← Daftar isi Lukas (3) · bab 12/29

REPRODUKSI MANUSIA-ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab:

Yoh. 3:6b; 2 Kor. 3:17-18; Flp. 1:19b, 20b, 21a; 2:5-8; 3:9-10; 4:8, 13

Dalam berita ini dan berita selanjutnya kita akan mem-bahas reproduksi manusia-Allah. Seperti yang akan kita lihat, reproduksi manusia-Allah ini menuntut kita dilahir-kan kembali oleh Kristus yang pneumatik di dalam roh kita, menuntut kita ditransformasi di dalam jiwa kita oleh Kristus yang pneumatik, dan menuntut kita memperhidupkan Kristus sebagai manusia-Allah.

BAGAIMANA TUHAN MENJADI

ROH PEMBERI-HAYAT

Setelah menempuh kehidupan yang ajaib dan unggul, Manusia-Penyelamat ini pergi ke salib dan mati. Kemudian dalam kebangkitan-Nya Dia menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Bagaimanakah Kristus menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan-Nya? Perhatikan, kita bukan me-nanyakan mengapa Dia menjadi Roh pemberi-hayat, melainkan bagaimana, dengan cara apa, Dia menjadi Roh. Jawaban untuk pertanyaan ini adalah bahwa Manusia-Penyelamat menjadi Roh pemberi-hayat dengan kelayakan yang menakjubkan dan almuhit. Tuhan Yesus adalah Allah dan manusia. Selama tiga puluh tiga setengah tahun Dia menempuh kehidupan manusia-Allah; yaitu Dia menempuh kehidupan insani dengan hayat ilahi untuk mengekspresikan Allah. Setelah menempuh kehidupan yang demikian, Dia mati di atas salib sebagai Dia yang almuhit.

Kapan saja sesuatu yang hidup itu mati, kematiannya berhubungan dengan sifatnya. Misalnya, seekor anjing mati sebagai seekor anjing. Demikian juga, seekor semut mati sebagai seekor semut, dan lalat mati sebagai lalat. Prinsip ini juga berlaku bagi manusia. Seorang yang tidak dikenal mungkin mati secara tidak berarti, tetapi seorang besar mati sebagai seorang besar. Tuhan Yesus adalah Dia yang almuhit; karena itu, Dia mati secara almuhit. Setelah kemati-an almuhit-Nya, Tuhan dibangkitkan oleh Allah. Dalam ke-adaan inilah dan dengan kelayakan yang demikian, Dia menjadi Roh pemberi-hayat.

INTISARI KRISTUS YANG ALMUHIT

Roh pemberi-hayat sebenarnya merupakan intisari dari Kristus yang almuhit. Seperti yang telah kita tunjukkan di buku lainnya (lihat The Fulfillment of the Tabernacle and the Offerings in the Writings of John, page 2, Witness Lee), intisari dapat didefinisikan sebagai: cairan hasil perasan suatu tanaman atau benda organik lainnya dan yang menampung esens benda itu secara padat. Kata sinonim untuk intisari adalah ”sari”, yang merupakan esens dari suatu substansi yang diperas dalam bentuk cairan. Arak anggur misalnya, dapat dianggap sebagai intisari, sari anggur itu. Kapan saja kita memeras esens dari substansi tertentu, kita mendapatkan sari substansi itu. Selain itu, intisari dari sesuatu selalu meliputi esens, unsur, dan substansi dari se-suatu itu. Misalnya, kita memiliki intisari sebuah jeruk. Intisari ini akan meliputi esens, unsur, sifat, dan substansi dari jeruk. Demikian juga, Roh pemberi-hayat yang almuhit itu meliputi semua hakiki Kristus, semua yang telah dilalui-Nya, dan semua yang telah digenapkan, dicapai, dan diperoleh-Nya.

Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa Roh itu adalah Roh yang almuhit. Dalam Filipi 1:19 Paulus mem-bicarakan tentang ”suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” (Tl.). Di sini Paulus tidak mengatakan suplai yang limpah lengkap dari Roh Allah, melainkan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Dalam Filipi 1:19 Roh Allah telah menjadi Roh Yesus Kristus. Ini adalah ”Roh itu” yang disinggung dalam Yohanes 7:39. Ini bukan hanya Roh Allah sebelum inkarnasi Tuhan, tetapi juga Roh Allah, Roh Kudus dengan keilahian, setelah kebangkitan Tuhan yang dibaurkan dengan keinsanian Tuhan, kehidupan insani Tuhan di bawah salib, penyaliban, dan kebangkitan Tuhan.

Apakah pemahaman Anda tentang Yesus dan Kristus? Yesus adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sejati. Dia adalah Firman yang menjadi daging. Dalam Yohanes 1:1 dan 14 kita nampak bahwa Firman yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah menjadi daging. Sebagai manusia-Allah, Yesus adalah Allah yang leng-kap dengan sifat ilahi yang sejati dan dengan atribut ilahi yang unggul, dan adalah seorang manusia sejati dengan sifat insani yang riil dan kebajikan insani yang sempurna.

Lalu, siapakah Kristus? Kristus adalah Yesus yang di-urapi Allah yang telah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Dalam kebangkitan, Yesus Kristus menjadi satu intisari dari diri-Nya sendiri, dan intisari ini adalah Roh pemberi-hayat. Karena Roh pemberi-hayat ini adalah intisari dari Kristus yang almuhit, maka Roh ini juga almuhit.

Kristus menjadi Roh pemberi-hayat berhubungan dengan reproduksi manusia-Allah. Bagaimana manusia-Allah dapat direproduksi? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah bahwa manusia-Allah direproduksi oleh Roh yang almuhit. Setelah melihat hal ini, sekarang kita perlu menemukan dengan cara bagaimana manusia-Allah ini direproduksi oleh Roh yang almuhit.

KELAHIRAN KEMBALI — LANGKAH PERTAMA

DARI REPRODUKSI MANUSIA-ALLAH

OLEH ROH YANG ALMUHIT

Langkah pertama dari reproduksi manusia-Allah oleh Roh pemberi-hayat yang almuhit ini adalah kelahiran kem-bali. Tuhan Yesus membicarakan tentang kelahiran kembali kepada Nikodemus dalam Yohanes 3. Terhadap orang yang beretika, berbudaya, dan agamawi ini, Tuhan berkata, ”Kamu harus dilahirkan kembali” (Yoh. 3:7). Dilahirkan kembali atau dilahirkan lagi, adalah dilahirkan dari esens lain, yaitu esens ilahi. Tuhan seolah-olah berkata kepada Nikodemus, ”Kamu telah lahir dari esens manusia, dan se-karang kamu perlu dilahirkan dari esens lainnya — yaitu esens Allah. Nikodemus, kamu harus dilahirkan dari Allah.”

Dilahirkan dari Roh

Dilahirkan dari Allah adalah dilahirkan dari Roh. Apakah Roh itu? Roh itu adalah intisari Allah. Sebenarnya, inti-sari ini bukan hanya Allah, tetapi juga Yesus Kristus. Roh kelahiran kembali ini adalah Roh Yesus Kristus.

Jika kita membandingkan Yohanes 3:6 dengan Yohanes 3:14-15, kita akan nampak bahwa Roh di sini adalah intisari dari Yesus Kristus. Dalam Yohanes 3:6 Tuhan Yesus ber-kata, ”Yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Tl.). Jika kita ingin memiliki hayat ilahi, kita harus dilahirkan dari Roh. Dalam Yohanes 3:14 dan 15 Tuhan Yesus selanjutnya ber-kata, ”Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan; su-paya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Di sini Tuhan menunjukkan diri-Nya sendiri sebagai Kristus yang tersalib dan bangkit. Siapa saja yang percaya kepada-Nya akan memiliki hayat yang kekal. Memi-liki hayat yang kekal sama dengan dilahirkan kembali. Dengan kata lain, dilahirkan kembali adalah mendapatkan hayat ilahi.

