DOSA ISRAEL TERHADAP YEHOVA DAN PENGHUKUMAN YEHOVA TERHADAP ISRAEL (6)
ISRAEL MELANGGAR PERJANJIAN YEHOVA
Pembacaan Alkitab: Yer. 11—13
Dalam berita ini kita akan melihat Yeremia 11 sampai 13. Pasal-pasal ini berkenaan dengan Israel melanggar perjanjian Yehova. Kita telah meliput berita ini, tetapi di sini Yeremia memberikan gambaran yang lebih gamblang kepada kita tentang pelanggaran terhadap perjanjian itu.
I. PERJANJIAN YEHOVA DENGAN ISRAEL
A. Dibuat pada Waktu Yehova Membawa Israel keluar dari Mesir ke Gunung Sinai
Perjanjian Yehova dengan Israel dibuat pada waktu Yehova membawa Israel keluar dari Mesir ke Gunung Sinai (11:4, 7; Kel. 24:3-8; Ibr. 9:18-20). Mengenai hal ini, dalam Yeremia 11:3 dan 4 Yehova berkata, “Terkutuklah orang yang tidak mendengarkan perkataan-perkataan perjanjian ini, yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu pada waktu mereka Kubawa keluar dari tanah Mesir, dari dapur peleburan besi, dengan berfirman: Dengarkanlah suara-Ku dan lakukanlah segala apa yang Kuperintahkan kepadamu, maka kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.”
B. Perjanjian Hukum Taurat yang berisi Sepuluh Perintah
Perjanjian Yehova dengan Israel, disebut perjanjian yang pertama dan juga disebut perjanjian lama, yaitu perjanjian hukum taurat dengan Sepuluh Perintah.
1. Lima Perintah yang Pertama
Lima perintah yang pertama, yang berdasarkan keunikan dan kecemburuan Allah Yehova, menuntut menusia untuk menghormati, melayani, dan mengasihi Allah sebagai Allah yang unik dan cemburu (Kel. 20:3-12). Keunikan dan kecemburuan Allah ini menuntut agar kita menghormati, melayani, dan mengasihi Dia.
Adalah bermakna bahwa dalam pengaturan Sepuluh Perintah itu, perintah mengenai menghormati orang tua kita, yaitu perintah yang kelima, dirangkaikan dengan perintah mengenai Allah dan memelihara hari Sabat. Ini menunjukkan bahwa, sebagai anak-anak, kita perlu sadar bahwa orang tua kita adalah sumber kita dan sebagai sumber kita mereka harus dianggap sebagai wakil Allah. maka, perintah mengenai menghormati orang tua kita dirangkaikan dengan empat perintah yang pertama mengenai Allah dan Sabat-Nya. Bila tidak taat, tidak menghormati, meremehkan, dan berbuat jahat terhadap orang tua kita maka itu berarti kita menolak Allah.
2. Lima Perintah yang Terakhir
Lima perintah yang terakhir, yang berdasarkan atribut-atribut kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran Allah Yehova, menuntut manusia untuk memiliki kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan atribut-atribut Allah dalam hubungannya dengan orang lain (Kel. 20:13-17). Perintah-perintah ini menunjukkan bahwa Allah ingin agar kita mengekspresikan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari.
3. Diberikan untuk Menguji Manusia dan Menelanjangi Manusia
Hukum taurat yang terdiri Sepuluh Perintah ini diberikan untuk menguji manusia dan menelanjangi manusia dalam sifat dan keadaannya (Rm. 3:20b; 5:20a; 7:7b). Jika Sepuluh Perintah itu tidak diberikan kepada kita, maka situasi dan keadaan kita yang sebenarnya tidak dapat disingkapkan kepada diri kita, dan kita tidak akan jelas tentang diri kita sendiri. Tetapi melalui pemeriksaan karena memelihara hukum taurat, maka sifat kita, situasi dan keadaan kita disingkapkan dan menjadi jelas bagi kita.
