KEHIDUPAN MANUSIA-ALLAH MANUSIA-PENYELAMAT (1)
Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:14a, 16-17a; Flp. 2:6-8; Yoh. 1:1, 14; 5:30; 6:38
Judul berita ini adalah ”Kehidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat”. Pernahkah Anda memikirkan hal ini? Pernahkah Anda menyadari bahwa ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, kehidupan-Nya adalah kehidupan manusia-Al-lah? Kehidupan-Nya bukan hanya kehidupan seorang manusia, tetapi juga kehidupan seorang manusia-Allah.
BEBERAPA PERTANYAAN MENGENAI
KESELAMATAN ALLAH
Perlunya Inkarnasi Allah
Untuk menyelamatkan kita, Allah harus hidup sebagai seorang manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun. Pernahkah Anda memikirkan hal ini? Dalam menciptakan alam semesta ini, Allah hanya memakai waktu enam hari, dan pada hari yang ketujuh Dia beristirahat. Lalu, mengapa Allah perlu hidup di bumi sebagai seorang manusia selama bertahun-tahun untuk menyelamatkan kita? Tuhan bukan hanya menjadi seorang manusia; Dia bahkan hidup di bumi sebagai seorang manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun.
Tidak lama setelah saya diselamatkan, saya mulai memikirkan cara Allah menyelamatkan kita. Saya berkata kepada diri saya sendiri, ”Allah itu mahakuasa. Jika Dia mau, Dia dapat menyelamatkan kita dengan mengeluarkan kita dari neraka dan membawa kita ke surga. Mengapa Dia menjadi seorang manusia dan hidup di bumi?”
Kehidupan insani Tuhan itu sejati. Kehidupan insani yang sejati ini tidak ditempuh-Nya dalam masyarakat kelas tinggi, melainkan dalam masyarakat kelas menengah dan kelas rendah. Tuhan Yesus tidak menempuh kehidupan insani-Nya sebagai bagian dari masyarakat kelas tinggi. Sebaliknya, Dia adalah anggota dari satu keluarga yang miskin dan bekerja sebagai seorang tukang kayu, yang hidup dalam masyarakat kelas rendah. Sekalipun Dia adalah seorang keturunan raja dari keluarga Daud, Dia lahir dalam keluarga yang miskin dan hidup di antara masyarakat kelas rendah selama tiga puluh tahun. Pada usia tiga puluh tahun, Dia keluar menunaikan ministri-Nya dan melayani selama tiga setengah tahun.
Karena Allah itu mahakuasa, mengapa Dia tidak menyelamatkan kita dengan cara yang sama seperti Dia menciptakan alam semesta ini? Dalam penciptaan-Nya, Al-lah hanya perlu berfirman, dan sesuatu terjadi. Misalnya, Dia berfirman, ”Jadilah terang, lalu terang itu jadi” (Kej. 1:3). Mengenai penciptaan, Mazmur 33:9 mengatakan, ”Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” Kalau Allah menciptakan langit dan bumi dengan cara ini, mengapa Dia perlu hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun untuk menyelamatkan kita?
Penerapan Penebusan Kristus
Pertanyaan lainnya berkenaan dengan penerapan penebusan Kristus. Manusia-Penyelamat menggenapkan penebusan lebih dari seribu sembilan ratus tahun yang lalu. Mengapa Dia tidak segera menerapkan penebusan yang telah digenapkan ini kepada seluruh umat pilihan-Nya dan dengan demikian tidak memberi kesempatan kepada musuh melakukan banyak hal yang jahat?
Perhatikanlah situasi sejak Kristus menggenapkan penebusan ini sampai sekarang. Memang, kekristenan telah menyebar ke seluruh dunia, tetapi sebenarnya hanya ada sedikit hayat. Kelihatannya selama sembilan belas abad yang lalu Allah tidak menggenapkan banyak hal. Allah telah bekerja sepanjang tahun, tetapi terjadi banyak penentangan dan penyerangan. Iblis, musuh Allah, berkali-kali menyerang umat pilihan Allah. Mengapa hal ini terjadi? Mengapa Tuhan tidak segera menerapkan penebusan-Nya? Jika Dia berbuat demikian, maka tidak perlu ada masa seribu tahun. Setelah penerapan penebusan ini, segala sesuatu akan men-jadi baru. Akan ada langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru, tempat seluruh umat tebusan Allah berada.
Pernahkah Anda memikirkan hal-hal seperti ini? Pernahkah Anda membayangkan mengapa ada kesenjangan di antara penggenapan penebusan dengan penerapan penebusan? Saya dapat bersaksi bahwa saya telah memikirkan halhal ini lebih dari lima puluh tahun.
