STANDAR MORALITAS MANUSIA-PENYELAMAT YANG TERTINGGI YANG MENYUSUN KELAYAKAN DAN FAKTOR DASAR
KESELAMATAN-NYA YANG PENUH KUASA
(1)
Pembacaan Alkitab: Luk. 1:35; Mat. 1:18, 20; Luk. 1:31; Mat. 5:20; Flp. 3:9
Dalam dua berita sebelumnya kita telah nampak bahwa inkarnasi Manusia-Penyelamat adalah bagi penggenapan tujuan Allah menciptakan manusia. Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas standar moralitas Manusia-Penyelamat yang tertinggi. Moralitas ini menyusun kelayakan dan faktor dasar bagi keselamatan-Nya yang penuh kuasa. Moralitas Manusia-Penyelamat melayakkan Dia untuk menyelamatkan kita. Selain itu, moralitas-Nya adalah faktor dasar bagi keselamatan-Nya yang penuh kuasa. Hal-hal ini sangat sulit dijelaskan, dan kita mohon Tuhan membantu kita melalui Roh-Nya yang menyingkapkan.
DIKANDUNG DARI ESENS ILAHI
DENGAN ATRIBUT ILAHI UNTUK ISI
DAN REALITAS KEBAJIKAN INSANI
Manusia-Penyelamat dikandung dari esens ilahi, yang sebenarnya adalah Allah itu sendiri dengan atribut ilahi. Dengan kata lain, esens ilahi ini adalah Allah dengan segala hakiki-Nya. Menurut Alkitab, hakiki Allah terutama diwahyukan dalam empat aspek: kasih, terang, benar, dan ku-dus. Allah itu kasih (1 Yoh. 4:8). Kasih adalah sifat batiniah Allah. Allah juga adalah terang (1 Yoh. 1:5). Terang adalah cahaya Allah, ekspresi-Nya. Kasih mengacu kepada hakiki batianiah di dalam diri Allah, dan terang mengacu kepada ekspresi Allah. Kudus mengacu kepada sifat Allah dan benar mengacu kepada cara Allah dalam melakukan sesuatu. Menurut wahyu yang penuh dari Kitab Suci, Allah adalah kasih dan terang, dan Dia juga adalah kudus dan benar. Inilah atribut-atribut ilahi, dan Manusia-Penyelamat dikandung dari Allah dengan atribut-atribut ini.
Atribut-atribut ilahi ini adalah bagi kebajikan-kebajikan insani. Manusia-Penyelamat dikandung dari Allah dengan atribut-atribut ilahi untuk isi dan realitas kebajikan-kebajikan insani-Nya.
Dalam memahami hal ini, sangat membantu bila kita memakai ilustrasi sebuah sarung tangan. Jika sarung tangan tidak diisi dengan tangan, maka sarung tangan itu akan menjadi kosong. Tangan adalah isi dan realitas dari sarung tangan itu. Bila tangan dimasukkan ke dalam sarung tangan barulah sarung tangan itu memiliki isi dan realitasnya. Tangan dalam sarung tanganlah yang membuat sarung tangan itu berisi. Selain itu, bila tangan bergerak maka sa-rung tangan itu pun ikut bergerak. Sarung tangan dirancang sesuai dengan tangan, tetapi tidak memiliki hayat. Tanganlah yang membuat sarung tangan itu bergerak. Ketika tangan bergerak, maka tangan yang di dalam sarung tangan akan diekspresikan melalui sarung tangan itu.
Kita dapat mengatakan bahwa kita adalah ”sarung tangan” yang dirancang untuk menampung Allah sebagai isi dan realitas kita. Kristus dikandung dari Allah dengan atri-but-atribut-Nya untuk menjadi isi dan realitas dari ”sarung tangan” kebajikan-kebajikan insani-Nya.
Untuk Memenuhi Kebajikan Insani yang Kosong
Sebagai Dia yang dikandung dari esens ilahi dengan atribut ilahi untuk menjadi isi dan realitas kebajikan insani-Nya, Kristus memenuhi kebajikan insani yang kosong. Misalnya, kasih insani adalah satu kulit luar yang harus menampung kasih ilahi. Tanpa menampung kasih ilahi, maka kasih insani itu hanyalah satu kulit luar yang kosong. Manusia-Penyelamat dikandung dari Allah dengan atribut ilahi untuk memenuhi kebajikan insani-Nya. Bagi Dia kebajikan insani itu tidak kosong. Namun, bagi kita kebajikan insani itu kosong. Kebajikan insani itu tidak kosong bagi Yesus Kristus, Manusia-Penyelamat ini, karena kebajikan insani-Nya dipenuhi dengan atribut ilahi.
