← Daftar isi Lukas (3) · bab 9/29

STANDAR MORALITAS MANUSIA-PENYELAMAT YANG TERTINGGI YANG MENYUSUN KELAYAKAN DAN FAKTOR DASAR

KESELAMATAN-NYA YANG PENUH KUASA

(2)

Pembacaan Alkitab: Luk. 1:35. Mat. 1:18, 20; Luk. 1:31; Mat. 5:20; Flp. 3:9

Dalam berita sebelumnya kita telah nampak bahwa Manusia-Penyelamat dikandung dari esens ilahi dengan atribut ilahi untuk menjadi isi dan realitas kebajikan insani-Nya (Luk. 1:35; Mat. 1:18, 20). Tuhan Yesus dikandung secara demikian supaya atribut ilahi dapat memenuhi kebajikan insani yang kosong, serta memperkuat, memper-kaya, dan menguduskan kebajikan insani, serta mengeks-presikan Allah dalam kebajikan insani. Kita juga telah nam-pak bahwa Manusia-Penyelamat lahir dari esens insani dengan kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah bagi manusia (Luk. 1:31). Dalam Dia atribut ilahi dan kebajikan insani itu berbaur. Atribut ilahi memenuhi kebajikan insani-Nya, dan kebajikan insani-Nya menampung atribut ilahi.

MENYELAMATKAN KEBAJIKAN INSANI

DARI KEJATUHAN MANUSIA

Manusia-Penyelamat lahir dari esens insani dengan kebajikan insani untuk menyelamatkan kebajikan dari kejatuhan manusia. Sebelum Tuhan Yesus lahir, manusia telah jatuh. Karena itu, kecuali Tuhan Yesus, kebajikan dari setiap manusia itu telah jatuh. Demikian pula halnya de-ngan kebajikan insani Maria dan Yusuf. Kita tidak setuju dengan ajaran aliran tertentu yang mengatakan bahwa Maria tidak memiliki sifat dosa. (Doktrin tentang ketidak-berdosaan Maria menjadi satu pengajaran resmi dari aliran ini pada tahun 1854). Ajaran ini tidak memiliki dasar Kitab Suci, dan kita tidak bisa mempercayainya.

Dalam kitab-kitab Injil kita dapat melihat perbedaan antara kebajikan-kebajikan insani Manusia-Penyelamat dengan kebajikan-kebajikan insani Maria dan Yusuf. Misal-nya, catatan dalam Lukas 2 menunjukkan bahwa kebajikan-kebajikan Tuhan itu tinggi, murni, dan sempurna. Ketika Manusia-Penyelamat berusia dua belas tahun, Dia berkata kepada orang tua-Nya, yang sedang mencari-Nya, ”Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (2:49). Di pihak lain, ”Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan tetap hidup dalam asuhan mereka” (2:51). Ini adalah ketaatan dalam keinsanian-Nya terhadap orang tua insani-Nya. Bila kita membaca catatan ini, kita nampak betapa sempurnanya kebajikan-kebajikan insani Tuhan Yesus. Sebaliknya, kebajikan-kebajikan Maria tidak sempur-na. Bila kita membandingkan kedua jenis kebajikan insani ini, kita akan nampak bahwa kebajikan-kebajikan insani Tuhan itu dipertinggi, sedangkan kebajikan-kebajikan Maria tidak diperkuat, diperkaya, dan dipertinggi dengan atributatribut ilahi. Dari hal ini kita nampak bahwa kebajikan insani perlu diselamatkan dari kejatuhan.

MENGEMBALIKAN DAN MEMULIHKAN

KEBAJIKAN INSANI DARI KERUSAKAN

AKIBAT KEJATUHAN MANUSIA

Manusia-Penyelamat lahir dari esens insani dengan kebajikan insani juga untuk mengembalikan dan memulih-kan kebajikan insani dari kerusakan akibat kejatuhan manusia. Karena kejatuhan, kebajikan insani manusia telah menjadi rusak. Misalnya, kebajikan kasih telah rusak. Seorang saudara mungkin sangat mengasihi istrinya pada satu hari, dan pada hari selanjutnya ia mungkin tidak senang dengan istrinya, bahkan berpikir untuk menceraikannya. Ini adalah satu tanda yang kuat bahwa kasih insaninya telah rusak.

Kasih seorang anak perempuan terhadap ibunya juga telah rusak. Seorang anak perempuan mungkin pada suatu ketika sangat mengasihi ibunya, tetapi kasih ini mudah hancur dan dapat tiba-tiba berubah. Ini membuktikan bahwa kasih insani anak perempuan itu terhadap ibunya adalah satu kasih yang telah jatuh dan telah rusak.