Kehidupan Insani Tuhan
Pada permulaan kehidupan kristiani saya, saya heran mengapa Allah tidak menyelamatkan saya dengan cepat, seperti pekerjaan-Nya dalam penciptaan. Ketika saya me-nanyakan hal ini kepada pendeta saya, ia memberi tahu saya bahwa karena kita adalah manusia maka Penyelamat kita perlu menjadi seorang manusia. Memang, dalam penciptaan, Allah tidak perlu menjadi manusia. Tetapi dalam keselamatan, Dia benar-benar perlu menjadi seorang manusia.
Bagi Allah, menciptakan manusia lebih mudah daripada menjadi manusia. Dalam menciptakan manusia, Allah tidak memiliki kesulitan; Dia hanya melakukan pekerjaan pen-ciptaan. Tetapi Allah terlibat dalam kesulitan-kesulitan pada waktu Dia menjadi manusia. Dalam penciptaan-Nya, Allah hanya melakukan hal-hal tertentu. Tetapi dalam keselamat-an-Nya, Dia bukan hanya melakukan sesuatu — Dia bahkan menjadi manusia.
Sewaktu saya memikirkan inkarnasi Allah bagi ke-selamatan kita, saya sadar bahwa adalah logis Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Tetapi saya masih tidak mengerti mengapa Dia perlu hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun? Mengapa Dia tidak menjadi manusia, tinggal sejenak di bumi, mungkin satu bulan, dan kemudian pergi ke salib untuk menggenapkan penebusan? Mengapa Dia perlu menjadi seorang bayi yang bertumbuh hari demi hari? Lukas 2:40 mengatakan, ”Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Di sini kita nampak bahwa Tuhan Yesus bertumbuh dengan normal; Dia tidak bertumbuh dewasa dalam jangka waktu yang singkat. Selain itu, Tuhan Yesus tidak memberitakan selama beberapa hari dan kemudian mati untuk menebus kita, Tuhan Yesus malah melayani selama tiga setengah tahun sebelum pergi ke salib untuk menggenapkan penebusan.
Dalam keempat kitab Injil terdapat catatan yang panjang tentang kehidupan dan ministri Tuhan. Injil Matius, misalnya, berisi 28 pasal. Injil Matius tidak hanya mengata-kan Tuhan Yesus lahir dan mati untuk menebus kita lalu bangkit, tetapi juga mencatat banyak hal lainnya. Dalam kitab-kitab Injil kita nampak bahwa Manusia-Penyelamat tidak bertumbuh secara ajaib; sebaliknya, Dia bertumbuh dengan normal. Tetapi mengapa hal ini diperlukan? Karena kita telah jatuh dan penuh dengan dosa, kita memerlukan Tuhan mati bagi kita. Dia menderita kematian yang meng-gantikan kita bagi keselamatan kita. Tetapi mengapa Dia menderita banyak hal selama tiga puluh tiga setengah tahun dalam kehidupan-Nya?
Sebenarnya, hanya tiga jam terakhir di kayu salib yang merupakan penderitaan yang menggantikan kita. Selama tiga jam yang pertama Dia tidak menderita sedemikian. Selama periode tiga jam yang kedua, Allah datang meng-hakimi Manusia-Penyelamat sebagai Pengganti kita: ”Dan kegelapan meliputi seluruh bumi sampai jam tiga” (Luk. 23:44). Lalu, mengapa Dia perlu menderita selama tiga jam yang pertama di kayu salib, karena penderitaan itu bukanlah bagi dosa-dosa kita?
Selama bertahun-tahun saya berusaha menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini dalam buku-buku, tetapi saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Jawaban-jawaban yang lengkap untuk pertanyaan-pertanyaan ini datang sebagai hasil dari mempelajari Alkitab secara langsung selama lebih dari lima puluh tahun, khususnya sepuluh tahun terakhir ini, yang kita pakai untuk membahas Pelajaran-Hayat Perjanjian Baru.
CARA ALLAH MENYELAMATKAN KITA
Marilah kita membandingkan dua cara yang mungkin dalam menyelamatkan orang. Pertama, misalnya Allah hanya mengulurkan tangan-Nya, menarik seorang dosa keluar dari neraka, dan membawanya ke surga. Cara menyelamatkan orang seperti ini mudah. Cara yang kedua, cara yang diambil oleh Allah, jauh lebih sulit. Menurut cara-Nya, Allah menjadi seorang manusia dan menempuh kehidupan insani di bumi.