Apakah arti dilahirkan kembali, dilahirkan dari Roh? Dilahirkan dari Roh adalah menerima hayat ilahi. Di dalam ayat-ayat Yohanes 3 ini, kita pertama-tama memiliki Roh kemudian Anak Manusia yang tersalib dan bangkit. Bila kita membandingkan ayat-ayat ini, kita akan nampak bahwa di sini Roh itu adalah intisari Yesus Kristus.

Roh yang dari-Nya kita dilahirkan kembali untuk mendapatkan hayat kekal adalah intisari dari Kristus yang tersalib dan bangkit. Penyaliban adalah satu ”pemerasan” yang menghasilkan satu intisari. Bila pemerasan ini diterapkan pada sebuah jeruk, maka kita akan memperoleh sari jeruk sebagai intisari jeruk itu. Kita boleh membandingkan penyaliban Kristus dengan pemerasan sebuah jeruk. Ketika Kristus di atas salib, Dia ”diperas”. Setelah diperas di atas salib, Dia keluar sebagai ”sari buah” Roh pemberi-hayat yang almuhit. Selain itu, sebagaimana esens, unsur, sifat, dan substansi sebuah jeruk ada di dalam intisarinya, demikian juga esens, unsur, sifat, dan substansi Kristus ada di dalam Roh yang almuhit ini. Oleh Roh inilah, Kristus, manusia-Allah ini, direproduksi.

Menerima Roh Itu melalui Berseru kepada Nama Tuhan

Dalam pemberitaan Injil kita perlu memberi tahu orang bahwa Kristus adalah Roh pemberi-hayat. Kita perlu mem-beri tahu mereka bahwa Kristus ”diperas” di atas salib un-tuk menjadi Roh itu. Sekarang, jika orang-orang dosa bertobat, percaya kepada-Nya, dan berseru kepada-Nya, mereka akan menerima Roh ini. Kapan saja seseorang berseru kepada Tuhan Yesus, ia akan menerima Roh ini. Roh ini sebenarnya adalah realitas Yesus Kristus sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit.

Dalam Kisah Para Rasul 2 tercantum pencurahan Roh itu. Dalam Kisah Para Rasul 2:17 Petrus mengutip perkataan Yoel tentang pencurahan Roh Allah ke atas semua daging dan perkataannya bahwa ”siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (Kis. 2:21). Karena Allah telah mencurahkan Roh-Nya, maka yang perlu dilakukan orang-orang supaya diselamatkan adalah berseru kepada na-ma Tuhan. Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan, dan diselamatkan ini sebenarnya adalah menerima Roh itu.

Seperti yang telah sering kita tunjukkan, nama mengacu kepada persona. Yesus adalah nama Tuhan, dan Roh itu adalah persona-Nya. Karena itu, ketika kita berseru kepada nama Tuhan, kita akan menerima persona-Nya, yaitu Roh itu. Inilah arti diselamatkan.

Beberapa orang Kristen menentang perihal berseru kepada nama Tuhan ini. Mereka dengan salah mengatakan bahwa ini hanyalah seruan atau pengulangan yang sia-sia. Namun, berseru kepada nama Tuhan bukanlah hal yang sia-sia. Ketika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita ber-seru kepada nama Dia yang almuhit dan yang terkasih, Dia yang berada di atas segalanya. Allah telah memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama (Flp. 2:9). Kita dapat bersaksi bahwa ketika kita berseru kepada nama Yesus, Roh itu datang. Yesus adalah nama-Nya, dan Roh itu adalah per-sona-Nya, intisari diri-Nya.

Realitas nama seseorang adalah persona orang itu sen-diri. Karena alasan ini, bila kita berseru kepada nama seseorang yang ada pada saat itu, maka personanya akan menjawab. Prinsipnya sama dengan berseru kepada nama Yesus. Kapan saja kita berseru kepada nama ini, kita mendapatkan personanya. Karena personanya adalah Roh itu, maka ketika kita berseru kepada nama Yesus, kita mene-rima Roh itu. Dari pengalaman kita tahu bahwa ketika kita percaya kepada Yesus dan berseru kepada nama-Nya, Roh itu datang sebagai Persona yang almuhit untuk menjadi ha-yat kita.

