KEHIDUPAN MANUSIA-ALLAH MANUSIA-PENYELAMAT (2)
Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:14a, 16-17a; Flp. 2:6-8; Yoh. 1:1, 14; 5:30; 6:38
Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas kehidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat.
MANUSIA-PENYELAMAT
Manusia Sejati dengan Sifat Insani yang Riil
dan Kebajikan Insani yang Sempurna,
Layak Menjadi Penyelamat Manusia
Manusia-Penyelamat adalah manusia sejati dengan sifat insani yang riil dan kebajikan insani yang sempurna. Di sini kita memakai tiga kata sifat untuk menggambarkan Manusia-Penyelamat dalam keinsanian-Nya: sejati, riil, dan sempurna. Sebagai seorang manusia, Manusia-Penyelamat ini sejati. Sifat-Nya riil; jadi, Dia adalah seorang manusia yang riil, bukan hantu. Lagi pula, kebajikan insani Manusia-Penyelamat ini sempurna. Agar layak menjadi Penye-lamat manusia, Tuhan Yesus harus menjadi seorang manusia sejati dengan sifat insani yang riil dan kebajikan insani yang sempurna. Karena Dia itu sebagai seorang manusia sejati, riil dalam sifat insani-Nya, dan sempurna dalam ke-bajikan insani-Nya, maka Dia layak menjadi Manusia-Penyelamat.
Allah yang Lengkap dengan Sifat Ilahi yang Sejati dan Atribut Ilahi
yang Unggul untuk Menguatkan dan Menjamin Kemampuan-Nya
untuk Menyelamatkan Manusia
Manusia-Penyelamat ini bukan hanya seorang manusia sejati, tetapi juga adalah Allah yang lengkap. Sebagai Allah yang lengkap, Dia memiliki sifat ilahi yang sejati dan atribut ilahi yang unggul.
Ahli-ahli teologi ortodoks dan guru-guru Alkitab yang fundamental setuju bahwa Kristus adalah Allah yang leng-kap. Namun, beberapa orang tidak mau mengakui bahwa Dia ini bukan hanya Putra Allah, tetapi juga Bapa dan Roh. Di satu pihak, mereka mengajarkan bahwa Kristus adalah Allah yang lengkap; di pihak lain, mereka mengajarkan bahwa Kristus hanyalah satu bagian dari Trinitas. Maka, di antara ahli-ahli teologi dan guru-guru itu ada satu kontradiksi. Jika Anda mengatakan bahwa Kristus hanyalah bagian dari Trinitas, maka Dia bukanlah Allah yang lengkap, melainkan Dia hanya satu bagian dari Allah yang lengkap itu. Allah yang lengkap ini bukan hanya Bapa saja, Roh saja, atau Putra saja. Allah yang lengkap adalah Allah Tri-tunggal — Bapa, Putra, dan Roh.
Kita ingin menekankan fakta bahwa Manusia-Penyelamat adalah manusia yang sejati dan Allah yang lengkap. Dia adalah seorang manusia sejati dengan sifat insani yang riil dan kebajikan insani yang sempurna, Dia juga Allah yang lengkap dengan sifat ilahi sejati dan atribut ilahi yang unggul. Kita telah nampak bahwa mengenai keinsanian-Nya, Manusia-Penyelamat ini sejati, riil, dan sempurna. Sekarang kita perlu nampak bahwa mengenai keilahian-Nya, Dia itu lengkap, sejati, dan unggul. Dia adalah Allah yang lengkap, Dia memiliki sifat ilahi sejati, dan Dia memiliki atribut ilahi yang unggul. Kebajikan insani-Nya sempurna, sedangkan atribut ilahi-Nya unggul; atribut-atribut-Nya super, hebat.
Sifat ilahi dan atribut ilahi Manusia-Penyelamat yang unggul ini menguatkan dan menjamin kemampuan-Nya un-tuk menyelamatkan manusia. Dalam keinsanian-Nya ada kemampuan untuk menyelamatkan kita, kemampuan untuk keselamatan. Tetapi kemampuan ini dikuatkan dan dijamin oleh keilahian-Nya. Kemampuan-Nya untuk menyelamatkan kita digaransi oleh keilahian-Nya.