Memperkuat dan Memperkaya Kebajikan Insani
Dalam zaman tanpa dosa, sebelum dosa masuk, Adam itu bersih dan tidak bersalah. Namun, kebajikannya mung-kin tidak kuat dan kaya. Tetapi dalam Tuhan Yesus, manusia kedua ini, kebajikan insani itu kuat dan kaya. Dalam kasih insani Kristus misalnya, ada kekuatan. Karena kasih insani-Nya adalah kasih yang diperkuat dan diperkaya, kasih ini tidak dapat dihancurkan atau dikalahkan. Kasih Tuhan itu kaya karena kasih ini telah dipenuhi dengan atribut kasih ilahi. Maka, kasih-Nya adalah satu kasih pembauran, satu susunan dari kasih insani dengan kasih ilahi.
Kita mungkin tidak memiliki konsepsi bahwa inkarnasi Kristus adalah untuk memenuhi, memperkuat, dan mem-perkaya kebajikan insani. Saya tidak mengenal hal ini bertahun-tahun yang lalu. Melalui Pelajaran-Hayat Lukas, saya sangat terkesan dengan fakta bahwa inkarnasi Manusia-Penyelamat telah membuat kebajikan insani yang kosong dipenuhi, diperkuat, dan diperkaya dengan atribut ilahi.
Menguduskan Kebajikan Insani
Atribut ilahi juga menguduskan kebajikan insani. Bagi Kristus berinkarnasi berarti Dia menjadi daging. Mengenai hal ini, Yohanes 1:1 dan 14 mengatakan bahwa Firman, yang adalah Allah, menjadi daging. Menjelang waktu inkar-nasi Tuhan, kata ”daging” menandakan sesuatu yang tidak positif. Mengenai inkarnasi Kristus, Alkitab mengatakan bahwa Dia datang dalam rupa daging dosa (Rm. 8:3). Ini berarti ketika Dia menjadi daging, Dia datang dalam rupa daging dosa, tetapi tidak memiliki sifat daging dosa. Ini di-lambangkan oleh ular tembaga dalam Bilangan 21. Ular tembaga memiliki bentuk seekor ular, tetapi tidak memiliki sifat ular. Demikian juga, ketika Kristus menjadi daging, Dia hanya memiliki penampilan dari daging dosa, tetapi Dia tidak memiliki sifat daging yang penuh dengan dosa. Setelah Kristus menjadi daging, daging ini perlu dipulihkan.
Lukas 1:35 mengatakan, ”Jawab malaikat itu kepadanya, Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Karena yang dikandung oleh Maria adalah dari Roh Kudus, maka yang lahir dari kandungan ini adalah ”yang kudus”, sesuatu yang secara esens adalah kudus. Namun, yang kudus ini lahir dalam daging. ”Dia” itu kudus, tetapi daging tidak kudus. Namun, yang kudus lahir ke dalam daging itu akan menguduskan, memulihkan daging. Kristus dikandung dari esens ilahi dengan atribut ilahi untuk menguduskan kebajikan insani.
Inkarnasi ini adalah satu misteri. Melalui inkarnasi Allah lahir ke dalam manusia untuk menghasilkan seorang manusia-Allah. Bukan hanya keterkandungan dan kelahiran Tuhan yang merupakan satu misteri, kehidupan-Nya selama tiga puluh tiga setengah tahun juga adalah satu misteri. Dia yang hidup di Nazaret di rumah seorang tukang kayu itu bukan hanya seorang manusia; Dia juga adalah Allah. Seorang manusia dengan Allah di dalam-Nya bekerja sebagai seorang tukang kayu di Nazaret. Sungguh suatu misteri!
Kehidupan Manusia-Penyelamat di bumi adalah satu misteri, dan kehidupan kristiani kita juga adalah satu mis-teri. Kelahiran kembali itu sungguh merupakan satu misteri. Kristus hidup di dalam kita tentunya adalah satu mis-teri yang besar. Siapakah yang dapat dengan gamblang menjelaskan misteri yang besar ini? Kadang-kadang saya memikirkan perihal Kristus hidup di dalam saya. Saya bertanya kepada diri saya sendiri bagaimana mungkin Kristus, perwujudan Allah ini, hidup di dalam saya.
