EKONOMI ALLAH DENGAN DISPENSINYA DALAM KITAB YEREMIA
Pembacaan Alkitab: Yer. 2:13; Rat. 3:22-25; Yer. 23:5-8; 31:33-34
Setelah meluangkan waktu lebih dari enam puluh enam tahun dalam mempelajari Alkitab, saya dapat bersaksi bahwa puncak yang tertinggi dari wahyu dalam Firman ini adalah wahyu tentang ekonomi Allah dan dispensi Allah untuk menghasilkan Yerusalem Baru. Sangatlah penting bahwa kita memiliki pandangan ini ketika kita membaca kitab Yeremia. Jika tidak demikian, maka tidak akan memiliki satu pengertian yang jelas dan tepat tentang tulisan Yeremia. Maka dalam berita ini saya berbeban untuk memberikan satu persekutuan tentang ekonomi Allah dengan dispensi-Nya dalam kitab Yeremia ini.
SASARAN ALLAH—YERUSALEM BARU
Alkitab rampung dengan wahyu tentang kota Yerusalem Baru. Ini menunjukkan bahwa Yerusalem Baru adalah sasaran Allah. Visi tentang Yerusalem Baru ini adalah kesimpulan dari seluruh Alkitab, yang memiliki seribu seratus delapan puluh sembilan pasal. Semua kitab dalam Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, berhubungan dengan Yerusalem Baru sebagai sasaran Allah. Namun, karena Alkitab berbicara begitu banyak hal lain, maka dalam pembacaan kita akan Firman itu kita mudah menyimpang dan tidak melihat sasaran Allah. Dalam hikmat-Nya, Allah tidak secara langsung mengatakan di dalam Kitab Suci bahwa sasaran-Nya adalah mendapatkan Yerusalem Baru. Sebaliknya, dengan mengetahui bahwa Yerusalem Baru itu terlalu ajaib untuk kita bayangkan, maka Dia menyingkapkan perkara ini dengan memakai Alkitab dengan kata-kata yang sederhana, kisah-kisah, sejarah-sejarah, lambang-lambang, pralambang-pralambang, dan bayang-bayang. Dengan semua sarana yang bermacam-macam ini, Dia menyingkapkan pemikiran-Nya tentang Yerusalem Baru dan meramalkan berbagai aspek dari Yerusalem Baru.
MENJADI SATU DENGAN ALLAH DAN MEMPERHIDUPKAN DIA BAGI EKSPRESINYA YANG KORPORAT
Allah mempunyai satu ekonomi, dan ekonominya ini melibatkan satu rencana dengan banyak pengaturan. Sasaran Allah dalam ekonomi-Nya adalah mendapatkan sekelompok orang yang secara bathini memiliki hayat-Nya dan sifat-Nya dan secara luaran memiliki gambar dan rupa-Nya. Sekelompok orang ini adalah satu kesatuan yang korporat, Tubuh Kristus, yang menjadi satu dengan Dia dan memperhidupkan Dia bagi ekspresi-Nya yang korporat. Ketika Allah diekspresikan bukan hanya oleh Tubuh melainkan juga melalui Tubuh, maka Dia dimuliakan. Ketika Dia dimuliakan, maka umat-Nya juga dimuliakan di dalam pemuliaan-Nya. Dengan cara ini Allah dan manusia menjadi satu dalam kemuliaan.
Dalam kesatuan ini kita, umat Allah, tidak terpisah dari Allah, tetapi kita tetap mutlak berbeda dengan Dia. Kita menjadi satu dengan Allah dalam hayat, dalam sifat, dalam elemen, dalam esens, dan dalam susunan. Kita juga menjadi satu dengan Dia dalam tujuan, sasaran, gambar, dan rupa. Meskipun demikian, tidak peduli berapa banyak kita bersatu dengan Allah, kita tetap tidak dapat mengambil bagian dalam Keallahan-Nya dan tidak akan pernah dapat mengambil bagian dalamnya. Manusia tetap manusia dan Allah tetap adalah Allah. Memang, dalam inkarnasi Kristus, Allah menjadi seorang mannusia, tetapi Dia tidak dapat membuang Keallahan-Nya. Sebaliknya, Dia memelihara dan menjaga Keallahan-Nya bagi diri-Nya sendiri. Jadi, manusia tetap terbatas, dan Allah tetap memiliki Keallahan-Nya yang unik.