Roh yang Melahirkan Kembali

Agar Tuhan Yesus masuk ke dalam kita sebagai Roh pemberi-hayat, Dia perlu melalui satu proses yang panjang. Dalam Roh pemberi-hayat, intisari yang almuhit dari Kristus ini, bukan hanya ada esens hakiki Kristus, tetapi juga ada unsur dari proses yang telah dilalui-Nya. Tuhan bukan hanya datang untuk tinggal di antara manusia. Dia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, mengalami banyak hal. Dia lahir dari seorang dara dan bertumbuh secara normal, insani. Akhirnya, Dia disalib, diperas agar melepaskan Roh sebagai intisari-Nya.

Hari ini Roh yang melahirkan kita kembali adalah intisari dari Kristus yag almuhit. Sebagai intisari semacam ini, Roh itu tersusun dari unsur ilahi dengan atribut ilahi dan unsur manusia dengan semua kebajikan insani. Roh itu meliputi unsur hayat ajaib Tuhan yang mengekspresikan Allah. Roh itu juga mencakup unsur kebajikan insani yang diselamatkan, dipulihkan, dipugar, diperbaiki, dipoles, dikuduskan, dikuatkan, diteguhkan, dan ditinggikan. Pernahkah Anda menyadari hal ini? Roh pemberi-hayat yang almuhit terisi kebajikan insani Manusia-Penyelamat yang ditinggikan.

Pergerakan Roh Itu di dalam Kita

Kaum beriman maupun orang kafir memiliki konsepsi alamiah mengenai bagaimana Tuhan Yesus menyelamatkan kita. Misalnya, orang Kristen bisa berkata, ”O, betapa besar masalah temperamenku! Aku tidak berdaya terhadapnya. Aku tidak ada pilihan selain marah-marah. Tuhan, tolonglah aku!” Setelah minta tolong kepada Tuhan, orang ini mungkin berharap Tuhan mengulurkan tangan-Nya dari surga dan menolongnya.

Beberapa orang Kristen sebenarnya tidak percaya bahwa Kristus hidup di dalam mereka; mereka percaya bahwa Ia hanya ada di takhta di surga tingkat ketiga. Namun, mereka pun mau berdoa mohon Tuhan membantu mereka. Menurut pandangan mereka, bagaimana Tuhan akan menolong mereka? Pemahaman mereka terhadap pertolongan Tuhan mungkin bukan hanya alamiah, malah takhayul.

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Kristus yang ter-salib, bangkit, dan naik ke surga adalah Roh yang berhuni. Kita perlu mengenal hal ini saat kita tergoda untuk marah-marah. Anda dapat berkata, ”Tuhan, tolonglah aku,” atau hanya berseru, ”Tuhan!” Kalau Anda perhatikan pengalaman Anda, Anda akan menyadari bahwa ketika Anda menyeru/ memanggil nama Tuhan, sesuatu bergerak di dalam Anda dan bahkan berbaur dengan Anda. Inilah Roh pemberi-hayat yang bergerak di dalam Anda dan berbaur dengan roh Anda.

Memang, tidak ada salahnya minta Tuhan menolong kita. Tetapi doa semacam ini dapat menyelewengkan kita dari Roh yang berhuni. Kalau kita berdoa seperti itu, kita mungkin mengharapkan pertolongan Tuhan itu turun dari surga tingkat tiga dan kita mungkin merasa bahwa kita perlu menantikan pertolongan-Nya datang. Tetapi bila kita berseru kepada nama Tuhan, dengan menyadari bahwa Dia adalah Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam kita, kita akan merasakan pergerakan-Nya di dalam kita dan berbaur dengan kita. Kita mengalami hal ini karena Dia yang bergerak di dalam kita dan yang berbaur dengan kita itu adalah Roh pemberi-hayat sebagai intisari dari Kristus yang almuhit. Hanya dengan berseru kepada nama Tuhan kita dapat merasakan intisari yang misterius dan yang almuhit ini bergerak di dalam kita.