Meskipun demikian, Alkitab mewahyukan bahwa Allah Tritunggal telah berinkarnasi, melalui kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan, sekarang hidup di dalam kita dan adalah hayat kita.
Setelah mempelajari Kitab Suci secara menyeluruh, saya yakin bahwa kitab ini adalah satu kitab ilahi. Tidak ada tulisan lain yang dapat dibandingkan dengan kitab ini. Meskipun ini adalah satu misteri yang besar bahwa Kristus hidup di dalam kita, tetapi saya percaya apa yang Alkitab katakan mengenainya.
Mengekspresikan Allah dalam Kebajikan Insani
Kita telah nampak bahwa Manusia-Penyelamat dikandung dari esens ilahi dengan atribut ilahi, supaya atribut ini menjadi isi dan realitas kebajikan insani-Nya, dan bahwa atribut ilahi ini akan memenuhi, memperkuat, memperkaya, dan menguduskan kebajikan insani-Nya. Sekarang kita perlu melihat bahwa atribut ilahi ini adalah bagi ekspresi Allah dalam kebajikan insani.
Atribut ilahi memenuhi, memperkuat, memperkaya, dan menguduskan kebajikan insani bagi tujuan mengekspresikan Allah dalam kebajikan insani. Menurut keempat kitab Injil, apa pun yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam hidup-Nya di bumi adalah ekspresi Allah dalam kebajikan insani-Nya. Dalam Manusia-Penyelamat atribut ilahi ini dibawa masuk ke dalam kebajikan insani bagi ekspresi Allah.
LAHIR DARI ESENS INSANI DENGAN KEBAJIKAN
INSANI YANG DICIPTAKAN OLEH ALLAH
BAGI MANUSIA
Tuhan Yesus lahir dari esens dengan kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah bagi manusia (Luk. 1:31). Mengatakan bahwa Dia lahir dari esens insani itu berarti bahwa Dia lahir dari manusia, yaitu dari umat manusia, dari jenis manusia. Kristus lahir dari manusia dengan kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah bagi manusia.
Salah satu aspek utama penciptaan Allah terhadap manusia adalah penciptaan kebajikan manusia. Jika manusia tidak memiliki kebajikan, apa bedanya manusia dengan binatang?
Apakah perbedaan antara manusia dan binatang? Tentu, satu perbedaan yang penting adalah manusia memiliki roh. Tetapi perbedaan penting lainnya adalah Allah menciptakan manusia dengan kebajikan insani. Sebaliknya, binatang tidak memiliki kebajikan itu. Misalnya, seekor anjing mungkin sangat lucu, tetapi anjing itu tidak memiliki kebajikan apa pun. Tetapi kita manusia memiliki kebajikan insani. Karena itu, perbedaan manusia dengan binatang itu bukan hanya karena manusia memiliki roh, tetapi juga ka-rena manusia memiliki kebajikan.
Ketika Kristus berinkarnasi, Dia mengenakan kebajik-an insani. Dia lahir dari manusia dengan kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah. Menurut Kejadian 1, Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Frasa ”menurut gambar-Nya” menunjukkan kebajikan insani. Ini berarti kebajikan-kebajikan insani sebenarnya adalah gambar Allah bagi ekspresi Allah. Karena itu, kebajikan insani diciptakan oleh Allah bagi manusia supaya manusia dapat mengeks-presikan Dia.
Dalam inkarnasi-Nya, Manusia-Penyelamat lahir dengan cara demikian untuk memiliki kebajikan insani. Dia dikandung dari Allah untuk memiliki atribut ilahi dan Dia lahir dari manusia untuk memiliki kebajikan insani. Bagi-Nya atribut ilahi memenuhi kebajikan insani, dan kebajikan insani menampung atribut ilahi. Dalam Manusia-Penyelamat atribut ilahi dan kebajikan insani itu adalah satu; yaitu atribut ilahi dan kebajikan insani berbaur bersama menjadi satu. Pada Manusia-Penyelamat atribut ilahi ada dalam kebajikan insani, dan kebajikan insani menampung atribut ilahi.