Sekelompok orang yang menjadi satu dengan Allah dalam setiap hal kecuali dalam Keallahan ini dilambangkan, ditandai, diramalkan, dan digambarkan oleh sebuah kota yang ajaib, yang kudus—Yerusalem Baru. Kita perlu melihat visi ini sebelum kita sampai kepada kitab Yeremia.
ALLAH MENYAJIKAN DIRINYA SENDIRI KEPADA BANGSA ISRAEL SEBAGAI SUMBER AIR HIDUP
Dalam Yeremia 2:13 kita memiliki perkara penting yang pertama dalam kitab tentang ekonomi Allah ini. Dalam ayat ini Allah, melalui nabi, menyajikan diri-Nya sendiri kepada bangsa Israel sebagai sumber air hidup. Dalam prinsipnya, Allah melakukan hal yang sama dalam Kejadian 2, setelah menciptakan manusia. Allah tidak berkata kepada manusia, “Kamu harus tahu bahwa Aku adalah Penciptamu. Ingatlah bahwa kamu adalah ciptaan-Ku dan kamu harus menjadi kudus dan mengasihi sama seperti Aku.” Bukannya memberikan perintah yang demikian, sebaliknya Allah menempatkan manusia itu di sebuah taman, di depan dua pohon—pohon hayat, yang menandakan Allah, dan pohon pengetahuan baik dan jahat, yang menandakan Satan (Kej. 2:9). Kemudian Allah memerintahkan manusia dengan berkata, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (ay. 16-17). Ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki manusia mengambil bagian dalam diri-Nya sendiri seperti yang ditandai oleh pohon hayat. Segera setelah menyinggung pohon hayat, kita diberi tahu bahwa ada “suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu” (ay. 10). Sangat bermakna bahwa pasal yang terakhir dari Alkitab juga membicarakan tentang pohon hayat dan sungai hayat (Why. 22:1-2).
Gambaran dalam Kejadian 2 tentang pohon hayat dan sungai itu menunjukkan bahwa Allah adalah pohon hayat dan air hidup bagi keberadaan manusia. Yang Allah dambakan atas diri manusia adalah agar manusia mau makan Dia sebagai pohon hayat dan minum Dia sebagai air hayat. Melalui kita makan dan minum Dia, Allah dapat mendispensikan diri-Nya ke dalam ke dalam kita sebagai hayat kita dan suplai hayat kita.
SATU RINGKASAN DARI SELURUH ALKITAB
Sewaktu saya mengadakan pelajaran-hayat dari Kitab Suci ini, saya kadang-kadang menunjukkan bahwa kitab yang sedang kita pelajari ini merupakan satu ringkasan dari seluruh Alkitab. Alasan saya mengatakan ini adalah karena semua kitab dalam Alkitab berkenaan dengan hal yang sama. Maka, sekarang saya ingin mengatakan tentang Yeremia seperti yang saya katakan dengan kitab-kitab lainnya; Kitab Yeremia adalah satu ringkasan dari seluruh Alkitab. Kita telah melihat bahwa kitab Yeremia adalah satu ringkasan dari Alkitab dalam hal bahwa kitab ini menyajikan Allah sebagai sumber air hidup. Sekarang marilah kita melanjutkan untuk melihat hal lainnya dalam kitab ini yang merupakan satu ringkasan dari Kitab Suci.