Bila beberapa orang mendengar bahwa sifat ilahi dan atribut ilahi Manusia-Penyelamat menguatkan dan men-jamin kemampuan-Nya untuk menyelamatkan kita, mereka mungkin berkata, ”Adakah ayat di dalam Alkitab yang mengatakan ini? Sudahkah Anda membaca satu buku yang mengajarkan tentang hal ini?” Saya harus menjawab dua pertanyaan itu dengan tidak. Kelihatannya, memang tidak ada satu ayat dalam Alkitab yang mengajarkan hal ini, dan saya belum pernah membaca satu buku yang memakai ungkapan ini. Mungkin Anda heran mengapa saya berani mengatakan demikian. Jawaban saya adalah pengajaran semacam ini adalah hasil dari mempelajari Alkitab lebih dari setengah abad. Khususnya, ini adalah hasil dari sepuluh tahun Pelajaran-Hayat Perjanjian Baru, satu pelajaran yang segera akan dilengkapi dengan kitab Kisah Para Rasul. Menurut wahyu ilahi dalam Kitab Suci, sifat ilahi dan atri-but-atribut ilahi Manusia-Penyelamat ini menguatkan dan menjamin kemampuan penyelamatan-Nya. Alkitab secara menyeluruh sesungguhnya mewahyukan bahwa keilahian Tuhan menguatkan kemampuan penyelamatan-Nya, yang ada dalam keinsanian-Nya.
1 Yohanes 1:7 menyampaikan pemikiran bahwa ke-ilahian Kristus menguatkan dan menjamin kemampuan penyelamatan dalam keinsanian-Nya. Ayat ini mengatakan, ”Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa.” Di sini nama ”Yesus” menekankan keinsanian Tuhan, yang diperlukan bagi pencurahan darah penebusan, dan gelar ”Anak-Nya” mengacu kepada keilahian Tuhan, yang di-perlukan bagi khasiat kekal darah penebusan. Jadi, ”darah Yesus, Anak-Nya” menunjukkan bahwa darah ini adalah darah yang tepat dari seorang manusia sejati bagi penebusan makhluk ciptaan Allah yang telah jatuh dengan jaminan ilahi dari khasiat kekalnya, yaitu khasiat yang selalu melampaui ruang dan kekal dalam waktu.
Menurut 1 Yohanes 1:7, darah yang dicurahkan oleh Manusia-Penyelamat di kayu salib bukan hanya darah Yesus, tetapi juga darah Putra Allah. Ini adalah darah satu orang dengan status ganda, status manusia dan Allah. Darah Yesus adalah darah seorang manusia sejati yang di-perlukan bagi penebusan kita. Khasiat darah ini dijamin oleh keilahian Manusia-Penyelamat. Keilahian membuat darah Yesus menjadi kekal. Di luar keilahian Tuhan, penebusan-Nya tidak dapat menjadi kekal.
Keilahian sejati Tuhan dengan atribut-Nya yang unggul ini menguatkan dan menjamin kemampuan-Nya untuk menyelamatkan manusia. Keinsanian-Nya melayakkan Dia untuk menyelamatkan kita, dan keilahian-Nya menguatkan Dia untuk menyelamatkan kita. Keilahian-Nya juga menjamin kemampuan-Nya untuk menyelamatkan manusia.
MANUSIA-ALLAH
Memiliki Sifat Insani dengan Kebajikannya
untuk Menampung dan Mengekspresikan Allah
Sebagai manusia sejati dan Allah yang lengkap, Manu-sia-Penyelamat ini adalah manusia-Allah. Dia memiliki sifat insani dengan kebajikannya untuk menampung Allah dan mengekspresikan Dia. Tidak ada seorang pun yang pernah menampung Allah seperti yang Tuhan Yesus lakukan. De-ngan kebajikan-kebajikan insani-Nya Dia menampung Allah dan mengekspresikan Dia. Dalam pertandingan Olimpiade, para atlet berusaha sekuatnya untuk memamerkan kemam-puan mereka. Tetapi Manusia-Allah ini tidak perlu memak-sakan diri-Nya memamerkan kemampuan-Nya untuk me-nampung dan mengekspresikan Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat dibandingkan dengan Dia dalam hal memiliki sifat insani dengan kebajikannya untuk menampung dan mengekspresikan Allah.