Kebajikan-kebajikan kebenaran dan kekudusan manusia juga telah rusak oleh kejatuhan. Kebenaran kita memiliki banyak ”lubang” di dalamnya sehingga dapat dibandingkan dengan sarang lebah. Dapatkah Anda menghitung berapa banyak lubang yang ada dalam kebenaran Anda? Kasih, terang, benar, dan kudus kita semuanya telah rusak.

Inkarnasi Manusia-Penyelamat bukan hanya menyelamatkan kebajikan manusia dari kejatuhan, tetapi juga mengembalikan dan memulihkan kebajikan manusia dari kerusakan akibat kejatuhan. Sesuatu mungkin dapat dise-lamatkan tanpa dikembalikan kepada keadaan yang semula, atau mungkin dikembalikan kepada keadaan yang semula tanpa dipulihkan. Kebajikan-kebajikan insani kita perlu dise-lamatkan, dikembalikan, dan dipulihkan.

MEMPERTINGGI KEBAJIKAN INSANI

KE STANDAR YANG TERTINGGI

Selanjutnya, Manusia-Penyelamat berinkarnasi untuk mempertinggi kebajikan insani ke standar yang tertinggi, yaitu standar yang sesuai dengan atribut Allah bagi ekspresi Allah. Karena kebajikan manusia telah rusak dan berubah bentuk, maka kebajikan itu tidak sesuai dengan atribut Allah. Tetapi kebajikan insani yang dipertinggi dapat sesuai dengan atribut Allah. Manusia-Penyelamat lahir dari esens insani dengan kebajikan insani untuk mempertinggi kebajikan ini ke satu standar hingga kebajikan itu dapat sesuai dengan atribut Allah bagi ekspresi-Nya.

MENGHASILKAN STANDAR MORALITAS

YANG TERTINGGI BAGI KEKUATAN

PENYELAMATAN YANG PENUH KUASA

DARI MANUSIA-PENYELAMAT

Manusia-Penyelamat dikandung dari esens ilahi dengan atribut ilahi dan lahir dari esens insani dengan kebajikan insani yang menghasilkan standar moralitas yang tertinggi. Moralitas ini adalah bagi kekuatan penyelamatan yang penuh kuasa dari Manusia-Penyelamat. Hasil dari atribut ilahi yang memenuhi kebajikan insani yang kosong, memper-kuat, memperkaya, dan menguduskan kebajikan insani dan mengekspresikan Allah dalam kebajikan insani adalah standar moralitas yang tertinggi. Tuhan Yesus menunjuk-kan moralitas ini dalam Matius 5:20, ”Aku berkata kepada-mu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Tl.). Di sini Tuhan memerintahkan kita agar memiliki kebenaran yang unggul, yang bukan hanya merupakan kebenaran yang obyektif, me-lainkan satu kebenaran yang subyektif, yaitu Kristus yang berhuni yang diperhidupkan dari kita sebagai kebenaran kita. Manusia-Penyelamat tentunya memiliki kebenaran unggul yang demikian, dan kebenaran ini adalah standar moralitas yang tertinggi.

Dalam Filipi 3:9 Paulus membicarakan tentang standar moralitas yang tertinggi: ”Dan berada dalam Dia bukan de-ngan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasar-kan kepercayaan.” Paulus berusaha untuk berada di dalam Kristus bukan dengan kebenarannya sendiri, kebenaran ma-nusia, melainkan dengan kebenaran Allah. Ini menunjukkan bahwa kita, orang-orang Kristen, perlu memperhidupkan sa-tu kebenaran yang sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Paulus damba ditemukan di dalam Kristus dengan memiliki kebenaran unggul yang demikian, kebenaran dari standar yang tertinggi, yaitu kebenaran Allah.

Bagaimanakah kita dapat memiliki kebenaran Allah? Kita hanya dapat memiliki kebenaran Allah dengan memiliki Allah hidup di dalam kita. Jika Allah tidak hidup di dalam kita, kita tidak dapat memperhidupkan Dia. Jika kita tidak memperhidupkan Allah, kita tidak dapat memper-hidupkan kebenaran Allah. Untuk memperhidupkan kebenaran Allah kita harus memiliki Allah sendiri yang hidup di dalam kita. Ini adalah kebenaran yang unggul, kebenaran dari standar yang tertinggi. Inkarnasi Manusia-Penyelamat adalah untuk menghasilkan standar moralitas yang tertinggi ini, dan moralitas ini adalah bagi kekuatan keselamatan-Nya yang penuh kuasa.