Dalam Kejadian 3 iblis menampakkan diri dalam rupa ular, dan Adam dan Hawa tergoda olehnya untuk makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Dalam Yeremia ular ini juga masuk untuk menyimpangkan umat Allah dari pohon hayat kepada pohon pengetahuan. Yeremia 2:13 mengatakan, “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” Hal ini memberi tahu kita bahwa Israel telah disimpangkan dari pohon hayat kepada pohon pengetahuan, dari sumber air hidup kepada berhala (kolam-kolam). Bangsa Israel mungkin berkata, “Kami tidak menyembah berhala—kami sedang menggali kolam.” Namun, mereka tidak sadar bahwa dengan menggali kolam itu mereka berpaling kepada pohon pengetahuan baik dan jahat. Poin saya di sini adalah bahwa dalam Yeremia kita dapat melihat dua pohon. Pasal dua sampai sepuluh memperlihatkan kepada kita dua pohon yang sama dalam Kejadian 2. Dalam pasal-pasal di dalam Yeremia ini, Allah seolah-olah berkata, “Umat yang bodoh! Mengapa kamu tidak mau datang kepada-Ku? Mengapa kamu tidak mau mengambil bagian di dalam Aku sebagai pohon hayat? Mengapa kamu pergi kepada pohon lainnya, yaitu kepada berhala-berhala?” Israel meninggalkan Allah dan hukum-Nya dengan berpaling kepada pohon lain.
SATU PERSEKUTUAN TENTANG HUKUM TAURAT
Sampai poin ini saya ingin mengatakan satu persekutuan tentang hukum taurat Allah. Paulus memberi tahu kita bahwa hukum taurat itu bukanlah bagian dari tujuan sebermula Allah. Mulanya, Allah tidak bermaksud memberikan hukum taurat kepada kita. Lalu, mengapa hukum taurat ini diberikan? Mengapa Allah datang untuk memberikan hukum taurat? Dalam Galatia 3:19 Paulus menerangkan bahwa hukum ini “ditambahkan karena pelanggaran-pelanggaran kita.” ini berarti bahwa setelah Allah memberikan tujuan-Nya kepada manusia, manusia tidak menerima Allah dan tujuan-Nya sebaliknya mulai berbuat sesuatu menurut dirinya sendiri. Karena alasan ini, maka Allah datang untuk menambahkan hukum taurat.
Meskipun hukum taurat ini merupakan sesuatu yang ditambahkan, tetapi hukum ini mempunyai fungsi yang positif. Fungsi yang positif dari hukum ini adalah untuk menyajikan gambaran tentang Allah. Dalam Sepuluh Perintah itu kita dapat melihat gambaran dari apa adanya Allah. Lima perintah yang pertama berdasarkan kepada keunikan dan kecemburuan Allah Yehova, dan lima perintah selanjutnya berdasarkan kepada atribut-atribut kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran Allah Yehova. Dengan memakai hukum taurat untuk menyajikan gambaran tentang diri-Nya, maka Allah menunjukkan bahwa Dia ingin agar umat-Nya menjadi duplikat-Nya.
ISRAEL MELANGGAR HUKUM TAURAT SAMPAI PADA PUNCAKNYA PADA ZAMAN YEREMIA
Sewaktu hukum taurat diberikan kepada Musa di Gunung Sinai, bangsa Israel melakukan banyak hal yang jahat dalam melanggar Sepuluh Perintah itu. Terutama, mereka berdosa terhadap Allah dengan menyembah patung lembu emas. Sepanjang abad Israel terus menerus melanggar perintah-perintah dari hukum taurat itu. Akhirnya, mereka melanggar hukum taurat sampai pada puncaknya pada zaman Yeremia.
Bangsa Israel melangkah demikian jauh hingga memiliki semacam koordinasi dalam penyembahan mereka terhadap berhala. mengenai hal ini, dalam Yeremia 7:18 Allah berkata, “Anak-anak memungut kayu bakar, bapa-bapa menyalakan api dan perempuan-perempuan meremas adonan untuk membuat penganan persembahan bagi ratu surga, dan orang mempersembahkan kurban curahan kepada allah lain dengan maksud menyakiti hati-Ku.” Koordinasi yang luar biasa! Kelihatannya dalam membuat berhala dan menyembahnya setiap orang itu mempunyai satu fungsi. Sulit dipercaya bahwa umat Allah dapat merosot sampai sedemikian rupa.