Unsur-unsur di dalam Roh yang Almuhit Ini

Roh itu sebagai intisari Kristus menampung unsur standar moralitas yang tertinggi. Sewaktu Roh ini bergerak di dalam kita, unsur-unsur kebajikan insani yang tertinggi juga bergerak di dalam kita. Tuhan menyelamatkan kita bukan dari temperamen kita dengan melakukan sesuatu yang ajaib sebagai Dia yang telah naik yang ada di atas takhta di surga. Melainkan, Dia menyelamatkan kita dengan bergerak di dalam kita dan membaurkan diri-Nya sendiri dengan kita sebagai Dia yang berhuni di dalam kita. Ketika kita berpaling kepada-Nya sebagai Dia yang ada di dalam roh kita dan berseru kepada nama-Nya, Dia akan bergerak di dalam kita dengan semua unsur-Nya. Dengan cara inilah Dia menyelamatkan kita.

Apa yang kita katakan mengenai cara Tuhan menyelamatkan kita dengan bergerak di dalam kita sebagai Roh itu bukan sesuatu yang takhayul. Sebagaimana meminum obat itu bukan sesuatu yang takhayul, demikian juga mengalami pergerakan Roh itu juga bukan sesuatu yang takhayul. Sewaktu seseorang meminum obat, obat itu akan bekerja di dalamnya untuk membunuh kuman-kuman. Ini bukan satu pembunuhan yang di luar, mencoba untuk membunuh kuman-kuman dengan melakukan sesuatu secara luaran. Sebaliknya, ini adalah pembunuhan yang di dalam, pembunuhan yang dihasilkan dari meminum satu dosis obat. Demikian juga, Roh yang almuhit ini berisi unsur kematian Tuhan yang almuhit, dan dengan unsur ini kuman-kuman rohani yang ada di dalam kita diakhiri.

Roh pemberi-hayat yang almuhit ini juga memiliki unsur pertunasan. Roh itu berisi unsur-unsur ini karena di dalam Roh itu ada unsur kebangkitan Kristus. Kebangkitan mengatasi segala bentuk kematian. Karena kematian tidak dapat menahan unsur kebangkitan, maka kematian tidak dapat menahan Roh itu. Haleluya untuk unsur kebangkitan yang ada di dalam Roh yang almuhit ini!

Entah kita memahami unsur-unsur di dalam Roh yang almuhit ini atau tidak, adalah satu fakta yang tidak dapat disangkal bahwa unsur-unsur ini telah dilahirkan ke dalam kita melalui Roh itu. Ketika kita lahir dari orang tua kita, kita lahir dengan unsur-unsur insani. Demikian juga, pada hari kita berseru kepada nama Tuhan yang terkasih dan yang almuhit ini, Roh yang almuhit ini masuk ke dalam kita, dan kita lahir dari Dia. Sekarang, Dia dengan segala unsur-Nya berhuni di dalam kita.

Lahir dari Kristus yang Pneumatik di dalam Roh Kita

Langkah pertama dalam reproduksi manusia-Allah ada-lah kita dilahirkan kembali dari Kristus yang pneumatik di dalam roh kita dengan hayat dan sifat ilahi-Nya. Saya suka dengan istilah ”Kristus yang pneumatik”. Karena Roh itu dalam Yohanes 3:6 adalah intisari Kristus yang almuhit, maka Dia sebenarnya adalah Kristus yang pneumatik. Dalam ayat ini Tuhan Yesus tidak membicarakan tentang dilahirkan dari Roh Allah atau Roh Kudus; Dia membicarakan tentang dilahirkan dari Roh. Roh itu mengarahkan kita kepada Kristus yang pneumatik.

Apakah Kristus yang penumatik ini? Kristus yang pneumatik adalah Kristus yang menjadi Roh pemberi-hayat setelah kebangkitan. Kita telah dilahirkan dari Kristus yang pneumatik di dalam roh kita dengan hayat dan sifat ilahi-Nya.