4. Hukum Taurat yang terdiri dari Sepuluh Perintah ini Menjadi Lemah karena Daging Kita
Hukum taurat yang terdiri dari Sepuluh Perintah ini menjadi lemah karena daging manusia (Rm. 8:3a). Dalam dirinya hukum taurat itu baik dan rohani; tetapi menjadi “lemah karena daging.” Karena kita begitu bersifat daging, maka hukum taurat itu menjadi lemah.
a. Hukum Taurat itu Kudus, Benar, Baik dan Rohani
Meskipun hukum taurat itu menjadi lemah karena daging manusia, tetapi hukum taurat itu sendiri kudus, benar, baik dan rohani (Rm. 7:12, 16, 14a).
b. Manusia Bersifat Daging, dan Terjual di bawah Kuasa Dosa
Hukum taurat itu kudus, benar, baik dan rohani, sedangkan manusia itu daging, bahkan bersifat daging. Inilah alasan Paulus berkata, “Aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa” (Rm. 7:14b). Paulus menyadari bahwa ia bertentangan dengan semua hal yang digambarkan oleh hukum taurat itu. Ia juga menggambarkan manusia sebagai yang bersifat daging dan telah kehilangan kebebasannya, yaitu sebagai yang terjual di bawah kuasa dosa.
C. Satu Perjanjian yang Berdasarkan kepada Perbuatan-perbuatan Manusia untuk Memelihara Hukum Taurat
Perjanjian Yehova dengan Israel adalah satu perjanjian yang berdasarkan kepada perbuatan-perbuatan manusia untuk memelihara hukum taurat. Mengenai hal ini, Paulus mengatakan dalam Galatia 2:16, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Yesus Kristus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “Tidak ada seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat.”
1. Tidak Seperti Perjanjian yang berisi Janji yang Diberikan kepada Abraham ataupun seperti Perjanjian Kasih Karunia yang Diberikan kepada Kaum Beriman Perjanjian Baru
Perjanjian dengan Israel ini bukanlah seperti perjanjian yang berisi janji yang diberikan kepada Abraham, ataupun seperti perjanjian kasih karunia yang diberikan kepada kaum beriman Perjanjian Baru (Rm. 6:14b). Sebenarnya perjanjian yang berisi janji yang diberikan kepada Abraham dan perjanjian kasih karunia yang diberikan kepada kaum beriman Perjanjian Baru adalah perjanjian yang sama. Terhadap Abraham perjanjian ini adalah perkara janji; terhadap kaum beriman perjanjian ini adalah perkara penggenapan.
2. Bukan berdasarkan Iman Manusia kepada Allah melainkan berdasarkan Perbuatan Manusia dalam Dirinya Sendiri
Perjanjian Yehova dengan Israel ini bukanlah berdasarkan iman manusia kepada Allah melainkan berdasarkan perbuatan manusia dalam dirinya sendiri (Gal. 2:16). Perjanjian ini mutlak adalah perkara yang digarap dengan diri manusia bukan dengan diri Allah. Perjanjian yang baru berbeda. Perjanjian yang baru berdasarkan iman kepada Allah dan digarap dengan Allah. Tanpa Allah, maka tidak ada jalan bagi kita untuk mengalami perjanjian yang baru ini.
D. Israel Gagal Total di bawah Pengujian Hukum Taurat
Israel gagal total di bawah pengujian hukum taurat. Mereka gagal demikian adalah agar mereka dapat mengenal hal-hal tertentu.
1. Tidak Mampu Memelihara Hukum Taurat
Melalui kegagalan mereka di bawah pengujian hukum taurat, Israel dapat belajar bahwa mereka tidak mampu memelihara hukum taurat dan bahwa mereka tidak mempunyai kebenaran berdasarkan hukum taurat (Rm. 8:3a; 9:31; 10:3). Bagi orang mana pun yang bersifat daging memiliki kebenaran berdasarkan hukum taurat itu tidak mungkin.
a. Sifat Mereka yang Penuh dengan Dosa itu Tidak Bisa Diubah
Sifat umat Israel yang penuh dengan dosa ini tidak dapat diubah, sama seperti orang Ethiopia tidak dapat mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya (Yer. 13:23).
b. Hati Mereka Licik dan Tidak Terobati
Yeremia 17:9a mengatakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu/Dan tidak terobati.” Karena hati Israel penuh dengan kelicikan dan tidak terobati maka sifat mereka penuh dengan dosa, dan tidak mungkin bagi mereka untuk memelihara hukum taurat.