Memiliki Sifat Ilahi dengan Atribut Ilahinya
untuk Menjadi Isi dan Realitas-Nya untuk Ekspresi Allah
Sebagai manusia-Allah Tuhan Yesus memiliki sifat ilahi dengan atribut ilahi sebagai isi dan realitas-Nya untuk mengekspresikan Allah. Manusia-Allah ini memiliki esens Allah, sifat Allah, dan atribut Allah. Dia adalah manusia sejati dengan sifat insani yang riil dan kebajikan insani yang sempurna untuk mengekspresikan Allah. Namun, untuk mengekspresikan Allah, Dia harus memiliki Allah sebagai isi dan realitas-Nya. Sekali lagi kita dapat memakai ilustrasi sarung tangan. Sarung tangan mengekspresikan tangan. Tetapi jika sarung tangan hendak mengekspresikan tangan, sarung tangan itu harus memiliki tangan sebagai isi dan realitasnya. Manusia-Allah adalah ”sarung tangan” dan ”tangan”, karena Dia memiliki keinsanian sebagai wadahnya dan keilahian sebagai isinya.
Hari ini Manusia-Penyelamat masih tetap manusia dan Allah. Dia adalah manusia sebagai wadahnya, dan Dia ada-lah Allah sebagai isinya. Dalam Dia kita memiliki sifat insani yang riil dan sifat ilahi yang sejati. Dalam Dia kita memiliki kebajikan insani yang sempurna dan atribut ilahi yang unggul. Dua kategori ini bertemu di dalam Dia dan berbaur di dalam-Nya menjadi satu susunan. Maka, Dia adalah manusia-Allah.
Namun, perbauran ini tidak menghasilkan sifat ketiga, sifat yang sepenuhnya bukan insani juga bukan ilahi. Selain itu, setelah esens dari sifat insani dan sifat ilahi ini berbaur dan menjadi satu susunan, keduanya masih tetap berbeda. Ini berarti dalam pembauran keilahian dengan keinsanian dalam Manusia-Penyelamat ini tidak ada kekacauan di an-tara kedua sifat itu. Perbauran ini misterius; manusia-Allah ini benar-benar satu misteri.
Sewaktu saya muda, saya tidak menerima bantuan semacam ini dalam memahami Tuhan Yesus sebagai manusiaAllah. Saya bersyukur bahwa kaum beriman muda dapat menerima bantuan ini pada hari ini. Angkatan muda dalam pemulihan Tuhan ini sangat diberkati bila mendengar perkataan demikian mengenai manusia-Allah, Manusia-Penyelamat, dengan sifat insani-Nya dan sifat ilahi-Nya.
Banyak buku yang mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah manusia-Allah, tetapi dari antara buku-buku itu, manakah yang menafsirkan manusia-Allah dengan cara seperti yang disajikan berita-berita ini dalam Pelajaran-Hayat Lukas? Apakah manusia-Allah itu? Dia adalah manusia sejati dengan sifat insani yang riil dan kebajikan insani yang sempurna, dan Dia adalah Allah yang lengkap dengan sifat ilahi sejati dan atribut ilahi yang unggul. Dia memiliki sifat insani dengan kebajikannya untuk menampung dan mengekspresikan Allah. Dia juga memiliki sifat ilahi dengan atributnya untuk menjadi isi dan realitas-Nya bagi ekspresi Allah. Inilah manusia-Allah.
KEHIDUPAN MANUSIA-ALLAH
Kehidupan Manusia Sejati, Bukan Berdasarkan
Hayat Manusia Mengekspresikan Manusia
dalam Kebajikan Manusia
Sekarang marilah kita melanjutkan membahas kehidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat. Ini adalah kehidupan seorang manusia sejati, tetapi bukan oleh hayat manusia — pikiran, tekad, dan emosi manusia — untuk mengekspresikan manusia dalam kebajikan manusia.