Karena pengaruh tradisi, banyak orang Kristen memiliki konsepsi yang salah mengenai keselamatan Tuhan. Konsepsi mereka adalah Penyelamat kita, Yesus Kristus, hanya datang untuk menyelamatkan kita dari neraka dan membawa kita ke surga. Pemahaman terhadap keselamatan yang demikian sangat tidak memadai. Cara Manusia-Penyelamat menyelamatkan kita jauh lebih tinggi daripada ini.

Menurut cara-Nya menyelamatkan kita, Manusia-Penyelamat pertama-tama membawa atribut Allah ke dalam kebajikan manusia. Kemudian Dia menempuh satu kehidup-an dengan kebajikan insani yang dipenuhi, diperkuat, diper-kaya, dan dikuduskan oleh atribut ilahi. Dalam kehidupan yang demikianlah ada kekuatan yang menyelamatkan. Tuhan tidak menyelamatkan kita hanya dengan mengulur-kan tangan-Nya untuk menyelamatkan kita dari neraka. Melainkan, ketika Dia menyelamatkan kita, Dia masuk ke dalam kita sebagai Dia yang memiliki kebajikan insani yang dipenuhi dengan atribut ilahi. Kehidupan yang demikian menyelamatkan kita dari dalam dan mempertinggi kebajikan insani kita, serta memulihkan, menguduskan, dan men-transformasi kita. Orang yang diselamatkan dengan cara ini tentu tidak akan masuk neraka. Sebaliknya, ia akan pergi ke tempat Allah berada.

Misalnya ada orang benar-benar diselamatkan menurut konsepsi alamiah dengan hanya diselamatkan dari neraka dan dibawa ke surga. Jika Kristus hanya mengulurkan tangan-Nya untuk mengangkat kita dari neraka ke surga, Allah tidak akan senang. Dia akan berkata kepada orang itu: ”Aku tidak senang dengan hakiki kamu. Personamu menyalahi Aku. Aku tidak ingin kamu tetap tinggal di sini (di surga) bersama Aku.”

Kita perlu nampak bahwa cara Manusia-Penyelamat menyelamatkan kita itu tidak dangkal. Untuk menyelamatkan kita, Dia, Allah yang sejati ini, masuk ke dalam ma-nusia, membawa atribut Allah ke dalam kebajikan manusia. Sewaktu Dia di bumi, Dia menempuh kehidupan seorang manusia-Allah, dengan atribut ilahi yang memenuhi kebajik-an insani-Nya. Akhirnya, Dia mati di atas salib dan bangkit. Dalam kebangkitan-Nya, Dia menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Sekarang sebagai Roh pemberi-hayat, Dia masuk ke dalam kita untuk membawa Allah masuk ke dalam diri kita dan memenuhi kebajikan kita dengan atribut Allah. Dengan cara ini kita diselamatkan hari demi hari. Kita disela-matkan dengan cara pemulihan Tuhan, transformasi Tuhan.

STANDAR MORALITAS YANG TERTINGGI

YANG MENYUSUN KELAYAKAN DAN FAKTOR

DASAR KESELAMATAN YANG PENUH KUASA

DARI MANUSIA-PENYELAMAT

Standar moralitas yang tertinggi ini menyusun kelayakan bagi keselamatan yang penuh kuasa dari Manusia-Penyelamat. Hanya Manusia-Penyelamat yang memiliki kelayakan ini; tidak ada orang lainnya yang layak, termasuk Kong Hu Cu dan Plato. Dalam Injil Lukas ada sejumlah kasus yang menggambarkan bahwa standar moralitas Manusia-Penyelamat melayakkan Dia merampungkan keselamatan yang penuh kuasa. Ilustrasi yang paling baik adalah per-umpamaan orang Samaria yang murah hati (10:25-37). Orang Samaria ini memperhidupkan standar moralitas yang ter-tinggi, dan Dia menyelamatkan orang yang telah jatuh de-ngan standar moralitas-Nya.

Standar moralitas yang tertinggi ini juga menyusun faktor dasar keselamatan yang penuh kuasa dari Manusia-Penyelamat. Kita nampak hal ini dalam kasus Zakheus (19:1-10). Karena keselamatan yang penuh kuasa dari Ma-nusia-Penyelamat ini, maka segera setelah berkontak dengan Dia, Zakheus menjadi persona lain.

