REPRODUKSI MANUSIA-ALLAH (2)
Pembacaan Alkitab:
Yoh. 3:6b; 2 Kor. 3:17-18; Flp. 1:19b, 20b, 21a; 2:5-8; 3:9-10; 4:8, 13
Kita telah nampak bahwa bagi reproduksi manusia-Allah kita perlu dilahirkan kembali dari Kristus yang pneumatik dalam roh kita dengan hayat dan sifat ilahi-Nya. Dalam berita ini kita akan melanjutkan melihat bahwa bagi reproduksi ini kita juga perlu ditransformasi oleh Kristus yang pneumatik di dalam jiwa kita dan kemudian memperhidup-kan Kristus sebagai manusia-Allah.
DITRANSFORMASI OLEH KRISTUS
YANG PNEUMATIK DI DALAM JIWA KITA
Setelah kita dilahirkan kembali, lahir dari Roh itu di dalam roh kita, kita perlu ditransformasi. Kita perlu ditransformasi oleh Kristus yang pneumatik dalam jiwa kita dengan atribut ilahi untuk mempertinggi, memperkuat, memperkaya, dan memenuhi kebajikan insani kita bagi ekspresi-Nya dalam keinsanian kita. Mengenai hal ini, Paulus berkata dalam 2 Korintus 3:17-18, ”Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan. Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah (ditransformasi) menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” ”Roh itu” dalam ayat 17 dan ”Tuhan Roh” dalam ayat 18 mengacu kepada Kristus yang pneumatik. Sewaktu kita memandang dan mencerminkan Dia, kita di-transformasi ke dalam gambar-Nya. Selain itu, Tuhan Roh ini sebenarnya adalah Roh dalam Yohanes 3:6. Roh dalam Yohanes 3:6 adalah untuk kelahiran kembali, sedangkan Tuhan Roh dalam 2 Korintus 3:18 adalah untuk transformasi. Dilahirkan kembali, dilahirkan lagi, adalah perihal satu kali untuk selamanya, sedangkan ditransformasi adalah perihal seumur hidup. Karena itu, Paulus mengatakan bahwa kita ”sedang diubah”. Kata ”sedang” menunjukkan suatu proses. Kita sedang berada dalam proses ditransformasi.
Keselamatan Metabolik
Agak mudah untuk memahami arti dilahirkan kembali, tetapi tidak mudah memahami arti transformasi. Dalam 2 Korintus 3:18 Versi King James bahkan memakai kata ”berubah (change)” bukan ”ditransformasi”. Pemakaian kata ”berubah” dalam ayat ini kurang memadai. Meskipun transformasi adalah satu perubahan, tetapi ini jauh lebih dalam daripada perubahan di luar saja. Transformasi melibatkan perubahan metabolik, perubahan batini dalam hayat. Perubahan metabolik demikian memerlukan pekerjaan unsur hayat ilahi di dalam kita. Ini menghasilkan perubahan yang bukan hanya perubahan penampilan dan tingkah laku saja, tetapi juga perubahan dalam hayat, sifat, dan esens yang mendasar.
Jangan berpikir bahwa Tuhan menyelamatkan kita hanya dengan cara yang obyektif. Kita tidak seharusnya berharap bahwa semakin kita berdoa, Tuhan akan semakin menyelamatkan kita secara obyektif dari surga. Sebaliknya, semakin kita berseru kepada nama Tuhan, Dia semakin bergerak di dalam kita untuk membuat suatu perubahan metabolik yang mempengaruhi hakiki batini kita. Ini berarti keselamatan Tuhan adalah keselamatan metabolik, bukan hanya keselamatan yang berasal dari tindakan yang di luar. Adalah mudah untuk melakukan sesuatu secara luaran, tetapi untuk menyelamatkan kita secara metabolik itu memerlukan waktu. Apa yang diwahyukan mengenai keselamatan ilahi dalam Perjanjian Baru bukan hanya satu keselamatan dalam tindakan saja; keselamatan ini terutama adalah keselamatan metabolik. Dari pengalaman kita tahu bahwa keselamatan metabolik ini berangsur-angsur, bertahap, dan terus-menerus.
Untuk Ekspresi Tuhan dalam Keinsanian Kita
Kita dilahirkan kembali di dalam roh kita, tetapi kita ditransformasi di dalam jiwa kita. Kelahiran kembali terlaksana dengan hayat dan sifat ilahi, tetapi transformasi terlaksana dengan atribut ilahi untuk mempertinggi, memperkuat, memperkaya, dan memenuhi kebajikan insani kita untuk ekspresi Tuhan dalam keinsanian kita.