Dua ayat dari Injil Yohanes sangat membantu dalam memahami hal ini. Dalam Yohanes 5:30 Tuhan Yesus ber-kata, ”Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Dalam Yohanes 6:38 Dia selanjutnya berkata, ”Sebab Aku te-lah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Dalam ayat-ayat ini kita nampak bahwa Tuhan Yesus tidak berbuat atau mencari kehendak-Nya sendiri.
Sesungguhnya, tekad kita mewakili seluruh diri kita. Memang, di satu pihak diri kita diwakili oleh pikiran kita. Namun, pikiran hanya mewakili diri kita dalam pemikiran saja; sedangkan tekad mewakili diri kita, atau jiwa kita, dalam perbuatannya. Anda mungkin memiliki pemikiran tentang banyak hal, tetapi berapa banyak dari hal-hal itu yang telah Anda lakukan? Mungkin dari seratus hal yang kita pikirkan, hanya dua hal saja yang kita lakukan. Yang ingin kita tekankan di sini ialah pikiran kita mewakili diri kita dalam pemikiran, dan tekad kita mewakili diri kita dalam tindakan, dalam perbuatan.
Fakta bahwa Tuhan Yesus tidak mencari atau melakukan kehendak-Nya sendiri menunjukkan bahwa sewaktu Dia hidup sebagai seorang manusia, Dia tidak hidup oleh pikiran, tekad, dan emosi-Nya sendiri. Ini berarti Dia tidak hidup oleh hayat-Nya sendiri. Di sini ”hayat” sama dengan diri kita, dan diri kita tersusun dari pikiran, tekad, dan emosi kita. Manusia-Penyelamat, manusia-Allah ini, hidup sebagai seorang manusia, tetapi Dia tidak hidup oleh pikiran, tekad, dan emosi-Nya sendiri.
Kehidupan Manusia Sejati Berdasarkan Hayat Allah
Mengekspresikan Allah dalam Atribut Allah
Tuhan Yesus menempuh kehidupan manusia sejati berdasarkan pikiran, tekad, dan emosi Allah — untuk meng-ekspresikan Allah dalam atribut Allah. Tuhan tidak mencari kehendak-Nya sendiri melainkan mencari kehendak Allah. Dia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan untuk melakukan kehendak Allah. Ini berarti Dia datang untuk hidup sebagai manusia bukan berdasarkan hayat manusia, melainkan berdasarkan hayat Allah. Dia hi-dup berdasarkan pikiran, tekad, dan emosi Allah untuk mengekspresikan Allah dalam atribut Allah. Atribut ini tercakup di dalam dan berbaur dengan kebajikan insani-Nya.
Dalam Injil Lukas terdapat banyak teladan tentang kehidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat. Perhatikanlah kasus orang Samaria yang murah hati (10:25-37). Dalam kehidupan insani orang Samaria yang murah hati ini Allah diekspresikan. Allah menguatkan Dia. Kasih yang dieks-presikannya bukan hanya kasih insani, tetapi juga kasih insani yang diteguhkan, dikuatkan, dan diperkaya oleh kasih ilahi. Maka, ini adalah kasih yang super, kasih yang unggul.
Perhatikan juga kasus tentang Zakheus (19:1-10). Dalam hal Manusia-Penyelamat datang kepada Zakheus dan dalam hal pemberesan terhadapnya, kita nampak sesuatu yang ilahi. Sulit untuk menjelaskan apa yang kita nampak dalam manusia Yesus ini. Di dalam Dia ada sesuatu yang melebihi kemahatahuan ilahi. Di dalam Dia ada atribut ilahi yang unggul yang menguatkan kebajikan insani-Nya. Tuhan Yesus hidup dengan cara memiliki kebajikan insani yang dikuatkan oleh atribut ilahi.
