala, maka sering ada peperangan di antara Israel dan bangsa-bangsa di negeri itu. Peperangan ini digambarkan dalam kitab Hakim-hakim. Hakim-hakim adalah orang-orang yang kuat, yaitu para pemimpin, yang berperang bagi Israel melawan para penyembah berhala. Setelah zaman hakim-hakim itu, Daud yang dibawa masuk oleh Samuel, berperang melawan semua penduduk negeri itu dan hampir mendapatkan seluruh negeri itu. Meskipun Daud tidak diizinkan membangun bait Allah, tetapi ia menerima rancangan bait itu dari Allah dan mempersiapkan bahan-bahan dan letak bait itu di Gunung Moria, yaitu tempat di mana Abraham mempersembahkan Ishak (1 taw. 28:11-12, 19; 29:1-2; 21:18-26; 2 Taw. 3:1). Dengan mengikuti rancangan yang diterima ayahnya dari Allah, Salomo, anak Daud, membangun bait itu kira-kira pada tahun 1000 SM. Itu adalah hal yang paling penting bagi bangsa Israel.

Salomo adalah seorang raja yang berhikmat. Ia sangat berhikmat hingga ratu Syeba mengunjunginya untuk menguji hikmatnya (2 Taw. 9:1-120. Namun, Salomo tidak terus berada dalam keadaan rohani yang baik sepanjang seluruh hidupnya. Pada masa tuanya ia dipimpin oleh banyak istri kafirnya untuk menyembah berhala (1 Raj. 11:1-8). Ia mengambil pimpinan dalam meninggalkan Allah dan merosot dari wahyu-Nya. Hampir semua orang dari keturunan Salomo melanjutkan kemurtadannya.

Pada Zaman Yeremia

Kemurtadan ini berlanjut sampai zaman ketika Yeremia diperintah oleh Allah untuk bernubuat. Yeremia mulai bernubuat pada tahun 629 SM, yaitu dua puluh tiga tahun sebelum Yerusalem ditawan oleh Nebukadnezar. Allah memerintahkan Yeremia untuk menghakimi dosa-dosa Israel dalam meninggalkan Allah dan menjadi fasik dalam perilaku mereka. Mereka telah meninggalkan Allah, sumber air hidup, dan membuat kolam yang bocor, yaitu mereka berpaling kepada berhala dan menyembahnya (Yer. 2:13). Selain itu, masyarakatnya penuh dengan pembunuhan, perzinahan, ketamakan, dusta, dan pencurian. Bahkan rajanya juga tamak, karena, seperti yang akan kita lihat, ia memerintahkan umat itu untuk membagun satu istana baginya tetapi tidak membayar upah untuk jerih lelah mereka. Umat itu tidak setia baik terhadap Allah maupun terhadap satu sama lain. Misalnya, dalam 5:7 dan 8 Yehova berkata, “Bagaimana, kalau begitu, dapatkah Aku mengampuni engkau? Anak-anakmu telah meninggalkan Aku, dan bersumpah demi yang bukan Allah. Setelah Aku mengenyangkan mereka, mereka berzinah dan bertemu ke rumah persundalan. Mereka adalah kuda-kuda jantan yang gemuk dan gasang, masing-masing meringkik menginginkan istri sesamanya.”

Sebelum zaman Yeremia, Yesaya bernubuat terhadap Israel, dengan mengatakan bahwa Israel telah menjadi seperti Sodom dan Gomora (Yes. 1:9-10). Namun, Israel tidak berubah tetapi terus dalam kefasikannya sampai zaman Yeremia. Meskipun demikian, melalui Yeremia Allah berbicara kepada Israel sebagai Suaminya yang penuh kasih, simpati dan rahmat, dengan mengatakan bahwa Dia ingat akan cinta pada waktu Israel menjadi pengantin (Yer. 2:2). Allah mengeluh atas Israel dan rindu agar ia kembali kepada-Nya. Israel telah meninggalkan Dia sebagai Suami satu-satunya dan telah pergi dengan banyak suami lainnya. Selain itu, umat itu jahat satu sama lain, membunuh, berzinah, berdusta, dan mencuri.