Kelahiran kembali dan transformasi adalah dua tahap dalam proses mereproduksi manusia-Allah. Manusia-Penyelamat sebagai manusia-Allah adalah satu-satunya prototipe. Allah ingin mereproduksi atau memproduksi secara masal prototipe ini melalui kelahiran kembali dan transformasi.
Reproduksi ini terjadi berdasarkan kelahiran kembali dari Kristus yang pneumatik dalam roh kita dan melalui transformasi oleh Kristus pneumatik yang sama ini dalam jiwa kita. Melalui langkah-langkah ini kita menjadi reproduksi manusia-Allah. Reproduksi ini adalah produksi masal dari satu-satunya prototipe itu. Puji Tuhan karena kita sudah di-lahirkan kembali sekali untuk selamanya dan bahwa kita kini berada dalam proses ditransformasi!
MEMPERHIDUPKAN KRISTUS SEBAGAI
MANUSIA-ALLAH
Orang-orang yang adalah reproduksi manusia-Allah seharusnya memperhidupkan Kristus sebagai manusia-Allah (Flp. 1:20b, 21a). Kristus hidup di bumi sebagai manusia-Allah selama tiga puluh tiga setengah tahun. Hari ini, kita reproduksi-Nya seharusnya memperhidupkan Dia sebagai manusia-Allah.
Orang-orang Kristen sering mengutip Filipi 1:21a, ”Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Kehidupan Paulus adalah memperhidupkan Kristus. Kristus bukan hanya menjadi hayatnya di dalam, tetapi juga menjadi kehidupan-nya yang di luar. Dia memperhidupkan Kristus karena Kris-tus hidup di dalam dia (Gal. 2:19b-20). Dia bersatu dengan Kristus dalam hayat dan kehidupan. Dia dan Kristus memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Mereka hidup bersama sebagai satu persona. Kristus hidup di dalam dia se-bagai hayatnya, dan dia memperhidupkan Kristus di luar sebagai kehidupan-Nya.
Satu hal yang penting untuk kita ingat adalah Kristus dalam Filipi 1:21 adalah manusia-Allah. Ini dapat dibuktikan dengan perkataan Paulus dalam Filipi 2. Dalam 2:5 Paulus mengatakan, ”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Kemudian Paulus melanjutkan dalam ayat-ayat berikutnya, bahwa Kristus ada dalam rupa Allah, tetapi tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Dia mengosongkan diri-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (ay 6-7). Dalam ayat 8 Paulus melan-jutkan penggambarannya tentang manusia-Allah ini: ”Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Dari gambaran ini kita nampak bahwa Kristus dalam Filipi 1 adalah manusia-Allah dalam Filipi 2. Karena itu, memperhidupkan Kristus berarti memperhidupkan manusia-Allah.
Melalui Suplai Limpah Lengkap dari Roh Yesus Kristus
Kita memperhidupkan Kristus sebagai manusia-Allah melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19, Tl.). Kita telah nampak bahwa Roh Yesus Kristus itu bukan hanya Roh Allah sebelum inkarnasi Tuhan, lebih-lebih Roh Allah, Roh Kudus dengan keilahian setelah kebangkitan Tuhan, yang dibaurkan dengan inkarnasi, keinsanian, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan-Nya. Roh Yesus terutama bagi keinsanian Tuhan dan kehidupan insani Tuhan; Roh Kristus terutama bagi kebangkitan Kristus. Untuk mengalami keinsanian Tuhan, seperti yang di-gambarkan dalam Filipi 2:5-8, kita perlu Roh Yesus. Untuk mengalami kuat kuasa kebangkitan Tuhan, seperti yang disinggung dalam Filipi 3:10, kita memerlukan Roh Kristus.
Menerima Pikiran Yesus Kristus Manusia-Allah
Jika kita ingin memperhidupkan Kristus sebagai manusia-Allah, kita perlu menerima pikiran-Nya. Dalam Filipi 2:5-8 Paulus mendorong kita untuk menerima pikiran Yesus Kristus, manusia-Allah. Ini adalah pikiran yang ada di dalam Kristus ketika Dia mengosongkan diri-Nya sendiri de-ngan mengambil rupa seorang hamba, dan merendahkan diri-Nya dalam rupa seorang manusia. Untuk memiliki pikiran yang demikian ini memerlukan kita menjadi satu dengan Kristus di dalam setiap bagian batini-Nya (Flp. 1:8).