Pada zaman Yeremia bangsa Israel melakukan banyak hal jahat lainnya. Dalam berbuat zinah mereka itu “bertemu ke rumah persundalan” (5:7). Mereka meringkik seperti kuda yang gemuk dan gasang, “masing-masing menginginkan istri sesamanya” (ay. 8). Mereka menipu untuk mendapatkan keuntungan yang tidak adil. Mereka benar-benar telah kehilangan gambar dan rupa Allah dan telah menjadi ular dan kalajengking. Maka, di pandangan Allah, Israel telah mencapai akhir dan telah habis. Yeremia nabi Allah tidak mau berhubungan dengan bangsa itu dan berkata, “Sekiranya di padang gurun aku mempunyai tempat penginapan bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan, maka aku akan meninggalkan bangsaku dan menyingkir daripada mereka! Sebab mereka sekalian adalah orang-orang berzinah, suatu kumpulan orang-orang yang tidak setia” (9:2). Ia tidak mau lagi melihat kefasikan Israel.
ALLAH TIDAK MEMBUANG ISRAEL
Kelihatannya Allah telah membuang Israel dan tidak mau lagi berhubungan dengan mereka. Sebenarnya Allah tidak membuang umat-Nya. Dia tahu apa yang dilakukan-Nya terhadap Israel, dan Dia tahu bahwa Dia memiliki satu sasaran yang mulia untuk dicapai. Karena itu, meskipun Dia menghajar mereka, Dia tetap memiliki rahmat atas mereka. Allah dan Yeremia bersimpati terhadap bangsa Israel dalam penderitaan mereka akan penghukuman Allah (9:10-11, 17-19; 8:18-22; 9:1; 10:19-25). Dengan mengenal simpati Allah terhadap Israel, maka Yeremia dapat berkata, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22-23). Dalam kasih setia dan rahmat-Nya, Allah memelihara Israel dan Israel tetap ada. Selain itu, di antara umat-Nya yang merosot yang dikirim ke dalam pembuangan, Allah memiliki para pemenang-Nya seperti Daniel dan teman-temannya.
Selain itu, Yeremia menubuatkan tentang kedatangan pemulihan Israel (23:3-8; 33:1-26). Dalam zaman pemulihan ini, Allah akan mengumpulkan umat-Nya yang merantau dan tercerai berai ini kembali ke tanah kudus. Akhirnya, Yeremia menubuatkan bahwa Kristus akan datang sebagai Tunas yang adil (23:5-6).
KRISTUS ADALAH SATU-SATUNYA YANG DAPAT MENGGENAPKAN EKONOMI ALLAH
Nubuat Yeremia tentang Kristus ini menunjukkan bahwa hanya Kristus yang dapat menggenapkan ekonomi Allah. Hanya Kristus adalah jawaban untuk tuntutan-tuntutan Allah dalam ekonomi-Nya. Dalam menggenapkan ekonomi Allah, Kristus terlebih dahulu adalah kebenaran kita kemudian penebusan kita, dan hayat bathini kita yang almuhit. Sebagai suplai hayat kita, Kristus adalah makanan dan minuman kita.
Semua aspek tentang Kristus ini dikembangkan sepenuhnya dalam Perjanjian Baru. Terutama, Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Kristus adalah hayat kita (Kol. 3:4). Kristus menjadi Penyelamat kita dan Penebus kita adalah agar diri-Nya dapat menjadi hayat kita. Sebagai hayat kita, Kristus adalah segala sesuatu bagi kita. Dia adalah makanan kita, minuman kita, energi kita, kuasa kita, kapasitas kita, dan kekuatan kita. Di dalam dan melalui Kristus yang demikian, kita dapat menjadi satu dengan Allah dalam hayat, sifat, gambar dan penampilan.
Apa adanya Kristus bagi kita pada hari ini akan menjadi apa adanya Dia bagi Israel pada waktu kedatangan-Nya kembali. Pada kedatangan-Nya kembali, Israel akan bertobat dan menerima Kristus (Zak. 12:10—13:1). Mereka akan menerima Kristus sebagai kebenaran, penebusan, dan hayat mereka, dan mereka akan minum sumber air hidup dan makan pohon hayat. Alhasilnya, Israel juga akan disusun dengan Allah dan menjadi satu dengan Allah dalam hayat, sifat, gambar, dan penampilan.