Israel begitu bobroknya hingga sulit bagi Allah untuk menemukan seorang nabi untuk berbicara bagi Dia. Para pemimpin, para imam, dan para nabi semuanya bobrok. Di manakah Allah dapat menemukan seorang nabi yang setia, dan tulus? Karena sulit menemukan nabi yang demikian di Yerusalem, maka Allah pergi ke Anatot di negeri itu kepada suku yang kecil yaitu Benyamin, dan di sana Dia memanggil seorang muda bernama Yeremia dan memberikan amanat kepadanya untuk berbicara bagi Dia. Ketika Yeremia beralasan dengan mengatakan bahwa ia masih muda dan ia tidak pandai berbicara, maka Yehova berkata kepadanya, “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN” (1:7-8). Yehova selanjutnya mengatakan bahwa Dia akan membuat Yeremia menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri itu. Raja-raja, pemuka-pemuka, para imam dan rakyat akan berperang melawan dia, tetapi mereka tidak akan mengalahkan dia (ay. 18-19). Orang-orang yang berperang melawan Yeremia sebenarnya adalah berperang melawan Yehova. Ia adalah seorang tentara Yehova. Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkannya karena Yehova menyertai dia. Maka, Yeremia tidak dapat melarikan diri dari amanat Allah melainkan terdesak untuk menerimanya.

TERBENAMNYA MATAHARI WAHYU ILAHI

Ketika Yeremia pergi untuk menggenapkan anamat Allah, ia berbicara kepada raja-raja, pemuka-pemuka, imam-imam, dan kepada seluruh umat itu. Yeremia memberi tahu raja bahwa raja penuh dengan dosa dan bila ia tidak mau bertobat dan berpaling kepada Allah, maka ia akan ditawan. Ia menegur para pemuka dan penguasa karena telah menipu umat itu dan dengan salah mengambil benda-benda dari mereka. Ia menelanjangi para nabi karena bernubuat palsu dan para imam karena mengajar dengan sewenang-wenang dan bukan menurut wahyu ilahi. Ia memberi tahu umat itu bahwa mereka tidak melakukan keadilan dan menuntut kesetiaan. Sebaliknya, mereka memperlakukan orang-orang miskin dengan tidak adil. Bukannya memperhatikan perkataan Yeremia, mereka malah membencinya dan bahkan memasukkannya ke dalam penjara. Para imam menangkap Yeremia dan menyerahkannya kepada para pemuka, yang kemudian melemparkannya ke dalam penjara. Ini menunjukkan bahwa Israel tidak memperhatikan hukum taurat Allah, atau wahyu-Nya.

Pada waktu itu Israel berada pada matahari terbenam dari wahyu ilahi ini. Ketika Israel berada di Gunung Sinai, itu adalah menyingsingnya wahyu ilahi. Itu adalah waktu matahari terbit. Tetapi setelah itu, terhadap wahyu ilahi itu, Israel berada dalam satu situasi yang merosot. Akhirnya, menjelang zaman Yeremia, Israel berada pada matahari terbenam. Mereka telah membuang segala sesuatu mengenai Allah dan wahyu-Nya, dan akhirnya mereka berada dalam satu malam yang gelap.

Yehova Sang Suami Menghajar Israel Istri yang Tidak Setia

Keadaan Israel memaksa Allah untuk menghajar mereka, menghukum mereka. Ketika Allah menghajar Israel, Dia menganggap diri-Nya sebagai Suami dan Israel sebagai istri yang telah jatuh ke dalam perzinahan. Karena alasan ini, maka dalam pasal dua sampai enam, nada bicara Allah dalam menegur Israel itu seperti seorang suami yang berbicara kepada istrinya yang tidak setia.

Kasus Zedekia

Kasus, Zedekia, raja yang terakhir, adalah satu ilustrasi dari penghajaran Allah terhadap umat-Nya. Pada satu hari Zedekia menyuruh orang kepada Yeremia, yang ada di dalam penjara. Raja bertanya kepadanya secara diam-diam dalam rumahnya, dengan berkata, “Adakah datang firman dari TUHAN?” (37:17a). Zedekia ingin tahu tentang Israel dan tentang dirinya sebagai raja. Yeremia memberi tahu Zedekia bahwa ada firman dari Yehova, dan firman itu bunyinya adalah bahwa Zedekia akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel (ay. 17b).