Melalui inkarnasi-Nya Allah membawa atribut ilahi ke dalam kebajikan insani, yang memenuhi, mengembalikan, memulihkan, menguduskan, dan mentransformasi mereka. Pikirkanlah berapa banyak waktu yang diperlukan bagi kebajikan manusia untuk dipertinggi dan ditransformasi dengan cara ini. Dalam keselamatan-Nya, Allah bukan hanya menarik orang keluar dari neraka dan membawa me-reka ke surga. Bagi keselamatan kita, Allah yang menyelamatkan ini menjadi manusia dan menempuh kehidupan di bumi yang melayakkan Dia menyelamatkan kita. Kehidup-an ini juga menjadi faktor dasar keselamatan-Nya yang pe-nuh kuasa. Prosedur yang melayakkan Manusia-Penyelamat ini memerlukan waktu yang panjang.
Tahap pertama dari keselamatan Allah adalah menjadi manusia, hidup di bumi, mati di atas salib, dan bangkit. Dalam tahap kedua, Manusia-Penyelamat masuk ke dalam orang-orang yang telah diselamatkan, hidup di dalam mereka, dan bertumbuh di dalam mereka, mengulangi kehidupan-Nya di dalam mereka.
Tuhan bukan hanya berangsur-angsur tumbuh di dalam kaum beriman, tetapi juga berangsur-angsur menyebar ke seluruh dunia. Tuhan menyebar bukan secara tiba-tiba, melainkan menyebar dengan perlahan-lahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada mulanya, penyebarannya hanya di daerah Laut Tengah, kemudian Dia menyebar ke Amerika Utara dan ke China. Suatu hari, Dia masuk ke dalam Anda dan saya. Pada tahun 1925, Manusia-Penyelamat ini masuk ke dalam saya. Sejak saat itu dan seterusnya, Dia hidup di dalam saya dan bertumbuh di dalam saya.
Bagaimana kita membicarakan tentang Tuhan menyelamatkan kita dengan masuk ke dalam kita dan hidup di dalam kita? Kita dapat mengatakan bahwa ini adalah keselamatan dalam hayat. Namun, istilah ”keselamatan dalam hayat” ini telah dirusak oleh beberapa guru Alkitab yang sebenarnya tidak mengenal dengan memadai apa arti diselamatkan dalam hayat (Rm. 5:10). Menurut Alkitab, hayat adalah Allah itu sendiri masuk ke dalam kita untuk hidup di dalam kita. Untuk diselamatkan secara demikian itu memerlukan waktu yang panjang.
KEHIDUPAN MANUSIA-ALLAH
Manusia-Penyelamat menempuh satu proses yang panjang bukan untuk menyelamatkan kita dengan menarik kita keluar dari neraka, melainkan dengan melaksanakan keselamatan-Nya yang penuh kuasa. Istilah ”keselamatan yang penuh kuasa” di sini berarti Allah menjadi manusia dan menempuh kehidupan manusia untuk mengekspresikan Allah. Meskipun Dia menempuh kehidupan manusia, Dia tidak mengekspresikan manusia; Dia mengekspresikan Allah. Se-bagai Manusia-Penyelamat yang menempuh kehidupan yang demikian di bumi, malaikat-malaikat dan roh-roh najis dapat bersaksi bahwa Dia adalah manusia yang menempuh ke-hidupan insani untuk mengekspresikan Allah. Inilah ke-hidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat. Keempat kitab Injil memberi tahu kita tentang Dia yang menempuh ke-hidupan manusia-Allah.
Dalam Lukas 2:40-52 kita nampak Manusia-Penyelamat yang bertumbuh dan maju. Ketika Dia berusia dua belas tahun, Dia pergi bersama orang tua-Nya ke Yerusalem pada hari raya Paskah menurut adat istiadat (ay. 41-42). Lukas juga memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus memulai mi-nistri-Nya ketika Dia berumur kira-kira tiga puluh tahun (3:23). Hanya dalam Injil Lukas kita diberi tahu apa yang terjadi dengan Tuhan Yesus pada waktu Dia berumur dua belas tahun dan pada waktu berumur tiga puluh tahun. Alasannya adalah Lukas menyajikan Tuhan Yesus sebagai seorang manusia yang sejati dan tulen. Dalam Injil Lukas kita nampak bahwa Tuhan adalah manusia yang riil, ma-nusia yang normal; Dia bukan seorang yang ajaib. Tuhan bertumbuh dengan normal, secara insani. Akhirnya, pada umur tiga puluh tahun, Dia mencapai kematangan bagi mi-nistri ilahi. Menurut Perjanjian Lama, seorang Lewi harus berumur tiga puluh tahun baru dapat sepenuhnya masuk ke dalam jabatan imam. Demikian juga, Manusia-Penyelamat telah dewasa ketika Dia masuk ke dalam ministri-Nya.