Tuhan Yesus sudah sedemikian sejak berumur dua belas tahun. Ketika Tuhan Yesus berumur dua belas tahun, Dia adalah anak kecil. Tetapi sewaktu kita membaca catatan dalam Lukas 2, kita nampak bahwa dalam anak kecil ini ada unsur ilahi. Atribut Allah diekspresikan dalam kehidupan insani-Nya.
Tuhan Yesus menempuh kehidupan manusia sejati, namun dalam kehidupan-Nya kita nampak unsur ilahi dan juga faktor-faktor ilahi tertentu. Kehidupan ini bukan meng-ekspresikan manusia, melainkan mengekspresikan Allah. Inilah hayat dan kehidupan manusia-Allah.
Pikiran, Tekad, dan Emosi Manusia Menjadi Organ
untuk Menampung Hayat Allah
Dalam kehidupan Tuhan Yesus, pikiran, tekad, dan emosi manusia menjadi organ untuk menampung hayat Allah. Kita dapat membandingkan organ-organ ini dengan jari-jari dari sebuah sarung tangan. Sama seperti jari-jari sarung tangan menampung jari-jari yang sebenarnya, demikian juga pikiran, tekad, dan emosi Manusia-Penyelamat menampung hayat Allah. Lima jari sarung tangan itu bukanlah jari yang sesungguhnya melainkan menampung lima jari dari tangan manusia. Demikian juga, pikiran, tekad, dan emosi Tuhan adalah organ yang menampung pikiran, tekad, dan emosi Allah. Inilah kehidupan Manusia-Allah-Nya.
Kebajikan Manusia Menjadi Kulit Luar,
Gambar, untuk Mengekspresikan Atribut Allah
supaya Allah dapat Diekspresikan
dalam Kehidupan Manusia
Dalam kehidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat ini kebajikan manusia menjadi kulit luar, gambar, untuk mengekspresikan atribut Allah supaya Allah dapat dieks-presikan dalam kehidupan manusia. Dari hal ini kita nam-pak bahwa kebajikan insani kita — kasih, terang, kudus, dan benar — sama seperti kulit luar, gambar yang dicipta-kan oleh Allah dalam Kejadian 1:26. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya supaya Allah dapat dieks-presikan dalam kehidupan manusia.
Jika kita nampak hal ini kita memiliki jawaban atas pertanyaan yang disinggung dalam berita sebelumnya mengenai mengapa Tuhan Yesus perlu hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun sebelum Dia mati untuk menggenapkan penebusan. Jika Dia hidup di bumi hanya untuk waktu yang singkat, maka hanya ada ekspresi yang sesaat saja dari atribut ilahi dalam kehidupan-Nya. Ekspresi yang singkat itu dapat dibandingkan dengan sebuah pelangi, yang muncul seketika dan kemudian hilang. Manusia-Penyelamat menempuh kehidupan insani yang utuh selama tiga puluh tiga setengah tahun. Selama tahun-tahun itu Dia ter-bukti tanpa cacat atau ketidaksempurnaan. Dia tidak gagal dalam hal apa pun. Kebajikan-Nya adalah satu gambar bagi ekspresi atribut Allah. Karena itu, Allah diekspresikan da-lam kehidupan-Nya.
Menyusun Kelayakan Manusia-Penyelamat dan Prototipe bagi Kaum Beriman-Nya
Kehidupan manusia-Allah Tuhan ini menyusun kelayakan-Nya untuk menjadi Manusia-Penyelamat. Pada waktu yang sama, kehidupan ini juga menyusun satu prototipe bagi kaum beriman-Nya. Seperti yang akan kita bahas dalam berita selanjutnya, prototipe ini adalah untuk ”produksi masal”, reproduksi manusia-Allah dalam kaum beriman. Di dalam sebuah pabrik, banyak waktu mungkin dipakai untuk menghasilkan satu prototipe. Begitu prototipe ini dihasilkan, maka prototipe ini dipakai untuk produksi masal. Demikian juga, kehidupan manusia-Allah Manusia-Penyelamat ini menyusun Dia menjadi satu prototipe supaya Dia sekarang dapat direproduksikan di dalam kita. Puji Tuhan untuk prototipe dan produksi masal ini!