2. Memerlukan Kristus Menjadi Yehova sebagai Kebenaran Mereka
Melalui gagal totalnya mereka memelihara hukum taurat, Israel juga mengenal bahwa mereka memerlukan Kristus menjadi Yehova sebagai kebenaran mereka (Yer. 23:6b; 33:16b; 1 Kor. 1:30). Kristus, Allah dan Penyelamat ini, harus menjadi kebenaran mereka.
3. Perlu Memiliki Hayat Ilahi dengan Hukumnya dalam Perjanjian Baru Allah
Akhirnya, melalui kegagalan mereka dalam memelihara hukum taurat, Israel tahu bahwa mereka perlu memiliki hayat ilahi dengan hukumnya dalam perjanjian baru Allah (Yer. 31:31-34; Ibr. 8:8-12; 10:16-17).
II. PELANGGARAN ISRAEL TERHADAP PERJANJIAN HUKUM TAURAT DAN PENGHUKUMAN ALLAH ATAS MEREKA
Yeremia pasal sebelas sampai tiga belas membicarakan tentang pelanggaran Israel terhadap hukum taurat dan penghukuman Allah atas mereka.
A. Pelanggaran Israel terhadap Hukum Taurat
“Kaum Israel dan kaum Yehuda telah mengingkari perjanjian-Ku yang telah Kuikat dengan nenek moyang mereka” (Yer. 11:10c). Hal ini dengan jelas mewahyukan bahwa Israel telah melanggar perjanjian hukum taurat itu.
1. Melalui Penyembahan Berhala Mereka
Israel melanggar perjanjian hukum taurat melalui penyembahan berhala mereka (11:10b, 13, 15a, 17b; 13:10b, 27a). Penyembahan yang demikian itu bertentangan dengan lima perintah yang pertama dari hukum taurat.
2. Melalui Perilaku Mereka yang Jahat
Israel juga melanggar perjanjian itu melalui perilaku mereka yang jahat (11:8, 10a, 19; 12:2b, 4a, 14a; 13:27a). Perilaku demikian itu bertentangan dengan lima perintah yang terakhir dari hukum taurat. Melalui perilaku dan tingkah laku mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari, Israel mutlak telah melanggar perintah-perintah mengenai membunuh, berzinah, mencuri, berdusta dan mengingini. Maka, melalui penyembahan berhala mereka dan melalui perilaku mereka yang jahat, mereka sepenuhnya menghapuskan hukum taurat itu. Sejauh ini dalam hubungannya dengan mereka itu, maka hukum taurat ini tidak berkhasiat.
B. Penghukuman Allah atas Israel
1. Diperlukan Demi Kebenaran dan Kekudusan-Nya
Meskipun maksud Allah dalam memberikan hukum taurat-Nya kepada Israel adalah untuk menguji dan menelanjangi mereka, tetapi Dia masih perlu menghukum mereka karena kebenaran dan kekudusan-Nya. Kekudusan mengacu kepada sifat Allah, dan kebenaran mengacu kepada tindakan Allah. Karena penyembahan berhala mereka (11:8, 10b-11, 13-14, 17; 13:10b, 27) dan karena perilaku mereka yang jahat (11:10a, 11, 15b-16, 19-23; 13:9), maka Allah harus menghukum Israel. Kekudusan dan kebenaran-Nya menuntut penghukuman ini.
2. Akhirnya Allah Kembali kepada Mereka dan Memberikan Rahmat kepada Mereka
Yeremia 12:15 mewahyukan bahwa pada akhirnya Allah akan kembali kepada mereka dan memberikan rahmat kepada mereka dan membawa mereka kembali dari penawanan mereka.
III. REAKSI NABI YEREMIA
Akhirnya, dalam 13:17 kita melihat reaksi nabi Yeremia terhadap pelanggaran Israel terhadap hukum taurat dan penghukuman Allah atas Israel. Yeremia mengatakan bahwa jiwanya akan menangis di tempat yang tersembunyi oleh karena kesombongan mereka, dan air matanya akan berlinang-linang bahkan akan bercururan karena kawanan domba Yehova diangkut tertawan.