Dalam Filipi 2:12-13 Paulus selanjutnya berkata, ”Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Keselamatan dalam ayat 12 ini bukanlah keselamatan dari neraka. Keselamatan dari neraka bukanlah sesuatu yang dapat dikerjakan oleh kita. Keselamatan di sini adalah keselamatan subyektif, ke-selamatan batini yang memerlukan kerja sama kita dengan Allah. Kita bekerja sama melalui ketaatan kita. Ketaatan kita adalah kerjasama kita.
Mengerjakan keselamatan kita adalah merampungkan keselamatan ini, membawanya kepada kesimpulan akhir. Kita telah menerima keselamatan Allah. Sekarang kita perlu merampungkan keselamatan ini, membawanya kepada kesimpulannya yang terakhir, dengan ketaatan kita yang konstan dan mutlak serta dengan takut dan gentar. Kita telah menerima keselamatan ini berdasarkan iman. Sekarang kita harus merampungkannya dengan ketaatan kita. Menerima keselamatan berdasarkan iman adalah satu kali untuk selamanya; merampungkan keselamatan dengan ketaatan adalah seumur hidup.
Kata ”karena” dalam ayat 13 memberikan alasan mengapa kita harus selalu taat. Kita harus taat karena Allah bekerja di dalam kita. Kita memiliki Allah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan untuk merampungkan keselamatan kita. Bukanlah kita yang mengerjakan keselamatan kita dengan diri kita sendiri, melainkan Allahlah yang bekerja di dalam kita untuk merampungkannya. Hal yang kita perlu lakukan hanyalah me-naati Allah sebagai Dia yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
Dalam Filipi 2:14 Paulus berkata, ”Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Bersungut-sungut berasal dari emosi kita, dan berbantah-bantahan berasal dari pikiran kita. Keduanya menghalangi kita dari mengalami dan menikmati Kristus. Dapatkah Anda berkata bahwa dalam kehidupan sehari-hari Anda tidak ada sungut-sungut dan perbantahan? Mungkin Anda mengalami satu perubahan cukup besar dalam hayat, tetapi Anda masih perlu diselamatkan dari sungut-sungut dan perbantahan Anda. Kita sungguh perlu diselamatkan dari bersungut-sungut dan perbantahan oleh Kristus yang hidup, oleh manusia-Allah ini.
Paulus adalah orang yang berpengalaman, dan ia menulis Surat Rasuli kepada orang-orang Filipi menurut pengalamannya. Dari pengalaman Paulus tahu bahwa kita mungkin diselamatkan dari banyak hal tetapi belum diselamatkan dari bersungut-sungut dan perbantahan. Kita bukan diselamatkan dari bersungut-sungut dan perbantahan oleh satu tangan ilahi yang menggapai kita dari langit ting-kat tiga. Lalu, apakah khasiat yang menyelamatkan kita dari bersungut-sungut dan perbantahan? Kita diselamatkan dari hal-hal ini oleh Kristus yang berhuni, oleh manusia-Allah yang berhuni di dalam kita. Hari ini manusia-Allah yang berhuni ini adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit dengan suplai yang limpah lengkap. Oleh suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus kita diselamatkan secara batini dari sungut-sungut dan perbantahan kita. Hal ini berhubungan dengan memperhidupkan Kristus. Memper-hidupkan Kristus adalah memperhidupkan manusia-Allah yang sekarang adalah Kristus yang pneumatik.
Memancarkan Firman Hayat seperti
Bintang-bintang yang Memantulkan Cahaya
Manusia-Allah Yesus Kristus
Sewaktu kita memperhidupkan Kristus sebagai ma-nusia-Allah, kita harus ”bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman hayat” (Flp. 2:15b-16a, Tl.). Ini adalah bercahaya seperti bintang-bintang yang memantulkan cahaya manusia-Allah Yesus Kristus, manusia-Allah. Bila kita bekerja sama dengan Allah yang bekerja di dalam kita dengan menaati Dia, manusia-Allah sebagai Kristus yang pneumatik dengan suplai-Nya yang limpah lengkap akan memudahkan kita untuk memancarkan firman hayat seperti bintang-bintang. Kita bukan hanya akan mengajar atau memberitakan, malah akan memancarkan firman hayat. Kita akan menjadi bintang-bintang yang memantulkan cahaya manusia-Allah.