Ketika Manusia-Penyelamat datang ke rumah Zakheus, Dia datang dengan Roh kuasa (luk. 4:18) dan dengan hayat kekal yang tidak dapat binasa (Ibr. 7:16) untuk disalurkan ke dalam Zakheus sewaktu ia percaya kepada-Nya (Yoh. 3:15). Roh kuasa dan hayat yang kekal ini ditransmisikan dalam standar moralitas-Nya yang tertinggi. Ketika Dia, Manusia-Penyelamat yang penuh kuasa ini, melihat Zakheus dan berkata kepadanya, ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu,” Zakheus segera menanggapinya.

Kita dapat membandingkan Zakheus dengan sebuah boneka listrik yang segera bereaksi begitu aliran listrik masuk ke dalamnya. Apakah yang membuat Zakheus memberi reaksi demikian? Dikarenakan Roh itu dengan hayat yang kekal, sebagai listrik ilahi yang mengalir ke dalamnya dari Manusia-Penyelamat. Tanpa Roh itu, Dia tidak ada jalan untuk masuk ke dalam Zakheus sebagai hayat kekal. Keinsanian-Nya dalam standar moralitas yang tertinggi adalah ”kabel” yang menyampaikan ”listrik” dari Roh itu dengan hayat yang kekal. Roh itu dengan hayat yang kekal sebagai listrik ilahi ada di dalam keinsanian Tuhan dengan standar yang tertinggi. Ketika Dia melihat Zakheus dan berbicara kepada-nya, Roh itu dengan hayat kekal-Nya masuk ke dalamnya.

Selama tahun-tahun ministri-Nya di bumi, Tuhan Yesus bagaikan magnet besar yang menarik orang-orang kepada-Nya. Karena tertarik oleh-Nya, murid-murid itu meninggalkan segalanya untuk mengikut Dia. Kita tahu dari keempat kitab Injil bahwa orang banyak mengikuti Dia. Kita juga tertarik kepada-Nya karena Persona-Nya yang penuh kuasa. Alasan kita meluangkan banyak waktu untuk bersidang adalah bahwa kita telah tertarik kepada Manusia-Penyela-mat ini. Kita telah ditarik oleh penyelamatan-Nya yang pe-nuh kuasa. Penyelamatan yang penuh kuasa dari Manusia-Penyelamat tersusun dari standar moralitas-Nya yang tertinggi yang di dalamnya ada Roh yang penuh kuasa dan hayat yang kekal.

Allah Tritunggal adalah satu misteri, dan inkarnasi Kristus juga adalah satu misteri yang besar. Selain itu, ke-hidupan Manusia-Penyelamat di bumi juga misterius. Pertama, Dia adalah satu magnet yang menarik para pengikut-Nya. Akhirnya, Dia masuk ke dalam para pengikut-Nya dan membuat setiap orang dari mereka menjadi satu misteri. Inilah sebabnya kita, kaum beriman, merupakan satu misteri bagi famili dan teman kita. Mereka tidak mengerti apa yang sedang kita lakukan hari demi hari dan mengapa kita melakukannya. Sebenarnya, kita semua sedang menempuh satu kehidupan yang misterius.

Kita menjadi satu misteri itu benar-benar karena Manusia-Penyelamat, manusia-Allah, yang atribut ilahi-Nya memenuhi kebajikan insani-Nya menghasilkan standar moralitas yang tertinggi. Seperti yang telah kita tekankan dalam berita ini, standar moralitas Manusia-Penyelamat yang tertinggi ini menyusun kelayakan keselamatan-Nya yang penuh kuasa, juga menyusun faktor dasar keselamatan ini. Betapa ajaib!

Apa yang telah kita bahas dalam berita ini bukan melulu satu doktrin saja. Kita telah nampak satu Persona yang hidup, manusia-Allah dengan standar moralitas yang tertinggi sebagai kekuatan penyelamatan-Nya. Kita tidak boleh diisi dengan pengajaran-pengajaran — kita perlu Manusia-Penyelamat beserta keselamatan-Nya yang penuh kuasa. Saya menganjuri kalian membawa hal ini kepada Tuhan, nampak standar moralitas tertinggi Manusia-Penyelamat yang menyusun kelayakan-Nya dan menyusun faktor dasar keselamatan-Nya yang penuh kuasa. Jika kalian mem-bawa hal ini kepada Tuhan dalam doa, saya percaya, Dia sebagai Roh itu akan lebih banyak berbicara kepada kalian mengenai standar moralitas-Nya yang tertinggi.