Kehidupan Manusia-Penyelamat adalah kehidupan manusia-Allah. Ketika di bumi, Tuhan Yesus memperhidupkan manusia-Allah. Kehidupan ini adalah fakta yang tercatat dalam Alkitab. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita dapat mempelajari catatan tentang kehidupan manusia-Allah Tuhan dalam kitab-kitab Injil. Semakin saya mempel-ajari keempat kitab Injil, semakin banyak berita yang saya sampaikan mengenainya, dan saya semakin yakin bahwa Tuhan Yesus benar-benar manusia-Allah.
MANUSIA YANG MENGEKSPRESIKAN ALLAH
Kita telah nampak bahwa Manusia-Penyelamat tidak menempuh kehidupan yang mengekspresikan manusia. Dia menempuh satu kehidupan manusia, namun kehidupan ini mengekspresikan Allah. Maka, kehidupan Tuhan adalah kehidupan seorang manusia-Allah. Dia menempuh suatu kehidupan yang di dalamnya Allah diekspresikan melalui manusia.
Kita telah memakai ilustrasi tangan dan sarung tangan untuk memperlihatkan bagaimana Allah diekspresikan melalui keinsanian Manusia-Penyelamat. Sarung tangan menampung tangan dan mengekspresikan tangan itu. Bila tangan di dalam sarung tangan bergerak, maka sarung tangan itu juga bergerak. Tetapi sewaktu sarung tangan bergerak, sarung tangan itu tidak mengekspresikan sarung tangan, melainkan mengekspresikan tangan. Demikian juga, Tuhan Yesus hidup di bumi sebagai seorang manusia, tetapi tidak mengekspresikan manusia; Dia mengekspresikan Allah. Dia menempuh suatu kehidupan yang mengekspresikan Allah. Ketika orang-orang melihat Dia, mereka melihat seorang manusia sejati. Meskipun demikian, apa yang mereka lihat di dalam Dia adalah ekspresi Allah. Mereka tidak melihat seorang manusia yang mengekspresikan manusia; mereka melihat seorang manusia yang mengekspresikan Allah.
Mengenai ekspresi Allah di dalam Tuhan Yesus, Yohanes berkata, ”Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa” (Yoh. 1:14). Kemuliaan adalah ekspresi Allah. Karena itu, ketika murid-murid melihat kemuliaan Tuhan, mereka melihat ekspresi Allah.
Rasul Yohanes adalah salah seorang dari anak-anak guruh (Mrk. 3:17). Meskipun ia berani dan galak, tetapi ia tertarik kepada Manusia-Penyelamat dan mengikuti Dia. Ia dan saudaranya Yakobus adalah kelompok kedua yang tertarik kepada Tuhan Yesus. (Kelompok pertama terdiri dari Petrus dan Andreas). Ketika Tuhan Yesus memanggil Yohanes dan Yakobus, mereka ”bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu” (Mat. 4:21). Tetapi mereka tertarik kepada Tuhan dan mening-galkan perahu dan ayah mereka lalu mengikut Dia (Mat. 4:22). Selama tiga setengah tahun mereka melihat kehidupan manusia-Allah, meskipun mereka tidak memahami apa yang mereka lihat itu. Tetapi setelah kebangkitan Manusia-Penyelamat, mata mereka terbuka dan mereka mulai me-mahami kehidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat.
Ketika Yohanes menulis kitab Injilnya, ia sudah cukup tua, mungkin berumur sembilan puluhan. Dia bersaksi bahwa Allah menjadi daging dan bahwa mereka melihat kmuliaan-Nya. Seorang manusia sedang hidup dan berjalan bersama mereka, dan di dalam Orang ini mereka melihat kemuliaan Allah. Ketika Dia bersama mereka dalam daging, mereka tidak memahami bahwa Dia adalah seorang manusia yang menempuh kehidupan manusia untuk mengekspresi-kan Allah. Tetapi setelah kebangkitan-Nya, mereka baru sa-dar bahwa mereka telah melihat Allah terekspresi dalam Yesus orang Nazaret.
Kitab-kitab Injil mencatat sejarah kehidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat. Sekarang sejarah ini perlu di-tulis ke dalam diri kita. Dalam berita selanjutnya kita akan nampak bahwa kedambaan Allah adalah mereproduksikan Manusia-Penyelamat dan kehidupan manusia-Allah-Nya di dalam kita.