Didapati dalam Kristus
Jika kita memperhidupkan Kristus sebagai manusia-Allah, kita akan didapati dalam Kristus (Flp. 3:9). Sebagai orang yang adalah reproduksi manusia-Allah, Paulus damba untuk didapati dalam Kristus oleh semua pencarinya. Ia damba seluruh dirinya tercelup dalam Kristus dan dijenuhi dengan Kristus supaya seluruh kaum beriman-Nya mendapati dia sepenuhnya dalam Kristus.
Memiliki Dia sebagai Kebenaran Subyektif Kita
Satu syarat agar didapati dalam Kristus adalah kita memiliki Kristus sebagai kebenaran subyektif kita, sebagai kebenaran kita yang unggul. Ini adalah kebenaran yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 5:20, ”Aku berkata kepadamu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Tl.). ”Kebenaran” di sini bukan mengacu kepada kebenaran obyektif, yakni Kristus yang kita terima ketika kita percaya kepada-Nya supaya kita dapat dibenarkan di hadapan Allah (1 Kor. 1:30; Rm. 3:26), melainkan mengacu kepada kebenar-an subyektif, yakni Kristus yang berhuni yang diperhidup-kan dari kita sebagai kebenaran kita. Dalam Filipi 3:9 Paulus menyebut kebenaran ini ”kebenaran yang berasal dari Allah” (Tl.). Bahasa Yunani untuk ”dari” berarti ”berasal dari” atau ”keluar dari”. Kebenaran ini sebenarnya adalah Allah sendiri yang diperhidupkan dari kita untuk menjadi kebenaran kita melalui iman kita dalam Kristus. Kebenaran ini adalah ekspresi Allah yang hidup di dalam kita. Karena itu, kebenaran yang unggul ini adalah Allah sendiri yang diperhidupkan dari kita. Ini bukan kebenaran kita sendiri; ini adalah Allah sebagai kebenaran kita.
Dalam Kuasa Kebangkitan-Nya
Dalam Filipi 3:10 Paulus berkata, ”Mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa Paulus memperhidupkan Kristus dalam kuasa kebangkitan-Nya. Paulus telah diakhiri dan dikubur. Kemudian dalam kebangkitan Kristus ia menikmati kuasa kebangkitan Kristus.
Kuasa kebangkitan Kristus adalah hayat kebangkitan-Nya yang membangkitkan Dia dari antara orang mati (Ef. 1:19-20). Realitas kuasa kebangkitan Kristus adalah Roh itu (Rm. 1:4). Untuk mengenal kuasa ini memerlukan kesatuan dengan kematian Kristus dan diserupakan dengannya. Kematian adalah dasar kebangkitan. Jika kita ingin mengalami kuasa kebangkitan Kristus, kita perlu menempuh satu kehidupan yang tersalib seperti yang Dia tempuh. Penyerupaan kita dengan kematian Kristus memberikan dasar bagi kuasa kebangkitan-Nya untuk bangkit darinya agar hayat ilahi-Nya dapat diekspresikan di dalam kita.
Diserupakan dengan Kematian-Nya
Dalam Filipi 3:10 Paulus juga membicarakan tentang diserupakan dengan kematian Kristus. Diserupakan dengan kematian Kristus adalah mengambil kematian-Nya sebagai cetakan bagi kehidupan kita. Cetakan kematian Kristus mengacu perbuatan Tuhan yang terus menerus menyerahkan hidup insani-Nya kepada kematian agar Dia dapat hidup dengan hayat Allah (Yoh. 6:57). Kehidupan kita harus diserupakan dengan cetakan ini, yaitu mati terhadap hayat insani kita untuk memperhidupkan hayat ilahi. Jika kita ingin didapati di dalam Kristus dan memperhidupkan Dia sebagai manusia-Allah, kita harus diserupakan dengan ke-matian-Nya.
Diekspresikan dalam Kebajikan Insani Kita
Bila kita didapati di dalam Kristus sambil memper-hidupkan Dia sebagai manusia-Allah, Dia akan diekspresikan dalam kebajikan insani kita. Perkataan Paulus dalam Filipi 4:8 menunjukkan hal ini: ”Jadi, akhirnya, Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Semua butir yang disebut di atas adalah kebajikan-kebajikan insani. Di sini benar adalah benar secara moral, bukan benar dalam perkara. Mulia ada-lah yang patut dihormati, layak dihormati; juga berarti terhormat dan disegani (1 Tim. 3:8, 11; Tit. 2:2). Kata ini menyiratkan konsep keagungan, yang mengilhami dan mengundang rasa hormat. Adil adalah benar (bukan tepat) di hadapan Allah dan manusia. Suci adalah tulus dalam maksud dan tindakan, tanpa campuran apa pun. Kata ”manis” di sini berarti patut dikasihi, menyenangkan, layak disayang. Kata ”yang sedap didengar” adalah terjemahan dari bahasa Yunani yang berarti baik untuk didengar. Bila dipakai di sini kata ini menunjukkan bereputasi baik, menarik, memikat, pemurah. Dalam ayat ini ”kebajikan” adalah keunggulan, yaitu kekuatan etis yang ditampilkan dalam tindakan yang bersemangat. Kata ”patut dipuji” menunjukkan hal-hal yang layak dipuji, sebagai pendamping kebajikan.