SATU GAMBARAN YANG MEMPERLIHATKAN BAHWA KITA INI BUKAN APA-APA DAN BAHWA KRISTUS ADALAH SEGALA SESUATU BAGI KITA
Gambaran yang dilukiskan oleh Yeremia tentang Israel ini adalah satu gambaran kita sebagai kaum beriman dalam Kristus pada hari ini. Ini berarti bahwa kita sama dengan Israel. Seperti Israel, kita juga pernah mengalami “hari ketika kita menjadi pengantin” (Yer. 2:2), yaitu waktu ketika kita memberikan kasih kita kepada Tuhan dan memberi tahu Dia bahwa kita mengasihi Dia sampai pada puncaknya. Namun, banyak kaum beriman meninggalkan kasih mereka yang semula (Why. 2:4) dan menjadi merosot sesuai dengan contoh yang disajikan dalam Wahyu 2 dan 3. Kita mungkin putus asa dengan keadaan seperti itu, tetapi Allah tidak putus asa. Dia tahu bahwa akan ada satu zaman pemulihan dan bahwa lambat atau cepat kita akan rela ditundukkan.
Akhirnya, kita semua akan tunduk kepada Tuhan dan mengakui bahwa kita ini jahat; kita akan mengaku bahwa kita adalah totalitas dosa. Ketika kita menyadari hal ini, kita akan berkata, “Tuhan, aku ini bukan apa-apa, tetapi Engkau adalah segala sesuatuku. Aku berdosa, tetapi Engkau adalah kebenaranku. Aku mati tetapi Engkau hidup.” Selain itu, kita akan sadar bahwa di samping hayat ilahi dengan perasaannya, hukumnya, dan kapasitasnya, kita juga memiliki sifat ilahi (2 Ptr. 1;4). Kita akan melihat bahwa hari demi hari kita dikuduskan, diperbaharui, dan ditransformasi, dan bahwa waktunya akan tiba saat kita diserupakan kepada gambar Kristus dan dimuliakan. Allah akan selalu menjadi Allah dengan Kealahan-Nya yang unik dan akan selalu ada perbedaan antara kita dengan Allah, dan kita akan disusun dengan Allah dan menjadi satu dengan Dia dalam hayat, sifat, elemen, esens, gambar, dan penampilan sehingga kita dapat menjadi ekspresi-Nya yang korporat sampai selama-lamanya.
Ada yang sulit percaya bahwa wahyu tentang ekonomi Allah dengan dispensi-Nya ini dapat ditemukan di dalam kitab Yeremia. Kita harus diingatkan kembali bahwa Yeremia membicarakan tentang Allah menjadi sumber air hidup dan Kristus menjadi kebenaran kita. Kitab ini juga membicarakan tentang perjanjian baru dengan semua berkatnya. Setelah Israel gagal, Allah datang dan berkata, “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh taurat-Ku dalam bathin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer. 31:33). Dalam Ibrani 8 Paulus mengutip bagian dari Yeremia ini dan menerapkannya kepada kita, kaum beriman Perjanjian Baru. Ini berarti bahwa perjanjian baru dengan hak-hak dan berkatnya adalah bagi kita untuk kita nikmati pada hari ini. Israel akan memiliki kenikmatan ini kemudian, yaitu setelah Tuhan datang kembali.
Kitab Yeremia benar-benar merupakan satu ringkasan dari Alkitab. Sebagai ringkasan yang demikian, kitab ini adalah satu gambaran yang memperlihatkan kepada kita bahwa kita ini bukan apa-apa dan bahwa Kristus adalah segala sesuatu bagi kita. Jika kita melihat bahwa kita bukan apa-apa, maka kita tidak akan mengharapkan sesuatu dari diri kita sendiri. Sebaliknya, menurut ekonomi Allah dengan dispensi-Nya, kita akan mengambil Kristus sebagai hayat kita, suplai hayat kita, dan segala sesuatu kita.