Pada peristiwa lainnya Zedekia menyuruh orang membawa Yeremia kepadanya agar ia dapat berbicara secara pribadi dengannya (38:14). Zedekia memberi tahu Yeremia bahwa ia ingin menanyakan sesuatu kepadanya dan meminta agar Yeremia tidak menyembunyikan apa-apa kepadanya. Yeremia menjawab, “Apabila aku memberitahukannya kepadamu, tentulah engkau akan membunuh aku, bukan? Dan apabila aku memberikan nasihat kepadamu, engkau tidak juga mendengarkan aku!” (ay. 15). Setelah dijamin oleh raja bahwa ia tidak akan dibunuh olehnya, Yeremia selanjutnya berkata, “Beginilah firman TUHAN Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dan keluargamu akan hidup. Tetapi jika engkau tidak menyerahkan diri kepada perwira raja Babel, maka kota ini akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim yang akan menghanguskannya dengan api; dan engkau sendiri tidak akan luput dari tangan mereka” (ay. 17-18). Raja tahu bahwa ia harus mematuhi firman ini. Namun, ia takut akan apa yang akan diperbuat kepadanya oleh orang-orang Yahudi yang telah merantau ke negeri orang Kasdim. Meskipun Yeremia memberi tahu dia bahwa mereka tidak akan menyakiti dia, tetapi Zedekia tidak mau mengambil perkataan Yeremia, tetapi sebaliknya ia menyuruh Yeremia pergi dengan perintah agar ia tidak memberitahukan siapa pun tentang apa yang telah ia bicarakan dengan raja.

Bukannya mendengarkan Yeremia, Zedekia malah terus melawan tentara Babel, yang mengepung Yerusalem. Setelah kota itu ditawan, Zedekia melarikan diri (39:4). Tentara Babel mengejar dia dan menangkap dia. Zedekia dibawa ke hadapan Nebukadnezar, dan ia mengumumkan penghakiman kepadanya. Kemudian raja Babel menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya. Setelah ini, raja Babel mencungkil mata Zedekia dan membelenggunya dengan rantai tembaga dan membawanya ke Babel (ay. 5-7).

Yerusalem Akan Dihancurkan

dan Yeremia Akan Dipelihara

Akhirnya tentara Babel membakar kota Yerusalem dan menghancurkan bait Allah. Yeremia menyaksikan hal-hal ini. Mengenai Yeremia, Nebukadnezar memerintahkan agar mereka memperhatikan dia dan jangan berbuat jahat kepadanya (ay. 11-12). Yeremia dibelenggu dengan rantai di tengah-tengah semua orang buangan dari Yerusalem dan Yehuda yang hendak di angkut ke dalam pembuangan ke Babel (40:1). Namun, ia dibebaskan dari belenggunya. Kepala pasukan pengawal berkata kepadanya, “Maka sekarang, lihatlah aku melepaskan engkau hari ini dari belenggu yang ada pada tanganmu itu. Jika engkau suka untuk pergi dengan aku ke Babel, marilah! Aku akan memperhatikan engkau. Tetapi jika engkau tidak suka untuk ikut pergi dengan aku ke Babel, janganlah pergi! Lihat, seluruh negeri ini terbuka untuk engkau: engkau boleh pergi ke mana saja engkau pandang baik dan benar” (ay. 4). Maka, nabi Yeremia dibebaskan.

Yeremia 6:9 mengatakan, “Beginilah firman TUHAN semesta alam: “Petiklah habis-habisan sisa-sisa orang Israel seperti pokok anggur dipetik habis-habisan.” Firman ini telah digenapi. Beberapa tahun setelah Zedekia ditawan dan Yeremia dibebaskan, orang-orang Babel datang lagi untuk “memetik” negeri Israel, untuk membawa lebih banyak orang ke dalam pembuangan. Inilah situasi Israel dalam terbenamnya matahari wahyu ilahi.