Keenam hal pertama digolongkan berdasarkan ”semua yang”, sedangkan kedua hal terakhir digolongkan berdasarkan ”kalau ada”. Ini menunjukkan bahwa kedua hal yang disebut terakhir adalah kesimpulan dari keenam hal yang disebut terdahulu, yang mengandung sedikit kebajikan atau sifat-sifat yang unggul dan sesuatu yang patut dipuji. Yang kita tekankan di sini adalah semua ini adalah kebajikan-kebajikan insani yang di dalamnya Kristus diekspresikan.
Dapat Melakukan Segala Hal
Dalam Filipi 4:13 Paulus berkata, ”Segala hal dapat ku-tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Paulus adalah seorang yang ada di dalam Kristus (2 Kor. 12:2), dan ia damba didapati oleh orang lain dalam Kristus. Di sini ia mengumumkan bahwa ia dapat melakukan segala hal di dalam Kristus, yaitu Dia yang memberikan kekuatan kepadanya.
Kristus menguatkan kita berarti Dia membuat kita dinamis secara batini. Kristus tinggal di dalam kita (Kol. 1:27). Dia menguatkan kita, membuat kita dinamis, dari dalam, bukan dari luar. Dengan penguatan dari dalam semacam itu Paulus mampu melakukan segala hal dalam Kristus. Khususnya, Paulus dapat memiliki semua kebajikan yang disebut dalam ayat 8. Di sini Paulus seolah-olah berkata, ”Aku dapat melakukan segala hal di dalam Dia yang menguatkan aku. Ini berarti aku dapat menjadi benar dan terhormat. Aku dapat menjadi benar di hadapan Allah dan manusia, dapat menjadi suci, dan menjadi seorang yang patut dikasihi (manis) dan yang sedap didengar. Di dalam Kristus aku dapat memiliki semua kebajikan yang patut dipuji oleh orang lain.”
Kitab Filipi membicarakan reproduksi manusia-Allah. Siapa saja yang memperhidupkan Kristus, manusia-Allah ini, adalah reproduksi-Nya. Siapa saja yang memperhidup-kan Kristus, adalah duplikat dari manusia-Allah yang unik ini, reproduksi dari prototipe ini.
Dalam Injil Lukas kita nampak bagaimana Kristus berinkarnasi dan menempuh kehidupan seorang manusia-Allah. Dalam kitab Filipi kita nampak bagaimana Kristus diperhidupkan dari kita untuk mendapatkan banyak dupli-kat diri-Nya sendiri. Semua orang Kristen harus menjadi duplikat-duplikat dari manusia-Allah yang unik ini.
Bagaimana kita dapat menjadi duplikat-duplikat, menjadi reproduksi-reproduksi yang demikian? Pertama, kita perlu dilahirkan kembali dari Kristus yang pneumatik di dalam roh kita, kemudian kita perlu secara bertahap ditrans-formasi oleh Kristus yang pneumatik di dalam jiwa kita. Kemudian dengan spontan kita akan memperhidupkan Kristus, manusia-Allah, dengan suplai yang limpah lengkap dari Roh-Nya, dengan menerima pikiran-Nya dan meman-carkan firman hayat seperti bintang-bintang yang memantulkan cahaya-Nya. Kita juga akan didapati di dalam Kristus dengan Dia sebagai kebenaran kita yang unggul, dalam kuasa kebangkitan-Nya, dan diserupakan dengan kematian-Nya. Kemudian kita akan mengekspresikan Dia dalam semua kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah bagi manusia. Dengan atribut-atribut ilahi dari manusia-Allah ini, kebajikan-kebajikan ini diperkuat, diperkaya, dan dipenuhi. Saya percaya bahwa Roh itu akan berbicara lebih banyak kepada kita mengenai hal ini.